GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir
Not a member yet
236 research outputs found
Sort by
KAJIAN SIFAT BAHAN LAPISAN TIPIS FEROMAGNETIK NixFe1-x HASIL DEPOSISI DENGAN TEKNIK EVAPORASI HAMPA
KAJIAN SIFAT BAHAN LAPISAN TIPIS FEROMAGNETIK NiXFe1-X HASIL DEPOSISI DENGAN TEKNIKEVAPORASI HAMPA. Telah dilakukan kajian sifat bahan lapisan tipis feromagnetik NixFe1-x hasil deposisi denganteknik evaporasi hampa. Kajian sifat bahan meliputi analisis komposisi bahan menggunakan metode XRF,resistivitas bahan lapisan tipis pada suhu kamar, dan transisi fase bahan lapisan tipis NixFe1-x. Hasil analisis denganmetode XRF diketahui bahwa komposisi lapisan yang terbentuk pada permukaan substrat relatif sama dengankomposisi bulk material yang dievaporasikan. Pengukuran resistivitas dengan metode probe empat titikmenunjukkan bahwa nilai resistivitas tergantung pada ketebalan dan komposisi bahan, serta resistivitas yangdiperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan resistivitas bulk material. Suhu transisi atau suhu Curie Tc yangdiperoleh memperlihatkan ketergantungannya terhadap komposisi baha
PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI SPUTTERING TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS SnO2PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI SPUTTERING TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS SnO2
PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI SPUTTERING TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS SnO2. Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh variasi tekanan dan waktu deposisi sputtering terhadap sensitivitas sensor gas SnO2 yang difabrikasi dengan metode DC sputtering. Variasi tekanan dimulai dari 3×10-2, 4×10-2, 5×10-2, 6×10-2 dan 7×10-2 Torr serta variasi waktu dimulai dari 30, 60, 90 dan 120 menit dengan tegangan tinggi DC sebesar 2 kV dan suhu deposisi 250 °C. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa lapisan tipis SnO2 yang dideposisi dengan parameter sputtering : tegangan 2 kV, arus 10 mA, tekanan 7×10-2 Torr, waktu 120 menit dan suhu 250 °C mempunyai sensitivitas optimun untuk mendeteksi gas C2H5OH, NH3, CO dan HNO3. Dari hasil pengujian sensitivitas menunjukkan bahwa sensor gas dari bahan SnO2 mempunyai sensitivitas tertinggi terhadap gas C2H5OH dengan sensitivitas 46,96 % dan gas NH3 dengan sensitivitas 41,91 % pada konsentrasi 5.529 ppm. Kemudian dari hasil analisa unsur dan tebal lapisan SnO2 pada kondisi optimum menggunakan SEM–EDS diperoleh Sn sebesar 30,68% dan O sebesar 69,32 % dan tebal lapisan SnO2 sebesar ± 4,5 μm
ANALISIS KEKRITISAN ELEMEN BAKAR REAKTOR KARTINI
ANALISIS KEKRITISAN ELEMEN BAKAR REAKTOR KARTINI. Telah dilakukan analisis kekritisan elemen bakar reaktor Kartini dengan menggunakan program WIMSD4. Analisis kekritisan dikerjakan dengan mendefinisikan sel bahan bakar sebagai elemen bakar yang dikelilingi air pendingin dengan ruji-ruji yang bervariasi dari 2 cm sampai dengan 5 cm. Kekritisan sel ditentukan berdasarkan pada hasil perhitungan faktor multiplikasi neutron sel oleh program WIMSD4. Dikatakan kritis atau superkritis apabila faktor multiplikasi neutron sel sama dengan 1 atau lebih. Dari variasi ruji-ruji sel dalam input WIMSD4 diperoleh variasi faktor multiplikasi neutron sel yang dihasilkan oleh program WIMSD4. Berdasarkan pada hubungan antara ruji-ruji sel dengan faktor multiplikasi neutron yang dihasilkannya dapat ditetapkan batas ukuran ruji-ruji sel yang menghasilkan kondisi sel subkritis. Dari hasil perhitungan dapat diperoleh kesimpulan bahwa elemen bakar reaktor Kartini akan bersifat subkritis dengan k~ = 0.94 apabila ditempatkan pada kisi-kisi sel yang masing-masing selnya mempunyai ruji-ruji minimum 4.5 cm. Fasilitas tempat penyimpanan elemen bakar di reaktor Kartini seluruhnya mempunyai kisi-kisi sel yang ruji-ruji minimumnya lebih kecil dari hasil perhitungan sub kritikalitas sel, akan tetapi kapasitas elemen bakar dari tiap tempat penyimpanannya jauh dibawah batas massa kritis dari volume tempat penyimpanan elemen bakarnya. Dengan demikian tempat penyimpanan elemen bakar dapat dipandang memenuhi syarat subkritikalitas yang ditetapkan
SUATU TINJAUAN TENTANG PERALATAN KEDOKTERAN NUKLIR DAN MASALAH PEMELIHARAANNYA
SUATU TINJAUAN TENTANG PERALATAN KEDOKTERAN NUKLIR DAN MASALAH PEMELIHARAANNYA. Peralatan Kedokteran Nuklir (PKN) tergolong rumit serta memerlukan perhatian untuk mempertahankan agar tetap berada dalam kondisi operasional yang baik, dan terdapat berbagai kendala dalam melaksanakan perawatannya terutama di negara sedang berkembang. Beberapa kendala yang terdeteksi adalah akibat gangguan kondisi lingkungan, tidak adanya dukungan engineer dari pabrik alat, tidak memadai staf lokal terlatih, kesulitan mendapatkan spareparts, komplikasi administratif, masalah dana, dsb-nya. Dalam makalah ini dikemukakan dan dibahas secara ringkas faktor tersebut berdasarkan pengalaman melaksanakan perawatan peralatan kedokteran nuklir di berbagai rumahsakit, selanjutnya dikemukakan catatan perawatan peralatan Gamma Camera dan kondisi saat ini sebagai ilustrasi. Juga dikemukakan upaya yang harus dilakukan dalam suatu sistem perawatan komprehensif terutama untuk peralatan kedokteran nuklir yang masih operasional dan atau yang baru. Dikemukakan pula organisasi dan manajemen sistem perawatan maju yang meliputi komponen : 1) kesehatan laboratorium, 2) pemeliharaan preventif dan 3) pemeliharaan korektif untuk dapat diadopsi. Berdasarkan review pada pengalaman negara-negara sedang berkembang, mengembangkan kemampuan sendiri dalam melaksanakan perawatan alat adalah sangat penting, karena dengan menggunakan sistem kontrak akan sangat mahal dan selalu tergantung pihak lain. Utuk meningkatkan keandalan dan memperbaiki kualitas PKN perlu dilakukan program kendali kualitas secara rutin di rumahsakit
RANCANG BANGUN PENGATUR SISTEM AKTUATOR CATU DAYA SUMBER ELEKTRON PADA MBE DENGAN MIKROKONTROLER
RANCANG BANGUN PENGATUR SISTEM AKTUATOR CATU DAYA SUMBER ELEKTRON PADA MBE DENGAN MIKROKONTROLER. Telah dilakukan rancang bangun pengatur sistem aktuator catu daya sumber elektron pada MBE dengan mikrokontroler. Sistem pengaturan ini dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman assembler untuk mengendalikan gerakan motor dc yang dikopel dengan trafo variak. Sistem pengaturan tersebut dilakukan dengan menekan tombol UP untuk menaikkan tegangan variak dan tombol DN (down) untuk menurunkan tegangan dan setiap kali penurunan atau kenaikkan (perstep) berkisar antara 5 volt sehingga memudahkan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan sumber elektron secara bertahap dengan prioritas tertinggi pada penurunan tegangan. Sistem pemrograman dengan mikrokontroler tersebut dibuat agar lebih memudahkan untuk disesuaikan dengan keperluan dalam pengendalian dengan cara memodifikasi program dan untuk pengembangan selanjutnya dapat dibuat suatu system closed loop atau dapat dikopel dengan sistem kendali yang berbasis komputer dengan menggunakan fasilitas yang tersedia pada mikrokontroler
EFEK IMPLANTASI ELEMEN TERNER DAN KUATERNER TERHADAP KETAHANAN OKSIDASI PADUAN TITANIUM ALUMINIUM (TiAl)
EFEK IMPLANTASI ELEMEN TERNER DAN KUARTENER TERHADAP KETAHANAN OKSIDASI PADUAN TITANIUM ALUMINIUM (TiAl). Tujuan utama penelitian ini adalah menyelidiki efek implantasi ion Si dan Mo serta menentukan kondisi optimum implantasi elemen reaktif tersebut untuk meningkatkan ketahanan oksidasi paduan biner TiAl dan paduan terner TiAl-Si serta TiAl-Mo selama siklus termal. Untuk maksud tersebut ion Si diimplantasikan pada paduan biner TiAl dan terner TiAl-Mo pada energi 45 keV, sedangkan ion Mo diimplantasikan pada paduan biner TiAl dan terner TiAl-Si pada energi 100 keV. Selama proses implantasi, arus ion dibuat tetap yaitu sebesar 10 μA, sedangkan dosis ion divariasi yaitu 1,5×1015 ion/cm2, 3,0×1015 ion/cm2, dan 4,5×1015 ion/cm2. Untuk pengujian dengan kondisi siklus termal, maka selanjutnya setiap cuplikan dioksidasi pada temperatur 8000C dengan waktu pemanasan selama 5 jam dan pendinginan pada suhu kamar selama 19 jam. Proses oksidasi dilakukan dalam lingkungan oksigen, dan kondisi ini diperoleh dengan cara mengalirkan gas oksigen ke dalam tabung oksidasi dengan laju alir 0.021 cc/min, dan tekanan 2 kgf/cm2. Laju oksidasi ditentukan dari pengukuran perubahan berat cuplikan sebelum dan sesudah dioksidasi. Berdasarkan analisis data hasil penelitian menunjukkan bahwa implantasi ion Si pada paduan biner TiAl dan implantasi ion Mo pada paduan biner TiAL dan terner TiAl-Si mampu meningkatkan ketahanan oksidasi paduan tersebut selama siklus termal pada temperatur 8000C. Sedangkan implantasi ion Si pada paduan terner TiAl-Mo cenderung menurunkan ketahanan oksidasinya. Kondisi optimum implantasi ion Si untuk meningkatkan ketahanan oksidasi paduan biner TiAL selama siklus termal dicapai pada dosis ion 4,5×1015 ion/cm2. Sedangkan kondisi optimum implantasi ion Mo untuk meningkatkan ketahanan oksidasi paduan biner TiAl dan terner TiAl-Si selama siklus termal dicapai pada dosis 1,5×1015 ion/cm
PENGUJIAN AWAL SISTEM INSTRUMENTASI & KENDALI UNIT VAKUM MESIN BERKAS ELEKTRON 350 keV/10 mA TIPE REMOTE MANUAL
INSTALASI SISTEM INSTRUMENTASI & KENDALI UNIT VAKUM MESIN BERKAS ELEKTRON 350 KeV/10 mA TIPE REMOTE MANUAL. Sedang diselesaikan instalasi Sistem Instrumentasi & Kendali (SIK) unit vakum Mesin Berkas Elektron (MBE) tipe remote manual. SIK ini terdiri dari bagian kendali manual jarak jauh dan bagian monitoring jarak jauh. Prinsip kendali manual jarak jauh (50 m) adalah dengan mengendalikan status on/off terminal sumber tegangan 220Volt untuk pompa dan valve. Pemilihan terminal 220 Volt untuk pompa dan valve diatur dari ruang kendali MBE (saklar penyedia daya untuk valve dan pompa diatur ON). Untuk monitoring jarak jauh tingkat kevakuman digunakan kamera CCT yang ditempatkan di depan pirani/penning gauge serta unit TPG.300 BALZER pompa turbo. Monitoring status valve terbuka/tertutup dilakukan dengan menarik kabel indikator LED dari setiap valve ke panel transrak 19 inchi di ruang kendali MBE. Pneumatic valve dilengkapi sistem pipa kompresi dengan unit kompresor dan tabung reservoir. Seluruh pneumatic valve (selain venting valve) dari tipe normaly closed. Sistem CCTV dilengkapi enam buah kamera, sebuah TV monitor dan unit multiplexer untuk memilih gambarnya. Salah satu kamera CCTV ditempatkan pada unit rotator, menggunakan kendali infra merah yang dapat diatur berputar ke kanan / kiri sesuai orientasi monitoring yang dipilih . Hasil uji coba awal menunjukan bahwa SIK tipe remote manual untuk unit vakum Mesin Berkas Elektron menunjukan kinerja baik
DESAIN DAN KONSTRUKSI CORONG PEMAYAR MESIN BERKAS ELEKTRON
DESAIN DAN KONSTRUKSI CORONG PEMAYAR MESIN BERKAS ELEKTRON. Telah dilakukan desain dan konstruksi corong pemayar mesin berkas elektron. Dalam mesin berkas elektron, corong pemayar digunakan untuk melewatkan berkas elektron. Agar dapat berfungsi dengan baik maka harus divakumkan sampai 10-6 mbar. Desain ini adalah untuk menentukan jenis dan demensi material dalam pengkonstruksian corong pemayar sehingga jika divakumkan tidak terjadi defleksi. Dari hasil desain dan konstruksi corong pemayar didapatkan hasil rancangan dalam bentuk gambar susunan dan detil serta konstruksi bagian-bagian corong pemayar untuk mesin berkas elektron. Menurut perhitungan untuk konstruksi corong pemayar digunakan bahan stainless steel 316 L. Agar didapatkan defleksi yang terjadi kurang dari 4 mm digunakan sirip penahan stainless steel 316 L dengan tebal 10 mm sebanyak 12 buah. Dalam konstruksinya untuk sirip penahan ke 7 sampai ke 12 digunakan stainless steel 316 L tebal 20 mm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa defleksi maksimum terjadi pada sirip penahan ke 5 dan ke 10 yaitu sebesar 1 mm sehingga jauh lebih kecil dibanding yang direncanakan. Tingkat kevakuman akhir dengan pompa rotari saat masih terjadi kebocoran adalah 5×10-1 mbar dan setelah diperbaiki sehingga kebocoran tidak terjadi adalah 6,6×10-2 mbar. Pengujian tingkat kevakuman akhir dengan pompa difusi saat masih ada kebocoran tidak dapat dilakukan, sedangkan setelah diperbaiki sehingga tidak terjadi kebocoran adalah 5×10-4 mbar. Tingkat kevakuman akhir yang dapat dicapai baik dengan pompa rotari maupun pompa difusi hampir mendekati kemampuan pompa ratari dan pompa difusi yang digunakan
IDENTIFIKASI RADIONUKLIDA PEMANCAR GAMMA DI DAERAH PANTAI LEMAHABANG MURIA DENGAN SPEKTROMETRI GAMMA
lDENTIFIKASl RADIONUKLlDA PEMANCAR GAMMA DI DAERAH PANTAI LEMAHABANG MURIA DENGAN SPEKTROMETRI GAMMA. Rencana lokasi terpilih Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang akan dibangun terletak di sekitar pantai Lemahabang semenanjung Muria Jawa Tengah. Dalam rangka antisipasi kemungkinan terjadi perubahan radioaktivitas karena pembangunan PLTN, perlu dipersiapkan data awal konsentrasi radioaktiviras alami di daerah tersebut. Tujuan utama identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui radioaktivitas gamma serta radionuklida lingkungan yang terdapat dalam cuplikan algae, ikan kerapu, sedimen dan air laut. Pengambilan cuplikan, preparasi maupun analisisnya mengacu pada prosedur analisis cuplikan radioaktivitas lingkungan. Instrumen yang digunakan adalah Maestro II EG&G spektrometer γ Ortec dengan detektor Ge(Li). Hasil identifikasi radionuklida alam pemancar γ dengan teknik spektrometri γ menunjukkan ada 6 jenis radionuklida alam yang teridentifikasi yaitu Ra-226 (186,52 keV), Pb-212 (238,75 keV), Pb-214 (395.94 keV), Tl-208 (583,19 keV), Ac-288 (911,07 keV) dan K-40 (1460,7 keV). Radioaktivitas γ untuk semua radionuklida dalam air laut masih jauh di bawah nilai batas radioaktif lingkungan menurut SK DIRJEN BATAN No 294/DJ/1992. Radioaktifitas pemancar γ tertinggi dalam air laut adalah K-40 terukur dengan konsentrasi 5,798 ± 0,537 Bq/L, sedangkan konsentrasi tertinggi yang diijinkan 104 Bq/L
PENENTUAN KETIDAKPASTIAN ANALISIS Ti,V, Al, Mn, Cl, Ce, Cr, Cs, Sc, Co, Fe, DAN Ca DALAM SAMPEL PADAT SECARA AANI MENGGUNAKAN STANDAR ADISI SESUAI ISO 17025
PENENTUAN KETIDAKPASTlAN ANALlSIS Ti, V, Cl, Ce, Cr, Cs, Sc, Co, Fe, dan Ca DALAM SAMPEL PADAT SECARA AANI MENGGUNAKAN STANDAR ADISI SESUAl SNI-I7025. Telah ditentukan ketidakpastian dalam analisis unsur-unsur Ti, V, Cl, Ce, Cr, Cs, Sc, Co, Fe, dan Ca, dalam sampel padat secara AANI (Analisis Aktivasi Neutron Instrumental) dengan metode komparatif dan standar adisi di P3TM BATAN. Sebagai contoh telah disajikan perhitunlgan ketidakpastian analisis unsur Ti. Ketidakpastian dalam INAA berasal dari cara sampling, preparasi sample, preparasi standar, irradiasi dan pencacahan. Sampel dalam percobaan ini diperoleh dari IAEA sudah siap analisis sehingga hanya faktor-faktor, preparasi sampel, preparasi standar, irradiasi dan pencacahan yang dipertimbangkan. Analisis dilakukan secara relatif, sampel maupun standar diirradiasi bersama-sama dalam satu kelongsong agar ketidakpastian dari faktor-faktor irradiasi (meliputi lama irradiasi, fluks neutron, geometri irradiasi), dan sifat-sifat isotopik dapat tereliminasi. Ketidakpastian yang diperoleh dari faktor pencacahan meliputi ketidakpastian dari peluruhan nuklida selama periode pencacahan, hilangnya pulsa karena penjumlahan random, geometri pencacahan. dan laju cacah. Cara relatif ini juga menyebabkan perbedaan waktu pencacahan (diatur dengan alat yang sama), perbedaan geometri pencacahan, ketebalan sampel, fluks neutron, waktu irradiasi dapat teriliminasi. Hasil fisi tidak ada karena tidak terdeteksi adanya uranium dalam sampel yang dianalisis. Tidak adanya perubahan jumlah nuklida target karena selama irradiasi tidak terjadi pembakaran, dan perubahan status kimia tidak mempengaruhi hasil analisis