JOURNAL OF MECHANICAL ENGINEERING, MANUFACTURES, MATERIALS AND ENERGY
Not a member yet
172 research outputs found
Sort by
Analysis of Heat Transfer in Shell and Tube Type Condensers
A heat exchanger is a device used to exchange or change the temperature of a fluid by exchanging heat with another fluid. One of the heat exchangers is a surface type condenser where the steam is separated from the cooling water, the steam is outside the pipes while the cooling water is in the pipes at PT. SOCIMAS. At PT. SOCIMAS, the condenser is part of the main cooling system which functions to condense steam into water and maintain the efficiency and work cycle of the turbine high. For this reason, this final project report focuses on condenser analysis. The results obtained from this final project are the value of the inner convection coefficient of 4056.6827 W/(m2.K) and the outer convection coefficient of 97414.18W/(m2.K) . value of heat transfer rate and effectiveness (ε) on the condenser PT. SOCIMAS obtained a heat transfer rate of 153.6001264 MW. While the effectiveness (ε), obtained 0.99571 % This shows that the condition of the condenser is quite good, because the steam can go to the condenser, so that the rate of heat transfer and the effectiveness of the condenser are able to condense the steam into liquid
Effect Analysis of Boiler Feed Water and Exhaust Gas Turbine Generator against Steam Products
The boiler is a tool that functions to produce steam, consisting of two important parts, namely the heating kitchen to produce heat obtained from burning fuel and the proper boiler to convert water into steam. The petrochemical industry, in terms of meeting steam needs, uses supply from the 4003-U waste heat boiler (WHB), namely a boiler that utilizes exhaust gas from a gas turbine generator (GTG). WHB operation uses two sources of heat and fuel, namely exhaust gas from GTG and natural gas. The calculation method used to determine the results of steam products from WHB is the calculation of heat value and efficiency. Based on calculation data for the period 03 October-09 October 2022, efficiency values range from 67-74%. The size of the WHB efficiency is greatly influenced by several factors, namely the quality of the boiler feed water (BFW), the quality of the fuel and heat source, the quality and amount of combustion air and how much heat is lost through the boiler tubes
Comparison of Welding Results Using Oxy Acetylene Welding (OAW) and Gas Metal Arc Welding (GMAW) on Brass Leaf Propeller Repair
Propeller is one of the means of producing thrust to propel ships. In sailing in sea or river waters, ship propellers often hit foreign objects floating or floating in the waters which cause damage to the propeller in the form of bent, cracked or broken propeller blades. The purpose of this study is how to compare the results of welding Oxy Acetylene Welding (OAW) and Gas Metal Arc Welding (GMAW) against testing on the repair results of propeller blades made of Brass (Brass). To find out the results of welding Material testing Destructive Test (DT) Results of the maximum tensile strength (ultimate tensile strength) in Gas Metal Arc Welding (GMAW) welding of 342,368 MPa, Results of Gas Metal Arc Welding (GMAW) hardness strength of 101 HB, Results from Impact Gas Metal Arc Welding (GMAW) of 0.850 j/mm2 and the Non-Destructive Test (NDT) results from metallographic observations of the finer grains, the grande size looks small, then the composition is homogeneous, so the structure is stronger and more ductile
Characteristics of Ketapang Leaf Extract and PVA Nano Fibers Using the Electrospinning Method
The electrospinning method is a method of making nanofibers using the influence of an electric field to produce a jet of electrically charged polymer solution. In this experiment, polyvinyl alcohol (PVA) nanofibers and ketapang leaf extract with various viscosities were made using electrospinning equipment with a static collector. Scanning using an electron microscope (SEM) shows that the morphology of the nanofibers formed looks homogeneous, continuous, and without beads (beads free). The SEM results were analyzed using ImageJ software, which was then carried out using Origin software to determine the fiber diameter. Diameter size distribution with fiber diameter size distribution ranging from 2000 to 8000 nm
The Effectiveness of Two-Stage Adsorption Using Adsorbents Activated with Strong Acid and Base Solutions on Biogas
This study discusses the development of a two-stage adsorption application to enhance methane content in biogas. The adsorption process utilizes zeolite sourced from Lombok Island. To achieve this objective, the zeolite is activated using HCl and KOH solutions, each with concentrations of 3 Molar and 20%, respectively. Additionally, the zeolite is physically activated by heating it in a furnace at 300°C for 3 hours, followed by chemical activation. Research findings indicate that activation of zeolite with these compounds yields a significant increase in methane content compared to adsorption using non-activated zeolite. The improvement in methane content reaches at least 45%. These results demonstrate substantial potential in enhancing biogas production efficiency through two-stage adsorption using chemically activated zeolite. Additionally, this outcome underscores the understanding that without activation, zeolite from Lombok cannot function optimally as an adsorbent
Perancangan Sepeda Roda Tiga Pasca Stroke Dengan Mekanisme Penggerak Elektrik
Konstruksi sepeda roda tiga memiliki keseimbangan yang baik dan dapat meminimalisir resiko terguling sehingga aman menjadi media rehabilitasi fisik bagi penderita stroke dan sangat berguna dalam memulihkan pergerakan motorik pada kaki dan mengurangi tekanan hidup penderita stroke. Namun, pada kondisi tertentu seperti di tanjakan dan kelelahan, penderita stroke tidak memiliki cukup tenaga untuk mengayuh sepeda ke rumah mereka. Oleh karena itu, perlu dirancang sebuah mekanisme penggerak elektrik (electric support) dengan motor listrik pada sepeda roda tiga konvensional dan dilengkapi dengan baterai untuk menyimpan sumber listrik, disamping dapat dikayuh secara manual. Dengan tujuan, penderita stroke dapat kembali pulang dengan menyalakan motor listrik yang membuat kayuhan menjadi lebih ringan terlebih lagi di jalan menanjak. Penelitian ini dilakukan dengan cara menentukan tenaga dorong yang diperlukan, merancang dan menyeleksi konsep mekanisme gerak sepeda elektrik, kemudian menganalisa kekuatan material pada rangka dan keergonomisan berkendara. Hasil yang didapat dari penelitian ini berupa rancangan sepeda roda tiga elektrik model delta dengan dimensi panjang sepeda 1.5 meter, jarak antara roda belakang adalah 0.66 meter, dan tinggi sepeda 1.1 meter. Mekanisme penggerak elektrik terdiri dari motor listrik 500W bertipe mid-drive dengan Pedal Assistance Sensor (PAS) dan baterai Lithium berkapasitas 48V-14Ah. Rancangan sepeda ini mampu menahan beban pengendara maksimal 100 kg, dan akan digunakan di jalan menanjak. Material rangka adalah AISI Alumunium 6061 dengan tegangan yang diijinkan sebesar 277.6±8.3 MPa. Hasil analisis kekuatan material menunjukkan tegangan kritis rangka sebesar 84.932 MPa terjadi pada daerah pertemuan pipa seat stay dan sandaran. Tegangan kritis yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan sehingga dinyatakan aman
Analisa Pengaruh Panjang Muffler Pada Mesin 4 Tak Berkapasitas 125cc Terhadap Karakteristik Daya dan Torsi Mesin Menggunakan Pengujian Dyno dan Komputasi Fluida Dinamis
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa daya dan torsi mesin terhadap variasi panjang muffler yaitu muffler 1 bersekat dengan panjang body 54 cm dan diameter inlet 21 mm, muffler 2 tanpa sekat (free flow) dengan panjang body 48 cm dan muffler 3 free flow dengan panjang body 38 cm, diameter inlet kedua muffler adalah 51 mm. Tujuan variasi panjang muffler adalah untuk mengetahui karakteristik daya dan torsi berdasarkan fenomena backpressure. Muffler diuji pada sepeda motor 4 langkah 125 cc dengan dynotest dan komputasi aliran fluida di saluran buang disimulasikan terhadap kecepatan dan backpressure. Pengujian dynotest menunjukkan semakin panjang muffler maka nilai daya dan torsi yang dihasilkan semakin rendah. Pada putaran mesin 7000 rpm, daya muffler 1 sebesar 10,3 HP, muffler 2 dan 3 sebesar 10,5 HP dan 10,77 HP. Pada putaran mesin 6000 rpm, torsi muffler 1 sebesar 11,15 Nm, muffler 2 dan 3 sebesar 11,37 Nm dan 11,52 Nm. Analisa CFD menunjukkan semakin panjang muffler maka tekanan gas buang semakin rendah dan kecepatan gas buang meningkat. Kecepatan aliran gas buang yang meningkat secara signifikan pada outlet dapat menyebabkan pressure drop sehingga menimbulkan backpressure. Muffler 3 direkomendasikan sebagai alternatif untuk meningkatkan performa motor berdasarkan daya dan torsi puncak yang dihasilkan mesin
Analisis Proses Pembubutan AISI 1020 Pada Kekasaran Permukaan Material Dan Keausan Pahat
Proses pembubutan adalah salah satu proses pemesinan yang digunakan dalam dunia industri. Kualitas permukaan dari hasil pembubutan dipengaruhi oleh penentuan kecepatan spindel, kedalaman potong dan gerak makan.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan tujuan untuk menghasilkan kekasaran permukaan dan keausan pahat dari kecepatan spindel dan kedalaman potong yang digunakan dalam proses pembubutan. proses pembubutan yang dilakukan menggunakan variasi kecepatan spindel 115 rpm, dan kedalaman potong yang digunakan adalah 0,8 mm, 1 mm, 1,5 mm serta gerak makan yang digunakan adalah 0,1620 mm/rev. Pada kecepatan spindel 115 rpm dengan kedalaman potong 0,8 mm menghasilkan keausan pahat terendah yaitu 0,005 gram atau menggunakan mikroskop optik diketahui panjang aus yaitu 129,033 µm, lebar aus 41, 947 µm dengan nilai MRR sebesar 129,59 mm3/menit dan kekasaran permukaan terendah dengan nilai 3,837 µm, sedangkan pada kedalaman potong 1,5 mm didapat nilai keausan sebesar 0,009 gram atau panjang aus 339,362 µm dan lebar 83,497 µm dengan nilai MRR sebesar 247,31 mm3/menit dan kekasaran permukaan yang di dapat dengan nilai tertinggi yaitu sebesar 5,111 µm. Â
Pengaruh Waktu Tempering Terhadap Struktur Kristal, Kekerasan, dan Kuat Tarik Pada Baja VCN 150
Baja VCN 150 termasuk dalam kategori baja ultra high-strength yang memiliki kekuatan sangat tinggi dan memadukan antara hardenability yang baik, keuletan, ketangguhan, dan ketahanan terhadap fatigue dan creep yang tinggi. Penulisan ini memaparkan pengaruh waktu tempering mengenai struktur kristal, kekerasan, serta kuat tarik pada baja vcn 150. Penelitian memakai metode penelitian kuantitatif yang menggunakan metode deskriptif dan studi eksperimental. Pengujian dilakukan melalui pengamatan struktur kristal memakai Difraktometer Sinar-X, uji kekerasan dan kuat tarik dengan Brinell. Hasil menunjukkan bahwa sifat mekanik dan fisik sangat dipengaruhi oleh proses quenching maupun tempering. Kekerasan material mengalami peningkatan setelah proses quenching dari 203 HB ke 393 HB menggunakan media quenching oli. Pada media pendingin air garam dapat meningkatkan kekerasan secara maksimal yaitu dari 203 HB ke 445,3 HB dan mengalami penurunan yang tidak signifikan kembali setelah melalui proses tempering. Penurunan kekerasan dari 445,3 HB ke 324 HB setelah 5 jam tempering. Penurunan ukuran kristal terjadi setelah proses tempering selama 5 jam yaitu dari 0,5766 (nm) ke 0,4725 (nm). Terjadi kenaikan nilai kerapatan diskolasi setelah proses tempering selama 5 jam yaitu 3,0679 (garis/mm²) ke 6,8527 (garis/mm²) begitu pula kenaikan regangan mikro setelah proses tempering selama 5 jam yaitu dari 0,1254 (ε) ke 0,2148 (ε)
Pengaruh Penambahan Ukuran Tebal Pipa Air Heater Terhadap Efisiensi Termal Serta Konsumsi Bahan Bakar Pada Boiler PT. Socimas Kapasitas 50T/H
PLTU PT. Socimas saat ini menggunakan air heater tipe tubular untuk mendukung dan meningkatkan kan produktivitas dari boiler. Penggunaan air heater ini menimbulkan permasalahan baru pada penggunaan air preheater tipe tubular dengan terjadinya kebocoran pada pipa di dalam air heater. Kerusakan ini terjadiakibat dari terjadinya gesekan flue gas yang terjadi di secara terus menerus kerusakan ini menyebabkan kurang maksimalnya penggunaan air heaterterhadap boiler . kerusakan ini Menyebabkan perusahaan mengganti tebal pipa air heater, dengan adanya permasalahan ini, penulis mencoba untuk mengetahui efisiensi air heatersetelah terjadinya penggantian pipa dengan diameter awal 35mm dengan tebal 2,5mm didapatkan laju perpindahan panas konveksi aliran dalam sebesar 62547,7 J/s, konduksi sebesar 127530,49 J/s, konveksi aliran luar sebesar 1242750,13 J/s. Setelah terjadi perubahan diameter 37mm dengan tebal 3,5mm didapatkan laju perpindahan panas konveksi aliran dalam sebesar 69142,4 J/s, konduksi sebesar 113825,46 J/s, konveksi aliran luar sebesar 1711397,46 J/s. Setelah laju perpindahan panas diketahui maka penulis membandingkan efisiensi air heater pra penggantian sebesar 52,07% dengan air heater pasca penggantian sebesar 67,66% maka didapatkan selisih penghematan bahan bakar batubara sebesar 67,347 kg/ hari