Jurnal Sistem Informasi
Not a member yet
231 research outputs found
Sort by
STUDI KASUS LINGUSQL: APLIKASI TRANSAKSI PERDAGANGAN SAHAM
Proses pengembangan perangkat lunak yang ideal selalu mensyaratkan pengujian yang menyeluruh untuk memperoleh hasil perangkat lunak yang memiliki tingkat kebenaran tertentu. Namun pada prakteknya pengujian secara menyeluruh sangat jarang dilakukan karena membutuhkan sumber daya waktu dan biaya yang banyak. LinguSQL adalah sebuah tool pengembangan eksperimen yang mengintegrasikan proses pengujian secara whitebox dan blackbox ke dalam aktifitas pembuatan kodenya. Paper ini memaparkan penerapan LinguSQL dalam pengembangan studi kasus sebuah aplikasi transaksi perdagangan saham. Penerapan LinguSQL pada studi kasus yang cukup kompleks diharapkan akan menampilkan keuntungan konsep pengujian secara menyeluruh serta, dalam konteks implementasi tool, menunjukkan bagian-bagian yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut.
The ideal process software development always requires thorough testing to obtain the software that has a certain degree of truth. However, in practice very rarely thorough testing done because it requires so much resources of time and cost. LinguSQL is an experimental tool that integrates the development process is whitebox and blackbox testing in manufacturing activity code. This paper describes the implementastion of LinguSQL in the development of a stock trading application case study. Implementation of LinguSQL on a complex case study will show the expected benefit of testing the concept a thorough and in the context of the implementation tool, showing the parts that still need to be developed further
FINDING STRUCTURED AND UNSTRUCTURED FEATURES TO IMPROVE THE SEARCH RESULT OF COMPLEX QUESTION
The current researches on question answer usually achieve the answer only from unstructured text resources such as collection of news or pages. According to our observation from Yahoo!Answer, users sometimes ask in complex natural language questions which contain structured and unstructured features. Generally, answering the complex questions needs to consider not only unstructured but also structured resource. In this work, researcher propose a new idea to improve accuracy of the answers of complex questions by recognizing the structured and unstructured features of questions and them in the web. Our framework consists of three parts: Question Analysis, Resource Discovery, and Analysis of The Relevant Answer. In Question Analysis researcher used a few assumptions and tried to find structured and unstructured features of the questions. In the resource discovery researcher integrated structured data (relational database) and unstructured data (web page) to take the advantage of two kinds of data to improve and to get the correct answers. We can find the best top fragments from context of the relevant web pages in the Relevant Answer part and then researcher made a score matching between the result from structured data and unstructured data, then finally researcher used QA template to reformulate the questions.
Penelitian yang ada pada saat ini mengenai Question Answer (QA) biasanya mendapatkan jawaban dari sumber teks yang tidak terstruktur seperti kumpulan berita atau halaman. Sesuai dengan observasi peneliti dari pengguna Yahoo!Answer, biasanya mereka bertanya dalam natural language yang sangat kompleks di mana mengandung bentuk yang terstruktur dan tidak terstruktur. Secara umum, menjawab pertanyaan yang kompleks membutuhkan pertimbangan yang tidak hanya sumber tidak terstruktur tetapi juga sumber yang terstruktur. Pada penelitian ini, peneliti mengajukan suatu ide baru untuk meningkatkan keakuratan dari jawaban pertanyaan yang kompleks dengan mengenali bentuk terstruktur dan tidak terstruktur dan mengintegrasikan keduanya di web. Framework yang digunakan terdiri dari tiga bagian: Question Analysis, Resource Discovery, dan Analysis of The Relevant Answer. Pada Question Analysis peneliti menggunakan beberapa asumsi dan mencoba mencari bentuk data yang terstruktur dan tidak terstruktur. Dalam penemuan sumber daya, peneliti mengintegrasikan data terstruktur (relational database) dan data tidak terstruktur (halaman web) untuk mengambil keuntungan dari dua jenis data untuk meningkatkan dan untuk mencapai jawaban yang benar. Peneliti dapat menemukan fragmen atas terbaik dari konteks halaman web pada bagian Relevant Answer dan kemudian peneliti membuat pencocoka skor antara hasil dari data terstruktur dan data tidak terstruktur. Terakhir peneliti menggunakan template QA untuk merumuskan pertanyaan
PENDEFINISIAN INSTRUMEN EVALUASI WEBSITE E-COMMERCE BUSINESS TO CONSUMER (B2C)
Dalam meningkatkan keunggulan kompetitif suatu organisasi, aplikasi e-commerce dapat digunakan untuk meningkatkan proses supply chain suatu organisasi. Saat ini di Indonesia sudah banyak organisasi yang mulai memanfaatkan aplikasi e-commerce B2C (Business to Consumer) dalam memasarkan produknya. Implementasi konsep B2C dilakukan melalui pembuatan website e-commerce yang digunakan untuk bertransaksi secara langsung dengan konsumen. Namun, pembuatan website pribadi untuk perdagangan elektronik tersebut tidak serta merta memberikan kesuksesan bagi perusahaan yang mengimplementasikannya. Di Indonesia, belum banyak website B2C yang bermunculan. Oleh karena itu, sebuah instrumen evaluasi terhadap website e-commerce perlu didefinisikan untuk meningkatkan kinerja website e-commerce. Paper ini akan membahas mengenai proses pendefinisian instrumen evaluasi sebuah website e-commerce ditinjau dari sudut pandang pengunjung pertama, intermittent, dan frequent. Hal ini dikarenakan masing-masing pengunjung memiliki karakteristik yang berbeda dan membutuhkan sebuah instrumen evaluasi yang berbeda pula. Pendefinisian instrumen evaluasi website e-commerce ini didasarkan pada beberapa teori yang sudah ada dan berbagai macam literatur lainnya.
In improving the competitive advantage of an organization, e-commerce applications can be used to improve an organization's supply chain process. Currently in Indonesia there are many organizations are beginning to utilize e-commerce B2C (Business to Consumer) applications in marketing their products. Implementation is done through development of B2C e-commerce website that used to trade directly with consumers. However, development of personal websites for electronic commerce does not necessarily provide success for the company that implements it. In Indonesia, only a few B2C websites are popping up. Therefore, an evaluation instrument for e-commerce website needs to be defined to improve the performance of e-commerce website. This paper will discuss the process of defining an evaluation instrument for e-commerce website from the point of view of the first visitors, intermittent, and frequent. This is because each visitor has different characteristics and require a different evaluation instruments. Defining the evaluation instrument e-commerce website is based on several existing theories and various other literature
SURVEI 2009: MUTU SITUS E-LEARNING SEKOLAH INDONESIA MASIH SANGAT MINIM
Di beberapa negara yang infrastruktur internet telah memadai, banyak sekolah yang telah memanfaatkannya sebagai salah satu faktor pendukung kesuksesan proses pembelajaran. Pemerintah Indonesia pun telah memulai teknologi ini guna memperluas akses sumber daya pembelajaran sehingga tak terbatas oleh waktu dan ruang. Makalah ini melaporkan hasil survei yang menggambarkan seberapa jauh sistem e-learning telah dipakai di sekolah Indonesia. Data hasil survei menunjukkan bahwa kualitas pemanfaatan situs e-learning masih kurang dan perlu mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak terkait.
In some countries that have adequate internet infrastructure, many schools are already using it as one of the factors supporting the success of the learning process. The Indonesian government also has initiated this technology to expand the access to learning resources that is unlimited by time and space. This paper reports the results of the survey that describe the extent to which e-learning system has been used in Indonesian schools. Survey data indicate that the quality of utilization of e-learning is still lacking and need attention and support from all parties concerned
STRATEGI MANAJEMEN PERUBAHAN UNTUK MENDUKUNG IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT STUDI KASUS: RSUD RAA SOEWONDO PATI
Seiring dengan perkembangan rumah sakit dan teknologi informasi, Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) RAA Soewondo dirasa tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan informasi. Keterbatasan tersebut membuat pihak manajemen berencana mengganti SIRS mereka. Agar implementasi SIRS yang baru dapat berhasil, perlu dilakukan strategi manajemen perubahan yang tepat pada rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi manajemen perubahan untuk implementasi SIRS di RAA Soewondo. Penelitian dilakukan menggunakan pengambilan data melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Tindakan perubahan didapat dengan analisis SWOT, kemudian dikelompokan ke dalam metode manajemen untuk membuat strategi manajemen perubahan. Metode manajemen perubahan yang digunakan adalah Anderson dan Anderson Nine Phase Model. Dari hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa faktor resistensi karyawan relatif kecil. Tindakan perubahan yang sesuai dengan manajemen perubahan adalah dukungan pimpinan untuk implementasi perubahan SIRS, membuat persamaan visi dan misi ke semua bagian rumah sakit tentang perubahan SIRS, merancang keadaan perubahan yang diinginkan dengan memerhatikan divisi yang terpengaruh oleh perubahan SIRS ini, melakukan penggantian dengan metode pararel cutover, memberikan penghargaan kepada karyawan yang ikut menyukseskan program ini, serta membuat kebijakan baru agar kebijakan yang sudah berjalan menjadi permanen. Hasil akhir menunjukkan secara umum karyawan rumah sakit setuju akan perubahan SIRS saat ini.
Along with the development of hospitals and information technology, the Soewondo RAA Hospital Information System (SIRS) felt unable to meet the information needs. These limitations make the management of SIRS plans to replace their SIRS. In order for successful implementation of new SIRS, change management strategy needs to be done right at the hospital. This study aims to formulate strategies for implementing change management in the RAA Soewondo SIRS. The study was conducted using data collection through questionnaires, interviews, and observation. Action changes obtained with SWOT analysis and then grouped into a management method for making the change management strategy. Change management method that had been used is Anderson and Anderson Nine Phase Model. The study shows that the staff’s resistance is relatively small. Action changes according that related to change management is leadership support for implementation of changes to SIRS, making equality vision and mission to all parts of the hospital about the change of SIRS, designing state of the desired changes with respect to the division that is affected by changes in SIRS, do the replacement with parallel cutover method , presents awards to employees who make this program succeed, and create new policies to estabilish policies that are already running to be permanent. The final results shows: in general, the employees agreed to change the current SIRS
FAKTOR-FAKTOR SISTEM INTERAKSI YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS IKLAN ONLINE
Penelitian ini mengkhususkan pada efektifitas iklan online dengan memanfaatkan sudut pandang ilmu sistem interaksi atau lazim disebut human-computer interaction. Pendekatan yang dipergunakan dalam pengukuran efektifitas adalah jumlah klik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang berkaitan dengan ilmu sistem interaksi yang mempengaruhi efektifitas tersebut. Metode yang dipergunakan adalah metode kuantitatif dengan populasi civitas akademika Universitas Indonesia. Setelah melakukan penelitian ini, peneliti menemukan bahwa faktor-faktor tersebut berpengaruh besar terhadap efektifitas iklan online sesuai dengan pendekatan jumlah klik yang diterapkan pada penelitian ini
PEMANFAATAN DATA WAREHOUSE DI PERGURUAN TINGGI INDONESIA
Paradigma Baru Pendidikan Tinggi [1,2] yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 1995, mengubah pola manajemen institusi pendidikan tinggi di Indonesia, dimana manajemen institusi pendidikan tinggi harus senantiasa melakukan evaluasi diri secara berkesinambungan guna peningkatan kualitas institusi tersebut dalam melaksanakan misi Tridharma Pendidikan Tinggi. Untuk dapat melakukan evaluasi diri diperlukan berbagai data dan informasi, baik data internal maupun eksternal institusi. Dengan melihat kebutuhan berbagai macam data dan informasi yang diperlukan untuk penyusunan laporan evaluasi diri, seharusnya dapat mendorong pemanfaatan teknologi data warehouse maupun data mining pada institusi tersebut. Pada kenyataannya, belum ada satupun institusi pendidikan tinggi di Indonesia yang memanfaatkan teknologi data warehouse maupun data mining untuk penyusunan laporan evaluasi diri. Hal ini disebabkan karena hampir semua institusi pendidikan tinggi di Indonesia belum mempunyai Sistem Informasi yang tertata dengan baik dan digunakan untuk pengelolaan manajemen institusi pendidikan tinggi pada semua jenjang atau tingkatan manajemen (institusi, fakultas, jurusan maupun program studi)
PENGEMBANGAN MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI INTERNET OLEH PELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)
Teknologi internet mulai diterima dan digemari dikalangan pelajar. Pelajar menggunakan fasilitas internet untuk membantu mereka dalam penyelesaian tugas sekolah. Tulisan ini menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) untuk membangun model penerimaan teknologi internet di kalangan pelajar. Penelitian ini melibatkan 5 variabel endogen dan mengikutsertakan 4 variabel eksogen. Metode analisis yang digunakan adalah generalized least square (GLS) dan menggunakan polychoric correlation matrix dan asymptotic covariance matrix sebagai data tambahan. Tesis ini melibatkan 15 hipotesis yang mewakili hubungan antara variable-variabel yang ada. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mendapatkan dan membuktikan model penerimaan teknologi internet yang komprehensif. Model penerimaan teknologi internet yang diperoleh bisa memberikan gambaran indikator-indikator yang harus diperhatikan dan menjadi hal yang bisa dikembangkan untuk penelitian lebih lanjut
IDENTIFIKASI PORTOFOLIO, STRATEGIC SOURCING DAN PENGUKURAN KETERSEDIAAN LAYANAN TI PADA PT PLN (PERSERO) WILAYAH SUMATERA SELATAN, JAMBI, DAN BENGKULU
PT. PLN Wilayah Sumsel, Jambi dan Bengkulu banyak menggunakan layanan TI agar dapat mengelola proses bisnisnya dengan baik. Tidak adanya suatu mekanisme pengukuran kinerja pihak ketiga membuat perusahaan kesulitan mengukur kinerja pihak ketiga. Penelitian ini ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di PT. PLN Wilayah Sumsel, Jambi dan Bengkulu. Tahap pertama penelitian ini akan dilakukan dengan menjabarkan strategi dengan analisis SWOT, yang menghasilkan portofolio layanan TI. Tahap selanjutnya adalah pemberian rekomendasi mengenai strategic sourcing dalam membangun layanan TI perusahaan dengan menganalisis kondisi perusahaan saat ini. Pada tahap akhir penelitian akan dijabarkan mengenai mekanisme pengukuran ketersediaan layanan TI dengan kerangka kerja COBIT 4.1 sub segmen DS1. Dari hasil penelitian diperoleh portofolio layanan TI yang secara efektif dapat mendukung perusahaan. Penelitian ini juga menghasilkan temuan yang menunjukkan bahwa perusahaan belum mampu mengelola sendiri layanan TI secara internal, sehingga pengembangan layanan TI sebaiknya dilakukan melalui outsourcing. Formulasi mengenai SLA juga diusulkan dalam penelitian ini agar dapat digunakan untuk mengukur kinerja pengelola layanan TI perusahaan.
PT. PLN Region Sumsel, Jambi and Bengkulu use IT services in order to properly manage its business processes. The absence ofa mechanism for third-party performance measurement make it difficult to measure the performance of third parties.This study aimed to address the various problems that exist in there. The first phase of this research will be done by outlining strategies with SWOT analysis, which produces a portfolio of IT services. The next stage is the provision of recommendations on the strategic sourcing in developing IT services in the company by analyzing the current condition of the company. In the final stage of research, we will clarify the mechanisms in measuring the availability of IT services with COBIT 4.1framework, DS1 sub segments. From the research results obtained a portfolio of IT services that can effectively support the company. The study also produced findings that shows the company has not been able to manage their own IT services internally, so the development of IT services should be done through outsourcing. Formulation of the SLA is also proposed in this study, so that can be used to measure the performance of IT service management company
KAJIAN PROFILISASI ASET INFORMASI MENGGUNAKAN INFORMATION ASSET PROFILING DAN KUANTIFIKASI NILAI EKONOMISNYA BERDASARKAN ANALISIS RISIKO PADA INDUSTRI RUMAH SAKIT
Salah satu isu utama dalam industri kesehatan adalah kurangnya manajemen yang tepat dalam aset informasi. Hilangnya aset informasi dapat diklasifikasikan sebagai bencana yang dapat mengakibatkan kerugian finansial. Seringkali, ini kerugian keuangan sulit untuk menghitung karena nilai ekonomi dari aset informasi tidak diukur. Penelitian ini akan membahas informasi manajemen aset di industri kesehatan menggunakan Steven Informatian Profil Aset (IAP), khususnya pada proses bisnis inti. Kuantifikasi nilai ekonomi aset informasi dilakukan melalui analisis risiko menggunakan diagram tulang ikan. Ini adalah hasil pemetaan risiko dalam kategori Ranti yang Generik / TI Nilai Bisnis, dikombinasikan dengan empat Su model dampak bisnis (keuangan, operasional, pelanggan, dan karyawan). Hal ini bertujuan untuk membantu menentukan metrik yang menunjukkan kuantifikasi kerugian finansial yang mungkin timbul dari kehilangan informasi aset. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa IAP dapat digunakan sebagai metode manajemen informasi aset, serta praktek terbaik dalam penerapan awal manajemen risiko. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai aset informasi tidak selalu sesuai dengan nilai positif ekonominya karena tergantung pada tingkat pemulihan data di masing-masing aset.
One primary issue in healthcare industry is the lack of proper management in its information asset. The loss of information asset can be classified as a disaster that might lead to financial loss. Often, this financial loss is hard to calculate since the economic value of the information asset is not quantified. This study will address information asset management in healthcare industry using Steven’s Informatian Asset Profiling (IAP), specifically on its core business process. Quantification of the economic value of information asset is performed through risk analysis using fishbone diagram. It is the mapping result of risks categories in Ranti’s Generic IS/IT Business Value, combined with Su’s four models of business impact (financial, operational, customer, and employee). It aims to help determining quantification metrics which shows financial loss that might result from information asset loss. The result of this study shows that IAP can be used as a method of information asset management, as well as the best practice in the early application of risk management. The study also finds that information asset value does not always correspond positively with its economic value as it depends on the level of data recovery in each asset