KALPATARU
Not a member yet
159 research outputs found
Sort by
Studi Arkeologi Eksperimental Teknik Pengeboran Gelang Batu dari Purbalingga
Abstract. The stone bracelet is a neolithic artifact crafted by drilling techniques. Traces of stone bracelet workshop activities in Central Java were found in Purbalingga, which is spread across the North Serayu Mountains between Kali Tungtunggunung and Kali Laban. This study is based on the previous research hypothesis, which states that the manufacture of stone bracelets is carried out by drilling techniques using bamboo wulung (Gigantochloa atroviolacea). This study aims to prove this hypothesis. An experimental archaeological approach by conducting drilling experiments using several drill bits: iron drills, masonry/concrete iron drills, iron drills for natural stone, and bamboo drills. Meanwhile, the abrasive materials used are water, river sand, and quartz sand. The analysis was carried out by comparing the morphological and morphometric traces of the workings between artifacts and experimental results, based on microscopic observations with a magnification of 20x to 200x. Compared to the other drilling bits and abrasive materials, the experimental study revealed that bamboo drill bits, with quartz-sand and water as additional gritty material, showed the closest similarity.Abstrak. Gelang batu merupakan artefak neolitik yang dibuat dengan teknik pengeboran. Jejak aktivitas perbengkelan gelang batu di Jawa Tengah ditemukan di Purbalingga yang tersebar di Pegunungan Serayu Utara antara Kali Tungtunggunung dan Kali Laban. Penelitian ini didasarkan pada hipotesis penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pembuatan gelang batu dilakukan dengan teknik pengeboran menggunakan bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hipotesis tersebut. Melalui pendekatan arkeologi eksperimental dengan melakukan percobaan pengeboran menggunakan beberapa macam mata bor yaitu bor besi, bor besi untuk beton, bor besi untuk batu alam, dan bor bambu. Sementara itu, bahan pengikis yang digunakan adalah air, pasir kali, dan pasir kuarsa. Analisis dilakukan dengan cara komparasi morfologi dan morfometri jejak pengerjaan antara artefak dengan hasil eksperimen, berdasarkan pengamatan mikroskopik perbesaran 20x hingga 200x. Hasil eksperimen dengan menggunakan mata bor bambu dan bahan pengikis air dan pasir kuarsa menunjukkan tingkat kemiripan paling tinggi dibandingkan dengan mata bor dan bahan pengikis lainnya
Bangunan Pasar Tradisional Petojo Enclek: Penerapan Sistem Teknologi sebagai Bukti Perbaikan Kualitas Hidup dan Perubahan Lingkungan di Batavia Abad ke-20 – 21
Abstract. Traditional markets are places and means of meeting sellers and buyers and are marked by direct buyer-seller transactions and usually there is a bargaining process. This research is a study of environmental changes and Petojo Enclek Market in the 20th - 21st Century. The purpose of this research is to see changes in Petojo Enclek Market based on archives, ancient maps, ancient photos, history, technology used in buildings, and market conditions in the past. recently. In this study using qualitative methods, the stages of this research include data collection, data processing, data analysis and data interpretation. The theory used in this study is the Core-Periphery by John Friedman and Weaver, where the Core-Periphery relationship can occur due to the expansion (development) of markets and other infrastructure. This research, it can be seen that there are significant changes in the Petojo Enclek Market building and its surroundings.Abstrak. Pasar tradisional adalah tempat dan sarana bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar. Penelitian ini merupakan kajian tentang perubahan lingkungan dan Pasar Petojo Enclek Abad ke-20 hingga abad ke-21. Tujuan penelitian ini untuk melihat perubahan Pasar Petojo Enclek berdasarkan arsip, peta kuno, foto kuno, riwayat, teknologi yang digunakan pada bangunan, dan keadaan pasar pada masa sekarang ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tahapan-tahapan penelitian ini antara lain dengan pengumpulan data, pemrosesan data, analisis data, dan penafsiran data. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Core-Periphery John Friedman dan Weaver yang mengatakan bahwa hubungan Core-Periphery dapat terjadi karena disebabkan perluasan (pembangunan) pasar dan prasarana lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perubahan yang cukup signifikan pada bangunan Pasar Petojo Enclek dan sekitarnya
Gaya Seni Arca Masa Kᾱḍiri: Studi Terhadap Arca Candi Gurah dan Candi Tondowongso
In the archaeology Hindu-Buddhist era in Indonesia, there are several known art styles temple building architecture and statue art: Early Classical Era and Late Classical Era. In more detail, that several eras can be described that Early Classical Era developed during the Old Mātaram era with the center of its reign at Central Java, and Late Classical Era Style developed during Kāḍiri/Siŋhasāri and Majapahit with the center of its reign at East Java. Late Classical Era Style divided into two subs, Kāḍiri/Siŋhasāri and Majapahit. Kāḍiri as an early dynasty in East Java not yet known clearly what the special characteristic style of its temple is building architecture and its statue art, and only been told that the Kāḍiri Era Style is the connecting line between Early Classical Era Style and Late Classical Era. This essay intends to find out special characteristics of the Kāḍiri Era Style (transition art style). For this reason, the research was carried out on statues comes from Gurah Temple and Tondowongso Temple, both temples knew the date, with relative dating method or absolute dating method. From this iconographic research in detail will describe parts of the statues, from then will obtain several features that always appear, and that’s characteristics are considered as a strong characteristic from statues from Kāḍiri Era Style.Dalam arkeologi masa Hindu Buddha di Indonesia, dikenal gaya seni arsitektur bangunan candi dan seni arca masa Klasik Tua dan Klasik Muda. Dapat dijabarkan secara lebih rinci bahwa seni Klasik Tua berkembang pada masa Mātaram Kuna dengan pusat pemerintahan di Jawa bagian Tengah, sedangkan Seni Klasik Muda berkembang pada masa Kāḍiri/Siŋhasāri dan Majapahit dengan pusat pemerintahan di Jawa Timur. Seni Klasik Muda terbagi menjadi dua, yaitu Kāḍiri/ Siŋhasāri dan Majapahit. Kāḍiri sebagai suatu dinasti awal di Jawa Timur belum diketahui secara jelas apa saja ciri-ciri khusus, seni bangun candi maupun seni arca, dan hanya dikatakan bahwa gaya seni masa Kāḍiri adalah benang merah yang menghubungkan antara gaya seni Klasik Tua dengan gaya seni Klasik Muda. Tulisan ini bertujuan mengetahui ciri-ciri khusus arca-arca masa Kāḍiri (gaya seni peralihan). Untuk itu, perlu dilakukan penelitian terhadap arca-arca yang berasal dari Candi Gurah dan Candi Tondowongso. Kedua candi tersebut sudah diketahui pertanggalannya, baik secara relatif maupun absolut, yaitu dari masa Kāḍiri. Melalui penelitian ikonografi secara mendetil terhadap bagian-bagian arca didapatkan beberapa ciri yang selalu muncul, dan ciri tersebut dianggap sebagai ciri kuat arca-arca masa Kāḍiri
Boatbuilding Technology Analysis of the Seventh Century Boat Remains from Bongal Site on the West Coast of North Sumatera
Abstract. The west coast of North Sumatera was a famous sea trade route since the ninth century, according to the research conducted in the Barus Site, the international trading ports in the region. However, the study of the maritime technology in the region is still scarcely done. Boat timbers finding from Bongal Site is the first, as well as the oldest, shipwreck remains found in the west coast of North Sumatera. This paper aims to study the boatbuilding technology, as one of the maritime technologies, of the boat remains found in Bongal Site. Analysis on form and function of the timbers, along with the radiocarbon-dating result of timber and Arenga pinnata rope show that the vessel was built in the Southeast Asian lashed-lugs technique in the seventh century, two centuries older than Barus. Analysis on the artefacts found near the timbers indicates that this type of vessel was used for trade activities on the west coast of North Sumatera.Abstrak. Pesisir barat Sumatera Utara merupakan wilayah yang dilalui jalur lalu lintas perdagangan-pelayaran yang ramai sejak abad ke-9 Masehi sebagaimana terbukti dari hasil penelitian di Situs Barus yang menjadi pusat perdagangan internasional. Akan tetapi, kajian tentang teknologi kemaritiman di wilayah pesisir barat Sumatera Utara masih sangat jarang dilakukan. Temuan kayu perahu di Situs Bongal menjadi temuan bangkai perahu pertama dan tertua di pesisir barat Sumatera Utara. Artikel ini bertujuan untuk mempelajari teknologi pembuatan perahu, sebagai salah satu bentuk teknologi maritim, dari sisa temuan perahu di Situs Bongal. Dengan melakukan analisis bentuk dan fungsi dari kayu-kayu tersebut, serta dengan melakukan penanggalan carbon dating terhadap kayu dan ijuk yang ditemukan, diketahui bahwa perahu dari Situs Bongal merupakan jenis perahu yang dibangun dengan teknik khas Asia Tenggara, yaitu teknik tambuku terikat, pada abad ke-7 atau dua abad lebih tua dari Situs Barus. Analisis terhadap artefak yang ditemukan di sekitar temuan kayu perahu menunjukkan bahwa jenis perahu ini dahulu digunakan dalam aktivitas perdagangan di wilayah pesisir barat Sumatera Utara
Strategi Terintegrasi untuk Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya di Kota Surakarta
Abstract.
Every cultural heritage has different strategic management depends on its context. This research focused on the lack of good management strategy for Cultural Heritage Area in Surakarta City. The aims of this study is to formulate an integrated strategic management for cultural heritage areas in Surakarta City. This research used qualitative exploratory methodology with inductive approach. Primary data were obtained from field observations and interviews with sources related to cultural preservations, while secondary data were obtained from Surakarta City planning documents. The strategic management aimed for the community and government, therefore the internal variable is the condition of four aspects strategic management owned by the community and the city government, while the external variable is from outside the community and the city government. This research produces 73 strategy formulations which are summarized into 43 formulations based on the predicated similarity. The designation of strategy for managing Cultural Heritage Area is divided into two parts, which are 13 strategies for the scale of Surakarta City and 30 strategies for each region. Management integration can be seen from these strategies that are divided into each aspect to support the management of Cultural Heritage Area in Surakarta City.
Keywords: Strategic Management, Cultural Heritage Area, Surakarta City
Abstrak.
Setiap cagar budaya membutuhkan strategi pengelolaan yang berbeda sesuai dengan konteks cagar budaya. Keberadaan bangunan dan kawasan cagar budaya menjadi permasalahan tersendiri bagi perkembangan kota Surakarta. Sampai saat ini, kota Surakarta belum memiliki strategi pengelolaan kawasan cagar budaya yang terintegrasi. Penelitian ini merumuskan strategi pengelolaan kawasan cagar budaya yang terintegrasi di kota Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah eksploratif kualitatif dengan pendekatan induktif. Data primer diperoleh dari observasi KCB dan wawancara dengan narasumber terkait cagar budaya, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen perencanaan kota Surakarta. Strategi pengelolaan ditujukan masyarakat dan Pemerintah Kota Surakarta sehingga variabel internal adalah kondisi aspek strategi pengelolaan yang dimiliki masyarakat dan pemerintah kota, sedangkan variabel eksternal adalah kondisi aspek strategi pengelolaan dari luar masyarakat dan pemerintah kota. Penelitian ini menghasilkan 73 rumusan strategi yang kemudian diringkas menjadi 43 rumusan berdasarkan kesamaan predikat dan makna. Peruntukan strategi terbagi dalam 13 strategi pengelolaan kawasan cagar budaya untuk skala kota Surakarta, 30 strategi pengelolaan kawasan cagar budaya untuk setiap kawasan. Integrasi pengelolaan dapat diketahui dari adanya 17 strategi yang merupakan ringkasan dari 43 strategi dan digolongkan sesuai aspek pengelolaan kawasan cagar budaya.
Kata kunci: Strategi Pengelolaan, Kawasan Cagar Budaya, Kota Surakart
Pengaruh Perkeretaapian Terhadap Perkembangan Struktur Tata Ruang Kota Cirebon Berdasarkan Tinggalan Arkeologis
Abstract.
Cirebon is a strategic city in the north of Java which, based on concentric theory, has a dynamic development process. This research used a qualitative approach and the descriptive method followed the pattern of inductive reasoning where data was collected through a) a literature study to documents from Indonesian National Archives (ANRI) and PT KAI Indonesia; b) field survey to observe the remains of the railroads; and c) interviews with the community leaders. Data were then analyzed spatially, using indicators from concentric theory, to see the effect of railroads on the development of the spatial structure of Cirebon. The result of the study reveals that the palace used to be the center of community activities during the kingdom reign, then shifted after the Dutch arrived and built the railroads. The center of the activities shifted to the ports, the stations, along the train stops, the plantation areas, the sugar factories, and the meeting points of the roads. The remains of the railroads today become a contextual proof of the development of the spatial structure of Cirebon which must be preserved as an archaeological value.
Keywords: Train Heritage, Spatial Structure, Cirebon
Abstrak.
Cirebon merupakan kota yang strategis di bagian utara Pulau Jawa. Jika didasarkan pada teori konsentris, kota ini memiliki proses perkembangan dinamis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode deskripstif mengikuti pola penalaran induktif. Data dikumpulkan melalui studi literatur, yakni dokumen dari Arsip Nasional Indonesia dan PT KAI Indonesia; survei untuk melihat sisa tinggalan perkeretaapian dari studi literasi; dan wawancara kepada tokoh masyarakat. Data dianalisis secara spasial dengan indikator dari teori konsentris untuk melihat pengaruh perkeretaapian terhadap perkembangan struktur tata ruang Kota Cirebon. Hasil penelitian tinggalan arkeologis perkeretaapian menunjukan bahwa pada masa kerajaan, pusat aktivitas masyarakat berada di sekitar keraton, kemudian bergeser setelah Belanda datang dan membangun perkeretaapian. Pusat aktivitas bergeser ke pelabuhan, stasiun, sepanjang perhentian kereta api, kawasan perkebunan, pabrik gula dan titik pertemuan jalan. Kondisi tinggalan tersebut menjadi bukti kontekstual perkembangan struktur tata ruang Kota Cirebon yang harus dilestarikan sebagai peninggalan bernilai arkeologis.
Kata kunci: Tinggalan Perkeretaapian, Struktur Tata Ruang, Cirebo
Benturan Kepentingan, Suatu Refleksi dalam Pengelolaan Warisan Budaya di Indonesia
Abstract.
Conflict in this study is interpreted as a perception of differences in interests. The basic concept of this study departs from the view that conflict is a natural reality in human life that requires interaction with society. In general, this study aims to reveal the community's knowledge system in interpreting cultural heritage and ways to act using the knowledge system. As a consequence of the study, specifically, the purpose of this study is to diclose how to reduce the conflicts that often occur at various sites in Indonesia. The method used is explanatory qualitative explanatory which is an effort to understand why a phenomena can occur and what causes it. The results of this study find that cultural heritage conflicts should not be connoted as a negative phenomenon. Cultural heritage conflict is a reflection of the weakness of the management system that will be part of the solution to a problem that leads to a better change.
Keywords: Interaction, Society, Conflict, Heritage, Culture
Abstrak.
Konflik dalam nelitian ini diartikan sebagai persepsi mengenai perbedaan kepentingan. Konsep dasar penelitian ini berangkat dari pandangan, bahwa konflik merupakan realitas yang wajar dalam kehidupan manusia yang mengharuskan berinteraksi dengan masyarakat. Secara umum penelitian ini bertujuan mengungkapkan sistem pengetahuan masyarakat dalam memaknai warisan budaya dan cara-caranya bertindak menggunakan sistem pengetahuan tersebut. Sebagai konsekwensi atas kajian di atas, secara khusus tujuan penelitian ini mengungkapkn bagaimana upaya meredam konflik yang sering terjadi di berbagai situs di Indonesia. Metode yang digunakan adalah eksplanatif kualitatif eksplanatitif yakni upaya memahami mengapa fenomena dapat terjadi dan apa faktor penyebabnya. Hasil penelitian ini menyatakan konflik warisan budaya tidak harus dikonotasikan sebagai fenomena yang negatif. Konflik warisan budaya merupakan merupakan cermin lemahnya sistem pengelolaan yang akan menjadi bagian dari solusi atas suatu permasalahan yang mendorong ke arah perubahan yang lebih baik.
Kata kunci: Interaksi, Masyarakat, Konflik, Warisan, Buday