159 research outputs found

    Peninggalan Megalitik di Wilayah Perbatasan Kalimantan: Kontak Budaya Antara Kepulauan Indonesia dan Serawak

    Get PDF
    Abstract. As a region in borderline, North Kalimantan is rich of cultures, especially megalithic remains. The lack of facilities and infrastructures resulted in minimum access to these sites, so that explorations can’t be done completely. The problem that appears is that the length of cultural contact between borders is still unknown. The purpose of this study is to explain the connection of megalithic cultures of North Kalimantan (Indonesia), Serawak (Malaysia), and also other megalithic cultures in Indonesia. The method used in this study is cultural diffusion approach through literature studies about megalithic in the border region of North Borneo and Sarawak as well as Indonesia in general. The results shows that the distribution of stone jars in the borderline regions indicated a cultural connection between Sarawak in Malaysia and several places in Indonesia (Central Sulawesi, Samosir, Toraja, and Bima). Abstrak. Sebagai wilayah perbatasan, Kalimantan Utara mengandung kekayaan budaya terkait dengan peninggalan megalitik. Kurangnya sarana dan prasarana mengakibatkan akses ke situssitus tersebut sangat sulit untuk dicapai, sehingga eksplorasi yang telah dilakukan dari beberapa kegiatan belum bisa menjangkau keseluruhan. Permasalahan yang muncul dengan keterbatasan itu adalah belum diketahui secara jelas sejauh mana kontak budaya antara megalitik wilayah perbatasan Kalimantan Utara dengan megalitik yang ada ditempat lain. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran hubungan antara megalitik di perbatasan Kalimantan Utara dengan megalitik di Serawak serta megalitik di Indonesia. Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan difusi budaya melalui studi literatur hasil-hasil penelitian terhadap megalitik di wilayah perbatasan Kalimantan Utara dan megalitik yang ada di Serawak dan di Indonesia secara umum. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa didasarkan atas persebaran bentuk-bentuk tempayan batu di wilayah perbatasan menunjukkan adanya koneksitas budaya dengan tempayantempayan batu di Serawak dan beberapa tempat lain di Indonesia (Sulawesi Tengah, Samosir, Toraja, dan Bima).

    Eksplorasi Geoarkeologi Pulau Sabu: Salah Satu Pulau Terdepan di Nusa Tenggara Timur

    Get PDF
    Abstract. Savu island with its cluster islands including Sabu Raijua Regency is located in the south of Republic of Indonesia. Researches conducted in East Nusa Tenggara began in 1950s by Th. Verhoeven in Flores and Timor islands. Next research was by National Research Center of Archaeology in Flores, Timor and Sumba (1970), in Atambua and Savu (1980), and in Savu (2010). The researches in Savu so far were focused more on archeology and ethnography, while geological aspect has not been done yet. This article will try to explain about geological condition in Savu island in general.The purpose and goal of the research is to determine the geological condition Savu in detail, including landscape, rock composition, and geological structure. The method used, is the survey. The results shows that Savu consists of plain morphological unit and feeble wave morphological unit with altitude 0-350 meters above sea level. Rock composition consists of marl, tufa, limestone, alluvial, and passed by normal fault. Archaeological data in Savu island are in form of paleolithic, megalithic, indigenous villages, and caves. Abstrak. Pulau Sabu dengan gugusan pulaunya termasuk Kabupaten  Sabu Raijua, terletak di selatan Negara Republik Indonesia. Penelitian di Nusa Tenggara Timur berawal oleh Th. Verhoeven tahun 1950an di Pulau Flores dan Timor. Selanjutnya Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1970 di Flores, Timor, dan Sumba, tahun 1980 di Atambua dan Pulau Sabu, serta tahun 2010 di Pulau Sabu. Penelitian yang telah dilaksanakan di Pulau Sabu selama ini, lebih banyak terfokus pada arkeologi, dan etnografi, sedangkan penelitian yang bersifat geologi belum pernah dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan penelitian di Pulau Sabu adalah bagaimana kondisi geologi di daerah tersebut, terkait dengan keberadaan situs arkeologi. Maksud dan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi Pulau Sabu secara detil yang meliputi bentang alam, batuan penyusun, dan struktur geologi. Metode yang digunakan, adalah  survei. Hasil penelitian di Pulau Sabu terdiri dari satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah, dengan ketinggian adalah 0-350 meter diatas permukaan air laut. Batuan penyusun adalah napal, tufa, batugamping, dan aluvial, serta dilalui Sesar Normal. Kepurbakalaan di Pulau Sabu berupa paleolitik, megalitik, perkampungan adat, dan gua

    Pelestarian Warisan Budaya Bahari: Daya Tarik Kapal Tradisional Sebagai Kapal Wisata

    Get PDF
    Abstract. Indonesia, where 75% of its territory is covered by the sea, held a significant role both in local and international commerce in the past. Various historical evidences, shipwrecks, as well as the influence and the similarity of maritime culture with other countries reveal that Indonesian people held major role in global maritime culture at the time. However, the maritime culture and life nowadays slowly recedes due to economical factors, limited raw materials, and lack of technology. This paper aims to provide solutions for the problems through the alteration of traditional wooden boat into traditional cruise. The approach used in this research is sustainable development approach through the concept of marine tourism which focuses in making use of traditional boats for both native villagers and tourists to visit the natural and cultural attractions of marine people living in coastal areas and small islands. Hopefully, this article can inspire to support the government repositioning Indonesia maritime area as one of the global maritime axis, in addition to strengthen the efforts to preserve the maritime cultural heritage.Abstrak. Wilayah Indonesia memiliki luas wilayah kurang lebih 75% berupa laut, memiliki peran penting dalam arus lalu-lintas perdagangan lokal maupun antar negara di masa lalu. Adanya berbagai bukti sejarah, kapal tenggelam, serta pengaruh atau kesamaan budaya bahari dengan negara lain, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa bahari yang hidup di wilayah perairan sebagai poros pelayaran internasional kala itu. Permasalahannya adalah kehidupan akar budaya bahari masyarakat sekarang ini, yang salah satunya berupa aktivitas pelayaran kapal tradisional sebagai bukti budaya bahari, secara perlahan tapi pasti mulai menghilang akibat faktor ekonomi, bahan baku, dan teknologi. Tulisan ini bertujuan memberikan alternatif pemecahan masalah pelestarian budaya bahari bangsa melalui pemanfaatan potensi kapal kayu tradisional sebagai kapal wisata tradisional (traditional cruise). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pembangunan berkelanjutan melalui konsep pariwisata bahari dengan fokus pada pemanfaatan kapal tradisional yang tidak saja memberi kemudahan angkutan masyarakat antar pulau, tetapi juga kemudahan kepada wisatawan untuk mengunjungi keanekaragaman alam dan kehidupan keseharian akar budaya bahari masyarakat di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Diharapkan tulisan ini dapat menjadi inspirasi dalam mendukung pemerintah memposisikan kembali wilayah perairan Indonesia sebagai poros pelayaran internasional (poros maritim dunia), sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya bahari bangsa

    Dermaga Kuna di Situs Kota Kapur dan Analisis Pertanggalan Absolut

    Get PDF
    Abstract. Archaeological research at the Kota Kapur site is not as intensive as research on Sriwijaya Palembang, but this site can’t be separated from the kingdom of Sriwijaya. The research tried to see ancient port as part of a settlement on the site of Kota Kapur. This study focused on the remaining pillars to search for its absolute dating. Therefore, descriptive analysis and carbon dating (C-14) methods were used to answer the research problems. The results showed that the absolute dating of ancient port were similar with other archaeological data obtained from previous research. It confirms that the port is part of the settlement units in Kota Kapur site at 6th or 7th century AD.Abstrak. Penelitian arkeologi di situs Kota Kapur memang tidak seintensif penelitian tentang Sriwijaya di Palembang, namun situs Kota Kapur tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Sriwijaya. Penelitian kali ini mencoba melihat aspek dermaga kuna sebagai bagian dari tapak permukiman di situs Kota Kapur. Penelitian ini difokuskan pada  data sisa tiang dermaga dan upaya mencari pertanggalan absolutnya. Oleh karena itu, metode analisis deskriptif dan analisis carbon dating (C-14) digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanggalan mutlak sisa dermaga memiliki kesesuaian dengan sejumlah data arkeologi lainnya yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Hal ini menegaskan bahwa dermaga tersebut merupakan bagian dari unit permukiman Kota Kapur pada sekitar abad ke-6 atau 7 M

    Aplikasi Metode Geolistrik untuk Identifikasi Situs Arkeologi di Pulau Laut, Natuna

    Get PDF
    Abstract. Pulau Laut is one of the outer islands in Republic of Indonesia and part of the international shipping lanes during past centuries. The evidence came in form of shipwrecks which also became archaeological sites. The purpose of this study is to determine the distribution of archaeological sites and its depth using Wenner configuration 2D geoelectric method which is achieved by using resistivitymeter multichanel S Field with three lines measurements. Data processing, analysis, and interpretation were performed using software RES2DINV. The results then obtained direction on line one southwest - Northeast, the vessel is allegedly at positions 21-24 m from the southwest, the value of resistivity is between 54, 3-124 Ωm with depth of 0-3 m subsurface. Line two is at the same direction with line one and the vessel is allegedly at positions 21-27 m from the southwest, a subsurface depth of 0-3 m and resistivity values range from 11.5 - 41.4 Ωm. Line three to the direction northwest - southeast is crosslined with track one and track two, allegedly the ship is at position 18-22 m from the northwest with a depth of 0 - 4 m above the ground and resistivity values between 56.7 - 205 Ωm. Abstrak. Pulau Laut merupakan salah satu pulau terdepan wilayah NKRI, merupakan jalur pelayaran internasional selama beradab-abad yang lampau. Terdapatnya situs-situs arkeologi kapal tengelam merupakan buktinya. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan sebaran situs arkeologi dan kedalamnnya berdasarkan metode geolistrik konfigurasi Wenner 2D yang menggunakan resistivitymeter multichannel S Field dengan tiga lintasan pengukuran. Proses pengolahan, analisis serta interpretasi data dilakukan dengan software Res2Dinv. Hasil proses, analisis dan interpretasi data, diperoleh pada lintasan satu dengan arah bentangan kabel barat daya – Timur laut, situs kapal diduga pada posisi 21 – 24 m dari arah barat daya, nilai resistivitas antar 54,3 – 124 Ωm dengan kedalaman 0 – 3 m dari atas permukaan tanah. Lintasan dua dengan arah bentangan kabel yang sama dengan lintasan satu, posisi 21 – 27 m dari arah barat daya,kedalaman 0 – 3 m dari atas permukaan tanah dan rentangan nilai resistivitas 11,5 – 41,4 Ωm diduga terdapat situs kapal. Lintasan tiga dengan arah bentangan kabel barat laut – tenggara merupakan lintasan yang memotong (crossline) lintasan satu dan lintasan dua, diduga keberadaan situs kapal pada posisi 18 – 22 m dari arah barat laut dengan kedalaman 0 – 4 m dari atas permukaan tanah dan nilai resistivitas antara 56,7 – 205 Ωm

    Karakter Teknologi Litik Homo Erectus Progresif Berdasarkan Himpunan Artefak dari Situs Matar, Bojonegoro

    Get PDF
    Abstrak. Teras 20 meter Bengawan Solo yang diklaim berumur Pleistosen Atas seringkali dibahas sejak penemuan 14 spesimen Homo erectus beserta sejumlah artefak di Ngandong pada tahun 1931-1933. Namun demikian, artefak batu yang dianggap sebagai peralatan Homo erectus progresif tersebut jarang sekali dibahas secara khusus, sehingga karakter teknologi mereka masih belum jelas statusnya. Situs Matar di tepi timur Bengawan Solo dengan litologi dan posisi yang mirip dengan Ngandong memberikan data baru terkait artefak litik dengan taksiran umur yang sama. Analisis terhadap himpunan artefak litik Situs Matar bertujuan untuk mengetahui karakter bentuk dan teknologi artefak litik Homo erectus progresif. Analisis khusus berupa tinjauan tipologi dan dimensi artefak serpih menunjukkan ciri khusus. Pengukuran serpih menunjukkan produk débitage yang cenderung rektangular dan sedikit memanjang. Secara umum, himpunan artefak litik dari Matar menunjukkan kehadiran alat serpih bersama dengan artefak masif seperti bola, spheroidal, polihedron, serta kapak perimbas-penetak. Kehadiran alat masif bercirikan Oldowanian tersebut menunjukkan fungsi alat yang sepertinya tidak tergantikan oleh artefak serpih di dalam budaya Homo erectus progresif. Abstract. The 20 meter-high Solo terrace claimed to be Upper-Pleistocene deposit has often been discussed since the discovery of 14 Homo erectus specimens with numerous artifacts in Ngandong on 1931-1933. Nevertheless, the artifacts that have been baptized as implements of progressive Homo erectus is rarely discussed, especially the character of their technology, which remains unclear. Matar, a new site situated on the eastern banks of Solo River with similar lithology and position to those of Ngandong, provides new data related to lithic artifacts. Analysis on lithic assemblage from Matar locality was aimed at characterizing morphology and technology of the implements of progressive Homo erectus. Specified analysis consisting of typology and measurements of flake artifacts successfully shows its specific characteristics. Measurements on flakes show débitage products that tend to be rectangular and slightly elongated. In general, the lithic assemblage from Matar shows the presence of flakes together with massive tools such as bola, spheroidal, polyhedrons, and chopper-chopping tools. The presence Oldowanian massive tools might indicate their exceptional utility that could not be replaced by flakes in progressive Homo erectus culture.

    Peran Magis-Religius Bengawan Solo dalam Pendirian Kota Surakarta Abad Ke-18

    Get PDF
    Abstrak. Peran magis religius Bengawan Solo adalah penting bagi pendirian Kota Surakarta. Peran ini berkaitan dengan kekuatan gaib, roh halus, dan atau roh-roh nenek moyang yang ada pada sungai khususnya di daerah pertemuan dua sungai. Kepercayaan terhadap kekuatan gaib merupakan hal mendasar dalam kehidupan orang Jawa, akan tetapi hal tersebut kurang mendapat perhatian dari para ahli sejarah maupun arkeologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperluas wawasan mengenai kepercayaan orang Jawa terhadap kekuatan gaib dan roh halus yang ada pada tempat tinggal mereka. Survei, fenomenologi, dan kajian pustaka adalah metode yang digunakan untuk mengungkap lebih dalam peran magis religius dari sungai tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah peran magis religius Bengawan Solo terhadap Kota Surakarta, yaitu daerah sekitar pertemuan dua sungai karena dianggap sakral dan kepercayaan terhadap konsep kosmologi Jawa, bahwa sungai merupakan bagian penting dalam pembentukan tata ruang kota. Penelitian ini sekaligus membuktikan adanya kontinuitas budaya yang hidup di masyarakat sekitar Bengawan Solo sejak dahulu hingga kini.Abstract. The magical-religious role of Bengawan Solo (Solo River) in the establishment of Surakarta was crucial. It was related to mystical power, ghosts, or spirits of ancestors, especially those that reside at a confluence of two rivers. Belief in mystical power was the foundation of Javanese life, but not enough attention has been paid by historians as well as archaeologists. The aim of this research is to widen people’s insight about the belief of the Javanese people to the supernatural power and spirits that inhabited their dwelling places. Survey, phenomenology, and bibliographical study are the methods used to reveal more about the magical-religious role of the river. Results of the research are an understanding of the magical-religious role of Bengawan Solo in the establishment of Surakarta city as shown in the location of the city, which is close to the confluence of two rivers because such location is conceived as sacred, and the other is a belief to the Javanese cosmological concept that rivers are important to the establishment of city layout. It also proves that there is a continuity among the Javanese people who live around the Bengawan Solo from the past until nowadays.

    Manik-Manik Kaca Salah Satu Indikator Kejayaan Dan Keruntuhan Perniagaan Pulau Kampai.

    Get PDF
    Salah satu jejak masa lalu di Pulau Kampai yang jumlah dan jenisnya berlimpah adalah manik-manik kaca. Permasalahan pada tulisan ini adalah keterkaitan antara keberlimpahan objek tersebut dengan refleksi kondisi tertentu pada masa lalu di Pulau Kampai. Keberlimpahan data kemudian dianalisis secara morfologi dan dilihat kuantitasnya, sehingga menghasilkan ragam jenis dan gambaran fluktuasi yang merupakan refleksi kejayaan dan keruntuhan perniagaan Pulau Kampai di masa lalu. Penjelasan tentang faktor penyebab fluktuasi dicapai melalui analogi sumber-sumber historis, baik lokal maupun mancanegara. Kajian ini bertujuan menggambarkan fluktuasi perniagaan di Pulau Kampai yang terefleksikan lewat fluktuasi kuantitas manik-manik kacanya, sekaligus menjelaskan faktor penyebab keruntuhan dan kejayaan perniagaan kuna di Pulau Kampai. Kejayaan perniagaan pulau ini berlangsung antara abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-14, salah satunya didorong oleh permintaan terhadap produk alam Sumatera oleh pasar Tiongkok sejak masa Dinasti Sung. Keruntuhannya bermula sejak kekuasaan Dinasti Ming membatasi pengusaha swasta dalam perdagangan lintas samudera mulai abad ke-15, yang berakibat pada menurunnya permintaan terhadap produk alam Sumatera. Peran Kampai dalam perniagaan akhirnya mencapai titik terbawah pada abad ke-16 ketika bandar-bandar lain di Sumatera menjadi tempat dijualnya komoditi ekspor yang dihasilkan oleh Aru. Abstract. Kampai Island’s past traces include the abundant varied glass beads. Was such abundant glass beads reflects certain conditions on ancient Kampai Island? Such richness in number and variety have triggered a number of researches on their quantity and morphology which provide some information of categorization and trade fluctuation in the ancient Kampai Island. The factors contributing to the rise and fall of the island are explained through the analogy of local or international historical sources. Kampai’s heyday through AD 11 to the middle of AD 14 centuries was among others due to demand on Sumatera’s natural resources by the Chinese market since the Tang Dynasty’s period; on the other hand, the Ming Dynasty’s AD 15 century inter-ocean private trade quota limitation contributed to the decline of such resources demand. The declining demand finally brought Kampai’s commerce to collapse at AD 16 century when other Sumatera’s ports began to export Aru’s commodity

    Situs Kesuben: Suatu Bukti Peradaban Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah.

    Get PDF
    Sejarah kuno Indonesia mencatat bahwa masa sejarah tertua di Jawa Tengah adalah Kerajaan Matarām Kuno (abad ke-8-10). Pada waktu yang sama di pantai timur Sumatera terdapat Kerajaan Sriwijaya. Di lain pihak, berita Cina menginformasikan bahwa kerajaan di Jawa sudah ada pada abad ke-5, yaitu Ho-ling (She-po). Penelitian mutakhir di pesisir pantai utara Jawa Barat dan timur Sumatera memberikan bukti adanya hubungan antara Indonesia dengan bangsa asing berupa artefak-artefak dari luar negeri, meskipun tidak didukung oleh data prasasti. Hal tersebut memberikan petunjuk untuk mencari bukti awal hubungan dengan bangsa lain di daerah pesisir pantai. Penelitian di pesisir pantai utara Jawa Tengah ini dilakukan dengan survei, ekskavasi, dan wawancara mendalam, metode penulisan menggunakan metode deskriptif komparatif. Penelitian ini berhasil menambahkan data baru berupa temuan candi di Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.Temuan yang dihasilkan berupa struktur bangunan candi dari bata, antefiks-antefiks, dan arca batu. Hingga saat ini dari penelitian ini belum diketahui latar keagamaan Candi Kesuben karena belum ditemukan artefak yang mendukung. Abstract. The Indonesian Ancient History has recorded that the oldest historical period in Central Java was the period of the Ancient Matarām Kingdom (8th – 10th centuries CE). At the same period there was the kingdom of Srivijaya on the east coast of Sumatera. On the other hand, according to Chinese chronicles, there had been a kingdom in Java in 5th century CE, namely Ho-ling (She-po). Recent investigations along the north coast of West Java and the east coast of Sumatera have yielded evidences of relations between Indonesia and foreign countries in forms of imported artifacts, although this is not supported by inscriptions. This indicates that evidences of international relations have to be searched in coastal areas because it was where the relations began. The research on the north coast of Central Java was carried out in forms of survey, excavation, and thorough interviews, and the writing method is descriptive-comparative. This research has provided new evidence in form of a candi (temple) at Kesuben Village in Lebaksiu District, Tegal Regency, Central Java. The finds include structure of candi made of bricks, antefixes, and stone statues. Unfortunately we have not been able to identify the religious background of the Candi Kesuben (Kesuben Temple) because there has not been any artifact that can support the identification

    Prasasti Tlaŋ (904 m.): Desa Perdikan untuk Tempat Penyeberangan Masa Matarām Kuna

    Get PDF
    Abstrak. Prasasti Tlaŋ yang dikeluarkan oleh Śrī Mahārāja Rakai Watukura Dyah Balitung Śrī Dharmmodaya Mahāśambhu pada tanggal 6 parogelap bulan Posya tahun 825 Śaka (11 Januari 903M.) menyebutkan nama desa tempat penyeberangan di tepi Bengawan Solo, yaitu Desa Paparahuan. Untuk pembiayaannya, Desa Tlaŋ, Desa Mahe/Mahai, dan Desa Paparahuan dijadikan desa perdikan. Tulisan ini bertujuan untuk membaca ulang Prasasti Tlaŋ dan mengidentifikasi Prasasti Wonoboyo serta mengidentifikasi desa-desa yang disebutkan dalam prasasti. Adapun metode yang dipakai dalam makalah ini adalah metode deskriptif analitis dan metode komparatif. Dari hasil penelitian dapat diidentifikasi dua desa, yaitu Desa Teleng dan Desa Paparahuan. Sementara Desa Mahe/Mahai masih belum dapat diidentifikasi dimana lokasinya. Sebagai kesimpulan dapat disebutkan bahwa selain dapat mengidentifikasi dua desa yang disebutkan dalam Prasasti Tlaŋ I dan Tlaŋ II, juga dapat mengidentifikasi Prasasti Wonoboyo sebagai Prasasti Tlaŋ III.Abstract. Tlaŋ inscription, issued by Śrī Mahārāja Rakai Watukura Dyah Balitung Śrī Dharmmodaya Mahāśambhu on the sixth day of the dark half of the month of Posya in 825 Śaka (11th January 904 A.D.), mentions the name of village that served as a river crossing place on the banks of the Solo River, i.e. Paparahuan village. To finance it, the Tlaŋ village, the Mahe/Mahai village, and Paparahuan village, become free hold. This paper aims to re-read the inscription of Tlaŋ as well as identifying Wonoboyo inscription and the villages which were mentioned in the inscription. The methods used in this paper are descriptive analytical method and the comparative method. As a result of this study, two villages can be identified, i.e the Tlaŋ village and Paparahuan village, while the location of Mahe/Mahai village still cannot be identified. As a conclusion may be mentioned that in addition to identifying the two villages mentioned in the inscription Tlaŋ I and Tlaŋ II, the study can also identify the Wonoboyo Inscription as Tlaŋ III inscription

    94

    full texts

    159

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KALPATARU
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇