159 research outputs found

    Preface Kalpataru Volume 30, nomor 2, tahun 2021

    No full text

    Perjalanan Panjang Paṭola Menjadi Jlamprang: Transformasi Motif Tenun Menjadi Motif Batik

    Full text link
    The background of this research comes from the public's understanding that the jlamprang motif is a typical Pekalongan batik motif, besides that there are also those who state that this motif is an imitation of the paṭola motif. Therefore, this paper aims to determine the transformation process of the patola woven motif into the jlamprang batik motif, one of the characteristic batik motifs of Pekalongan. Why can the weaving motif turn into a batik motif? Why does the jlamprang batik motif become the hallmark of Pekalongan? The method used in this research is to trace the trade of paṭola motif cloth from India and its distribution in Java, both in the form of the distribution of decorative motifs on temples and on cloth. The search was carried out through literary texts, decorative motifs on temple walls, and motifs of cloth worn by statues. The results showed that in Java the paṭola motif has undergone a transformation from a woven motif to a decorative motif on the temple walls to a batik motif. Jlamprang became the signature batik motif of Pekalongan because it was in this city that the motif was first developed by Arab traders to overcome the scarcity of paṭola woven motifs from India. Thus, it can be concluded that the Javanese society is an adaptive society, with local genius capable of processing foreign decorative motifs into their own motifs and making them a local identity.Latar belakang penelitian ini berasal dari pemahaman masyarakat yang menyatakan bahwa motif jlamprang adalah motif batik khas Pekalongan. Selain itu, juga ada yang menyatakan bahwa motif ini adalah tiruan dari motif paṭola. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui proses transformasi motif tenun paṭola menjadi motif batik jlamprang, salah satu motif batik ciri khas Pekalongan. Mengapa motif tenun bisa berubah menjadi motif batik? Mengapa motif batik jlamprang menjadi ciri khas Pekalongan? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan penelusuran pada perdagangan kain motif paṭola dari India dan persebarannya di Jawa, baik dalam bentuk persebaran motif hias pada candi maupun pada kain. Penelusuran itu dilakukan melalui naskah-naskah kesusasteraan, motif hias dinding candi, dan motif kain yang dikenakan arca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Jawa motif paṭola telah mengalami transformasi dari motif tenun menjadi motif hias dinding candi kemudian menjadi motif batik. Jlamprang menjadi motif batik ciri khas Pekalongan karena di kota inilah motif itu pertama kali dikembangkan oleh pedagang Arab untuk mengatasi kelangkaan tenun motif paṭola dari India. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang adaptif, yang dengan lokal geniusnya mampu mengolah motif hias asing menjadi motifnya sendiri dan menjadikannya sebagai identitas lokal

    Mengembangkan Kesenian Tradisional Badui Al-Fattah, Wedomartani, Kabupaten Sleman, DIY: Studi untuk Keberlanjutan Seni Tradisional

    Full text link
    Since the beginning of 21st century, Bedouin traditional art has declined due to the influence of modern times. It has even shifted to become a tourist attraction. For this reason, efforts are needed to improve human resources for the sustainability of the traditional arts. By using inductive reasoning, this research was conducted to improve the traditional art to be part of Indonesian cultural identity. Direct observations and interviews were made on the traditional Bedouin art group Al Fattah in Wedomartani, Yogyakarta. The outcome of this study is a recommendation for Bedouin art of Al-Fattah to have better management of the accompaniment and sound system, as well as the arrangement of motion gestures so that the art can be more captivating as well as delivering the message to the audience.Sejak awal abad 21 ini, kesenian tradisional semakin menurun kondisinya. Kesenian modern, baik nasional dan internasional, yang sangat mudah dijangkau mempengaruhi minat masyarakat mengembangkan kesenian tradisional. Selain itu, kehidupan pesantren sudah agak luntur karena kebanyakan masyarakat mulai memilih sekolah yang dikelola pemerintah. Pengembangan kesenian tradisional mulai melorot pamornya. Untuk itu, dilakukan usaha menariknya dengan menjadi salah satu objek wisata pertunjukan. Selain itu, juga diperlukan usaha memperbaiki pengelolaan guna keberlanjutan kesenian tradisional. Dengan menggunakan penalaran induktif, penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki kesenian tradisional yang akan menjadi wujud identitas budaya Indonesia. Observasi langsung dilakukan terhadap kelompok kesenian tradisional badui Al-Fattah di Wedomartani, DIY. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil kajian, disarankan agar kesenian badui Al-Fattah ini melakukan penataan dalam pengelolaan pengiring dan sound system, serta penataan gerak agar kesenian ini lebih menarik dan pesan kesenian ini dapat tersampaikan kepada pengunjung

    The Medallion Design on Gravestones in Palembang

    Full text link
    The Islamic tombs in Palembang date from the 16th-20th century AD. Some of the tombs in Palembang are plain and some have decorations. Ornaments are affixed to the jirat and tombstones. The ornaments found on the headstones include medallions. The medallion ornaments vary in shape and are commonly found in temple buildings in Java in the 9th-16th centuries AD. The medallion decorative motifs in Palembang are found on Islamic tombs from the time of the Palembang Darussalam Sultanate. The medallion decorative motifs found are varied and interesting to study from the similarities and differences with those in Java, as well as the reasons for the emergence of these similarities and differences. Based on these two problems, this paper aims to identify the forms of medallion decoration, similarities, and differences, as well as the background to the similarities and differences in the medallion decorations in Palembang and Java. To answer these two problems, archaeological research methods were used by describing the ornamental variety and identifying its diversity. After that, it was analyzed qualitatively using symbolic theory. The results of the study show that the similarities in the decorations are due to the historical relationship between Palembang and the Majapahit and Demak kingdoms in Java. The difference in the medallion decoration is caused by the creativity factor of Palembang artists.Makam-makam Islam di Palembang berasal dari abad ke-16-20 M. Makam-makam di Palembang ada yang polos dan ada yang memiliki hiasan. Ragam hias diterakan pada bagian jirat dan nisan makam. Ragam hias yang terdapat pada nisan antara lain adalah medalion. Ragam hias medalion bentuknya bervariasi dan biasa ditemukan pada bangunan-bangunan candi di Jawa pada abad ke-9- 16 Masehi. Motif hias medalion di Palembang ditemukan pada nisan-nisan makam Islam dari masa Kesultanan Palembang Darussalam. Motif hias medalion yang ditemukan beragam dan menarik untuk dikaji dari persamaan dan perbedaannya dengan yang di Jawa, serta alasan munculnya persamaan dan perbedaan tersebut. Berdasarkan dua permasalahan tersebut, maka tulisan ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi bentukbentuk ragam hias medalion, persamaan, dan perbedaannya, serta latar belakang persamaan dan perbedaan ragam hias medalion di Palembang dan di Jawa. Untuk menjawab kedua permasalahan tersebut digunakan metode penelitian arkeologi dengan cara mendeskripsikan ragam hias dan mengidentifikasikan keragamannya. Setelah itu dianalisis secara kualitatif menggunakan teori simbolis. Hasil penelitian menunjukkan persamaan ragam hias disebabkan adanya hubungan sejarah antara Palembang dengan Kerajaan Majapahit dan Demak di Jawa. Perbedaan ragam hias medalion disebabkan oleh faktor kreativitas seniman Palembang

    Cover Kalpataru Volume 30, nomor 2, tahun 2021

    No full text

    Technology Analysis of Cipari Masque in Indo-European Architecture Styles

    Full text link
    Abstrak. Salah satu teknologi arsitektur yang berkembang di Nusantara dikenal dengan arsitektur Indische Empire. Gaya ini merupakan perpaduan antara bentuk bangunan Eropa yang diadaptasikan dengan bangunan gaya setempat sehingga melahirkan bentuk arsitektur campuran. Teknologi arsitektur Indo-Eropa awal mulanya digunakan untuk bangunan pemerintahan, tetapi lambat laun gaya seni ini merambah ke bangunan lainya seperti rumah tinggal, fasilitas umum, dan lain-lain. Gaya Arsitektur Indo-Eropa digolongkan sebagai salah satu usaha untuk mencari bentuk identitas arsitektur Hindia-Belanda waktu itu. Masjid Cipari merupakan salah satu bangunan yang menggunakan ciri Indo-Eropa dari segi teknologinya. Hal tersebut jelas terlihat dari bentuk bangunan, bahan pembuatan, dan komponen lainya yang berbeda dengan masjid Jawa umumnya. Apakah teknologi dalam Masjid Cipari telah menghilangkan bentuk umum masjid di Jawa sehingga memiliki bentuk yang berbeda? Dasarnya teknologi hanya mencoba membantu atau membuat sesuatu yang lama menjadi lebih maju, baru, terlihat baik (dari segi fisik maupun estetik), efisien, dan sebagainya. Namun, untuk bentuk itu sendiri tergantung dari arsitek yang merancangnya karena tidak setiap arsitek memiliki pemikiran yang sama dalam membentuk sebuah bangunan. Proses pengumpulan data pada tulisan ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan lapangan. Data lapangan yang digunakan antara lain berupa foto bangunan masjid, pengukuran, serta wawancara terhadap pengelola masjid. Data sekunder diperoleh melalui studi Pustaka, antara lain buku referensi, artikel-artikel jurnal, dan internet. Kedua sumber data tersebut digabungkan untuk mendapatkan gambaran data secara utuh.Abstract. One of the architectural technologies that developed in the Indonesian Archipelago is known as the "Indische Empire" architecture. This style is a combination of European building forms adapted to the local style buildings, thus giving birth to a mixed architectural form. IndoEuropean architectural technology was initially used for government buildings, but gradually, this art style penetrated other buildings such as residential houses, public facilities, and so on. The Indo-European architectural style is classified as an attempt to find a form of identity for the Dutch East Indies architecture at that time. Cipari Mosque is one of the buildings that use IndoEuropean characteristics in terms of technology.  Those are clearly seen from the shape of the building, the material of manufacture and other components that are different from the Javanese mosque in general. Has the technology in the Cipari Mosque removed the general shape of the mosque in Java, so that it has a different shape? Basically, technology only tries to help or make something old become more advanced, new, looks good (physically and aesthetically), efficient and so on, but the form itself depends on the architect who designed it. Not every architect has the same thought in forming a building. The data collection process in this paper uses primary data and secondary data. Primary data was obtained by conducting field observations. Field data used include photos of mosque buildings, measurements, and interviews with mosque managers. Secondary data obtained through literature study, among others, reference books, journal articles, and the internet. The two data sources will be combined to get a complete picture of the data

    Cover Kalpataru Volume 30, nomor 1, tahun 2021

    No full text

    Gaya Seni Relief Yeh Pulu di Kabupaten Gianyar, Bali

    Full text link
    The relationship between Indonesia and India manifested in various cultural forms that still survive today, one of which is in form of relief. Yeh Pulu is an archaeological site located in Banjar Batulumbang, Bedulu Village, Blahbatuh District, Gianyar Regency, Bali. To date, the relief in Yeh Pulu has not been studied intensely. The objective of this research is to reveal the characteristics of reliefs in Yeh Pulu Site. Data collection was carried out through direct observations in the field and also photographs. A comparative study was used for the analysis, by comparing Yeh Pulu Relief with the reliefs from temples in Java. The results showed that the Yeh Pulu Relief has nine scenes depicting various activities of past lives. One of the scenes depicted the story of Kresnayana, which perhaps was the inspiration for the reliefs. Yeh Pulu relief was developed around 14 – 15 AD or during late Majapahit era.Hubungan Indonesia dengan India melahirkan berbagai wujud budaya yang masih bertahan hingga sekarang, salah satunya relief. Relief merupakan salah satu wujud kebudayaan masa lalu yang menarik untuk diteliti. Selama ini, kajian terhadap Relief Yeh Pulu belum dilakukan secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengungkap ciri dan karakter seni relief yang terpahat di Situs Yeh Pulu. Situs Yeh Pulu terletak di Banjar Batulumbang, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan secara langsung di lapangan dan, melalui foto-foto. Kemudian, hasil pengamatan dan foto-foto tersebut dideskripsikan. Analisis dilakukan dengan studi komparasi, yaitu membandingkan Relief Yeh Pulu dengan relief candi yang berada di Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Relief Yeh Pulu memiliki sembilan adegan yang menggambarkan berbagai aktivitas kehidupan masa lalu. Salah satu acuan sumber cerita dari relief tersebut kemungkinan berasal dari kisah Kresnayana. Relief Yeh Pulu masuk dalam kategori gaya Akhir Majapahit yang berkembang pada abad XIV-XV Masehi

    Foreign Figures in the Paintings of I Ketut Gede Singaraja

    Full text link
    I Ketut Gede Singaraja always portrays figures adopted from the depiction of wayang pattern. It is similar to Wayang Kamasan but more expressive. Aside of painting the local figures, he also painted foreign figures  such as Javanese-Muslims, Chinese people,  and Europeans. They were narrated as the cultural actors in the life of Singaraja City at the end of the 19th Century. This paper compares those figures, especially their attributes and faces thorugh iconographic studies. The result shows some cultural diversity through figures painted by I Ketut Gede Singaraja. The diversity is a plurality that occurred as a result of cultural unification from the previous period, namely the spice route period. The purpose of this paper is to identify the ethnic foreign figures described by I Ketut Gede Singaraja in his paintings as part of the multicultural life in Singaraja city at the end of the 19th century.I Ketut Gede Singaraja selalu melukiskan figur dengan mengadopsi pola penggambaran wayang yang menyerupai penggambaran wayang Kamasan, akan tetapi lebih ekspresif. Hal yang menarik adalah penggambaran beberapa figur orang asing dalam dua karya lukisan I Ketut Gede Singaraja, yakni figur Muslim-Jawa, figur Tionghoa, figur Eropa dan tentu saja figur lokal yang digambarkan dalam narasi sebagai pelaku budaya di dalam kehidupan Kota Singaraja di akhir abad ke-19. Dalam tulisan ini, dilakukan perbandingan figur, terutama karakter atribut dan wajah melalui studi ikonografi. Hasilnya menunjukan keberagaman budaya melalui figur yang dilukiskan oleh I Ketut Gede Singaraja. Keberagaman tersebut merupakan pluralitas yang terjadi akibat penyatuan budaya pada masa sebelumnya, yaitu pada masa jalur rempah. Tujuannya adalah untuk mengetahui figur-figur asing dari etnis mana saja yang digambarkan oleh I Ketut Gede Singaraja sebagai bagian dari kehidupan multikultur di kota Singaraja

    Perkembangan Teknologi Tungku Lebur Logam Besi pada Zaman Kuno di Indonesia

    Full text link
    Abstract. Technological knowledge of the use of metals is inseparable from human knowledge in the processing pyrotechnics of fire as a power in high temperature processes for producing objects. The fire is used for smelting and casting in melting furnaces. Metal smelting furnace is a heat production device, which is used to purify the metal, in this case iron. This paper aims to determine the development of ferrous metal smelting furnace technology in Indonesia with the library research method from the results of previous studies. Based on the results of the analysis, there are four technologies for smelting iron, namely pit kiln, bloomery furnace, blast furnace, and induction furnace. Of the four technologies, three are in use in Indonesia, namely bloomery furnace, blast furnace, and induction furnace.Abstrak. Pengetahuan teknologi penggunaan logam tidak terlepas dari pengetahuan manusia dalam memproses pyrotechnology api sebagai tenaga dalam proses suhu tinggi untuk produksi benda. Api digunakan dalam proses peleburan dan pengecoran logam dalam tungku peleburan. Tungku peleburan logam adalah alat untuk memproduksi panas yang digunakan untuk memurnikan logam, dalam hal ini besi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan teknologi tungku lebur logam besi di Indonesia dengan metode library research dari hasil-hasil penelitian terdahulu. Berdasarkan hasil analisis, terdapat empat teknologi tungku lebur besi, yaitu pit kiln, bloomery furnace blast furnace serta induction furnace. Dari keempat teknologi tersebut, tiga teknologi tungku lebur digunakan di Indonesia, yaitu bloomery furnace, blast furnace serta induction furnace

    94

    full texts

    159

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KALPATARU
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇