Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pengaruh pH Air Pelarut dan Umur Larutan Semprot terhadap Efikasi Pestisida pada Tanaman Kentang (Effect of Solvent Water pH and the Age of Spray Solution on the Efficacy of Pesticide in Potatoes)

    Get PDF
    Dua dari banyak faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan penyemprotan pestisida ialah pH air pelarut dan umur larutan semprot. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kedua faktor tersebut terhadap efikasi insektisida dan fungisida yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman kentang. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai Oktober 2015 di Kebun Percobaan Margahayu (1.250 m dpl.), Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dan tiap kombinasi perlakuan diulang enam kali. Macam perlakuan yang diuji ialah: (A) umur larutan semprot (a1: larutan semprot dibuat sehari sebelum aplikasi dan a2: larutan semprot dibuat sesaat sebelum aplikasi) dan (B) pH air pelarut (b1: pH 5 dan b2: pH 8). Pestisida yang digunakan ialah abamektin, spinosad, dan klorotalonil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) larutan semprot yang disimpan hingga 1 hari tidak memengaruhi efikasi insektisida abamektin dan spinosad serta fungisida klorotalonil terhadap OPT tanaman kentang, (2) air pelarut dengan pH 8 menurunkan efikasi insektisida abamektin, spinosad, dan klorotalonil terhadap OPT tanaman kentang, dan (3) tanaman kentang yang disemprot insektisida abamektin dan spinosad serta fungisida klorotalonil dengan pH air pelarut 5 menghasilkan ubi dengan bobot yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman kentang yang disemprot insektisida dan fungisida yang sama tetapi dengan pH air 8.KeywordsAbamektin; Spinosad; Klorotalonil; Hama dan penyakit; pH masam;  pH basa; KentangAbstractMany factors affect the success of the control and two of them are solvent water pH and age of the spray solution. The aim of the research was to determine the effect of age of solution and solvent water pH on the efficacy of insecticide and fungicide used for controlling pests and disease of potato crops. The research was conducted from July to October 2015 in the Margahayu Experimental Garden (1,250 m asl.), Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang. The experiment was compiled using a factorial randomized complete block design and each treatment combination was repeated six time. Treatments tested were: (A) age of spray solution ( a1: the spray solution made a day before application and a2: the spray solution made just before application) and (B) solvent water pH (b1: pH of 5 and b2: pH of 8). Pesticides used were abamectin, spinosad and chlorothalonil. The results showed that (1) the spray solution stored until 1 day did not affect the efficacy of abamectin, spinosad, and chlorothalonil against pests and disease of potato crops, (2) the efficacy of abamectin, spinosad, and chlorothalonil at solvent water pH of 8 decreased, and (3) the potato crops sprayed with abamectin, spinosad, and chlorothalonil at solvent water pH of 5 produced higher yield than the crops sprayed with the same pesticide at solvent water pH of 8

    Perubahan Morfologi dan Toleransi Tanaman Kentang Terhadap Suhu Tinggi

    Get PDF
    Cekaman suhu tinggi terjadi apabila suhu lingkungan melebihi suhu optimum yang diperlukan tanaman. Tanaman kentang mengalami berbagai perubahan morfologi tanaman dan umbi, serta penurunan produksi umbi, sebagai respons terhadap suhu tinggi. Penelitian bertujuan untuk mempelajari perubahan morfologi tanaman dan umbi kentang serta toleransi klon-klon kentang terhadap suhu tinggi, dilaksanakan pada Bulan Juli sampai Oktober 2012 di Lembang, 1.250 m dpl. (suhu rerata 20,4°C) dan Subang, 100 m dpl. (suhu rerata 30°C). Dua puluh klon kentang ditanam dalam rancangan acak kelompok lengkap, tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tinggi menyebabkan tipe tumbuh tanaman lebih tegak, batang memanjang, ukuran daun mengecil, serta permukaan umbi tidak teratur. Toleransi terhadap cekaman suhu tinggi dapat dilihat dari perbedaan produksi umbi pada kondisi lingkungan normal dengan lingkungan tercekam suhu tinggi. Klon Atlantik M, CIP 395195.7, N.1, dan Ping 06 bersifat toleran terhadap cekaman suhu tinggi berdasarkan kecilnya perubahan produksi akibat suhu tinggi. Produksi umbi per tanaman keempat klon tersebut di Subang berturut-turut 188,28; 137,03; 122,58; dan 121,49 g. Klon-klon tersebut dapat dijadikan sebagai materi dalam perbaikan varietas toleran suhu tinggi maupun dalam perbaikan teknologi budidaya kentang di dataran medium

    Seleksi dan Adaptasi Tiga Spesies Unggul Jamur Kuping (Auricularia spp.) untuk Dataran Medium (Selection and Adaptation on Three Strain Candidate of Five Superior the Wood Ear Mushroom Strain for Medium Land)

    Get PDF
    Jamur kuping (Auricularia spp.) merupakan salah satu sayuran yang mempunyai peranan penting sebagai sumber gizi masyarakat dan sumber ekonomi. Rerata hasil jamur kuping petani masih rendah (< 500 g/log). Penyebabnya antara lain karena penangkar benih sebar tidak menggunakan benih strain unggul berkualitas dan benih sebar diperbanyak diturunkan berkali-kali sehingga potensi daya hasil jamur kuping semakin menurun. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu menyebarluaskan benih strain unggul jamur kuping pada pengguna dan mendaftarkan. Namun, sebelum mendaftarkan strain unggul perlu melakukan seleksi dan adaptasi calon strain unggul jamur kuping di tiga lokasi dataran medium pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan mendapatkan strain unggul jamur kuping untuk dataran medium dengan kualitas baik dan produksi tinggi. Rancangan percobaan yang digunakan, yaitu rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas enam nomor yang diuji, yaitu Auricularia auricula - yudae, A. auricula -2-APR, A. auricula -20-APR, A. auricula -21-APR, A. auricula -19-APR, dan A. auricula - 10 (sebagai pembanding). Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. auricula - 21 - APR, A. auricula - 19 - APR, dan A. auricula - 10 merupakan strain unggul jamur kuping untuk dataran medium yang disukai konsumen dan produksi tinggi (> 500 g/log). Dari hasil kegiatan uji keunggulan, didapat dua calon strain unggul jamur kuping yang berproduksi tinggi dan berkualitas baik sehingga beralasan untuk didaftarkan.KeywordsJamur kuping; Strain unggul; Seleksi; Adaptasi; Dataran mediumAbstractThe wood ear mushroom is one of vegetable crops as a sources of nutrient and valuable economically, average yield is still low (< 500 g/log). This case happened among other things because the spawn substrate producers might be did not apply superior strains. Moreover, they might be reproduced spawn substrate for more than two times/generations. In order to overcome this problem, it is suggested to release a superior strains of the wood ear mushroom including to disseminate it to the users. However, prior to release the superior strain, the important step mush be done, viz. selection and adaptation on strain candidate of for superior the wood ear mushroom at three different medium land for dry seasons. The aim of these experiments is to find out the new superior strain of the wood ear mushroom for medium land, which give high yield and quality. A randomized block design with four replications will be arranged in the field. Treatments comprised of three candidate of superior strain of the wood ear mushroom, viz. Auricularia auricula - yudae, A. auricula-2-APR, A. auricula-20-APR, A. auricula-21-APR, A. auricula -19-APR, and A. auricula -10 (control). The aim showed that A. auricula-21-APR, A. auricula-19-APR, and A. auricula -10 the superior strain that are suitable for medium land and the yield (>500 g/log). If can be conculed from superior test, at least two candidate strains with high yield and qualities are suitable and reasonable to be released

    Respons Pertumbuhan Tanaman Jeruk Keprok Batu 55 pada Beberapa Interstock Melalui Metode Top Working

    Get PDF
    Pengembangan jeruk keprok berwarna kuning dapat dilakukan dengan menanam benih baru atau menerapkan metode top working yaitu metode mengganti suatu varietas tanaman yang ada dengan varietas baru sesuai selera konsumen. Metode top working dapat dilakukan pada batang bawah tanaman atau pada batang atas tanaman yang berfungsi sebagai batang antara atau interstock. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui respons pertumbuhan tanaman jeruk keprok Batu 55 pada beberapa interstock melalui metode top working. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Batu, Jawa Timur (950 m dpl.), mulai Bulan April sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 10 perlakuan yaitu kombinasi antara interstock (pamelo, jeruk manis, jeruk siam, jeruk purut), dan kontrol (batang bawah Japansche Citroen) pada metode top working cara okulasi dan sambung kulit. Penelitian diulang sembilan kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan KB/P/JC-Ok (keprok Batu 55/interstock pamelo/Japansche Citroen-okulasi), KB/M/JC-SK (keprok Batu 55/interstock jeruk manis/Japansche Citroen-sambung kulit), dan KB/M/JC-Ok (keprok Batu 55/ interstock jeruk manis/Japansche Citroen-okulasi) menghasilkan persentase sambungan jadi 100%. Perlakuan KB/JC-Ok (keprok Batu 55/Japansche Citroen-okulasi) menghasilkan pecah tunas paling cepat, sedangkan perlakuan KB/S/JC-Ok (keprok Batu 55/ interstock jeruk siam/Japansche Citroen-okulasi) menghasilkan pertumbuhan terbaik pada pertambahan tinggi tunas dan jumlah daun. Kombinasi perlakuan interstock-top working mempunyai rasio C/N lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanaman jeruk muda (pembanding). Hasil penelitian ini untuk memberikan rekomendasi kepada petani tentang penggunaan interstock melalui metode top working pada tanaman jeruk keprok Batu 55

    Uji Stabilitas Lima Genotip Pepaya di Tiga Lokasi

    Get PDF
    Pengujian interaksi antara genotip dengan lingkungan (GxE) serta analisis stabilitas hasil suatu genotip merupakan tahap penting dalam program pemuliaan tanaman untuk mendapatkan calon varietas unggul baru. Penelitian bertujuan menguji stabilitas dan adaptasi empat genotip pepaya dan satu pembanding. Penelitian dilakukan di tiga lokasi yaitu, KP. Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Lubuk Alung, Sumatera Barat, dan KP. Subang, Jawa Barat, mulai Bulan Maret sampai Desember 2010 menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri atas lima genotip pepaya, yaitu Merah Delima, BT-2, Carmina, Carmida, dan California dengan enam ulangan. Peubah yang diamati ialah persentase tanaman sempurna dan betina, tinggi bunga pertama, ruas letak bunga pertama, tinggi buah pertama, bobot buah, jumlah buah/pohon, produksi buah/pohon, dan padatan terlarut total (PTT) (oBrix). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tanaman berbunga sempurna dan berbunga betina pada genotip Merah Delima, BT-2, Carmina, dan Carmida mempunyai nilai koefisien regresi (βi)<1, berarti tahan terhadap perubahan lingkungan. Pengujian terhadap tinggi bunga pertama dan ruas letak bunga pertama memperlihatkan bahwa BT-2 dan California mempunyai koefisien regresi (βi)<1 (tidak responsif terhadap perubahan lingkungan). Interaksi varietas (genotip) dengan lokasi (lingkungan) terjadi pada karakter persentase tanaman berbunga sempurna, persentase tanaman berbunga betina, ruas letak bunga pertama, tinggi bunga pertama, bobot buah, produksi/pohon, dan PTT. Produksi buah/pohon Merah Delima dan Carmida mempunyai nilai koefisien regresi (βi) = 1 dan genotip memiliki rerata hasil di atas rerata umum yang berarti genotip tersebut beradaptasi baik terhadap semua lingkungan. Kedua genotip tersebut sangat potensial untuk dikembangkan di beberapa lingkungan karena beradaptasi baik pada tiga kondisi lingkungan dengan hasil di atas rerata. Oleh karena itu dapat direkomendasikan menjadi VUB yang dapat dikembangkan di lahan petani

    Distribusi dan Kelimpahan Populasi Orong - orong (Gryllotalpa hirsuta Burmeister.), Uret (Phyllophaga javana Brenske.), dan Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufnagel.) di Sentra Produksi Kentang di Jawa Barat dan Jawa Tengah

    Get PDF
    Dalam usaha agribisnis tanaman kentang (Solanum tuberosum L.), para petani kentang di negara - negara berkembang sering dihadapkan pada berbagai masalah, salah satunya ialah serangan OPT kentang yang dapat mencapai 20 jenis. Di antara ke-20 jenis OPT tersebut, orong - orong, uret, dan ulat tanah merupakan OPT penting yang hidup di dalam tanah yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai dengan 50%. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis - jenis OPT yang terdapat dalam tanah, distribusi dan kelimpahannya di beberapa biotop yang berbeda serta faktor - faktor lingkungan yang memengaruhi keberadaannya. Penelitian dilakukan sejak Juni sampai dengan Agustus 2012 di dua provinsi sentra produksi kentang yaitu di Jawa Barat (Kabupaten Garut dan Bandung) dan Jawa Tengah (Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo). Metode penelitian yang digunakan ialah metode survai, penarikan contoh dilakukan dengan metode stratified multistage sampling. Stratum yang digunakan ialah luas areal kentang. Biotop yang diambil berupa lahan pertanaman kentang, lahan bekas kentang, dan lahan penyimpanan pupuk kandang. Pencuplikan dilakukan dengan metode kuadrat (1 m2, sedalam 20 cm) dengan pengambilan lima cuplikan per biotop per lokasi tinjau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OPT tanah yang ditemukan di lokasi tinjau ialah orong-orong (G. hirsuta), uret (P. javana), dan ulat tanah (A. ipsilon). Kepadatan populasi ketiga OPT tersebut berbeda tergantung pada jenis biotop dan lokasi tinjau. Untuk G. hirsuta kepadatan populasi berkisar antara 1,0 – 32,0 ekor/m2, P. javana 1,0–33,0 ekor/m2 dan A.ipsilon 1,0 – 6,0 ekor/m2. Biotop padang rumput (43,05%) ternyata paling disukai oleh OPT tanah untuk kelulushidupannya, diikuti berturut-turut oleh bekas kentang (21,83%), pupuk kandang (21,53%), dan biotop kentang  (13,59%). Persentase keberadaan OPT tanah tertinggi yaitu P. javana sebesar 70,23% diikuti G. hirsuta sebesar 26,26% dan A. ipsilon sebesar 3,51%. Faktor fisik tanah yang memengaruhi kelulushidupan OPT tanah ialah pH tanah dan kadar air tanah. Informasi mengenai distribusi dan kelimpahan OPT tanah dapat digunakan sebagai landasan untuk merakit dan mengembangkan teknologi PHT untuk OPT tanah yang lebih akurat terutama untuk mengatasi perubahan iklim

    Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati dan PPC Terhadap Keberhasilan Pembuahan Mangga Podang di Luar Musim (Effect of Biofertilizer and Liquid Fertilizer on Off-Season Podang Mango Fruiting Success)

    Get PDF
    Mangga Podang dengan warna buah kuning kemerahan dan rasa manis segar merupakan salah satu komoditas buah unggulan Kabupaten Kediri. Tanaman mangga tersebut umumnya berbuah setahun sekali dengan masa panen yang singkat (Oktober – Desember) dan ini menyebabkan ketersediaan buah melimpah dengan harga yang murah. Oleh karena itu perlu diupayakan pengaturan pembuahan di luar musim supaya memperpanjang periode panen dengan mempercepat awal musim buah dan memperlambat akhir musim buah sehingga harga dapat dikendalikan. Penelitian dilaksanakan tahun 2012 di Kabupaten Kediri dengan rancangan acak kelompok yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Semua tanaman diaplikasi menggunakan zat pengatur tumbuh paklobutrazol pada bulan Februari, pemupukan dan pengendalian OPT sesuai rekomendasi. Manajemen yang dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pembuahan di luar musim adalah perlakuan kombinasi antara penambahan pupuk hayati, mikro, dan ZPT dengan dua interval pemberian, yaitu (A) kontrol, (B) pupuk hayati (mikoriza), dan (C) PPC unsur mikro, aplikasi 1 minggu sekali, (D) PPC unsur mikro, aplikasi 2 minggu sekali, (E) PPC unsur mikro+ZPT, aplikasi 1 minggu sekali, dan (F) PPC unsur mikro+ZPT, aplikasi 2 minggu sekali. Aplikasi paklobutrazol pada mangga Podang yang dibarengi dengan pengelolaan secara intensif (pengendalian OPT, penambahan unsur hara makro, dan mikro) dapat meningkatkan hasil buah dan memperpanjang masa panen mulai bulan Agustus sampai Desember. Aplikasi PPC 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali baik yang mengandung ZPT maupun tidak dapat meningkatkan hasil panen sebanyak 98%. Rerata buah yang dapat dipanen sebelum panen raya mencapai 38,2%. Perpanjangan masa panen dan peningkatan hasil buah berdampak meningkatkan pendapatan petani.KeywordsPembuahan; Mangga Podang; Luar musimAbstractPodang mango with yellow, reddish coloration and sweet, refreshing taste is one of the Kediri’s featured fruit commodities. It’s usually bears its fruit once a year within short period (October- December), causes yield overflow and reduces price. This demands off-season fruiting control to prolong harvesting period by hastening fruit-bearing season beginning and slowing its end to help control their price. Assessment were done on 2012 in Kediri Regency with randomized block design consist of six treatments and four repeats. All plants are given growth regulator, paklobutrazol, on February, with fertilization and pest control based on recommendation. To increase off-season fruiting success rate, combined treatment of biofertilizer, micro-fertilizer, and growth regulator application are managed with two application interval, which is: (A) control, (B) biofertilizer (mycorrhizae), (C) micro-elements liquid fertilizer, once a week (D) micro-elements liquid fertilizer, twice a week, (E) micro-elements liquid fertilizer + growth controller, once a week, and (F) micro-elements liquid fertilizer + growth controller, twice a week. Paklobutrazol application followed by intensive management (pest control, macro, and micro fertilization) on Podang Mango could increase yield and lengthen harvesting period from August to December. Liquid fertilizer application once and twice a week, whether followed by growth controller or not, could increase yield up to 98%. Fruit could be harvested before great harvest were about 38.2%. Prolongation of harvest period and increase in yield will result in increase of farmers’ income

    Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah dengan Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Hayati pada Tanah Alluvial

    Get PDF
    Tanah Alluvial mempunyai kadar bahan organik dan N-total yang tergolong sangat rendah sehingga penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati dengan dosis yang cukup diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik dan sifat kimia tanah serta meningkatkan hasil bawang merah. Bawang merah merupakan komoditas sayuran penting yang biasa tumbuh di tanah Entisol. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik dan pupuk hayati terhadap dosis optimal dan produktivitas tanaman bawang merah pada tanah Alluvial. Percobaan lapangan dilakukan di Brebes, Jawa Tengah pada bulan Mei – Agustus 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan dan 10 kombinasi perlakuan dosis pupuk organik dan pupuk hayati, aplikasi perlakuan dilakukan dengan cara ditabur. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, hasil panen segar, bobot kering eskip, serapan hara tanaman, dan analisis kimia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah, tetapi berpengaruh terhadap hasil umbi bawang merah. Dosis 3.000 kg/ha pupuk organik + 50 kg/ha pupuk hayati memberikan hasil bobot umbi kering eskip bawang merah paling tinggi, yaitu sebesar 23,22 kg/15 m2. Implikasi dari hasil penelitian ini bahwa penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati dapat dilakukan sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia

    Potensi Trichoderma spp. sebagai Agens Pengendali Fusarium spp. Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Stroberi

    Get PDF
    Layu yang disebabkan oleh Fusarium spp. merupakan salah satu penyakit penting tanaman stroberi (Fragaria x ananassa Dutch.) di daerah subtropika, yang dapat menggagalkan panen. Penelitian bertujuan untuk mempelajari potensi Trichoderma spp. dalam mengendalikan Fusarium spp. Isolat Trichoderma spp. diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi dan Fusarium spp. diisolasi dari tanaman stroberi yang mengalami layu fusarium. Isolat cendawan dimurnikan, dikarakterisasi, dan dibandingkan dengan isolat cendawan acuan. Uji antagonis dilakukan secara in vitro dan in vivo. Uji in vitro dilakukan dengan metode dual culture dan slide culture. Uji in vivo dilakukan di rumah kasa menggunakan dua varietas stroberi, yaitu Santung serta California. Hasil penelitian  in vitro memperoleh dua jenis isolat cendawan antagonis, yaitu Trichoderma sp.1 dan Trichoderma sp.2, dan dua jenis cendawan patogen Fusarium, yaitu Fusarium sp.1 dan Fusarium sp.2. Isolat Trichoderma sp.1 memiliki kemampuan antagonisme lebih tinggi dibandingkan dengan isolat Trichoderma sp.2. Isolat Trichoderma sp.1 mampu menghambat pertumbuhan Fusarium sp.1 dan Fusarium sp.2 secara berturut- turut, yaitu 49,7% dan 49,6%. Isolat Trichoderma sp.2 mampu menghambat pertumbuhan Fusarium sp.1 dan Fusarium sp.2 lebih rendah, yaitu sebesar 45,8% dan 43,4%. Mekanisme antagonis yang terjadi antara cendawan antagonis dan patogen pada uji in vitro, yaitu pembelitan dan intervensi hifa. Hasil pada uji in vivo pada perlakuan I sebelum Fusarium menunjukkan keefektifan pengendalian paling baik (41,72%) dibanding perlakuan lain. Varietas Santung lebih tahan terhadap serangan patogen dibandingkan varietas California. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah, agens hayati Trichoderma spp. lebih optimal digunakan sebagai pencegahan (preventif) tanpa menunggu tanaman terinfeksi penyakit layu fusarium

    Analisis Keragaman Genetik Manggis dalam Satu Pohon

    Get PDF
    Manggis (Garcinia mangostana) termasuk dalam kelompok Garcinia, merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara. Manggis memiliki sistem reproduksi melalui mekanisme apomiksis yang bijinya terbentuk tanpa fertilisasi. Manggis termasuk tanaman apomiksis obligat, progeni yang dihasilkan akan memiliki kesamaan genotip dengan tanaman induk. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya keragaman genetik antaraksesi manggis. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Sampel tanaman yang digunakan berasal dari empat generasi manggis (P1, P2, P3, dan P4) Wanayasa, Purwakarta. Pengambilan sampel berdasarkan ketinggian tanaman dan masing-masing ketinggian dibagi menjadi empat sektor (utara, timur, selatan, dan barat). Penelitian meliputi tiga analisis, yaitu morfologi, molekuler dengan ISSR, dan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Keragaman morfologi lebih besar dari pada genetik. Tingkat keragaman morfologi sebesar 18–43%, sedangkan keragaman genetik adalah 2–17%

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇