MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
Not a member yet
    188 research outputs found

    Pengaruh perendaman resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum Linn) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans

    No full text
    Resin akrilik polimerisasi panas merupakan material yang paling umum digunakan untuk basis gigi tiruan. Kebersihan gigi tiruan yang tidak dijaga dengan baik dapat menimbulkan penumpukan plak serta interaksi mikroorganisme yang menyebabkan peradangan yang disebut denture stomatitis. Salah satu mikroorganisme yang berperan menjadi penyebab denture stomatitis adalah bakteri Streptococcus mutans. Bahan desinfeksi alami yang berasal dari tanaman herbal dapat digunakan sebagai alternatif bahan kimia. Daun kemangi memiliki kandungan senyawa aktif minyak atsiri, tanin, flavonoid, alkaloid, dan saponin yang berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh perendaman resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian eksperimental laboratoris ini menerapkan post-test only group design. Jumlah sampel sebanyak 24 plat resin akrilik polimerisasi panas berukuran 10 x 10 x 2 mm. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok yaitu perendaman dalam ekstrak daun kemangi 10% selama 15 menit dan 30 menit serta perendaman dalam akuades sebagai kontrol negatif selama 15 menit dan 30 menit. Jumlah rata-rata Streptococcus mutans setelah perendaman selama 15 menit dalam ekstrak daun kemangi 10% adalah 17.333,33 CFU/ml dan dalam akuades adalah 108.333,33 CFU/ml. Jumlah rata-rata Streptococcus mutans setelah perendaman selama 30 menit dalam ekstrak daun kemangi 10% adalah 27.333,33 CFU/ml dan dalam akuades adalah 135.000 CFU/ml. Jumlah Streptococcus mutans setelah perendaman dalam ekstrak daun kemangi lebih sedikit dibandingkan dengan hasil perendaman dalam akuades, dengan hasil independent sample T-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum Linn) 10% selama 15 menit potensial menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans

    Karakterisasi bovine tooth scaffold dalam bentuk nanopartikel dengan uji x-ray diffraction (XRD) untuk terapi periodontitis

    No full text
    Kerusakan tulang alveolar akibat periodontitis memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia. Pencegahan kerusakan tulang alveolar dapat dilakukan dengan terapi regenerasi periodontal. Desain scaffold telah menjadi fokus utama untuk regenerasi jaringan tulang. Bovine teeth scaffold berukuran nanopartikel saat ini sedang dikembangkan sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan scaffold berukuran mikro. Scaffold harus memiliki karakteristik tertentu yang mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel untuk regenerasi jaringan periodontal yang dapat diketahui melalui uji karakterisasi X-ray diffraction. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi bovine teeth scaffold dalam bentuk nanopartikel melalui uji X-ray diffraction (XRD) untuk terapi periodontitis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif untuk mendeskripsikan karakterisasi bovine teeth scaffold dalam bentuk nanopartikel dan data dianalisis secara deskriptif dengan tabel, kurva, dan nilai persentase. Hasil uji XRD menunjukkan bahwa terdapat dua fasa yang terdeteksi, yaitu hidroksiapatit dan whitlockite. Puncak-puncak difraksi hidroksiapatit muncul pada sudut difraksi 2θ sebesar 25,82˚; 31,67˚; 33,91˚; 49,33˚; 50,30˚ dengan puncak tertinggi pada sudut difraksi 31,67˚. Puncak-puncak difraksi whitlockite muncul pada sudut difraksi 2θ sebesar 28,86˚; 32,72˚; 39,58˚; 46,56˚ dengan puncak tertinggi pada sudut difraksi 32,72˚. Grafik menunjukkan pola difraksi sempit, tinggi, dan tajam yang mengindikasikan bahwa bovine teeth scaffold memiliki struktur kristal. Bovine teeth scaffold dalam bentuk nanopartikel mengandung 65% Hidroksiapatit (Ca10(PO4)6OH) dan 35% Whitlockite (Ca10NaMg(PO4)6(CO3) (OH)3). Karakterisasi bovine teeth scaffold dalam bentuk nanopartikel dengan menggunakan uji XRD diperoleh fasa hidroksiapatit sebesar 65% dan fasa whitlockite sebesar 35%

    Penggunaan EDTA 17% sebagai irigan perawatan saluran akar

    No full text
    Keberhasilan perawatan saluran akar ditentukan oleh pembersihan debris, desinfeksi, dan obturasi. Irigasi merupakan bagian penting pada perawatan saluran akar. Tindakan irigasi bertujuan untuk menghilangkan debris dan bakteri pada saluran akar. Salah satu bahan irigasi yang sering digunakan adalah asam etilendiamintetraasetat (EDTA) 17%. Bahan ini berfungsi untuk agen pengkelat dan menghilangkan bagian smear layer yang termineralisasi. Laporan kasus ini membahas perawatan kasus pulpitis irreversible simptomatik yang disertai periodontitis apikalis simptomatik gigi 21 pada perempuan berusia 21 tahun yang mengeluhkan sakit pada gigi kiri rahang atas. Gigi tersebut telah direstorasi sebelumnya. Hasil pemeriksaan subyektif dan obyektif diketahui gigi 21 mengalami pulpitis irreversible simptomatik disertai periodontitis apikalis simptomatik. Perawatan saluran akar yang dilakukan pada kasus ini dengan menggunakan bahan irigan EDTA 17% memperlihatkan hasil yang baik. EDTA 17% berfungsi sebagai agen pengkelat yang efektifuntuk melunakkan dentin, sehingga penggunaan EDTA 17% pada saluran akar yang sempit dan terkalsifikasi dapat memudahkan pelebaran dan pembersihan saluran yang selanjutnya meningkatkan keberhasilan perawatan saluran akar

    Penerapan kontrol infeksi pemeriksaan radiografis panoramik selama pandemi Covid-19 pada fasilitas pelayanan kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta

    No full text
    Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) meningkatkan risiko transmisi virus pada praktik kedokteran gigi sehingga kontrol infeksi perlu diterapkan secara lebih serius. Salah satu rekomendasi kontrol infeksi di bidang kedokteran gigi adalah penggunaan teknik radiografi ekstraoral panoramik untuk meminimalkan transmisi virus melalui saliva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penerapan kontrol infeksi teknik radiografis panoramik pada beberapa fasilitas pelayanan kesehatan selama pandemi Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 31 radiografer yang bekerja pada instalasi radiologi fasilitas pelayanan kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pengalaman bekerja empat tahun terakhir. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner yang berisi 20 butir pernyataan tentang penerapan kontrol infeksi teknik radiografis panoramik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan kategorisasi total skor jawaban responden tiap fasilitas pelayanan kesehatan. Data juga dianalisis menggunakan statistik inferensial yaitu uji komparatif Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 dari 20 item pernyataan yang valid dan reliabel. Mayoritas responden termasuk dalam kategori tinggi dalam penerapan kontrol infeksi teknik radiografis panoramik. Uji komparatif Kruskal-Wallis diperoleh nilai signifikansi 0,805 (p > 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penerapan kontrol infeksi teknik radiografis panoramik pada beberapa fasilitas pelayanan kesehatan selama pandemi Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta

    Pengaruh ekstrak membran kerabang itik konsentrasi 70% terhadap infiltrasi makrofag pada pulpitis reversibel

    No full text
    Pulpitis reversibel merupakan inflamasi pada gigi. Pada saat terjadi inflamasi, sel makrofag akan mendatangi area jejas. Pulpitis reversibel biasanya dirawat dengan material kaping pulpa. Material tersebut ditempatkan pada dasar kavitas untuk menginduksi perbaikan pulpa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi ekstrak membran kerabang itik (Anas platyrhynchos) dengan konsentrasi 70% terhadap infiltrasi sel makrofag pada pulpa yang mengalami pulpitis reversibel. Empat puluh lima tikus Sprague dawley dibagi menjadi tiga kelompok. Pulpitis reversibel diinduksi pada semua tikus Sprague dawley dengan cara mempreparasi gigi molar pertama rahang atas sedalam 0,8mm menggunakan round diamond bur. Ekstrak kerabang itik konsentrasi 70% dan kalsium hidroksida (Ca(OH)2)diaplikasikan pada dasar kavitas pada kelompok ekstrak dan kontrol positif. Kelompok kontrol negatif tidak diaplikasikan apapun pada dasar kavitas hasil preparasi. Selanjutnya semua gigi tersebut ditumpat dengan semen ionomer kaca (SIK). Tikus Sprague dawley didekapitasi pada hari ke-1, 3, 5, 7 dan 14 setelah perlakuan. Sampel rahang atas tikus ditanam dalam parafin dan diwarnai dengan hematoxylin eosin. Selanjutnya diamati jumlah sel makrofag menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 400X. Hasil uji dengan ANOVA dua jalur menunjukkan antara ketiga kelompok penelitian terdapat perbedaan jumlah sel makrofag yang signifikan (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah aplikasi ekstrak membran kerabang itik (Anas platyrhynchos) menyebabkan penurunan jumlah infiltrasi sel makrofag pada pulpa yang mengalami pulpitis reversibel

    Penggunaan gutta-percha measurement cutter untuk mencegah overfilling material obturasi pada perawatan saluran akar gigi insisif sentral rahang atas

    No full text
    Obturasi saluran akar bertujuan menciptakan seal yang rapat secara koronal, lateral, dan apikal yang adekuat untuk mencegah infeksi pasca perawatan. Sensasi tug back pada saat trial obturasi sering digunakan sebagai indikator adaptasi apikal gutta-percha, namun prosedur tersebut tidak selalu mencerminkan posisi ideal secara radiografis. Ketidaksesuaian ukuran master cone dapat menyebabkan adaptasi apikal yang tidak optimal dan berujung pada overfilling, yang berpotensi menimbulkan reaksi inflamasi jaringan periapikal. Gutta-percha measurement cutter merupakan alat bantu yang memungkinkan pengendalian panjang dan diameter ujung gutta-percha secara lebih presisi. Laporan kasus ini membahas seorang pria berusia 36 tahun dengan keluhan gigi insisif sentral rahang atas kanan berlubang besar dan riwayat perawatan saluran akar yang tidak tuntas. Pada tahap trial obturasi ditemukan sensasi tug back, namun evaluasi radiografis menunjukkan overextension gutta-percha sebesar 0,5 mm. Penatalaksanaan dilakukan dengan pemotongan ujung gutta-percha sepanjang 0,5 mm menggunakan gutta-percha measurement cutter, berdasarkan nilai taper file F3 sebesar 0,09 mm/mm sehingga diameter ujung gutta-percha berubah dari 0,30 mm menjadi 0,345 mm. Setelah penyesuaian dan obturasi, evaluasi radiografis menunjukkan posisi gutta-percha tepat di ujung apikal tanpa overfilling. Penggunaan gutta-percha measurement cutter berbasis kalibrasi taper terbukti membantu mencegah overfilling dan berpotensi diintegrasikan sebagai langkah preventif dalam prosedur endodontik rutin

    Enukleasi pada kista residual: kasus insidental pada pasien usia muda

    No full text
    Kista residual merupakan lesi odontogenik yang kerap ditemukan secara insidental pada pemeriksaan radiografi setelah pencabutan gigi. Jenis kista ini umumnya bersifat asimtomatik dan berpotensi menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Pada tulisan ini dilaporkan perempuan 21 tahun yang menjalani pemeriksaan radiografi panoramik untuk perawatan ortodonti dengan temuan insidental berupa kista pada regio 46 yang edentulous. Pasien sempat merasa kebas pada area bekas pencabutan gigi geraham kanan bawah, namun gejala tersebut hilang setelah mengonsumsi kortikosteroid. Diagnosis awal kista residual ditegakkan melalui pemeriksaan Cone Beam Computed Tomography (CBCT) yang menunjukkan lesi radiolusen dengan tepi terkortikasi berukuran 26 × 16 mm. Pasien menjalani tindakan enukleasi kista melalui prosedur bedah yang meliputi insisi flap, pengurangan tulang, dan pengangkatan kantung kista. Pascaoperasi pasien diberikan medikasi antibiotik dan analgesik. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi kista residual tanpa tanda keganasan. Hasil penyembuhan menunjukkan regenerasi tulang yang baik tanpa penggunaan bone graft, dan radiografi 30 hari pascaoperasi mengindikasikan pembentukan tulang baru. Teknik enukleasi efektif dan aman, menghasilkan penyembuhan tanpa komplikasi. Deteksi dini melalui pemeriksaan rutin dan tindakan enukleasi yang hati-hati direkomendasikan untuk mencegah komplikasi dan kekambuhan

    Anestesi infiltrasi labial-palatal dalam perawatan saluran akar pulpitis irreversibel asimtomatik

    No full text
    Anestesi infiltrasi labial-palatal merupakan teknik yang efektif untuk memastikan blokade nyeri selama perawatan saluran akar pada gigi anterior maksila. Pulpitis irreversibel asimtomatik tetap memerlukan anestesi yang optimal untuk menghindari ketidaknyamanan selama prosedur, terutama pada tindakan yang melibatkan aspek palatal. Infiltrasi labial saja sering kali tidak mencukupi, sehingga infiltrasi palatal diperlukan untuk menghambat transmisi nyeri dari saraf nasopalatina. Seorang pasien laki-laki berusia 34 tahun datang dengan keluhan gigi depan kiri atasnya berlubang berwarna kehitaman. Pemeriksaan klinis dan radiografis menunjukkan pulpitis irreversibel asimtomatik dengan periodontitis apikalis asimtomatik pada gigi 22. Perawatan saluran akar dilakukan secara multivisit dengan teknik crown-down, diawali dengan anestesi infiltrasi labial dan palatal menggunakan lidokain 2% dengan epinefrin 1:80.000. Kombinasi infiltrasi ini memastikan kontrol nyeri yang optimal dan memungkinkan prosedur berlangsung dengan nyaman dan tanpa hambatan. Hasil akhir menunjukkan tidak adanya keluhan pasca perawatan, serta radiografi memperlihatkan obturasi yang hermetis. Teknik anestesi infiltrasi labial-palatal terbukti memberikan anestesi yang lebih menyeluruh dibandingkan infiltrasi labial saja sehingga meningkatkan kenyamanan pasien dan mendukung keberhasilan perawatan saluran akar. Pemahaman yang baik mengenai teknik ini penting bagi klinisi untuk memaksimalkan efek anestesi dan meningkatkan kualitas perawatan endodontik

    Manifestasi oral pada pasien gagal ginjal kronis di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Banyumas

    No full text
    Gagal ginjal kronis (GGK) adalah suatu kondisi penurunan fungsi ginjal secara bertahap yang disebabkan karena terjadinya kerusakan pada ginjal. Gagal ginjal kronis biasanya terjadi dalam waktu lama (tahunan) yang ditandai dengan penurunan nilai glomerular filtration rate (GFR) <60 mL/menit per 1,73 m2. Prevalensi GGK di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2013 yaitu 0,2% menjadi 0,38% pada tahun 2018. Etiologi GGK tergolong sangat bervariasi seperti diabetes, glomerulonefritis, hipertensi, dan penyakit ginjal kistik. Laporan ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai manifestasi oral pada pasien GGK dengan mempertimbangkan keterkaitan klinisnya sebagai bahan refleksi diagnostik pada praktik kedokteran gigi. Laporan ini menunjukkan variasi manifestasi oral pada pasien GGK mencakup periodontitis uremik, hiperpigmentasi, oral hairy leukoplakia, cheilitis, stomatitis nekrotikan, coated tongue, dan kandidiasis kronis. Beberapa manifestasi oral pada kasus GGK kemungkinan berkaitan langsung dengan kondisi uremik, sementara manifestasi oral lainnya dipengaruhi oleh faktor xerostomia, gangguan imun, nutrisi, dan penggunaan obat-obatan. Kompleksitas sistemik pada GGK dapat memperburuk kesehatan rongga mulutsecara umum. Temuan pada laporan kasus ini menegaskan pentingnya peran dokter gigi untuk mengenali tanda sistemik yang tampak di rongga mulut serta perlunya pendekatan multidisipliner pada manajemen pasien GGK

    Necrotizing periodontal disease sebagai manifestasi dari post-COVID syndrome

    No full text
    Penyintas COVID-19 rentan mengalami post-COVID syndrome meskipun telah dinyatakan sembuh atau negatif dari COVID-19. Organ yang terserang post-COVID syndrome antaralain paru, telinga, hidung dan tenggorokan serta rongga mulut. Studi kasus ini melaporkan tatalaksana terintegrasi kasus necrotizing periodontal disease yang merupakan manifestasi post-COVID syndrome. Kasus terjadi pada wanita usia 25 tahun dengan keluhan gusi regio 23 mengalami kerusakan yang menyebabkan tulang penyangga gigi terekspose yang makin lama makin meluas disertai gigi goyah. Pasien dinyatakan terpapar COVID-19 pada 11 bulan sebelumnya. Kulit wajah serta seluruh tangan dan kaki tampak bercak merah. Keadaan umum pasien baik, namun terlihat kurus. Radiografi panoramik digunakan untuk memeriksa kondisi jaringan penyangga gigi. Gigi 23 direncanakan untuk diekstraksi sehingga pasien menjalani pemeriksaan darah lengkap dan tes autoimun. Pasien dicurigai mengalami gangguan sistemik, sehingga selanjutnya dilakukan tes human immunodeficiency virus (HIV), pemeriksaan CD4, serta screening hepatitis dan PCR, karena pasien diduga terpapar COVID-19 yang berulang. Tatalaksana selanjutnya pasien di-swab di sekitar regio 23 untuk memastikan peran mikroorganisme dengan dugaan acute necrotizing ulcerative periodontitis (ANUP). Seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi dalam batas normal, dengan hasil swab menunjukkan temuan Klebsiella oxytoca. Tindakan bedah pada kasus post-COVID syndrome memerlukan beberapa pemeriksaan penunjang secara cermat dan perlu kolaborasi yang melibatkan berbagai multidisiplin ilmu. Diagnosis akhir pada kasus ini adalah necrotizing periodontal disease sebagai manifestasi post-COVID syndrome yang dipicu oleh badai sitokin dalam rongga mulut. Diagnosis iniditegakkan berdasarkan elaborasi penelusuran kemungkinan beberapa diagnosis. Pemeriksaan komprehensif yang teliti sangat diperlukan pada penanganan kasus yang langka dan sulit untuk mencegah terjadi komplikasi

    0

    full texts

    188

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇