Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
499 research outputs found
Sort by
Perawatan Transposisi pada Maloklusi Kelas III Skeletal Disertai Crossbite dan Deepbite dengan Teknik Straight Wire (terhadap Insisivus Lateral dengan Caninus Regio Kiri Maksila)
Latar belakang. Perawatan transposisi gigi perlu mendapatkan perhatian khusus dikarenakan kompleksitas perawatannya, sehingga sebagian praktisi cenderung memilih pilihan yang lebih mudah dengan mencabut gigi yang transposisi. Tindakan ini memberikan efek yang irreversible dan dapat merugikan pasien. Tujuan. Memberikan informasi tentang perawatan kasus transposisi gigi unilateral gigi insisivus lateraldan caninus regio kiri maksila pada maloklusi kelas III skeletal crossbite dan deepbite dengan alat cekat sistem straight wire. Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 24 tahun, pekerjaan mahasiswa, datang ke klinik Orthodonsia FKG UGM. Pada pemeriksaan subjektif pasien merasa terganggu penampilannya diakibatkan gigi depan atas yang berjejal dan gigi bawah yang lebih maju daripada gigi atasnya. Diagnosis final adalah maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite disertai transposisi lengkap gigi ! 2 dan ! 3. Penanganan. Reposisi gigi ! 2 dan ! 3 dilakukan secara bertahap, disediakan ruangan terlebih dahulu dengan distalisasi gigi ! 3, diikuti dengan rotasi dan labialisasi gigi ! 2. Maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite dirawat dengan penggunaan peninggi gigitan posterior disertai retraksi regio anterior mandibula memanfaatkan ruangan yang ada. Kesimpulan. Perawatan transposisi gigi unilateral dari gigi insisivus lateral dan caninus pada regio kiri maksila kasus maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodontik cekat sistem straight wire dan meningkatkan estetik pasien. Pemilihan jenis perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan usia pasien yang masih muda, hasil perhitungan determinasi lengkung yang mendukung, tingkat kooperatifitas pasien yang baik., dan pasien mengharapkan perawatan dapat dilakukan tanpa intervensi bedah
Pengaruh Penambahan Fluor pada Resin Akrilik terhadap Kekerasan Basis Gigi Tiruan Sebagian
Latar Belakang. Penelitian ini adalah salah satu efek pemakaian gigi tiruan sebagian adalah mudah terjadinya karies pada gigi yang masih tinggal. Hal ini karena kecenderungan terbentuknya plak pada permukaan gigi dan abrasi karena klamer pada gigi penyangga. Usaha untuk mencegah karies gigi adalah melakukan tindakan fluoridasi. Macam fluor yang sering digunakan adalah sodium fluorida 2,27% (NaF2). Bahan yang sering digunakan untuk membuat plat dasar gigi tiruan sebagian adalah resin akrilik yang komponennya mengandung polimetil metakrilat. Tujuan. Penulisan ini untuk mengetahui fluoridasi melalui gigi tiruan yaitu dengan meneliti penambahan fluor pada resin akrilik terhadap sifat kekerasan basis gigi tiruan sebagian. Metoda. Subyek penelitian berupa 40 plat resin akrilik kuring panas dan kuring dingin yang dicampur dengan sodium fluorida (NaF2), ukuran 20 x 15 x 2,5 mm. Pencampuran sodium fluorida dan resin akrilik dengan perbandil'lgan 1 : 3. Pada kelompok 1 resin akrilik kuring panas dicampur dengan sodium fluorida, kelompok II akrilik resin kuring dingin dicampur dengan sodium fluorida, kelompok 3 resin akrilik kuring panas tanpa penambahan sodium fluorida, dan kelompok 4 resin akrilik kuring dingin tanpa penambahan fluor. Uji kekerasan dilakukan dengan menggunakan alat Micro Vickers Hardness Tester. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik anava 2 jalur. Hasil penelitian. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna kekerasan resin akrilik kuring panas dan resin akrilik kuring dingin (p 0,05). Kesimpulan. Penelitian ini adalah penambahan sodium fluorida pada resin akrilik kuring panas dan pada resin akrilik kuring dingin tidak mempengaruhi kekerasan basis gigi tiruan sebagian
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan pada Gigi Molar Pertama Kanan Mandibula Nekrosis Pulpa dengan Abses Periapikal dan Fistula
Latar belakang. Perawatan saluran akar satu kunjungan merupakan perawatan yang prosesnya diselesaikan dalam satu kunjungan. Hal ini memberikan keuntungan untuk memperkecil resiko kontaminasi bakteri dan mikroorganisme dalam saluran akar serta menghemat waktu perawatan. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini adalah untuk untuk menginformasikan hasil evaluasi perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi molar pertama kanan mandibula dengan abses periapikal dan fistula. Kasus. Pasien perempuan berusia 29 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM FKG UGM ingin merawat gigi bawah kanan yang berlubang. Berdasarkan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi molar pertama kanan mandibula nekrosis pulpa dengan abses periapikal dan fistula. Perawatan yang dilakukan perawatan saluran akar satu kunjungan, dilanjutkan dengan preparasi onlei PFM. Kesimpulan. Kasus gigi molar pertama kanan mandibula dengan abses periapikal dan fistula dapat dirawat dengan perawatan saluran akar satu kunjungan. Perawatan saluran akar dengan baik dan sempurna serta dengan pemilihan teknik, bahan-bahan irigasi dan obturasi yang tepat serta dikerjakan dengan asepsis akan meningkatkan keberhasilan perawatan
Gigi Tiruan Lengkap Duplikasi dengan Modifikasi Terbatas sebagai Pedoman Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap Cadangan
Latar belakang. Gigi Tiruan Lengkap (GTL) duplikasi adalah GTL kedua merupakan replika atau tiruan GTL pertama. GTL cadangan disiapkan untuk lanjut usia sebagai GTL pengganti jika GTL yang telah lama dipakai dengan memuaskan patah atau hilang. Untuk memudahkan adaptasi pasien terhadap GTL cadangan diperlukan GTL cadangan identik dengan GTL lama. GTL duplikasi dibuat untuk tujuan memindahkan kontur GTL lama ke GTL cadangan. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan cara melaksanakan perawatan penggantian GTL dengan GTL duplikasi sebagai pedoman membuat GTL cadangan. Kasus & penanganan. Pasien laki-Iaki berumur 72 tahun telah memakai GTL 7 tahun dengan memuaskan membutuhkan GTL cadangan. Pada pemeriksaan subjektif dan objektif, GTL mempunyai retensi dan stabilisasi kurang serta traumatik oklusi. GTL diduplikasi untuk dibuat GTL duplikasi sebagai pedoman. GTL duplikasi pedoman dimodifikasi terbatas yaitu dilakukan sedikit perubahan meliputi perbaikan perluasan tepi dan relining, selanjutnya dipakai sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan. DuplikasiGTL dengan teknik 2 sendok cetak dengan bahan tanam silikon. GTL duplikasi pedoman dengan bahan resin akrilik polimerisasi dingin warna gusi dan malam. Kesimpulan. GTL cadangan mempunyai retensi dan stabilisasi baik, oklusi seimbang. GTL cadangan langsung berhasil dipakai pasien. GTL duplikasi dengan modifikasi terbatas adalah desain yang memudahkan adaptasi pasien dan sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan
Perawatan Crossbite Posterior pada Maloklusi Angle Klas III dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg
Latar Belakang: Crossbite posterior merupakan hubungan abnormal dari gigi-gigi posterior secara bukolingual pada rahang atas atau bawah pada saat kedua lengkung gigi berada dalam oklusi sentrik yang dapat terjadi pada satu atau kedua sisi rahang. Posterior crossbite adalah maloklusi yang paling sering muncul pada masa gigi susu dan awal gigi bercampur. Tujuan Perawatan: mengoreksi crossbite posterior dan mengembalikan fungsi pengunyahan yang baik. Kasus: Perempuan 20 tahun dengan maloklusi Angle klas III disertai crossbite posterior kanan, crowding rahang atas dan bawah. Penanganan: menggunakan alat cekat teknik Begg dengan pencabutan gigi premolar I rahang atas kiri, kedua premolar I rahang bawah, cross elastik, toe-in, dan toe out digunakan untuk koreksi crossbite. Kesimpulan: Perawatan crossbite posterior dengan teknik Begg menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Prognatik mandibula berkurang, crossbite terkoreksi, overjet normal, overbite normal, dan fungsi pengunyahan menjadi lebih baik. Background: Posterior crossbite is defined as any abnormal bucal-lingual relations between posterior teeth of upper and lower jaw in centric occlusion which can occur in one side only or both. Posterior crossbite is one of the most prevalent malocclusion in primary and early mixed dentition. Purpose: to correct posterior and restore normal mastication. Case: 20 years old woman with Angle’s class II accompanied by posterior crossbite on the right side and crowding in anterior segment of upper and lower jaw. Management: using the Begg fixed appliance techniques with the extraction of upper left, and two lower first premolars. Cross elastic along with toe in and toe out on the main wire was used to correct posterior crossbite. Conclusion: Posterior crossbite treatment with Begg technique showed satisfactory results. Prognatism mandibula had reduced, regained normal overjet and overbite, and restored good mastication
Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dengan Inti-Pasak Tuang Logam pada Kasus Fraktur Mahkota-Akar Pulpa Terbuka
Latar belakang. Trauma yang mengakibatkan fraktur mahkota-akar dengan terbukanya pulpa masih dapat direstorasi, untuk menghindari pencabutan gigi. Pilihan perawatan tergantung pada hubungan fragmen fraktur yang tertinggal pada soket dengan crest alveolar, keterlibatan pulpa, tahap erupsi gigi dan pembentukan apeks serta kebutuhan estetik pasien. Tujuan. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk menunjukkan bahwa gigi yang mengalami fraktur mahkota-akar dengan terbukanya pulpa dapat dipertahankan dengan perawatan endo-restorasi menggunakan mahkota jaket porselin fusi metal (PFM) dengan retensi inti-pasak tuang logam. Kasus. Pasien wan ita berusia 22 tahun mengalami fraktur mahkota-akar dengan pulpa tertJuka pada gigi 12 karena terjatuh dari motor. Kasus ini dirawat dengan melakukan pulpektomi, gingivektomi pad a bagian palatal serta restorasi mahkota jaket PFM dengan retensi inti-pasak tuang logam. Kesimpulan. Trauma pada gigi yang menyebabkan fraktur mahkota-akar dengan terbukanya pulpa dapat dirawat dengan restorasi mahkota jaket PFM disertai retensi inti-pasak tuang logam, setelah sebelumnya dilakukan pulpektomi, sehingga gigi sberfungsi kembali secara optimal
Remodeling Tulang Alveolar untuk Reimplantasi dan Transplantasi Gigi Anterior pada Kehilangan Tulang Hebat Paska Trauma
Latar Belakang. Remodeling tulang alveolar berguna untuk memperbaiki kehilangan struktur jaringan pendukung gigi yang hebat pada reimplantasi dan transplantasi gigi anterior, supaya gigi anterior yang terlepas dari soketnya paska trauma dapat di implantasi. Bahan cangkok tulang untuk remodeling tulang alveolar yang digunakan berjenis demineralized freeze-dried bone allograft (DFDBA). Tujuan Penulisan Laporan Kasus. Melaporkan keberhasilan menanam gigi tetap ditempatnya dengan teknik remodeling tulang dengan penambahan DFDBA agar struktur jaringan pendukung gigi yang hilang kembali normal. Penatalaksanaan. Pasien paska trauma, dalam keadaan tidak sadar selama 7 hari di ruang rawat intensif dan dirawat selama 7 hari di bangsal. Pasien mengalami trauma dan kehilangan tulang penyangga gigi yang hebat, pada gigi anterior bawah. Tiga gigi anterior mengalami kegoyahan 4° dan dua gigi hilang. Hilangnya dua gigi mengakibatkan area edentulous besar, sehingga perlu di lakukan transplantasi satu gigi. Untuk memperkecil edentulous dilakukan penambahan lebar mahkota gigi menggunakan composite light curing. Setelah pencabutan gigi, semua gigi yang akan di implant dilakukan perawatan saluran akar gigi dan disterilkan. Flap operasi dilakukan untuk menata serpihan tulang dan menilai besarnya trauma, daerah luka dibersihkan dengan lIarutan salin. Splinting semua gigi yang akan di implant menggunakan arch bar dan kawat. Penambahan bahan cangkok tulang DFDBA pada daerah operasi. Menjahit daerah operasi ke korona gigi dan ditutup pack. Setelah 6 bulan operasi dua gigi tidak men gal ami kegoyahan, dua gigi lain mengalami kegoyahan 2°, 12 bulan tiga gigi tidak mengalami kegoyahan dan hanya satu gigi transplantasi yang mengalami kegoyahan 1°. Re-entry operasi dilakukan untuk remodeling tulang bertambah baik. Setelah 6 bulan paska re-entry operasi, gigi yang di transplantasi tidak mengalami kegoyahan. Sehingga splint dapat dilepas. Kesimpulan. Remodeling tulang pada teknik reimplantasi dan transplantasi gigi gigi disertai kehilangan tulang yang hebat dapat dilakukan paska trauma dengan penambahan bahan cangkok tulang - DFDBA, sehingga gigi anterior dapat berfugsi kembali mengunyah makanan
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan pada Nekrosis Pulpa Disertai Mahkota Porselin Fusi Metal dengan Pasak Fiber (terhadap Gigi Insisivus Pertama dan Kedua)
Perawatan saluran akar satu kunjungan dapat memperkeeH risiko kontaminasi bakteri dan mikroorganisme serta menghemat waktu perawatan. Restorasi gigi insisivus maksila pasea perawatan saluran akar harus mempertimbangkan sisa jaringan keras yang masih ada. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk untuk menginformasikan hasil restorasi gigi 21 dan gigi 22 yang nekrosis pulpa paska perawatan saluran akar satu kunjungan. Pasien perempuan 18 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM FKG UGM ingin merawat gigi depan atas yang berlubang dan warnanya hitam. Berdasarkan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi 21 dan gigi 22 nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Dilakukan perawatan saluran akar satu kunjungan, paska perawatan saluran akar gigi 21 dan gigi 22 direstorasi mahkotajaket porselin dengan pasak fiber. Hasil evaluasi klinis saat kontrol tidak ada keluhan rasa sakit gigi, warna gigi serasi dengan gigi tetangga dan pasien merasa puas
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Disertai Ekstrusi dan Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dengan Fraktur Ellis Kelas III Subgingiva (Pada Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila)
Latar Belakang dan Tujuan. Laporan kasus ini dibuat dengan tujuan untuk menginformasikan hasil perawatan saluran akar, ekstrusi gigi dan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal dengan penguat inti pasak tuang pada gigi insisivus sentralis kanan maksila yang mengalami fraktur Ellis klas III subgingiva dengan pulpitis irreversibel. Kasus dan Penanganannya. Pasien laki-Iaki umur 20 tahun mengalami fraktur Ellis klas III subgingiva akibat keeelakaan satu minggu sebelum periksa. Cara perawatan yang dilakukan adalah dengan melakukan perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi insisivus kanan atas maksila. Setelah dilakukan kontrol pasea perawatan saluran akar dan menunjukkan tanda-tanda menuju kesembuhan, dilakukan ekstrusi. Ekstrusi dilakukan dengan terlebih dahulu mengambil sebagian guta perea disaluran akar untuk meletakkan kawat dengan coi/ di ujungnya. Selanjutnya bracket dan insisal bar dipasang pada 5 gigi anterior dan dihubungkan dengan kawat dengan coil diujungnya yang telah disementasikan dalam saluran akar dengan semen ionomer kaea tipe I. Setelah gigi terekstrusi, dan melewati periode stabilisasi selama 1 bulan dengan tidak terjadi relaps, perawatan dilanjutkan dengan preparasi pembuatan inti pasak tuang dan dilanjutkan dengan pembuatan mahkota jaket porselin fusi metal. Hasil. Hasil perawatan ini menunjukkan ekstrusi telah tereapai dalam waktu 1 bulan dan perawatan dilanjutkan dengan pembuatan inti pasak tuang dan mahkota jaket porselin fusi metal warna A2 (vitapan) dengan kontur, embrasur dibuat ideal, area kontak proksimal pada bagian sepertiga insisal. Kesimpulan. Perawatan saluran akar satu kunjungan disertai ekstrusi dan mahkota jaket porselin fusi metal efektif untuk menangani kasus gigi insisivus sentralis kanan maksila dengan fraktur Ellis Kelas III subgingiva
Mixoma Odontogenik: Tinjauan Klinis dan Penatalaksanaanya
Pendahuluan Mixoma pada mulut adalah lesi yang jarang, tumbuh lambat, suatu masa submukosa yang asimtomatik, lebih sering terjadi pada mandibula. Mixoma bisa mengenai laki-Iaki maupun wanita pada semua umur.Tujuan perawatan mixoma pada mulut, seperti mixoma pada jaringan tubuh lain adalah eksisi bedah. Semua mixoma adalah jinak dan hanya memerlukan terapi konservatif. Gambaran klinis mixoma pada mulut tidak berkapsul dan menunjukan infiltrasi ke jaringan sekitarnya. Secara histology mixoma berisi material gelatin. Seeara radiologi berupa lesi lusen, seringnya multilokuler atau seperti gambaran sarang Mixoma lebah, dengan batas tidak jelas. Rekurensi kadang kala terjadi. Laporan kasus seorang lelaki 24 tahun datang ke Klinik Bedah Mulut & Maksilofasial, RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Dia mengeluh adanya benjolan pada pipi kanan sekitar 3 tahun yang lalu, tidak sakit. Pemeriksaan klinik menunjukan suatu pembengkakan, 9 x 9 x 7 em, konsistensi kenyal, warna sama dengan jaringan sekitarnya. Prognosa dubia ad bonam. Hasil Pasien menjalani operasi hemimandibulektomi dan pemasangan pelat rekonstruksi mandibula di bawah anastesi umum. Hasil patologi anatomi pasea operasi menunjukan mixoma odontogenik