Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

repository.poltekkes-smg.ac.id
Not a member yet
    28611 research outputs found

    PERSENTASE PENDONOR DARAH SUKARELA DAN PENGGANTI BERDASARKAN GOLONGAN DARAH, USIA DAN JENIS KELAMIN DI UDD PMI KABUPATEN BLORA PADA TAHUN 2022

    No full text
    Latar belakang: Pelayanan transfusi darah sebagai salah satu upaya kesehatan dalam rangka penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan sangat membutuhkan ketersediaan darah yang aman, mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat. Pendonor darah merupakan penentu jumlah ketersediaan darah di Unit Donor Darah (UDD). Menurut WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan darah seharusnya 100% berasal dari pendonor darah sukarela. UDD PMI Kabupaten Blora merupakan salah satu UDD yang belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan darahnya dari pendonor darah sukarela, sehingga masih harus dilakukan menggunakan pendonor darah pengganti.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui persentase pendonor darah sukarela dan pengganti berdasarkan golongan darah, usia dan jenis kelamin di UDD PMI Kabupaten Blora pada Tahun 2022.Metode penelitian: Penelitian deskriptif menggunakan metode pendekatan kuantitatif yaitu dengan mengambil data sekunder dari database rekapitulasi data pendonor darah UDD PMI Kabupaten Blora pada Tahun 2022.Hasil: Hasil penelitian menunjukan jumlah pendonor darah di UDD PMI Kabupaten Blora pada Tahun 2022 berjumlah 6792 pendonor. Pendonor sukarela 78.61% dan pengganti 21.39%. jumlah pendonor darah terbanyak berdasarkan golongan darah adalah golongan darah O rhesus positif 38,93%, berdasarkan usia adalah pada kelompok dewasa 52.68% dan pada jenis kelamin adalah laki-laki sebanyak 65,77% baik pendonor sukarela maupun pengganti.Kata Kunci: Sukarela, Pengganti, Blor

    No full text

    ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. E UMUR 35 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKIS AJI KABUPATEN JEPARA

    No full text
    Proses kehamilan, persalinan dan nifas adalah proses fisiologis. Dalam prosesini tidak sedikit ibu mengalami problem kesehatan yang dapat meningkatkanjumlah mobiditas dan mortalitas ibu dan bayi. AKI dan AKB di Indonesia masihtinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya. Menurut pernyataan organisasikesehatan dunia WHO pada tahun 2010 mencapai 585.000/tahun saat hamil danbersalin yang masih tinggi dibandingkan tahun 2005 sebanyak 536.000 ibumeninggal dalam masa kehamilan dan persalinan.Penulis Karya Tulis Ilmiah ini dalam bentuk studi kasus dengan menggunakanpendekatan proses kebidanan menggunakan 7 langkah varney dan dokumentasiSOAP.Hasil penelitian ini diperoleh diagnosa G2P0 usia kehamilan 39 minggudengan kehamilan fisiologis, dengan keluhan nyeri punggung, dengan persalinantanpa adanya penyulit dan komplikasi yang diikuti masa nifas fisiologis dengankeluhan ASI keluar sedikit yang mendapatkan penanganan pemberiak KIE pijatoksitosin, bayi baru lahir fisiologis, serta berencana menggunakan KB Suntik 3bulan. Pada penerapan asuhan kebidanan terdapat kesenjangan pada kehamilanyaitu tidak dilakukan penilaian berdasarkan Skor Poedji Rochjati, pada persalinandidapatkan kesenjangan yaitu tidak melakukan pertolongan persalinan sesuaistandar 60 langkah APN dan APD tidak sesuai dengan prosedur.Kesimpulan dari hasil studi kasus ini yaitu semua proses kehamilan, persalinan,nifas, BBL, dan KB adalah fisiologis. Asuhan yang diberikan penulis berdasarkanevidence based terlaksanan dengan baik, namun terdapat kesenjangan antara teoridan praktik asuhan kebidanan yang ada di lahan. Kesenjangan terdapat padaperencanaan dan dalam proses melakukan tindakan asuhan

    TEKNIK PEMERIKSAAN MRI BRAIN PADA KASUS EPILEPSI

    No full text
    Epilepsi merupakan kelainan pada otak yang dapat menyebabkan kecacatan serta kematian. Penyakit ini ditandai dengan satu atau kejang berlebihan dengan jarak waktu antara kejang pertama dan kedua lebih dari 24 jam. Fluid Attenuated Inversion Recovery (FLAIR) adalah sekuen yang biasa dipakai pada pemeriksaan MRI Brain kasus epilepsi yang bertujuan untuk menekan sinyal CSF. Pembobotan T1 pada FLAIR digunakan karena dapat membantu dalam mengevaluasi volume, bentuk, orientasi dan struktur internal dari lesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pemeriksaan MRI Brain kasus epilepsi dengan menggunakan protokol MRI Brain rutin ditambah sekuen T1 FLAIR dan alasan digunakannya protokol tersebut.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan Study Literatur. Mesin pencari yang digunakan untuk melakukan review jurnal adalah National Center For Biotechnology Information (NCBI), International Jurnal of Research and Review, American Journal Roentgenology (AJR), Google Scholar dan Science Direct. Sumber tersebut akan diolah dengan analisis data secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini didapatkan 3 jurnal yang menunjukkan gambaran lesi. Lesi yang dapat terlihat adalah lesi yang ukurannya kecil yang sering luput dari neuroradiologis. Lesi akan tampak pada lobus temporal, dengan terlihatnya lesi di lobus temporal akan membantu dalam mencari hiperintensitas kortikal atau subkortikal yang halus. Sedangkan T1 FLAIR digunakan untuk melihat lesi untuk menyelidiki hippocampus sclerosis, penebalan kortikal dan mengaburkan margin greywhite matter. Selain itu gambar T1 dengan resolusi tinggi terutama pemulihan (IR) sangat dianjurkan untuk digunakan karena dapat untuk mengevaluasi volume, bentuk, orientasi dan struktur internal dari lesi. Kesimpulannya, sekuen T1 FLAIR sangat baik digunakan pada pemeriksaan MRI Brain pada kasus epilepsi karena dapat membantu dalam memperlihatkan lesi sampai dengan yang terkecil

    ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN FATIGUE PADA PASIEN HEMODIALISIS DENGAN INTERVENSI EDUCATION SELF MANAGEMENT (ESM) BERDASARKAN EVIDENCE BASED DI RUANG HEMODIALISA RSUP DR. KARIADI SEMARANG

    No full text
    Latar belakang : Hemodialisa merupakan salah satu jenis pengobatan yang dapat menghilangkan racun uremik pada ginjal. Berdasarkan hasil observasi didapatkan 3 pasien hemodialisa mengatakan kelelahan saat menjalani HD bahkan saat beristrahat di rumah. Pengukuran kelelahan dengan wawancara menggunakan alat ukur FACIT score sehingga membuat data yang diperoleh akurat dan intervensi yang diberikan maksimal. Intervensi edukasi yang diberikan dimana pasien terlibat dalam manajemen diri mereka sendiri, mematuhi proses perawatan dan membuat perubahan perilaku yang meningkatkan kesehatan pasien dialisis.Tujuan : Menganalisis asuhan keperawatan pasien hemodialisa dengan mengukur derajat kelelahan menggunakan FACIT score dan menerapkan Education Self Management (ESM) untuk menurunkan kelelahan pada pasien hemodialisis.Metode : Analisis deskriptif yaitu studi kasus dengan jumlah subyek 3 orang. Instrumen yang digunakan yaitu FACIT score. Pengukuran derajat kelelahan dilakukan 2 kali sebelum dan sesudah pemberian edukasi Self Management.Hasil asuhan keperawatan : Masalah keperawatan yang ditemukan yaitu kelelahan berhubungan dengan kondisi klinis penyakit ginjal kronis. Dengan intervensi manajamen energi dan memberikan edukasi Self Management serta pengukuran derajat kelelahan. Hasil evaluasi pengukuran FACIT score yaitu 3 klien mengalami kelelahan ringan dengan sko

    ANALISA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DENGAN MELAKUKAN PENGUKURAN RASA HAUS MENGGUNAKAN THIRST DISTRESS SCALE (TDS) SEBELUM PEMBERIAN TERAPI KUMUR AIR MATANG DI RUANG HEMODIALISA

    No full text
    Latar Belakang: Salah satu faktor yang mempengaruhi asupan cairan pasien gagal ginjal kronis (GGK) yaitu rasa haus. Semakin besar jumlah kelebihan cairan dalam tubuh pasien akan semakin tinggi risiko komplikasi. Tujuan: Menganalisa asuhan keperawatan pasien gagal ginjal kronis dengan melakukan pengukuran rasa haus menggunakan thirst distress scale (TDS) sebelum pemberian terapi kumur air matang di ruang hemodialisa.Metode: Analisis deskriptif berupa studi kasus dengan subjek 3 pasien GGK yang menjalani Hemodialisa. Data diperoleh dengan studi literatur, wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan kwesioner. Instrumen yang digunakan yaitu TDS. Pengukuran rasa haus dilakukan pada hari pertama dan pada hari keempat setelah diberikan terapi berkumur air matang. Hasil Asuhan Keperawatan: Masalah keperawatan yaitu Resiko ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan gagal ginjal. Intervensi yaitu pengukuran rasa haus, pemantauan cairan dan terapi berkumur air matang. Hasil pengukuran TDS pada hari keempat yaitu 1 klien dengan rasa haus sedang Score 14 dan 2 klien dengan rasa haus ringan score 8 dan 2. Diskusi: Penulis menggunakan instrumen TDS untuk mengukur rasa haus pada hari pertama sebelum berkumur air matang dan pada hari keempat setelah terapi berkumur air matang. Didukung penelitian Hasibuan & Hati (2021) dimana menggunakan Instrumen TDS dalam mengukur rasa haus. Didukung juga penelitian Najikhah & Warsono (2020) pada kedua pasien studi kasusnya didapatkan hasil bahwa berkumur dengan air matang dapat menurunkan rasa haus pada pasien gagal ginjal kronis. Rekomendasi: Terapi berkumur air matang efektif dalam mengurangi rasa haus klien GGK yang menjalani hemodialisa karena dapat dilakukan kapanpun dan tidak memerlukan biaya mahal. Didukung penggunaan instrumen TDS sebagai pengukuran rasa haus klien GGK sangat efektif untuk mengukur rasa haus yang bersifat subjektif sehingga dapat diukur secara pasti

    No full text

    TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SENAM AEROBIK LOW IMPACT PADA PASIEN RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI RSUD DR.H.YULIDIN AWAY TAPAK TUAN

    No full text
    Latar belakang : Risiko Perilaku kekerasan merupakan respon marah diekspresikan dengan melakukan ancaman, mencederai diri sendiri maupun orang lain dan merusak lingkungan sekitar. Berbagai terapi dalam mengatasi masalah perilaku kekerasan telah banyak dikembangkan. Salah satunya adalah terapi senam aerobic low impact. Senam aerobic low impact merupakan senam dengan mengandalkan penyaluran energi dan penyerapan oksigen yang berimbang sehingga dapat meningkatkan endorphin yang memiliki efek relaksan sehingga dapat mengurangi resiko kekerasan secara efektif.Tujuan : Untuk mengetahui keefektifan penerapan TAK senam aerobic low impact untuk mengurangi resiko perilaku kekerasanMetode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi kasus. Jumlah sampel yang terlibat 5 orang pasien. Instrument yang digunakan adalah kuesioner agresion untuk menilai kontrol diri pasien. Intervensi yang dilakukan adalah Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) senam low impact yang dilakukan selama 2 minggu dengan durasi 3 kali seminggu.Hasil asuhan keperawatan: Masalah keperawatan ditemukan adalah resiko perilaku kekerasan. Intervesi dilakukan dengan menerapkan strategi pelaksanaan (SP) 1-4 termasuk didalamnya menerapkan TAK senam aerobic low impact. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang direncanakan dan diikuti secara aktif oleh semua sampel. Hasil evaluasi pada pasien resiko perilaku kekerasan menunjukkan bahwa seluruh pasien sudah mulai memahami dan mampu menerapkan SP 1-4 termasuk aktif dalam menerapkan TAK senam aerobic low impact.Diskusi : Hasil analisis inovasi keperawatan pada kasus klien resiko perilaku kekerasan dengan TAK senam aerobic low impact menunjukkan bahwa terapi tersebut efektif untuk meningkatkan nilai kontrol diri pasien.Rekomendasi : Harus ditingkatkan upaya menguragi resiko perilaku kekerasan pada pasien dengan melakukan TAK Senam Aerobik low impact agar dapat meningkatkan kontrol diri pada pasien

    PENERAPAN INTRADIALYTIC STRETCHING EXERCISE UNTUK MENURUNKAN KRAM OTOT PADA PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RSUD DR. DORIS SYLVANUS

    No full text
    Latar belakang: Kerusakan ginjal yang progresif dimana berakibat fatal serta ditandai dengan adanya uremia (uremia dan limbah nitrogen lainnya) yang beredar di dalam darah dan juga berbagai komplikasinya bila tidak dlakukan dialysis atau transplantasi ginjal merupakan Gagal Ginjal Kronik (GGK). Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada pasien hemodialisis yaitu kram otot, kondisi ini menunjukkan ketegangan pada otot sehingga pasien merasakan rasa kaku, nyeri serta tegang. Pasien yang mengalami kram otot dapat diberikan tindakan farmakologi maupun non farmakologi. Salah satu tindakan keperawatan non farmakologi yang dapat diberikan untuk mengurangi kram otot adalah memberikan intervensi intradialytic strectching exercise Tujuan: Tulisan ini bertujuan untuk mempraktekkan pembuktian intervensi intradialytic stretching exercise dalam menurunkan kram otot pada pasien HD.Metode: Desain studi kasus berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah responden 3 klien, dengan melakukan pemeriksaan tingkat kram otot sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Intervensi dilakukan selama kurang lebih 15 menit pada setiap klien, Hasil: Hasil evaluasi penerapan evidence based nursing practice (EBNP) menunjukan adanya perubahan hasil skor kram pada klien setelah pemberian terapi latihan intracialytic stretching exercise, hasil yang didapatkan yaitu rata rata skor kram sebelum dilakukan tindakan intradialityc stretching exercise adalah 9 (kram berat) dan rata rata skor kram setelah dilakukan tindakan intradialytic stretching exercise turun menjadi 2 (kram ringan).Kesimpulan : Tindakan intradialytic stretching exercise dapat menurunkan tingkat kram otot pada pasien HD

    SENAM ERGONOMIK UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI GRADE 1 DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS ULEE KARENG

    No full text
    Latar belakang : Data World Population Prospects (2015) bahwa jumlah orang tua adalah 901 juta, yang terdiri dari 12% dari total populasi di dunia. Hipertensi mengurangi kualitas hidup, dan juga dapat merusak kehidupan pasien. Senam ergonomik dapat menurunkan vasokonstriksi dan tekanan vena, selain itu dapat meningkatkan vasodilatasi yang dapat mengurangi oposisi vaskular tepi. Dengan pemberian senam ergonomik dapat menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi grade 1.Tujuan : Untuk menggambarkan penggunaan asuhan keperawatan dengan memberikan senam ergonomik untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi grade 1.Metode : Desain studi kasus dengan penelitian deskriptif berdasarkan kriteria inklusi, jumlah 3 responden, observasi tekanan darah pada lansia menggunakan Sphymomanometer dan lembar observasi, Senam ergonomik dilakukan selama 20 menit dan dilakukan tiga kali dalam seminggu dengan berselang seling harinya.Hasil Asuhan Keperawatan : Hasil pengukuran tekanan darah setiap responden setelah dilakukan senam ergonomik mengalami penurunan yang beragam selama 3 kali seminggu berselang-seling harinya. Intervensi senam ergonomik ini bisa dijadikan sebagai pilihan tindakan mandiri perawat yang aman dan efektif dalam menurunkan serta menstabilkan tekanan darah

    4

    full texts

    28,611

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    repository.poltekkes-smg.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇