Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Analisis Rantai Nilai Komoditas Kubis (Brassica oleracea L): Studi Kasus di Sentra Produksi Kabupaten Karo (Value Chain Analysis of Cabbages: Case Study in Karo District Production Centre)
Kabupaten Karo, Sumatera Utara merupakan sentra produksi kubis yang berkontribusi memberikan devisa negara melalui ekspor. Di samping itu, kubis dari Kabupaten Karo memiliki keunggulan dalam karakteristik produknya dibandingkan dari negara lain. Namun demikian, arti penting kubis sebagai penyumbang nilai devisa belum diikuti dengan perlakuan produksi, panen, pascapanen, dan pemasaran yang memenuhi standar ekspor. Pelaku agribisnis di dalam rantai pasar kubis semakin banyak, di mana awalnya petani menjual ke pedagang pengumpul, pedagang besar, dan langsung ke eksportir, namun sekarang terdapat pelaku baru seperti pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, kemudian kubis dijual ke pedagang besar. Hal ini memungkinkan terjadinya inefisiensi margin pemasaran di sepanjang alur pemasaran. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan analisis rantai nilai komoditas kubis Kabupaten Karo untuk melihat keuntungan yang diperoleh setiap pelaku agribisnis kubis. Lebih lanjut dapat diberikan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan efisiensi dan keefektifan rantai pemasaran kubis di Kabupaten Karo. Penelitian dilakukan di Kabupaten Karo melalui wawancara langsung kepada pelaku agribisnis kubis pada tahun 2012. Pemilihan sample dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa jumlah pelaku agribisnis kubis tidak terlalu banyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspor kubis mengalami penurunan dari tahun ke tahun, karena lahan pertanian kubis yang semakin sempit. Kubis dengan nilai R/C yang tinggi menunjukkan tingkat keuntungan yang cukup besar. Dalam rantai pemasaran kubis, petani menerima pangsa yang cukup besar, sementara eksportir dengan kapasitas usaha yang besar juga menerima pendapatan yang seimbang. Sebagai implikasi kebijakan, pemerintah dapat memberikan dukungan dalam peningkatan ekspor berupa diseminasi teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi serta fasilitasi ekspor baik sarana maupun prasarana pengangkutan dari lahan usahatani hingga pasar ekspor, perijinan ekspor serta bongkar muat di pelabuhan.KeywordsKubis; Rantai nilai; EksporAbstractKaro District, North Sumatera is a production center of cabbages which provides significant contribution of foreign exchange. Moreover, cabbages in Karo have many advantages compare to cabbages from other countries. Nevertheless, these important roles of cabbages have not been followed by standardized exported treatments, not only the production, harvest, postharvest but also the marketing treatment. Agribusiness of cabbages also show inefficiency of the marketing margin. Based on these problems, it is necessary to analyze the value chain of cabbages in Karo, to see the benefit received by each person in agribusiness system. Further, policy recommendations can be given to improve the efficiency and effectiveness of cabbage supply chain in Karo District. This research was conducted through interviews people who in charge in cabbage agribusiness in 2012. The purposive sample was done considering that the number people in cabbage agribusiness were not too much. The results showed that cabbage exports, in term of value, decreased from year to year, particularly due to limited land. R/C analysis showed the high level of profit. In this cabbage supply chain, farmers receive considerable share, while the exporters with large business capacity also received a higher income. In order to increase production and export of cabbages, it is recommended that government supports several programs such as increase innovation technologies dissemination, improve infrastructures for export as well as develop the simple administration process
Studi Adopsi Varietas Bawang Merah Bima Brebes dari Balitsa di Kabupaten Brebes (Adoption Study of Bima Brebes Shallot from IVEGRI in Brebes District)
Kontribusi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) sebagai institusi pemerintah penghasil teknologi baru, termasuk varietas baru untuk meningkatkan pendapatan petani masih belum diperoleh informasi secara lengkap. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat adopsi dan kontribusi varietas bawang merah Bima Brebes asal Balitsa dalam meningkatkan pendapatan petani adopter, serta mengetahui tingkat pengembalian investasi rate of investment (ROI ) biaya penelitian dan pengembangan teknologi bawang merah Bima Brebes pada bulan Juni–Desember 2014 di Desa Wanasari, Tanjung, Kemukten, dan Limbangan, Kabupaten Brebes. Lokasi-lokasi tersebut dipilih secara purposive karena dari observasi lapangan diketahui bahwa para petani di lokasi-lokasi tersebut diketahui telah mengadopsi teknologi dan varietas unggul dari Balitsa. Pengumpulan data dilakukan melalui Fokus Grup Diskusi (FGD) dan wawancara individual dengan kuesioner terstruktur. Pemilihan responden dilakukan secara purposive yang terdiri atas 16 petani penanam bawang merah varietas Bima Brebes (adopter) dan 21 petani penanam varietas Bima Curut (nonadopter). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, menggunakan gambar garis waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi benih bawang merah varietas Bima telah didiseminasikan di Brebes sejak tahun 1985 dan hingga saat ini diadopsi cukup luas di Kabupaten Brebes dengan sebaran adopsi kurang lebih 16.522 ha. Pada tahun 2013, adopsi varietas Bima Brebes di Kabupaten Brebes dapat meningkatkan pendapatan bersih total adopter sebesar 345,050 milyar rupiah dengan ROI biaya penelitian dan diseminasi sebesar 71.125%.KeywordsBawang merah; Varietas Bima Brebes; Tingkat adopsi; Profit; ROIAbstractContribution of Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) as an institution who produces new technologies, including new varieties, on the improvement of farmers’ income has not been got completed information yet. The objectives of the research were to figure out the level of adoption and contribution of Bima Brebes shallot variety from IVEGRI in increasing adopter farmers’ profit, as well as to figure out the return on investment (ROI) of research and dissemination of Bima Brebes shallot. This expost evaluation research was conducted in June–December 2014 in Wanasari Village, Tanjung, Kemukten, and Limbangan, Brebes District. The location was chosen purposively because in the area there were a quite lot of farmers who adopted Bima Brebes shallot variety. Data were collected through Focus Group Discussion (FGD) and an individual interview used structured questionnaire. The respondents consisted of 16 Bima Brebes adopter shallot farmers and 21 nonadopters shallot farmers who planting Bima Curut variety. Data were analysed using descriptive statistic with time line picture. The result of study showed that the technology of Bima Brebes variety from IVEGRI has been disseminated since 1985 in Brebes District and currently, it has been adopting quiet large as well. The spreading adoption is about 16,522 ha. In 2013, the adoption of Bima Brebes in Brebes District could increase adopters’ profit as much as 345.050 billions rupiah with ROI of research and dissemination of the variety was 71,125%
Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Kubis Bunga Melalui Pemupukan Boron dan Penggunaan Naungan Plastik Transparan (Improving Cauliflower Seed Production and Quality Through the Use of Boron Fertilizer and Plastic Transparent Shade)
Kubis bunga merupakan sayuran sehat yang banyak diminati konsumen. Dalam peningkatan produksi tanaman sayuran, khususnya kubis bunga yang perlu diperhatikan adalah kualitas benih. Oleh karena itu dilakukan kegiatan penelitian untuk menghasilkan benih kubis bunga yang bermutu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pupuk Boron yang tepat dan teknik penanaman untuk peningkatan perbenihan kubis bunga. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi mulai dari bulan Januari sampai Oktober 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk Boron (B0 = tanpa pupuk Boron, B1 = 5 kg/ha, B2 = 10 kg/ha, B3 = 15 kg/ha, B4 = 20 kg/ha, B5 = 25 kg/ha). Faktor kedua adalah teknik penanaman (N1 = tanpa naungan, N2 = menggunakan naungan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Boron 15 kg/ha dapat meningkatkan jumlah cabang, jumlah polong, jumlah dan bobot benih per tanaman, serta persentase benih tumbuh per tanaman pada perbenihan kubis bunga. Pemakaian naungan dapat meningkatkan jumlah tangkai, jumlah polong, jumlah dan bobot benih per tanaman pada perbenihan kubis bunga.KeywordsBrassica oleracea var. Botrytis; Pupuk Boron; Naungan plastik transparanAbstractCauliflower is a nutritious vegetable that highly demanded by consumers. The yield of cauliflower is very much effected by the seedling quality. This justifies the importance of studying how to produce a good quality of cauliflower seedling. The objective of the study was to determine the exact concentration of Boron fertilizer and to identify the most appropriate planting technique in producing cauliflower seedlings. The study was conducted in Berastagi Experimental Garden from January to October 2014. A randomized complete block design (RBD) was used with four replications. The first factor was the dose of Boron fertilizer (B0 = without Boron fertilizer, B1 = 5 kg / ha, B2 = 10 kg / ha, B3 = 15 kg / ha, B4 = 20 kg / ha, B5 = 25 kg/ha). The second factor was planting techniques (N1 = without shade, N2 = with shade). The results suggest that the use of 15 kg/ha Boron increases the number of branches, number of pods, number of seeds and seed weight per plant, as well as percentage of seed emergence per plant. The use of shade also increases the number of branchs, number of pods, number of seeds, and seed weight per plant
Pengaruh Ozonisasi dan Kemasan untuk Mereduksi Residu Pestisida dan Mempertahankan Karakteristik Kesegaran Cabai Merah dalam Penyimpanan
(The Effect of Ozone and Packaging in Storage for Decreasing in Pesticide Residue and Keeping the Freshness of Red Chili Characteristic)Pestisida merupakan suatu substansi bahan kimia dan material lain (mikrob, virus, dan lain-lain) yang tujuan penggunaannya untuk mengontrol atau mengendalikan hama/penyakit yang menyerang tanaman, bagian tanaman, dan produk pertanian, membasmi rumput/gulma, mengatur dan menstimulasi pertumbuhan tanaman/bagian tanaman, namun bukan penyubur. Hampir semua sampel yang diuji positif mengandung residu pestisida walaupun kadarnya di bawah ambang batas yang diizinkan. Penelitian bertujuan (1) mengetahui pengaruh ozonisasi terhadap karakteristik kesegaran cabai merah dan reduksi residu pestisida selama penyimpanan pada suhu kamar dan (2) mengetahui pengaruh suhu dan jenis pengemas terhadap kualitas cabai merah vatietas Tit Segitiga selama penyimpanan. Penelitian dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Desember 2013 di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang. Penelitian pendahuluan dilakukan terhadap konsentrasi gas ozon yang terdiri atas (1) 0,0 ppm (kontrol tanpa perendaman), (2) 0,0 ppm (perendaman dalam air tanpa ozon), (3) 0,2 ppm, (4) 0,4 ppm, (5) 0,6 ppm, (6) 0,8 ppm, dan (7) 1 ppm. Penelitian utama dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok pola petak terpisah dengan dua ulangan. Sebagai petak utama, yaitu suhu terdiri atas (1) 5°C, (2) 10°C, (3) 15°C, dan (4) suhu kamar. Sebagai anak petak, yaitu pengemas terdiri atas (1) polipropilen (PP 0,03 mm), (2) polietilen (PE 0,03 mm), (3) wrapping plastic, dan (4) kontrol (tanpa pengemas). Hasil pendahuluan menunjukkan bahwa kesegaran dan penampakan cabai merah dengan perlakuan larutan ozon 0,4 ppm merupakan perlakuan terbaik dan disukai panelis. Dengan perlakuan larutan ozon 0,4 ppm, cabai merah mempunyai residu pestisida profenofos 1,1504 ppm (terjadi penurunan 35,9073%), klorfirifos 0,1519 ppm (terjadi penurunan 23,2441%), TPC (jumlah total mikrob) 31,25 x 105 cfu/ml, susut bobot 15,50%, kadar air 85,53%, warna (nilai L*) 30,52. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik selama penyimpanan minggu keempat, yaitu suhu penyimpanan 5ºC dengan macam kemasan polietilen (PE) dan wrapping plastic.KeywordsCabai merah; Ozon; Pengemasan; PendinginanAbstractPesticide is a chemical substance and other materials (microbes, viruses, etc.) which are intended to control pests or diseases that attack plants, plant parts and agricultural products, eradicate the grass/weeds, regulate and stimulate plant growth or parts of the plant, but not the fertilizer. Almost all of the samples that tested positive for pesticide residues even though the levels were below the allowed threshold. Research aims were (1) to determine the effect of ozonation on the characteristics of red chili freshness and reduction of pesticide residues during storage at room temperature and (2) to determine the effect of temperature and packaging on the quality of red chili during storage. The study was conducted from January–December 2013 at The Research Institute of Vegetable. Preliminary research conducted on the concentration of ozone which consists of (1) 0.0 ppm (control without soaking), (2) 0.0 ppm (immersion in water without ozone), (3) 0.2 ppm, (4) 0.4 ppm , (5) 0.6 ppm, (6) 0.8 ppm, and (7) 1 ppm. Primary research conducted using randomized block split plot with repeated patterns as much as two times. Temperature as the main plot which consists of (1) 5° C, (2) 10° C, (3) 15° C, and (4) room temperature. The subplot is packaging which consists of (1) polypropylene (PP 0.03 mm, (2) polyethyelene (PE 0.03 mm), (3) wrapping plastic, and (4) control (without packaging). Preliminary results show that the freshness and appearance of red chili with 0.4 ppm ozone treatment was the best treatment and preferred by panelists. Treatment with a solution of 0.4 ppm ozone, the red chili have pesticide residue of profenofos 1.1504 ppm (decrease as much as 35,9073%), 0.1519 ppm klorfirifos (decrease as much as 23,2441%), TPC (total number of microbes) 31.25 x 105 cfu/ml, 15.50% weight loss, levels of 85.53% water content, color (L* value) 30.52. The main research results showed that the best treatment for 4 weeks of storage is the storage temperature of 5 º C with wide packaging polyethylene (PE) and wrapping plastic
Kelas Benih Kentang (Solanum tuberosum L.) Berdasarkan Pertumbuhan, Produksi, dan Mutu Produk [Seed Class Potatoes Based on Growth, Production, and Quality Products (Solanum tuberosum L.)]
Sistem perbenihan kentang yang ada saat ini terdiri atas lima kelas benih, yaitu G0, G1, G2, G3, dan G4. Kelas benih G0 sampai G3 merupakan benih sumber, sedangkan kelas benih G4 merupakan benih sebar. Banyak penangkar, petani maupun stakeholder lainnya berpendapat bahwa proses produksi benih kentang dari kelas G0 sampai G3 cukup lama sehingga penyediaan benih untuk kentang konsumsi (G4) tidak dapat dilakukan secara cepat. Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat produktivitas kentang masing-masing kelas benih G0 sampai G4 agar dapat direkomendasikan sebagai kelas benih untuk kentang konsumsi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu Balitsa Lembang dari bulan September sampai November 2012 menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan, yaitu kelas benih (G0, G1, G2, G3, G4, dan kontrol) dan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman, produksi, dan mutu produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kentang yang berasal dari kelas benih G3 menghasilkan produksi dan kelas umbi A dan B yang tertinggi sehingga cocok untuk benih sebar. Untuk peningkatan produksi ternyata kelas benih yang lebih tinggi (G0 dan G1) memiliki peningkatan produksi dan menghasilkan umbi kelas C dan D yang lebih tinggi daripada kelas benih di bawahnya sehingga cocok dikategorikan sebagai benih sumber.KeywordsKentang; Pertumbuhan; Produksi; Kelas benihAbstractPotato seed systems that exist today consists of five seeds classes, namely G0, G1, G2, G3, and G4. G0 to G3 seed is the source seed, while classes G4 seed was extension seed. Many breeders, farmers and other stakeholders argue that the process of seed production from G0 to G3 class was too long so that the supply of potatoes seeds for consumption (G4) could not be carried out faster. Research was conducted to determine the level of productivity of each class of potato seed G0 to G4 to be recommended as a seed class for potato consumption. The reseach was conducted at Margahayu Experimental Garden of Indonesian Vegetable Research Institute Lembang from September–November 2012 in randomized block design with six treatments : seed class (G0, G1, G2, G3, G4, and control) with four replications. The parameters observed were plant growth, production, and product quality. Hence, it can be concluded that potatoes derived from G3 class was quite suitable for extension seeds. The higher the seed class (G0 and G1) the higher the increasing rate and it produced higher number of C and D tuber grade
Keefektifan Bahan Pencuci dan Pencegah Penyakit Terhadap Kualitas Buah Mangga CV. Gedong Gincu dan Arumanis (The Effectiveness of Washing Materials and Disease Protecting Agent on the Quality of Mango Fruit cv. Gedong Gincu and Arumanis)
Mangga merupakan salah satu komoditas buah tropis di Indonesia yang mempunyai peluang besar untuk pasar domestik dan juga ekspor. Namun, kualitas buah mangga masih memiliki banyak permasalahan. Salah satunya adalah getah yang mengotori kulit buah mangga. Pada saat tangkai buah mangga rusak, getah menyebar pada kulit buah yang menyebabkan kerusakan kulit dan serangan penyakit. Penelitian bertujuan mendapatkan bahan pencuci dan pencegah penyakit yang efektif terhadap kualitas buah mangga cv. Gedong Gincu dan Arumanis. Buah mangga dipanen di kebun petani di Cirebon, Jawa Barat dan Probolinggo, Jawa Timur. Pengamatan dilakukan di Laboratorium Pascapanen Institut Pertanian Bogor pada bulan November 2013 sampai Januari 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap nonfaktorial yang terdiri atas sembilan perlakuan, yaitu air (kontrol) (P0T0), air (kontrol) + fungisida (P0T1), air (kontrol) + khamir Cryptococcus albidus dengan konsentrasi 5 x 104 sel/ml (P0T2), deterjen 1% + air (kontrol) (P1T0), deterjen 1% + fungisida (P1T1), deterjen 1% + khamir C. albidus (P1T2), deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + air (kontrol) (P2T0), deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + fungisida (P2T1), dan deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + khamir C. albidus (P2T2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + khamir C. albidus 5 x 104 sel/ml, dan deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + fungisida 0,025% yang paling efektif menghilangkan getah, mengurangi luka bakar, bintik lentisel, mencegah terjadinya kerusakan penyakit antraknosa dan busuk pangkal buah dibandingkan dengan perlakuan kontrol pada kultivar Gedong Gincu dan Arumanis.KeywordsAntraknosa; Busuk pangkal buah; Getah; Luka bakar; KhamirAbstractMango is one of the commodity of tropical fruit in Indonesia which has a great opportunities for domestic market and also export. However, quality of mango still has many problems in Indonesia. One of them is the sap contaminating the skin of mango fruit. When the stem of mango fruit is broken, the sap oozes out spreading over the fruit skin causes serious skin damages and attack of disease. The aim of this study was to determine the effectiveness of washing materials and disease protecting agent on the quality of mango fruit cv. Gedong Gincu and Arumanis. Mango fruit was harvested in farmer garden in Cirebon, West Java and Probolinggo, East Java and observation was conducted in Postharvest Laboratory of Bogor Agricultural University in November 2013 to January 2014. The experiment was designed in a completely randomized design nonfactorial that consist of nine treatments: water (control) (P0T0), water (control) + fungicide (P0T1), water (control) + yeast Cryptococcus albidus with concentration 5 g/liter 5 x 104 cell/ml (P0T2), detergent 1% + water (control) (P1T0), detergent 1% + fungicide (P1T2), detergent 1% + yeast C. albidus (P1T0), detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + water (control) (P2T0), detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + fungicide (P2T1), and detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + yeast C. albidus (P2T1).The result showed that the treatment of detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + yeast C. albidus and detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + fungicides 0.025 was effective to removing of sap, less of sap burn injury, lenticel spoting, protecting agent of anthracnose disease and stem end rot as compared to control on mango fruit cv. Gedong Gincu and Arumanis
Pengujian Stabilitas Genetik Plantlet Citrumelo Hasil tTCL dari Kultur In Vitro Dengan Menggunakan Teknik Sekuen Berulang (Genetic Stability Assessment of Plantlet Derived tTCL Citrumelo Using Repetitive Sequence Technique)
Protokol organogenesis untuk perbanyakan plantlet Citrumelo menggunakan metode transverse thin cell layer (tTCL) batang telah berhasil dikembangkan. Identifikasi stabilitas genetik tanaman hasil kultur jaringan mutlak diperlukan untuk menguji keberadaan off-type. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi primer retrotransposon dan inter simple sequence repeat (ISSR) dalam mendeteksi stabilitas genetik tanaman Citrumelo dari periode kultur yang panjang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2013 sampai dengan Oktober 2015 di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung. Sebanyak empat penanda dengan urutan basa berulang, yaitu retrotransposon dan ISSR digunakan untuk menguji stabilitas genetik plantlet in vitro yang berumur 22 bulan dan untuk mengonfirmasi metode yang dapat diandalkan untuk perbanyakan jeruk Citrumelo yang true-to-type pada masa mendatang. Daun plantlet diseleksi dan diisolasi secara bulk. Amplifikasi dilakukan terhadap DNA dengan sistem bulk segregant analysis (BSA), dan kemudian dipisahkan menggunakan gel agarose. Tanaman in vitro yang sama secara morfologi dapat dibedakan oleh penanda INT-retrotransposon yang mendeteksi adanya kehilangan pita pada grup sampel dengan ukuran 550 bp. Keberadaan retrotransposon dalam genom berlimpah dan aktivasinya diinduksi oleh stres. Kondisi kultur jaringan berpotensi menginduksi aktivasi retrotransposon. Keragaman genetik diperoleh sebesar 2,6%, tetapi masih dapat diterima untuk plantlet yang dihasilkan dari kultur jangka panjang. Plantlet yang digunakan dalam penelitian ini adalah plantlet yang dikulturkan sejak awal tahun 2014 dan telah digunakan untuk mempelajari faktor media dan lingkungan kultur yang efisien pada Citrumelo selama periode 2014–2015. Aktivitas pengkajian variabilitas genetik plantlet yang dihasilkan melalui tTCL batang masih terus dilakukan. Kombinasi protokol dan deteksi berbasis penanda PCR menjadi sarana yang efektif untuk perbanyakan massa benih berkualitas hasil kultur jaringan untuk mendukung progam pemuliaan maupun perbenihan.KeywordsCitrumelo; tTCL; Variabilitas genetik; Retrotransposon; ISSRAbstractAssessment of genetic stability of long-term cultivation of plantlet derived tTCL Citrumelo using repetitive sequence primers. Regeneration of plantlet from organogenesis of stem transverse thin cell layer (tTCL) was achieved for Citrumelo, a valuable rootstock. Identification of the genetic stability of plant tissue culture is absolutely necessary. The aim of this study was to assess the potential retrotransposons and inter simple sequence repeat (ISSR) primers in detecting the genetic stability of the Citrumelo plantlet derived from tTCL technique. The research was conducted from Juni 2013 until October 2015 in Breeding Laboratory of Indonesian Citrus and Subtropical Fruits Research Institute. A four repetitive based sequences retrotransposon and ISSR marker assays were used to evaluate genetic stability of a group of 22 months old in vitro plantlets and to confirm the most reliable method for true-to-type propagation of Citrumelo. Leaves of plantlets were selected and isolated in bulk. Groups of DNA in bulk segregant analysis (BSA) were amplified and separated using agarose gel. Vitroplants that morphologically similar have been effectively distinguished by a selected primer INT- retrotransposon that detect an deletion band at 550 bp on a line a group of sample. Retrotransposon is abundance through the genome and its activation induced by stress condition. Tissue culture condition was reported potential to induce retrotransposon activation. The genetic variation of 2.6% was acceptable for the culture that produced from long-term. Plantlets used in this study were selected from population induced from early 2014, and employed for studying media as well as environment factors for efficiently organogenesis of citrumelo in period of 2014-2015. However, additional study is on going for evaluating genetic variability from a cycle plantlet production through tTCL of stems. This combination protocol of organogenesis and PCR based markers detection would be powerful tools for mass propagation of high quality seedling derived tissue culture for breeding or cultivation programs