Jurnal TENGKAWANG
Not a member yet
    119 research outputs found

    PENINGKATAN KUALITAS FINISHING KAYU PINUS DAN SUNGKAI MENGGUNAKAN TEKNIK YAKISUGI

    Full text link
    The improvement of wood finishing quality extends beyond the application of paint; it also encompasses techniques such as heat modification. One prominent method currently employed for enhancing wood finishing quality is the yakisugi or shou sugi ban technique. This technique has regained popularity due to its ability to produce unique surface patterns and enhance the dimensional stability of wood. However, this technique has not been widely applied to commercial wood types in Indonesia. Therefore, this research aims to evaluate the burning quality and dimensional stability of pine and sungkai wood after the burning process. The research results indicate that the surface characteristics of burned pine and sungkai wood yield distinct and unique patterns. Color change tests reveal no significant difference between pine and sungkai woods, both exhibiting a clove brown hue. Surface characteristics post-burning show a decrease in paint adhesion with the prolonged burning process, inversely proportional to the contact angle values produced. Dimensional stability is measured by percentage volume expansion and anti-swelling efficiency. The yakisugi technique demonstrates the capability to enhance the dimensional stability values of sungkai and pine woods by a notable margin of 30-50%.  Subsequent research is crucial for observing the chemical changes occurring on the wood surface after burning. Keywords: dimensional stability, pine wood, sungkai wood, wood finishing, yakisugiAbstrakPeningkatan kualitas finishing kayu tidak hanya dalam bentuk proses pemberian cat, tapi juga bisa dalam bentuk teknik modifikasi panas. Salah satu jenis modifikasi panas yang saat ini banyak dilakukan terutama dalam hal peningkatan kualitas finishing kayu adalah metode yakisugi atau shou sugi ban. Teknik ini Kembali popular karena mampu menghasilkan corak permukaan kayu yang unik dan mampu meningkatkan nilai stabilitas dimensi kayu. Namun demikian, teknik ini masih belum banyak diaplikasikan untuk jenis-jenis kayu komersil Indonesia. Maka dari itu penelitian ini bermaksud mengevaluasi kualitas pembakaran dan nilai stabilitas dimensi setelah proses pembakaran pada kayu pinus dan sungkai.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik permukaan kayu pinus dan sungkai setelah pembakaran menghasilkan corak yang berbeda dan unik. Uji perubahan warna menunjukkan hasil yang tidak berbeda antara jenis kayu pinus dan sungkai yaitu clove brown. Karakteristik permukaan kayu setelah pembakaran menunjukkan nilai daya lekat cat yang semakin rendah seiring bertambah lamanya proses pembakaran dan berbanding terbalik dengan nilai sudut kontak yang dihasilkan. Nilai stabilitas dimensi ditunjukkan dengan parameter persentase pengembangan volume dan anti swelling efficiency. Teknik yakisugi mampu meningkatkan nilai kestabilan dimensi kayu sungkai dan pinus sebesar 30-50%. Penelitian selanjutnya penting dilakukan pengamatan pada perubahan yang terjadi secara kimia pada permukaan kayu setelah pembakaran. Kata kunci: finishing kayu, pinus, sungkai, stabilitas dimensi, yakisug

    PEMANFAATAN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) SEBAGAI BAHAN BAKU BRIKET ARANG

    Full text link
    The existence of alternative energy from renewable materials such as charcoal briquettes is one solution to overcome the problem of reduced fossil energy, especially for household needs. Applying biomass derived from plants such as Kaliandra (Caliandra calothyrsus) as charcoal briquettes is expected to enrich plant species as an energy source. This study aims to analyze the quality of calliandra wood charcoal briquettes based on powder size and percentage of tapioca adhesive. Making charcoal briquettes is carried out through the carbonization stage, and testing the quality of the briquettes refers to SNI. 01-6235-2000. The analysis showed that calliandra wood charcoal briquettes made with 20-40 mesh powder and 15% tapioca adhesive gave the best quality. Calliandra wood charcoal briquettes (C. calothyrsus) comply with SNI 01-6235-2000 in terms of ash content and calorific value.Keywords:  charcoal briquettes, kaliandra, SNI 01-6235-2000, powder size, adhesive percentage. AbstrakAdanya energi alternatif dari bahan terbarukan seperti briket arang merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah berkurangnya energi fossil, terutama untuk keperluan rumah tangga. Penggunaan biomassa yang berasal dari tanaman seperti Kaliandra (Caliandra calothyrsus) sebagai briket arang diharapkan dapat memperkaya jenis tumbuhan sebagai sumber energi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas briket arang kayu kaliandra berdasarkan ukuran serbuk dan persentase perekat tapioka. Pembuatan briket arang dilakukan melalui tahapan karbonisasi, dan pengujian kualitas briket mengacu pada SNI. 01-6235-2000. Hasil analisis menunjukkan bahwa briket arang kayu kaliandra yang dibuat dengan ukuran serbuk 20-40 mesh dan perekat tapioka 15% memberikan kualitas terbaik. Briket arang kayu kaliandra (C. calothyrsus) memenuhi SNI  01-6235-2000 di parameter kadar abu dan nilai kalor.  Kata kunci: briket arang, kaliandra, SNI 01-6235-2000, ukuran serbuk, persentase perekat

    KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) di KECAMATAN PADANG BOLAK PROVINSI SUMATERA UTARA

    Full text link
    Nepenthes is a well-known plant in Indonesia. Given the high rate of forest destruction caused by land conversion, which threatens the Nepenthes habitat in this region, the threat to the Nepenthes population in Padang Bolak District, North Sumatra Province is estimated to be very high. The study aims to identify Nepenthes species and the number of species in North Sumatra Province's Padang Bolak District. The exploratory method was used to conduct this study from January to March 2023. The study revealed two species of the Nepenthes Nepenthes gracillis Korth and Nepenthes reinwardtiana Miq. The diversity index of Nepenthes in Padang Bolak District is 0.521, indicating that species diversity is low.Keywords: Kantong semar, Nepenthes, Padang Bolak, Species Diversity, Sumatra.AbstrakNepenthes merupakan tanaman yang terkenal di Indonesia. Mengingat tingginya laju kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan yang mengancam habitat Nepenthes di wilayah ini, maka ancaman terhadap populasi Nepenthes di Kabupaten Padang Bolak, Provinsi Sumatera Utara diperkirakan sangat tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis Nepenthes dan jumlah jenisnya di Kabupaten Padang Bolak Provinsi Sumatera Utara. Metode eksplorasi digunakan untuk melakukan penelitian ini pada bulan Januari hingga Maret 2023. Penelitian tersebut mengungkap dua spesies Nepenthes, Nepenthes gracillis Korth, dan Nepenthes reinwardtiana Miq. Indeks keanekaragaman Nepenthes di Kecamatan Padang Bolak sebesar 0,521 menunjukkan keanekaragaman jenis tergolong rendah.Kata kunci: Kantong Semar, Nepenthes, Padang Bolak, Keanekaragaman Jenis, Sumatera.

    INVENTARISASI KANTONG SEMAR (Nepenthes sp) ENDEMIK DATARAN TINGGI KAWASAN TELAGAH PUTERI DELENG PINTAU GUNUNG SIBAYAK KABUPATEN KARO

    Full text link
    Data collection of endemic species in each area requires continuous research, aims to determine the existence of the distribution of endemic species in a particular area, one of them is the pitcher plant (Nepenthes sp.). The purpose of this study was to record the species of pitcher plant endemic to the highlands of North Sumatra which are in the Puteri Deleng Pintau Lake area, on Mount Sibayak. The research was conducted from January to February 2022 using an exploratory method. The tools used in this study included soil testers, hygrometers, compasses, GPS, cameras, stationery, observer tables and reference books while the materials were Nepenthes sp plants which were found along the hiking trails. The results of the study found two species endemik to North Sumatra, namely N. tobaica and N. spectabilis. The finding that there is a shift in the habitat findings of N. spectabilis in the Mount Sibayak area has an impact on the threat to the sustainability of this endemic species in nature.Keywords: Endemik, Gunung Sibayak, Nepentheceace, Telagah Puteri   AbstrakPendataan spesies endemik pada setiap kawasan memerlukan penelitian berkelanjutan, bertujuan untuk mengetahui keberadaan dari penyebaran spesies endemik pada suatu kawasan tertentu, salahsatunya tumbuhan kantong semar (Nepenthes sp.). Tujuan penelitian ini mendata spesies kantong semar endemik dataran tinggi Sumatra Utara yang berada pada kawasan Telagah Puteri Deleng Pintau tepatnya di Gunung Sibanyak. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2022 dengan menggunakan metode eksploratif. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi soiltester, hygrometer, kompas, GPS, kamera, alat tulis, tabel pengamat dan buku referensi sedangkan bahan yaitu tumbuhan Nepenthes sp yang ditemukan disepanjang jalur pendakian. Hasil penelitian ditemukan dua spesies endemik Sumatra Utara yaitu N. tobaica dan N. spectabilis. Temuan bahwa terjadinya pergeseran temuan habitat dari N. spectabilis pada Kawasan Gunung Sibayak yang berdampak pada terancam kelestarian spesies endemik ini di alam.Kata kunci: Endemik, Gunung Sibayak, Nepentheceace, Telagah Puteri 

    APLIKASI METODE SIX SIGMA (DMAIC) UNTUK MENINGKATKAN RENDEMEN PROSES PRODUKSI KAYU LAPIS

    Full text link
    The rendement value of plywood industry is a benchmark of increasing efficiency in utilizing raw materials. Raw materials from natural forests produced into plywood have a yield that is not in accordance with P.15/PHPL-PPHH/2015. The detailed and sequential DMAIC method can analyze the impact of the use of natural forest raw materials. The purpose of the research is to elaborate the application of six sigma (DMAIC) in PT. XYZ and prove the use of six sigma method can increase the yield of plywood production in PT. XYZ to conform to P.15/PHPL-PPHH/2015. The research was conducted in September-November 2020. This research uses six sigma method with DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve and Control) stages in each plywood production process. The results showed that the rendemen increased by 2.14% by applying the six sigma (DMAIC) method. These results were found based on the collection of define and measure data (analysis of waste problems and rendemen of each production process and interviews), processing of analyze and improve data (analysis of causes and proposed problems of low rendemen value) and implementation of data control (analysis on three production processes of low rendemen causes). The proposed improvement is minimalism tearing of finir core at rotary process, so that there is an increase in plywood production rendemen from 88.23% to 90.37%.Keywords : six sigma (DMAIC), rendement, process, plywoodAbstrakNilai rendemen industri kayu lapis merupakan tolak ukur tentang peningkatan efisiensi dalam memanfaatkan bahan baku. Bahan baku dari hutan alam diproduksi menjadi kayu lapis memiliki rendemen yang tidak sesuai dengan P.15/PHPL-PPHH/2015. Penerapan metode DMAIC yang detail dan berurutan dapat menganalisa dampak dari penggunaan bahan baku hutan alam. Tujuan penelitian adalah menguraikan penerapan six sigma model DMAIC di PT. XYZ dan membuktikan penggunaan metode six sigma dapat meningkatkan rendemen produksi kayu lapis di PT. XYZ agar sesuai dengan P.15/PHPL-PPHH/2015(P_15_2015 Efisiensi Bahan Baku_zgZVDf, n.d.). Penelitian dilaksanakan pada September-November 2020. Penelitian ini menggunakan metode six sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control) pada setiap proses produksi kayu lapis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen meningkat sebesar 2,14% dengan menerapkan metode six sigma (DMAIC). Hasil ini ditemukan berdasarkan pengumpulan data define dan measure (analisis masalah limbah dan rendemen setiap proses produksi serta wawancara), pengolahan data analyze dan improve (analisis penyebab dan usulan masalah nilai rendemen rendah) serta implementasi data control (analisis pada tiga proses produksi penyebab rendemen rendah). Perbaikan yang diusulkan adalah minimalisir penyobekan finir core proses rotary, sehingga terjadi peningkatan rendemen produksi kayu lapis dari 88,23% menjadi 90,37%.Kata kunci : six sigma (DMAIC), rendemen, proses, kayu lapi

    MODAL SOSIAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN TEMBAWANG DI DESA PALOAN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

    No full text
    The management of tembawang by the community in Paloan Village has been carried out for generations. It is important to know social capital in the management of tembawang because tembawang is still maintained by the community even though commercially it does not provide anything significant to people's income. This study aims to examine and assess the characteristics of individuals in the community, examine the condition of social capital community in tembawang management, measure and analyze the relationship between individual characteristics and the elements of social capital, between social capital and its constituent elements and between social capital and tembawang management. in Paloan Village. This research was conducted by field observations, direct interviews with respondents and assisted by questionnaires that have been prepared as well as literature studies by collecting secondary data from various agencies and the results of previous studies related to the research. The level of social capital of the community was analyzed using the value interval equation. While the relationship of social capital was analyzed using the Sperman Rank coefficient test. The results showed that the level of social capital of the Paloan Village community was in the "medium" category. The relationship of community social capital in the management of tembawang has a "weak direction" relationship. This shows that the relationship of social capital is significantly related to the management of tembawang.  Keywords: Community, Management of tembawang, Social capital.AbstrakPengelolaan tembawang oleh masyarakat di Desa Paloan telah dilakukan secara turun temurun. Pentingnya untuk mengetahui modal sosial dalam pengelolaan tembawang karena tembawang masih tetap dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat walaupun secara komersial tidak memberikan sesuatu yang signifikan terhadap pendapatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menilai karakteristik individu pada masyarakat, mengkaji kondisi modal sosial masyarakat dalam pengelolaan tembawang, mengukur dan menganalisis hubungan antara karakteristik individu dengan unsur-unsur modal sosial, antara modal sosial dengan unsur-unsur pembentuknya dan antara modal sosial dengan pengelolaan tembawang di Desa Paloan. Penelitian ini dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara langsung dengan responden dan dibantu dengan kuesioner yang telah disusun serta studi pustaka dengan mengumpulkan data sekunder dari berbagai instansi dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian. Tingkat modal sosial masyarakat dianalisis menggunakan persamaan selang nilai. Sedangkan hubungan modal sosial dianalisis menggunakan uji koefisien Peringkat Sperman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat modal sosial masyarakat Desa Paloan dalam kategori “sedang”. Hubungan modal sosial masyarakat dalam pengelolaan tembawang memiliki hubungan yang “searah lemah”. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan modal sosial berhubungan nyata dalam pengelolaan tembawang. Kata Kunci: Masyarakat, Modal sosial, Pengelolaan Tembawan

    PRODUKTIVITAS SERASAH DI LAHAN REHABILITASI MANGROVE KELURAHAN SETAPUK BESAR KOTA SINGKAWANG

    Full text link
    This study aims to determine the amount of litter production of the amount of carbon (C-org), nitrogen (N), and phosphorus (P) nutrients in the substrate of rehabilitated mangrove forests in Setapuk Besar Village, Singkawang City. Determination of observation points using the purposive sampling method based on mangrove planting years in 2007, 2010, 2013, and 2016. Mangrove leaf litter collection uses a litter trap measuring 1 m x 1m with a periodic retrieval time of every 2 weeks. Data collection of environmental factors is carried out directly in the field at each observation point. Measurements of substrate nutrient content with parameters C-org, N and P were carried out on substrate samples at each observation point for later analysis in the laboratory. The results showed that the productivity of litter in the mangrove rehabilitation area of Setapuk Besar Village, Singkawang City was 7.41 gbk / m2 / day – 0.917 gbk / m2 / day. The largest productivity came from mangroves in 2007 which contributed 56% of the total annual litter production with the largest component coming from the leaf part of the mangrove plant. The highest amount of carbon (C-org), N and P nutrient content was in the 2007 growing year. which shows the successful rehabilitation of mangrove lands increases the fertility of mangrove substrates.Keywords: Litter production, Mangrove, Rehabilitation, Setapuk AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah produksi serasah jumlah kandungan unsur hara karbon (C-org), nitrogen (N) dan fosfor (P) pada substrat hutan mangrove rehabilitasi di Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang. Penentuan titik pengamatan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan tahun tanam mangrove tahun 2007, 2010, 2013 dan 2016. Pengumpulan serasah daun mangrove menggunakan litter trap berukuran 1 m x 1m dengan waktu pengambilan berkala disetiap 2 minggu. Pengumpulan data faktor lingkungan dilakukan secara langsung dilapangan pada setiap titik pengamatan. Pengukuran kandungan hara substrat dengan parameter C-org, N dan P dilakukan terhadap sampel substrat di setiap titik pengamatan untuk kemudian dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan produktifitas serasah di lahan rehabilitasi mangrove Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang sebesar 7,41 gbk/m2/hari – 0,917 gbk/m2/hari. Produktivitas terbesar berasal dari mangrove tahun tanam 2007 yang menyumbangkan 56% dari total produksi serasah tahunan dengan komponen terbesar yang berasal dari bagian daun tanaman mangrove.  Jumlah kandungan unsur hara karbon (C-org), N dan P tertinggi berada pada tahun tanam 2007. yang menunjukkan berhasilnya rehabilitasi lahan mangrove ini meningkatkan kesuburan substrat mangrove. Kata Kunci : Mangrove, Produktivitas serasah , Rehabilitasi  Setapuk

    KARAKTERISTIK EKSTRAK SERBUK GERGAJIAN KAYU TEMBESU (Fagraea fragrans), RENGAS (Gluta renghas) DAN MEDANG (Litsea sp.) SEBAGAI LARVASIDA LALAT RUMAH (Musca domestica)

    Full text link
    Sawdust extract contains polar compounds that act as insecticides such as saponin, tanin, phenolic, anthraquinones, steroids dan triterpenes. Some of these components are toxic to larvae. Therefore, it is necessary to research the potential of extracts from sawdust as a natural insecticide against house flies (Musca domestica). This study aims to analyze the characteristics and effectiveness of the sawdust extract of Tembesu wood (Fagraea fragrans), rengas (Gluta renghas), medang (Litsea sp.) as larvacides of house flies (M. domestica). The analysis of this research was analyzed using descriptive statistical variables. The main variables observed were the mortality rate of flies and extract levels of extracts of F. fragrans, G. renghas, and Litsea sp. Preliminary results showed that the powder moisture content of Litsea sp., F. fragrans and G. renghas ranged from 12-15%. The yield of the extracts of Litsea sp., F. fragrans and G. renghas was around 2%. G. renghas extract had the most significant mortality at a concentration of 9% and 10% compared to other wood extracts.Keywords: ethanol extract, F. fragrans, G. Renghas, larvacide, Litsea sp.Abstrak Ekstrak serbuk gergaji mengandung senyawa polar yang bertindak sebagai insektisida seperti saponin, tanin, fenolik antraquinon, steroid dan triterpen. Beberapa komponen ini beracun bagi larva. Oleh karena itu, perlu untuk meneliti potensi ekstrak dari serbuk gergaji sebagai insektisida alami terhadap lalat rumah (Musca domestica). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan efektivitas ekstrak serbuk gergaji kayu tembesu (Fagraea fragrans), rengas (Gluta renghas), medang (Litsea sp) sebagai larvasida lalat rumah (M. domestica). Penelitian ini dianalisis menggunakan variabel statistik deskriptif. Variabel utama yang diamati adalah tingkat mortalitas lalat dan kadar ekstrak F. fragrans, G. renghas, dan Litsea sp. Hasil awal menunjukkan bahwa kadar air ekstrak Litsea sp., F. fragrans dan G. renghas berkisar antara 12-15%. Hasil ekstrak Litsea sp., F. fragrans dan G. renghas adalah sekitar 2%. Ekstrak G. renghas memiliki angka kematian terbesar pada konsentrasi 9% dan 10% dibandingkan dengan ekstrak kayu lainnya.Kata kunci: ekstrak etanol, tembesu, rengas, larvasida, medang

    KEANEKARAGAMAN SERANGGA DALAM KAWASAN HUTAN MANGROVE DI DESA IHAMAHU

    Full text link
    The research was carried out in the mangrove forest area of Ihamahu Village in September 2020. The study aimed to determine the distribution and level of insect diversity and the factors that influence insect diversity in the mangrove forest area. The study was carried out in an area of 500 m using the path method for insect inventory and systematic sampling for vegetation inventory with a width of 20 m and a length of 100 m with a distance between lanes of 20 m. Insect retrieval using exploratory methods using hands (hand collecting), pitfall traps, and bait traps. The results of the study found 73 insects consisting of 5 orders, 5 families with 9 species of insects, and 4 types of mangroves. The insect diversity index value is 2.1 which is classified as moderate, the abundance index value is 0.018 and the dominance index value is 0.124 which is classified as low. Factors thought to influence insect diversity are the microclimate and the availability of mangroves as a food source.Keywords: Diversity, forest, Ihamahu, insects, mangrove.AbstrakPenelitian dilaksanakan dalam kawasan hutan mangrove Desa Ihamahu pada bulan September 2020. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penyebaran dan tingkat keanekaragaman serangga serta faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman serangga yang berada dalam kawasan hutan mangrove. Penelitian dilaksanakan pada areal seluas 500 m menggunakan metode jalur untuk inventarisasi serangga dan sistematik sampling untuk inventarisasi vegetasi dengan lebar 20 m dan panjang 100 m dengan jarak antar jalur yaitu 20 m. Pengambilan serangga menggunakan metode eksplorasi dengan menggunakan tangan (hand collecting), perangkap sumuran (pit fall trap), dan perangkap umpan (bait trap). Hasil penelitian menemukan 73 ekor serangga terdiri dari 5 ordo, 5 family dengan jumlah jenis serangga 9 jenis dengan 4 jenis mangrove. Nilai indeks keanekaragaman serangga sebesar 2.1 yang tergolong sedang, nilai indeks kelimpahan sebesar 0.018 dan nilai indeks dominansi 0.124 yang tergolong rendah. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keanekaragaman serangga yakni iklim mikro dan ketersediaan mangrove sebagai sumber makanan. Kata kunci: Hutan, Ihamahu, keanekaragaman, mangrove, serangga

    PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ZAT FIKSASI PADA EKSTRAK DAUN MANGGA DALAM PEWARNAAN KAIN BATIK

    Full text link
    The dyeing of batik cloth can use natural and synthetic dyes. The use of synthetic dyes in everyday life has an unfavorable effect on the environment, because it is carcinogenic. Therefore, it is necessary to make efforts to produce natural dyes that can replace synthetic repair materials. Manganese plants contain mangiferin pigments or flavonoid compounds which are used as natural dyes. The purpose of this study was to determine the effect of type and fixation concentration of mango leaf extract as a dye for batik cloth. This research method used a variety of alum and lime fixators with concentrations of 2%, 4% and 6%. the results showed that alum fixation gave a better fastness value than the fixation agent in lime with a concentration of 6% and the value of the test results was 4-5 which was at the good category, the results of the color difference test L*, a*, b* and identification of the color code and color light was done through encyclorpedia and the direction of the color produced from mango leaf extract showed a brown color in the fixation substances of alum and lime. Keywords: Mango Leaf, Fixation, Fastness, Natural Dye  AbstrakPewarnaan kain batik dapat menggunakan pewarna alami dan sintetis. Penggunaan pewarna sintetis dalam kehidupan sehari-hari memiliki efek tidak menguntungkan bagi lingkungan, karena bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk menghasilkan pewarna alami yang dapat menggantikan bahan perbaikan sintetis. Tumbuhan mangga mengandung pigmen mangiferin atau senyawa flavonoid yang digunakan sebagai pewarna alami. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi zat fiksasi pada ekstrak daun mangga sebagai pewarna kain batik. Metode penelitian ini menggunakan variasi bahan fiksasi tawas dan kapur dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6%, hasil penelitian menunjukkan bahwa fiksasi tawas memberikan nilai ketahanan luntur yang lebih baik dibandingkan zat fiksasi pada kapur dengan konsentrasi 6% dan nilai hasil uji 4-5 pada kategori baik, hasil uji beda warna L*,a*,b* dan identifikasi kode warna serta cahaya warna melalui encycolorpedia, arah warna yang dihasilkan dari ekstrak daun mangga menunjukkan warna coklat pada zat fiksasi tawas maupun kapur.Kata kunci: Daun Mangga, Fiksasi, Tahan Luntur, Pewarna Alam

    112

    full texts

    119

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal TENGKAWANG
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇