Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Efikasi dan Persistensi Minyak Serai sebagai Biopestisida terhadap Helicoverpa armigera Hubn. (Lepidoptera : Noctuidae)

    Get PDF
    ABSTRAK. Helicoverpa armigera merupakan hama penting pada tanaman cabai merah. Kehilangan hasil akibat seranganH. armigera dapat mencapai 60%. Pengendalian yang umum dilakukan adalah menggunakan insektisida secara intensif,yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh berbagai konsentrasiminyak serai terhadap aktivitas biologi larva H. armigera. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah KasaBalai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Juni sampai Desember 2009 pada suhu 27±20C dan kelembaban75-80%. Penelitian dilaksanakan dalam empat tahap kegiatan, yaitu pengaruh minyak serai terhadap: (1) repelensi larvaH. armigera instar II, (2) indeks nutrisi larva H. armigera instar III, (3) toksisitas larva H. armigera instar I, II, dan III,serta (4) persistensi minyak serai dalam pakan H. armigera dan pengaruhnya terhadap mortalitas larva H. armigerainstar III. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok yang terdiri atas enam perlakuan dengan empatulangan. Penelitian menggunakan metode pencelupan (dipping methods). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyakserai dapat digunakan sebagai penolak larva H. armigera instar II, dengan tingkat repelensi kelas II (20-40%) dan kelasIII (40-60%). Aplikasi minyak serai pada konsentrasi 3.000-5.000 ppm dalam pakan dapat menurunkan laju konsumsirelatif, laju pertumbuhan relatif, efisiensi konversi makanan yang dicerna dan yang dimakan, serta dapat menghambatmakan larva H. armigera sebesar 50%. Penggunaan minyak serai dapat menurunkan bobot pupa H. armigera jantandan betina. Nilai LC50 untuk larva H. armigera instar I, II, dan III berturut-turut ialah 12.795,45, 8.327,42, dan 3.324,89ppm, sedang nilai LC95 untuk larva H. armigera instar I, II, dan III berturut-turut sebesar 10.564,59, 12.535,12, dan4.725,30 ppm. Residu minyak serai dalam pakan H. armigera hanya berkisar antara 1- 4 hari setelah pemaparan ataupada 5 HSP toksisitas menurun drastis. Minyak serai sebagai insektisida nabati mempunyai tingkat persistensi yangrelatif rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, minyak serai dapat digunakan sebagai insektisida yang potensialuntuk dikembangkan secara komersial dan ramah lingkungan dalam rangka pengendalian H. armigera.ABSTRACT. Hasyim, A., W. Setiawati, R. Murtiningsih, and E. Sofiari. 2010. Efficacy and Persistence of CitronellaOil as A Biopesticide Against Helicoverpa armigera Hubn.. The fruit borer, Helicoverpa armigera (Hubn.) is one ofthe key pests of chili pepper in Indonesia. Yield loss due to this insect pest is up to 60%. The chemical treatment forcontrolling this insect pest is ineffective and eventually leads to environmental pollution. Studies were conducted toassess the biological activity of citronella oil against tomato fruit worm, H. armigera from June to December 2009 atthe Laboratory and the Screenhouse at Indonesian Vegetables Research Institute. All the bioassays were conducted undercontrolled environmental conditions (27± 20C and 75-80% RH). Four bioassay steps were performed, i.e the effectof citronella oil on percentage repellency of second instar larvae of H. armigera, the antifeedant effect of citronellaoil against third instar larvae of H. armigera, toxicity of citronella oil on first, second, and third instar larvae of H.armigera and persistence of citronella oil and is effect of mortality of H. armigera. The results indicated that citronellaoil significantly repellened to second larvae of H. armigera with the repellency level of relative lowest II (20-40%) andIII (40-60%). Applications of citronella oil at 3,000 until 5,000 ppm concentrations reduced the food consumptionindex, growth rate, approximate digestability, efficiency of conversion of digested food and feeding deterrent was reducedby 50%. Citronella oil significantly decreased the growth and the development of both pupal male and female of H.armigera. The percentage of mortality rate varied significantly among the H. armigera larvae tested and the values ofLC50 for first, second, and third larvae instar of H. armigera were 12,795.45, 8,327.42, and 3,324.89 ppm, respectively.Meanwhile LC95 value at the first, second, and third larvae instar of H. armigera were 10,564.59, 12,535.12, and 4,725.30ppm, respectively. Residual activity of citronella oil were found to be moderately toxic to H. armigera. The residueof citronella on food H. armigera was about 1-4 days after treatment. However, toxicity decreased significantly after5 days. These results clearly showed that citronella oil was not persistent to the environment due to its volatile nature.These results suggested that the application of citronella oil is potential to be used as an ideal eco-friendly approach forthe control of the agricultural pests H. armigera

    Penentuan Metode Terbaik Uji Fosfor untuk Tanaman Tomat pada Tanah Inceptisols

    Get PDF
    ABSTRAK.  Fosfor merupakan salah satu hara penting tanah dan aplikasi hara tersebut pada konsentrasi yang sesuai sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tomat. Penelitian tentang studi analisis fosfor tanah dan aplikasi pupuk fosfor pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols dilakukan di Kebun Percobaan dan Rumah Kaca di Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, dari bulan Maret sampai dengan November 2010. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan  metode  ekstraksi  fosfor tanah yang terbaik guna menentukan dosis pupuk fosfor pada budidaya tomat  pada tanah Inceptisols. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan pemberian pupuk fosfor pada beberapa tingkat dosis yaitu  0X, ¼ X, ½ X, ¾ X, dan 1X, di mana nilai X ialah 368,5 kg/ha P2O5 dengan empat ulangan. Perlakuan pemupukan fosfor diterapkan pada 6 bulan sebelum penanaman tomat. Analisis korelasi dilakukan antara kandungan P tanah dan pertumbuhan tanaman yang ditanam di dalam rumah kaca menggunakan media inkubasi berasal dari tanah yang diberi perlakuan dan dianalisis. Uji  fosfor  tanah menggunakan lima metode ekstraksi, yaitu metode Bray I (NH4F 0,03 N + HCl 0,025 N, nisbah 1:7); Bray II (NH4F 0,03 N + HCl 0,10 N ); Mehlich I (HCl 0,05 N + H2SO4 0,025 N); Morgan Wolf (NaC2H2H3O2.3H2O; pH 4,8); dan Truogh [HCl 0,10 N + (NH4)2SO4; pH 3]. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara pengaruh perlakuan pupuk P terhadap parameter  tinggi tanaman,  jumlah daun, dan diameter batang tomat. Bobot segar biomassa dan bobot kering tomat juga menunjukkan  perbedaan pengaruh yang signifikan antarperlakuan. Nilai korelasi terbaik ditunjukkan oleh metode pengekstrak Mehlich I melalui parameter bobot kering dan bobot basah relatif tanaman. Dengan demikian, metode uji P tanah yang menggunakan Mehlich I dapat digunakan sebagai metode ekstraksi yang paling tepat untuk menganalisis unsur hara fosfor dengan koefisien korelasi 0,88, sehingga metode Mehlich I dapat diusulkan sebagai rekomendasi pemupukan P pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols (nilai r = 0,89).  ABSTRACT. Izhar, L, Susila, AD, Purwoko, BS, Sutandi, A,  and  Mangku, IW. 2012. Determination of the Best Method of Soil P Test for Tomato (Lycopersicon esculentum Mill. L) on Inceptisols Soil. Phosphorus is one of important soil elements and application of the element in suitable concentration give high effect on tomato growth. A study on phosphorus analysis and its application for recommendation of soil fertilization of tomato cultivation on Inceptisols soil was conducted at the field and Greenhouse of Cikabayan, Bogor Agricultural University, from March to November 2010. The objective of this research was to obtain the best extraction method of soil-P test for determining phosphorus nutrient required for tomato cultivation on Inceptisol soil. Rate of phosphorus of 0X, ¼ X, ½ X, ¾ X, and 1X, where X was 368.5 kg/ha P2O5 with four replications, was applied in the study. The treatments were applied 6 months before planting date. The research was arranged in randomized complete block design. Analysis of correlation between soil-P and plant growth based on data collected from the plants grown in the greenhouse using incubation media in treated-soil was  analyzed. Soil-P test was carried out by using five extraction methods i.e. Bray I (HCl 0,025 N + NH4F 0.03), Bray II (NH4F 0.03 N + HCl 0.10 N), Mehlich I (HCl 0.05 N + H2SO4 0.025 N), Morgan Wolf (NaC2H2H3O2.3H2O; pH 4.8), and Truogh [HCl 0.10 N + (NH4)2SO4; pH 3]. The results showed that there were significant differences among the treatments of P fertilizer on the variables of plant height, leaf number, and stem diameter of tomato. Biomass fresh and dry weight of tomato also showed significantly different between the treatments applied. The highest correlation was shown on Mehlich I extraction reagent between plant dry and fresh weight. It means that, this P-nutrient extraction method was the most appropriate in determining phosphorus nutrient for tomatoes on Inceptisols soil with a coefficient correlation of 0.88. Mehlich I can also be used to develop a comprehensive phosphorus fertilizer recommendation for tomato cultivation on Inceptisols soil (r value = 0.89)

    Pengaruh Transportasi, Kultivar Anggrek Pot terhadap Kesegaran Bunga Selama Peragaan pada Berbagai Kondisi Ruangan

    Get PDF
    Penelitian bertujuan mendapatkan ketahanan segar tanaman anggrek pot berbunga pada beberapa kondisi ruangan dengan atau tanpa pengangkutan. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Juli 1998 sampai bulan April 1999. Tiga jenis tanaman pot anggrek Dendrobium berbunga (Candy Strip, Bunjet Pink dan Kyomeisabin) diperoleh dari petani bunga di daerah Cibubur, Bogor, Jawa Barat. Tanaman pot anggrek Dendrobium berbunga yang digunakan dalam penelitian ini merupakan tanaman yang berbunga pertama atau kedua. Pada sebagian tanaman pot dilakukan pengangkutan Jakarta–Bandung pulang pergi selama 10 jam (±308,3 Km). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, pola faktorial dengan 3 ulangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa anggrek Dendrobium Candy Strip pot berbunga yang ditempatkan di rumah sere penyinaran 55% tanpa dan dengan transportasi, mempunyai masa peragaan masing-masing 48,3 hari dan 43,9 hari, dengan bunga pertama layu mencapai 28,0 hari dan 24,2 hari, dan bunga mekar mencapai 100% setelah peragaan selama 24,7 hari dan 17,9 hari. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mempertahankan mutu dan masa peragaan anggrek pot Dendrobium sp. berbunga selama pengangkutan, sehingga distribusi pemasarannya dapat lebih luasExperiment was conducted to find out the self-life of flowered potted Dendrobium at several rooms conditions with or without transportation treatment. The experiment was done at Indonesian Ornamental Crops Research Institute from Juli 1998 to April 1999. Three Dendrobium cultivars (Candy Strip, Bunjet Pink and Kyomeisabin) as potted plant were bought from farmers orchid at Cibubur, Bogor, West Jawa. Flowering  Dendrobium with potted plant used in this experiment was at first or second flowering. Potted plant was transported from Jakarta–Bandung vice versa for about 10 hours (±308.3 km). A completely randomized design with 3 replications was used. The results showed that without and with transportation potted plant Dendrobium Candy Strip placed in a screenhouse of 55% lighting, indicated shelf life of 48.3 and 43.9 days, with first flowers wilting and 100% flower opening at 28.0 and 24.2 days and 24.7 and 17.9 days, respectively. This research results were useful to maintain the quality and shelf-life during transportation so that their marketing distribution can be extended

    Lalat Pengorok Daun Liriomyza sativae Blanchard Hama Baru pada Beberapa Sayuran Dataran Rendah

    Get PDF
    Lalat pengorok daun Liriomyza sativae Blanchard merupakan hama baru yang pada tahun 1996 ditemukan menyerangberbagai jenis sayuran dataran rendah di Karawang. Di dataran rendah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,survai terhadap hama ini dilaksanakan di tujuh lokasi dari bulan Januari hingga Juli 2002. Tujuan dari kegiatan iniadalah untuk mengetahui keberadaan/sebaran lalat pengorok daun L. sativae dan tingkat kerusakan yang disebabkanhama tersebut pada berbagai sayuran dataran rendah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa lalat pengorok dauntelah menyerang berbagai tanaman sayuran dataran rendah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Tingkatkerusakan yang ditimbulkannya bervariasi menurut jenis sayuran dan waktu pertanaman. Pada bulan Januari danMaret atau musim hujan, tigkat serangannya mencapai 10-45% dan pada bulan Mei atau awal musim kemarau, tingkatserangan hama sebesar 70%. Tanaman buncis di daerah Indra Sari dan Bincau pada musim kemarau adalah yangpaling parah terserang dengan kerusakan 70% dan untuk kacangpanjang di Kalampangan kerusakannya mencapai60%.Kata kunci : Liriomyza sativae; Dataran rendah; Tingkat kerusakan.AB STRACT. Susilawati. 2004. Leafminer Liriomyza sativae Blanchard a new pest on sev eral low landvegatables. Leafminer Liriomyza sativae Blanchard was a new pest that at tacked veg e ta ble crops in low landKarawang on 1996. Sur vey to this pest in low land of South and Cen tral Kalimantan were con ducted in seven lo ca tionsdur ing Jan u ary-July 2002. The ob jec tives of this ac tiv ity were to de ter mine the ex is tence of the in sect and to know thelevel of its dam ages. Re sults in di cated that leafminer L. sativae at tacked al most all veg e ta bles in South and Cen tralKalimantan. Level of dam ages was var ied ac cord ing to kind of veg e ta bles and time of planted. On Jan u ary and Marchor of rainy sea son, the level of dam ages reached 10-45% while on May or of be gin ning dry sea son, the dam ages leveldue to the this pest was 70%. Frenchbean planted at Indra Sari and Bincau was most se verely at tacked up to 70% dam -ages while for yardlongbean at Kalampangan was at tacked by such pest at 60% dam ages

    Identifikasi Patogen Penyebab Busuk Pangkal Batang pada Tanaman Jeruk di Tanah Karo

    No full text
    ABSTRAK. Pertanaman jeruk saat ini, di Kabupaten Karo, memperlihatkan produktivitas rendah dan umur tanamanyang pendek. Hal tersebut disebabkan oleh serangan Phytophthora spp. yang merupakan patogen penyebab penyakitbusuk pangkal batang pada tanaman jeruk. Penelitian bertujuan mengidentifikasi Phytophthora spp., patogen penyebabpenyakit busuk pangkal batang pada tanaman jeruk. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit, Kebun PercobaanTanaman Buah Berastagi dalam bulan Januari-Februari 2007. Daerah pengambilan sampel ialah di Desa SumbulKecamatan Kabanjahe, dan Desa Barusjahe Kecamatan Barusjahe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamurPhytophthora palmivora, P. citrophthora, dan P. parasitica ditemukan di Desa Sumbul. Jamur P. citrophthora danP. parasitica juga diperoleh di Desa Barusjahe. Sporangia dan misellium P. palmivora di Desa Sumbul berwarnamerah jambu dan putih, P. citrophthora berwarna putih dan hijau kehitaman, serta P. parasitica berwarna putihdan kuning muda, sedangkan di Desa Barusjahe P. citrophthora berwarna putih dan merah jambu dan P. parasiticaberwarna putih. Ukuran (panjang x lebar) sporangia P. palmivora (33-45) x (30-50) μm, P. citrophthora di DesaSumbul (40-50) x (34-50) μm, dan di Desa Barusjahe (30-45) x (30-45) μm, P. parasitica di Desa Sumbul (33-35) x(29-30) μm, dan di Desa Barusjahe (30-40) x (28-30) μm. Ukuran sporangiofor P. palmivora pada umumnya sebesar6,25-250 μm, panjang sporangiofor P. citrophthora di Desa Sumbul antara 25-68,75 μm dan di Desa Barusjahe12,5-100 μm, sedangkan panjang sporangiofor P. parasitica di Desa Sumbul 43,75-162,5 μm dan di Desa Barusjahe6,25-150 μm. Spesies phytophthora yang paling banyak ditemukan di Desa Sumbul adalah P. palmivora, sedangkandi daerah Barusjahe adalah P. citrophthora. Hasil identifikasi yang diperoleh dari penelitian ini akan bermanfaatdalam menentukan cara pengendalian Phytophthora spp. pada tanaman jeruk.ABSTRACT. Marpaung, A.E., F.H. Silalahi, and E.I.Y. Purba. 2010. Identification of the Causal Agent ofBrown Rot Gummosis on Citrus in Karo Region. Citrus cultivation in Karo region has exhibited low yieldingand short plant lifetime. This condition was caused by the infection of Phytophthora spp., the causal agent of brownrot gummosis on citrus. The objectives of the research was to identify the occurence of Phytophthora spp. on citrusplants. The research was conducted in Berastagi Fruits Plant Research Farm, from January to February 2007. Thesamples were collected from Kabanjahe District at the viilage of Sumbul and Barusjahe. The results indicated, thatPhytophthora palmivora, P. citrophthora, and P. parasitica were obtained from Sumbul village, while P. citrophthoraand P. parasitica were also found in Barusjahe village. The color of sporangia and misellium of P. palmivora originatedfrom Sumbul Village was white, P. citrophthora was white and dark green, and P. parasitica were pink and yellow,meanwhile the color of at P. citrophthora obtained from Barusjahe village were white and pink and P. parasitica waswhite. The size of sporangia P. palmivora was (33-45) x (30-50) μm, P. citrophthora at Sumbul Village was (40-50)x (34-50) μm, and from Barusjahe Village was (30-45) x (30-45) μm, P. parasitica at Sumbul Village was (33-35)x (29-30) μm and Barusjahe Village was (30-40) x (28-30) μm. The general length of sporangiofor P. palmivorawas 6.25-250 μm. The length of sporangiofor P. citrophthora at Sumbul Village was 25-68.75 μm and at BarusjaheVillage was 12.5-100 μm, even though P. parasitica at Sumbul Village was 43.75-162.5 μm and Barusjahe Village was6.25-150 μm. The most species of phytophthora found at Sumbul Village was P. palmivora and at Barusjahe Villagewas P. citrophthora. The result of the identification wil beneficial for the development of easier control measures ofPhytophthora spp. disease on citrus

    Penerapan Ambang Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Bawang Merah dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Pestisida

    Get PDF
    Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan satu faktor pembatas dalam budidaya bawang merah di dataranrendah. Untuk mengatasi masalah tersebut, petani bawang merah menggunakan pestisida secara intensif. Keadaan tersebutmenyebabkan biaya produksi meningkat dan usahatani bawang merah menjadi tidak efisien. Salah satu upaya untuk mengurangipenggunaan pestisida ialah dengan penerapan ambang pengendalian OPT. Percobaan penerapan ambang pengendalian OPT padabudidaya bawang merah dilakukan di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (± 5 m dpl.) pada bulan April sampaidengan Juli 2009. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh penerapan ambang pengendalian terhadap pengurangan penggunaanpestisida. Dua macam perlakuan diaplikasikan pada penelitian ini, yaitu (A) penerapan ambang pengendalian OPT (Spodopteraexigua, Liriomyza sp., dan Alternaria porri) dibandingkan dengan (B) pengendalian OPT dengan sistem kalender aplikasi pestisidatiap 3 hari sekali. Percobaan dilakukan dengan metode petak berpasangan dan setiap perlakuan diulang enam kali. Bawang merahvarietas Bima Curut ditanam pada petak perlakuan seluas 37,5 m2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penerapan ambangpengendalian dapat mengurangi jumlah penyemprotan insektisida sebesar 43,75% dan fungisida sebesar 87,50%, volume semprotpestisida sebesar 52,83% dengan hasil panen tetap tinggi (36,40 t/ha). Teknologi ambang pengendalian tersebut secara ekonomilayak untuk diadopsi karena dapat meningkatkan pendapatan bersih dan mengurangi biaya penyemprotan dibandingkan denganteknologi pengendalian OPT sistem kalender.ABSTRACTPests and diseases are two of the limiting factors in shallotscultivation in the lowland areas. To overcome pest and disease problems, shallots farmers generally use pesticides intensively. Thesecircumstances led the increase of production costs and the inefficient on shallots cultivation. One effort to reduce using pesticide useis by applying the control threshold of pests and diseases. The experiment of the control threshold of pests and diseases on shallotscultivation was carried out in Kersana Subdistrict, Brebes District, Central Java (± 5 m asl.) in April until July 2009. This experimentaimed to determine the effect of control threshold on reduction of using pesticide. Two kind of treatments were applied, namely(A) the use of control threshold (Spodoptera exigua, Liriomyza sp., and Alternaria porri) compared with (B) with the calendarsystem via application of pesticides every 3 days. The study was conducted using paired comparison method and each treatment wasrepeated six times. Treatment plot size was 37.5 m2. The shallots variety planted was Bima Curut. The result showed that the controlthreshold could reduce insecticide and fungicide application by 43.75 and 87.50% respectively; spraying volume 52.83% with yieldremain high (36.40 t/ha). Implementation of the control threshold, was economically feasible to be adopted because it can increasenet revenues and reduce costs of pesticide compared with the calendar system of pests control, routinely applied every 3 days

    Karakter Fisiologis dan Kemangkusan Rizobakteri Indigenus Sulawesi Tenggara sebagai Pemacu Pertumbuhan Tanaman Cabai

    Get PDF
    Sejumlah besar mikroorganisme yang terdapat pada rizosfer tanaman diketahui berperan penting dalam pertanianberkelanjutan karena potensinya sebagai agens pengendali hayati dan pemacu pertumbuhan tanaman. Percobaan bertujuanmengevaluasi kemampuan isolat rizobakteri indigenus Sulawesi Tenggara yang dieksplorasi dari Kabupaten Konawe, Konawe Selatan,Kendari, Muna, dan Buton dalam memproduksi hormon tumbuh indole acetic acid (IAA) dan melarutkan fosfat. Evaluasi jugadilakukan untuk mengetahui kemangkusan isolat rizobakteri sebagai pemacu pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian dilaksanakandi Laboratorium Agronomi dan Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo Kendari, Sulawesi Tanggara, daribulan April sampai dengan Oktober 2009. Hasil percobaan menunjukkan bahwa isolat rizobakteri yang diuji memiliki kemampuanyang berbeda dalam mensintesis IAA . Rizobakteri dari kelompok Bacillus spp. memiliki kemampuan menghasilkan IAA dengankonsentrasi lebih tinggi (5,32–146,97 μg/ml) dibandingkan dengan Pseudomas fluorescens C179, (0,78 μg/ml), sementara Serratiasp. C175 tidak dapat mensintesis IAA. Di lain pihak, semua isolat rizobakteri yang diuji mampu melarutkan fosfat. Sementara itu,hasil pengaruh perlakuan benih dengan rizobakteri menunjukkan bahwa dari 10 isolat yang diuji, hanya isolat Bacillus spp. C061, P.fluorescens C179, dan Serratia sp.C175 yang konsisten memberikan efek yang lebih baik terhadap viabilitas benih dan pertumbuhanbibit cabai dibandingkan dengan kontrol dan isolat uji lainnya. Oleh karena itu isolat Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179, danSerratia sp. C175 dapat direkomendasikan sebagai agens pemacu pertumbuhan cabai.ABSTRACTA vast number of microorganisms presentin rhizosphere have been considered as important in sustainable agriculture because of their biocontrol potential and ability topromote plant growth. The experiment was conducted at Agronomy Laboratory and Experimental Garden of Agriculture Faculty;Haluoleo University, Kendari, Southeast Sulawesi, from April till October 2009. The objective of this experiment was to evaluatethe ability of Southeast Sulawesi indigenous rhizobacteria isolates explorated and isolated from Konawe, South Konawe, Kendari,Muna, and Buton Regencies, to produce indole acetic acid (IAA), and solubilize phosphate. The experiments was also conductedto evaluate the effectiveness of those isolates as plant growth promoting rhizobacteria of hot pepper seedlings. Results of theexperiment showed that the rhizobacteria isolates had different ability to produce IAA. Rhizobacteria from Bacillus spp. producedhigh concentrations (5.32–146.97 μg/ml) of IAA. Pseudomonas fluorescens C179 produced IAA 0.78 μg/ml, while Serratia sp. C175did not produced IAA. On the other hand, all of isolates tested were able to be a solubilize phosphate. Meanwhile, results of theeffect of rhizobacterium-seed treatment showed that of 10 isolates tested, only isolates of Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179,and Serratia sp. C175 who consistently provide a better effect on seed viability and seedling growth of hot peppers compared withcontrol and other isolates. Therefore Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179, and Serratia sp. C175 isolates can be recommendedas promoting agents of hot peppers.

    Uji Daya Hasil Lanjutan Tomat Hibrida di Dataran Tinggi Jawa Timur

    Get PDF
    Varietas hibrida tomat telah banyak digunakan oleh petani dan tersebar luas diberbagai sentra produksi sayuran.Peningkatan permintaan dan kebutuhan akan varietas unggul baru tomat juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk menunjangpeningkatan permintaan produk tanaman tersebut, melalui kegiatan pemuliaan, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) telahmendapatkan beberapa galur harapan F1 hibrida. Untuk mengetahui produktivitas dan kualitas galur-galur harapan tersebut padalokasi yang berbeda, uji daya hasil lanjutan galur-galur tersebut sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dayahasil galur-galur F1 hibrida di Jawa Timur. Penelitian dilakukan di lahan petani, Desa Santrian, Kecamatan Batu, Kota AdministrasiBatu, Jawa Timur, dengan jenis tanah Latosol kecoklatan dan ketinggian + 800 m dpl. dari bulan Juli sampai dengan November2010. Sepuluh (10) galur F1 tomat hibrida harapan dari Balitsa yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) GH.F1-T-1; (2)GH.F1-T-2; (3) GH.F1-T-3; (4) GH.F1-T-4; (5) GH.F1-T-5; (6) GH.F1-T-6; (7) GH.F1-T-7; (8) GH.F1-T-8; (9) GH.F1-T-9; dan(10) GH.F1-T-10 serta dua varietas tomat F1 yaitu hibrid Marta dan Giok. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini ialahacak kelompok dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur tomat F1 hibrida dari Balitsa yaitu GH.F1-T-6mempunyai kualitas dan produktivitas terbaik dibanding galur harapan dan varietas pembanding. Galur GH.F1-T-6 memilikiproduktivitas buah hingga 5,9 kg per pohon dan jumlah buah 50,9 butir per pohon. Hasil ini membuktikan bahwa terdapat galurharapan F1 hibrid hasil pemuliaan Balitsa yang memiliki potensi besar dikembangkan didaerah Jawa Timur, khususnya DesaSantrian, Kec. Batu, Kota Administratif Batu.ABSTRACThybrid varieties have been generally used by farmer and distributed in several vegetable production areas. To support increasingdemand and need of new superior tomato varieties, via breeding activity, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI)released several potential lines of F1 hybrids. To know productivity and quality of the potential lines in different cultivation area,the potential quality and productivity field trial test for the lines were addressed. Objective of the study was to know the productivityand quality of the IVEGRI tomato potential lines in East Java. The research was conducted at Santrian Village, Batu Subdistrict,Batu Administrative City, Malang-East Java in 800 m asl. and brownish Latosol soil type from July to November 2010. Ten (10)promising of tomato F1 hybrid lines tested in the study were (1) GH.F1-T-1; (2) GH.F1-T-2; (3) GH.F1-T-3; (4) GH.F1-T-4;(5) GH.F1-T-5; (6) GH.F1-T-6; (7) GH.F1-T-7; (8) GH.F1-T-8; (9) GH.F1-T-9; and (10) GH.F1-T-10, and two hybrid tomatoesF1 i.e. Marta and Giok for control. Randomized complete block design with four replications was used in the experiment. Theresults showed that GHF1-T-6 line from IVEGRI had the highest quality and productivity compared to others. The line had fruitproductivity up to 5.9 kg/plant and number of fruits up to 50.9 fruits per plant. Results of the study gave real evidence that therewas a promising line of F1 hybrid derived from IVEGRI breeding activity having high potential developed in East Java, especially in Santrian Village, Batu Subdistrict, Batu Administrative City, Malang

    Respons Tanaman Bawang Merah Asal Biji True Shallot Seeds terhadap Kerapatan Tanaman pada Musim Hujan

    Get PDF
    Kerapatan tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi produksi umbi bawang merah asal true shallots seed (TSS) pada musim hujan (off-season). Tujuan penelitian ialah menentukan  kerapatan tanaman yang sesuai untuk produksi umbi beberapa varietas bawang merah dari TSS. Penelitian dilakukan di lahan petani di dataran rendah Cirebon, dari bulan November 2010 sampai dengan Februari 2011. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok pola faktorial, dengan dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama ialah tanaman asal TSS beberapa varietas  bawang merah, yaitu Allium ascalonicum cv. Maja, Bima, dan Tuk-Tuk sebagai pembanding. Faktor kedua ialah kerapatan tanaman, yaitu 100 dan 150 tanaman per m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara varietas dan kerapatan tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah asal TSS. Varietas dan kerapatan tanaman tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah asal TSS, tetapi berpengaruh terhadap jumlah tanaman yang dapat dipanen umbinya. Varietas Tuk-Tuk sebagai pembanding dan kerapatan tanaman yang tinggi (150 tanaman per m2) menunjukkan jumlah tanaman yang dapat dipanen paling sedikit. Hasil umbi kering asal TSS paling tinggi diperoleh pada A. ascalonicum cv. varietas Maja dengan kerapatan 100 tanaman/m2, yaitu sebesar 5,15 t/ha. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengguna untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas umbi bawang merah pada musim hujan

    Respons Pertumbuhan Bibit Manggis pada Berbagai Interval Penyiraman dan Porositas Media

    Get PDF
    Tanaman manggis memiliki karakteristik pertumbuhan yang lambat yang antara lain disebabkan oleh sistem perakaran yang buruk, terbatasnya akar lateral, serta mudah terganggu oleh aerasi yang kurang baik dan kekeringan atau kelebihan air. Oleh karena itu rekayasa media tumbuh melalui pendekatan porositas untuk mendapatkan keseimbangan antara aerasi dan ketersediaan air untuk memacu pertumbuhan sangat diperlukan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Plastik Pusat Kajian Buah Tropika, Institut Pertanian Bogor, Tajur dan Balai Penelitian Tanah Bogor mulai Januari 2009 sampai dengan Agustus 2010. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah porositas media, terdiri atas empat taraf yaitu: 51–55, 56–60, 61–65, dan 66–70% dan faktor kedua ialah interval penyiraman yang terdiri atas empat taraf yaitu: 2, 4, 6 dan 8 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi porositas media 61–65% dengan penyiraman 6 hari + polimer penyimpan air (PPA) memberikan respons tertinggi terhadap tinggi tanaman (19,27 cm) dan pertambahan jumlah daun (9 helai), panjang akar (37,19 cm), dan potensial air jaringan daun (-7,23 bar). Pertumbuhan tajuk dan akar (khususnya panjang akar) berhubungan dengan gradien potensial air jaringan, dimana kombinasi porositas media 61–65% dengan peniraman 6 hari + PPA memiliki gradien potensial jaingan tertinggi (5,86 bar). Gradien potensial yang tinggi mendorong laju serapan dan translokasi air, sehingga respons yang nyata nampak pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Media tumbuh dengan porositas 61–65 % dan penyiraman setiap 6 hari + PPA dapat diterapkan pada pembibitan manggis

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇