Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
    499 research outputs found

    Efek antigenotoksik ekstrak etanolik daun sirsak (Annona muricata Linn) terhadap frekuensi mikronukleus mukosa bukal tikus Sprague Dawley

    No full text
    The effect of soursop leaves (Annona uricata linn) ethanolic extract on micronucleus frequency  of buccal mucosa epithelium of Sprague dawley rats. Polycyclic aromatic hydrocarbons is one of the largest  groups of carcinogen in environment. 7,12-Dimetillbez (α) antransena is a compound of PAH class that has genotoxic carcinogen potency. One of the most frequently applied genotoxicity tests is micronucleus test. Soursop is a plant that can grow well in Indonesia. Its leaves contain avonoid and acetogenin assumed to have potential chemopreventive and anticancer activities. The aim of this study was to assess the antigenotoxic effect soursop leaves ethanolic extraction the micronucleus frequency of DMBA-induced buccal mucosa of rat. This research was conducted on 24 male Sprague Dawley rats aged 5 weeks and divided into six groups. Carcinogenesis on the lingual dorsum of group I-III were induced by DMBA topically 3 times a week for 16 weeks, group II and III were not only induced by carcinogenesis, but also were given soursop leaves ethanolic extract of 100 and 200 mg/kg body weight for 18 weeks, group IV was given soursop leaves ethanolic extract 200 mg/kg body weight, group V was given DMSO 1% and group VI was given no treatment. After 18th week, buccal mucosa swab for micronucleus test was conducted and stained with Feulgen-Rossenbeck method. The number of micronucleus is calculated under a light microscope, data were analized using using one-way ANOVA followed by Tukey HSD. The result showed that the average of buccal micronucleus frequency of group II (13 ± 0.82) and group III (12 ± 0.96) were decrease signicantly (p<0,05) than group I (24 ± 1.71). From the experiment,   it is concluded that the soursop leaves ethanolic extract has antigenotoxic effect shown by decreasing of the buccal micronucleus frequency of rat.ABSTRAKPolycyclic aromatic hydrocarbon atau PAH merupakan salah satu kelompok karsinogen terbesar di lingkungan. 7,12-Dimetillbez(α)antransena merupakan senyawa golongan PAH yang bersifat karsinogen genotoksik. Salah satu uji genotoksisitas yang paling sering dilakukan adalah uji mikronukleus. Sirsak merupakan tanaman yang tumbuh baik di Indonesia. Daun sirsak mengandung avonoid dan acetogenin yang diduga mempunyai potensi kemopreventif dan aktivitas antikanker. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efek antigenotoksik ekstrak etanolik daun sirsak terhadap frekuensi mikronukleus mukosa bukal tikus galur Sprague Dawley yang diinduksi dengan DMBA. Penelitian ini dilakukan pada 24 tikus Sprague Dawley jantan berumur 5 minggu yang dibagi secara acak dalam 6 kelompok. Karsinogenesis dorsum lidah tikus kelompok I – III diinduksi dengan DMBA secara topikal 3 kali dalam seminggu selama 16 minggu, kelompok II dan III selain diinduksi karsinogenesis, juga diberi ekstrak etanolik daun sirsak 100 dan 200 mg/kg BB setiap hari selama 18 minggu dan kelompok IV diberi ekstrak etanolik daun sirsak 200 mg/kg BB, kelompok V diberi DMSO 1% dan kelompok VI tidak diberi perlakuan. Setelah minggu ke-18, swab mukosa bukal dilakukan untuk uji mikronukleus kemudian sampel dicat dengan metode Feulgen-Rossenbeck. Jumlah mikronukleus dihitung di bawah mikroskop cahaya per 500 sel epitel mukosa bukal, lalu data dianalisis menggunakan one way ANOVA diikuti Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata frekuensi mikronukleus kelompok II (13 ± 0,82) dan kelompok III (12 ± 0,96) mengalami penurunan secara signikan (p<0,05) dibanding kelompok I (24 ± 1,71). Disimpulkan bahwa ekstrak etanolik daun sirsak mempunyai efek antigenotoksik yang ditunjukkan dengan penurunan frekuensi mikronukleus sel epitel mukosa bukal tikus

    Hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori pada lansia penghuni Panti Sosial Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi Kota Bandung

    No full text
    Correlation between tooth loss and cognitive and memory function in elderly residents at Social Home Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi, Bandung City. Tooth loss is reported to be linked with Alzheimer’s disease and dementia. This study aimed to identify the correlation between tooth loss, cognitive and memory functions examined using a MMSE (mini-mental state examination) test to the elderly residents at Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi, Bandung. The research method used cross sectional design. The sampling was selected using concecutive sampling technique. The sample was selected according to the inclusion criteria including physical health (marked by their ability to perform daily activities independently) and ability to communicate well, at least 60 years of age, and independent. The results of the examination on 19 elderly people consisting of 12 females and 7 males showed that the research subjects fall in the category of having a decline in their cognitive and memory function, that is at the average age (75.89; 76.32), education level of elementary school (66.7%; 77.8%), female (41.7%; 66.7%), physical activity in the form of light exercise (50%; 66.7%) and having hypertension (58.3%; 75%), having musculoskeletal disorder (50%; 75%). Pearson chi-square test showed that there is no signicant correlation between tooth loss and cognitive function p = 1.318 (p > 0.05). Similarly, Pearson chi-square test of p = 0.333 (p> 0.05) indicates that there is signicant correlation between tooth loss and memory function. It can be concluded that there is a tendency of a decline in both cognitive function and memory function in tooth loss, but this is not evident statistically. Future research involving a larger number of samples is needed to obtain homogeneous and well-distributed data.ABSTRAKKehilangan gigi dilaporkan berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan demensia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori yang diperiksa menggunakan lembar MMSE (mini mental state examination) pada lansia di Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel concecutive sampling. Sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi meliputi sehat fisik (yang ditandai dengan dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri) dan mampu berkomunikasi dengan baik, usia minimal 60 tahun, dan mandiri. Hasil pemeriksaan pada 19 orang lansia yang terdiri dari 12 orang wanita dan 7 orang laki-laki menemukan karakteristik subjek penelitian pada kelompok penurunan fungsi kognisi dan penurunan fungsi memori yaitu usia rata-rata (75,89; 76,32), tingkat pendidikan SD (66,7%; 77,8%), jenis kelamin perempuan (41,7%; 66,7%), aktivitas fisik berupa olahraga ringan (50%; 66,7%) dan penyakit yang diderita berupa hipertensi (58,3%; 75%), penyakit muskuloskeletal (50%; 75%). Melalui uji Pearson chi square tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi p = 1,318 (p>0,05). Begitu pula melalui uji Pearson chi square, p= 0,333 (p>0,05) dapat dijelaskan bahwa tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi memori. Simpulan terdapat kecenderungan penurunan fungsi kognisi dan fungsi memori pada kehilangan gigi, namun hal ini secara statistik tidak terlihat korelasi yang signifikan. Penelitian lanjutan diperlukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga diperoleh data yang homogen dan terdistribusi dengan baik

    Perbandingan porselen kedokteran gigi swa-sintesis berbahan baku pasir felspar Pangaribuan dan Sukabumi

    No full text
    Comparison self-synthesized dental porcelain between feldspar from Pangaribuan and Sukabumi. Dental porcelain material as one of the esthetic indirect restorations in Indonesia is mostly imported. In fact, Indonesia is really rich of natural raw materials, including feldspar, silica, and kaolinite. The aim of this study is to synthesize the dental porcelain made from Indonesia’s two different originates, which are Pangaribuan and Sukabumi. This study was prepared by fritting and sintering the mixture of 65% wt feldspar (from Sukabumi and Pangaribuan), 25% wt silica, 5% wt kaolinite, and 5% wt potassium salt. The porcelains obtained were evaluated using X-Ray Diffraction (XRD). The results revealed that quartz and leucite were found in the composition of Pangaribuan sand that successfully showed more translucencies compared to Sukabumi sand which only imparted quartz on its component. This study shows that dental porcelain from Pangaribuan sand is successfully self-synthesized, on the other hand Sukabumi sand has not been successfully synthesized. These findings develop on a good prospect of esthetic dental porcelain made from Indonesian natural sand. ABSTRAKBahan porselen kedokteran gigi sebagai salah satu restorasi indirek estetik di Indonesia kebanyakan didatangkan dari luar negeri. Indonesia sebenarnya sangat kaya dengan bahan baku porselen kedokteran gigi seperti felspar, silika, dan kaolin. Tujuan penelitian ini adalah melakukan sintesis porselen kedokteran gigi dari 2 jenis pasir alam Indonesia yaitu Pangaribuan dan Sukabumi. Komposisi yang digunakan yaitu 65% wt felspar, 25% wt silika, 5% wt kaolin, dan 5% wt garam kalium, dicampur kemudian dilakukan fritting serta sintering. Dua komposisi porselen dibuat dengan bahan dasar berbeda yaitu felspar dari Pangaribuan dan Sukabumi. Kedua porselen yang telah disintering kemudian dievaluasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). Hasilnya adalah kuarsa dan leusit ditemukan pada porselen dengan komposisi pasir Pangaribuan yang juga memberikan hasil lebih translusen secara visual dibandingkan dengan porselen dengan komposisi pasir Sukabumi yang hanya memperlihatkan hasil kuarsa. Hal ini menunjukkan bahwa porselen dengan komposisi bahan dasar pasir Pangaribuan berhasil disintesis dibandingkan komposisi bahan dasar pasir Sukabumi.Penemuan ini dapat memberikan peluang yang baik dalam pembuatan porselen kedokteran gigi yang berasal dari pasir alam Indonesia.

    Perbandingan hasil pengukuran pada citra Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dengan objek sesungguhnya

    No full text
    The distance comparison of Cone Beam Computed Tomography (CBCT) image with the real object. Dentist use radiographs to establish diagnosis, treatment plan, prognosis, as well as to evaluate patient’s treatment. Accurate anatomical dimension is a pivotal point in radiography, especially in the field of oral surgery and dental implant planning. The information about distortion in radiograph is very important to prevent any misdiagnosis and incorrect treatment plan. The purpose of this study was to compare the metal marker distance in CBCT image with the real measurement in dried mandibles. Samples in this study were 40 CBCT images of human dried mandibles, which were produced by using Volux 3D dental CT (Genoray, Korea, 60 kVp, 60 mAs, 10s). Horizontal, vertical, and oblique measurements on CBCT image were done by using Volux 3D dental CT software (GDP-1 software Triana). Themeasurement on CBCT image was compared with the real measurement by using Wilcoxon signed rank test. Image distortion was calculated by subtracting the metal marker distance obtained from CBCT images by the real distance obtained by a direct measurement on dried mandible. The distortion was expressed as a percentage. There were some significant differences (p<0.05) between metal marker distance on CBCT image with a direct measurement in dried mandibles, except oblique measurements on anterior mandibular body that was done without involving mandibular base. The maximal distortion on panoramic view of CBCT image in this study was 8%, and the distortion was different in each part of the mandible. ABSTRAKPemeriksaan radiografi diperlukan oleh dokter gigi untuk menetapkan diagnosis, rencana perawatan, prognosis, dan evaluasi hasil perawatan. Radiograf yang memiliki ketepatan dimensi anatomi diperlukan pada tindakan bedah dan pemasangan implan. Informasi mengenai distorsi hasil pengukuran pada radiograf diperlukan untuk mencegah kesalahan penetapan diagnosis dan rencana perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jarak metal marker pada pengukuran horizontal, vertikal, dan oblique citra Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dengan objek sesungguhnya pada preparat mandibula kering. Sampel penelitian berupa 40 citra CBCT preparat mandibula kering yang dihasilkan oleh mesin Volux 3D dental CT (Genoray, Korea) dengan menggunakan tegangan 60 kVp, kuatarus 60 mAs, dan waktu paparan 10 detik. Pengukuran pada citra CBCT dilakukan dengan mengukur jarak terjauh antara kedua metalmarker secara horizontal, vertikal, dan oblique menggunakan software Volux 3D dental CT (GDP-1 software Triana). Hasil pengukuran pada citra CBCT dibandingkan dengan hasil pengukuran pada preparat mandibula dan dianalisis dengan menggunakan wilcoxon signed rank test. Distorsi dihitung dari perubahan hasil pengukuran pada citra CBCT dibagi dengan ukuran sesungguhnya pada objek, dan dinyatakan dalam satuan persen (%). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara hasil pengukuran jarak metal marker pada citra CBCT dibandingkan dengan objek sesungguhnya pada preparat mandibula kering, kecuali hasil pengukuran oblique tanpamelibatkan basis mandibula di bagian anterior mandibula. Rerata distorsi tertinggi pada citra CBCT panoramic view sebesar 8%, dengan nilai distorsi yang berbeda pada setiap bagian mandibula

    Pengaruh variansi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete terhadap sitotoksikitas sel fibroblas

    No full text
    The influence of cashew stembark extract on citotoxicity fibroblast. The aim of this study was to determine the effect of variation in the concentration of cashew stem bark extract as the base material of mouthwash of the cytotoxic effect on fibroblast cells. The material used in this study was cashew stem bark extracted by maceration method using 70% of ethanol. A total of 15 samples were grouped into 5, each of which consisted of 3 samples (ISO 10993-5). Concentrations used were 1.6%, 0.8%, 0.4%, 0.2% and 0.05%. Cytotoxicity test used the MTT method by comparing the optical density (ELISA plate reader) between treated groups with control groups. Cell viability was obtained by comparing the treated groups with control groups. Cell viability data was analyzed using one-way ANOVA and LSD. The results showed that cashew stem bark has an anticardia acid. Cytotoxicity test used the mean of fibroblast cell viability due to various cashew stem bark extracts successively from concentrations 1.6%, 0.8%, 0.4%, 0.2% and 0.05% with the mean of 15.35 ± 0.443%, 30.84% ± 1.59, 47.78 ± 8.09%, 65.74% ± 3.20, 74.95 ± 7.26%. ANOVA showed a significant influence of various cashew stem bark on cell viability (p<0,05). The results of LSD showed a significant difference between treated groups except between concentrations 0.95% and 0.2%. In conclusion, Cashew extract have anacardic acid and there was influence on various cashew stem bark extract concentrations on the cytotoxicity of fibroblast cell. The concentration of 2% was not cytotoxic.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan ekstrak kulit batang jambu mete dan pengaruh variasi konsentrasi terhadap sitotosisitas sel fibroblas. Penelitian ini menggunakan bahan kulit batang jambu mete (Mojolegi) yang diindentifikasi dan diekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak diuji kandungannya menggunakan metode KLT (Kromatografi  Lapis Tipis). Uji sitotoksikistas menggunakan sampel sejumlah 15 dikelompokkan menjadi 5, masing-masing kelompok 3 (ISO-10993-5). Variasi konsentrasi adalah 1,6%, 0,8%, 0,4%, 0,2% dan 0,05%. Uji sitotoksikitas menggunakan metode MTT dengan cara membandingkan optical density (ELISA plate reader) antar kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Viabilitas sel didapatkan dengan membandingkan nilai optical density pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Data viabilitas sel dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur dan LSD. Hasil penelitian menunjukkan rerata ekstrak mengandung senyawa asam anakardat dan asam galat. Uji sitotoksikistas sel fibroblas akibat variasi ekstrak kulit batang jambu mete secara berturut-turut dari konsentrasi 1,6%, 0,8%, 0,4%, 0,2% dan 0,05% dengan rerata sebesar 15,35% ± 0,443, 30,84% ± 1,59, 47,78% ± 8,09, 65,74% ± 3,20, 74,95% ± 7,26. Uji ANAVA menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete bermakna terhadap viabilitas sel (p<0,05). Hasil uji LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) antar kelompok perlakuan, kecuali antara konsentrasi 0,05% dengan konsentrasi 0,2%. Kesimpulan Ekstrak kulit batang jambu mete mengandung asam anakardat dan asam galat dan terdapat pengaruh variasi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete terhadap sitotoksikitas sel fibroblas. Konsentrasi 0,2% merupakan konsentrasi yang tidak toksis terhadap sel fibroblas secara in vitro.

    Perubahan morfologi sel HeLa setelah paparan ekstrak etanolik Curcuma longa

    No full text
    Cell morphological changes on HeLa cells after Curcuma longa etanolik extract exposure. Curcuma is mostly found in the areas with tropical and sub-tropical climate, and is one of original plants of Southeast Asia. In Indonesia, curcuma can be found in almost all regions and areas. Curcumin, which is curcuma’s main constituent, is a potent anti oxidant. Previous studies reported that curcuma longa extract may decrease the growth of cancer cells by interfering with cell proliferation, and by causing the cell apoptosis; however, the mechanism of apoptosis remains unclear. The purpose of this study was to investigate the effect of Curcuma longa extract on the morphological change of HeLa cells, indicating the cell damage. HeLa cells (5x10⁴ cells/well) were cultured in complete RPMI 1640 overnight before stimulation. Etanol extract of Curcuma longa (50 µg/ml, 100 µg/ml, 150 µg/ml) were added to the culture of HeLa cells and were incubated for 24 hours in antibiotic-free of culture medium. HeLa cells morphological analysis was performed under phase contrast microscope after haematoxilent eosin staining. Docsorubisin (0,5625 mg/ml) was used as positive control in this study. The results demonstrated that Curcuma longa extract caused cell morphological changes on HeLa cells indicated by cell shrinkage, lost contact with neighboring cells as the alteration of apoptotic cell death in most of cell population. The nuclei were dark as a result of their capability to absorb haematoxylene dye. Statistical analysis showed a significant difference between controls and treatment groups. It was then concluded that Curcuma longa extract induced cell damage on HeLa cells in a way of cell shrinkage.ABSTRAKKunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis dan sub tropis, serta merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Di Indonesia, kunyit menyebar secara merata di seluruh daerah. Kurkumin yang merupakan unsur utama kunyit, merupakan antioksidan yang kuat. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kunyit mampu menghambat pertumbuhan beberapa tipe sel kanker. Mekanisme anti-kanker kurkumin adalah dengan menghambat proliferasi sel. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa ekstrak Curcuma longa menginduksi apoptosis pada sel HeLa, tetapi mekanisme kematian sel tersebut belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ekstrak Curcuma longa pada perubahan morfologi sel HeLa, dimana perubahan morfologi merupakan parameter kerusakan sel. Sel HeLa (5x104 sel/well) dikultur dalam RPMI 1640 semalam sebelum stimulasi. Ekstrak etanol kunyit (50 µg/ml, 100 µg/ml, 150 µg/ml) ditambahkan pada kultur HeLa dan diinkubasi selama 24 jam dalam medium tanpa antibiotik. Analisis morfologi sel HeLa dilakukan dengan menggunakan mikroskop fase kontras setelah pewarnaan haematoksilen eosin. Doksorubisin (0,5625 µg/ml) digunakan sebagai kontrol positif induksi apoptosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Curcuma longa menyebabkan perubahan morfologi sel yang ditandai dengan semakin mengecilnya ukuran sel, hilangnya prosesus sitoplasmik sehingga sel berbentuk bulat, serta hilang kontak dengan sel lain yang merupakan ciri apoptosis pada sebagian besar sel HeLa. Nukleus tampak berwarna gelap karena peningkatan kapasitas penyerapan zat haematoksilen. Analisa statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol positif dan negatif dengan kelompok stimulasi dalam jumlah sel yang mengalami perubahan morfologi menuju apoptosis. Disimpulkan bahwa ekstrak Curcuma longa mampu menginduksi perubahan morfologi sel HeLa yaitu berupa cell shrinkage

    Pengaruh bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal terhadap kekuatan geser pelekatan restorasi resin komposit

    No full text
    The Effect of desensitizing agent in post-extracoronal bleaching on shear bond strength of composite resin. The dentinal hypersensitivity is a common condition among patients after extracoronal bleaching treatment that usually needs the application of desensitizing agent. The purpose of this study was to evaluate the composite resin restoration shear bond strength with and without desensitizing application after extracoronal bleaching using 40% of H2O2. Twenty one extracted permanent human incisor teeth were randomly divided into 3 groups of 7 each. Group I was with the application of 40% H2O2 without any desensitizing agent. Group II was with the application of 40% of H2O2 with desensitizing agent and group III served as the control. The teeth were immersed in artificial saliva and stored in 37 °C incubator for 7 days. The teeth were restored using composite resin. After restoring the shear bond strength of composite resin was tested using a universal testing machine. Result and conclusion. there is no significant difference between bleaching group with and without desensitizing agent. The application of desensitizing agent after extracoronal bleaching did not impact the composite resin shear bond strength.ABSTRAKDentin hipersensitif merupakan kondisi yang biasa dialami pasien setelah perawatan bleaching ekstrakoronal yang biasanya memerlukan aplikasi bahan desensitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal menggunakan H2O2 40% terhadap kekutan geser pelekatan restorasi resin komposit. Dua puluh satu gigi permanen insisivus yang telah dicabut dibagi dalam tiga kelompok masing-masing 7 gigi. Kelompok I dilakukan bleaching ekstrakoronal dengan H2O2 tanpa bahan desensitasi. Kelompok II dilakukan bleaching setelah itu diaplikasikan bahan desensitasi dan kelompok III sebagai kelompok kontrol. Semua gigi-gigi tersebut di rendam dalam saliva buatan dan dimasukkan inkubator selama 7 hari pada suhu 37 °C. Selanjutnya seluruh gigi dilakukan restorasi resin komposit menggunakan light cure halogen. Setelah itu dilakukan pengujian kekuatan geser pelekatan menggunakan universal testing machine. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal - Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kekuatan geser pelekatan pada semua kelompok perlakuan (p > 0,05). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh aplikasi bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal terhadap kekuatan geser pelekatan restorasi resin komposit

    Efek aplikasi topikal gel ekstrak pandan wangi terhadap penyembuhan luka gingiva

    No full text
    The Effect of topical application pandan extract gel on gingival wound. Post-gingivectomy wound is usually covered by periodontal dressing, which generally contains some chemical compounds to protect the wound. However, it can provide allergic effect on some patients. Pandan leaves (Pandanus amaryllifolius Roxb.) contain a number of active substances that have anti-inflammatory, antioxidant and antibacterial effect and play a role in wound healing. This study aims to determine the effect of topical application of Pandan leaf extract gel on gingival wound healing. Gingivectomy model was carried out on mandibular incisive gingival using the 2.5-mm punch biopsy. Thirty-six rats were randomly divided into 3 groups of treatment: negative control (CMC-Na), positive control (Aloclair), and 50% of pandan extract gel. The gels on each group were applied (twice in a day) to the wound area after gingivectomy. The observation of the wound healing process was also carried out on day 1, 3, 7, and 14 by making the histological preparations of gingival wound area. The number of blood vessels was observed using microscope and data was analysed using Two- Way Anova and LSD. The result showed that number of blood vessel increased on day 3 and the peak was on day 7. Anova and LSD test showed several significant differences comparison the number blood vessel between treatment and control. In conclusion, topical application Pandan leaves extract gel could accelerate gingival wound healing.ABSTRAKLuka pasca gingivektomi dibalut dengan periodontal dressing yang mengandung senyawa kimia dengan tujuan melindungi luka, namun senyawa kimia periodontal dressing yang ada di pasaran dapat menimbulkan efek alergi terhadap beberapa pasien. Daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) mengandung zat aktif yang memiliki anti inflamasi, antioksidan, dan antibakteri kemungkinan berperan dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran gel ekstrak daun pandan wangi dalam proses penyembuhan luka pasca gingivektomi pada tikus wistar melalui pengamatan jumlah pembuluh darah. Model gingivektomi dilakukan pada gingiva incisivus mandibula dengan menggunakan punch biopsy diameter 2,5 mm. Tiga puluh enam tikus dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (Gel CMC-Na), kontrol positif (Aloclair), dan gel ekstrak pandan wangi 50%. Gel uji pada masing- masing kelompok diaplikasikan pada area luka pasca gingivektomi dua kali sehari. Pengamatan proses penyembuhan luka dilakukan pada hari ke 1, 3, 7, dan 14 dengan membuat preparat histologi gingiva area luka. Parameter penyembuhan luka yang diamati adalah jumlah pembuluh darah. Data jumlah pembuluh darah dianalisis dengan menggunakan uji statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pembuluh darah mengalami peningkatan mulai hari ke-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke-7. Hasil uji two way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna rerata jumlah pembuluh darah antar kelompok perlakuan dengan kontrol positif maupun negatif (p<0,05). Hasil uji LSD juga menunjukkan perbedaan yang bermakna perbandingan kelompok kontrol dan perlakuan pada semua hari pengamatan. Kesimpulan penelitian ini adalah gel ekstrak pandan wangi 50% dapat mempercepat proses penyembuhan luka pasca gingivektomi dengan kemampuannya meningkatkan jumlah pembuluh darah

    Identifikasi faktor yang mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut: Studi pada Pusat Pengembangan Anak Agape Sikumana Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

    No full text
    ABSTRACT: Identification of factors towards children behavior on oral health maintenance. Behavior was a result of internal and external factors such as stimulus and response. Many factors can affect of children behavior on oral health maintenance. This study aims is to identify factors affecting children behavior on oral health maintenance. The study is an observational research with a cross sectional design and all that met inclusion criteria were sampled. Questionnaires with Likert scale were used to assess attitudes, perception, motivation, and behavior variables. The questionnaires showed validity (correlation values ≥ 0.30) and reliability (alpha Cronbach ≥ 0.70).The result of multiple regression analysis showed that variables attitude (p = 0.163) did not affect significantly on the behavior. Variables perception (p = 0.017) and motivation (p = 0.006) affected significantly on the behavior. Variables of perception and motivation contribute 40.0% (R2 = 0.400) to children behavior on oral health maintenance. Motivation gave the highest contribution of 10.4% to children behavior on oral health maintenance. Conclusion research, The better and the stronger perception and motivation is the better children behavior on oral health maintenace. Attitude does not affect children behavior on oral health maintenance. Motivation has contributed greatly to the children behavior on oral health maintenance.ABSTRAKPerilaku merupakan hasil interaksi faktor eksternal berupa stimulus dan faktor internal berupa respon.Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dan semua yang memenuhi kriteria inklusi diambil sebagai sampel. Variabel sikap, persepsi, motivasi dan perilaku diukur dengan kuesioner yang menggunakan skala Likert. Masing-masing kuesioner telah memenuhi uji validitas (nilai korelasi ≥ 0.30) dan uji reliabilitas dengan alpha cronbach ≥ 0.70. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa sikap (p=0.163) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku. Variabel persepsi (p=0.017) dan motivasi (p=0.006) berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku. Variabel persepsi dan motivasi memberikan kontribusi sebesar 40.0% (R2 = 0.400) tehadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Motivasi memberikan pengaruh paling besar yaitu 10,4% terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Kesimpulan penelitian, semakin baik persepsi dan semakin kuat motivasi maka semakin baik perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Sikap tidak berpengaruh terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Motivasi mempunyai pengaruh paling besar terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut

    Hubungan fraksi area trabekula anterior mandibula dengan kepadatan tulang lumbar spine untuk deteksi dini osteoporosis

    No full text
    The relationship of anterior mandible trabecular area with bone mass density of lumbar spine for early detection of osteoporosis. Bone mineral density is an indicator of osteoporosis, including the bone mineral density of lumbar spine. The decrease of lumbar spine bone mass density will cause an alteration in another site, including the mandibular. The aim of this research is to determine the predictor of lumbar spine bone mineral density using trabecular bone image of anterior mandible on periapical radiographs. The research was conducted by extracting the area fraction at mandible trabecular bone using digital periapical radiograph from 25 subjects. Canny edge detection was used in digital image processing for each radiograph. The regions of interest were selected from the image obtained by canny edge detection, so that the area fraction could be measured. A linier regression test was applied to determine a relationship between the area fractions of mandible trabecular bone with the bone mineral density of lumbar spine. The result of linear regression test showed that the area fraction of mandible trabecular bone had a moderate negative correlation with bone mass density of lumbar spine (α = 0.046; R = -0.403). The direction of the correlation was negative (b = -0.145). The area fraction of mandible trabecular bone on periapical radiographs could be used as the predictor for bone mass density of lumbar spine.ABSTRAKKepadatan tulang merupakan indikator osteoporosis, salah satu diantaranya adalah kepadatan tulang pada lumbar spine. Penurunan kepadatan tulang pada lumbar spine mempengaruhi kondisi tulang lain, termasuk tulang rahang bawah (mandibula). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prediktor densitas mineral tulang menggunakan citra radiograf periapikal tulang trabekula pada regio anterior rahang bawah. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi fraksi area tulang trabekula mandibula yang tercitrakan pada radiograf periapikal digital dari 25 subjek. Pengolahan citra digital pada radiograf periapikal dilakukan dengan menggunakan metode deteksi tepi canny terhadap masing-masing citra radiograf. Region of Interest diseleksi dari citra hasil deteksi canny, sehingga dapat dilakukan pengukuran fraksi area. Uji regresi linier dilakukan untuk mengetahui hubungan antara nilai fraksi area trabekula mandibula dengan tingkat kepadatan tulang pada lumbar spine. Hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa nilai fraksi area trabekula mandibula berkorelasi negatif dengan kepadatan tulang dengan kekuatan sedang (α = 0,046; R = -0,403). Adapun arah korelasi antara nilai fraksi area trabekula mandibula dengan kepadatan tulang adalah negatif (b = -0,145). Fraksi area tulang trabekula pada citra radiograf periapikal dapat digunakan sebagai prediktor kepadatan tulang pada lumbar spine

    0

    full texts

    499

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇