159 research outputs found

    KAMPANYE KESADARAN MASYARAKAT MENGENAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA BERDASARKAN UNDANGUNDANG NOMOR 11 TAHUN 2010

    Get PDF
    Abstract.Law Number 11 of 2010 Concerning Cultural Conservation commands people to register their object, building, structure, site, or area which have significant values for the history, science, education, religion, and/or culture to regency/municipal governments for feasibility study as cultural heritage. In order to implement the law, since 2013 the government has conducted socialization to 69% of local governments. However, the responds from regency/municipal governments in terms of organizing cultural heritage registration for public is relatively low. By the end of 2017, there have only been 13.5% of local governments with certified heritage experts and only 4% of local governments that have established cultural heritages. To date, there is none regency/municipal government that has organized cultural heritage registration for public. The purpose of this study is to find solution so that the central government can urge the regency/municipal governments to organize cultural heritage registration for public. This research used literature study to get data about the socialization that have been conducted previously. The literature study was also in form of theoretical review about public awareness campaigns principles and cultural heritage preservation. The result of this study is a recommendation for the central government to organize public awareness campaign about cultural conservation.Keywords: Cultural conservation, Public awareness campaign, Central government, Local governmentAbstrak.Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengamanatkan masyarakat untuk mendaftarkan benda, bangunan, struktur, situs atau kawasan mereka yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk ditetapkan atau tidak ditetapkan sebagai cagar budaya. Dalam rangka melaksanakan amanat tersebut, sejak tahun 2013 pemerintah telah menyosialisasikan pelestarian cagar budaya kepada 69% pemerintah daerah. Namun demikian, respon pemerintah kabupaten/kota untuk menyelenggarakan pendaftaran cagar budaya milik masyarakat masih relatif rendah. Hingga akhir tahun 2017, hanya terdapat 13.5% pemerintah daerah yang memiliki Tim Ahli Cagar Budaya bersertifikat dan 4% pemerintah daerah yang telah menetapkan cagar budaya. Hingga tulisan ini dibuat belum ada pemerintah kabupaten/kotayang menyelenggarakan pendaftaran koleksi/properti milik masyarakat untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Permasalahan kajian ini adalah bagaimana pemerintah pusat dapat mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk menyelengarakan pendaftaran cagar budaya milik masyarakat. Kajian dalam artikel ini menggunakan kajian kepustakaan terhadap data sosialisasi pendaftaran cagar budaya yang pernah dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Kajian kepustakaan juga berupa KALPATARU, Majalah Arkeologi Vol. 27 No. 1, Mei 2018 (15-30) 16 tinjauan teoretis mengenai prinsip-prinsip membangkitkan kesadaran masyarakat secara umum dan terhadap pelestarian cagar budaya secara khusus. Hasil kajian mengusulkan agar pemerintah Pusat menyelenggarakan Kampanye Pelestarian Cagar Budaya dengan menggunakan metode kampanye kesadaran masyarakat.Kata Kunci: Pelestarian Cagar Budaya, Kampanye Kesadaran Masyarakat, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daera

    ARKEOLOGI, PUBLIK, DAN MEDIA SOSIAL DI MALUKU

    Get PDF
    Abstract. Social media has become a tool that links almost all aspects of human life, from the technology of information to the cultural segment where archaeology is part of it. For more than two decades, social media not only has become an informal place to encounter and exchange of ideas but also holds important role to share about archeological knowledge to the public in Maluku. This paper attempts to observe the correlation between archaeology and social media to support the effort of expanding the archaological knowledge and cultural history in Maluku. The method used in this research is literature study. The results of the study indicates that social media has become one of the main agents in the publication of archaeological knowledge in Maluku and is very prospective for further development. Keywords: Archaeology, public, social media, Maluku  Abstrak. Media sosial telah menjadi wahana yang bertautan dengan hampir seluruh aspek kehidupan manusia saat ini mulai dari ranah teknologi informasi hingga segmen kebudayaan, termasuk di dalamnya disiplin arkeologi. Sudah lebih dari dua dekade media sosial tidak saja menjadi ruang informal perjumpaan dan pertukaran gagasan, tetapi telah menjelma menjadi motor efektif yang turut menggerakkan dinamika akademis disiplin arkeologi, termasuk menjadi agen bagi interaksi arkeologi dan masyarakat. Media sosial berperan sebagai salah satu ruang paling efektif dalam meluaskan pengetahuan arkeologi bagi publik juga masuk di Maluku. Makalah ini mencoba mengamati hubungan disiplin arkeologi dan media sosial bagi perluasan pengetahuan arkeologi dan sejarah budaya untuk masyarakat di Maluku. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka. Hasil studi menemukan bahwa media sosial telah menjadi salah satu agen utama dalam publikasi pengetahuan arkeologi di Maluku dan prospektif untuk terus dikembangkan ke depan.Kata kunci: Arkeologi, publik, media sosial, Maluk

    Tradisional atau Modern: Dampak Kebijakan Perumahan Rakyat terhadap Bangunan Tradisional di Lembah Bada, Sulawesi Selatan

    No full text
    Abstract. Public housing has become Indonesian Government’s main consideration since 1970s. As one of public welfare indicator, three categories of house based on its material are amongst government’s policy of public housing. Discussing the impact of government’s public housing policy implementation into traditional houses in Indonesia is the aim of this article. Qualitative method consists of field survey and desktop survey used as primary data collection. Field survey at Bada was conducted in 2012 and followed by desktop survey. Result of the study shows that traditional houses built from organic materials like wood, thatch, bamboo, rattan, palm fiber, and leaves, considered as non-permanent house. Thus, the category is a legitimation for people to shift from traditional houses to modern houses (permanent house), following social and economics factor that triggered the phenomena. In Bada it happened in rapid movement and endangered the existence of traditional houses.Keywords: traditional house, policy, government, BadaAbstrak. Perumahan rakyat telah menjadi pusat perhatian Pemerintah Indonesia sejak tahun 1970-an. Sebagai salah satu indikator kesejahteraan, tiga tipe rumah berdasarkan materialnya ada di dalam kebijakan pemerintah terkait perumahan rakyat. Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk mendiskusikan dampak penerapan kebijakan perumahan rakyat tersebut terhadap rumah-rumah tradisional di Indonesia. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode kualitatif terdiri dari survei lapangan dan survei data sekunder. Survei lapangan di Bada dilakukan pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan survei data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional yang dibangun dengan bahan-bahan organik seperti kayu, bambu, ijuk, rotan, serat palem, dan dedaunan, termasuk dalam kategori rumah tidak permanen. Pengkategorian tersebut adalah legitimasi masyarakat untuk beralih dari rumah tradisional ke rumah modern (rumah permanen), mengikuti faktor perubahan sosial dan ekonomi yang menjadi pemicu fenomena tersebut. Di Bada hal tersebut terjadi cukup cepat dan mengancam keberadaan rumah-rumah tradisional.   Kata kunci: rumah tradisional, kebijakan pemerintah, Bad

    Dua Tipe Ornamentasi Candi Perwara di Kompleks Candi Sewu

    Get PDF
    AbstractSewu Temple, located in Prambanan, is one of the Buddhist temple complex that have lots of uniqueness. One of the uniqueness can be seen on Perwara Temple that have two ornamentations. But, many scholars never make the research about it. Therefore, in this article, I want to describe the background of the two ornamentations on perwara temple. The research is carried out by observation and literature study. From the research, I find out that the two ornamentations on perwara temple in Sewu Temple complex have relation with the religion conception.Keywords: Buddha, Sewu Temple, perwara temple, ornamentation.AbstrakCandi Sewu, yang terletak di daerah Prambanan, merupakan salah satu kompleks percandian agama Buddha yang masih menyimpan banyak keunikan. Salah satu keunikannya adalah dua corak ornamentasi yang terdapat pada candi perwaranya. Keberadaan kedua ornamentasi ini belum pernah dibahas detail oleh peneliti mana pun. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis berusaha untuk mengkaji dua corak ornamentasi itu dengan tujuan memberikan gambaran terkait dua corak ornamen tersebut serta mencoba untuk mengetahui latar belakang perbedaan tersebut. Penelitian dilakukan melalui pengamatan langsung dan analisis dengan bantuan studi pustaka. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kedua corak ornamentasi pada candi perwara tersebut terkait dengan konsep keagamaan.Kata kunci: Buddha, Candi Sewu, candi perwara, ornamentasi

    Appendix Kalpataru Volume 27, nomor 1, tahun 2018

    No full text

    MOTIF HIAS PADA ARSITEKTUR BANGUNAN PENINGGALAN ZENDING DI PULAU ROON DAN WASIOR, KABUPATEN TELUK WONDAMA, PROVINSI PAPUA BARAT

    Get PDF
    Abstrak. Misionaris yang bergabung dalam perkumpulan Zending Ultrecht untuk Misi Kristen Protestan (UZV) melakukan pengenalan agama Kristen Protestan di daerah Mansinam dan daerah sekitar unik yang diaplikasikan pada bagian tertentu pada bangunan yang ada. Tulisan ini bertujuan mengekplorasi  dan mengetahui makna dari arsitektur bangunan, dalam hal ini motif hias yang diterapkan pada bangunan yang didirikan oleh zending dalam misi kristiani yang dilakukan di daerah Roon dan Wasior. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif  dengan menggunakan data etnografi yang diperoleh melalui studi pustaka. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa bangunan peninggalan yang ada di kedua daerah ini menggunakan bahan yang sesuai dengan iklim setempat, sedangkan motif yang diterapkan sangat kuat dipengaruhi oleh budaya adat Saireri. Adopsi budaya lokal pada motif bangunan dimotivasi oleh nilai luhur yang terkandung dalam motif tersebut yang selanjutnya diaplikasikan pada bangunan sebagai pengingat untuk tetap dipedomani oleh masyarakat pada masa lalu.Kata Kunci: Zending, Motif hias, Pekabaran Injil, Roon dan Wasior  Abstract. Ultrecht Protestant Mission Union (UZV), also known as Zending Ultrecht, is group of missionaries of Dutch government who did evangelism in Mansinam and its surrounding areas in Cenderawasih Bay. Architectures built for the mission can be found in this area, including in Roon and Wasior. This paper aims to explore the history of Christianity in Roon and Wasior areas reflected in materials used for the construction as well as the architecture ornaments. The descriptive method and literature-based ethnography study were applied in this study to explain the meaning of the ornaments and the influence of local cultures to the colonial legacy. The results shows that the local culture, Saireri, strongly influenced the variety of ornaments used in the architectures. Another factor is adaptation with local climate that can be seen from its building materials. The use of local culture was to serve as life guidance by the community.Keywords: Zending, decorative ornaments, Christianity, Roon and Wasio

    WARISAN BUDAYA SEBAGAI BARANG PUBLIK: Cultural Heritage as Public Property

    Get PDF
    Abstract. The basic concept of this research departs from the view that cultural heritage is essentially a property of community, so that it requires public policy to manage it. Based on such perspective, the research was focused on the management of cultural heritage as public properties. The objective of this research is to reveal the management of public property from the aspects of public policy which was primarily derived from the study of scientific literatures and empirical evidences. This research used qualitative and explanative method using public relation model that emphasized on the effort to improve people’s perspective on the image of archaeology. Until today, the hypothesis that cultural heritages are public properties which could be enjoyed unconditionally by the public remains a theory. The research results proved that the hypothesis was correct. Keywords: Policy, public, management, cultural heritage. Abstrak. Konsep dasar penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa warisan budaya pada hakikatnya adalah milik masyarakat sehingga dalam pengelolaannya diperlukan kebijakan publik. Berangkat dari konsep di atas, permasalahan penelitian ini adalah “bagaimanakah pengelolaan warisan budaya sebagai barang publik”? Tujuan penelitian ini terfokus pada pengelolaan barang publik ditinjau dari aspek kebijakan publik yang berasal dari berbagai literatur ilmiah dan didukung pengalaman pribadi penulis selama berinteraksi dengan masyarakat. Kajian ini bersumber dari sintesa berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dalam berbagai tema dan topik penelitian. Metode yang digunakan adalah eksplanatif kualitatif dengan pendekatan hubungan masyarakat (public relation model) yang menekankan pada upaya perbaikan image ‘citra’ arkeologi di mata masyarakat. Barang publik untuk rakyat yang semestinya dapat dinikmati secara gratis oleh masyarakat hanya berupa teori. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pengelolaan warisan budaya sebagai barang publik tidak bisa sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat secara gratis. Kata kunci: kebijakan, publik, pengelolaan, warisan,budaya

    Petrographic analysis on prehistoric-protohistoric pottery of Northern coastal sites of central java: “early studies of environmental archaeology”.

    No full text
    AbstractPottery or often called gerabah is one of the results of technology that developed in the neolithic period, until now some people in Central Java in general and in the northern coast of Rembang regency in particular still found pottery craftsmen, one of them is in Balong Mulyo Village, Kragan District, Regency of Rembang. To get raw materials such as clay and sand, Balong Mulyo pottery craftsmen apparently make use of natural resources in their environment. As one artifact made from clay and sand materials, petrographically pottery can be analyzed type content and mineral percentage. The results of an analysis of petrographic samples of pottery fragments from prehistoric-protohistoric sites in the northern coast of Central Java such as Binangun, Leran, Plawangan and Tanjungan sites, have in common with the pottery samples from Balong Mulyo. This is one of the benefits of applying petrographic studies in archaeological research. In addition, the results of this petrographic study can provide an explanation that prehistoric-protohistoric humans in the northern coastal area of Central Java to meet their daily needs have utilized the natural resources of their environment, one of which is in pottery technology.Keywords: Pottery, Neolithic, Petrographic analysis, Raw material, Environment. Abstrak            Tembikar atau sering disebut gerabah adalah salah satu hasil teknologi yang berkembang pada masa neolitik, hingga sekarang sebagian masyarakat di Jawa Tengah umumnya dan di daerah pantai utara Kabupaten Rembang khususnya masih ditemukan pengrajin tembikar, salah satu di antaranya adalah di Desa Balong Mulyo, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Untuk mendapatkan bahan baku seperti tanah liat dan pasir, para pengrajin tembikar Balong Mulyo rupa-rupanya memanfaatkan sumberdaya alam di lingkungan mereka. Sebagai salah satu artefak yang dibuat dari bahan baku tanah liat dan pasir, secara petrografis tembikar dapat dianalisis kandungan jenis dan prosentasi mineralnya. Hasil analisis petrografi sampel fragmen tembikar dari situs-situs prasejarah-protosejarah di kawasan pantai utara Jawa Tengah seperti Situs Binangun, Leran, Plawangan, dan Tanjungan, secara garis besar memiliki kesamaan dengan sampel tembikar dari Balong Mulyo. Inilah salah satu manfaat penerapan kajian petrografi dalam penelitian arkeologi. Selain itu, hasil kajian petrografi ini dapat memberikan penjelasan bahwa manusia prasejarah-protosejarah di kawasan pantai utara Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka telah memanfaatkan sumberdaya alam lingkungannya, salah satu di antaranya adalah dalam teknologi pembuatan tembikar.Kata Kunci:  Tembikar, Neolitik, Analisis petrografi, Bahan baku, Lingkunga

    Appendix Kalpataru Volume 27, nomor 2, tahun 2018

    No full text

    Geologi situs paleolitik das kikim, kabupaten lahat, provinsi sumatra selatan.

    No full text
    Lahat is one of the districts within the province of South Sumatra, the site of research, saving many cultural remains, one of them from the paleolithic period, which for so long received no attention from environmental researchers. This is the basis of the main problems that cover geology in general. Therefore, the purpose of this study is to conduct surface geology mapping in general as an effort to present geological information, while the aim is to know the geomorphological aspects, stratigraphy, geological structures associated with existence in paleolithic sites of research area. The research method begins with literature review, survey, analysis, and interpretation of field data. Environmental observations provide information about the landscape consisting of terrestrial morphology units, weak corrugated morphology units, and strong corrugated morphology units. The rivers are in the Old River, the Adult River, and Periodic /Permanent River. The constituent rocks are Gumai Formation, Benakat Air Formation, Muara Enim Formation, Kasai Formation, and alluvial. The geological structure is a strike slip fault that flows northeast-southeast. The study was conducted on the Kikim River, Lingsing River, and Pangi River, which stretches from east to west with direction from south to north. Exploration in the Kikim Basin, Lahat District has managed to find 30 paleolithic sites.Keywords: Geology, Pleistocene, Paleolithic, Open SiteABSTRAKLahat merupakan salah satu kabupaten dalam Provinsi Sumatra Selatan yang menjadi lokasi penelitian, menyimpan banyak tinggalan budaya, salah satunya dari masa paleolitik, yang sekian lama tak mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan. Hal inilah yang dijadikan dasar permasalahan utama yang mencakup geologi secara umum. Oleh sebab itu, maksud penelitian ini dalah untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya untuk menyajikan informasi geologi, sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi yang dikaitkan dengan keberadaan di situs-situs paleolitik wilayah penelitian. Metode penelitian diawali dengan kajian pustaka, survei, analisis, dan interpretasi data lapangan. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alamnya yang terdiri dari satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, dan satuan morfologi bergelombang kuat. Sungainya berstadia Sungai Tua, Sungai Dewasa-Tua, dan Sungai Periodik/Permanen. Batuan penyusun adalah Formasi Gumai, Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim, Formasi Kasai, dan aluvial. Struktur geologi berupa patahan geser yang berarah timur laut-tenggara. Penelitian dilaksanakan di Sungai Kikim, Sungai Lingsing, dan Sungai Pangi, yang membentang dari timur ke barat dengan arah aliran dari selatan ke utara. Eksplorasi di DAS Kikim, Kabupaten Lahat telah berhasil menemukan 30 situs paleolitik. Kata kunci: Geologi, Plistosen, Paleolitik, Situs Terbuk

    94

    full texts

    159

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KALPATARU
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇