Jurnal Komunikasi: Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Not a member yet
289 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI KOMUNIKASI BENCANA DI MEDIA MASSA SEBAGAI PENDUKUNG MANAJEMEN BENCANA
Upaya manajemen bencana alam yang terjadi di Indonesia saat ini memerlukan dukungan dari media massa
dalam melakukan komunikasi kepada masyarakat. Degradasi lingkungan dan global warming menyebabkan
wilayah Indonesia menjadi rawan bencana. Informasi mengenai situasi pra bencana, saat kejadian, dan pasca
bencana menentukan terbentuknya keamanan dan kemampuan warga menghadapi bencana. Media massa
dapat berperan sebagai early warning system dan melakukan edukasi bagi masyarakat. Konvergensi media saat
ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi mengenai bencana penting yang
dapat mendukung efisiensi manajemen bencana.
Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai
pengemasan informasi
bencana di media massa, baik media cetak dan online sebagai bentuk komunikasi bencana
kepada masyarakat. Konsep yang digunakan sebagai dasar kajian adalah jurnalisme
bencana, komunikasi risiko
bencana dan manajemen bencana. Metode penelitian menggunakan
studi literatur dan analisis teks framing pada
media cetak dan online yang memberitakan
berita bencana, dengan pilihan kasus pada pemberitaan oleh Kompas.
Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa peran komunikasi bencana menentukan keberhasilan
pemerintah untuk
memberikan informasi bagi keamanan masyarakat dan mengatasi bencana yang terjadi. Kajian ini memberikan
kontribusi bahwa optimalisasi komunikasi
bencana secara terpadu penting dalam manajemen bencana, sinergi
dengan pelibatan
media massa dan masyarakat dalam distribusi informasi melalui pemanfaatan media
MODEL PUBLIC RELATIONS UNTUK PEMBANGUNAN REPUTASI PENDIDIKAN MENENGAH SEBAGAI SEKOLAH RUJUKAN BERPRESTASI BERPOTENSI
Perkembangan kualitas pendidikan menengah SMA, SMK, MA belum menunjukkan kemajuan signi kan. Kondisi tersebut banyak disebabkan selain jumlah guru yang kompeten terbatas, anggaran minim, terbatasnya kemampuan sekolah melakukan komunikasi intensif memperkenalkan potensi dan prestasi sekolah ke public. Sekolah Menengah di Indonesia belum banyak melakukan terobosan komunikasi melalui Public Relations (PR) dengan baik. Institusi pendidikan menengah khususnya swasta lebih sibuk melakukan promosi mendapatkan murid, melalui propaganda iklan dan memanipulasi fakta. Sementara sekolah negeri lebih fokus pada peningkatan kemampuan akademik murid, memaksa murid mengikuti kelas tambahan untuk meraih prestise agar lulusan bisa diterima di PTN. Pendidikan menengah negeri maupun swasta belum menyadari PR mempunyai peran penting bagi pengembangan dan keberlanjutan sekolah. Grunig menggagas tentang Public Relations Model for Reputation Building, bahwa keberhasilan institusi dalam membangun reputasi ditentukan pada kemampuan melaksanakan kegiatan komunikasi bersifat two way simetrical model dengan menekankan pada komunikasi interaktif tinggi organisasi dengan publiknya, serta pesan disampaikan didasarkan pada fakta empiris. Paper ini merupakan hasil riset tentang akti tas PR di 35 Sekolah di Semarang dengan mengelaborasi dan menyimpulkan model PR yang dominan digunakan membangun reputasi sekolah mencapai tujuan lebih efektif
TELEPON GENGGAM DAN PERUBAHAN SOSIAL STUDI KASUS DAMPAK NEGATIF MEDIA KOMUNIKASI DAN INFORMASI BAGI ANAK-ANAK DI KELURAHAN BOBOSAN PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS
Perkembangan teknologi komunikasi dewasa ini membawa banyak perubahan sosial. Tidak hanya perubahan pola pikir dalam menyikapi sesuatu, namun juga berdampak pada perubahan perilaku secara sosial. Perubahan yang terjadi ternyata tidak selamanya positif karena di sisi lain juga membawa efek negatif kepada penggunanya. Kondisi ini terutama terjadi untuk anak-anak dan remaja yang kurang mampu mem lter dampak negatif penggunaan media komunikasi terbaru dibandingkan dengan segala kemudahan akses informasi yang dapat mereka serap dan manfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kaitan antara penggunaan teknologi komunikasi telepon genggam dengan perubahan sosial bagi anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kelurahan Bobosan Purwokerto Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara dan observasi sebagai teknik pengumpulan datanya. Informan dalam penelitian ini adalah anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dan para orang tua yang memiliki anak-anak yang menggunakan media komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan sosial bagi anak- anak yang menggunakan telepon genggam dalam hal cara berkomunikasi sosial, pola pikir dan perubahan sikap atas informasi yang mereka akses. Kemudahan akses informasi ini juga mempunyai akibat yang negatif dalam penggunaan waktu bermain dengan teman seusianya yang menjadi lebih terbatas dan pengaruh buruk isi media yang merusak seperti pornogra dan seksualitas
MENINGKATKAN KECERDASAN BANGSA MELALUI OPTIMALISASI PENERAPAN STANDAR KOMPETENSI WARTAWAN
Iklim demokratisasi pascareformasi tahun 1998 kian menabalkan pers Indonesia pada posisi dan peran
yang penting. Dalam posisi ini, kedudukan dan peran wartawan sebagai ujung tombak pers menjadi sangat
menentukan. Wartawan dituntut mampu menghasilkan produk-produk jurnalistik yang menjadi katarsis
informasi bagi masyarakat luas. Untuk itu optimalisasi penerapan standar kompetensi wartawan tak terelakkan.
Hal ini sangat urgen untuk memandu para wartawan Indonesia dalam bekerja secara profesional baik menyangkut
kompetensi kesadaran, kompetensi pengetahuan maupun kompetensi keterampilan. Optimalisasi penerapan
standar kompetensi wartawan di Indonesia dapat ditempuh melalui: (1) optimalisasi pelatihan/kursus/workshop/
studi banding, (2) optimalisasi monitoring dan evaluasi (Monev), (3) optimalisasi pemberian penghargaan, (4)
optimalisasi penerapan sanksi secara obyektif, selektif, bertahap, adil, prosedural dan edukatif, (5) optimalisasi
kesejahteraan wartawan, (6) optimalisasi advokasi wartawan, (7) optimalisasi uji kompetensi wartawa
POLITIK ETNISITAS DAN COMPLIANCE GAINING KANDIDAT MINORITAS DALAM PILKADA KALIMANTAN BARAT
Karakteristik masyarakat majemuk adalah adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompokkelompok
yang lain sehingga secara politik minoritas dikuasai oleh mayoritas. Namun, beberapa Kepala Daerah
minoritas secara agama maupun etnis muncul sebagai sebagai pemenang. Diduga, cross cutting affiliation merupakan
salah satu penyebab terpilihnya calon dari golongan minoritas. Pilkada Kalimantan Barat menjadi lokus penelitian
ini dengan disain analisis deskriptif-eksplanasi melalui pendekatan studi kasus. Fokus pertanyaannya adalah
bagaimana cross cutting affiliation secara agama dan etnis sebagai bagian dari politik etnisitas serta compliance
gaining dalam pola dan strategi komunikasi digunakan pasangan kandidat terpilih pada Pilkada di Kalimantan
Barat (Cornelis-Christiandy Sanjaya). Kesimpulannya: (1) Cornelis-Christiandy melakukan pendekatan modern
dan tradisional; (2) Politik etnisitas Cornelis-Christiandy Sanjaya secara nonverbal melalui presentasi identitas
seperti atribut, pakaian, dan simbol-simbol lainnya termasuk tempat tinggal dan komposisi warna yang paling
dominan. Secara verbal melalui taktik presentasi asertif selama proses dialog dan debat berlangsung; (3) Cross
cutting affiliation Cornelis-Christiandy Sanjaya sangat berperan dan mendukung dalam perolehan suara dari para
pemilih di delapan Kota/Kabupaten, yaitu Landak, Sanggau, Sekadau, Melawi, Sintang, Singkawang, Kapuas Hulu,
dan Bengkayan
CITALINUABDI: UPAYA MEMBANGUN SISTEM INFORMASI DESA YANG BERMAKNA
Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) mengamanatkan pengembangan sistem informasi desa (SID) demi membuka akses informasi dari dan hingga tingkat desa, yang terhubung/berjaringan secara berjenjang dengan sistem pemerintahan di level nasional. SID diharapkan dapat mendorong kemajuan desa dengan mengoptimalisasikan potensi lokal. Warga Desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang dengan didampingi fasilitator dari tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Padjadjaran, memilih memanfaatkan platform blog yang tersedia gratis sebagai upaya persiapan dalam rangka memenuhi amanat UU Desa. Karakteristik warga Desa Citali yang terbuka sekaligus bangga pada identitas desanya tercermin dalam partisipasi aktif sejak proses inisiasi dan pemilihan judul domain yang merepresentasikan identitas mereka. Karakteristik ini pun mengejawantah pada proses perencanaan dan produksi konten SID citalinuabdi. Meski demikian, warga masih menghadapi berbagai kendala. Selain persoalan teknis dan SDM, produksi konten SID belum berjalan lancar sehingga belum mengoptimalisasi potensi lokal dan belum dapat menjawab kebutuhan riil warganya. Di lain pihak, potensi pemanfaatan SID ini akan bersinergi dengan upaya pemerintah untuk mendorong pembentukan dan pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai salah satu insitusi penggerak potensi ekonomi desa dan berada dalam payung hukum yang sama, yakni UU Desa. Untuk itu, perlu dilakukan upaya strategis dan sistematis untuk menjembatani idealita dan realita melalui kemitraan antar pemangku kepentingan yang berlangsung sinergis dan berkelanjutan
MEMBANGUN KECERDASAN INFORMASI DALAM PENEGUHAN KARAKTER BANGSA
Kemajuan teknologi seperti pedang bermata dua, di satu sisi menghadirkan kebaikan dan kemanfaatan
yang besar bagi bangsa, namun di sisi lain mengandung dampak negatif yang dapat mengancam kebudayaan
tradisional, kerugian, bahkan kebangkrutan moral bangsa. Untuk itu diperlukan upaya penyelamatan anak
bangsa dari “serangan” informasi dan media global, sehingga warga tetap memiliki karakter kebangsaan. Ruang
media informasi saat ini cenderung menjadi arena pertarungan di antara pemilik kekuatan ekonomi, politik
maupun budaya. Ketidakjelasan visi, misi, dan orientasi kebangsaan media mainstream menjauhkan media dari
terminologi pembangunan karakter bangsa. Karena itu, hubungan media dan karakter bangsa perlu dirumuskan
sesuai dengan kondisi jaman, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Proses nation building, state
building dan government building pada masyarakat majemuk, keberhasilannya ditentukan oleh peningkatan
kecerdasan informasi yang menjadi tanggungjawab bersama. Kajian ini menjelaskan perilaku bermedia di
masyarakat dan faktor-faktor yang melatarbelakangi daya dukung kecerdasan informasi; perlunya membangun
kecerdasan informasi (information quotient) untuk menjadi masyarakat informasi dan masyarakat terbuka
(information and open society); dan menyusun pemikiran strategis dalam membangun kecerdasan informasi
dengan pendekatan komunikas
IMPLEMENTASI TEORI PLANNED BEHAVIOUR DALAM PENGGUNAAN SIARAN PERS OLEH JURNALIS
Berdasar survei pendahuluan ditemukan bahwa penggunaan informasi siaran pers oleh jurnalis bervariasi
(2%-100%). Humas (Public Relation/PR) menjalin kedekatan dengan jurnalis untuk memaksimalkan distribusi informasi, tetapi jurnalis terikat dengan kode etik yang mengatur pekerjaannya. Penelitian ini ingin menjawab strategi apa yang bisa dilakukan PR untuk memaksimalkan publikasi informasi tanpa menyalahi aturan.
Berdasar pengujian implementasi teori Planned Behaviour karya Icek Ajzen ditemukan bahwa, sikap terhadap kualitas siaran pers berpengaruh kuat terhadap niat penggunaan siaran pers, dan akhirnya ikut mempengaruhi perilaku penggunaan siaran pers. Untuk memaksimalkan publikasi, PR dituntut untuk melihat kualitas siaran pers dari perspektif jurnalis
PERILAKU KOMUNIKASI POLITIK PEMILIH PEMULA DI PILKADA KABUPATEN BANDUNG
Perebutan kekuasaan melalui kegiatan pemilihan umum menjadi hal yang baru dalam sistem ketatanegaraan
Indonesia dengan diterapkannya sistem pemilihan langsung secara serentak di daerah. Pemilihan langsung di
daerah memberikan peluang strategis bagi masyarakat sebagai penentu dalam mengarahkan pembangunan
daerahnya di masa depan. Masyarakat memiliki daya tawar yang tinggi bagi seorang kandidat yang bertarung
di Pilkada, sehingga perilaku masyarakat berpolitik dalam Pilkada menjadi sangat penting untuk diperhatikan.
Pemilih pemula yang merupakan bagian dari masyarakat, memiliki perilaku komunikasi politik tersendiri dalam
menentukan pilihannya. Metode pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan jenis data
deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar pemilih pemula sangat terbuka terhadap perubahan secara
kultural, pendidikan, maupun teknologi yang disampaikan melalui media massa dan komunikasi antarpesona
sehingga memunculkan karakteristik pemilih pemula yang memilih pemimpin berdasarkan pertimbangan
rasional, psikologis, dan sosiologi