Jurnal Komunikasi Islam
Not a member yet
161 research outputs found
Sort by
Framing Media Islam Online atas Konflik Keagamaan di Indonesia
cannot break away from the ideological background or vi–sion of their own umbrella institution, so that the construc–tion of reality just follows the interest each has. By using Gamson’s and Modigliani’s tools of framing analysis, this paper analyzes how three Islamic media, namely arrahmah. com, voa-islam.com and hidayatullah.com, construct the re–ligious conflicts that occurred in Indonesia from 2011 to early 2012 in their own news-making. The results suggest that in news-making of religious conflicts, those three online media tended to do news-framing vulgarly, sarcastically, and provocatively.Keywords: online Islamic media, news, religious conflict, framing.---------------------------------------------------------------------------Ketika media memberitakan peristiwa atau isu tertentu, seringkali media tidak dapat melepaskan diri dari latar ideologi atau visi lembaga, sehingga konstruksi atas realitas yang terbangun juga cenderung mengikuti perspektif yang dimiliki masing-masing media. Dengan menggunakan analisis framing dari Gamson dan Modigliani, tulisan ini mengulas bagaimana tiga media Islam online, yakni arrahmah.com, voa-islam.com dan hidayatullah.com meng–konstruksi atau mengemas pemberitaan seputar konflik keagamaan di Indonesia dalam kurun 2011 hingga awal 2012. Hasil studi ini menyatakan bahwa dalam melakukan pewartaan atau membuat berita konflik keagamaan, ketiga media online tersebut telah melakukan pembingkaian (fra–ming) yang cenderung vulgar, sarkas dan provokatif.Kata Kunci: media Islam online, berita, konflik keagamaan, framing
Konstruksi Jender dalam Pertarungan Simbolik di Media Massa
This article examines gender construction in a symbolic dispute in the mass-media that covers euphe–mism and form of censorship. Using critical discourse analysis and hermeneutic, the study concludes that euphe–mism style of male and female in mass media is perceived as a process of shaping and constructing the role patterns of the male and female which then externalized to be a culture. In order to avoid being seen as a violence, gender construction of male and female is done by a variety of styles; changing, neutrallizing the general meaning and defining definition differrently. The form of censorship used by the perpetrator of gender construction in order to maintain the domination is conducted by conceptualizing and reconceptualizing “honor moral” of male and female.Keywords: gender, symbolic struggle, mass media----------------------------------------------------------------------------Artikel ini membahas konstruksi jender dalam pertarungan simbolik di media massa yang meliputi ben–tuk eufimisasi dan sensorisasi. Dengan memakai analisis wacana kritis dan hermeneutika, studi ini menyimpulkan bahwa gaya eufimisasi laki-laki dan perempuan di media massa disikapi sebagai proses pembentukan peran laki-laki dan perempuan, sehingga tereksternalisasi menjadi suatu kaidah budaya. Agar tidak tampak sebagai suatu bentuk kekerasan, proses konstruksi jender laki-laki dan perem–puan dilakukan dengan menggunakan gaya penggantian, penetralisasian makna umum, dan pendefinisian distingtif. Bentuk sensorisasi yang digunakan pelaku konstruksi jen–der untuk mempertahankan dominasi ialah dengan kon–septualisasi dan rekonseptualisasi “moral kehormatan” laki-laki dan perempuan.Kata Kunci: jender, pertarungan simbolik, media mass
Review Buku: Memahami Pola Komunikasi Melalui Pendekatan Etnografi
Meski etnografi sudah diperkenalkan sejak 1960-an, namun dalam ilmu komunikasi, khususnya di Indonesia, studi etnografi memang masih menjadi “barang langka”. Boleh jadi, hal ini disebabkan oleh mispersepsi di kalangan akademisi bahwa etnografi adalah milik antropologi yang lebih mengarah pada kajian masyarakat desa atau pedalaman, sedangkan ilmu komunikasi lebih pada masyarakat urban
Memahami Epistemologi Dakwah
This article discusses the epistemology of proselytizing. The writer argues that the epistemology of proselytizing does not concern with a statement or judgment, but with questions about the basis of the considerations and evidence of proselytizing in a wider context. In addition, epistemology proselytizing should be based on reality and use daily language.Keywords: epistemology, consideration, evidence of proselytizing---------------------------------------------------------------------------Artikel ini membahas epistemologi dakwah. Penulis berargumentasi bahwa epistemologi dakwah tidak hanya berurusan dengan pernyataan atau pertimbangan, tetapi berurusan dengan pertanyaan mengenai dasar-dasar dari pertimbangan dan evidensi dakwah yang lebih luas dari pada persoalan pertimbangan itu sendiri. Selain itu, epistemologi dakwah harus berpijak pada realitas yang terjadi dalam realitas masyarakat dan harus menggunakan bahasa sehari-hari.Kata Kunci: epistemologi, pertimbangan, evidensi dakwah
Dakwah Inklusif Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid is synonymous with inclusive Islam discourse. His works are quite consistent in voicing the idea of Islam as an open religion. This article specifically examines the construction of inclusive proselytizing of Nurcholish Madjid and its significance for religious practice. This paper also argues that the people of Indonesia need to embrace and implement inclusive proselytizing in order to create interfaith community or inter-religious harmonyKeywords: Nurcholish Madjid, inclusive proselytizing, inter-religious harmony------------------------------------------------------------------------Wacana Islam inklusif sangat melekat dengan sosok Nurcholish Madjid. Karya-karyanya cukup konsisten dalam menyuarakan gagasan Islam sebagai agama terbuka. Artikel ini membahas secara khusus konstruksi dakwah inklusif Nurcholish Madjid dan signifikansinya dalam konteks keberagamaan. Tulisan ini berargumen bahwa dakwah inklusif perlu digerakkan oleh bangsa Indonesia agar kerukunan antarwarga dan antarumat beragama dapat tercipta dengan baik.Kata kunci: Nurcholish Madjid, dakwah inklusif, kerukunan beragam
Quo Vadis Komunikasi Islam: Menuju Penyeimbangan Nalar Kritis dan Pragmatis di Tengah Global Village
Islamic communication (dakwah) that is currently in the midst of a global village requires a total reconstruction and redefinition of its existence through critical reflection. This article discusses how Islamic communication can balance between the critical and pragmatic reasoning amid global village in order to face the challenges of contemporary society. The writer argues that to make it happen, the reconstruction of Islamic communication needs to be placed in a well-ordered system by designing curriculum that emphasizes on students’ critical thinking and practical knowledge.Keyword: Islamic communication, critical reasoning, pragmatic reasoning.--------------------------------------------------------------------------Komunikasi Islam (dakwah) yang saat ini berada di tengah kampung global menuntut rekonstruksi dan redefinisi secara total dengan cara melakukan refleksi kritis terhadap eksistensinya. Artikel ini membahas lebih dalam bagaimana komunikasi Islam mampu menyeimbangkan nalar kritis dan pragmatis di tengah global village (kampung global) agar dapat menjawab tantangan masyarakat dan zaman. Ia beragumentasi bahwa untuk mewujudkan hal itu, rekonstruksi komunikasi Islam perlu diletakkan pada suatu sistem yang tertata secara baik dengan melakukan disain kurikulum yang benar-benar mengarahkan kemampuan mahasiswa bernalar kritis dan memiliki kemampuan praktis.Kata kunci: komunikasi Islam, nalar kritis, nalar pragmatis
Menjadi Pembicara Publik Andal: Fenomena Public Speaker, Antara Kebutuhan dan Tren
As the overwhelming information is on the rise,effective communication is a necessary strategy for public speakers to deliver the message to a wide range of audiences. As a result, public speaking requires not only speaking skill, but also a basis competence integrating other three elements into the skill, science, art, and soul. This article discusses strategies of becoming good and reliable public speakers. It argues that these strategies play an important role in conveying the message to the audience in an effective and efficient way.Keywords: public speaker, competence, reliable strategy, speaking skill------------------------------------------------------------------------Di tengah gempuran jutaan informasi yang muncul di hadapan kita setiap hari, menuntut seorang public speaker untuk memikirkan strategi yang andal agar pesan tersampaikan secara efektif. Public speaking bukan lagi sekedar sebagai keterampilan berbicara, namun sudah menjadi sebuah kompetensi yang mensyaratkan terintegrasinya empat unsur dalam diri public speaker, yakni science, skills, arts dan souls. Artikel ini mendiskusikan bagaimana strategi menjadi seorang public speaker yang baik dan andal agar pesan dapat tersampaikan tepat sasaran, sesuai harapan, dan bertahan lama dalam benak audienKata kunci: public speaker, kompetensi, strategi andal, modul public speakin
Penerapan Nilai-nilai Islam dalam Pemberitaan Korupsi di Media Massa
oai:ojs.180.250.165.135:article/1Abstract: Corruption has received the most attention from many mass media. The perpetrators of corruption who are mostly state officials, party cadres, youth leaders, and celebrities have the magnitude for media coverage. This paper discusses how journalists use the Code of Ethics of Journalism (CEJ) and Islamic values in making the news in a corruption case. This article argues that there are some media that have crossed the boundaries in making the news, whereas in writing the news, journalists should follow CEJ. In particular, if the reporter is Muslim, he should hold and apply Islamic values in reporting news.Abstrak: Korupsi merupakan salah satu topik yang sering menghiasi halaman muka surat kabar. Para pelaku korupsi yang umumnya adalah pejabat, kader partai, dan tokoh muda, serta selebritas memiliki daya tarik yang besar untuk diberitakan. Tulisan ini membahas bagaimana media massa menggunakan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan nilai-nilai Islam dalam melakukan pemberitaan dalam kasus korupsi. Penulis berpendapat bahwa terdapat beberapa media yang kebablasan dan melakukan pengadilan pers (trial by the press). Padahal dalam menulis berita, wartawan seharusnya berpegang pada KEJ. Apalagi bagi wartawan muslim, mereka semestinya juga berpegang pada nilai-nilai Islam dalam melakukan pemberitaan.Kata Kunci: korupsi, berita, kode etik jurnalistik, nilai-nilai Islam
Dakwah Islam Masa Daulah Abbasiyah
Abstract: This article discusses some aspects of Islamic proselytizing during the Abbasid Daula, especially from the geographical aspect of proselytizing, key figures, patterns of change, the content, its characteristics, and contextualization models that time compared to the contemporary reality, especially in Indonesia. This paper argues that the empire already developed Islamic proselytizing comprehensively in various fields of life. The valuable lesson from the history of proselytizing for today is the importance of the synergy between the authorities and the people in educating the preachers and carrying out the preaching programs.Keywords: aspects of Islamic proselytizing, Abbasid Daula, contemporary reality -----------------------------------------------------------------------Abstrak: Artikel ini membahas tentang aspek-aspek dakwah Islam pada masa Daulah Abbasiyah, baik dari aspek geografis dakwah, para tokoh kunci, bentuk perubahan dan konten dakwah, karakteristiknya serta kontekstualisasi model dakwah pada masa itu dengan realitas kontemporer, khususnya di negara Indonesia. Tulisan ini berargumentasi bahwa imperium ini telah mengembangkan dakwah Islam dengan sangat piawai dan komprehensif di berbagai bidang kehidupan. Sebuah pelajaran yang berharga dari sejarah dakwah untuk masa ini adalah pentingnya sinergi antara penguasa dan rakyat dalam mencetak da’i dan menjalankan program dakwah.Kata kunci: aspek dakwah Islam, daulah Abbasiyah, realitas komtempore
Review Buku: Mencari Formulasi Komunikasi Islam di Tengah Gelombang Media Online
Jurnalistik online adalah terminologi baru di era komunikasi digital. Ia merupakan suatu model jurnalistik yang berkembang dari jurnalistik konvensional, yang tidak hanya berbeda dari segi konten, tetapi juga teknologi, pendekatan dan karakternya. Buku ini mengulas jurnalistik online beserta topik-topik yang bersinggungan dengannya, seperti jurnalisme sipil, media online, kode etik jurnalistik online, gaya penulisan jurnalis online dan teknik-teknik penulisannya. Buku ini juga mengulas fenomena media sosial, blog dan tren radio-tv berbasis internet