Konstruksia
Not a member yet
341 research outputs found
Sort by
Pengaruh Batu Kuarsit dan Gamping Koral Terhadap Kehilangan Kuat Tekan Pada Beton Dalam Kondisi ASR
Batu kuarsit dan Batu gamping wilayah pesisir Kab. Pati dan Kab. Blora belum termanfaatkan optimal sebagai agregat kasar [23]. Diteliti sifat fisik agregat kasar serta komposisi kimia, untuk kemudian digunakan dalam mendapatkan karakteristik beton agregat kasar kuarsit dan batu gamping. Pengujian 18 (delapan belas) silinder beton QS 70%:30% LS pada kondisi perawatan terendam air suhu 20°C untuk kuat tekan, kuat tarik belah, dan modulus elastisitas dilaksanakan. Dievaluasi komposisi kimia CaO agregat kasar dan hubungannya dengan kuat tekan beton. Pengujian Lost in Compressive Strength dilakukan atas 6 silinder beton dalam lingkungan ASR 80°C. Penggantian 30% agregat kasar kuarsit (QS) dengan batu gamping (LS) menunjukkan hasil kuat tekan 19.69 MPa dan 29.85 MPa untuk w/c rasio 0.61 dan 0.47 secara berurutan. komposisi kimia CaO (Calcium Oxide) QS dan LS dengan nilai 49.293% dan 54.462%, adapun kandungan SiO2 diperoleh 2.874% dan 1.517% untuk QS dan LS secara berurutan. Terdapat hubungan negatif lemah antara kandungan CaO agregat kasar terhadap kuat tekan beton dan density beton. Terjadi kehilangan kuat tekan (LICS) sebesar -4.7% pada beton w/c 0.61 dan 13.7% untuk beton w/c 0.47, mengindikasikan terdapat peningkatan kuat tekan 4.7% untuk beton w/c rasio 0.61 dan terjadi penurunan kuat tekan 13.7% untuk beton w/c rasio 0.47 pada umur 28 hari lingkungan ASR
Pengaruh Penambahan Sika Grout Pada Balok Beton Bertulang Dengan Kondisi Spalling
Grouting merupakan metode perbaikan kerusakan struktur yang sering kali digunakan saat ini karena menerapkan standar corps of engineering CDR C-621 dan ASTM C-1107. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan sika grout pada balok beton yang telah mengalami kondisi spalling. Dalam penelitian ini digunakan Sika grout 215 yang mempunyai karakteristik tidak susut, tidak korosif, dan dapat mengalir dengan baik sehingga dapat dengan mudah mengisi bagian-bagian kecil pada beton dimana digunakan benda uji berupa balok beton bertulang dengan dimensi 150 mm x 200 mm x 3300 mm, mutu beton yang digunakan 20 MPa. Benda uji yang dibuat dalam dua variasi yaitu balok beton bertulang tanpa grouting yang berfungsi as balok kontrol diberi simbol BK sebanyak 3 buah. Variasi kedua balok beton bertulang dengan penambahan sika grout pada daerah tarik balok dan diberi simbol BGR sebanyak 3 buah balok. Hasil penelitian menunjukkan beban maksimum balok BGR menurun 47,62% dibandingkan balok BK, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan grouting pada balok yang mengalami kerusakan tidak mampu meningkatkan kapasitas kekuatan beton tetapi hanya berfungsi sebagai perbaikan untuk menutupi beton yang mengalami spalling agar bentuknya seperti semula. Hasil uji balok BK menunjukkan bahwa semua balok mengalami kegagalan lentur sedangkan untuk balok variasi mengalami kegagalan debonding
Risiko Keterlambatan Waktu pada Pelaksanaan Proyek Pembangunan Bendungan Pamukkulu dengan Metode Matriks Risiko dan Metode AHP
Dalam proyek konstruksi semacam ini, faktor keterlambatan waktu menjadi salah satu isu utama yang dapat memiliki konsekuensi serius. Keterlambatan waktu dalam pelaksanaan proyek pembangunan bendungan dapat menyebabkan dampak yang signifikan, seperti peningkatan biaya proyek, penundaan manfaat ekonomi yang diharapkan, dan dampak lingkungan yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengidentifikasi risiko-risiko yang dapat menyebabkan keterlambatan waktu dalam proyek ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan risiko-risiko yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek Pembangunan Bendungan Pamukkulu, serta risiko yang paling dominan. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan matriks risiko untuk menentukan level risiko dan metode kuantitatif dengan menggunakan program Expert Choice. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa 54 risiko yang terindentifikasi dapat menyebabkan Proyek Pembangunan Bendungan Pamkkulu terlambat. Hasil analisis kualitatif dengan matriks risiko ditetapkan 3 risiko dominan yang tergolong ke dalam level risiko ekstrim dan tinggi yaitu terhambatnya pembebasan lahan, banjir, dan adanya perubahan desain akibat penyesuaian dengan kondisi di lapangan sedangkan dengan metode hasil analisis kuantitatif dengan program expert choise menunjukkan risiko dominan dengan bobot tertiggi yaitu terhambatnya pembebasan lahan, masalah geologi di lokasi, kondisi jalan akses yang buruk. Kedua bentuk analisis risiko menunjukkan hasil yang berbeda, hal ini dapat diakibatkan oleh penilaian responden yang dibatasi oleh pengalaman kerja masing-masing. Berdasarkan verifikasi dari pihak proyek menilai bahwa hasil yang ditunjukkan oleh matriks risiko lebih sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan demikian, risiko yang dinilai paling dominan adalah terhambatnya pembebasan lahan, banjir, dan adanya perubahan desain akibat penyesuaian dengan kondisi di lapangan
Kapasitas Daya Dukung Pondasi Dangkal dengan Teori Terzaghi dan Mayerhof
Pondasi merupakan elemen penting dalam proses konstruksi bangunan yang bertugas untuk menyalurkan dan mendistribusikan beban dari struktur bangunan ke tanah dibawahnya. Pondasi dangkal adalah jenis pondasi yang sering digunakan dalam proyek bangunan sederhana hingga menengah, dalam pembangunan konstruksi gedung hal penting yang harus dilakukan adalah dengan menganalisis kapasitas daya dukung pondasi dangkal, karena untuk mempertimbangkan nilai keamanan struktural, karakteristik tanah, beban yang akan dipikul, serta perubahan lingkungan, analisis juga dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar nilai kapasitas dukung izin yang akan menerima beban bangunan tersebut . Pada penelitian ini metode yang dipakai adalah metode Terzaghi dan Mayerhof, dalam penelitian ini akan dilihat juga faktor bentuk dan kedalaman pondasi yang akan berpengaruh terhadap hasil dari perhitungan ini, akan memperlihatkan perbandingan nilai kapasitas daya dukung pondasi dangkal dan daya dukung pondasi yang diizinkan antara metode Terzaghi dan Metode Mayerhof. Adapun hasilnya menunjukan untuk nilai Qall dengan nilai Df = 1,5 m, B = 1m, metode Terzaghi adalah Qall = 528,9 KN, metode Mayerhof Qall = 2948,5 KN kemudian untuk nilai Df = 2 m dan, B = 2,5 m , metode Terzaghi Qall = 1364,3 KN, untuk metode Mayerhof = 5068,4 KN, dan untuk DF = 3 m, B = 3 m didapatkan nilai Qall untuk metode Terzaghi Qall = 1677,8 KN, metode Mayerhof Qall = 8730,7 KN, dalam hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai kapasitas daya dukung yang dizinkan pada pondasi dangkal untuk Metode Mayerhof selalu lebih besar dibandingkan dengan nilai Kapasitas daya dukung yang dizinkan pada metode Terzaghi, pada penelitian ini juga dapat dilihat bahwa semakin besar nilai lebar dan kedalaman pondasi, maka nilai kapasitas daya dukung yang diizinkan juga semakin besar
Faktor Penyebab Klaim yang Menyebabkan Sengketa Pada Proyek Pengerukan dan Reklamasi Berdasarkan FIDIC Form of Contract for Dredging and Reclamation Edition 2016 (Blue Book)
Pertumbuhan ekonomi dan industri di Indonesia mendorong pembangunan infrastruktur Pelabuhan yang pekerjaannya meliputi pekerjaan pengerukan dan reklamasi. Pekerjaan pengerukan dan reklamasi sebagian besar dilaksanakan oleh Penyedia Jasa spesialis dari luar negeri mengakibatkan FIDIC Form of Contract for Dredging and Reclamation (Blue Book) edisi tahun 2016 menjadi sering digunakan di Indonesia. Seiring dengan penggunaan FIDIC Blue Book edisi tahun 2016 banyak klaim dan perselisihan antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa yang menyebabkan sengketa. Oleh karena itu diperlukan penelitian tentang analisis faktor-faktor penyebab klaim yang menyebabkan sengketa untuk pekerjaan pengerukan dan reklamasi yang menggunakan Kontrak FIDIC Blue Book. Penelitian dilakukan pada proyek pengerukan dan reklamasi di Indonesia yang menggunakan FIDIC Blue Book dengan menggunakan kuesioner skala likert 5 kepada 85 responden. Data diolah dengan menggunakan SPSS v26.0 dan analisis menggunakan RII (Relative Important Index). Dari hasil analisis diperoleh bahwa faktor penyebab utama klaim yang mengakibatkan sengketa pada proyek pengerukan dan reklamasi di Indonesia yang menggunakan FIDIC Form of Contract for Dredging and Reclamation Edition 2016 (Blue Book) dari responden adalah keterlambatan yang diakibatkan oleh Pengguna Jasa (A10), perbedaan interpretasi dokumen Kontrak (C5), perubahan lingkup pekerjaan (A6), penyelidikan lapangan yang kurang lengkap (A14) dan penemuan obstacle, bom dan ranjau sisa perang dunia (D7)
Klausula Kontrak yang Terkait dengan Extension of Time FIDIC Condition of Contract 2017
Kontrak konstruksi digunakan dalam semua pekerjaan konstruksi. Walaupun sempat dilanda Pandemi Covid 19, Industri Konstruksi di Indonesia tetap bertumbuh dan bahkan dalam satu dekade terakhir ini merupakan salah satu fase pembangunan yang paling cepat, pada tahun 2021 tumbuh secara nyata hingga mencapai 2,7 persen. Sedangkan pada tahun 2022, pertumbuhan nya diprediksi di angka 8,4 persen. Perjanjian kontrak yang digunakan tentu berstandar internasional, salah satunya FIDIC. EOT atau Extension of Time adalah suatu hal yang hampir pasti dalam kontrak konstruksi. Maka dari itu dibutuhkan penelitian yang membahas klausula didalam FIDIC Red Book 2017 yang terkait dengan Extension of Time, dan perlu diketahui juga klausula yang menyebabkan timbulnya biaya tambahan seperti biaya keterlambatan atau biaya kantor pusat Hal ini penting untuk memberikan pengetahuan dan kesiapan bagi para penggiat di dunia konstruksi agar dalam menjalankan kontrak tetap disesuaikan dengan batasan-batasan yang ada dan tidak menemui masalah yang tidak perlu dan dapat menyelesaikan masalah dengan koridor yang sudah diatur secara baik dalam hal ini dengan menerapkan klausula mengenai Extension of Time
Strut and Ties Method Pierhead Jembatan Menentukan Rangka Batang dan Perbandingan Kekuatan Ties antara SNI dan AASHTO
Perencanaan struktur dengan metode STM (Strut & Tie Method) dapat digunakan untuk mendekati perilaku struktur dengan tegangan geser yang besar dan mempunyai regangan non linier disepanjang penampang struktur. Menentukan rangka batang pada STM merupakan langkah yang iterative dan melibatkan proses trial and error. Hal ini membutuhkan upaya lebih dalam penggunaan, utamanya bagi pemula yang baru mengenal STM. Estimasi kekuatan rangka batang STM antara SNI 2847:2019 dan AASHTO LRFD 2017 mempunyai perbedaan. Penelitian ini berfokus pada cara menentukan rangka batang STM dan perbedaan estimasi kekuatan ties antara kedua standar. BESO2D digunakan dalam mempelajari alur gaya untuk menentukan rangka batang STM, kemudian estimasi kekuatan ties dilakukan dari hasil rangka batang tersebut. Studi kasus dilakukan pada pierhead jembatan kantilever ganda, dengan 3 spesimen yang dibedakan dengan variabel rasio lebar dan tinggi penampang . Hasil: (1) Dalam mendalami alur gaya dari beban ke tumpuan dengan BESO2D pada pierhead kantilever ganda, usulan rangka batang dapat dilihat pada tulisan ini. (2) Estimasi kekuatan ties yang didasarkan pada SNI 2847:2019 dan AASHTO LRFD 2017 mempunyai kemiripan. Hasil desain tulangan ties, AASHTO LRFD 2017 lebih efisien dalam penggunaan tulangan dibandingkan dengan SNI 2847:2019. Ini disebabkan oleh perbedaan faktor reduksi kekuatan, . Dalam SNI 2847:2019 faktor reduksi diambil 0.75 sedangkan pada AASHTO LRFD 2017 faktor reduksi kekuatan 0.
Pemeriksaan Getaran Struktur dan Rekomendasi Perkuatan untuk Peningkatan Kapasitas Beban dan Pengurangan Getaran
Suatu gedung yang masih difungsikan harus memenuhi kriteria kelaikan fungsi bangunan baik dari aspek keamanan, kenyamanan, dan pemenuhan standar peraturan yang berlaku sehingga dapat melayani kebutuhan sesuai dengan fungsinya. Adanya perubahan fungsi ruang pada gedung Bank Swasta di Kota Tegal dari ruang kantor menjadi ruang arsip yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kekuatan struktur mempengaruhi kinerja struktur tersebut, indikasinya terlihat lendutan pada balok, retakan pada pelat dan getaran yang mengganggu kenyamanan pengguna bangunan. SNI 2847 2019 mensyaratkan lendutan ijin pada pelat beton, SNI 1729 2002 mensyaratkan lendutan ijin balok baja, sementara KMNLH No.49 Tahun 1996 dan ISO 2631-2 1989 mensyaratkan getaran yang tidak merusak bangunan, mengganggu kenyamanan dan kesehatan manusia. Dari hasil uji getar diketahui bahwa getaran pada kondisi operasional melebihi batas yang diijinkan untuk bangunan kantor. Begitu pun dari hasil analisis kondisi eksisting struktur menunjukkan lendutan yang terjadi melampaui batas ijinnya. Untuk mengurangi lendutan dan menambah kekakuan struktur direkomendasikan perkuatan dengan penambahan balok anak dan overlay pelat setebal 6 cm. Sebelum dilakukan analisis perkuatan, frekuensi alami struktur eksisting hasil analisis diverifikasi dengan frekuensi hasil uji getar. Modifikasi pada model struktur dilakukan pada kekakuan elemen dan asumsi tumpuan. Setelah model mendekati kondisi lapangan, dilakukan analisis dan desain perkuatan. Secara analitis perkuatan yang direkomendasikan menaikkan frekuensi dari 4.879 Hz menjadi 8.298 Hz, mengurangi percepatan, kecepatan dan lendutan puncak 80.86%, dan mengurangi lendutan maksimal 66.07% dari kondisi awalnya, sehingga puncak getaran dalam kondisi operasional dan lendutan maksimal memenuhi kriteria yang diijinkan untuk ruang arsip
Proyeksi Kapasitas Terminal Peti Kemas Pelabuhan Kota Sorong Pada Tahun 2036
Terminal Peti Kemas Pelabuhan Kota Sorong merupakan sarana pengembangan dalam pengiriman dan penerimaan peti kemas yang terletak di Kota Sorong dan dikelola oleh PT. Pelabuhan Indonesia. Terminal Peti Kemas Kota Sorong memiliki luas lapangan penumpukan eksisting 22.632 m² dan waktu kerja selama 364 hari/tahun dengan waktu operasi 24 jam/7hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas eksisting berdasarkan luas lapangan penumpukan, dan memprediksi arus peti kemas pada 15 tahun yang akan datang menggunakan analisa regresi, sehingga dapat diketahui berapakah luas lapangan Terminal Peti Kemas yang dibutuhkan pada tahun berikutnya. Metode penelitian kuantitatif sekumpulan informasi yang bisa diukur, dihitung, dan dibandingkan pada skala numerik. Pada luasan eksisting 22.632 m², masih mencukupi kebutuhan lapangan penumpukan petikemas pada tahun 2024 sebesar 19.092,79 m². Sehingga dari hasil proyeksi pertumbuhan arus petikemas hingga 15 tahun (2036) yaitu mencapai 71.823,00 TEUs dan kebutuhan kapasitas luas lapangan penumpukan sebesar 23.020,35 m² tidak dapat lagi menyimpan semua peti kemas
Karakteristik Marshall Pada Campuran HRS-WC Menggunakan Pyrite Limbah PLTU Asam-Asam Kabupaten Tanah Laut Sebagai Pengganti Agregat Kasar
Pyrite merupakan limbah batu bara yang berupa butiran – butiran seperti batu dengan ukuran 2 – 4 mm, Pyrite termasuk batu bara muda yang tidak bisa hancur dan dibakar dengan menggunakan alat coal crusher. Pyrite selama ini digunakan untuk campuran pembuatan paving block, batako, bata ringan, dan jalan beton. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik fisis dari limbah Pyrite, mengetahui hasil karakteristik Marshall campuran pada aspal dengan penggunaan Pyrite 0%,5%, 10%, 25%, 50% dserta mengetahui kadar aspal optimum pada campuran aspal HRS – WC. Pada penelitian ini Pyrite dimanfaatkan sebagai bahan campuran agregat kasar pada campuran aspal HRS – WC diharapkan sebagai alternatif guna mengurangi limbah. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Kadar aspal optimum yang digunakan adalah 5%, 5,5%, 6%, 6,5% dan 7%. Dari hasil pengujian bahan didapatkan nilai abrasi pyrite sebesar 38,9%, hal ini menunjukan bahwa pyrite termasuk material yang rapuh. Dari hasil penelitian didaptkan bahwa penggunaan pyrite sebesar 10% dari total agregat kasar menghasilkan nilai flow sebesar 4,4 mm, nilai MQ sebesar 289,44 kg/mm dengan kadar aspal optimum sebesar 5,4 – 7%