Cylinder: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin
Not a member yet
    98 research outputs found

    Kebutuhan Banyaknya Titik Roof Outlet Pada Sistem Pemipaan

    Full text link
    The JST 01 Data Center development project is located on Jl. Bidara Cina in the Jatinegara District, East Jakarta, DKI Jakarta. The MT. Haryono Data Center stands at an elevation of 65 meters above sea level and comprises 14 floors, divided into two work areas: Gantry and IX. Rainfall at the JST 01 Data Center project site is recorded at 318.5 mm/h, based on data processed from BMKG Kemayoran, Cengkareng, and Pondok Betung stations. The analysis follows the Singapore Standard SS 525-2006 Code of Practice for Roof Drainage. The building's total roof area is 2,128.43 m², necessitating 14 Roof Outlet points for the operation of the Siphonic Rainwater System. Of these, five Roof Outlets are allocated to the Gantry area, while nine are distributed across the IX area.Proyek pembangunan JST 01 Data Center terletak di Jl. Bidara Cina Kec. Jatinegara, Kota Jakarta Timur, DKI Jakarta. Data Center MT. Haryono memiliki tinggi enam puluh lima MDPL dengan jumlah lantai sebanyak empat belas yang dibagi ke dalam dua area pekerjaan yakni Gantry dan IX. Curah hujan di proyek JST 01 Data Center adalah sebesar 318,5 mm/h. Data curah hujan tersebut didapat dan diolah dari stasium BMKG Kemayoran, Cengkareng dan Pondok Betung dengan berdasarkan Singapore Standard SS 525-2006 Code of Practice for Drainage of Roofs. Dengan luas atap keseluruhan bangunan proyek JST 01 Haryono Data Center yakni seluas 2128,43 m2 didapatkan jumlah titik Roof Outlet untuk mengoperasikan Siphonic Rain Water System dibutuhkan sebanyak empat belas titik Roof Outlet yang tersebar lima di area Gantry dan sembilan di area IX

    Infill Density Effects on Impact Strength of PLA+

    Full text link
    3D printing is an additive manufacturing method. In its process, several parameters can be adjusted to achieve the desired printing results. This study examines the effect of infill percentage on the Charpy impact strength of PLA+ materials made using the fused deposition modeling (FDM) method. The specimens used follow the ISO 179-1 type 1 standard without notches and are made with infill variations of 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%. Each variation is tested five times using a JB-S300 Charpy impact tester. The absorbed energy is then calculated into the Charpy impact strength (kJ/m²) according to the ISO 179-1 standard. The results show that the impact strength increases with increasing infill, from 10.9 kJ/m² at 20% infill to 30.4 kJ/m² at 100% infill. These results emphasize the effect of infill on energy absorption and the importance of parameter control to improve the consistency of results in FDM printed PLA+ components.3D print merupakan metode manufaktur yang bersifat aditif (penambahan). Dalam prosesnya ada beberapa parameter yang dapat diatur agar mencapai hasil cetak yang sesuai dengan keinginan. Penelitian ini melihat bagaiman pengaruh persentase infill terhadap kekuatan impak Charpy pada material PLA+ yang dibuat menggunakan 3D printer dengan metode fused deposition modeling (FDM). Spesimen yang digunakan mengikuti standar ISO 179-1 tipe 1 tanpa takik dan dibuat dengan variasi infill 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Setiap variasi dilakukan pengujian sebanyak lima kali menggunakan alat uji impak Charpy JB-S300. Energi yang diserap kemudian dikalkulasi menjadi kekuatan impak Charpy (kJ/m²) sesuai dengan standar ISO 179-1. Hasil menunjukkan bahwa kekuatan impak meningkat seiring dengan meningkatnya infill, dari 10,9 kJ/m² pada infill 20% hingga menjadi 30,4 kJ/m² pada infill 100%. Hasil ini menegaskan pengaruh infill terhadap penyerapan energi dan pentingnya pengendalian parameter untuk meningkatkan konsistensi hasil pada komponen PLA+ yang dicetak dengan FDM

    PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN SUHU DAN KELEMBAPAN UDARA UNTUK TANAMAN TOMAT DENGAN MENGGUNAKAN WEMOS D1

    Full text link
    Plant cultivation process is an important component in creating optimal harvest results. Those results can be affected by both air temperature and humidity in the plant’s environment. Traditional method for monitoring and controlling temperature and humidity consume a lot of time and energy. This Wemos D1 and ThingSpeak equipped monitoring and controlling system was made in order to make those works easier. The system uses air temperature and humidity sensor which will perform reading to the environment’s condition. Datas collected from the reading progress will be forwarded by Wemos D1 to ThingSpeak so it can be observed by users. Exhaust fan and mist maker will be used as controlling components for the environment. This system is expected to help in developing plant cultivation techniques.  Proses budidaya tanaman merupakan komponen penting dalam mewujudkan hasil panen yang optimal. Hasil panen tersebut dapat dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan udara di lingkungan tanaman tersebut. Metode tradisional untuk melakukan pemantauan dan pengendalian suhu dan kelembapan sangat memakan waktu dan juga tenaga manusia. Agar dapat meringankan pekerjaan tersebut, maka dirancang sistem pemantauan dan pengendalian suhu dan kelembapan udara menggunakan Wemos D1 dan ThingSpeak. Sistem tersebut menggunakan beberapa sensor yaitu sensor suhu dan kelembapan udara yang akan melakukan pembacaan terhadap kondisi lingkungan. Data dari hasil pembacaan tersebut kemudian akan diteruskan oleh Wemos D1 ke ThingSpeak agar dapat diamati oleh pengguna. Exhaust fan dan mist maker akan digunakan sebagai komponen pengendali untuk lingkungan tanaman. Sistem ini diharapkan dapat membantu dalam perkembangan teknik budidaya tanaman. &nbsp

    Adopsi Kecerdasan Buatan (AI) dalam Industri Maritim: Peluang, Tantangan, dan Implikasinya terhadap Efisiensi Operasional

    Full text link
    This paper discusses the adoption of Artificial Intelligence (AI) in Indonesia's maritime industry, focusing on port operational efficiency. Using literature review and case analysis approaches, the study identifies port business processes, key stakeholders, and digital systems such as INAPORTNET, CEISA, TOS, VMS, Auto Gate, and STID. The readiness of AI adoption at Tanjung Priok Port is assessed based on indicators including technological infrastructure, operational automation, system integration, human resource competence, operational efficiency, and environmental impact. Findings indicate that while digitalization initiatives are ongoing, AI implementation remains at an early stage. Opportunities lie in productivity, safety, and sustainability improvements, while key challenges include digital infrastructure limitations, system integration issues, regulatory gaps, and human resource constraints. The paper concludes that a phased and collaborative strategy among the government, port operators, and industry players is essential to accelerate AI-driven digital transformation in the maritime sector.Pada penulisan ini adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam industri maritim Indonesia, dengan fokus pada efisiensi operasional pelabuhan. Dengan menggunakan pendekatan kajian literatur dan analisis kasus, penelitian ini mengidentifikasi peta proses bisnis pelabuhan, pemangku kepentingan, serta sistem digital yang digunakan, seperti INAPORTNET, CEISA, TOS, VMS, Auto Gate, dan STID. Studi ini mengevaluasi kesiapan adopsi AI di Pelabuhan Tanjung Priok berdasarkan indikator seperti infrastruktur teknologi, automasi operasional, integrasi sistem, kompetensi SDM, efisiensi operasional, dan dampak lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun terdapat inisiatif digitalisasi yang signifikan, penerapan AI masih terbatas pada tahap awal. Peluang pemanfaatan AI meliputi peningkatan produktivitas, keamanan, dan keberlanjutan, sementara tantangan utamanya mencakup infrastruktur digital, integrasi sistem, serta keterbatasan regulasi dan SDM. Tulisan ini menyimpulkan bahwa strategi bertahap dan kolaboratif antara pemerintah, operator pelabuhan, dan pelaku industri diperlukan untuk mempercepat transformasi digital sektor maritim berbasis AI

    Akurasi dan Fleksibilitas: Perbandingan Metode Konvensional dan Kontinu dalam Pengukuran Koefisien Muai Panjang Logam

    Full text link
    This study compares two methods for measuring the coefficient of linear expansion of metals: the Conventional (Discrete) Method and the New (Continuous) Method, focusing on effectiveness, accuracy, and flexibility. Thermal expansion is a crucial phenomenon in materials engineering, and the coefficient of linear expansion is crucial for predicting metal behavior under temperature variations to prevent structural failure. The historically dominant Discrete Method (MD) relies on the linearity assumption and fundamentally requires an initial length (L0) as an absolute reference. This dependence limits flexibility in dynamic experimental situations, where subsequent measurements must reference the original L0. With the development of numerical calculus, the Continuous Method (MC) was developed based on the differential principle, where the coefficient of linear expansion can be calculated from infinitesimal changes in length and temperature without requiring an explicit L0. This approach allows measurements from any point, making it more adaptable for incremental testing. Through numerical simulations on five metals, this study evaluates both methods in two scenarios: an initial measurement of the coefficient of linear expansion and the flexibility of measurements from different temperatures. The results show that both methods produce very close linear expansion coefficient values when measured from the same initial conditions. However, MK proved much more adaptive and efficient, consistently producing valid linear expansion coefficient values without being tied to the original L0. MK can use the length data available at that time as a starting point for subsequent measurements, in contrast to MD, whose results become inconsistent if not referenced to L0. This flexibility of MK is particularly relevant for dynamic material testing and advanced experiments where initial conditions may not always be known or may change. This study presents scientific justification and practical guidance for adopting MK as a more flexible alternative in the thermal characterization of modern materials.Penelitian ini membandingkan dua metode pengukuran koefisien muai panjang logam: Metode Konvensional (Diskrit) dan Metode Baru (Kontinu), dengan fokus pada efektivitas, akurasi, dan fleksibilitas. Pemuaian termal adalah fenomena krusial dalam rekayasa material, dan koefisien muai panjang sangat penting untuk memprediksi perilaku logam di bawah variasi suhu guna mencegah kegagalan struktural. Metode Diskrit (MD), yang secara historis dominan, mengandalkan asumsi linieritas dan secara fundamental memerlukan panjang awal (L0) sebagai acuan mutlak. Ketergantungan ini membatasi fleksibilitasnya dalam situasi eksperimental dinamis, di mana setiap pengukuran lanjutan tetap harus merujuk pada L0 asli. Seiring perkembangan kalkulus numerik, Metode Kontinu (MK) dikembangkan berdasarkan prinsip diferensial, di mana koefisien muai panjang dapat dihitung dari perubahan panjang dan suhu yang infinitesimal tanpa memerlukan L0 secara eksplisit. Pendekatan ini memungkinkan pengukuran dari titik mana pun, menjadikannya lebih adaptif untuk pengujian bertahap. Melalui simulasi numerik pada lima jenis logam, penelitian ini mengevaluasi kedua metode dalam dua skenario: pengukuran awal koefisien muai panjang, dan fleksibilitas pengukuran dari suhu berbeda. Hasil menunjukkan bahwa kedua metode menghasilkan nilai koefisien muai Panjang yang sangat mendekati ketika diukur dari kondisi awal yang sama. Namun, MK terbukti jauh lebih adaptif dan efisien, karena secara konsisten menghasilkan nilai koefisien muai panjang yang valid tanpa terikat pada L0 asli. MK dapat menggunakan data panjang yang tersedia pada saat itu sebagai acuan awal untuk pengukuran berikutnya, berbeda dengan MD yang hasilnya menjadi tidak konsisten jika tidak merujuk pada L0. Fleksibilitas MK ini sangat relevan untuk pengujian material dinamis dan eksperimen lanjutan di mana kondisi awal mungkin tidak selalu diketahui atau berubah. Penelitian ini menyajikan justifikasi ilmiah dan panduan praktis untuk mengadopsi MK sebagai alternatif yang lebih fleksibel dalam karakterisasi termal material modern

    Pengaruh Energi Input Micro-Plasma Arc Welding Terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Sambungan Baja DIN 2311

    Full text link
    Molds are important components in the plastic injection molding processes. Even though molds are generally made of strong and heat-resistant steel, but when used repeatedly and continuously, the mold will also experience damage such as scratches and dents caused by dynamic thermal and mechanical loading. Making new molds requires very high costs. Mold repairs using traditional welding such as laser welding and Tungsten Inert Gas welding, apart from requiring relatively high costs, also require sophisticated skills. This problem can be overcome with Micro-Plasma Arc Welding (MPAW). With this welding method, the process of melting the material and filler is concentrated at one point which prevents the spread of excess heat to the parent material. Welding on DIN 2311 low alloy steel, which is often chosen as a plastic molding material, was carried out with weld energies of 120, 132 and 144 J. The welding results were tested to determine the microstructure evolution, hardness distribution and strength values ​​of each specimen. From the test results of materials processed through MPAW, it can be concluded that the specimen produced with a weld energy of 132 J has the most optimal microstructure and hardness distribution so that it can have strength equivalent to the strength of the original material before welding, with relatively high ductility as proven by its ability to perform plastic deformation of 7.8% or just 3.2% lower than the ability of the original material.Cetakan merupakan komponen yang penting pada proses cetakan injeksi plastik. Walaupun cetakan umumnya terbuat dari baja yang kuat dan tahan panas, akan tetapi ketika digunakan secara berulang-ulang dan terus menerus, cetakan akan mengalami kerusakan seperti goresan dan lekukan yang diakibatkan oleh pembebanan termal dan mekanis secara dinamis. Pembuatan cetakan baru membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Perbaikan cetakan dengan pengelasan tradisional seperti pengelasan laser dan pengelasan Tungsten Inert Gas disamping membutuhkan biaya yang relatif tinggi juga membutuhkan keterampilan yang terjamin. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan Micro-Plasma Arc Welding (MPAW). Dengan metode pengelasan ini, proses peleburan material dan filler menjadi terpusat pada satu titik yang menyebabkan tidak terjadinya penyebaran panas berlebih pada material induk. Pengelasan pada baja paduan rendah DIN 2311, yang merupakan material cetakan injeksi plastik, dilakukan dengan energi pengelasan sebesar 120, 132, dan 144 J. Hasil pengelasannya diuji untuk mengetahui perubahan struktur mikro, distribusi nilai kekerasan dan kekuatan dari masing-masing spesimen. Dari pengujian terhadap material yang diproses melalui MPAW dapat disimpulkan bahwa spesimen yang dihasilkan dengan energi pengelasan sebesar 132 J memiliki stuktur mikro dan distribusi kekerasan yang paling optimal sehingga dapat memiliki kekuatan yang setara kekuatan material asal sebelum pengelasan, dengan keuletan yang relatif tinggi yang terbukti dengan kemamapuannya melakukan deformasi plastis sebesar 7,8% atau 3,2% lebih rendah dari kemampuan material asal

    Robot Self-Balancing Berbasis LEGO Mindstorm EV3 Untuk Pembelajaran Robotika

    Full text link
    Robotics education must be implemented effectively to develop students' conceptual understanding and technical competencies. One relevant approach involves the development of self-balancing robots as an exemplary platform that facilitates learning in mechanical design, control systems, and sensor programming. The success of this approach critically depends on the appropriate selection of both tools and methodologies. The LEGO Mindstorms EV3 platform is an ideal tool due to its assembly convenience, design flexibility, and seamless hardware-software integration for robotic development. Implementing a LEGO Mindstorms EV3-based self-balancing robot provides valuable learning opportunities in robotic control algorithms utilizing gyroscopic sensors, ultrasonic sensors, and servo motors. This research work presents the design and implementation process of a LEGO Mindstorms EV3-based self-balancing robot as an innovative educational tool for robotics. The platform supports integrated mastery of theoretical concepts and technical skills, fostering comprehensive engineering and control systems learning.Pembelajaran robotika perlu dilaksanakan secara efektif untuk mengembangkan pemahaman konseptual dan keterampilan teknis dari peserta didik. Salah satu pendekatan yang relevan adalah melalui pengembangan robot self-balancing sebagai salah satu contoh bentuk robot yang dapat memberikan pembelajaran terkait aspek perancangan mekanik, kendali sistem, dan pemrograman sensorik. Keberhasilan pendekatan yang digunakan sangat bergantung pada pemilihan sarana maupun metode yang tepat. LEGO Mindstorm EV3 merupakan salath satu sarana yang ideal untuk kemudahan perakitan, fleksibilitas desain, serta integrasi antara perangkat keras dan perangkat lunak dalam pengembangan robot. Pengembangan robot self-balancing berbasis LEGO Mindstorm EV3 memberikan kesempatan pembelajaran algoritma kendali robot berbasis sensor giroskop, ultrasonik, dan motor servo. Kerja penelitian ini memaparkan proses perancangan dan implementasi robot self-balancing berbasis LEGO Mindstorm EV3 sebagai sarana inovatif untuk pembelajaran robotika yang mendukung penguasaan konsep dan keterampilan teknik secara terpadu

    Pengaruh  Pemasangan Suction Pre-Filter Terhadap Konsumsi Suction Main-Filter Dan Konsumsi Listrik Pada Centrifugal Kompresor IHI T2A200 – H di Pabrik PT. XYZ

    Full text link
    Kompresor udara menyumbang sebagian besar energi yang dikonsumsi, dimana energi tersebut merupakan konsumsi listrik yang digunakan untuk menjalankan kompresor dan biaya perawatannya, salah satunya adalah biaya konsumsi suction filter. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan terus menerus untuk menekan biaya operasional pabrik, salah satu caranya adalah dengan mengurangi konsumsi suction filter melalui modifikasi penambahan suction pre-filter dan diperoleh konsumsi listrik kompresor yang optimal. Metode yang digunakan dalam percobaan adalah dengan memvariasikan antara suction pre-filter (modifikasi filter) dan suction main-filter (original filter) sebagai parameter independent dibandingkan dengan Aliran Udara (m3/jam), Arus (A) dan daya motor (kW) sebagai parameter dependent. Dianalisis untuk mendapatkan nilai yang paling optimal. Suction pre-filter dapat memperpanjang masa pakai suction main-filter dari masa pakai sebelumnya yaitu 2160 jam menjadi 8640 jam. Jadi presentase kenaikannya sebesar 300%, melebihi target biaya Perusahaan sebesar 30%, dan juga menurunkan biaya listrik

    Rancang Bangun Alat Uji Kekuatan Material Polimer dan Komposit Polimer Berpenguat Serat Alam

    Full text link
    Current engineering technology places great emphasis on efficient and energy-saving construction. Nowadays, research and development of engineering materials are more directed at relatively strong, stable and lightweight materials. Polymers and natural fiber reinforced polymer composites are one of those that can meet these needs and are being researched. To achieve optimal results, the research must be supported by appropriate test equipment that can properly characterize the materials being developed. This research aims to design a mechanical and electrical tensile testing device especially for polymers and polymer composites. The research produced a prototype of a tensile testing device that has a maximum load capacity of 20.25 kN. The success of this research is proven by the strength of PMMA, which was tested using this device. The test results showed that PMMA has a tensile strength of about 58.2 and 60.7 MPa. This value is within the range of PMMA strength obtained from the literature.Teknologi rekayasa saat ini sangat menekankan pada konstruksi yang efisien dan hemat energi. Saat ini, penelitian dan pengembangan material rekayasa lebih diarahkan pada material yang relatif kuat, stabil, dan ringan. Polimer dan komposit polimer yang diperkuat serat alam merupakan salah satu yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan sedang diteliti. Untuk memperoleh hasil yang optimal, penelitian tersebut harus didukung oleh peralatan uji yang tepat yang dapat mengkarakterisasi material yang dikembangkan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang suatu alat uji tarik mekanik dan listrik khususnya untuk polimer dan komposit polimer. Penelitian ini menghasilkan prototipe alat uji tarik yang memiliki kapasitas beban maksimum sebesar 20,25 kN. Keberhasilan penelitian ini dibuktikan dengan kekuatan material PMMA yang diuji menggunakan alat tersebut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa PMMA memiliki kekuatan tarik sekitar 58,2 dan 60,7 MPa. Nilai tersebut berada dalam kisaran kekuatan PMMA yang diperoleh dari literatur

    Integrasi Transmisi Otomatis Untuk Kendaraan Listrik yang Dikonversi: Pendekatan GT-Suite

    No full text
    The growing adoption of electric vehicles (EVs) in Southeast Asia, particularly in Indonesia and Malaysia, is driven by policy incentives such as road tax exemptions and relaxed traffic restrictions. This study investigates the feasibility and performance impact of integrating a stock automatic transmission into a converted internal combustion engine (ICE) vehicle, replacing the commonly used single gear or manual transmissions in typical EV conversions. Using GT-Suite simulation software, a detailed model of a converted Toyota Avanza was developed to evaluate key performance metrics including acceleration, top speed, driving range, and energy consumption. Simulation results indicate that integrating an automatic transmission improves acceleration performance, reducing the 0–100 km/h time by 0.7 seconds compared to a single-gear configuration. Although the top speed is mechanically limited by the transmission's maximum input speed, the vehicle achieved a marginally higher top speed (191.3 km/h) and reached it 1.8 seconds faster. During range simulations under the New European Driving Cycle (NEDC) and constant highway driving at 100 km/h, the automatic transmission variant demonstrated a longer driving range—up to 7% farther—while also improving energy consumption from 8.55 km/kWh to 8.77 km/kWh.Penerapan kendaraan listrik (EV) yang semakin berkembang di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Malaysia, didorong oleh insentif kebijakan seperti pembebasan pajak jalan dan pelonggaran pembatasan lalu lintas. Penelitian ini menyelidiki kelayakan dan kinerja dari pengintegrasian transmisi otomatis yang berasal dari manufaktur asal ke dalam kendaraan konversi mesin pembakaran dalam (ICE), menggantikan transmisi satu gigi atau transmisi manual yang umum digunakan dalam konversi EV pada umumnya. Menggunakan perangkat lunak simulasi GT-Suite, model rinci dari Toyota Avanza yang telah dikonversi dikembangkan untuk mengevaluasi parameter utama, termasuk akselerasi, kecepatan tertinggi yang dapat diraih, jarak tempuh maksimum, dan konsumsi energi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pengintegrasian transmisi otomatis meningkatkan akselerasi, mengurangi waktu akselerasi dari 0–100 km/jam sebesar 0,7 detik dibandingkan dengan konfigurasi satu gigi. Meskipun kecepatan tertinggi dibatasi secara mekanis oleh kecepatan input maksimum transmisi, kendaraan mencapai kecepatan tertinggi yang sedikit lebih tinggi (191,3 km/jam) dan mencapai kecepatan tertinggi 1,8 detik lebih cepat. Selama simulasi jarak dengan siklus New European Driving Cycle (NEDC) dan pengendaraan di jalan bebas hambatan dengan kecepatan konstan 100 km/jam, varian transmisi otomatis menunjukkan jarak tempuh yang lebih jauh hingga 7% serta meningkatkan efisiensi konsumsi energi dari 8,55 km/kWh menjadi 8,77 km/kWh

    86

    full texts

    98

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Cylinder: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇