Kesmas: National Public Health Journal
Not a member yet
828 research outputs found
Sort by
Peningkatan Determinan Sosial dalam Menurunkan Kejadian Tuberkulosis Paru
Upaya pengendalian tuberkulosis paru oleh World Health Organization telah meningkatkan angka kesembuhan dan menyelamatkan banyak jiwa, tetapi kurang berhasil dalam menurunkan insiden tuberkulosis. Oleh karena itu, pengendalian tuberkulosis akan lebih menekankan pada kebijakan determinan sosial karena determinan sosial secara langsung maupun melalui faktor risiko tuberkulosis berpengaruh terhadap tuberkulosis. Di Bandar Lampung, angka notifikasi tuberkulosis dari tahun 2009 – 2010 mengalami peningkatan walaupun angka kesembuhan sudah lebih dari 85%. Bandar Lampung juga merupakan bagian dari salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh determinan sosial (yang diukur melalui indikator pendidikan, pendapatan dan kelas sosial) terhadap kejadian tuberkulosis. Penelitian dilakukan pada bulan Juli – Oktober 2012 di seluruh pelayanan kesehatan di Bandar Lampung yang telah melaksanakan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse. Responden penelitian ini adalah 238 penderita tuberkulosis basil tahan asam positif dan 238 suspek yang tidak menderita tuberkulosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan sosial yang rendah akan meningkatkan risiko untuk terkena tuberkulosis. Oleh karena itu, pengendalian tuberkulosis perlu disertai dengan peningkatan determinan sosial untuk menurunkan kejadian tuberkulosis.Tuberculosis control program conducted by World Health Organization, has increased tuberculosis cure rate and saved million people, but has less success in reducing tuberculosis incidence. Therefore, tuberculosis control program needs to put more emphasis on social determinants. It is obvious, since social determinants, directly or through its tuberculosis-risk factors, affect tuberculosis. In Bandar Lampung, notification rate during the period of 2009 - 2010 has increased although the cure rate of the period was more than 85%. Moreover, Bandar Lampung is located in Lampung, one of the poorest provinces in Indonesia. This research aimed to study the influence of social determinants (measured by indicators of education, income and social class) affecting tuberculosis incidence. The study was conducted during July - October 2012 at all health services, which has been implementing Directly Observed Treatment Shortcourse strategy, across the Bandar Lampung City. Respondents of this research consisted of 238 smear-positive tuberculosis patients and 238 suspects without tuberculosis. The result showed that the lower social determinants, the higher risk of suffering from tuberculosis. It can be learned that tuberculosis control should be accompanied by an effort of improving social determinants in order to reduce the incidence of tuberculosis
Asupan Karbohidrat sebagai Faktor Dominan yang Berhubungan dengan Kadar Gula Darah Puasa
Peningkatan kadar gula darah memicu peningkatan produksi hormon insulin yang erat hubungannya dengan diabetes melitus. Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi diabetes melitus di Indonesia meningkat dari 1,1% (2007) menjadi 2,1% (2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kadar gula darah puasa pegawai pemberdayaan masyarakat & keluarga dan pegawai sekretariat daerah Kota Depok. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dan melibatkan 105 sampel. Variabel independen penelitian meliputi karakteristik individu, asupan zat gizi, hipertensi, aktivitas fisik, status gizi dan pengetahuan gizi. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji korelasi dan uji beda dua mean, serta analisis multivariat menggunakan uji regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar gula darah puasa adalah 95,14±10,863 pada keseluruhan responden, sedangkan 94,07±11,55 mg/dl pada perempuan, dan 96,47±9,92 mg/dl pada laki-laki. Diabetes melitus (≥126 mg/dl) ditemukan sebesar 2,9% dan impaired fasting glucose (100-125 mg/dl) sebesar 22,9%. Berdasarkan hasil analisis bivariat, terdapat hubungan antara usia, asupan karbohidrat, dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa (p<0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa asupan karbohidrat merupakan faktor dominan yang berhubungan kadar gula darah puasa.Increased blood glucose levels lead to excess insulin secretion that is closely associated with diabetes mellitus. Based on Riskesdas, prevalence of diabetes mellitus in Indonesia has increased from 1,1% (2007) to 2,1% (2013). This study was aimed to find dominant factor associated with fasting blood glucose level. Cross sectional design were used to conduct this study and involved 105 samples. Independent variables in this study were individual characteristics, nutrients intake, history of hypertention, physical activities, nutritional status and nutritional knowledge. Bivariate analysis was performed by correlation test and two different test mean. Multivariate analysis was performed by multiple linear regression test. Result showed that the average of employees’ fasting blood glucose level is 95.14±10.863, 94.07 ± 11.55 mg/dL for woman and 96.47 ± 9.92 mg/dl for man. This study found 2.9% employees with diabetes mellitus (³126 mg/dl) and 22.9% employees with impaired fasting glucose (100-125 mg/dl). Result of bivariate analysis showed that associated between age, carbohydrate intake, physical activities with fasting blood glucose level. Result of multivariate analysis showed that carbohydrate intake was a dominant factor related to fasting blood glucose level.
Body Image Klien Akibat Pemasangan Fiksasi Eksternal Ekstrimitas Bawah
Fiksasi eksternal adalah metode mengatasi fraktur dengan memasukkan pin ke dalam jaringan kulit, jaringan lunak dan tulang yang dihubungkan dengan rigid external frame. Akibat pemasangan fiksasi eksternal tersebut, klien seperti mendapatkan teror yang sangat menakutkan karena penempatan yang tidak biasa dan bentuk fiksasi eksternal yang besar sehingga memengaruhi body image. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan pengalaman body image klien akibat pemasangan fiksasi eksternal ekstremitas bawah. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif fenomenologi deskriptif ini dilakukan pada tujuh partisipan yang dirawat di RSUP Fatmawati dengan cara purposive sampling pada Oktober – November 2012 dengan menggunakan analisis Colaizzi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klien dapat memiliki body image positif atau negatif yang dipengaruhi oleh diri, keluarga dan lingkungan sehingga menimbulkan dampak yang perlu diadaptasi oleh klien. Hasil penelitian ini menjadi acuan bahwa perawat harus memiliki kemampuan memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, termasuk yang terkait dengan masalah psikologis sehingga pemberian asuhan keperawatan akan lebih optimal dengan outcome yang lebih memuaskan.Fiksasi eksternal is a method to overcome the fracture by inserting the pin into the skin tissue, soft tissue and bone are connected by rigid external frame. As a result of the installation of a fiksasi eksternal, clients such as getting a very scary terror due to the unusual placement and shape of a large fiksasi eksternal that affect body image. The research method is descriptive phenomenological qualitative study was conducted in seven participants who were treated at Fatmawati by purposive sampling in October-November 2012 with using the Colaizzi analysis. The results show that clients can have a positive body image or negative-that is influenced by self, family and environmental impacts that need to be adapted by the client. This research is a reference that the nurses should have the ability to provide comprehensive nursing care, including psychological issues related to the provision of nursing care that will be optimized with a more satisfactory outcome
Pengaruh Rejimen terhadap Ketidakpatuhan Berobat Tuberkulosis
Beban tuberkulosis di Indonesia termasuk lima tertinggi di dunia. Temuan kasus dan pengobatan adalah pilar utama program penanggulangan tuberkulosis. Survei nasional menunjukkan peningkatan penggunaan rejimen tidak standar dari 16,8% (2010) menjadi 55,6% (2013). Peningkatan penggunaan rejimen tidak standar diduga berpengaruh terhadap ketidakpatuhan berobat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari ketidakpatuhan berobat pada orang dengan tuberkulosis yang menerima rejimen tidak standar dan rejimen standar. Penelitian menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar 2010. Analisis logistik multivariabel dilakukan pada sampel 971 orang dengan tuberkulosis yang selesai mendapatkan pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan ada kecenderungan orang dengan tuberkulosis yang menerima rejimen tidak standar memiliki ketidakpatuhan berobat lebih tinggi. Hasil penelitian juga menunjukkan odds untuk tidak menyelesaikan pengobatan lebih tinggi pada orang yang menerima rejimen tidak standar dibandingkan orang yang menerima rejimen standar, yaitu odds ratio terkontrol 2,4 (95% CI odds ratio: 1,7-3,5). Dalam upaya menjamin kepatuhan berobat tuberkulosis, mutu program pengobatan perlu ditingkatkan; di antaranya adalah ketersediaan rejimen standar, penyetaraan standar pengobatan antara fasilitas pelayanan kesehatan swasta dan publik, serta sistem pemantauan minum obat.The influence of Regimen on Poor Adherence of Tuberculosis TreatmentIndonesia is one of five highest tuberculosis burden countries. Case finding and treatment are the main pillars of tuberculosis control program. National survey reported that the usage of nonstandarized regimen is increased from 16,8% (2010) to 55,6% (2013). Increase use of nonstandarized regimen is associated with poor adherence tuberculosis treatment. This study purposed to compare the poor adherence of tuberculosis treatment among people who received standarized regimen and people who received nonstandarized regimen. The study used secondary data of National Health Survey 2010. Analysis used multivariable logistic through 971 people who completed tuberculosis treatment. This study found that people who received nonstandarized regimen had higher poor adherence of tuberculosis treatment than people who received standarized regimen. The result also showed that the odds of not to complete the treatment was higher in people who received nonstandarized regimen than who received standarized regimen, adjusted OR was 2,4 (95% CI OR: 1,7-3,5). To assure the adherence to tuberculosis treatment is to strengthen tuberculosis treatment program; such as the availability of standarized regimen, the equality of standard tuberculosis treatment among public and private health services, and the system of observed treatment.
Perilaku Kader dalam Penemuan Suspek Tuberkulosis
Dukungan berbagai pihak meliputi perubahan perilaku masyarakat dan pemberdayakan masyarakat sangat diharapkan untuk penanggulangan tuberkulosis (TB). Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Provinsi Lampung terpanggil untuk bergerak bersama dalam program penanggulangan penyakit TB agar keberhasilan penanggulangan TB dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan perilaku kader dalam menemuan suspek TB di Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian dengan metode kuantitatif dan kualitatif ini menggunakan desain potong lintang, data primer dikumpulkan dari sampel 72 kader TB ‘Aisyiyah Kabupaten Lampung Tengah. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan menggunakan metode kai kuadrat, dan multivariat dengan regresi logistik. Penelitian ini menemukan lima variabel yang meliputi pengetahuan, sikap, pelatihan, dukungan pemegang program dan motivasi yang mendukung perilaku penemuan suspek. Tiga variabel yang meliputi pendidikan, pendapatan dan pekerjaan tidak mendukung perilaku penemuan suspek. Untuk meningkatkan penemuan suspek TB disarankan untuk lebih meningkat dukungan pengelola program yang berkelanjutan.The support of various parties, peoples behavior and empower communities in the implementation of TB countermeasures highly expected by Muhammadiyah Central Executive and Aisyiyah Lampung Province omit to move together in a tuberculosis prevention program for successful TB control can be achieved. This study aimed to determine the related factors of behavior cadres to detect suspected tuberculosis in Lampung districy middle. The quantitative and qualitative with study design a cross sectional was conducted using primary data on samples 72 Aisyiyah tuberculosis cadres Lampung district middle. The statistical analyses were performed by chisquare and logistic regression. The study results showed a significant five variable (support program managers, knowledge of cadre, motivation of cadre, attitude of cadre, training cadre) with the discovery suspected tuberculosis cases in Lampung Province. Logistic regression analysis found a good support program holders associated with the case of suspected tuberculosis. Program holders support is the most dominant factor of the discovery of suspected tuberculosis cases. Therefore the need for tangible support over again that the findings by the cadre suspected tuberculosis increased
Peranan Ultraviolet B Sinar Matahari terhadap Status Vitamin D dan Tekanan Darah pada Wanita Usia Subur
Sinar ultraviolet B adalah sumber utama vitamin D, tetapi wanita usia subur yang bekerja di dalam ruangan mempunyai vitamin D yang rendah meskipun Indonesia negara tropis. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi peranan paparan sinar matahari pada wanita usia subur terhadap status vitamin D dan tekanan darah. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen tanpa kelompok kontrol pada 21 wanita sehat. Penelitian ini membandingkan status vitamin D dan tekanan darah sebelum dan setelah mendapat paparan sinar matahari pada wajah dan lengan tiga kali seminggu selama 12 minggu. Analisis data menggunakan uji t-berpasangan. Paparan sinar matahari dapat meningkatkan vitamin D. Serum 25(OH)D meningkat 15,9% dari 15.7 ng/dL menjadi 18,2 ng/dL. Paparan sinar matahari menurunkan tekanan darah sistolik (nilai p = 0,004) dan diastolik (nilai p = 0,011). Ultraviolet B dari sinar matahari 30 menit tiga kali seminggu selama 12 minggu dapat memperbaiki status vitamin D dan tekanan darah.Ultraviolet B sunlight exposure is a primary source of vitamin D, but women of childbearing age who worked in room every day had low serum vitamin D despite Indonesia is a tropical country. The objective of this study was to evaluate the role of sun exposure in women of childbearing age on vitamin D status, and blood pressure. An intervention before-after study without group control was conducted on 21 healthy women. This study compared vitamin D status, and blood pressure before and after receiving ultraviolet B (UVB) from sun exposure on the face and both arms three times a week for 12 weeks. Anthropometric parameter and blood pressure were measured, were determined at baseline and after 12 weeks of sun exposure. The effect of sun exposure can improve vitamin D. Serum 25 (OH)D increase 15.9% from 15.7 ng/dL to 18.2 ng/dL. Sun exposure significantly reduced systolic blood pressure (p value = 0.004), and diastolic blood pressure (p value = 0.011). Ultraviolet B from sun exposure for 30 minutes, 3 times a week for 12 weeks improves the vitamin D status, and blood pressure
Pemakaian Kelambu Berinsektisida pada Anak Usia 0-4 Tahun terhadap Kejadian Malaria
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemakaian kelambu berinsektisida dengan kejadian malaria pada anak usia 0-4 tahun di wilayah Puskesmas Galang Kecamatan Galang Kota Batam tahun 2013. Desain penelitian adalah potong lintang pada 132 responden. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada tingkat signifikansi 5% terdapat hubungan bermakna antara jenis kelambu (OR = 4,6), lama pemakaian kelambu (OR = 2,9), cara pencucian kelambu (OR = 3,6), cara menjemur kelambu (OR = 2,8), dan pencelupan ulang kelambu (OR = 3,6) memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian malaria. Pendidikan (OR = 2,9), pekerjaan (OR = 2,8), dan lama bermukim (OR = 3,1) memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian malaria. Analisis regresi logistik menemukan bahwa odds ratio tertinggi dan terendah berturut- turut adalah jenis kelambu yang tidak berinsektisida, lama bermukim ² 2 tahun dan cara mencuci dengan dikucek, disikat dan direndam. The Use of Insecticide Treated Nets in Children Aged 0-4 Years with Incidence of MalariaThis research aimed to know the relation of the use of ITNs (Insecticide Treated Nets) with incidence of malaria in children aged 0-4 years in Primary Heatlh Care Galang Galang Sub District Batam City 2013. Design research was a cross-sectional in 132 respondents. The research has proves that there were meaningful relationship between types of nets (OR = 4.6), while the use of Insecticide Treated Nets (OR = 2.9), the way in washing nets (OR = 3.6), job (OR = 2.8), and retreated insecticide (OR = 3.6) have a meaningful relationship with incidence of malaria. So are education (OR = 2.9), employment (OR = 2.8), and length of stay (OR = 3.1) had a significant association with the incidence of malaria. Logistic regression analysis found that the odds ratio is the highest and the lowest row is not the type of insecticide-treated bed nets, long settled ² 2 years and by washing with rubbed, brushed and soaked
Malnutrisi Akut Berat dan Determinannya pada Balita di Wilayah Rural dan Urban
Malnutrisi akut berat merupakan malnutrisi yang paling serius yang memengaruhi balita dan merupakan masalah kesehatan utama di negara-negara berkembang. Malnutrisi telah meluas baik di perkotaan maupun perdesaan. Akar permasalahan malnutrisi di negara berkembang salah satunya adalah faktor sosial demografi. Tujuan penelitian untuk melihat perbedaan kejadian malnutrisi dan determinannya di area perkotaan dan pedesaan di Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan responden adalah semua balita malnutrisi akut berat di Kabupaten Sleman (23 balita) dan Kota Yogyakarta (33 balita). Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Desember 2012 - Februari 2013. Prevalensi balita malnutrisi akut lebih banyak di perkotaan daripada di pedesaan (59% vs. 41%). Persentase faktor risiko kejadian malnutrisi pada kelompok urban dan rural adalah jumlah balita dalam keluarga satu orang (60,7%), jenis kelamin laki-laki (58,9%), riwayat pemberian ASI tidak eksklusif (60,7%), usia ibu kurang dari 35 tahun (62,5%), pekerjaan non-PNS (98,2%), penghasilan orang tua lebih dari UMR (58,9%), tingkat pendidikan ayah dan ibu tinggi (71,4% dan 64,3% ) dan pengasuh balita di rumah adalah ibu (82,1%). Perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada variabel pekerjaan dan penghasilan orang tua, tingkat pendidikan orang tua dan pengasuh balita, sedangkan hasil pengukuran antropometri tidak menunjukkan adanya perbedaan. Determinan kejadian malnutrisi pada kelompok urban dan rural adalah jumlah balita dalam keluarga.Severe acute malnutrition is the most serious form of malnutrition affecting children under-five and widely recognized as a major health problem in developing countries. It is wide spread in rural and urban areas. Social demographic factor is one of the main causes of severe acute malnutrition. This study was conducted to determine the prevalence of severe acute malnutrition and determinants of children in urban and rural area in Yogyakarta. A cross-sectional study was used in this study, where the respondents were all children with severe acute malnutrition in Sleman and Yogyakarta (23 and 33 children respectively). Descriptive and inferencial statistic were used to analyze the data. The study was carried out in December 2012-February 2013. The prevalence of severe acute malnutrition children was higher in urban than rural communities (59% vs. 41%). Risk factors percentage of malnourished were number of children in family was one person (60.7%), male gender (58.9%), the history of not exclusive breastfeeding (60.7%), mother age less than 35 years old (62.5%), lower class job (98.2%), monthly income was high (58.9%), higher education of father and mother (71.4% and 64.3% respectively), and children caregiver was mother (82.1%). There were a significant diference (p<0.05) in father profession, parents’ education, household economic status, and caregiver of children, whereas anthropometric measurement did not show any difference between two groups. Determinants of malnutrition in urban and rural groups is the number of children in the family
Gangguan Pendengaran dan Keseimbangan pada Penderita Tuberkulosis yang Mendapat Pengobatan Antituberkulosis Kategori 1 dan 2
Tuberkulosis merupakan masalah yang serius di masyarakat. Pada tahun 2010, World Health Organization mencatat jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia menurun ke posisi empat dengan meningkatnya keberhasilan pengobatan obat antituberkulosis (OAT). Namun, pemberian OAT jangka panjang dapat menyebabkan efek samping ototoksik berupa gangguan pendengaran dan keseimbangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek ototoksik pada penderita tuberkulosis paru dengan pemberian OAT di RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Analisis univariat dilakukan dengan tabel frekuensi distribusi sedangkan analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji t dan Fisher’s exact test. Didapatkan 35 penderita tuberkulosis yang memenuhi kriteria inklusi, 22 orang dengan pengobatan tuberkulosis kategori 1 dan 13 orang tuberkulosis kategori 2. Dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan tes keseimbangan. Tiga orang (33,3%) penderita tuberkulosis kategori 1 dan 6 orang (66,7%) penderita tuberkulosis kategori 2 mengalami gangguan pendengaran (p < 0,05). Hasil tes keseimbangan menunjukkan perbedaan yang signifikan yaitu 7 orang (100%) tuberkulosis kategori 2 dengan positif tes Romberg dan 11 orang (100%) tuberkulosis kategori 2 positif tes tandem Romberg. Gangguan pendengaran dan keseimbangan pada penderita tuberkulosis paru dengan OAT ditemukan lebih tinggi pada kategori 2 dibandingkan dengan kategori 1 dengan perbedaan yang signifikan.Tuberculosis remains a serious problem in the community. In 2010, World Health Organization report that Indonesia’s ranking decrease to fourth position due to success of antituberculosis treatment. But the long term administration of antituberculosis treatment may cause ototoxic effect like hearing and balance impairment. The aim of this study was to describe ototoxic effect of subjects who were given tuberculosis treatment in H. Adam Malik General Hospital. This is a descriptive study with cross sectional approach. Univariat analysis was done by frequency distribution table, meanwhile bivariat analysis was done by t-test and Fisher’s exact test. Thirty five pulmonary tuberculosis patients met the inclusion criteria. Twenty two patients with 1st category, and 13 patients with 2nd category tuberculosis treatment. Pure tone audiometric and balance examination was evaluated. Three patients (33.3%) of 1st category tuberculosis and 6 (66.7%) patients of 2nd category tuberculosis have hearing loss with significant difference (p<0.05). Balance test showed 7 people (100%) of 2nd category tuberculosis having positive Romberg test and 11 people (100%) of 2nd category tuberculosis having positive tandem Romberg test. Hearing and balance impairment found higher in patients with 2nd category antituberculosis treatment with significantly different.
Penggunaan VCD dan Leaflet untuk Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa dalam Pencegahan Kecelakaan Sepeda Motor
Indonesia belum mempunyai kebijakan penyuluhan pencegahan kecelakaan sepeda motor yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah menilai efektivitas penggunaan visual compact disk (VCD) dan leaflet terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa SLTA dalam pencegahan kecelakaan sepeda motor di Kota Bekasi pada tahun 2010. Desain penelitian yang digunakan quasi experiment dengan rancangan equivalent pretest and post-test with control group, dengan intervensi pemutaran VCD dan pemberian leaflet. Sampel dihitung berdasarkan uji 2 proporsi, diperoleh sampel minimal 211 untuk yang di intervensi dan 211 untuk kontrol. Mereka diambil dari siswa SLTA kelas I dan kelas II yang sering mengendarai sepeda motor. Evaluasi hasil intervensi dilakukan setelah tiga bulan. Alat pengumpul data adalah kuesioner yang telah diuji coba. Analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, uji-t berpasangan dan uji-t independen. Hasil penelitian menunjukan uji-t berpasangan pada kelompok yang di intervensi meningkatkan rerata skor pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa SLTA sebelum dibandingkan sesudah pemutaran VCD dan pemberian leaflet bermakna (nilai p < 0,05), tetapi pada kelompok kontrol hanya terjadi peningkatan rerata skor perilaku sebelum dibandingkan sesudah adanya perlakukan. Sedangkan, hasil uji-t independen menunjukan hanya pada rerata skor variabel pengetahuan terdapat perbedaan peningkatan skor antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol yang bermakna (nilai p < 0,05). Kesimpulannya, penyuluhan menggunakan VCD dan leaflet dapat meningkatkan pengetahuan siswa SLTA dalam pencegahan kecelakaan sepeda motor.Indonesia does not have a policy of promotion motorcycle accident prevention. The purpose of this study was to assess the effectiveness of the Visual Compact Disks and leaflets to increase in knowledge, attitudes and behavior of the motorcycle accident prevention on high school students in Bekasi City. The method used a non-randomized quasi experimental pretest and post-test control group design. Samples are high school students as a intervention group and vocational high school students as a control group in Bekasi in 2010. Three months after the intervention, conducted an evaluation to assess the increasing of knowledge, attitudes and behavior of a motorcycle accident prevention. Data collection was a questionnaire that was tested. Analysis of the data using the Kolmogorov-Smirnov test, paired t-test and independent t-test. The result of the study shows that the paired t-test in the intervention group mean scores improve knowledge, attitudes and behavior of high school students before than after playback of VCDs and leaflets giving significant (p value < 0.05), but in the control group only increased the mean behavior scores before than after the introduction of treatment. While the results of the independent t-test showed only the mean score difference variable increase in knowledge scores between the groups in the intervention and control groups were significant (p value < 0.05). To conclude, extension using VCD and leaflets can improve high school students’ knowledge in the prevention of a motorbike accident