159 research outputs found

    Makara Pada Masa Śriwijaya

    Get PDF
    Śrīwijaya merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia pada abad ke-7-12 M. Tinggalan bangunan suci dari masa Śrīwijaya tersebar di beberapa kawasan, yaitu Muara Jambi di Jambi, Muara Takus di Riau, Bumiayu di Sumatera Selatan, hingga beberapa kelompok bangunan suci Padang Lawas di Sumatera Utara. Makara merupakan salah satu unsur bangunan candi yang biasanya berpasangan dengan kala. Tujuan penulisan ini adalah ingin mengetahui ciri-ciri makara dari masa Śrīwijaya dengan cara membandingkannya dengan makara-makara dari candi masa Matarām Kuno. Dari hasil penelitian selama ini diketahui bahwa makara Śrīwijaya mempunyai ciri tersendiri, meskipun tidak menafikan adanya beberapa kesamaan dengan makara dari masa Matarām Kuno tersebut. Abstract. Makaras During the Śrīvijaya Period. Śrīvijaya was one of the big kingdoms in Indonesia in 7th - 12th Centuries CE. Remains of temples from the Śrīvijaya period are distributed in several areas, from Muara Jambi in Jambi, Muara Takus in Riau, Bumiayu in South Sumatera, up to the several temple complexes of Padang Lawas in North Sumatera. Makara is one element of the temple which is usually paired with kala. This paper will discuss Makaras from Śrīvijaya period that have specific characteristics compared to Makaras at the ancient Matarām, although there are also some similarities to those in Java

    Preface Kalpataru Volume 23, nomor 2, tahun 2014

    No full text

    Aspek-aspek Kajian Islam di Nusantara: Langkah Peniti Peradaban.

    No full text
    Tulisan ini merupakan sebuah tinjauan atas zaman pengaruh Islam di Nusantara, sebuah rentang zaman yang menandai salah satu perubahan budaya di Nusantara. Maksud dari tinjauan ini adalah menemukan sebuah kerangka tentatif yang dapat digunakan untuk mengungkap aspek-aspek yang diharapkan dapat diajukan dalam penelitian arkeologi. Aspek-aspek yang dimaksud antara lain diaspora Islam, negeri kesultanan, jaringan perniagaan, permukiman dan perkotaan, teknologi dan produksi, literasi dan keagamaan, dan kesenian. Tersedianya bahan teks merupakan bagian untuk memahami konteks peristiwa dari fragmentasi data arkeologi dari zaman ini.Studi literatur dan kasus penelitian berkaitan dengan topik ini digunakan sebagai bahan dalam tulisan ini. Abstract. Aspects of Islamic Studies in The Archipelago Step onto The Civilization. This paper is an overview of an era of Islamic influence in the archipelago, an age range that marks one of the cultural changes in the archipelago. The purpose of this review is to find a tentative framework that can be used to reveal aspects that are expected to be discussed in archaeological research. These aspects are, Islamic diaspora, sultanate state, commercial networks, settlements and urban, production and technology, literacy and religion, customs and arts. The use of tekstul materials is a part to understand the fragmented archaeological data from this era. The uses of tekstul materials is a part to understand the fragmented of archaeological data of this period. The literature and case studies that are relevant to this topic is used in this paper

    Pengaruh Kolonial di Nusantara.

    Get PDF
    Nusantara merupakan sumber rempah-rempah dan hasil alam lainnya, pada masanya komoditi tersebut sangat dicari oleh bangsa Asia dan Eropa. Sekitar abad ke-16 M. perairan Nusantara mulai dijelajahi kapal-kapal dagang Eropa, kekuatan pelayaran dan perdagangan Eropa ini mendominasi perairan Asia Tenggara termasuk Nusantara hingga pertengahan abad ke- 20 M., ditandai dengan kedatangan koloni Jepang. Dari sinilah dimulainya peranan koloni asing di Nusantara. Ekspedisi, aktivitas komersial, dan politik yang mereka lakukan dapat ditelusuri melalui catatan sejarah dan bukti arkeologi, yang banyak dan tersebar di Nusantara. Dalam tulisan ini, secara khusus akan membahas jejak peninggalan kolonial di beberapa tempat di Nusantara. Tahapan eksplorasi dan deskriptif dalam pengumpulan dan pengolahan data, kemudian melihat pola persebarannya dan membandingkan karakter serta kronologi bukti-bukti arkeologi kolonial yang ditemukan. Keberadaan sumber rempah-rempah, di Nusantara, dapat dikaitkan bukan hanya sebagai bukti adanya jaringan perdagangan antara negara produsen dan konsumen, tetapi juga sebagai bukti keberadaan komunitas asing di wilayah Nusantara. Rentang waktu sejarah koloni asing di Nusantara lebih dari tiga abad. Dalam periode dimana peran dan orientasi kegiatan mereka, dapat diketahui secara jelas berdasarkan obyek kajian, karakter, pola persebaran, fungsi dan kronologi keberadaan koloni asing di Nusantara. Abstract. Colonial Influence in Nusantara. Archipelago is a source of spices and other natural products, in this time the commodity highly sought by Asian and European nations. In the 16th Century of the archipelago waters began explored European merchant ships, the strength of Europe’s shipping and trade dominate Southeast Asian waters, including the archipelago until the mid 20th Century, was marked by the arrival of the Japanese colony. This is where the role of the commencement of the foreign colony in the archipelago. Expedition, commercial activity, and they do politics can be traced through historical records and archaeological evidence, so many and scattered in the archipelago. In this paper, will specifically address the colonial traces in several places in the archipelago. Exploratory and descriptive stages in the collection and processing of data, then look at the pattern of spreading and compare the character and chronology of colonial archaeological evidence found. The existence of the source of the spice, in the archipelago, can be attributed not only as evidence of trade links between producer and consumer, but also as evidence of the existence of the foreign community in the archipelago. Span of the history of the foreign colony in the archipelago long enough for more than three centuries. In periods in which the role and orientation of their activities, can be seen clearly based on the object of study, character, pattern of distribution, function and chronology of the existence of the foreign colony in the archipelago

    Sriwijaya for Our Nation*

    No full text
    Śrīwijaya Bagi Bangsa Kita. Kerajaan Śrīwijaya yang berpusat di Sumatera bagian selatan dan berkembang pada abad ke-7-13 M. merupakan salah satu puncak budaya Nusantara. Menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan Selat Sunda; menjalin hubungan dagang dengan Cina, India, Arab, Persia, dan Madagaskar; membangun kawasan-kawasan strategis sebagai pangkalan armada untuk kepentingan dagang dan menjaga wilayah kedaulatan; membangun pusat pendidikan agama Budha dan bahasa Sanskerta; serta membina toleransi beragama, merupakan capaian-capaian sekaligus nilai-nilai yang menjadikannya negara maritim yang besar dan sangat berpengaruh di kawasan regional Asia Tenggara pada zamannya. Śrīwijaya bukan sekedar pengetahuan masa lampau, tetapi hendaknya bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Aktualisasi semangat, kebesaran, serta nilai-nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya hendaknya menjiwai, menginspirasi, dan memotivasi kita dalam membangun bangsa kepulauan yang besar. Caranya mewariskan pengetahuan tentang Śrīwijaya beserta nilai-nilai yang dimilikinya melalui pendidikan formal dan informal, berbagai kegiatan pemasyarakatan, kegiatan olah raga, seni, dan budaya. Cara lain yang sangat strategis adalah membangun “Rumah Peradaban Śrīwijaya”, sebuah kompleks yang mewadahi pusat penelitian dan informasi, museum sebagai sarana edukasi dan pemasyarakatan, serta ruang publik. Abstract. Śrīvijaya Kingdom that centered in South Sumatera is one of the highest peak of culture in the Indonesian Archipelago. The kingdom evolved from 7th to 13th Century AD. Several achievements that made Śrīvijaya Kingdom become a great maritime country and very influential in South East region are as follows, commanded the trade route in Malaka Strait and Sunda Strait; had a trade relations with China, India, Arab, Persia, and Madagascar; built a strategic area as a maritime base for commercial interest and sovereignty protection; built a Buddhist and Sanskrit center; and also built tolerance to religions in society. Śrīvijaya is not just a knowledge from the past, it should bring benefits to Indonesia as a nation. The spirit of actualization, the greatness, and the culture and historical values should inspire and motivate Indonesian people to build a great archipelagic nation. The knowledge of Śrīvijaya could be inherited through formal and informal education, and social activities such as sports activities, arts activities, and cultural activities. Another strategic way is to build “Rumah Peradaban Śrīwijaya” (House of Śrīvijaya Civilization). Rumah Peradaban Śrīvijaya is a building complex that embodies a research and information center, museum as an educational and social facility, and also public spac

    Appendix Kalpataru Volume 23, nomor 1, tahun 2014

    No full text

    Perkembangan Budaya Akhir Pleistosen-Awal Holosen Di Nusantara.

    Get PDF
    Sejak dasawarsa terakhir ini eksplorasi untuk mengetahui jejak-jejak manusia dan budaya akhir Pleistosen-awal Holosen makin meluas. Wilayah pengamatan telah menjangkau Aceh, Pulau Nias, pedalaman Sumatera Selatan, pesisir Pantai Barat Kalimantan Barat dan Barito Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Tengah, Halmahera, Ponorogo dan Pacitan (Jawa Timur), Wonosari  (Yogyakarta), Klungkung (Bali), Rotendao, Flores, dan Kupang. Makalah   ini merupakan kompilasi data dari sejumlah hasil penelitian yang menyangkut budaya akhir Pleistosen-awal Holosen, dalam upaya mencari informasi baru jejak-jejak perkembangan munculnya manusia sapiens yang menyangkut distribusi situs dan kronologinya. Melalui tulisan ini diperoleh sumbangan data berupa tambahan jumlah hasil pertanggalan dan persebaran situs- situs serta teknologi budaya manusia sapiens pada akhir Pleistosen-awal Holosen di Indonesia. Abstract. The Cultural Development during Late Pleistocene-Early Holocene in the Indonesian Archipelago. Since the last decade, explorations to unveil traces of culture of Late Pleistocene- Early Holocene have become more extensive. The observation areas have covered Aceh, Nias Island, the interior of South Sumatra, the west coast of West Kalimantan and North Barito,  South Sulawesi, Central Moluccas, Halmahera, Ponorogo and Pacitan in East Java, Wonosari (Yogyakarta), Klungkung (Bali), Rotendao, Flores, and Kupang. This article is a compilation of data from a number of research results pertaining to Late-Pleistocene-Early Holocene culture, in search of new data about traces of emergence of development of Homo sapiens in terms of site distribution and chronology. The results of this paper will provide new data in forms of more dating results as well as wider site distribution and cultural technology of Homo sapiens from Late Pleistocene-Eary Holocend in Indonesia

    Awal Pengaruh Hindu Buddha Di Nusantara.

    Get PDF
    Berbicara tentang awal pengaruh Hindu Buddha di Nusantara sejauh ini selalu dimulai pada sekitar abad ke-5 M. yang ditandai oleh kehadiran kerajaan Kutai dan Tarumanagara di Nusantara dan masih sedikit perhatian terhadap periode sebelum itu. Padahal periode awal sampai dengan abad ke-5 M. adalah periode krusial bagi munculnya kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Nusantara. Penelitian terhadap periode awal sejarah dimaksudkan untuk mengungkapkan dinamika sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat Nusantara sehingga mampu menerima dan menyerap unsur-unsur budaya asing (India) yang pada puncaknya memunculkan sejumlah kerajaan bersifat Hindu-Buddha di Nusantara. Metode analisis yang dipakai adalah metode analisis tipologis dan kontekstual serta beberapa analisis C-14 atas temuan diharapkan dapat menjelaskan kondisi masyarakat Nusantara pada masa lalu. Hasil penelitian ini dapat mengidentifikasikan sejumlah tinggalan arkeologi seperti sisa tiang rumah, sisa perahu, keramik, tembikar, manik-manik, alat logam, dan sejumlah kubur yang diidentifikasi berasal dari periode awal sejarah. Berdasarkan tinggalan tersebut dapat direkonstruksi kondisi sosial-ekonomi masyarakat Nusantara dan peranannya di dunia internasional di Kawasan Asia Tenggara. Abstract. Early Hindu-Buddhist Influence in the Indonesian Nusantara. So far discussions about early Hindu-Buddhist influence in the Indonesian Archipelago (Nusantara) have always been started at around 5th Century AD, which is characterized by the presence of the kingdoms of Kutai and Tarumanagara in the archipelago, while the earlier period is barely noticed although the period between early and 5th century AD is a crucial period for the emergence of Hindu- Buddhist kingdoms in the archipelago. Research on the early period in history is intended to reveal the socio-economic dynamics among the communities in the Indonesian Archipelago so that they could accept and absorb elements of foreign (Indian) culture that ultimately gave rise to a number of Hindu-Buddhist kingdoms in the archipelago. The study collected data through surveys and excavation, and the methods of analyses used are typological and contextual analyses, as well as C-14 analyses on some finds that are expected reveal the conditions of the communities in the Indonesian Archipelago in the past. The results of this study are identification of a number of archaeological remains like remains of house poles, boat, ceramics, pottery, beads, metal tools, and several graves dating from the early period. The remains can be used to reconstruct the socio-economic condition of the archipelago and its role in the international world in Southeast Asia region

    Jejak-Jejak Peradaban Hindu-Buddha Di Nusantara

    Get PDF
    Peradaban Hindu-Buddha di Nusantara ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan kuna di Indonesia pada abad ke-4-5 M. dan berakhir pada awal abad ke-16 M. Adapun maksud dan tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui peradaban Hindu-Buddha secara komperhensif di Nusantara, berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Balai-balai Arkeologi di seluruh Indonesia, sejauh yang dapat dijangkau oleh penulis. Metode yang dipakai lebih kepada pengumpulan data dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Balai-balai Arkeologinya, ditelaah, dan dibuat suatu ikhtisar yang menggambarkan jejak-jejak peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Hasil kajian memperlihatkan adanya berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masa Hindu- Buddha yang mendukung maju-mundurnya suatu peradaban seperti aspek sosial, politik, ekonomi, agama, kesenian (sastra, arsitektur, arca), ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aspek tata ruang tempat di mana masyarakat itu hidup. Abstract. Traces of Hindu-Buddhist Civilization In The Indonesian Archipelago. The Hindu- Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago was marked by the emergence of ancient kingdoms in Indonesia in 4th–5th Centuries CE up to early 16th Century CE. The aim and purpose of this article is to identify comprehensively the Hindu-Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago based on researches carried out by the National Centre of Archaeology and its Archaeological Offices all over the archipelago, as far as the author can reach. The methods being used are collecting data from the researches to be studied, and making a recapitulation that shows traces of Hindu-Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago. The results reveal various aspects of community life during the Hindu-Buddhist period that influenced the growth or fall of a civilization, such as aspects of social, political, economic, religion, art (literature/humanities, architecture, and iconography), knowledge and science, as well as the spatial organization where the communities lived

    Appendix Kalpataru Volume 23, nomor 2, tahun 2014

    No full text

    94

    full texts

    159

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KALPATARU
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇