JURNAL KIMIA MULAWARMAN
Not a member yet
    227 research outputs found

    AMPAS TAHU SEBAGAI NUTRISI Saccharomyces cerevisiae DALAM PEMBUATAN BIOETANOL DARI BERAS MERAH (Oryza nivara) DENGAN PROSES FERMENTASI

    Full text link
    Research on the production of bioethanol from red rice flour starch (Oryza nivara) through enzymatic hydrolysis process and fermentation by Saccharomyces cerevisiae with the addition of tofu dregs as a nutrient source of microorganisms has been conducted. The process of bioethanol production consisted of hydrolysis, fermentation, distillation and ethanol content analysis using gas chromatography instrument. This research was conducted to determine the concentration of nutrients and the duration of fermentation to produce optimal ethanol levels. The hydrolysis process is carried out enzymatically through the liquification stage using ?-amylase and gluco-amylase at the saccharification stage. Then the fermentation process continued with a variation of 7, 8 and 9 days using Saccharomyces cerevisiae with the addition of tofu dregs concentration 0.5 %, 1 % and 1.5 % (w/v). The highest ethanol levels obtained from gas chromatography analysis was the addition of tofu dregs 1 % (w/v) and fermentation time for 8 days, with ethanol content obtained at 59.325 %.Penelitian tentang pembuatan bioetanol dari pati tepung beras merah (Oryza nivara) melalui proses hidrolisis enzimatis dan fermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae dengan penambahan ampas tahu sebagai sumber nutrisi mikroorganisme telah dilakukan. Proses pembuatan bioetanol terdiri dari hidrolisis, fermentasi, destilasi dan analisa kadar etanol menggunakan instrumen kromatografi gas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi nutrisi dan lama waktu fermentasi untuk dapat menghasilkan kadar etanol optimal. Proses hidrolisis dilakukan secara enzimatis melalui tahap liquifikasi menggunakan ?-amilase dan gluko-amilase pada tahap sakarifikasi. Kemudian dilanjutkan proses fermentasi dengan variasi waktu 7, 8 dan 9 hari menggunakan Saccharomyces cerevisiae dengan penambahan konsentrasi nutrisi ampas tahu 0,5 %, 1 % dan 1,5 % (b/v). Kadar etanol tertinggi yang diperoleh dari analisa kromatografi gas yaitu pada penambahan nutrisi ampas tahu 1 % (b/v) dan waktu fermentasi selama 8 hari, dengan kadar etanol yang diperoleh sebesar 59,325 %

    PENGARUH KANDUNGAN ASAM LEMAK BEBAS (ALB) TERHADAP PERUBAHAN DENSITAS CRUDE PALM OIL (CPO): PENGARUH KANDUNGAN ASAM LEMAK BEBAS (ALB) TERHADAP PERUBAHAN DENSITAS CRUDE PALM OIL (CPO)

    Full text link
    Density are a physical parameter of Crude Palm Oil (CPO) quality determination which done by gravimetric method (weighing sample in a picnometer 50 mL, g/mL). Density is affected by the temperature. High temperature in CPO may cause the density become less by a little. But if we get them in lower temperature will make them in solid form and this situation is undesirable in trade industry. High temperature may cause hydrolysis reaction that add free fatty acid  (FFA) content. The density changing was made with variation temperature (450C, 500C, 550C, 600C dan 650C) and FFA concentration (2%,3%,4%,5% and 6%). The result in this research was high concentration of FFA will make CPO density decreased with inreasing temperature. The linier relationship happened in same temperature (450C), the CPO density with free fatty acid content were 2%, 3%, 4%, 5% and 6% were ?= 0,8934; 0,8391; 0,8926; 0,8921 and 0,8920), so did the temperature at 500C, 550C, 600C dan 650C   Keywords: Density, CPO, FFA, TemperatureDensitas merupakan salah satu parameter fisika dalam penentuan mutu minyak sawit mentah atau Crude Palm oil (CPO) yang dilakukan dengan metode gravimetri (penimbangan berat sampel dengan piknometer kapasitas 50 mL (g/mL). Nilai densitas dipengaruhi oleh temperatur dimana semakin tinggi temperatur CPO maka densits akan semakin berkurang. Namun jika temperatur diberlakukan rendah pada saat penyimpanan atau saat pengangkutannya membuat CPO berubah menjadi padat dan keadaan ini tidak diinginkan dalam industri perdagangan CPO tersebut. Akibat dari tingginya temperatur dapat menyebabkan terjadi reaksi hidrolisis yang menyebabkan asam lemak bebas (ALB) semakin banyak terbentuk. Densitas minyak sawit mentah ditentukan dengan variasi ALB 2%, 3%, 4%, 5% dan 6% dengan temperatur 450C, 500C, 550C, 600C dan 650C. Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar ALB maka densitas akan semakin turun seiring dengan kenaikan temperatur. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hubungan linier menurun dimana pada temperatur yang sama yaitu 450C maka nilai densitas CPO dengan kadar ALB 2%, 3%, 4%, 5% dan 6% semakin menurun ((?=0,8934; 0,8391; 0,8926; 0,8921 dan 0,8920 (g/mL) dan semakin menurun dengan kenaikan temperatur pada 500C, 550C, 600C dan 650C.   Kata kunci: Densitas, CPO, ALB, Temperatu

    PEMBUATAN SURFAKTAN BERBAHAN DASAR MINYAK BIJI MAHONI Swietenia macrophylla King DENGAN DIETANOLAMINA

    Full text link
    ABSTRACT This research was conducted to synthesize diethanolamide synthesis from methyl esters of mahogany seed oil (Swietenia macrophylla King) trough an oxidation reaction with variation in catalyst weight. The results showed that the 48,97% mahogany seed oil content of acid was 24,239 mg KOH/g. The mahogany seed oil was methyl ester through the reverse asterification method 0f 0,791 mg KOH/g, saponification is 88,373 mg KOH/g. The results of the GC-MS analysis of the dominant fatty acid are methyl linoleic by 36,02%. Methyl esters are reacted with diethanolamine through an amidation method using a variation of catalyst weight which is 0,5%, 1% and 1,5% with yield percentages of 71,197%, 79,638% and 82,035%. The optimum condition of diethanolamide synthesis is the catalyst weight variation of 1.5% which can reduce water surface tension by 45,159%. The FT-IR spectrum data shows that the absorption peak which is specific to the amide group is found at wave number 1620cm-1 so it can be concluded that the compound is diethanolamide. Keyword : Mahogany seed oil, esterification amidation, diethanolamide.   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mensintesis dietanolamida dari metil ester minyak biji mahoni (Swietenia machrophylla King) melalui reaksi amidasi dengan variasi berat katalis. Hasil penelitian menunjukkan kandungan minyak biji mahoni 48,97% bilangan asam sebesar 24,239 mg KOH/g minyak biji mahoni tersebut dikonversi menjadi metil ester melalui metode esterifikasi menurunkan bilangan asam sebesar 0,791 mg KOH/g, bilangan penyabunan adalah 88,373 mg KOH/g. Hasil dari analisa GC-MS asam lemak yang dominan yaitu metil linoleat sebesar 36,02%. Metil ester direaksikan dengan dietanolamina melalui metode amidasi dengan menggunakan variasi berat katalis yaitu 0,5%, 1% dan 1,5% dengan persen rendemen sebesar 71,197%, 79,638% and 82,035%. Kondisi optimum dari sintesis dietanolamida yaitu pada variasi berat katalis 1,5% yang dapat menurunkan tegangan permukaan air sebesar 45,159%. Hasil data spektrum FT-IR menunjukkan puncak serapan yang spesifik untuk gugus amida terdapat pada bilangan gelombang 1620 cm-1 sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa tersebut adalah dietanolamida. Kata Kunci : Minyak biji mahoni, esterifikasi, amidasi, dietanolamid

    Optimasi Sintesis Asam Lemak Hidroksamat Menggunakan Minyak Mentah Dedak Padi

    Full text link
    Asam lemak hidroksamat (Fatty Hydroxamic Acids/FHA) telah berhasil di sintesis dari minyak mentah dedak padi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sintesis asam lemak hidroksamat dari minyak mentah dedak padi secara enzimatis dan menentukan kondisi optimumnya, yang meliputi tiga tahap pengerjaan yaitu tahap preparasi minyak, tahap optimasi sintesis dan tahap karakterisasi. Pada tahap preparasi minyak diperoleh rendemen minyak mentah dedak padi sebanyak 23%. Pada tahap optimasi didapatkan kondisi optimum untuk sintesis asam lemak hidroksamat dari minyak mentah dedak padi adalah pada suhu 35oC selama 25 jam dengan perbandingan lipase (gram) : hidroksilamin (mmol) sama dengan 1 : 500 dan perbandingan enzim lipase (gram) : minyak mentah dedak padi (gram) sama dengan 1 : 75. Jumlah gugus asam hidroksamat dalam 1 gram sampel kering asam lemak hidroksamat adalah 2,98 mmol. Berdasarkan hasil analisis uji warna dengan Cu(II) dan Fe(III) didapatkan warna kompleks yang khas untuk kedua logam tersebut dengan asam lemak hidroksamat yaitu warna hijau dan merah tua. Sedangkan dari analisis FTIR, didapatkan spektrum gugus fungsi asam hidroksamat.Fatty Hydroxamic Acids (FHA) has been successfully synthesized from rice bran oil. The purpose of this research was the enzymatic synthesis of fatty hydroxamic acids from rice bran oil and determine the optimum conditions, which includes three stages of processing, namely the oil preparation stage, the synthesis optimization stage and the characterization stage. At the oil preparation stage, the yield of rice bran oil was 23%. At the optimization stage, the optimum conditions for the synthesis of fatty hydroxamic acids from rice bran oil were at a temperature of 35oC for 25 hours with a ratio of lipase (gram) : hydroxylamine (mmol) equal to 1:500 and the ratio of lipase (gram) : crude bran rice (gram) was equal to 1:75. The number of hydroxamic acid groups in 1 gram of dry sample of fatty hydroxamic acid was 2.98 mmol. Based on the results of the analysis of the color test with Cu (II) and Fe (III), a complex color that is typical for the two metals which obtained with fatty hydroxamic acids, they were green and dark red. Whereas, from the FTIR analysis, the spectrum of the functional groups of hydroxamic acid was obtained

    PENENTUAN KUALITAS AIR SUMUR BOR DI DAERAH MARANGKAYU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

    Full text link
    The research about determination of the quality of drilled water wells in the area of Marangkayu, Kutai Kertanegara district has been conducted. The quality of the wellbore produced can be done by determining the number of several important parameters of the wellbore’s groundwater quality of groundwater wells produced by the Director General of SDA Ministry of PUPR and community groundwater wells in the coastal area of Marangkayu, whether it meets the requirements of the Republic of Indonesia Minister of Health Regulation No. 32/2017 concerning Environmental Health Standard Quality Standards and Water Health Requirements for Sanitation Hygiene. The results of the research showed that the government drilled water and community well drilled water met the quality standards in accordance with the Republic of Indonesia Ministerial Regulation No. 32/2017, except for E. Coli and Total Coliform contents are quite high, exceeding the quality standards of water sample inspection results.Penelitian tentang penentuan kualitas air sumur bor di daerah Marangkayu Kabupaten Kutai Kertanegara telah dilakukan. Kualitas dari air sumur bor yang dihasilkan dapat diketahui dengan menentukan jumlah dari beberapa parameter penting kualitas air tanah yang dihasilkan sumur bor pemerintah yang dibangun oleh Dirjen SDA Kementerian PUPR dan sumur bor masyarakat di daerah pesisir Kecamatan Marangkayu, apakah memenuhi persyaratan Permenkes RI No.32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air sumur bor pemerintah dan air sumur bor masyarakat memenuhi baku mutu sesuai dengan Permenkes RI No. 32 Tahun 2017, kecuali kandungan E. Coli dan Total Coliform yang cukup tinggi melebihi baku mutu hasil pemeriksaan sampel air

    SINTESIS SURFAKTAN DIETANOLAMIDA DARI METIL ESTER MINYAK BIJI BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus. L) MELALUI REAKSI AMIDASI

    Full text link
    Synthesis of dietanolamide surfactant from methyl ester of sunflower seed oil (Helianthus annuus. L) has been carried out through an amidation reaction. In the extraction process showed the oil content of sunflower seeds was 32.93% with an acid number of 3.25 mg KOH/g and ALB levels of 1.63%. Sunflower seed oil was then converted to methyl ester through the esterification process and obtained an acid number 1.84 mg KOH/g so that the ALB level dropped to 0.92% and obtained saponification numbers of 61.19 mg KOH/g. The most dominant composition of methyl ester of sunflower seed oil based on GC-MS analysis was methyl oleate at 23.28%. The FT-IR methyl ester spectrum gives a specific absorption peak for group C=O ester at wave number 1743 cm-1. Methyl esters are converted to diethanolamide through an amidation process. The resulting diethanolamide has an acid number of 9.7 mg KOH/g and a saponification number of 3.08 mg KOH/g. The FT-IR spectrum provides specific absorption peaks for groups C=O amides at wave numbers 1622 cm-1. The value of HLB dietanolamide in practice is 13.6495 and in theory is 14.291 which includes the surfactant in the oil in water (O/W) emulsifying class. Keyword : sunflower seed oil, esterification, amidation, dietanolamideTelah dilakukan sintesis surfaktan dietanolamida dari metil ester minyak biji bunga matahari (Helianthus annuus. L) melalui reaksi amidasi. Pada proses ekstraksi menunjukkan kandungan minyak biji bunga matahari sebesar 32,93% dengan bilangan asam 3,25 mg KOH/g dan kadar ALB 1,63%. Minyak biji bunga matahari kemudian dikonversi menjadi metil ester melalui proses esterifikasi dan diperoleh bilangan asam 1,84 mg KOH/g sehingga kadar ALB turun menjadi 0,92% serta diperoleh bilangan penyabunan sebesar 61,19 mg KOH/g. Komposisi metil ester minyak biji bunga matahari yang paling dominan berdasarkan analisa GC-MS adalah metil oleat sebesar 23,28%. Spektrum FT-IR metil ester memberikan puncak serapan yang spesifik untuk gugus C=O ester pada bilangan gelombang 1743 cm-1. Metil ester dikonversi menjadi dietanolamida melalui proses amidasi. Dietanolamida yang dihasilkan memiliki bilangan asam sebesar 9,7 mg KOH/g dan bilangan penyabunan sebesar 3,08 mg KOH/g. Spektrum FT-IR memberikan puncak serapan yang spesifik untuk gugus C=O amida pada bilangan gelombang 1622 cm-1. Nilai HLB dietanolamida secara praktik sebesar 13,6495 dan secara teori sebesar 14,291 yang termasuk surfaktan golongan pengemulsi oil in water (O/W). Kata Kunci : minyak biji bunga matahari, esterifikasi, amidasi, dietanolamid

    PEMANFAATAN AMPAS KOPI SEBAGAI ARANG AKTIF UNTUK ADSORBEN RHODAMIN B

    Full text link
    Research on the use of coffee grounds activated carbon as an adsorbent to reduce the content of Rhodamine B dye has been carried out. The activated carbon used is chemically activated by immersion using 1 M H3PO4 solution for 24 hours then burned at 500ËšC for 45 minutes, while physically activated it is carried out by burning at 500ËšC for 45 minutes. The results of the study which showed the characteristics published in SNI 06-3730-1995, the optimum conditions of Rhodamine B adsorption on both activated carbon at pH 7 and contact time at 15 minutes. Rhodamine B adsorption isotherms on chemically and physically activated carbon using Langmuir adsorption isotherm models with adsorption capacities are 1.6943 mg/g and 1.5936 mg/g, respectively. Chemical and physics activated coffee grounds activated carbon were applied to reduce Rhodamine B from sarung waste in Samarinda. Decrease of Rhodamine B levels in 25 mL of waste samples containing Rhodamine B 14.1860 mg/g with 1 gram of adsorbent were 89.1125% and 60.7923%, respectively.   Keywords: Activated carbon, Spent coffee grounds, Rhodamine B, AdsorptionPenelitian tentang pemanfaatan arang aktif ampas kopi sebagai adsorben untuk mengurangi kandungan pewarna Rhodamin B telah dilakukan. Arang aktif yang digunakan diaktivasi secara kimia dengan perendaman menggunakan larutan H3PO4 1 M selama 24 jam kemudian dibakar pada suhu 500ËšC selama 45 menit, sedangkan aktivasi secara fisika dilakukan dengan pembakaran pada suhu 500ËšC selama 45 menit. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik yang mengacu pada SNI 06-3730-1995, kondisi optimum adsorpsi Rhodamin B pada kedua arang aktif adalah pada pH 7 dan waktu kontak 15 menit. Isoterm adsorpsi Rhodamin B pada arang aktif teraktivasi secara kimia dan fisika mengikuti model isoterm adsorpsi Langmuir dengan kapasitas adsorpsi maksimum masing-masing adalah 1,6943 mg/g dan 1,5936 mg/g. Arang aktif ampas kopi teraktivasi secara kimia dan fisika diaplikasikan untuk menurunkan Rhodamin B dari limbah kain sarung di Samarinda. Penurunan kadar Rhodamin B dalam 25 mL sampel limbah yang mengandung Rhodamin B 14,1860 mg/g dengan 1 gram adsorben masing-masing adalah 89,1125% dan 60,7923%. Kata Kunci: Arang Aktif, Ampas Kopi, Rhodamin B, Adsorpsi     &nbsp

    Isolasi dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder dari Rimpang Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb): Isolasi dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder dari Rimpang Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb)

    Full text link
    Isolation and identification of secondary metabolites from ethyl acetate fraction of rhizomes of Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) have been done. The separation of ethyl acetate fraction and further seperation were performed using gravity column chromatography with n-hexane and ethyl acetate (9.5:0.5-3:7) as solvent systems to obtain the isolate (oil;0.0216 g). Based on UV analysis of isolate, the result showed 1 peak at ? 206.14 nm. In addition, the FT-IR spectra indicated the presence of functional groups of OH, aliphatic C-H, C=O and C-O. According to the result of the UV and FT-IR spectra, the isolate can be identified as terpenoid

    Ca-ALGINAT UNTUK ADSORPSI Fe DAN Mn PADA AIR GAMBUT

    Full text link
    Ca-alginate for the adsorption of Fe and Mn in peat water has been carried out using a batch method. Brownish water color, low pH, and high content of Fe and Mn metals are obstacles in direct utilization of peat water. Peat water treatment can be done by the adsorption method. The stages of this study began with the preparation of the adsorbent by dripping Na-alginate solution into a variety of CaCl2 solution concentrations. Furthermore, the adsorption of peat water was carried out by batch method with variations in the contact time and mass of the adsorbent to get the adsorbent with the highest % removal. The optimal contact time for Fe and Mn adsorption on peat water is 6 hours. The optimal % removal value for the influence of Fe adsorption contact time for Ca-alginate variations of 0.1 M and 0.2 M CaCl2 solution were 20.38% and 21.19%, respectively. The optimal % removal value for the influence of Mn adsorption contact time for Ca-alginate variations of 0.1 M and 0.2 M CaCl2 solution were 30.98% and 41.37%, respectively. The optimal mass of adsorbent for Fe and Mn adsorption in peat water is 0.75 g. The optimal % removal value for the influence of Fe adsorption mass adsorption for Ca-alginate variations of 0.1 M and 0.2 M CaCl2 solution were 79.28% and 21.67%, respectively. The optimal % removal value for the mass effect of Mn adsorption adsorption for Ca-alginate variation of 0.1 M and 0.2 M CaCl2 solution respectively at 24.44% and 26.13%.Ca-alginat untuk adsorpsi Fe dan Mn pada air gambut telah dilakukan menggunakan metode batch. Warna air yang kecoklatan, pH yang rendah, dan tingginya kandungan logam Fe dan Mn merupakan kendala dalam pemanfaatan air gambut secara langsung. Pengolahan air gambut dapat dilakukan dengan metode adsorpsi. Tahapan penelitian ini dimulai dari preparasi adsorben dengan meneteskan larutan Na-alginat ke dalam variasi konsentrasi larutan CaCl2. Selanjutnya dilakukan adsorpsi air gambut dengan metode batch dengan variasi parameter waktu kontak dan massa adsorben untuk mendapatkan adsorben dengan % removal tertinggi. Waktu kontak optimal untuk adsorpsi Fe dan Mn pada air gambut adalah 6 jam. Nilai % removal optimal untuk pengaruh waktu kontak adsorpsi Fe untuk Ca-alginat variasi larutan CaCl2 0,1 M dan 0,2 M berturut-turut sebesar 20,38% dan 21,19%. Nilai % removal optimal untuk pengaruh waktu kontak adsorpsi Mn untuk Ca-alginat variasi larutan CaCl2 0,1 M dan 0,2 M berturut-turut sebesar 30,98% dan 41,37%. Massa adsorben optimal untuk adsorpsi Fe dan Mn pada air gambut adalah 0,75 g. Nilai % removal optimal untuk pengaruh massa adsorben adsorpsi Fe untuk Ca-alginat variasi larutan CaCl2 0,1 M dan 0,2 M berturut-turut sebesar 79,28% dan 21,67%. Nilai % removal optimal untuk pengaruh massa adsorben adsorpsi Mn untuk Ca-alginat variasi larutan CaCl2 0,1 M dan 0,2 M berturut-turut sebesar 24,44% dan 26,13%

    MODIFIKASI ZEOLIT ALAM DENGAN TiO2 UNTUK DEGRADASI RHODAMIN B DARI LIMBAH SARUNG TENUN SECARA FOTOKATALISIS: DEGRADASI RHODAMIN B DARI LIMBAH SARUNG TENUN MENGGUNAKAN TiO2-ZEOLIT

    Full text link
    Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh waktu kontak, variasi berat katalis TiO2-Zeolit, tanpa penggunaan lampu UV dan perbandingan material (Zeolit, TiO2 dan  TiO2-Zeolit). Tahap awal meliputi preparasi zeolit alam, aktivasi dengan larutan HCl 3 N, modifikasi melalui proses impregnasi dan diaplikasikan secara fotokatalisis. TiO2-Zeolit dikarakterisasi dengan menggunakan FTIR, SEM-EDX dan XRD. Analisis FTIR menunjukkan bilangan gelombang dari zeolit dan TiO2 muncul pada material TiO2-Zeolit. SEM-EDX menunjukkan bentuk morfologi bentuk partikel-partikel bulat yang seragam  dengan komposisi TiO2 38,15%. Pola XRD menunjukkan adanya TiO2 pada material TiO2-Zeolit. Berdasarkan data tersebut diperoleh waktu kontak optimum 30 menit dengan dengan berat katalis optimum sebesar 0,5 gram TiO2-Zeolit menghasilkan persen degradasi yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan Zeolit dan TiO2 yakni masing-masing sebesar 98,73%; 51,00% dan 36,26%, sedangkan degradasi tanpa penggunaan lampu UV sebesar 84,84%

    184

    full texts

    227

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL KIMIA MULAWARMAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇