Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi
Not a member yet
    157 research outputs found

    Hubungan antara Amanah dan Dukungan Sosial dengan Kesejahteraan Subjektif Mahasiswa Perantau

    No full text
    Abstract: The purpose of this study to find out the correlation between amanah and social support with subjective wellbeing in overseas students. Amanah was measured using Amanah Scale based on theory Ash-Shiddieqy. Social Support was measured using Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and to measured subjective well being using SWLS Scale and PANAS Scale. The population of this study were 230 students and the sample obtained 144 students by using quota sampling technique. The methods for data analysis were multiple regression. The results showed significant relationship between amanah and social support with subjective wellbeing in overseas students. Amanah and social support contributed 12.6% to subjective well being.Abstrak: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara amanah dan dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa perantau. Pengukuran amanah menggunakan skala amanah yang dibuat oleh peneliti berdasarkan teori dari Ash-Shiddieqy (1971). Pengukuran dukungan sosial menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan pengukuran kesejahteraan subjektif menggunakan SWLS dan skala PANAS. Populasi dari penelitian ini berjumlah 230 dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 144 mahasiswa dengan menggunakan teknik quota sampling. Proses analisis data menggunakan metode analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara amanah dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan subjektif pada mahasiswa perantau. Amanah dan dukungan sosial secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif sebesar 12.6 % terhadap kesejahteraan subjektif

    Front Matter

    No full text

    Harapan, Tawakal, dan Stres Akademik

    No full text
    Abstract: This study aimed to find out the effect of hope and tawakal toward academic stress among undergraduate students. This study used quantitative method with 102 under­graduate students from Islamic college as subjects of this research. Data were collected through three reliable and valid scales; Hope Scale, Tawakal Scale, and Academic Stress Scale. The result of data using multiple regression analysis showed a negative effect of hope and tawakal together toward academic stress among undergraduate students.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh harapan dan tawakal terhadap stres akademik pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sebanyak 102 mahasiswa S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di D.I. Yogyakarta yang ditentukan dengan teknik accicedental sampling. Data dikumpulkan melalui pemberian tiga skala kepada masing-masing subjek, yaitu Skala Harapan, Skala Tawakal, dan Skala Stres Akademik yang reliabel dan valid. Hasil analisis data menggunakan regresi berganda menunjukkan adanya pengaruh negatif dari harapan dan tawakal secara bersama-sama terhadap stres akademik pada mahasiswa. 

    Motivasi Berprestasi Siswa Ditinjau dari Fasilitasi Sosial dan Ketakutan akan Kegagalan

    No full text
    Abstract: The aim of this research is to determine the relationship between social facilitation and fear of failure with achievement motivation. The hypothesis proposed by researchers is that there is a correlation between social facilitation and fear of failure with achievement motivation. The samples included in this research are 200 high school students of tenth graders from SMAN 2 Semarang, MAN 1 Semarang, and SMA Gita Bahari. The measuring tool used consists of three scales, namely the scale of achievement motivation, social facilitation scale, fear of failure scale. Data analyzed used multiple regression and partial correlation. The results showed that there was a significant correlation between social facilitation and fear of failure with achievement motivation, R = 0,528 and F = 38,028 at p = 0,000 (p<0,01).  The results of partial correlation test indicate that social facilitation was positively linked to achievement motivation while the fear of failure was negatively linked to achievement motivation.Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara fasilitasi sosial dan ketakutan kegagalan dengan motivasi berprestasi. Hipotesis yang diajukan oleh peneliti adalah adanya korelasi antara fasilitasi sosial dan ketakutan akan kegagalan berprestasi. Sampel yang termasuk dalam penelitian ini adalah 200 siswa SMA kelas sepuluh dari SMAN 2 Semarang, MAN 1 Semarang, dan SMA Gita Bahari. Alat ukur yang digunakan terdiri dari tiga skala, yaitu skala motivasi berprestasi, skala fasilitasi sosial, skala ketakutan. Data yang dianalisis menggunakan regresi berganda dan korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara fasilitasi sosial dan ketakutan kegagalan dengan motivasi berprestasi, R = 0,528 dan F = 38,028 pada p = 0,000 (p <0,01). Hasil uji korelasi parsial menunjukkan bahwa fasilitasi sosial dikaitkan secara positif dengan motivasi berprestasi sedangkan ketakutan akan kegagalan dikaitkan secara negatif dengan motivasi berprestasi.

    Nilai Sense of Community pada Kesejahteraan Psikologis dalam Menghuni (Housing Well-being): Studi Meta-analisis

    No full text
    Abstract: Well-being appreciates as a holistic unity of one's potential and a state where individuals can receive strengths and weaknesses, have a purpose in life, develop positive relationships that lead to personal growth wherever individuals are, especially in their neighborhoods. The shelter that spawned a housing well-being that looked at the potential benefits optimally could be likened to where he/she lived. Housing well-being requires reflective and formative as a benchmark to assess the welfare of individuals in their dwellings. Formative indicators point to the evaluation of the satisfaction of residential features, while reflective indicators look at the gap between expectations and existing in the neighborhood, one of which is in the neighboring neighborhoods that are part of the residential community. Sense of community is an early stage in the individual to see the community. Based on the map of existing research results in terms of residential satisfaction. The study used this meta-analysis strategy to examine the results of previous research on the consistency between the sense of community in shaping housing welfare. This meta-analysis study resulted that a sense of community contributing to housing welfare.Abstrak: Kesejahteraan psikologis dijelaskan sebagai suatu pencapaian yang holistik dari potensi psikologis seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan maupun kelemahan, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi positif yang bermuara pada pertumbuhan pribadi dimanapun individu berada, terlebih dalam lingkungan tinggal­nya. Konsep kesejahteraan psikologis inipun berkembang dalam lingkup hunian yang mencetuskan perspektif kesejahteraan psikologis dalam menghuni (housing well-being) yang memandang pada pencapaian potensi secara optimal beserta fungsi psikologis positif seseorang terhadap tempat tinggalnya. Pada indikatornya, housing well-being mensyaratkan reflektif dan formatif sebagai tolak ukur untuk menilai kesejahteraan psikologis individu pada huniannya. Indikator formatif menunjuk pada evaluasi kepuasan menyeluruh fitur hunian, sementara indikator reflektif melihat pada senjang antara harapan dan kenyataan yang ada di lingkungan tinggal, salah satunya adalah kepuasan dalam bertetangga yang merupakan bagian dari komunitas tinggal. Sense of community merupakan tahap awal dalam diri  individu  untuk  melihat  komunitasnya.  Berdasarkan peta penelitian  diperoleh  hasil bahwa terdapat peran sense of community dalam housing well-being. Penelitian yang meng­gunakan strategi meta-analisa ini bertujuan untuk mengkaji hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti sebelumnya tentang kekonsistenan antara sense of community dalam membentuk housing well-being. Studi meta-analisis ini menghasilkan bahwa sense of community memberikan kontribusi terhadap housing well-being

    Mindfulness dan Kesejahteraan Psikologis pada Remaja

    No full text
    Abstract: During adolescence, individuals experience various changes physically, psycho­logically, and socially, which may bring issues that can potentially disrupt adolescents’ psychological well-being. The aim of this study was to analyze the influence of a tendency for being present in the moment, or trait mindfulness, on psychological well-being among adolescents. The sample for this study was 200 adolescents living in Greater Area of Jakarta, collected by incidental sampling. This study used an adapted Child and Adolescent Mindfulness (CAMM) Scale to measure trait mindfulness and an adapted Scale of Psychological Well-being (SPWB) to measure six dimensions of psychological well-being. Data is analyzed by regression analysis. Regression results indicated that trait mindfulness has positive and significant contribution in every dimension of psychological well-being in adolescents, specifically on environmental mastery. The implication of this research will be discussed in the end of the paper.Abstrak: Remaja mengalami perbedaan dan perubahan secara fisik, psikis, maupun sosial sehingga, dapat memunculkan beberapa masalah-masalah yang dapat mengganggu kesejahteraan psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari kemampuan untuk memberi perhatian penuh, yang disebut sebagai mindfulness, terhadap kesejahteraan psikologis pada remaja. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 200 orang remaja di wilayah Jabodetabek, yang dipilih dengan menggunakan teknik incidental sampling. Penelitian menggunakan adaptasi skala Child and Adolescent Mindfulness Measure (CAMM) untuk mengukur mindfulness dan adaptasi skala Scale of Psychological Well-being (SPWB) untuk mengukur keenam dimensi kesejahteraan psikologis. Data dianalisa meng­gunakan uji regresi. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa mindfulness berperan positif dan signifikan terhadap setiap dimensi kesejahteraan psikologis pada remaja, khususnya pada dimensi penguasaan lingkungan. Implikasi dari hasil penelitian akan dijelaskan di bagian akhir

    Bahagia dalam Meraih Cita-cita: Kesejahteraan Subjektif Mahasiswa Teknik Arsitektur Ditinjau dari Regulasi Emosi dan Efikasi Diri

    No full text
    Abstract: Subjective well-being is people’s evaluation of they life. It includes evaluation about cognitive and affective. People have higher subjective well-being, they have a more positive affective or good feelings and satisfied with the life they have. Contrary, people who have lower subjective well-being tend to overcome negative feelings in him. Therefore, subjective well-being is very important in the life of every individual is no exception to the new students. There are many factors that influence the subjective well-being such as sex, religion, education, intelligence emotion regulation and self efficacy. This study focused on the influence of self efficacy and regulasi emosi toward subjective well-being. This study aims to look at the effects of self-efficacy and emotion regulation towards students’s subjective well-being. The study involved 107 new students majoring in engineering architecture that consists of 51 men and 56 women This study uses a quantitative approach which is measured using four scales that is Possitive and Negative Affect Schedule (PANAS) and Satisfaction with Life Scale (SWLS), General Self efficacy (GSE), and Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to measure emotion regulation. The results show that there is the influence of self-efficacy and emotion regulation on subjective well-being. Simultanously, self-efficacy and regulation of emotions influence subjective well-being of 32.5% to the subjective well-being. But partialy, self efficacy more has contribute to subjective well-being, than emotion regulation.Abstrak: Subjective well-being merupakan evaluasi individu terhadap kehidupannya yang meliputi penilaian kognitif dan afeksi. Individu dikatakan memiliki subjective well-being tinggi jika mengalami lebih banyak afeksi positif atau perasaan menyenangkan dan puas atas kehidupan yang dimiliki. Sebaliknya, orang yang memiliki subjective well-being rendah cenderung diliputi perasaan-perasaan negatif dalam dirinya. Oleh sebab itu, subjective well-being sangat penting dalam kehidupan setiap individu tidak terkecuali pada mahasiswa baru. Ada banyak faktor yang mempengaruhi subjective well-being antara lain jenis kelamin, religiusitas, pendidikan, kecerdasan, regulasi emosi dan self efficacy. Penelitian ini mem­focus­kan tentang pengaruh efikasi diri dan regulasi emosi terhadap subjective well-being. Penelitian ini melibatkan 107 orang mahasiswa baru jurusan teknik arsitektur yang terdiri dari 51 orang laki-laki dan 56 orang perempuan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang diukur menggunakan empat skala yaitu Possitive and Negative Affect Schedule (PANAS), Satisfaction with Life Scale (SWLS), General Self efficacy (GSE) dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Analisis yang dilakukan adalah analisis deskripsi dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh self efficacy dan regulasi emosi terhadap subjective well-being. Secara bersama-sama, self efficacy dan regulasi emosi mempengaruhi subjective well-being sebesar 32,5%terhadap subjective well-being. Secara terpisah, self efficacy memberikan sumbangan sebanyak 21,62% dan regulasi emosi sebanyak 3,53% terhadap subjective well-being

    Student Well-being pada Remaja Jawa

    No full text
    Abstract: This study aims to describe the source of student well-being in Javanese ado­lescents. This research uses quantitative research approach and supported by qualitative. Research location in Banyumas with cluster random sampling technique. Instrument data collection using the scale of student well-being and open source questionaire student well-being and interview guide. Quantitative data analysis using descriptive. The results of the study are: 1) The sources of student well-being are the dimensions of social relations, cognitive, emotional and spiritual. 2) The inhibiting factor of achieving student well-being is if there are problems in the social, cognitive, emotional, physical and spiritual.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sumber student well-being pada remaja Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dan didukung dengan kualitatif. Lokasi penelitian di Banyumas dengan teknik cluster random sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan skala student well-being dan openquesioner sumber student well-being serta panduan wawancara. Analisis data kuantitatif menggunakan deskriptif. Hasil penelitian adalah: 1) Sumber-sumber student well-being adalah dimensi hubungan sosial, kognitif, emosi dan spiritual. 2) Faktor penghambat tercapainya student well-being adalah jika ada masalah dalam dimensi sosial, kognitif, emosi, fisik dan spiritual

    Menumbuhkan Keterlibatan Positif dalam Bekerja: Melalui Iklim Kompetisi ataukah Pengembangan Kompetensi?

    No full text
    Abstract: The implementation of motivational climate to encourage achievement and performance has been discussed over decades but the existing research is still limited to academic, educational and sports contexts. This research discussed about motivational climate in the context of work with the approach of industrial and organizational psychology and its relationship to employee’s work engagement. Specifically, this research puts motivational climate as a resource in the framework of JDR-Model (Job Demand Resource Model) which helps employees in facing job challenges so that they feel more engaged in their work. This research was conducted on 76 employees in one of the SOEs (Stated Owned Enterprise) in West Java. Research approach through ex-post-facto study with multiple linear regression test. The result show that motivational climate significantly influence employee work engagement. Mastery climate as one dimension of motivational climate, plays a significant role to the positive engagement in work. In contrast, the performance of climate did not signifcantly related to work engagement. Thus, support system for self-development and program to improve employee ability can serve as a job resource that contributes to engagement. Climate to encourgages competitionn among employee should be aplied together with opportunity to self development. Therefore, practically, it is important to consider how employee development programs can be implemented in a continously and balanced manner rather than competition program merely.Abstrak: Penerapan motivational climate untuk mendorong iklim berprestasi dan performansi sudah sangat banyak dibahas bahkan berpuluh tahun sebelum ini. Hanya, penelitian yang ada masih terbatas pada konteks akademik, pendidikan dan bidang olahraga. Oleh karena itu, melalui penelitian ini akan dibahas mengenai motivational climate di konteks pekerjaan dengan pendekatan psikologi industri dan organisasi dan perannya terhadap work engagement karyawan. Secara spesifik, penelitian ini mendudukkan motivational climate sebagai resource dalam kerangka JDR-Model (Job Demand Resource Model) yang mem­bantu karyawan dalam menghadapi tantangan pekerjaan sehingga lebih merasa engaged dalam bekerja. Penelitian ini dilakukan terhadap 76 orang karyawan di salah satu BUMN di Jawa Barat. Pendekatan penelitian melalui ex-post-facto study dengan uji regresi linier berganda. Berdasarkan hasil tersebut, diperoleh hasil bahwa motivational climate berperan signifikan terhadap work engagement karyawan. Mastery climate sebagai salah satu dimensi dari motivational climate, berperan signifikan terhadap keterikatan positif dalam bekerja. Sebaliknya, performance climate ternyata tidak menunjukkan peran yang berarti. Dengan demikian, dukungan terhadap pengembangan diri dan kemampuan karyawan dapat berperan sebagai job resource yang berkontribusi untuk menumbuhkan perasaan engaged pada pekerjaannya. Jika iklim yang mendorong kompetisi antar karyawan diterapkan begitu saja tanpa dibarengi kesempatan pengembangan diri maka tidak akan berdampak pada engagement karyawan. Oleh sebab itu, secara praktis sebaiknya perusahaan mem­per­timbang­kan bagaimana program-program pengembangan kemampuan kerja dan pengembangan diri karyawan dapat diimplementasikan dengan berkesinambungan dan seimbang daripada hanya sekedar program kompetisi kerja semata.

    Pembentukan Rapport di Kelas: Analisis Psikologi

    Get PDF
    Abstract: The mastery of Arabic language is fundamental for students of Islamic Higher Education. But, generally student’s score on Arabic test did not support this expectation. Some students reported that they felt inconvenient and insecure on Arabic lesson also with the lecturer. Even though, positive relationship between lecturer and students was important for creating and also keeping student’s motivation in studying Arabic. This study aimed to analyze of rapport building between lecturer and students in classroom context. There were three questions, what kinds of strategy lecturers were applied to build and maintain rapport with students, which factors determine the building of rapport between lecturer and students, and how to describe the mechanism of rapport building between lecturer and student? Using qualitative approach, this study collected data from students and lecturers by questionnaire, observation, and interview. There were nine strategies used by lecturers to build rapport with students. The study found six factors determine the quality of lecturer and students’ rapport.Abstrak: Penguasaan Bahasa Arab penting bagi calon sarjana dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Tetapi, skor tes mereka tidak mendukung harapan ini. Sebagian mahasiswa melaporkan mereka kurang percaya diri, nyaman, dan aman saat mengikuti kuliah Bahasa Arab maupun dalam interaksi dengan dosen pengampu. Padahal perasaan aman dan nyaman tersebut bermanfaat untuk memelihara dan meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Riset ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan rapport antara dosen dengan mahasiswa dalam konteks pembelajaran di kelas. Pertanyaan penelitian meliputi, apa sajakah strategi dosen yang diterapkan untuk membentuk rapport, faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pembentukan rapport, dan bagaimana mekanisme ter­bentuknya rapport antara dosen dengan mahasiswa? Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, di mana data dikumpulkan melalui teknik kuesioner, observasi, dan interviu. Ada sembilan strategi pembentukan rapport yang ditemukan. Terdapat enam faktor yang memengaruhi pembentukan rapport dosen-mahasiswa

    124

    full texts

    157

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇