Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
    499 research outputs found

    Prediksi Risiko Karies Baru Berdasarkan Konsumsi Pempek pada Anak Usia 1112 Tahun Di Palembang (Tinjauan dengan Cariogram)

    No full text
    Penyakit rongga mulut yang sering diderita anak adalah karies gigi. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan prevalensi karies gigi anak di Palembang sebesar 92,43%. Pempek makanan khas jenis karbohidrat lengket yang dimakan bersama kuahnya (cuko), kebiasaan anak di Palembang mengkonsumsi pempek lebih dari 2 kali sehari. Frekuensi konsumsi karbohidrat yang sering berakibat karies gigi. Kebiasaan anak di Palembang mengkonsumsi pempek merupakan faktor risiko terjadinya karies gigi. Risiko karies gigi perlu diketahui untuk melihat kisaran karies baru yang dapat terjadi. Penelitian ini bertujuan memprediksi risiko terjadinya karies baru berdasarkan frekuensi konsumsi pempek di Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan tekhnik cluster, subjek penelitian sebanyak 305 anak dari 52 SD di Palembang. Pengukuran prediksi risiko karies menggunakan cariogram dengan cara mengumpulkan data survei diet frekuensi konsumsi secara keseluruhan dan frekuensi konsumsi pempek, DMF-T, kapasitas buffer, sekresi saliva, plak skor, program fluor dan penyakit umum. Hasil penelitian menunjukkan prediksi risiko karies anak usia 11-12 tahun di Palembang 65,72% (kategori tinggi) kontribusi pempek 45,83% dari total konsumsi makan keseluruhan. Peluang menghindari karies sebesar 34,28%. Urutan penyebab risiko karies adalah kerentanan (31,0%), pola makan (17,36%), bakteri (8,91%) dan keadaan lain yang berpengaruh (5,35%). Kesimpulan penelitian, prediksi risiko terjadinya karies baru pada anak usia 11-12 tahun di Palembang termasuk kategori tinggi, pempek menyumbang 45,83% dari total konsumsi keseluruhan. Urutan prediksi risiko karies anak usia 11-12 tahun di Palembang, kerentanan, pola makan, bakteri dan faktor lain yang berpengaruh.  Prediction of The Risk Of New Caries Base on Pempek Consumption on Children Age 11-12 Years Old In Palembang. The oral cavity disease often suffered by children is dental caries. The previous research suggested that the prevalence of dental caries in Palembang was 92.43%. Pempek is a typical type of carbohydrate food which is eaten together with its gravy (namely cuko). Children in Palembang usually consume the food more than twice a day. The high of frequently consumption of carbohydrate often can effect in dental caries. The risk of dental caries is necessary to investigate to predict the new caries incidence. This research is aimed at predicting the risk of new caries incidence based on the consumption frequency of pempek in Palembang. This research (study) used quantitative observational method with cross sectional design and cluster sampling technique. The subject study included 305 children selected from 52 elementary schools in Palembang. Cariogram model was applied to assess the prediction of the risk of caries by collecting data on diet survey, the overall frequency of pempek consumption, DMF-T, buffer capacity, secretion of saliva, plaque score, fluor program, and common diseases. The results showed that the risk of caries incidence in Palembang was 65.72% (high) while contribution of pempek was 45.83% out of the total food consumption. The chance of avoiding caries was 34.28%. Meanwhile, the influential factors in dental caries were susceptibility (31.0%), diet (17.36%), bacteria (8.91%), and other influential factors (5.35%). This study suggested that the risk of new caries incidence in Palembang was categorized as high.Pempek contributed 45.83% of the overall food consumption. The sequence of factors influencing the risk of caries incidence in Palembang was susceptibility, diet pattern, bacteria, and other influential factors

    Efek Pemberian Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Barbadensis Miller) pada Soket Gigi terhadap Kepadatan Serabut Kolagen Pasca Ekstraksi Gigi Marmut (Cavia Porcellus)

    No full text
    Tindakan ekstraksi gigi menyebabkan terjadinya luka sehingga akan melibatkan proses penyembuhan luka pada jaringan. Salah satu tahap penting dari proses penyembuhan luka pasca esktraksi gigi adalah terbentuknya serabut kolagen. Lidah buaya (Aloe barbadensis Miller) mengandung saponin, vitamin C dan acemannan yang diduga membantuproses pembentukan serabut kolagen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak lidah buaya terhadap kepadatan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi marmut (Cavia porcellus). Lidah buaya yang digunakan berasal dari Sleman, Yogyakarta. Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi dan pelarut air. Selanjutnya, dua puluh tujuh ekor marmut dibagi ke dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan terdiri dari kelompok ekstrak lidah buaya 45% dan 90%. Ekstrak lidah buaya sebanyak 0,05ml diteteskan kedalam soket gigi marmut pasca ekstraksi gigi pada kelompok perlakuan. Soket gigi marmut kelompok kontrol tidak diberi aplikasi zat aktif apapun. Tiga ekor subjek dari masing-masing kelompok dikorbankan pada hari ke-3, 7, dan 14 setelah ekstraksi gigi. Preparat histologis kepadatan kolagen soket gigi marmut diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya perbesaran 400x. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkandengan uji Post Hoc menggunakan uji Mann-Whitney untuk membandingkan kepadatan kolagen antar kelompok pasca ekstraksi gigi marmut. Hasil uji statistik antar kelompok menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya 90% berpengaruh pada pembentukan serabut kolagen jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05) pada hari ke-7 pasca ekstraksi gigi marmut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak lidah buaya 90% dapat membantu meningkatkan kepadatan serabut kolagen soket gigi hari ke-7 pasca ekstraksi gigi marmut. The Effect of Aloe Barbadensis Miller Extract to The Density of Collagen Fibers in The Wound Healing Process after Tooth Extraction of Guinea Pig (Cavia porcellus). Tooth extraction causes wound that would involve wound healing process on tissue. One of the important stages of wound healing process after dental extraction is the formation of collagen fibers. Aloe barbadensis Miller contains saponins, vitamin C and ace mannan that allegedly assist the process of collagen fibers formation. The purpose of this study was to determine the effect of Aloe barbadensis Miller extract to the density of collagen fibers in the wound healing process after tooth extraction of guinea pig (Caviaporcellus). Aloe vera is used in this study came from Sleman, Yogyakarta. Extract is made with maceration method and water as the solvent. Furthermore, twenty-seven guinea pigs were divided into a control group and treatment groups. The treatment groups consisted 45% Aloe barbadensis Miller extract group and 90% Aloe barbadensis Miller extractgroup. Aloe barbadensis Miller extract as much as 0.05 ml dropped into guinea pigs tooth sockets after tooth extraction in the treatment groups. Guinea pig’s tooth socket of the control group was not given any active substance. Three guinea pigs of each group were sacrificed on day 3, 7, and 14 after tooth extraction. Histology preparations of guinea pig teethsockets density of collagen were observed using light microscope 400x magnification. Analyzing data is done by Kruskal-Wallis test followed by Post Hoc test using the Mann-Whitney test for comparing collagen density between groups. Statistically results between groups showed that the extract of 90% Aloe barbadensis Miller affected the formation of collagen fibers when compared to the control group (p <0.05) on day 7 after tooth extraction of guinea pig. The conclusion of this study was 90% Aloe barbadensis Miller extract increased the density of collagen fibers from the tooth socket seven days after tooth extraction of guinea pig

    Perawatan Maloklusi Angle Klas II Divisi 1 Menggunakan Bionator Myofungsional

    No full text
    Maloklusi Angle klas II divisi 1 mempunyai ciri tonjol mesiobukal molar pertama atas beroklusi dengan interdental premolar kedua  dan molar pertama bawah, jarak gigit yang besar, lengkung gigi sempit dan profil cembung. Bionator pertama kali diperkenalkan oleh Balter dan merupakan alat ortodontik myofungsional yang digunakan untuk merawat diskrepansi rahang. Tujuan pemaparan kasus adalah menyajikan kemajuan kasus maloklusi Angle Klas II divisi 1 disertai diskrepansi rahang menggunakan alat myofunctional bionator. Seorang perempuan berusia 13 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju. Diagnosis pasien maloklusi Angle klas II divisi 1, hubungan skeletal klas II dengan protrusif maksila dan retrusif mandibula, protrusif insisivus atas disertai palatal bite, cross bite posterior, jarak gigit 11 mm, tumpang gigit 5,25 mm, SNA 84°, SNB 76°. Pasien dirawat menggunakan alat myofungsional bionator. Hasil perawatan setelah satu tahun overjet menjadi 6,25 mm dan SNB 78°. Kesimpulannya adalah alat myofungsional bionator efektif untuk merawat maloklusi Angle Klas II divisi 1 yang disertai diskrepansi rahang.Class II division 1 Angle Malocclussion Treatment  Using  Myofunctional  Bionator. Malocclusion Angle Class II division I is characterized by the upper mesio-buccal cups first permanent molars occludes in interdental second bicuspid and lower first molar permanent, increased overjet, narrow arch form, and convex profile. Bionator originally developed by Balter and used to treat jaw discrepancy. The goal of this case is to present the progress of myofunctional bionator appliance in treating malocclusion Class II division 1 with jaw discrepancies. A Female 13 years old complained protrusive anterior teeth. Diagnosis is malocclusion Angle Class II division I, class II skeletal relationship with maxilla protrusive, mandible retrusive, protrusive upper incisor, palatal bite, posterior cross bite, overjet 11 mm, overbite 5,25 mm SNA 84°, SNB 76°. Myofunctional bionator appliance used to treat the patient. Result after one year treatment, overjet reduce to 6,25 mm dan SNB 78°. The Conclusion is Myofunctional Bionator appliance effective to treat malocclusion Anlge Klas II division I with jaw discrepancies

    Pengaruh Lama Perendaman dan Jenis Minuman Beralkohol Bir dan Tuak terhadap Kekerasan Email Gigi Manusia (In Vitro)

    No full text
    Erosi gigi merupakan hilangnya lapisan email gigi karena asam. Jenis asam, pH rendah, serta kandungan kalsium, fosfat, dan fluoride pada bir dan tuak diduga merupakan faktor kimiawi penyebab erosi gigi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dan jenis minuman beralkohol bir dan tuak terhadap kekerasan email gigi manusia (in vitro). Penelitian ini menggunakan 14 sampel gigi premolar pertama atas. Setiap gigi dibagi menjadi 2 bagian, bukal dan palatal. kemudian dibagi menjadi 7 kelompok perlakuan, yaitu kelompok (A1) perendaman dalam bir (ringan); (A2) kelompok perendaman dalam bir sedang; kelompok (A3) perendaman dalam bir berat, kelompok (B1): perendaman dalam tuak ringan, (B2): perendaman dalam tuak sedang, (B3): perendaman dalam tuak berat dan kelompok kontrol (C). Uji kekerasan email gigi dilakukan menggunakan Micro Vickers Hardness Tester. Pengujian kekerasan awal email gigi dilakukan sebelum perendaman gigi. Perendaman gigi premolar pertama atas pada bir dan tuak dilakukan selama 10 detik, 50 detik, dan 250 detik perhari dengan penyimpanan subjek penelitian pada saliva buatan. Uji kekerasan akhir email gigi dilakukan setelah perlakuan selama 30 hari. Nilai perubahan kekerasan email gigi merupakan selisih nilai kekerasan akhir dan nilai kekerasan awal email gigi. Sebagai tambahan data, pada bir dan tuak juga diukur kandungan pH, kalsium, dan fosfor. Data dianalisis menggunakan uji ANAVA dua jalur dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil analisis ANAVA dua jalur menujukkan bahwa jenis minuman dan lama perendaman berpengaruh bermakna terhadap kekerasan email gigi (p<0,05). Hasil uji LSD menunjukkan adanya perbedaan rerata yang signifikan (p<0,05) antar kelompok uji bir dan tuak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh jenis minuman beralkohol bir dan tuak dan lama perendaman terhadap kekerasan email gigi manusia (in vitro).The Effect Of Contact Time And Alcohol Beverages Beer And Tuak On Human Dental Enamel Hardness (In Vitro). Dental erosion is the loss of dental hard tissue, associated with acid. Acid type, low pH, and concentration of calcium, phosphate, and fluoride are being estimated as chemical factors of dental erosion. The purpose of this study was to determine the effect of contact time and alcohol beverages beer and tuak on human dental enamel hardness (in vitro).This study was using 14 samples maxillary first premolar. Each tooth was divided into two parts, buccal and palatal. Then divided into 7 treatment groups, i.e. groups of light beer “drinkers” (A1), moderate beer “drinkers” group (A2), heavy beer “drinker” group (A3), light tuak “drinker” group (B1), moderate tuak “drinkers” group (B2), the group “drinkers” heavy tuak (B3) and control group (C). Enamel hardness values were monitored using Micro Vickers Hardness Tester. Initial enamel hardness value was tested before the treatment. Maxilla first premolar teeth were exposed to beer and tuak for 10 seconds, 50 seconds, and 250 seconds per day for 30 days in the presence of artificial saliva. Final enamel hardness value was monitored after 30 days of treatment. Enamel hardness difference values were calculated by subtracting initial and final enamel hardness value. As supporting data, It was measured pH and concentration of calcium and phosphor in beer and tuak. Data was being analyzed by two-way ANOVA and LSD test. Results showed that contact time and alcohol beverage beer and tuak had a significant influence to enamel hardness value (p<0.05). LSD test showed that some groups had significant average difference (p<0.05). It was concluded that contact time and type of alcohol beverages beer and tuak had effect on human dental enamel hardness (in vitro)

    Implant Gigi One-Piece vs Two-Pieces dalam Praktek Sehari-Hari

    No full text
    Saat ini, implant merupakan pilihan terbaik untuk menggantikan gigi yang tanggal, akan tetapi prosedur pemasangannya terbilang rumit dan memerlukan prosedur bedah kedua untuk pemasangan prostetik. Beberapa komplikasi seperti screw patah atau longgar dan adanya celah mikro pada batas pertemuan implant dan abutment dapat menyebabkan kegagalan implant. Studi kasus ini bertujuan untuk membahas mengenai keuntungan dan kerugian desain implant gigi one-piece dan two-pieces. Kasus pertama, seorang wanita berusia 43 tahun datang untuk mendapatkan perawatan implant pada region 16. Ketinggian tulang alveolar yang tersedia adalah 5 mm. Prosedur pengangkatan dasar sinus transalveolar dilakukan dengan pemberian allograft sebanyak 0,5 cc dilanjutkan dengan pemasangan implant gigi one-piece sepanjang 12 mm. Kasus kedua, seorang wanita 24 tahun datang untuk mendapatkan perawatan implant pada regio 46. Ketinggian tulang alveolar yang tersedia adalah 12 mm, kemudian dilakukan pemasangan implant gigi two-pieces sepanjang 10 mm. Implant gigi one-piece menawarkan berbagai keunggulan yaitu: hanya diperlukan sekaliprosedur bedah dan prosedur prostetik lebih sederhana. Desain ini juga meniadakan celah mikro pada perbatasan implant dan abutment. Desain implant gigi one-piece memiliki keterbatasan pada pilihan prosedur prostetik apabila dibandingkan dengan desain implant gigi two-pieces. One-Piece Versus Two-pieces Tooth Implant In Daily Practice. Implant had been a gold standard to replace missing tooth. However, implant marketed today was considered complex, and needs a second surgery. Complications may occur such as screw loosening or fracture and the presence of micro gap at implant-abutment-junction that is found causing fixture failure. The one-piece-implant design may offer some advantages. Purpose: this paper was aimed to discuss the pros and cons of one-piece-implants and two-piece-implants. Case 1 A 43-year-old woman came to place an implant on #16. The available bone height was 5 mm. A trans alveolar sinus lift procedure was performed with 0,5 cc allograft. A 12 mm one-piece-implant was inserted. Case 2 A 24-year-old woman came to place an implant on #46. The available bone height was 12 mm and a 10 mm two-piece-implant was inserted. Discussion: One-piece-implant offers some advantage. It needs no second surgery, easier placement protocol, and more natural prosthetic procedures. The design is preventing the failure in implant-abutment-junction failure. The absence of micro gap in one-piece-implant seems superior in preventing crestal bone resorption. However, the prosthetic option was limited in one-piece-implant. Two-piece-implant offers more choices in prosthetic abutment. Conclusion: One-piece-implant was easier and provide simple protocol with limited choice on prosthetic

    Perawatan Gigitan Terbuka Anteroposterior Tipe Skeletal dengan Teknik Straightwire

    No full text
    Gigitan terbuka merupakan maloklusi yang bercirikan tidak terdapatnya tutup menutup gigi rahang atas dan bawah, dapat terjadi pada regio anterior maupun posterior dan dapat melibatkan dental maupun skeletal. Maloklusi ini memerlukan ketelitian dalam penentuan diagnosis dan perawatan untuk mendapatkan hasil perawatan yang baik dan kestabilan jangka panjang. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk menginformasikan manajemen pasien dengan gigitan terbuka tipe skeletal. Pasien pria berumur 19 tahun datang ke Klinik Ortodonsia FKG UGM dengan keluhan utama gigi depan yang tidak rata dan tidak dapat digunakan untuk menggigit. Pemeriksaan klinis menunjukkan pasien memiliki kebiasaan menelan dengan menjulurkan lidah. Pemeriksaan model studi menunjukkan maloklusi Angle kelas I dengan gigitan terbuka anterior dari regio premolar kedua kanan ke kiri sebesar 10,7 mm disertai malposisi gigi individual dan pergeseran garis tengah rahang bawah ke kiri. Pemeriksaan sefalometri menunjukkan relasi skeletal kelas II dengan retrusif bimaksila, rotasi mandibula searah jarum jam dan gigitan terbuka skeletal. Pasien menolak tindakan bedah ortognatik sehingga dilakukan perawatan ortodontik kamuflase. Perawatan diawali dengan latihan miofungsional untuk melatih cara penelanan yang benar dilanjutkan dengan perawatan ortodontik teknik straightwire dengan pencabutan empat gigi molar pertama. Penutupan gigitan terbuka menggunakan elastic box anterior. Hasil evaluasi menunjukkanpengurangan besar gigitan terbuka dari 10,7 mm menjadi 1,25 mm. Kesimpulannya elastic box anterior dapat digunakan untuk mengoreksi gigitan terbuka yang etiologinya melibatkan intrusi gigi anterior.  Skeletal Anteroposterior Open Bite Treatment with Straight Wire Technique. Open bite is a malocclusion with characteristic no overlapping between maxillar and mandibular teeth. This malocclusion may occur in anterior or posterior region and involved dental or skeletal. This malocclusion needed precise diagnosis and treatment to get a good treatment result and long term stability. The aim of this case report was to inform management of patient with skeletal open bite. A 19 years old male came to orthodontic clinic Faculty of Dentistry Gadjah Mada University with the chief complaint anterior crowding, and anterior teeth cannot be used to bite. Clinical finding showed patient had tongue thrusting habit. Study model analysis showed class I Angle malocclusion with 10.7 mm anterior open bite from right second premolar to left second premolar, with individual teeth malposition and mandibular midline shifting to the left. Cephalometric finding showed class II skeletal relationship with bimaxillar retrusive, clockwise mandibular rotation and skeletal open bite. This patient refused orthognatic surgery, so he received camouflage orthodontic treatment. This treatment was started with monofunctional exercise to correct the swallowing action then continued with straight wire orthodontic treatment with four first molar extractions. Anterior box elastic was used to close the bite. Evaluation result showed open bite was decreased from 10.7 mm to 1.25 mm. The conclusion was anterior box elastic could be used in open bite correction that involved anterior teeth intrusion as an etiology

    Perawatan Maloklusi Angle Kelas I disertai Impaksi Kaninus Maksila Menggunakan Alat Cekat Begg

    No full text
    Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang. Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus maksila adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan ortodontik untuk membantu erupsi dengan alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien laki-laki, 19 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan kiri rahang atas dan gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas I, deep overbite, overjet 3 mm dan overbite 8,8 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan tanpa pencabutan. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan kiri atas yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. Dalam waktu 14 bulan,overbite terkoreksi, gigi kaninus kanan kiri atas sudah erupsi, overjet 3,00 mm, overbite 3,00 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap leveling dan unraveling untuk koreksi kaninus yang impaksi. Perawatan maloklusi angle klas I dengan berjejal dan impaksi kaninus maksila dapat dilakukan dengan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat Begg. Orthodontic Treatment of Class I Malocclussion with Canine Impaction Using Begg Fixed Appliance. Canine is very important for aesthetic and masticatory function. Impaction refers to a failure of tooth to presence into the dental arch, usually due to either space deficiencies, the presence of an entity blocking the path of tooth eruption or due to hereditary factors. Prevalence of maxillary canines impaction is 0.9 to 2.2%, while the mandibular canine impaction is less common. Alternative dental care is impacted maxillary canine exposure surgery and followed by orthodontic force for help the eruption with fixed orthodontic appliance. The goal of treatment is to correct malrelation and malposition of teeth. Patient man, 19 years old, very crowded teeth, maxillary right and left canine and mandibular right canine impaction, Angle Class I, deep overbite, 3 mm overjet and overbite 8,8 mm. Treatments performed using Begg fixed appliances without extraction. Exposure surgery is done under the right and left maxillary canine impaction followed orthodontic bracket bonding. Multiloop arch wire, bend and elastic anchorage intermaksiler class II used at the stage of leveling and unraveling. Within 14 months, overbite was corrected, maxillaryr right and left canine eruption, Angle Class I canine relationship, 3.00 mm overjet, 3,00 mm overbite. Current treatment is still ongoing at leveling and unraveling stage. Treatment angle malocclusion class I with maxillary canine impaction can be done by exposure surgery followed by Begg fixed appliances

    Perawatan Pergeseran Mandibula dan Kliking Menggunakan Teknik Edgewise dan Trainer

    No full text
    Kasus ini terjadi pada perempuan usia 22 tahun yang bersedia dipublikasikan untuk kepentingan  ilmu pengetahuan. Keluhan utama mandibula dan dagunya bergeser ke kanan, gigitan terbuka posterior dan bunyi click di persendian temporomandibular. Diagnosis pasien adalah maloklusi Angle kelas III tipe dento skeletal, pergeseran garis tengah mandibula dan dagu ke kanan, gigitan terbuka posterior dan clicking pada sendi temporomandibular. Perawatan dilakukan dengan teknik Edgewise dan trainer. Leveling dan unraveling dilakukan menggunakan kawat stainless steel bulat diameter 0,014 mm dengan multiloop. Trainer digunakan untuk koreksi pergeseran mandibula. Perawatan dilakukan selama 11 bulan, dan menunjukkan hasil hubungan molar pertama kanan menjadi kelas I. Overjet meningkat dari 0,1 mm menjadi 2 mm, overbite meningkat dari 0,2 mm menjadi 2,57 mm, garis tengah mandibula yang semula bergeser ke kanan 4,38 mm menjadi 2,53 mm, gigitan terbuka posterior dan clicking telah terkoreksi.Compromised Treatment of Class III Malocclusion with Mandibular Shifting, Posterior Openbite and Clicking Using Edgewise Technique and Trainer In Adult. This case report described the treatment of an adult female 22 years old who complained that her mandibula and chin shift to the right, posterior openbite and clicking. The patient diagnosed class III molar relationship, skeletal class III malocclusion, mandibular midline and chin shift to the right, posterior openbite and clicking on temporomandibular joint. Treatment was conducted using combination between  Edgewise Technique and trainer.  Leveling and unraveling are achieved by round stainless steel archwire 0,014 mm with multiloop. Trainer used to corrected the mandibular shifting. Result after 1 years treatment showed that the right molar relationship became class I, overjet increased  from 0,1 mm to 2 mm, overbite increased  from 0,2 mm to 2,57 mm, mandibular midline shifting decresed from 4,38 mm to 2,53 mm,  posterior openbite and clicking have been corrected

    Root Canal Retreatment menggunakan Kombinasi Kalsium Hidroksida dan Chlorhexidine sebagai Medikamen Intra Kanal Insisivus Sentral Kiri Maksila

    No full text
    Enterococcus faecalis adalah bakteri yang paling banyak terdapat pada infeksi saluran akar yang telah dirawat endodontik. Chlorhexidine mempunyai daya anti bakteri spektrum luas dan telah digunakan dalam endodontik sebagai bahan irigasi maupun medikasi intrakanal. Chlorhexidine mempunyai efek bakterisidal dan fungisidal karena chlorhexidine diserap ke dalam permukaan sel bakteri dan menyebabkan rusaknya integritas sel membran. Kalsium hidroksida digunakan karena mempunyai keuntungan seperti biokompatibel, bahan antimikroba dengan efek pH yang tinggi dan stimulasi jaringan keras. Campuran kalsium hidroksida dan chlorhexidine digunakan untuk alternatif melawan bakteri Enterococcus faecalis. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk melaporkan kesuksesan perawatan saluran akar ulang pada gigi incisivus sentral kiri maksila dengan periodontitis periapikal akut menggunakan kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine sebagai medikamen intrakanal. Seorang pasien wanita 24 tahun datang dengan keluhan gigi insisivus sentral kiri atas yang terasa sakit sejak 4 tahun yang lalu. Gigi terasa sakit saat diperkusi, namun palpasi dan mobilitas normal. Gigi tersebut mengalami trauma dan patah 6 tahun yang lalu dan telah dilakukan perawatan endodontik. Pemeriksaan radiografi menunjukkan obturasi gigi 21 yang tidak hermetis dengan radiolusensi di periapikal dengan batas difus, pelebaran ligamen periodontal dan terputusnya lamina dura. Perawatan berupa perawatan saluran akar ulang menggunakan kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine sebagai medikamen intrakanal. Root canalretreatment dengan cleaning dan shaping ulang yang baik dengan menggunakan medikasi intrakanal berupa kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine 2% diharapkan mempunyai efek antimikroba yang sinergis untuk mencapai kesuksesan root canal retreatment. Root Canal Retreatment Using Calcium Hydroxide as Intra Canal Medicament On The Maxillary Left Incisor. Enterococcus faecalis bacteria is most abundant in the root canal infection treated endodontically. Chlorhexidine has a broad antibacterial spectrum and has been used as an endodontic irrigant and intracanal medication. Chlorhexidine has a bactericidal and fungicidal effect as chlorhexidine absorbed into the bacterial cell surface and cause damage to the integrity of the cell membrane. Calcium hydroxide is a biocompatible, antimicrobial agents with high pH effects and stimulates hard tissue formation. A mixture of calcium hydroxide and chlorhexidine is used to control bacteria Enterococcus faecalis alternative. The purpose of this case report is to report on the success of root canal treatment in the left maxillary central incisor with acute periapical periodontitis using a combination of calcium hydroxide and chlorhexidine as intracanal A 24 years old female patient presents with left upper central incisor tooth ache since 4 years ago. The tooth was hurt to percussion, but normal to pulpation as well as the mobility. The tooth has a history of previous trauma and broken 6 years ago and has performed endodontic treatment. Radiographic examination showed obturation teeth 21 are not hermetic with periapical radiolucency in diffuse boundaries, widening of the periodontal ligament and the dissolution of the lamina dura. Root canal re-treatment using a combination of calcium hydroxide and chlorhexidine as intracanal medicaments were performed. In conclussion, the root canal cleaning and shaping retreatment can be performed using a combination of calcium hydroxide and chlorhexidine as intracanal medication

    Efektivitas Busur Multiloop Edgewise Pada Kasus Crowding Berat Disertai Palatal Bite

    No full text
    Mekanisme perawatan dengan Multiloop Edge Wise (MEAW) efisien dalam melakukan koreksi maloklusi berat dengan defleksi tekanan yang sangat rendah. Tujuan pemaparan kasus adalah evaluasi perawatan crowding berat disertai palatal bite menggunakan multiloop edgewise archwire. Seorang laki laki 15 tahun dengan maloklusi Angle kelas I tipe 1,4, skeletal kelas I dengan bimaksilari retrusif disertai bidental protrusif. Crowding berat pada regio anterior dan posterior serta palatal bite pada gigi 12, 11, 21, 22 terhadap 42, 41, 31, 32, scissor bite pada gigi 15 terhadap 45, overjet 6,21 mm dan overbite 6,04 mm. Bentuk lengkung gigi pada rahang atas parabola asimetri sedang pada rahang bawahomega asimetri. Lengkung gigi regio posterior mengalami kontraksi lateral dan lengkung gigi kearah anterior mengalami protraksi. Perawatan kasus dilakukan dengan menggunakan alat cekat teknik Edgewise dengan multiloop pada regio anterior dan posterior disertai pencabutan empat gigi premolar pertama. Hasil perawatan setelah 6 bulan menunjukkan crowding, palatal bite, dan scissor bite terkoreksi. Overjet menjadi 4,20 mm dan overbite 3,90 mm. Bentuk lengkung pada rahang atas dan rahang bawah menjadi parabola simetris. Jarak intermolar rahang atas bertambah sebesar 2,11 mm dan rahang bawah bertambah sebesar 1,22 mm. Effectiveness of multiloop edge wise arch in severe crowded case accompanied by palatal bite. MEAW appliance is a tehnique which is able to efficiently treat many cases including severe crowding with very low load deflection. The objectives of this study is to evaluate the treatment of severe crowding malocclusion with palatal bite using multiloop edgewise archwire. A 15 years old man with Angle class I type 1,4 malocclussion, class I sceletal with bimaxillary retrusion and bidental protusion. Severe crowding malocclusion in anterior and posterior region, palatal bite in 12, 11, 21, 22 to 42, 41, 31, 32, scissor bite in 15 to 45, overjet 6,21 mm and overbite 6,04 mm. asymmetry in both of dental arch, but the shape of the upper arch was parabola and lower arch was omega. Contraction of dental arch in posterior region and protraction in anterior region. This case was treated with extraction of four first premolar using multiloop edgewise arcwire tehnique, the loops were placed in anterior and posterior region. After six month of treatment the result showed that MEAW could correct severe crowding, palatal bite and scissor bite. Overjet became 4,20 mm and overbite became 3,90 mm. Shape of upper and lower dental arch became symmetric parabola. Upper intermolar increased 2,11 mm and lower intermolar 1,22 mm

    0

    full texts

    499

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇