KALPATARU
Not a member yet
159 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi di Pulau Haruku dan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah
Abstract.
The management of cultural heritage in various parts of Indonesia is still a major issue that is often used in many studies of Cultural Resource Management. Problems that arise often intersect with matters of identity, authenticity, and authority that directly target the cultural heritage. The three things mentioned above are significant in seeing the root of the problem, about how cultural heritage with physical appearances has not been included in the list of cultural heritage. This research is an exploratory survey conducted in Haruku and Saparua Islands, or known locally as Lease Islands. The purpose of this study is to share about public archaeology to the community and stakeholders, based on the management issues in several old mosques and colonial heritage fortresses in Haruku and Saparua Islands. The method used in this study was by collecting data in the form of photographs and geographical degrees, as well as conducting interviews with local people. The result of this research hopefully will benefit the community and stakeholders when doing archaeological management system of those heritage buildings.
Keywords: Management, Significant Value, Archaeological Resources, Mollucas, Haruku and Saparua Islands
Abstrak.
Permasalahan pengelolaan tinggalan warisan budaya (heritage) di berbagai wilayah Indonesia menjadi isu utama yang kerap digunakan dalam banyak studi culture resource management. Permasalahan yang muncul sering bersinggungan dengan hal identitas, otentisitas, dan otoritas yang langsung menyasar warisan budaya tersebut. Ketiga hal yang disebutkan di atas tersebut sering menjadi hal ikhwal dalam melihat akar permasalahan, bagaimana suatu warisan budaya, terutama yang berupa bangunan belum dimasukkan dalam daftar cagar budaya. Penelitian ini bersifat survei eksploratif yang dilakukan di Pulau-pulau Lease, yaitu Haruku dan Saparua. Tujuan penelitian ini untuk mendistribusikan pengetahuan arkeologi, khususnya pemahaman arkelogi publik. Metode penelitian yang dilakukan di lapangan adalah pengumpulan data berupa foto, keletakan geografis, dan pengumpulan data oral hasil wawancara terhadap informan secara kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh adalah berkenaan otentisitas Masjid Tua Rohomoni, Benteng New Zelandia di Pulau Haruku, dan Duurstede di Pulau Saparua yang masih cukup terjaga keasliannya karena masyarakat dan stakeholder lain di sekitar situs menganggap semua bangunan tersebut bernilai penting yang harus dikelola dengan sistem manajemen arkeologi yang berbasis nilai penting pula.
Kata kunci: Pengelolaan, Nilai Penting, Sumber Daya Arkeologi, Maluku, Pulau Haruku dan Saparu
“OMO HADA” Arsitektur Tradisional Nias Selatan Diambang Kepunahan
AbstractThe South Nias cultural heritage presented through the artifacts, in the form of traditional architectural buildings, as well as various megalithic stone buildings with all their forms, is an ancestral cultural work that not only contains aesthetic values, uniqueness and art, but also local wisdom as a source of knowledge which is very valuable to be studied and studied. This important and very valuable heritage must be preserved and preserved. But the attitudes and views of the people towards their cultural heritage are changing, as if they no longer have sacred values, even the value of local wisdom begins to fade over time. The existence of South Nias traditional houses is relatively more sustainable compared to other traditional houses. To maintain its existence, changes are needed to accommodate the current residential needs of the community. On the other hand, these changes have the potential to eliminate the character or authenticity of traditional Nias Selatan architecture. This study aims to find out about traditional technologies and architectural changes that occur and their impact on the existence of traditional South Nias houses. From the various problems of the South Nias cultural heritage that are being faced, this study tries to highlight aspects of traditional architecture and local wisdom, including the accompanying megalithic elements. The subjects that will be studied use an ethno-archaeological approach with emphasis on the observation method through direct observation of objects of material culture and social aspects at the research site. In this way it makes it easier for us to observe directly and in detail the architectural forms and components, both exterior and interior as well as the decorative types in the past cultural context of South Nias.Keywords: Traditional Architecture, Megalithic, Cultural HeritageAbstrak Warisan budaya Nias Selatan yang dipresentasikan lewat peninggalan artefak, berupa bangunan berarsitektur tradisional, maupun beragam bangunan batu megalit dengan segala rupa bentuknya, merupakan karya budaya leluhur yang tidak hanya mengandung nilai estetika, keunikan dan seni semata, tetapi juga merupakan kearifan lokal sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sangat berharga untuk dikaji dan dipelajari. Warisan yang penting dan sangat berharga ini wajib dipelihara dan dilestarikan. Namun sikap dan pandangan masyarakatnya terhadap warisan budayanya, sedang berubah, seakan tidak lagi memiliki nilai-nilai sakral, bahkan nilai kearifan lokal pun mulai luntur seiring perjalanan waktu. Keberadaan rumah tradisional Nias Selatan relatif lebih bertahan eksistensinya dibandingkan rumah tradisional lainnya. Untuk mempertahankan eksistensinya, diperlukan perubahan untuk mengakomodasi kebutuhan hunian masyarakat saat ini. Di sisi lain, perubahan tersebut berpotensi menghilangkan karakter atau keaslian arsitektur tradisional Nias Selatan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui teknologi tradisional dan perubahan arsitektur yang terjadi dan dampaknya terhadap eksistensi dari rumah tradisional Nias Selatan. Dari berbagai masalah warisan budaya Nias Selatan yang sedang dihadapi itu, maka penelitian ini mencoba menyoroti aspek arsitektur tradisional maupun kearifan lokalnya, termasuk unsur megalitik yang menyertainya. Subyek yang akan dikaji ini memakai pendekatan etnoarkeologi dengan penekanan pada metode observasi melalui pengamatan langsung terhadap obyek-obyek budaya material dan aspek sosial di lokasi penelitian. Dengan cara ini memudahkan kita mengamati secara langsung dan detil bentuk-bentuk arsitektur dan komponennya, baik eksterior dan interior maupun ragam hias dalam konteks budaya masa lalu Nias Selatan.Kata Kunci: Arsitektur Tradisional, Megalitik, Warisan Buday
Jejak-jejak Permukiman Kuno Di Kawasan Teluk Semangka, Propinsi Lampung
AbstractThe Gulf is an area of water jutting inland and is often used as a port. In the 15th century — 17 M the Gulf of Semangka was passed by a sea-trading route before heading to Teluk Betung. However, this region is rarely mentioned in historical sources even though the ancient settlements have been found in the upstream of the Way Semangka since in the 10th century, so the absence of historical records in the downstream area or the gulf of Semangka becomes an important problem to solve. Through a descriptive reasoning method with geoarchaeological surveys and interviews, there were found 15 ancient settlements in the gulf of Semangka area as well as on a floodplain by leaving ceramic fragments from the 19 — 20 century. Results indicated that the settlement allegedly was built by the initial settlers of the Saibatin clan whose inhabiting the Gulf of Semangka through a short-haul river, and cross the ridge. The gap of settlement chronology between upstream and downstream is indicated due to the environmental vulnerability in this region as a result of its position on the active-control of Semangka fault. Keywords: Ancient settlement, the gulf of Semangka, Tanggamus. AbstrakTeluk merupakan wilayah perairan yang menjorok ke daratan dan seringkali dimanfaatkan sebagai pelabuhan. Pada abad ke-15-17 M wilayah Teluk Semangka dilewati sebagai jalur perdagangan sebelum menuju Teluk Betung. Meskipun demikian, wilayah ini jarang sekali disebut dalam sumber sejarah, padahal permukiman kuno telah ada di bagian hulu Way Semangka sejak abad 10 M. Absennya catatan sejarah di wilayah hilir atau teluk Semangka menjadi masalah yanng menarik. Melalui metode penalaran deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survei geoarkeologi dan wawancara, ditemukan 15 titik permukiman di kawasan Teluk Semangka dan sekaligus berada pada dataran limpahan banjir. Artefak yang ditemukan dominan berupa fragmen keramik abad ke19--20 M. Hasil penelitian mengindikasikan permukiman tersebut sebagai sebaran dari pemukim awal marga saibatin yang mendiami wilayah Teluk Semangka yang datang dari hulu di wilayah Liwa melalui sungai Semangka yang curam dengan jarak pendek, melintasi hutan dan punggung bukit. Jauhnya rentang kronologi permukiman antara hulu dan hilir diindikasi karena faktor kerentanan lingkungan akibat bencana karena lokasinya dipengaruhi oleh kontrol aktif sesar Semangka. Kata kunci: Permukiman kuno, Teluk Semangka, Tanggamu
Prospek Sumber Daya Arkeologi Prasejarah Pulau Rote Ndao dalam Konteks Pengembangan Kawasan Perbatasan
Abstract. The potential of cultural heritage especially prehistoric sites along the karst hills on Rote island has significant value in the context of understanding and knowledge about archeology in East Nusa Tenggara. Cave sites in Rote island were started to be inhabited since the late Pleistocene and early Holocene, based on the presence of human settlement traces found in the caves and niches. Another historical evidence was a bronze axe which showed that Rote Island was a strategic region on Paleometalic era. The fragments of potteries, flakes, animal bones, dan mollusc shells found in the area sprang some questions if this area was used only as a settlement or had any other purposes. The aim of this research is to reveal the archaeological resources owned by the island, along with its geological condition. The method applied in this study is using field observation (survey) followed by excavation on prehistory sites that represent Rote Ndao human settlements. Numerous lithic artifacts were gathered for reasearch data, such as flakes, pottery, and mollusc shell and bone deposits. These data about prehistoric karst in Rote Ndao island have important value to reveal the migration path, particularly its geographic position as the foremost island and borderline region between East Timor and Australia. Abstrak. Potensi warisan budaya terutama situs-situs prasejarah di sepanjang bukit-bukit karst di Pulau Rote memiliki nilai penting dalam konteks pemahaman dan pengetahuan arkeologi Nusa Tenggara Timur. Situs-situs gua karst di Pulau Rote, dimulai pada masa akhir Pleistosen dan awal Holosen dengan adanya jejak-jejak hunian manusia di gua dan ceruk. Bukti historis lainnya adanya temuan kapak perunggu yang menunjukkan bahwa Pulau Rote merupakan wilayah yang strategis pada era paleometalik. Ditemukannya berbagai jenis pecahan tembikar, serpih dan fragmen tulang fauna, sisa-sisa makanan moluska menimbulkan beberapa pertanyaan terhadap lokasi ini di masa lalu, apakah situs ini memiliki fungsi hunian semata, ataukah mempunyai fungsi lain. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap sumberdaya arkeologi beserta kondisi geologi yang dimiliki Pulau Rote. Metode yang digunakan yaitu melakukan observasi lapangan (survei) dan dilanjutkan dengan ekskavasi terhadap situs yang memiliki indikasi kuat sebagai hunian prasejarah Rote dan dianggap mewakili situs hunian prasejarah Rote Ndao. Dari penelitian ini diperoleh sejumlah data artefak litik berupa alat-alat serpih, tembikar dan deposit cangkang moluska dan tulang. Potensi data arkeologi (prasejarah karst) Pulau Rote Ndao memiliki nilai penting untuk mengungkap jalur migrasi, terutama posisi geografinya sebagai pulau terdepan dan wilayah perbatasan antara Timor Leste dan Australia
UPAYA PELESTARIAN KAPAL KARAM M.V. BOELONGAN, TELUK MANDEH, SUMATRA BARAT DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)
Abstract. M.V Boelongan shipwreck is an underwater archaeological site which is potential to be a dive spot destination in Mandeh Bay, Pesisir Selatan Regency. The shipwreck has huge historical value as it was used by Dutch during World War II. This study used Geographic Information System (GIS) to conduct the master plan, as an effort to protect the shipwreck from tourism impact. It would also be beneficial for listing tourism assets and modelling a management strategy. GIS itself is a system designed to capture, store, manipulate, analyze, manage, and present all types of geographical data. Assessment and variables scoring from the research location will be conducted to get suitable location for dive spot. To determine the location, the analysis was based on the result of the integration between the assessment and variables scoring which has been determined. The result shows that there are six locations suitable to be dive spot destination. The dive spots with zonation concept would support the preservation of marine environment as well as M.V Boelongan shipwreck as archaeological remains in Mandeh Bay area.Keywords: Management Model, Multidestination, Geographic Information System, Boeloengan Shipwreck, Mandeh Bay Abstrak. Kapal karam M.V. Boeloengan adalah salah satu tinggalan arkeologi bawah air yang berpotensi dijadikan destinasi wisata selam di Teluk Mandeh, Pesisir Selatan Sumatra. M.V. Boeloengan mengandung nilai sejarah sebagai kapal Belanda dan menjadi bukti Perang Dunia II. Model pengelolaan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) dilakukan sebagai bentuk upaya pelestarian kapal karam dari dampak pariwisata. Dengan demikian, dilakukan pendataan aset wisata selam yang ada serta pemodelan pengelolaan dalam bentuk multidestinasi wisata selam. SIG adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis, metode, dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan secara bentuk informasi yang bereferensi geografis. Pembobotan dan pemberian skor atas variabel dari setiap lokasi dilakukan guna menentukan lokasi wisata selam yang sesuai. Untuk menentukannya, dilakukan analisis menggunakan SIG berdasarkan hasil penggabungan antara pembobotan dan pemberian skor terhadap varibel yang ditentukan. Enam lokasi yang sesuai akan dijadikan destinasi wisata selam dengan konsep zonasi yang mendukung pelestarian lingkungan laut dan tinggalan sejarah yakni shipwreck M.V. Boelongan di kawasan Teluk Mandeh.Kata kunci: Model Pengelolaan, Multidestinasi, Sistem Informasi Geografi, Boeloengan, Teluk Mande