JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study
Not a member yet
152 research outputs found
Sort by
Pemberdayaan Perempuan melalui Media Sosial
Penggunaan media baru sudah kerap menjadi bahan kajian. Namun di Indonesia, baru sedikit penelitian yang mengaitkannya dengan masalah pemberdayaan, terlebih lagi pemberdayaan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana pemberdayaan perempuan dilakukan melalui media sosial. Melalui metode studi kasus, penelitian ini mempelajari fenomena penggunaan media sosial oleh lembaga pemberdayaan perempuan langsung pada keadaan alaminya. Dua fokus kajian dalam penelitian ini adalah pada personel yang melakukan aktivitas bermedia sosial dan pada isi media sosial yang mereka kelola. Telaah pada personel pelaku media sosial memberikan gambaran kemampuan penggunaan media sosial kelompok perempuan. Sementara telaah dari isi media sosial menggambarkan seperti apa konten media yang dianggap memberdayakan.  Â
Perilaku Komunikasi Pengguna Jilboobs dalam Pembentukan Identitas Diri: Studi Komparatif pada Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Universitas Islam Sumatera Utara Medan
AbstrakTujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor pembentuk identitas diri dikalangan mahasiswi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dalam menggunakan fashion jilboobs dan perilaku komunikasi mereka. Penelitian ini juga melihat tingkat perbedaan perilaku komunikasi pengguna jilboobs terhadap pembentukan identitas diri di kalangan mahasiswi kedua universitas tersebut. Populasi di UISU sebanyak 1.012 orang dan di UMSU 6.788 orang. Jumlah sampel sebanyak 91 orang di UISU dan 98 orang di UMSU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor dominan yang membentuk identitas diri kalangan mahasiswi UMSU dan mahasiswi UISU adalah faktor eksternal, yakni: ekonomi, sosial dan budaya. Hasil uji menggunakan Mann-Whitney U test untuk variabel perilaku komunikasi pengguna jilboobs menunjukkan nilai Asymp. Sig.(2-tailed) sebesar 0,187. Artinya, tidak terdapat perbedaan perilaku komunikasi pengguna jilboobs pada mahasiswi UMSU dan mahasiswi UISU. Sementara itu, untuk variabel pembentukan identitas diri menunjukkan nilai Asymp. Sig.(2-tailed) sebesar 0,368. Berarti tidak terdapat perbedaan pembentukan identitas diri pada mahasiswi UMSU dan mahasiswi UISU setelah menggunakan fashion jilboobs.  Â
Komparasi Model Kompetensi Komunikasi Guru dalam Proses Belajar Mengajar: Studi Kasus pada SMPN 1 Bukit dengan SMPS Blang Panas Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh
AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kompetensi komunikasi guru, mendeskripsikan model komunikasi guru dalam proses belajar mengajar, dan membandingkan model-model kompetensi komunikasi yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar di SMPN 1 Bukit dan SMPS Blang Panas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi komunikasi guru di SMPN 1 Bukit telah memenuhi kriteria yang disyaratkan, sedangkan kompetensi komunikasi guru di SMPS Blang Panas belum memenuhi kriteria. Selain itu, model komunikasi guru pada SMPN 1 Bukit lebih bervariasi dan mampu menyesuaikan dengan kondisi yang ada, sedangkan model komunikasi guru pada SMPS Blang Panas lebih monoton dengan hanya menerapkan satu model komunikasi dalam proses belajar mengajar. Hasil penelitian juga menunjukkan perbedaan pada kemampuan berkomunikasi guru secara verbal, non verbal, perbedaan kemampuan bergaul secara santun dan efektif dengan siswa-siswi di kelas, serta perbedaan kemampuan penguasaan teknologi komunikasi dalam proses belajar mengajar. Selanjutnya, guru-guru di SMPN 1 Bukit mampu memadukan tiga kategori model komunikasi sekaligus (komunikasi satu arah, dua arah, dan transaksi), sedangkan pada SMPS Blang Panas, guru hanya mampu menerapkan model komunikasi satu arah saja.  Â
Strategi Komunikasi Pemasaran Objek Wisata Gundaling dan Pemandian Air Panas Semangat Gunung
AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui Strategi Komunikasi Pemasaran objek wisata Gundaling dan Pemandian Air Panas Semangat Gunung serta hal-hal yang menjadi pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pemasaran oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo. Penelitian ini menggunakan metode fonomenologi. Informan terdiri dari para pengunjung lokasi penelitian, para pelaku wisata, organisasi wisata dan Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Usaha Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah kombinasi dari data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan wawancara dan dokumentasi. Analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam memenuhi keabsahan data penelitian ini digunakan triangulasi dengan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Karo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah melakukan strategi komunikasi pemasaran yang dirancang oleh internal tanpa melibatkan para pelaku wisata dalam perencanaan. Dalam pemasaran objek wisata Gundaling dan Pemandian Air Panas Semangat Gunung dilakukan komunikasi pemasaran terpadu (IMC) melalui advertising, public relations, sales promotion dan personal selling. Strategi komunikasi pemasaran antara lain berfokus pada: image, daya tarik alam, dukungan masyarakat dan kemajuan teknologi informasi. Strategi komunikasi pemasaran yang menonjolkan keunikan Karo yaitu seni budaya dan daya tarik alam untuk memenangkan persaingan dengan daerah lain. Â
PENERAPAN METODE KOMUNIKASI OLEH PENYULUH PERTANIAN PADA KELOMPOK TANI GEMAH RIFAH I DESA JAMUR LABU KECAMATAN RANTAU ACEH TAMIANG
Pengembangan kelompoktani dewasa ini mengalami kemerosotan karena pengaruh globalisasi dan otonomi daerah. Selain itu, terjadi diskomunikasi antara Penyuluh pertanian dengan kelompoktani menyebabkan penerapan metode penyuluhan tidak efektif. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode komunikasi penyuluhan pertanian yang efektif Kelompoktani Gemah Rifah I Desa Jamur Labu Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang. Penelitian ini menggunakan studi kasus karena faktor karakteristik, geografis dan latar belakang petani berbeda dengan daerah lain. Responden dalam penelitian ini berjumlah 6 orang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode komunikasi oleh penyuluh pertanian dominan dengan cara pendekatan kelompok dengan cara membuat pertemuan rutin. Metode komunikasi penyuluhan pertanian dengan pertemuan kelompok dianggap lebih efektif karena karakteristik kelompoktani dengan kekompakan sangat tinggi dan mudah berkumpul. Temuan penting lainnya dalam penelitian ini dimana pada kelompoktani dengan kelas kelompok tinggi, maka metode penyuluhan dengan pendekatan kelompok dalam dengan cara pertemuan kelompok rutin sangat efektif untuk pengembangan usaha agribisnis petani
PELAYANAN KESEHATANDALAM PENDEKATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (STUDI FENOMENOLOGI PELAYANAN KESEHATAN DOKTER KEPADA PASIEN DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelayanan kesehatan dokter kepada pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUP H. Adam Malik dalam pendekatan komunikasi antarbudaya, bagaimana pemahaman dokter dalam berkomunikasi dengan pasiennya yang berbeda budaya dan hambatan komunikasi antarbudaya apa saja yang mempengaruhi pelayanan kesehatan dokter kepada pasien. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan sudut pandang fenomenologi. Penelitian dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam kepada 5 orang dokter dan 4 orang pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUP H. Adam Malik.Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan dokter yang sangat terbatas dalam memberikan penjelasan kepada pasien, minim informasi dan terkesan terburu-buru. Karakteristik dokter dan pasien serta faktor situasional turut memberikan pengaruh pada proses pelayanan kesehatan. Hambatan antarbudaya seperti bahasa, pengalaman, hambatan fisik, kompetisi dan hambatan nonverbal merupakan hambatan yang muncul dalam penelitian ini
HUBUNGAN BUDAYA KOMUNIKASI ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LANGKAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu hubungan budaya komunikasi organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai. Penelitian ini menggunakan teori Komunikasi Organisasi, teori Motivasi dan teori Kinerja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh pegawai yang bekerja di Sekretariat Daerah Kabupaten Langkat yang berjumlah 192 orang, dengan jumlah sampel penelitian n=66 yang ditarik secara proposional menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuisioner yang dibagikan kepada responden. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara budaya komunikasi organisasi dengan kinerja pegawai selain itu, terdapat hubungan antara motivasi kerja terhadap kinerja pegawai. Selanjutnya, terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara budaya komunikasi organisasi dan motivasi kerja secara simultan terhadap kinerja pegawai, dengan nilai koefisien korelasi r=0,894. Hal ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara budaya komunikasi organisasi dan motivasi kerja ketika di korelasikan secara simultan terhadap peningkatan kinerja pegawai di lingkungan Sekeretariat Daerah Kabupaten Langkat
KECEMASAN BERKOMUNIKASI PADA MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI POLITEKNIK NEGERI MEDAN
Kompetensi yang memadai terutama dalam berkomunikasi dengan level kecemasan berkomunikasi yang rendah, bahkan tidak cemas sangat mendukung dalam menghadapi persaingan dalam masyarakat global. Kecemasan berkomunikasi akan berpengaruh negatif dalam kehidupan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kelamin, umur, dan tingkat perkuliahan terhadap kecemasan berkomunikasi pada mahasiswa jurusan akuntansi Politeknik Negeri Medan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Personal Report of Communication Apprehension (PRCA). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Setelah melakukan uji korelasional diketahui bahwa Fhitung sebesar 1,325 dengan tingkat signifikansi 0,266. Ini menunjukkan bahwa signifikansi hitung > signifikansi penelitian, maka tidak ada pengaruh jenis kelamin, umur dan tingkat perkuliahan terhadap kecemasan berkomunikasi pada mahasiswa jurusan akuntansi Politeknik Negeri Medan
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP POSITIONING KOTA TEBING TINGGI
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap positioning Kota Tebing Tinggi, kemudian mengetahui potensi unggulan yang dapat menjadi positioning Kota Tebing Tinggi. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif. Informan penelitian ini adalah masyarakat yang terdiri dari stakeholders Kota Tebing Tinggi yang diambil dengan metode purposif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang pengumpulan datanya dilakukan melalui FGD (Focused Group Discussion), wawancara dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan mencatat seluruh informasi yang didapatkan dari informan, kemudian melakukan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap positioning Kota Tebing Tinggi adalah kota jasa, tetapi jasa tersebut harus dispesifikasikan pada jasa tertentu. Selanjutnya, potensi unggulan yang dapat menjadi positioning Kota Tebing Tinggi adalah kuliner (lemang dan roti kacang). Berdasarkan persepsi masyarakat dan potensi unggulan, maka positioning Kota Tebing Tinggi adalah kota jasa wisata kuliner
Komunikasi Lintas Etnis di Pulau Weh-Sabang
Kota Sabang merupakan salah satu daerah di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dengan struktur penduduk yang variatif. Meskipun demikian, konflik antar etnis sepanjang sejarah Kota Sabang tidak pernah terjadi. Ketika terjadi konflik Aceh tahun 1998 memaksa etnis non Aceh eksodus ke luar Aceh, sementara di Kota Sabang tidak demikian. Warganya tetap dapat hidup saling berdampingan diantara etnis yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang mendorong terciptanya kerukunan hidup antaraetnis di Kota Sabang. Data penelitian ini diperoleh dari observasi dan wawancara dengan beberapa warga kota Sabang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mendorong terciptanya kerukunan antaretnis di Kota Sabang adalah karena masyarakat memiliki kekompakan serta saling mengenal satu dengan yang lain. Hal ini juga didorong masa lalu kota Sabang yang pernah memiliki status sebagai pelabuhan bebas, sehingga masyarakat sudah terbiasa berinteraksi dengan etnis berbeda. Â