JURNAL AGRICA
Not a member yet
    256 research outputs found

    Strategi Pengembangan Produk Pangan Lokal Tiwul Instan Berbasis Kewirausahaan Sosial KWT di Kabupaten Banjarnegara

    No full text
    Banjarnegara district has great potential in social entrepreneurship for economic empowerment through farm women's groups that produce and market instant tiwul from cassava. The development of instant tiwul products is not only being maintained as local wisdom but also being improved for regional food security. Therefore, the potential of instant tiwul needs to be studied further through the right business model for sustainability and increased business income. This study aims to analyze the development strategy of instant tiwul local food products based on social entrepreneurship by the Women Farmers Group (KWT) in Purwanegara District, Banjarnegara Regency. The sampling method used is Purposive Sampling. The sample of this study was 100 people, using the SWOT analysis method to evaluate internal and external factors that affect the performance of instant tiwul products. The results showed that the main strengths of this product lie in high quality, abundant access to raw materials, distinctive taste, and integration of technology in production. However, weaknesses include a relatively expensive selling price, limited product accessibility, and low consumer awareness. Opportunities include wide market potential, government support, and the increasing trend of healthy food consumption. The main threats are competition with modern food products and changes in people's consumption patterns. An effective enhancement strategy, based on quadrant analysis, should focus on strengthening advantages, leveraging market opportunities, and addressing challenges with a comprehensive and adaptive approach, such as market expansion and production capacity enhancement to reach more consumers. Thus, instant tiwul products can achieve sustainable growth and provide significant economic benefits to local communities and improve the welfare of the farm women involved.Kabupaten Banjarnegara memiliki potensi besar dalam kewirausahaan sosial untuk pemberdayaan ekonomi melalui kelompok wanita tani yang memproduksi dan memasarkan tiwul instan dari ubi kayu. Pengembangan produk tiwul instan tidak hanya menjaga kearifan lokal tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan daerah. Oleh karena itu, potensi tiwul instan perlu dikaji lebih lanjut melalui model bisnis yang tepat untuk keberlanjutan dan peningkatan pendapatan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan produk pangan lokal tiwul instan berbasis kewirausahaan sosial oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara. Sampel penelitian ini sebanyak 100 orang, dengan menggunakan metode analisis SWOT untuk mengevaluasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kinerja produk tiwul instan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama produk ini terletak pada kualitas tinggi, akses melimpah terhadap bahan baku, cita rasa khas, dan integrasi teknologi dalam produksi. Namun, kelemahan yang dihadapi meliputi harga jual yang relatif mahal, aksesibilitas produk yang terbatas, dan rendahnya kesadaran konsumen. Peluang yang ada mencakup potensi pasar yang luas, dukungan pemerintah, serta tren konsumsi pangan sehat yang meningkat. Ancaman utama adalah persaingan dengan produk pangan modern dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Strategi pengembangan yang efektif perlu fokus pada penguatan keunggulan, pemanfaatan peluang pasar, serta penanganan tantangan dengan pendekatan yang komprehensif dan adaptif. Dengan demikian, produk tiwul instan dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi komunitas lokal serta meningkatkan kesejahteraan para wanita tani yang terlibat

    Kinerja HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air) Di Desa Karangtinoro Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban

    No full text
    Keberhasilan HIPPA dalam mengelola irigasi pertanian bisa berdampak pada keberhasilan usahatani dengan produktivitas tanaman yang tinggi dan dapat membuka peluang kerja baik pada industri pertanian maupun non pertanian di wilayah pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil HIPPA, manfaat HIPPA untuk para anggota berdasarkan 3 indikator yakni sosial, ekonomi, dan usaha tani, dan menganalisis kinerja HIPPA serta upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan HIPPA untuk mendukung kegiatan agribisnis. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Jumlah responden yang diambil sebanyak 93 anggota dan 26 pengurus dengan menggunakan metode Slovin. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Profil dari HIPPA Tirtotinoto, Manfaat HIPPA bagi para anggota dan pengurus, Relasi yang terbentuk di dalam HIPPA, dan Harapan para anggota dan pengurus. Kinerja dari HIPPA Tirtotinoto. Upaya meningkatkan HIPPA untuk mendukung kegiatan agribisnis.Keberhasilan HIPPA dalam mengelola irigasi pertanian bisa berdampak pada keberhasilan usahatani dengan produktivitas tanaman yang tinggi dan dapat membuka peluang kerja baik pada industri pertanian maupun non pertanian di wilayah pedesaan bagi keluarga pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana profil HIPPA, manfaat HIPPA untuk para anggota berdasarkan 3 indikator yakni sosial, ekonomi, dan usaha tani, dan menganalisis kinerja HIPPA serta bagaimana upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan HIPPA untuk mendukung kegiatan agribisnis. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Jumlah responden yang diambil sebanyak 93 anggota dan 26 pengurus dengan menggunakan metode Slovin . Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Profil dari HIPPA Tirtotinoto, Manfaat HIPPA bagi para anggota dan pengurus, Relasi yang terbentuk di dalam HIPPA, dan Harapan para anggota dan pengurus 2) Kinerja dari HIPPA Tirtotinoto 3) Upaya meningkatkan HIPPA untuk mendukung kegiatan agribisnis

    Analisis Produktivitas dan Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati

    No full text
    Shallots are a horticultural crop of high economic value and worth developing. High demand from domestic consumers provides a stable and sustainable market opportunity for shallot farmers. The problem is that shallot production in Wedarijaksa District has decreased, resulting in decreased productivity. This research aims to analyze the value of productivity, analyze the amount of income and the factors that influence the productivity and income of shallot farming in Wedarijaksa District, Pati Regency. The research method used was a survey method with sample determination using proportionate stratified random sampling and the number of samples used was 120 shallot farmers. The data analysis method uses analysis of farming productivity levels, income analysis, and statistical analysis, namely path analysis. The research results show that the average productivity of shallot farming in Wedarijaksa District is 8.35 tons/ha and the average income of shallot farming in Wedarijaksa District is IDR 40,703,163. Based on path analysis, the results showed that the factors that influence shallot productivity include the amount of production, seeds, fertilizer, pesticides and factors that influence shallot farming income include seeds, fertilizer and selling price.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai produktivitas, menganalisis besarnya pendapatan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dan pendapatan usahatani bawang merah di Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2024 – Maret 2024. Penelitian ini berlokasi di Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Metode penentuan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 120 petani bawang merah. Metode analisis data menggunakan analisis tingkat produktivitas usahatani, analisis pendapatan, dan analisis statistik yaitu analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas usahatani bawang merah di Kecamatan Wedarijaksa sebesar 8,35 ton/ha dan rata-rata pendapatan usahatani bawang merah di Kecamatan Wedarijaksa sebesar Rp40.703.758. Berdasarkan analisis jalur diperoleh hasil bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas bawang merah meliputi jumlah produksi, bibit, pupuk, pestisida dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani bawang merah meliputi bibit, pupuk, dan harga jual

    The Influence of Internal Environmental Factors in Coffee Farming on Farmer Participation in Farming Groups in Sub-district of Ronggur Nihuta, Samosir District

    No full text
    This research will focus on PTPN IV Regional II with the aim of exploring priority strategies that can be applied to obtain RSPO certification. With a systematic approach, this study is expected to provide practical benefits for the company and contribute to the literature in the field of agribusiness sustainability strategy. Data collection uses primary data and secondary data with a SWOT analysis approach and QSPM analysis. Increasing the number of RSPO-certified units in 1-2 years. Reducing certification costs by 15% through collaboration or clustering. Increase in demand for certified products in the global market by at least 10% per year. SWOT analysis to make a plan must evaluate external and internal factors. The QSPM analysis stage is Determining EFEM, at this stage external factors are determined and evaluated. Determining IFEM, at this stage internal factors are determined and evaluated. The results of the study indicate that the partnership strategy with certification bodies and the utilization of technological advances are the main priorities to support the success of PTPN IV in obtaining RSPO certification. This strategy plays an important role in strengthening the company's position in the global market while achieving sustainability goals. With a structured and measurable approach, PTPN IV can not only obtain RSPO certification, but also improve its reputation as a leader in the sustainable palm oil industry. Strengthening internal capacity through HR training and cost efficiency are key factors in facing the challenges of certification costs and regulatory pressures. In addition, market diversification helps companies mitigate the risk of dependence on certain markets, such as Europe.This research aims to determine the influence of internal environmental factors in coffee farming on farmer participation in farmer groups. The research was conducted in Sub-district of Ronggur Nihuta, which was determined purposively. The population of this research is people who are developing coffee farming and are members of farmer groups in 2 villages in Sub-district of Ronggur Nihuta with a total of 88 heads of families and a sample determined of 30 respondents. The data used in the research are primary and secondary data which were analyzed quantitatively using multiple linear regression analysis. Based on the research results, it was concluded that internal environmental factors; interest, creativity, potential natural resources/land, availability of infrastructure have a positive and significant effect on farmer participation in farmer groups in Sub-district of Ronggur Nihuta. Based on the suggested conclusion; a) for the government through related agencies to provide education to farmers in developing good and environmentally friendly coffee farming in a programmed and sustainable manner; b) for coffee farmers to join and be active in farmer groups to increase farmers' understanding regarding the development of intensive and environmentally friendly coffee farming

    Pemetaan Komoditas Hortikultura Sebsektor Sayur-sayuran di Provinsi Sumatra Barat

    No full text
    This study aims to map the most potential vegetables to be developed in West Sumatra Province.The Location Quotient (LQ) method is employed to identify leading and non-leading commodities,while the Shift Share Analysis (SSA) is used to analyze structural changes and the competitivenessof the commodities. The study utilizes secondary data in the form of vegetable sub-sectorhorticultural production data by regency/city over a six-year period (2017–2022). The results showthat large chili is the leading vegetable commodity in West Sumatra, with an LQ value greater than1 across 17 regencies/cities. Conversely, garlic is categorized as a non-leading commodity, with anLQ > 1 found in only one regency. Nevertheless, garlic is identified as the most progressivecommodity based on the highest net shift value. Net growth of vegetable sub-sector commoditieswas identified in 10 out of 18 regencies/cities, with Solok Regency contributing the most. In termsof individual commodities, cabbage recorded the highest net growth, while chayote experienced thelowest. The resulting commodity mapping can serve as a basis for local government in formulatingspatial and sustainable development policies, as well as a strategic reference for businesses andinvestors in directing horticultural investments in West Sumatra.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan jenis sayur-sayuran yang paling potensial untuk dikembangkan di Provinsi Sumatra Barat. Metode Location Quotient (LQ) digunakan untuk menentukan komoditas unggulan dan non-unggulan, sedangkan Shift share analysis (SSA) untuk melihat perubahan struktur dan daya saing komoditas. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data produksi komoditas hortikultura subsektor sayur-sayuran menurut kabupaten/kota  selama enam tahun (2017-2022) yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis sayuran yang menjadi komoditas unggulan adalah Cabe besar dengan nilai LQ>1 tersebar di 17 Kabupaten/Kota, sedangkan Bawang putih termasuk dalam komoditas non-unggulan dengan nilai LQ>1 hanya terdapat pada 1 Kabupaten/Kota, akan tetapi bawang putih menjadi komoditas paling progresif dengan nilai Pbij terbesar. Selain itu, Pertumbuhan bersih komoditas (Pbij) di Sumatra Barat terjadi pada 10 dari 18 kabupaten Kota, dengan kontribusi terbesar diberikan oleh Kabupaten Solok. Sedangkan pertumbuhan bersih komoditas paling besar dari jenis sayuran adalah kubis dan yang paling kecil adalah labu siam. Kata Kunci: Location Quotient; Pemetaan; Sayur-sayuran; Shift Share analisi

    PREFERENSI KONSUMEN ATAS PEMBARUAN KEMASAN PRODUK KERUPUK LAMUK (STUDI KASUS JAJANAN TRADISIONAL KHAS DESA KALIRONG, KEDIRI): (Studi Kasus Jajanan Tradisional Khas Desa Kalirong, Kediri)

    No full text
    Lamuk Crackers, a beloved traditional snack from Kalirong Village in Kediri, exemplifies an innovative way to repurpose cassava starch waste. Known for their distinctive flavour and cost-effective production, these crackers offer several advantages. However, they also face obstacles in today's competitive snack market, particularly in terms of packaging innovation. This study aims to understand consumer preferences for Lamuk Crackers better, emphasising the significance of packaging development and proposing strategies to improve packaging that can boost the product’s market position. We adopted a quantitative research approach, using a structured questionnaire as our primary data collection tool for surveys. Using simple random sampling, we gathered responses from 185 consumers who had previously tried Lamuk Crackers. Data analysis was performed using logistic regression to identify key factors that influence purchasing decisions. The findings reveal that innovative packaging, such as aluminium foil in a standing pouch design, considerably enhances consumer appeal and preference. Important factors influencing buying choices include product quality, materials, shelf life, brand loyalty, and price. There is a clear link between innovative packaging and the product’s visual appeal, which helps communicate its premium quality, improves protection, and prolongs shelf lifeβ€”all of which affect consumer decisions. To grow the market share, implementing a comprehensive marketing strategy is essential, using social media, e-commerce platforms, and collaborations with retail partners. This approach aims to preserve the authentic identity of Lamuk Crackers while boosting its competitiveness amid a rapidly changing marketplace.Kerupuk Lamuk, jajanan khas dari Desa Kalirong, Kediri, merupakan hasil inovasi dalam pemanfaatan limbah sari pati ketela. Produk ini menawarkan cita rasa yang unik, biaya produksi yang efisien, serta memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian lokal. Namun tantangan yang dihadapi adalah persaingan dalam industri makanan ringan modern dan kurangnya inovasi dalam aspek kemasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap Kerupuk Lamuk, dengan fokus khusus pada inovasi kemasan, serta merumuskan strategi pengembangan kemasan yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan kuantitatif diterapkan melalui survei menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis dengan regresi logistik untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesegaran kemasan menggunakan bahan aluminium foil dalam konsep standing pouch memberikan dampak positif yang signifikan terhadap preferensi konsumen. Variabel utama yang mempengaruhi keputusan pembelian meliputi kualitas bahan, daya simpan, loyalitas terhadap produk, serta kesesuaian harga. Kemasan baru tidak hanya meningkatkan daya tarik visual, tetapi juga memberikan perlindungan yang lebih baik, memperpanjang umur simpan, serta mencerminkan identitas produk premium. Untuk memperluas pangsa pasar, diperlukan optimalisasi strategi pemasaran melalui media sosial, e-commerce, dan kolaborasi dengan ritel modern. Melalui inovasi ini, Kerupuk Lamuk diharapkan dapat mempertahankan identitas lokalnya sambil meningkatkan daya saing di pasar yang dinamis

    Rantai Nilai Agribisnis Lada Putih di Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan

    No full text
    White pepper is seen as an economic pillar by the people of Bangka Belitung Islands Province. Its untapped potential requires attention from stakeholders, therefore, a study of the white pepper agribusiness value chain is needed as a basis for policy making. The purpose of this study is to describe the white pepper agribusiness value chain in South Bangka Regency. This research was conducted in Air Gegas Village, Nyelanding Village, Delas Village, and Air Bara Village from January to August 2025 through a survey. The data used in this study include primary and secondary data collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation studies. These data were analyzed using qualitative analysis. The results of this study indicate that the white pepper agribusiness value chain in South Bangka Regency is dominated by the sale of white pepper in the form of grains rather than white pepper in the form of flakes. The parties involved include Agricultural Stores, Farmers, Middlemen, BUMDesMA Mitra Lada Bersatu, Retailers, and Exporters, as well as Consumers, specifically Local Consumers and Global Consumers. The involvement of BUMDesMA Mitra Lada Bersatu provides added value to white pepper despite its limited supply.Lada putih dipandang sebagai penopang perekonomian oleh masyakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Potensinya yang belum dimanfaatkan secara optimal memerlukan perhatian dari pemangku kepentingan, sehingga kajian terkait rantai nilai agribisnis lada putih diperlukan sebagai dasar pengambilan kebijakan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan rantai nilai agribisnis lada putih di Kabupaten Bangka Selatan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Air Gegas, Desa Nyelanding, Desa Delas, dan Desa Air Bara pada Januari sampai Agustus 2025 secara survei. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan studi dokumentasi. Data-data tersebut dianalisis menggunakan analisis kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rantai nilai agribisnis lada putih di Kabupaten Bangka Selatan didominasi oleh penjualan lada putih dalam bentuk butir dibandingkan lada putih dalam bentuk butir. Pihak-pihak yang terlibat meliputi Toko Pertanian, Petani, Tengkulak, BUMDesMA Mitra Lada Bersatu, Peretail, dan Eksportir, serta Konsumen, Tepatnya Konsumen Lokal dan Konsumen Global. Keterlibatan BUMDesMa Mitra Lada Bersatu memberikan penambahan nilai terhadap lada putih meski penawarannya terbatas

    Analysis of Access to Formal Credit Financial Technology for Chili Farmers in Sukabumi District

    No full text
    Banking is a financial institution that drives the economy of society, including agricultural producers. The financial literacy index in 2014 showed a very low value of 65.43%. Limited financial literacy hinders farmers' ability to access formal credit institutions such as banks. Financial technology has emerged as an alternative to make it easier for farmers to access sources of financial financing. This study aims to examine the impact of farmer characteristics, financial literacy, and financing service quality on access to formal credit, along with the determinants that influence access to formal credit in financial technology. This study was conducted in Kabandungan District, Sukabumi Regency. The research methodology used was a mixed method, with a total of 100 farmer participants from Kabandungan District. The analysis methods used are descriptive and qualitative analysis, utilizing Microsoft Excel, SPSS, and Smart PLS software. The t-statistic value shows that farmer characteristics with a t-statistic value of 4.48 and financial literacy with a t-statistic value of 11.25 have a significant effect on access to formal credit and financing quality in Financial Technology financing

    Analisis Partisipasi Masyarakat Pada Kawasan Ekowisata Mangrove Di Kelurahan Lubuk Kertang Kabupaten Langkat

    Full text link
    The condition of Lubuk Kertang's mangrove forests and ecotourism has decreased. This is based on the lack of community role and the lack of government role in preserving Lubuk Kertang mangrove ecotourism. The aim of this research is to analyze community participation in the mangrove ecotourism area in Lubuk Kertang sub-district, Langkat district. This research took place at Mangrove Ecotourism located in Lubuk Kertang Village, Pangakalan Susu District, Langkat Regency. The population in this research is the entire surrounding community, totaling 1124 heads of families and the samples in this research are 32 people from the sustainable mangrove group which specializes in the Lubuk Kertang Ecotourism sector and 122 people from the blooming mangrove group which specializes in preserving the Lubuk Kertang Mangrove forest. The data analysis used in this research is multiple linear regression analysis. The results of the research partially show that community needs, community requests, community customs and regulations have an influence on community participation in Lubuk Kertang Village. In this way, people who depend on ecotourism will increase their level of participation in managing and caring for Lubuk Kertang mangrove ecotourism.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis partisipasi masyarakat pada kawasan ekowisata mangrove di kelurahanlubuk kertang kabupaten langkat, Penelitian ini berlangsung di Ekowisata Mangrove yang berlokasi di Kelurahan Lubuk kertang, Kecamatan Pangakalan Susu, Kabupaten Langkat populasi dalam penelitan ini adalah seluruh masyarakat sekitar yang berjumlah 1124 KK (Kepala Keluarga), dan sampel dalam penelitian ini adalah 32 orang kelompok mangrove lestari yang terkhusus dibidang ekowisata lubuk kertang dan 122 orang dari kelompok mangrove mekar yang terkhusus untuk menjaga kelestarian hutan mangorve lubuk kertang, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regressi linier berganda, adapun yang menjadi hasil penelitian ini adalah. dalam penelitian ini secara parsial kebutuhan masyarakat berpengaruh terhadap partisipasi  masyarakat Desa Lubuk Kertang. minat  masyarakat berpengaruh terhadap partisipasi  masyarakat Desa Lubuk Kertang. adat istiadat  masyarakat berpengaruh terhadap partisipasi  masyarakat Desa Lubuk Kertang variabel mengikat  masyarakat berpengaruh terhadap partisipasi  masyarakat dan variabel bebas yang terdiri dari kebutuhan masyarakat, minat  masyarakat, adat istiadat  masyarakat dan mengikat  masyarakat secara bersama sama mempengaruhi partisipasi  masyarakat Desa Lubuk Kertan

    Analisis Volatilitas Harga Komoditas Telur Ayam Ras di Provinsi Jawa Timur

    Full text link
    Provinsi Jawa Timur menjadi provinsi yang penting dalam mensuplai kebutuhan telur dalam negeri. Namun, pergerakan harga yang tidak stabil dan tidak dapat diperkirakan pada komoditas telur ayam ras akan menimbulkan resiko pada produsen, konsumen hingga keseimbangan ekonomi daerah lain.Β  Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi tingkat volatilitas harga dan melakukan proyeksi harga telur ayam ras di Jawa Timur pada tingkat produsen maupun konsumen. Analisis model ARCH GARCH digunakan dalam penelitian ini untuk mengevaluasi volatilitas serta meramalkan pergerakan harga telur ayam ras dari tingkat konsumen hingga produsen dengan menggunakan data harga telur ayam ras di tingkat konsumen dan produsen pada rentang tanggal 26 Maret 2019 – 1 Maret 2024 . Hasil penelitian menunjukan bahwasanya volatilitas harga yang terjadi pada tingkat produsen menunjukan nilai yang tinggi sebesar 1,27092, sedangkan pada tingkat konsumen memiliki tingkat volatilitas yang rendah sebesar 0,5154, prediksi pergerakan harga telur ayam ras di tingkat konsumen bahwa harga telur ayam ras cenderung stabil di tingkat konsumen, tetapi pada produsen menunjukan nilai kenaikan rata – rata harga Rp52 hingga diprediksi menyentuh harga tertinggi Rp37.481, sedangkan pada tingkat konsumen menujukan kenaikan rata – rata harga Rp2 hingga diprediksi menyentuh harga terendah Rp26.461. Hasil ini menunjukengalami fluktuasi signifikan di tingkat produsen. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah daerah dapat merespons dengan cepat fluktuasi harga di tingkat produsen melalui kebijakan pengendalian hargaProvinsi Jawa Timur menjadi provinsi yang penting dalam mensuplai kebutuhan telur dalam negeri. Namun, pergerakan harga yang tidak stabil dan tidak dapat diperkirakan pada komoditas telur ayam ras akan menimbulkan resiko pada produsen, konsumen hingga keseimbangan ekonomi daerah lain.  Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi tingkat volatilitas harga dan melakukan proyeksi harga telur ayam ras di Jawa Timur pada tingkat produsen maupun konsumen. Untuk menjawab tujuan penelitian tersebut, Analisis model ARCH GARCH digunakan dalam penelitian ini untuk mengevaluasi volatilitas serta meramalkan pergerakan harga telur ayam ras dari tingkat konsumen hingga produsen. Hasil penelitian menunjukan bahwasanya 1) Volatilitas harga yang terjadi pada tingkat produsen menunjukan nilai yang tinggi sebesar 1,27092, sedangkan pada tingkat konsumen memiliki tingkat volatilitas yang rendah sebesar 0,5154. 2) Prediksi pergerekan harga telur ayam ras di tingkat produsen menunjukan nilai kenaikan rata – rata harga Rp52 hingga diprediksi menyentuh harga tertinggi Rp37.481, sedangkan pada tingkat produsen menujukan kenaikan rata – rata harga Rp2 hingga diprediksi menyentuh harga terendah Rp26.461. Hasil ini menunjukan bahwa harga telur ayam ras cenderung stabil di tingkat konsumen, tetapi mengalami fluktuasi signifikan di tingkat produsen. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah daerah dapat merespons dengan cepat fluktuasi harga di tingkat produsen melalui kebijakan pengendalian harg

    184

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in lastΒ 30Β days.
    JURNAL AGRICA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! πŸ‘‡