Protobiont (Journal)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Pertumbuhan Jagung (Zea mays L). dengan Pemberian Glomus aggregatum dan Biofertilizer pada Tanah Bekas Penambangan Emas
Gold mining activity caused damage to the soil as soil microbial populations, flora and fauna destruction, mercury content and tailling.using biofertilizer and mychorrizal are needed for corn growth ( Zea mays L). The research study was conducted from July 2012 to August 2012 used Complete Randomized Design (CRP) with two factor. The first factor was Glomus aggregatum with four level treatments; 0 g/polybag, 10 g/polybag, 20 g/polybag and 30 g/polybag. The second factor was biofertilizer with four level treatments that are; 0 ml/plant, 16 ml/plant, 32 ml/plant and 48 ml/plant. Each treatment was repeated three times with 48 unit experiments. The research finding showed that Glomus aggregatum 20 g/polybag gave the highest tall for plant height (69. 41 cm), fresh plant weight ( 51. 39 g), and dried plant weight (7.14 g). Giving biofertilizer 48 ml/plant produced the highest number of leaves (11.00 leaves). The interaction between biofertilizer 48 ml/plant and Glomus aggregatum 30 g/polybag showed the highest infection (7.14 %)
Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Suku Dayak Iban Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang
This research has taken place for three months, October to December 2012, in Tanjung Sari village in Ketungau Tengah sub-district in Sintang regency. The purpose of this study is to investigate the plants used as traditional medicinal herbs by Dayak Iban (local tribe) in the vallage. The study is to find out the kinds of the plant, parts of the plants and the process of making them into medicine. Snowball method is used to collect as well as to identify the kinds of the plants used by the tribe. The study shows that there are 65 (sixty five) kinds of medicinal herbs coming from 38 (thirty eight) families. Many are from the family of Zingiberaceae (12.3 %), Euphorbiaceae (7.6 %) and Poaceae and most of them are taken from the forest. The tribe uses mainly leaves as the herbs. Most of the herbs can be found the forest. The herbs are able to cure 38 (thirty eight) diseases
Isolasi Dan Identifikasi Jamur Dari Organ Bergejala Sakit Pada Tanaman Jeruk Siam (Citrus nobilis var. microcarpa)
Tanaman jeruk siam (Citrus nobilis var. microcarpa) merupakan salah satu tanaman hortikultura dan komoditi unggulan di Pontianak Kalimantan Barat. Jamur merupakan salah satu penyebab serangan penyakit pada tanaman jeruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis jamur yang dapat diisolasi dari organ sakit pada tanaman jeruk siam (C. nobilis) pada beberapa tingkatan umur tanaman yaitu 0 sampai 4 bulan, 4 sampai 8 bulan, 8 bulan sampai 4 tahun dan 4 tahun ke atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur yang terdapat pada organ sakit tanaman jeruk yaitu Fusarium sp, Phytophthora sp, Colletotrichum sp, Diploidia sp, Capnodium sp, Sphaceloma sp, Basidiophora sp. Gejala sakit pada tanaman jeruk yang ditimbulkan oleh jamur mulai terlihat pada umur yang berbeda yaitu Fusarium sp, Phytopthtora sp, dan Diploidia sp, memperlihatkan gejala sakit saat umur 4 tahun ke atas pada akar, batang dan buah. Capnodium sp, Basidiophora sp, Sphaceloma sp memperlihatkan gejala sakit pada tanaman jeruk saat berumur 4 bulan sampai umur 4 tahun ke atas pada daun dan buah. Sementara, Colletotrichum sp memperlihatkan gejala seperti bercak kehitam-hitaman pada organ daun dan tunas yang masih muda pada umur 4 sampai 8 bulan dan gejala serangan pada ranting tanaman jeruk mulai terlihat saat berumur 4 tahun ke ata
Keanekaragaman Rheofitoplankton Sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai Kapuas di Kabupaten Sanggau
Sungai Kapuas merupakan salah satu sungai yang melintasi dan menghubungkan beberapa kabupaten yang terdapat di Kalimantan Barat, salah satunya adalah Kabupaten Sanggau. Pemantauan kualitas air dapat dilakukan menggunakan bioindikator, salah satu bioindikator yang bisa digunakan adalah rheofitoplankton. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman rheofitoplankton dan kualitas air di Sungai Kapuas di Kabupaten Sanggau. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 stasiun dengan 3 kali ulangan pada masing-masing titik pengambilan. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Nopember dan Desember 2011. Rheofitoplankton yang diperoleh sebanyak 37 genera yang terdiri dari divisi Chrysophyta sebanyak 14 genera, Chlorophyta 15 genera dan Cyanophyta 8 genera. Kelimpahan tertinggi terdapat pada lokasi satu (1092,61 Ind/l) dengan kelimpahan genera tertinggi yaitu Desmidium dan Spirogyra. Kelimpahan terendah terjadi pada lokasi dua (801,7 Ind/l) dengan kelimpahan genera tertinggi yaitu Spirogyra dan Rhizosolenia. Indeks keanekaragaman rheofitoplankton (H) berkisar antara 2,2920-2,8470, indeks dominansi Simpson (D) berkisar antara 0,0710-0,1670, indeks kemerataan Sorensen (E) berkisar antara 0,753-0,916. Berdasarkan analisis keanekaragaman rheofitoplankton, Sungai Kapuas di Kabupaten Sanggau sudah tercemar ringan, namun kondisi fisika-kimia air masih mampu mendukung kehidupan rheofitoplankton
Bakteri Pelarut Fosfat Hasil Isolasi dari Tiga Jenis Tanah Rizosfer Tanaman Pisang Nipah (Musa paradisiaca var. nipah) di Kota Singkawang
Fosfat di dalam tanah merupakan unsur hara yang berperan penting bagi proses pertumbuhan tanaman. Ketersediaan unsur fosfat dibantu oleh bakteri pelarut fosfat yang banyak dijumpai di daerah rizosfer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepadatan total dan karakteristik bakteri pelarut fosfat yang di isolasi dari rizosfer tanaman pisang nipah (Musa paradisiaca var. nipah) pada jenis tanah aluvial, gambut dan podsolik merah kuning (PMK) di Kecamatan Singkawang Tengah. Isolasi bakteri dilakukan dengan menggunakan media Pikovskaya dan metode agar tuang (pour plate method), sedangkan penghitungan kepadatan bakteri dengan metode cawan hitung (total plate count). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh 4 genus bakteri pelarut fosfat pada tanah aluvial yaitu Acetobacter, Bacillus, Flavobacterium dan Micrococcus. Tanah gambut ditemukan 5 genus yaitu Azotobacter, Bacillus, Micrococcus, Pseudomonas, Staphylococcus. Tanah PMK ditemukan 6 genus yaitu Acetobacter, Azotobacter, Bacillus, Escherichia, Flavobacterium, Paracoccus. Kepadatan total koloni bakteri pelarut fosfat pada tanah aluvial, gambut dan PMK berturut-turut adalah 7,9x108 CFU/gr, 7,3x108, 7,1 x108 CFU/gr
Struktur Komunitas Zooplankton Di Muara Sungai Mempawah Kabupaten Pontianak Berdasarkan Pasang Surut Air Laut
Fluktuasi salinitas akibat fenomena pasang surut air laut menyebabkan perbedaan jenis zooplankton yang mendiami muara sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas zooplankton pada saat pasang surut air laut di Muara Sungai Mempawah. Sampel diambil pada 5 stasiun yang dibedakan berdasarkan rona lingkungannya. Sampel plankton dan air diambil pada setiap stasiun baik di kolom air (kedalaman 0,5-2,5 meter) maupun di permukaan. Pengambilan sampel dilakukan pada periode pasang surut purnama dan perbani pada bulan April 2012. Zooplankton yang ditemukan di Muara Sungai Mempawah pada saat pasang dan saat surut sebanyak 55 genera yang terbagi ke dalam 5 filum, yaitu Arthropoda, Protozoa, Trocohelmintes, Molusca, Annelida dan 4 genera yang tidak teridentifikasi. Keanekaragaman tertinggi dari filum Arthropoda (29 genera), dengan kelimpahan tertinggi berasal dari filum Trocohelmintes genus Tintinnopsis (731,23 ind/l). Keanekaragaman zooplankton di Muara Sungai Mempawah saat pasang surut tergolong sedang. Kemerataan zooplankton di Muara Sungai Mempawah cenderung merata dengan indeks kemerataan 0,6291-0,8447, yang berarti bahwa tidak ada zooplankton yang mendominasi
Karakterisasi dan Kepadatan Bakteri Pendegradasi Selulosa pada Tanah Gambut di Desa Parit Banjar Kabupaten Pontianak
Selulosa merupakan salah satu bahan organik yang sukar untuk dirombak pada tanah gambut.Bakteri pendegradasi selulosa memiliki peranan dalam proses dekomposisi selulosa secara enzimatik dengan memutuskan ikatan rantai 1,4-?-glukosida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri yang dapat mendegradasi selulosa dan mengetahui kepadatan bakteri pendegradasi selulosa pada tanah gambut. Sampel diambil di Desa Parit Banjar Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Pontianak. Isolasi dilakukan dengan metode pengenceran cawan tuang dan cawan gores menggunakan media Carboxymethylcellulose (CMC) dan kepadatan bakteri dihitung dengan metode Total Plate Count. Pengamatan dan identifikasi dilakukan secara makroskopis, mikroskopis dan melalui rangkaian uji biokimia. Hasil isolasi diperoleh enam genera bakteri yaitu Acetobacter, Acinetobacter, Azotobacter, Acidomonas, Pseudomonas dan Cellvibrio. Kepadatan bakteri pendegradasi selulosa yang ada di lokasi penelitian berkisar antara 23,126x107 sampai 24,942x107 CFU/gr
Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak
Gunung Semahung kaya akan berbagai jenis tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, salah satunya adalah kantong semar (Nepenthes spp). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis jenis, keanekaragaman dan pola distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2010 sampai bulan Februari 2011. Penentuan lokasi penelitian berdasarkan stratifikasi. Pengambilan sampel menggunakan Teknik Sampling Kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan adanya 3 spesies Nepenthes di Gunung Semahung yaitu Nepenthes ampullaria, Nepenthes mirabilis dan Nepenthes gracilis. Keanekaragaman jenis Nepenthes Gunung Semahung di setiap ketinggian tergolong rendah. Pola distribusi N. ampullaria, N. gracilis dan N. mirabilis mengelompok
Inventarisasi Jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular dari Rhizosfer Tanah Gambut Tanaman Nanas (Ananas comosus (L.) Merr)
Vesicular Arbuscular Mycorrhizal (VAM) fungi has an important role to help the growth of pineapple plants (Ananas comosus). The study of inventory of VAM fungi on rhizosphere of pineapple had been conducted for three months from April to July 2013. The research aims to know types of VAM fungi on rhizosphere of pineapple in peat land. Some stages were used in conducting the research that were soil sampling from rhizosphere of A.comosus in Rasau Jaya Umum, isolation and identification of VAM fungal spores, counting number of fungal spores for every 100 gram soil sampling and counting root infection percentage. The research finding showed that VAM fungal spores were Glomus, Acaulospora, and Gigaspora genera. The percentage of pineapple root infected by VAM fungi were in mild level with 33%
Respon Pertumbuhan Stek Pucuk Keji Beling (Strobilanthes crispus Bl) dengan Pemberian IBA (Indole Butyric Acid)
Keji beling (Strobilanthes crispus Bl) merupakan salah satu jenis tanaman yang digunakan sebagai tanaman hias dan juga obat-obatan. Perbanyakan tanaman Keji beling (S.crispus Bl) lebih sering mengunakan stek pucuk, karena tanaman ini jarang berbunga. Indole Butyric Acid (IBA) merupakan salah satu zat pengatur tumbuh (zpt) yang dapat mempengaruhi pertumbuhan stek pucuk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian IBA terhadap pertumbuhan stek pucuk keji beling (S.crispus Bl) dan mengetahui konsentrasi IBA yang dapat meningkatkan pertumbuhan stek pucuk keji beling (S.crispus Bl). Penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai Januari sampai dengan Maret 2012. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca dan di Laboratorium Prodi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 9 taraf konsentrasi IBA yaitu 0 ppm (kontrol), 25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm, 125 ppm, 150 ppm, 175 ppm dan 200 ppm dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian IBA tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada pertumbuhan tinggi tanaman. Pemberian IBA 75 ppm dapat meningkatkan berat basah tanaman yaitu 8.84 gr dan panjang akar tanaman yaitu 21.70 cm. Pemberian IBA 100 ppm dapat menghasilkan jumlah daun terbanyak yaitu 32.33 helai dan jumlah akar terbanyak yaitu 53.67 helai. Pemberian IBA 175 ppm dapat meningkatkan berat kering tanaman yaitu 1.93gr