KARYA DOSEN Fakultas Ekonomi UM
Not a member yet
480 research outputs found
Sort by
Perbedaan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dan Talking Stick di Kelas X AK pada Mata Pelajaran Ekonomi Bisnis SMK Islam Batu Tahun Pelajaran 2017/2018
ABSTRAK Kata Kunci: Hasil Belajar, Student Team Achievement Division (STAD) ,Talking StickPenerapan model pembelajaran kooperatif diharapkan dapat membuat hasil belajar siswa lebih baik. Dalam penelitian ini dipilih model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) dan Talking Stick. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD akan menjadi salah satu alternatif sebagai pembelajaran yang mengarah pada pemahaman konsep dan model pembelajaran Talking Stick yang diterapkan pada kelas kontrol. Model pembelajaran Talking stick diharapkan menjadi alternatif sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguasaan materi oleh siswa dengan menggunakan media tongkat.Jenis penetian ini adalah studi komparasi (compare study). Penelitian ini menggunakan dua kelompok kelas. Kelompok pertama yaitu kelas STAD dengan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD), kelompok kedua yaitu kelas TS dengan model pembelajaran Talking Stick (TS). Sampel kelas yang digunakan yaitu kelas X AK 3 dan X AK 2, karena kemampuan penguasaan konsep dari kedua kelas tersebut dianggap homogen, maka peneliti menentukan kelas X AK 3 sebagai kelas STAD dan kelas X AK 2 sebagai kelas TS. Kedua kelas tersebut diberikan tes kemampuan awal (pre-test) dan diberi post-test untuk mengetahui hasil belajar siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil uji hipotesis dari data post-test antara kelas STAD dan kelas TS memiliki nilai sig. 2-tailed sebesar 0,006 yang berarti kurang dari 0,05. Data diatas menunjukkan bahwa thitung sebesar 2,851 > ttabel sebesar 2,036. Menunjukkan bahwa H0 ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelas STAD dengan kelas Talking Stick. Metode pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) yang diterapkan pada kelas STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan perolehan nilai rata-rata posstest 84,06. Dan model pembelajaran talking stick yang diterapkan pada kelas TS dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan perolehan nilai rata-rata 78,24. Berdasarkan data dan hasil analisis yang telah diperoleh pada kelas STAD dan kelas TS, menunjukkan bahwa metode pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) lebih tepat digunakan pada mata pelajaran Ekonomi Bisnis
Manajemen Ekonomi Sumberdaya Hutan
Ekonomi sumberdaya hutan, sebagai salah satu sumberdaya yang dapat diperbaharui, merupakan salah satu contoh sumberdaya yang mampu memberikan manfaat bagi makhluk hidup dalam dua aspek, ekonomi dan ekologi. Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya hutan yang mampu menjadi penyeimbang alam dan lingkungannya, baik lingkungan dalam kawasan hutan yang terdapat bermacam-macam keanekaragaman hayati dan non hayati serta lingkungan flora maupun fauna. Berbagai kejadian di negara kita pada sektor kehutanan seperti illegal logging, pencurian kayu, kerjasama antara aparat dengan masyarakat untuk penebangan pohon secara liar, merupakan kurang baiknya manajemen yang diterapkan dalam sektor tersebut. Bila kita perhatikan, penerapan prinsip-prinsip ekonomi dan pemanfaatan sumberdaya hutan sebenarnya bukan sesuatu yang bertolak belakang. Nilai-nilai ekonomi yang kita dapatkan, baik untuk negara melalui penerimaan devisa maupun stakeholder yang terlibat (masyarakat miskin sekitar hutan/baca: pesanggem, pihak swasta sebagai donatur, pemerintah daerah) sebagai salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan sistem ekologi yang ada sehingga pemanfaatannya bukan saja untuk waktu sekarang tapi juga dapat dinikmati generasi yang akan datang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membaca buku referensi yang ditulis oleh Dr. Nasikh, S.E., M.P., M.Pd. sehingga akan mengetahui dan mengkaji model seperti apa yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan di atas pada sektor kehutanan. Bahasa yang sederhana yang dapat kita ungkapkan adalah kepentingan ekonomi dapat kita peroleh tanpa merusak sistem ekologi kehutanan yang ada, bahkan kita dapat menjaga, meningkatkan dan melestarikan hutan untuk generasi yang akan datang. Isi buku referensi ini terbagi menjadi 3 bagian. Di bagian awal, buku ini menyajikan konsep dasar dan pengertian manajemen ekonomi sumberdaya hutan. Bab II menampilkan pentingnya integrasi dan singkronisasi antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Bab III menyajikan model manajemen ekonomi sumberdaya hutan berbasis masyarakat dan pemerintah lokal. Pada bagian ini menyajikan contoh riíl model aplikasi manajemen ekonomi sumberdaya hutan (seperti metodologi pemecahan masalah, penyajian data penelitian, model kelembagaan pesanggem serta teori yang terbaru/mutakhir). Bab IV menyajikan model akuntabilitas manajemen ekonomi sumberdaya hutan, transparansi dan keterbukaan serta pertanggungjawaaban bagi pengelola ekonomi sumberdaya hutan. Bab V Manajemen ekonomi sumberdaya hutan berbasis masyarakat sebagai upaya menciptakan pembangunan hutan yang berkelanjutan dan berkeadilan dan bagian akhir Bab VI menyajikan tentang kelembagaan manajemen sumberdaya hutan sebagai sarana meningkatkan ekonomi sumberdaya manusia
Pengaruh Pendapatan Keluarga, Alokasi Waktu Bekerja, Tanggungan Keluarga dan Tingkat Pendidikan terhadap Pendapatan Keluarga di Kecamatan Klojen Kota Malang
ABSTRAK Fatmala, Elmira . 2018. Pengaruh Pendapatan Keluarga, Alokasi Waktu Bekerja, Tanggungan Keluarga dan Tingkat Pendidikan terhadap Pendapatan Keluarga di Kecamatan Klojen Kota Malang.Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.S Kata kunci: Pendapatan Wanita, Alokasi Waktu bekerja,Tanggungan Keluarga, Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Keluarga Motivasi wanita bekerja tiap wanita berbeda- berbeda, ada hal lain yang mendasari wanita untuk bekerja diantaranya bekerja karena ingin sekedar menambah pendapatan untuk wanita itu sendiri, ada Tanggungan Keluarga yang banyak, sehingga menuntut wanita untuk turut ikut serta membantu suami menambah pendapatan keluarga, dari wanita yang bekerja tersebut kemudian dimbil kesimpulan dari alokasi waktu bekerja, semakin banyak alokasi waktu, bekerja yang dilakukan oleh wanita, semakin banyak juga penghasilan yang didapat wanita, begitupun juga tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan wanita semakin mempengaruhi pola pikir tiap wanita, sehingga ada yang berfikir biaya pendidikan yang tinggi jika tidak dimanfaatkan untuk bekerja juga tidak bsa mengembalikan modl selama menempuh pendidikan.. Kecamatan Klojen merupakan salah satu Kecamatan di Kota Malang, salah satu kecamatan yang padat penduduknya karena Balai kota dan Stasiun Kota Baru terletak di kecamatan ini, hal ini juga menjadikan salah satu alasan wanita untuk bekerja, karena semakin padat pertumbuhan penduduk, maka semakin sulit untuk menambah penghasilan keluarga. Penelitian ini adalah bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pendapatan Wanita, Alokasi Waktu Bekerja, Tanggungan Keluarga dan Tingkat Pendidikan terhadap Pendapatan Keluarga. Kecamatan Klojen Kota Malang sebagai lokasi penelitian dan wanita yang bekerja sebagai populasi dan sampel. Jumlah populasi adalah sebesar 100 responden. Dalam penelitian ini menggunakan metode sampling aksidental yaitu pengambilan sampel berdasarkan kebetulan bertemu dengan peneliti sehingga bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok langsung dimasukkan dalam data. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis data menggunkan metode regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara bersama-sama pendapatan wanita, alokasi waktu bekerja, tanggungan keluarga dan tingat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan keluarga (1) Pendapatan wanita berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendpatan keluarga (2) alokasi waktu bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan keluarga (3) tanggungan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan keluarga (4) Tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan keluarga di Kecamatan Klojen Kota Malang dan variabel yang dominan mempengaruhi pendapatan keluarga adalah tingkat pendidikan
Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Pengungkapan Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan yang Terdaftar Dalam LQ 45 di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2017
ABSTRAK Zagita, Nabila . 2018. Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Pengungkapan Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan yang Terdaftar Dalam LQ 45 di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2017. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Dodik Juliardi, S.E., M.M., Ak Kata Kunci : kinerja lingkungan, pengungkapan lingkungan, kinerja keuangan Kinerja lingkungan yang dinilai oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) merupakan upaya perusahaan agar diterima oleh masyarakat. Dengan masyarakat menerima keberadaan perusahaan maka akan menerima produk perusahaan sehingga kinerja keuangan meningkat dan berdampak pada going concern perusahaan. Selain itu masyarakat juga melihat pengungkapan lingkungan yang diungkapkan oleh perusahaan untuk menilai apakah perusahaan tersebut sudah turut serta melakukan pelestarian lingkungan atau tidak. Kedua hal tersebut jika dilakukan dengan baik akan meningkatkan kinerja keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja lingkungan dan pengungkapan lingkungan terhadap kinerja keuangan. Kinerja lingkungan diproksikan menggunakan PROPER sedangkan pengungkapan lingkungan menggunakan Global Reporting Initiative (GRI) dan kinerja keuangan menggunakan Return on Asset (ROA) Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanatif. Perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan LQ 45 di BEI tahun 2015 – 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi pada data laporan keuangan dan annual report yang terdapat di website BEI. Adapun analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan teknik pengambilan sampel yakni purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa : Pertama, Kinerja Lingkungan berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan yang artinya tidak ditolak. Kedua, Pengungkapan Lingkungan tidak berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan yang artinya ditolak
Model Kewirausahaan Berbasis Karakter Islami Bagi Gurusekolah Binaan Kartika Candra Kiranadi Wilayah Malang
Silahkan unduh fulltek
Model Kewirausahaan Berbasis Karakterbagi Guru Sekolah Binaan Persit Kartika Candra Kirana Di Wilayah Malang
Data BPS (1999) dari kantor Menteri Negara Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 37,,86 juta unit usaha, yang hampir keseluruhannya (37,8 juta atau 99,9%) adalah usaha kecil. Sedangkan sisanya sekitar 51,8 ribu (0,14%) masuk dalam kategori usaha besar. Sekitar 59,6 juta orang tenaga kerja (88,9% dari 67,1 juta lapangan kerja nasional) diserap oleh usaha kecil. Namun perannya dalam pembentukan POB nasional (non-migas) hanya 41,3%. Sedang usaha menengah dan besar berturut-turut sebesar 16,3% dan 33,1 %. Sebagai contoh Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang yang rata-rata adalah usahanya kurang serius yang dikenal dengan usaha kecil tradisional adalah usaha yang menggunakan alat produksi sederhana yang telah digunakan secara turun temurun, dan berkaitan dengan seni dan·budaya. Karakteristik yang khas dari Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana, terutama mengenai bakat (personality traits), guru-guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana tersebut memulai usaha dan bagaimana mereka bertahan dalam kondisi lingkungan yang berubah terus menerus (open-ended changes). Keberhasilan usaha kecil Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang, sering kali dikaitkan dengan bakat yang dimiliki oleh seseorang, bukan oleh faktor-faktor lain. Dalam kaitannya dengan upaya untuk mempertahankan usahanya, Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang memerlukan suatu strategi positioning yang kuat serta konsisten dalam suatu lingkungan persaingan yang dinamis. Hal ini memerlukan suatu perbaikan yang berkelanjutan. Di sisi lain perubahan yang terjadi merupakan perubahan paradigma persaingan yang bersifat tidak terus-menerus (discontinuous). Untuk mengelola perubahan tersebut agar efektif, diperlukan suatu proses pembelajaran baik untuk memperkuat posisi saat ini (single-loop learning) maupun untuk menemukan landasan kokoh guna mengungguli pesaing (double-loop learning). Di sisi lain, pesaing-pesaing yang ada boleh jadi adalah seorang pendatang baru dalam suatu industri atau pasar, untuk itu Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang harus mampu menemukan cara mengatasi setiap kendala guna masuk dalam suatu industri (entry barriers). Semua ini merupakan suatu proses pembelajaran, dimana pembelajaran tersebut tergantung pada kesadaran akan strategi dan pemanfaatan pengetahuan serta informasi baik dari dalam organisasi itu sendiri maupun dari lingkungan luar organisasi di pinggiran kota Malang yang terus mengalami perubahan pembangunan yang semakin pesat. Ketika pembelajaran dipandang sebagai konsep wirausaha, maka hal ini berkaitan dengan bagaimana guru-guru sekolah, binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang mengenali dan bertindak terhadap peluang yang ada, serta mengelola dan mengorganisasikan perusahaan yang telah dibangun mulai awal. Pembelajaran wirausaha dilakukan dengan maksud belajar bekerja dengan cara berwirausaha. Akan tetapi hal tersebut tidak hanya cukup memahami caracara wirausaha saja, tetapi harus terjun secara aktif dan melakukan untuk memahami 'what is it that work' dan menyadari bahwa ia dapat melakukan hal tersebut. Dalam hal ini belajar tidak hanya bertujuan untuk memperoleh pengalaman semata, tetapi proses berpikir yang berorientasi ke masa yang akan datang dalam menciptakan suatu realitas masa depan. Walaupun program pemberdayaan terus dikembangkan, baik melalui bimbingan masal (Binmas), Kredit Investasi Kecil (KlK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP), permasalahan usaha kecil tradisional dan menengah di pinggiran kota Malang masih saja seputar kendala permodalan dengan berbagai pola yang seringkali dipolitisasi dan menguntungkan pihak-pihak tertentu. Sasaran akhir dari program pemberdaya Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang menjadi sangat tidak jelas. (SUSEDA Kota Malang, 2000) Tiga persoalan penting yang mestinya menjadi program dan prioritas utama dalarn pemberdayaan Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang meliputi: Pertama, kemandirian. Masalah kemandirian di Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang tergolong isu klasik. Dalam hal kemandirian, Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang kerap terbentur pada persoalan keterbatasan sumberdaya manusia, sumberdaya alam, pemasaran dan permodalan. Di samping itu, pola pembinaan terhadap Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang oleh pemerintah yang dilakukan selama ini, sebagian diantaranya dianggap telah menimbulkan berbagai ketergantungan, yang berakibat pada rendahnya tingkat kompetisi diantara mereka. Karena itu upaya peningkatan kemandirian harus terus dilakukan dengan mengurangi berbagai intervensi pemerintah daerah, dengan menjadikan Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang sebagai mitra. Kemandirian Guru sekolah binaan Persit Kartika Candra Kirana di wilayah Malang terkait juga dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia, akses pasar, akses modal dan sebagainya
Deteksi Manajemen Laba di Sektor Perbankan
Proxy of discretionary accruals as an indication of earnings management were developed in many ways whereas each model was claimed to be more powerful than another.Therefore, this study aims to examine the power of several discretionary accruals models to confirm which model that is suficient to measure earnings management. This study also conducts a t-test to know whether there is a diference in discretionary accruals results among the models. The test is conducted in conventional banks listed in LQ45 as most market capitalization banks. The most powerful model is Shivakumar (1996) and followed by Kasznik (1999). It means non-discretionary accruals mostly are formed by cash fows from operation; gross revenue; and investment in property, plant, and equipment that cannot be managed. Accruals but of these three are classifed as discretionary accruals. Results implicate that Shivakumar (1996) model can be used to improve the power of discretionary accruals measurement. This study also found that there is a diference in discretionary accruals among the models. The investigation of discretionary accruals in many contexts still become a concern. Keywords: earnings management, accruals, discretionary accruals, non-discretionary accruals, conventional banks
Income Inequality and Access of Housing
RINGKASANIncreasing income inequality potentially affect every dimension of human life, including opportunity to access housing. With more people have less income, it will hard for them to provide adequate dwellings, in term of per capita floor area. The small per capita floor area indicates households inability to provide better living condition for their family member. This research explores the relationship between income inequality and access of housing in Indonesia. We found that more unequal income drives to difficulities to obtain larger per capita floor area. The effect is quite different between population in Java Island and outside of Java Island. As income inequality rises in Java Island, less people will have less than 7,2 square meter per capita. On the other hand, as income inequality rises in outside of Java Island, more people will have less than 7,2 square meter per capita