Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Teknik Penanaman Benih Bawang Merah Asal True Shallot Seed di Lahan Suboptimal (Planting Method of Seedling of Shallot from True Shallot Seed in Suboptimal Land)
Keberhasilan produksi umbi bawang merah dengan menggunakan TSS (True Shallot Seed) di lahan sub optimal tergantung banyak faktor, antara lain umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N. Tujuan penelitian adalah menghasilkan umur benih, kerapatan tanaman, dan dosis pupuk N yang tepat untuk pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang merah asal TSS yang optimal. Penelitian lapangan dilakukan di lahan sub optimal Subang-Jawa Barat (100 m dpl) dengan jenis tanah Latosol Merah Kuning, dari bulan Juli sampai Oktober 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial, dengan tiga ulangan dan tiga faktor perlakuan. Faktor pertama (A): Umur benih di persemaian, terdiri atas: a, = 4 minggu setelah semai, a2 = 5 minggu setelah semai, dan a3 = 6 minggu setelah semai. Faktor kedua (B): Kerapatantanaman, terdiri atas: b1 = 150 tanaman/m2 dan b2 = 100 tanaman/m2. Faktor ketiga (C): Dosis pupuk N, terdiri atas: Cl = 150 kg N/ha, C2=225 kg N/ha, dan C3 = 300 kg N/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan jumlah daun) dipengaruhi oleh umur benih, tetapl tidak dipengaruhi oleh kerapatan dan dosis pupuk N. Umur benih 6 minggu setelah 'sernat memberikan tinggi tanaman paling tinggi dan jumlah daun paling banyak. Bobot umbi basah per tanaman tidak dipenqaruhi oleh umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N. Namun bobot umbi basah per petak dipengaruhi oleh kerapatan tanaman. Makin rapat tanaman (150 tanaman/m2) makin tinggi hasil bobot umbi basah per petak. Bobot umbi kering eskip per tanaman dan bobot umbi kering esktp per petak, serta susut bobot umbi dipengaruhi oleh interaksi umur benih dan kerapatan tanaman. Umur benih 6 minggu dengan kerapatan 150 tanaman/rrr menghasilkan bobot umbi kering eskip per tanaman (11,417 g/tanaman) dan bobot umbi kering eskip per petak (2,433 kg/2.4 rrr') paling tinggi, serta susut bobot umbi paling rendah (33,63%). Kombinasi umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N yang menghasilkan bobot umbi basah dan bobot kering eskip tertinggi adalah umur biblt 6 minggu setelah semai, kerapatan tanaman 150 tanarnan/m' dan dosis 225 kg N/ha, yaitu masingmasing sebesar 4,195 kg/2,4m2 dan 2,80 kg/2,4 m2. Penggunaan benih asal TSS dapat digunakan sebagai alternatif dalam budidaya bawang merah. KeywordsAllium ascalonicum; True shallot seed; Umur benih; Kerapatan tanaman; Pupuk nitrogenAbstractSuccess of shallot cultivation by using true shallot seed (TSS) on suboptimal land is dependent upon the planting method of seedling, among others seedling age, plant density, and N fertilization. The objective of this experiment was to find out the proper seedling age, plant density and N dosage for producing shallot bulb from TSS. The field experiment was conducted in lowland of Subang West Java (100 m asl.) with Yellow Red Latosol soil type, from July to October 2013. A randomized block design, with three replications and three treatment factor was used in this experiment. The first factor was seedling ages (4, 5, and 6 weeks after sowing), the second factors was plant densities (150 and 100 plants/m2), and the third factor was N fertilizer dosages (150, 225, and 300 kg N/ha). The results showed that the plant growth (plant height and leaf number) from TSS was affected by seedling ages, but it was not affected by plant densities and N dosages. The highest plant height and the highest leaf number was from seedling age of 6 weeks after sowing. The fresh bulb weight per plant was not influenced by seedling ages, plant densities, and N dosages. But, the effect of plant densities was significantly different on fresh bulb weight per plot. The plant density of 150 plants/m2 gave the higher fresh bulb weight than the plant density of 100 plants/m2. The escape dry bulb weight per plant and per plot and also losses of bulb weight were siginficantly affected by the interaction between seedling ages and plant densities. The highest escape dry bulb weight per plant (11.417g/plant) and per plot (2.433 kg/2.4 m2), and the lowest lose weight of bulb (33.63) was obtained by the seedling age of 6 weeks after sowing and plant density of 150 plants/m2. The combination treatment of 6 weeks seedling age + 150 plants/m2 + 225 kg N/ha gave the highest fresh bulb yield (4.195 kg/2.4 m2) and the highest escape dry bulb yield (2.80 kg/2.4 m2). The application of shallot seedling from TSS can be used as alternative technology in shallot production
Pengaruh Konsentrasi Larutan Garam NaCl terhadap Pertumbuhan dan Kualitas Bibit Lima Kultivar Asparagus (The Effect of NaCl Salt Solution Concentrations on Growth and Seedling Quality of Five Asparagus Cultivars)
Kondisi iklim tropis seperti di Indonesia yang memiliki suhu dan kelembaban udara yang tinggi, memicu penyebaran penyakit yang merupakan masalah utama pada pertanaman asparagus. Penggunaan air garam (kondisi salin) pada media tanam dapat mengendalikan penyakit busuk akar dan memperbaiki pertumbuhan tanaman asparagus. Percobaan ini bertujuan menguji ketahanan salinitas dari lima kultivar asparagus untuk memilih kultivar asparagus yang menghasilkan pertumbuhan bibit yang baik ditanam di Indonesia. Percobaan dilaksanakan di kecamatan Cisarua, Bandung dengan tinggi tempat 1.100 meter di atas permukaan laut dari bulan April sampai September 2014. Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok Faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah kultivar asparagus terdiri dari lima kultivar yaitu Atlas F1; De Paoli F1 Hybrid; Jing Green No. 1 Hybrid F1; San Knight Hybrid F1 dan Jaleo. Faktor kedua adalah konsentrasi larutan garam terdiri dari tiga taraf yaitu 1.0 g L-1; 4.0 g L-1 dan 7.0 g L-1. Hasil percobaan menunjukkan tidak adanya interaksi antara jenis kultivar dan konsentrasi larutan garam. Pengaruh mandiri dari perlakuan menunjukkan bahwa kultivar De Paoli F1 Hybrid menghasilkan bobot segar bibit, tinggi bibit, jumlah batang, bobot shoot, bobot crown, volume crown, panjang akar dan jumlah akar yang lebih tinggi dibandingkan kultivar lainnya. Kultivar San Knight Hybrid F1 menghasilkan bibit yang lebih rendah dari semua komponen pengamatan dibandingkan kultivar lainnya. Aplikasi konsentrasi larutan garam 4 dan 7 g L-1 menunjukkan tinggi bibit, jumlah batang, bobot segar bibit, bobot shoot, bobot crown dan volume crown lebih rendah dibandingkan konsentrasi larutan garam 1 g L-1. Pengaruh konsentrasi larutan garam 7 g L-1 nyata menekan pertumbuhan panjang akar dan jumlah akar.KeywordsKultivar Asparagus officinalis L.; Bibit Asparagus officinalis L.; Konsentrasi air garamAbstractHigh temperature and humidity in tropical conditions as in Indonesia affect the spread of diseases which is the main problem in asparagus production. The application of salt water (salin condition) in the growing media reduced the infestation of root rot diseases and improve the growth of asparagus plants. This experiments aims to study the salinity resistance of five asparagus cultivar for the selection of asparagus cultivar which produced favorable seedling to be planted in Indonesia. This experiment conducted at Cisarua, Bandung at an altitude of 1,100 m asl. from April to September 2014. The experimental design used was a randomized block design factorial and replicated three times.The first factor was asparagus cultivars consisting of five cultivars i.e. Atlas F1, De Paoli F1 hybrid, Jing Green no.1 hybrid F1, San Knight hybrid F1, and Jaleo. The second factor was salt concentration, consisting of three levels i.e. 1.0 g/L, 4.0 g/L, and 7.0 g/L. The results showed that there was no interaction between the cultivar and the concentrations of salt solution on all parameter tested. The effects of treatments showed that De Paoli F1 hybrid cultivars produced heavier seedling weight, higher seedling, more stems number, heavier shoot weight and crown weight, greater crown volume, longer roots length and more roots number compared to the other cultivars. San Knight hybrid F1 cultivars produced the inferior seedling from all component tested compared to the other cultivars. Application of 4 and 7 g/L salt concentration produced lower seedlings high, stems number, fresh seedling weight, shoot weight, crown weight and crown volume compared to the concentration of 1 g/L salt. The effect of salt concentrations of 7 g/L significant in reducing roots length and roots number
Pengaruh Arah Pergerakan Nozzle dalam Penyemprotan Pestisida Terhadap Liputan dan Distribusi Butiran Semprot dan Efikasi Pestisida pada Tanaman Kentang
(Effect of Nozzle Movement in Pesticide Spraying on Coverage and Distribution of Droplets and Efficacy of Pesticide on Potato)Petani kentang melakukan penyemprotan pestisida dengan cara yang bervariasi. Setiap cara aplikasi membutuhkan volume semprot yang bervariasi pula, yang akan menghasilkan liputan dan distribusi butiran semprot yang berbeda. Hal itu mempengaruhi kualitas dan keberhasilan penyemprotan. Oleh karena itu cara penyemprotan pestisida perlu dievaluasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli s.d. Oktober 2015 di Kebun Percobaan Margahayu (1.250 m dpl.), Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang. Tujuannya ialah untuk mengetahui pengaruh dua arah nozzle pada saat penyemprotan terhadap liputan dan distribusi butiran semprot serta efikasi pestisida terhadap hama dan penyakit tanaman kentang. Penelitian disusun menggunakan Petak Berpasangan dengan empat ulangan dan perlakuan yang diuji ialah : (A) cara penyemprotan dengan nozzle di atas tajuk menghadap ke bawah dan digerakkan ke depan dengan konstan dan (B) cara penyemprotan dengan nozzle diayunkan dari bawah ke arah tanaman dengan sudut 45o. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan dengan nozzle diayunkan dari bawah ke arah tanaman dengan sudut 45o menghasilkan peliputan atau tingkat penutupan butiran semprot pada daun atas, tengah maupun bawah pada sisi atas maupun bawah yang lebih tinggi. Selain itu persentase daun yang mendapat paparan butiran semprot secara merata juga lebih tinggi. Hal itu mengakibatkan efikasi pestisida terhadap hama dan penyakit tanaman kentang menjadi lebih baik, yang ditunjukkan oleh populasi trips dan kutudaun pada perlakuan tersebut lebih rendah. Cara penyemprotan tersebut juga menguntungkan secara ekonomi dengan tingkat pengembalian sebesar 26,5. Dengan demikian cara penyemprotan tersebut layak untuk direkomendasikan sebagai cara penyemprotan yang tepat pada tanaman kentang.KeywordsKentang (Solanum tuberosum L.); Pestisida; Efikasi; Volume semprot; Kelayakan ekonomiAbstractPotato farmers spray pesticide with various methods. Each application method requires various spray volume, which will produce different coverage and distribution of droplets. It affects the quality and success of the spraying. Therefore the method of spraying need to be evaluated. The research was conducted in July until October 2015 at Margahayu Experimental Garden (1,250 m asl.), Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang. The aim was to determine the effect of two way of nozzle in pesticide spraying on coverage and distribution of droplets and efficacy of pesticide against pests and diseases of potato. The experiment was compiled using the paired plots with four replications and the treatments tested were: (A) method of spraying with the nozzle at above the canopy facing down and moved forward steadily and (B) method of spraying with the nozzle moved from the bottom toward the plant at an angle of 45o. The results showed that compared with the method of spraying with the nozzle at above the canopy facing down and moved forward steadily, the method of spraying with the nozzle moved from the bottom toward the plant at an angle of 45o produced: (1) a better coverage of droplets at upside of the leaves on the upper leaves (47.92–77.08%), middle leaves (34.72–51.39%) and bottom leaves (29.17–51.39%). And also a better coverage of droplets at underside of the leaves on upper leaves (37.50–47.92%), middle leaves (12.50–20.83%), and bottom leaves (9.70–20.83%), (2) a higher uniform distribution of droplets at upside leaves (40.26–51.38%) and underside leaves (4.16–11.11%), (3) a higher efficacy of pesticide against thrips, aphid and alternaria disease i.e. 17.15%, 16.25%, and 16.46–27.96% respectively, (4) a higher yield i.e. 48.69%, and (5) the method of spraying was economically profitable with rate of return of 26.5. Thus the method of spraying was eligible to be recommended as an appropriate way of spraying on potato plants
Efektivitas Pupuk Hayati Unggulan Nasional Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Effectivities Trial of National Biofertilizers on Growth and Yield of Shallot)
Penggunaan pupuk hayati merupakan salah satu cara pengelolaan hara ramah lingkungan untuk mengurangi input pupuk in-organik, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil, serta melestarikan kesuburan tanah. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pupuk hayati unggulan nasional (PHUN) paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah di tanah Alluvial. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan 4 ulangan dan 11 perlakuan pengelolaan hara, yaitu kontrol (tanpa pemupukan), pemupukan rekomendasi (2 ton/ha pupuk organik/kompos, 300 kg/ha Urea + 300 kg/ha ZA, 300 kg/ha SP-36, 200 kg/ha KCl), dan 9 PHUN (Beyonic+, Biotrico, PROBIO-New, Super-BIOST, Bio-SRF, Bion-UP, Bio-Padjar, Agrifit, dan BIOPF) dikombinasikan dengan½ pemupukan rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PHUN + ½ dosis NPK rekomendasi pada bawang merah di lahan Aluvial (ketersediaan P & K tinggi) dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, serapan N&K, serta hasil umbi bawang, tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan pemupukan dosis rekomendasi. Perlakuan PHUN - Biotrico, Beyonic+, PROBIO-New dan BioPF mempunyai efektivitas lebih baik terhadap parameter tanaman tersebut dibandingkan jenis PHUN lainnya. Selanjutnya disarankan uji lanjutan PHUN pada tanah Aluvial yang subur (P & K tinggi) secara parsial tanpa dikombinasikan dengan pupuk NPK dan pemberian pupuk oranik.KeywordsAllium ascalonicum; NPK; PHUN; Serapan hara NPK; Hasil bawang merahAbstractThe use of organic fertilizers and biological fertilizers environmentally friendly management practices to reduce nutrient inputs in the organic fertilizer, increasing the quantity and quality of results, and preserving soil fertility. The purpose of the research to get national biofertilizers (PHUN) are most effective for improving growth and yield of shallot bulbs in the Alluvial soil. The experimental design used was a randomized complete block design with four replications and 11 treatments nutrient management, consisted of control (without fertilizer), fertilizer recommendations (2 tonnes/ha of organic manure/compost, 300 kg/ha of + 300 kg/ha ZA , 300 kg/ha SP 36 , 200 kg/ha KCl), and nine types of biofertilizers (Beyonic + Biotrico, PROBIO - New , Super - BIOST, Bio - SRF , Bion - UP , Bio - Padjar , Agrifit , and BIOPF) combined with ½ dose fertilizers recommendation. The results showed that applied of PHUNs and ½ doses of NPK recommendation on shallot in Alluvial soil (P and K high availability) could improve plant growth, uptake of N and K, as well as the dry shallot yield, but did not significantly different with the recommended fertilization. Treatments of PHUN - Biotrico, Beyonic +, PROBIO-New, and BioPF gave better effectiveness on those parameters observed than other types of PHUN
Karakterisasi Morfologi dan Isoenzim Aksesi Pamelo [Citrus maxima (Burm.) Merr.] Berbiji dan Tidak Berbiji {Morphological and Isoenzyme Characterization of Seeded and Seedless Pummelo [Citrus maxima (Burm.) Merr.] Accessions}
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter morfologi dan biokimia dengan isoenzim aksesi pamelo berbiji dan tidak berbiji asal Sumedang, Kudus, Pati dan Magetan. Karakter morfologi yang berperan dalam pengelompokan aksesi pamelo adalah tebal epikarp, pinggiran helai daun, panjang kantong jus, warna kulit buah masak, lebar sayap daun dan bentuk buah, sedangkan karakter isoenzim adalah MDH (Rf 0.11 dan 0.14) dan ACP (Rf 0.24 dan 0.33). Pita ACP Rf 0.24 dapat dijadikan penanda untuk membedakan aksesi berbiji dan tidak berbiji. Dendrogram berdasarkan karakter morfologi memisahkan kelompok aksesi berbiji dan tidak berbiji pada koefisien kemiripan 0.63, dan berdasarkan isoenzim pada koefisien kemiripan 0.49. Dendrogram berdasarkan karakter morfologi dan isoenzim dapat membedakan antara aksesi berbiji, potensial tidak berbiji dan tidak berbiji. Hasil pemetaan komponen utama kongruen dengan dendrogram, yaitu dapat memisahkan aksesi berbiji maupun tidak berbiji, berdasarkan karakter morfologi, isoenzim maupun kombinasinya.KeywordsCitrus maxima (Burm.) Merr.; Morfologi; Isoenzim; Asam fosfatase; Koefisien kemiripanAbstractIndonesia has many pummelo accessions with various shape, size, color, taste, and seeds number of fruit. Up to now characters that can distinguish seeded and seedless pummelo accessions are not yet known well. The objective of this work was to evaluate morphological and biochemical (isoenzyme) characters of seeded and seedless pummelo accessions originated from Sumedang, Pati, Kudus, and Magetan. Morphological identification used vegetative and reproductive component of pummelo tree, based on IPGRI descriptor list. Isoenzyme analysis was done by using young leaves and esterase (EST), malate dehydrogenase (MDH), peroxidase (PER), acid phosphatase (ACP), as well as glutamate oxaloasetate transaminase (GOT) isoenzymes. Morphological characters that contributed in grouping pummelo accessions were epicarp thickness, leaf lamina margin, vesicle length, epicarp color, petiole wing width and fruit shape, while isoenzyme characters were MDH (Rf 0.11 and 0.14) and ACP (Rf 0.24 and 0.33). Fruit shape (pyriform), fruit axis (hollow), seeds number (<10) per fruit, and ACP band at Rf 0.24 could be used as marker to differentiate seeded and seedless pummelo accessions. Separation between seeded and seedless accessions can be done based on morphological characters occured at similarity coefficient of 0.63 while on isoenzyme characters occured at similarity coefficient of 0.49. Dendrogram based on combined morphological and isoenzyme data was able to differentiate seed bearing and seedless pummelo accessions. Principal component analysis results was congruent with that of morphological, isoenzyme, and combination of them
Evaluasi Daya Saing Komoditas Kentang di Sentra Produksi Pangalengan Kabupaten Bandung
Untuk mengembangkan agribisnis kentang dalam negeri yang mempunyai daya saing tinggi sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor, diperlukan adanya dukungan kebijakan dari pemerintah dengan melakukan promosi dan penyampaian informasi yang relevan kepada para pelaku usaha. Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung merupakan salah satu sentra produksi kentang di Indonesia. Daerah ini mampu memasok kentang hingga ke pasar ekspor sehingga memegang peranan penting bagi daya saing kentang Indonesia di pasar global. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi daya saing kentang di sentra produksi tersebut. Penelitian bersifat eksploratif dengan menggunakan data primer berupa data usahatani serta input dan output produksi kentang sentra produksi Pangalengan, Kabupaten Bandung. Data sekunder dikumpulkan dari BPS, Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan literatur-literatur lain yang menunjang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan policy analysis matrix (PAM). Dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa pada skala usaha rerata per hektar biaya produksi kentang di Pangalengan sebesar Rp50.876.255,00 pada harga privat dan Rp48.270.838,00 pada harga sosial. Keuntungan yang dihasilkan sebesar Rp34.353.294,00 pada harga privat dan Rp18.948.129,00 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan sangat layak untuk diusahakan dengan nilai R/C ratio sebesar 1,68 pada harga privat dan 1,39 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan masih mempunyai keunggulan komparatif dengan nilai DRCR sebesar 0,36 dan kompetitif dengan nilai PCR 0,24. Usahatani kentang tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif apabila harga output turun hingga 41% atau harga input naik 87%
Pengendalian Getah Kuning Pada Buah Manggis Dengan Irigasi Tetes dan Antitranspiran Chitosan
Manggis merupakan buah segar terbanyak yang diekspor Indonesia, namun hanya 12,79% dari total produksi buah manggis Indonesia yang layak ekspor karena kualitasnya rendah. Gangguan getah kuning merupakan penyebab utama rendahnya kualitas buah manggis. Penelitian bertujuan mengendalikan getah kuning pada buah manggis dengan irigasi tetes dan antitranspiran Chitosan. Penelitian dilakukan di kebun manggis petani di Desa Munduk Bestala, Kecamatan Seririt, Buleleng, pada musim panas (April–November 2011). Perlakuan yang dicoba terdiri atas dua faktor, disusun secara petak terpisah dengan rancangan acak kelompok dan sembilan ulangan. Faktor utama adalah perlakuan irigasi tetes terdiri atas dua taraf, yaitu dengan irigasi tetes (I) dan tanpa irigasi tetes/kontrol (I (A1), dan 0,30% (A2k), sedangkan subplot adalah konsentrasi antitranspiran Chitosan, terdiri atas tiga taraf yaitu 0% (A). Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara irigasi tetes dan konsentrasi antitranspiran berpengaruh tidak nyata terhadap getah kuning pada buah manggis. Perlakuan irigasi tetes meningkatkan secara nyata persentase buah yang dagingnya tidak bergetah kuning. Buah yang dagingnya tidak bergetah kuning pada perlakuan irigasi tetes mencapai 83,70%, sedangkan pada kontrol hanya 36,30%. Demikian pula pemberian antitranspiran Chitosan menurunkan secara nyata buah yang dagingnya tidak bergetah kuning. Buah yang dagingnya tidak bergetah kuning pada antitranspiran Chitosan konsentrasi 0,15% dan 0,30% masing masing 60,00% dan 64,44%, sedangkan pada kontrol hanya 55,56%. Disamping itu, antitranspiran Chitosan tidak menurunkan proses fotosintesis yang tercermin dari tidak turunnya kandungan gula pereduksi, gula total, dan sukrosa daun.
Uji Virulensi Isolat Fusarium oxysporum f.sp. cubense Dalam Vegetative Compatibility Group Complex 0124 Pada Tanaman Pisang
Patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) ras 1 dilaporkan tidak patogenik terhadap pisang kelompok Cavendish, namun beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ras 1 pada kondisi tertentu juga dapat menyerang pisang kelompok Cavendish. Sedikit laporan tentang variasi virulensi Foc ras 1 dalam VCG complex 0124 terhadap pisang Ambon Kuning (AAA/Gros Michel) dan Ambon Hijau (AAA/Cav.subgroup). Tujuan penelitian ialah mengetahui variasi virulensi isolat Foc dalam VCG complex 0124 terhadap pisang Ambon Kuning dan Ambon Hijau. Penelitian dilakukan di Laboratorium Proteksi dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, dari Bulan April sampai Oktober 2011. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan setiap perlakuan terdiri atas 10 tanaman. Faktor pertama ialah lima isolat Foc dalam VCG complex 0124: F1=0124/5 (WJP 02), F2=0124/5/8 (WJG 03), F3=0124/5/8 (WJG 09), F4=0124/5 (Indo 119), dan F5=0124/5/20 (02020114B) dan faktor kedua ialah dua varietas pisang yaitu: V1= varietas Ambon Hijau (AAA/Cav.subgroup) dan V2=varietas Ambon Kuning (AAA/Gros Michel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat Foc dalam VCG complex 0124 yang diuji dapat menyerang pisang Ambon Kuning dan Ambon Hijau dengan persentase serangan yang sangat tinggi yaitu 96,67–98,33%. Perlakuan tunggal jenis isolat terhadap peubah masa inkubasi menunjukkan bahwa isolat 0124/5/8 (WJG 03) masa inkubasinya paling panjang yaitu 26,57 hari dan berbeda nyata dengan isolat lainnya. Masa inkubasi penyakit oleh semua isolat yang diuji pada Ambon Kuning lebih panjang (24,27 hari) dan berbeda nyata dengan Ambon Hijau (16,42 hari). Semua isolat Foc yang diuji sangat virulen pada pisang Ambon Kuning (AAA/Gros Michel) dan Ambon Hijau (AAA/Cav.subgroup) dengan indeks keparahan penyakit pada daun dan bonggol berkisar antara 4,72–5,22 dan 5,03–5,14. Hasil penelitian ini mendorong kajian lebih lanjut tentang biologi dan virulensi patogen dalam rangka memperoleh teknik pengendalian yang tepat
Pengaruh Durasi Pemaparan Etilen dan Suhu Degreening untuk Membentuk Warna Jingga Jeruk Siam Banyuwangi
Jeruk siam pada umumnya berwarna hijau. Teknologi degreening yang tepat dapat memperbaiki warna kulit jeruk tropika menjadi jingga secara seragam. Degreening merupakan proses perombakan pigmen hijau (klorofil) pada kulit jeruk secara kimiawi dan membentuk warna kuning atau jingga (karotenoid) tanpa memengaruhi kualitas internal buah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh durasi pemaparan etilen dan suhu degreening untuk memunculkan warna jingga pada jeruk siam Banyuwangi. Etilen 200 ppm diinjeksikan ke dalam box degreening yang berisi jeruk sebanyak 2,8 kg dan dipaparkan pada cooling chamber dengan suhu 15, 20 dan 25oC selama 0, 24, 48, dan 72 jam. Pemaparan etilen dilakukan dengan metode multiple shot. Setelah pemaparan, jeruk kemudian disimpan pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan setiap 2 hari, yaitu (a) pengamatan non-destruktif dilakukan dengan menggunakan color reader dan metode citrus color chart (CCC) untuk mengetahui perubahan warna dan (b) pengamatan destruktif dilakukan dengan mengukur kandungan klorofil dan karotenoid serta mengukur kekerasan, TPT, TAT, dan vitamin C untuk mengetahui perubahan fisikokimia jeruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi terbaik adalah durasi pemaparan etilen selama 48 jam dengan suhu 20oC yang dapat mengubah warna jeruk menjadi jingga cerah dan tidak memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas internal buah