Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
DARI STRES MENJADI KEKUATAN: PERSONAL GROWTH INITIATIVE DALAM PENGARUH PERSEPSI STRES TERHADAP KEPUASAN PERNIKAHAN: Perceived Stress on Marital Satisfaction Moderated by Personal Growth Initiative
Kepuasan pernikahan, sebagai salah satu indikator kesejahteraan individu, dapat terancam oleh persepsi stres. Penelitian ini mengeksplorasi inisiatif pertumbuhan pribadi sebagai moderator dalam hubungan antara persepsi stres dan kepuasan pernikahan. Sebanyak 320 partisipan, terdiri dari 67 laki-laki dan 253 perempuan yang diperoleh melalui teknik accidental sampling, mengisi skala Relationship Assessment Scale (RAS), Perceived Stress Scale (PSS), serta Personal Growth Initiative Scale-II (PGIS-II). Analisis data dilakukan menggunakan Hayes’ PROCESS Model 1 dengan SPSS versi 25. Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi stres yang tinggi secara signifikan memprediksi penurunan tingkat kepuasan pernikahan. Sementara itu, analisis moderasi menunjukkan bahwa inisiatif pertumbuhan pribadi tidak memoderasi pengaruh persepsi stres terhadap kepuasan pernikahan. Inisiatif pertumbuhan pribadi, sebagai perilaku proaktif pengembangan personal ketika individu menghadapi situasi sulit yang memicu stres, tidak mampu memprediksi peningkatan tingkat kepuasan pernikahan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi sumber stres yang berasal dari dalam dan luar konteks pernikahan. Implikasi penelitian ini adalah perlunya pengembangan kemampuan pengelolaan stres untuk meningkatkan kepuasan pernikahan.Kepuasan pernikahan adalah salah satu indikator penting dalam memengaruhi kesejahteraan individu yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah persepsi mengenai tingkat stres. Persepsi mengenai tingkat stres yang dialami dapat dicegah dampak negatifnya apabila individu yang bersangkutan memiliki personal strength seperti personal growth initiative, yaitu kemampuan individu untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan berbagai situasi yang tidak menyenangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kemampuan personal growth initiative sebagai variabel mediator persepsi stres dalam memengaruhi kepuasan pernikahan individu. Sebanyak 320 partisipan yang diperoleh melalui teknik accidental sampling terlibat aktif dalam penelitian ini. Hasil diperoleh bahwa persepsi stres mampu memprediksi tingkat kepuasan pernikahan, namun demikian perlu diidentifikasi sumber stresnya berasal dari faktor di dalam pernikahan atau di luar pernikahan. Selanjutnya, analisis mediasi personal growth initiative tidak terbukti, yang artinya kemampuan individu untuk belajar dan berkembang saat menghadapi situasi sulit tidak mampu menaikkan tingkat kepuasan pernikahan y. Faktor demografi seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, usia pernikahan dan jumlah anak turut memperkaya hasil penelitian. Implikasi penelitian ini adalah cara mengelola stres dan meningkatkan kepuasan pernikahan perlu menyoroti keterampilan komunikasi efektif, menerima dan memberikan dukungan emosional, pembagian peran yang adil, dibutuhkan kebijakan ramah keluarga, serta kualitas hubungan yang sehat dengan pasangan, selain perkembangan pribadi
THE ROLE OF EMOTIONAL INTELLIGENCE IN MODERATING THE RELATIONSHIP BETWEEN PERCEIVED INTERPARENTAL CONFLICT AND MARITAL SATISFACTION AMONG MARRIED INDIVIDUALS: Menjaga Keharmonisan Keluarga: Peran Kecerdasan Emosional dalam Memoderasi Hubungan antara Persepsi Konflik Orang Tua dan Kepuasan Pernikahan
The experience of growing up in a conflict-ridden family significantly influences individuals\u27 views on marriage, emotion regulation, and the development of certain relationship patterns, which may either reflect or deviate from their parents\u27 conflict-handling behaviors. This study examines the role of emotional intelligence in moderating the relationship between perceived parental conflict and marital satisfaction. This correlational quantitative study included 346 married men and women (M = 30.7, SD = 5.77), selected through purposive sampling. Marital satisfaction was measured using the Couple Satisfaction Index-16 (CSI-16), perceived parental conflict with the PIC-I/F, and emotional intelligence with the Trait Emotional Intelligence Questionnaire Short Form (TEIQUE-SF). Data were analyzed using simple moderation techniques with the PROCESS model. Results showed a significant negative correlation between individual perceptions of parental conflict and marital satisfaction. However, emotional intelligence did not moderate this relationship. This suggests that even individuals with high emotional intelligence continue to experience the negative impact of perceived parental conflict on marital satisfaction, with no significant reduction in its effect
KEKUATAN DALAM KESULITAN: PENELUSURAN KOMPONEN PENDUKUNG WELAS DIRI PADA INDIVIDU DEWASA DARI KELUARGA DISFUNGSIONAL: Strength in Adversity: Exploring The Supporting Components of Self-Compassion in Individuals from Dysfunctional Family
Individu yang tumbuh dalam keluarga disfungsional sering menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan welas diri akibat pengalaman emosional negatif yang berasal dari kondisi keluarga. Penelitian kualitatif ini bertujuan mengeksplorasi komponen-komponen yang mendukung pengembangan welas diri pada individu dewasa dari keluarga disfungsional. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis dengan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi serta menjelaskan data yang diperoleh. Empat informan dipilih secara purposif berdasarkan hasil pengisian kuesioner Skala Welas Diri (SWD) dengan tingkat welas diri tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan welas diri dipengaruhi oleh komponen internal, seperti pola pikir berkembang dan spiritualitas; komponen eksternal, seperti dukungan sosial dan peristiwa hidup; serta keterlibatan dalam aktivitas yang mendukung kesadaran penuh (mindfulness). Temuan ini menunjukkan adanya pola jawaban yang serupa dalam membangun welas diri pada setiap informan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu individu dengan latar belakang keluarga disfungsional untuk mulai mengembangkan welas diri sebagai bagian dari proses pemulihan diri yang lebih baik.Penelitian ini bertujuan untuk memperdalam faktor-faktor yang berperan dalam pengembangan self-compassion pada individu dewasa yang berasal dari keluarga disfungsional. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi serta analisis tematik, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara. Terdapat empat informan berasal dari keluarga disfungsional yang memiliki skala self-compassion yang tinggi. Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan bahwa faktor pendukung self-compassion terbagi menjadi tiga bagian: faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendukung lainnya. Faktor internal meliputi growth mindset dan spiritualitas. Faktor eksternal mencakup dukungan sosial dan life events. Lalu, faktor pendukung lainnya berupa aktivitas yang meningkatkan mindfulness
KETIDAKPUASAN TUBUH DAN FAMILY FAT TALK: STUDI PADA PEREMPUAN DEWASA MUDA TIONGHOA DI INDONESIA: Body Dissatisfaction and Family Fat Talk: A Study on Young Adult Chinese Women in Indonesia
Rendahnya kesadaran keluarga Tionghoa di Indonesia terhadap diskusi penampilan fisik dapat mengarah pada percakapan negatif terkait bentuk tubuh (family fat talk) yang dapat memberikan dampak negatif terhadap persepsi citra tubuh individu berupa risiko ketidakpuasan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh family fat talk terhadap ketidakpuasan tubuh pada perempuan dewasa muda Tionghoa di Indonesia. Studi menggunakan desain kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana untuk mengolah data. Sebanyak 154 partisipan didapat dengan menggunakan teknik convenience sampling menggunakan Family Fat Talk Questionnaire dan Body Shape Questionnaire. Hasil penelitian menunjukkan bahwa family fat talk dapat memprediksi ketidakpuasan tubuh pada perempuan dewasa muda Tionghoa di Indonesia sebesar 62,6 persen. Analisis tambahan juga memperlihatkan korelasi positif masing-masing dimensi family fat talk—yaitu self dan family terhadap ketidakpuasan tubuh. Implikasi studi menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai risiko yang dapat ditimbulkan oleh percakapan negatif terkait bentuk tubuh. Upaya ini diperlukan untuk mengurangi dampak negatif family fat talk terhadap citra tubuh perempuan dewasa muda dan kesejahteraan mental secara keseluruhan
ADAPTING INTERNET PARENTAL MEDIATION SURVEY: A PILOT STUDY: Adaptasi Survei Mediasi Orang Tua dalam Penggunaan Internet: Studi Awal
Adaptation of the parental mediation tool see how parents mediate children\u27s internet for two main reasons, that culture can affect parenting and there is no measuring tool that looks at parenting that specifically looks at parental interactions with children\u27s internet use. This study aims to report the results of the adaptation of parental mediation tool from Global Kids Online (GKO). In order to adapt this measurement tool to Indonesian, a pilot study was carried out. The participants of this study were 112 parents of early adolescents. In carrying out the adaptation, International Test Commision (ITC) Guidelines of Translating and Adapting Tests are used where there is a process of translation, review, and testing of instruments. Translation process was carried out using the back-translation method by a professional translator, the review was carried out by five people and the measuring instrument trials were processed with CTT and CFA for five parental mediation strategies. CTT results with item discrimination, factor loading, and reliability tests using Cronbach\u27s alpha showed that with total of 42 items, two items were discarded. From CFA processing based on chi-square values, RMSEA, SRMR, CFI, and TLI, the adaptation of the measurement tools in this pilot study is fit and can be continued
AUTONOMY-SUPPORTIVE OR AUTONOMY-THWARTING: THE ROLE OF PARENTING PROFILE IN PREDICTING SELF-REGULATED LEARNING IN INDONESIAN UNIVERSITY STUDENTS: Autonomy-Supportive or Autonomy-Thwarting: Peran Profil Pengasuhan sebagai Prediktor Regulasi Diri dalam Belajar Mahasiswa Indonesia
For the past three decades, self-regulated learning (SRL) has been a key focus in educational psychology, with both parenting and teaching strategies playing crucial roles. This study aims to examine the role of Helicopter Parenting (HP) on Indonesian college students’ SRL.Sampling was conducted using a non-probability approach, specifically employing a convenience sampling technique. A survey method was used to measure the perceptions of 256 Indonesian college students regarding their parents’ parenting profiles using the Helicopter Parenting Instrument – Short Version (HPI-S) and their SRL using the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ). The results indicate that HP significantly contributes to the development of SRL among Indonesian college students. This finding contradicts most previous studies. However, further analysis suggests that a significant portion of SRL variability remains unexplained by HP and may be influenced by other factors. Culture emerges as a crucial factor deserving attention and is discussed as a key influence on the outcomes of this research
Kontribusi Teori Fondasi Moral terhadap Tingkat Hostile Sexism Masyarakat Beretnis Tionghoa di jakarta: The Contribution of Moral Foundations to the Level of Hostile Sexism in the Chinese Ethic Community in Jakarta
Seksisme bermusuhan (hostile sexism) sebagai bentuk prasangka masih sering dialami oleh perempuan Tionghoa, yang dapat dipengaruhi atau muncul dari hal-hal sederhana seperti pikiran yang membenarkan penilaian moral dan reaksi emosional diri sendiri. Penelitian ini bertujuan mengkaji kontribusi dari keenam dimensi teori fondasi moral (care, equality, proportionality, loyalty, authority, dan purity) pada laki-laki dan perempuan dewasa awal terhadap seksisme bermusuhan dalam konteks budaya Tionghoa di Jakarta yang masih menerapkan nilai-nilai patriarki. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan desain kuantitatif melalui analisis regresi linear berganda. Sebanyak 231 partisipan dikumpulkan melalui purposive sampling dan snowball sampling dengan instrumen Moral Foundations Questionnaire-2 (MFQ-2) dan Ambivalent Sexism Inventory (ASI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa dimensi dari teori fondasi moral berkontribusi dalam memperkuat sikap seksis bermusuhan pada perempuan dewasa awal beretnis Tionghoa. Sebanyak 42,5 persen variasi seksisme bermusuhan pada partisipan laki-laki dan 38,8 pada partisipan perempuan dapat dijelaskan oleh fondasi moral seseorang, khususnya dalam konteks budaya kolektivis yang patriarkis. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya memperluas pemahaman mengenai seksisme dalam budaya kolektivis kepada masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi stigmatisasi terhadap perempuan Tionghoa sekaligus mengkritisi norma tradisional yang membatasi ruang gerak perempuan.Humans possess the capacity to make moral judgments, discerning the rightness or wrongness of behaviors. According to Moral Foundations Theory, our minds justify our moral assessments. Our minds provide reasons that support our moral judgments and emotional reactions, often leading us to perceive those who do not share our values as unfavorable. Conversely, hostile sexism is a form of sexism characterized by negative attitudes toward women. This study aims to examine the contribution of all six dimensions of moral foundations theory to hostile sexism within the specific context of Chinese culture, where patriarchal values persist. Data were collected from 231 participants, consisting of 101 men and 130 women, aged 18-39 years. The research findings indicate that the dimensions of equality, loyalty, and authority all contribute positively to hostile sexism. 
Persepsi Hubungan dengan Orangtua terhadap Internalizing dan Externalizing Problems Remaja: Is the Perception of Relationship with Parents Related to Internalizing and Externalizing Problems in Adolescents?
Adolescence is a transitional period toward adulthood, during which individuals are vulnerable to emotional issues, peer problems, and behavioral challenges associated with internalizing and externalizing problems. One of the risk and protective factors in this phase is how adolescents perceive their relationship with both parents, whether in a positive or negative light. This study aims to examine the role of perceived parent–child relationships in internalizing and externalizing problems. A quantitative research design was employed, with a sample of 144 adolescents aged 11–17 years, selected through accidental sampling. The results of a simple regression analysis showed that adolescents\u27 perception of their relationship with their mother significantly influenced both internalizing and externalizing problems. However, the perception of the relationship with the father did not show a significant influence on either type of problem. The findings suggest that the maternal figure plays a crucial role in strengthening emotional bonds through appreciation, support, and protection, enabling adolescents to feel secure and motivated to show filial devotion. As children mature, they tend to reciprocate the affection they have received. Moreover, a mother’s protection can ease the burden on adolescents in assuming parental roles. A mother’s happiness is also essential, as it directly impacts the well-being of the child.Remaja, ketika memasuki masa transisi menuju dewasa, menjadi rentan mengalami isu kesehatan mental seperti internalizing problems dan externalizing problems, yang keduanya dapat disebabkan oleh faktor keluarga, terutama dalam persepsi mereka terhadap kualitas hubungan dengan orang tua, yaitu ayah dan ibu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji peran persepsi hubungan dengan orang tua terhadap internalizing dan externalizing problems. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis data. Sebanyak 144 remaja berusia 11–17 tahun (M=15,34 tahun, SD=1,68 tahun) terlibat sebagai partisipan, yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Hasil analisis regresi sederhana menunjukan bahwa persepsi hubungan dengan ibu berperan terhadap internalizing dan externalizing problems. Sebaliknya, persepsi hubungan dengan ayah tidak menunjukkan peran signifikan terhadap kedua variabel tersebut. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa figur ibu dapat meningkatkan kelekatan dengan anak melalui penghargaan, dukungan, dan perlindungan, sehingga anak merasa nyaman saat berinteraksi dengan mereka. Namun demikian, meskipun persepsi hubungan dengan ayah tidak terkonfirmasi, hal ini tidak berarti penelitian ini meniadakan peran seorang ayah. Temuan ini menyoroti bahwa, untuk menangani permasalahan psikologis remaja, diperlukan intervensi berbasis keluarga yang menekankan pentingnya peran figur orang tua
THE URGE TO OPTIMIZE THINKING PROCESS: THE INFLUENCE OF PARENT AND PEER ATTACHMENT ON PROBLEMATIC INTERNET USE (PIU) MEDIATED BY EXECUTIVE FUNCTION: Urgensi Mengoptimalkan Proses Berpikir: Kontribusi Kelekatan kepada Orang Tua dan Teman Sebaya terhadap Problematic Internet Use (PIU) Dimediasi oleh Executive
Attachment relationships are shaped by higher-order cognitive abilities that help individuals regulate their behavior, including internet usage, which is a prevalent activity among students. The purpose of this study is to assess the mediating role of executive function (EF) in the relationship between individual attachment and problematic internet use (PIU) behavior. EF is believed to serve as a buffer against the negative effects of weak attachment between individuals and their parents or peers, thereby helping to suppress PIU behavior. This study employed a quantitative research design with 127 college students from DKI Jakarta. Convenience sampling was used to select participants. Attachment was measured using the Inventory of Parent and Peer Attachment – Revision (IPPA-R), PIU was assessed using the Indonesian Problematic Internet Use Scale (IPIUS), and EF was evaluated using the Amsterdam Executive Function Inventory (AEFI). The mediation regression analysis revealed a significant indirect effect of attachment to parents on PIU, mediated by EF. It is recommended that parents foster early interactions with their children to optimize their cognitive development and take peer influences into consideration when supporting their children’s behavior regulation
PERAN MODERASI RELIGIOUS COPING TERHADAP HUBUNGAN RESILIENSI DAN KUALITAS HIDUP PADA PEREMPUAN DENGAN INFERTILITAS: The Moderating Role of Religious Coping on the Relationship between Resilience and Quality of Life in Women with Infertility
Perempuan dengan infertilitas di Indonesia seringkali melibatkan keyakinan pada Tuhan, baik secara positif maupun negatif, sebagai coping menghadapi stres infertilitas. Tujuan penelitian kuantitatif ini adalah untuk melihat apakah religious coping (the Brief Religious Coping) memoderasi hubungan antara resiliensi (Connor-Davidson Resilience Scale 25) dan kualitas hidup (WHO Quality of Life Brief). Data dikumpulkan dari 135 perempuan (mean usia 27,8 tahun, SD = 3,58) yang mempersepsi sedang menghadapi kondisi infertilitas yakni sudah menikah minimal satu tahun, tidak sedang menunda kehamilan dengan mengusahakan kehamilan melalui cara alami ataupun program hamil, dan belum berhasil memiliki anak serta menunjukkan stres infertilitas yang tinggi. Hasil uji moderasi menunjukkan hipotesis 1 dan 2 penelitian ditolak, yaitu baik positive religious coping maupun negative religious coping tidak memoderasi hubungan antara resiliensi dan masing-masing dimensi kualitas hidup. Meskipun demikian, uji korelasi menunjukkan temuan menarik adanya korelasi positif antara negative religious coping dengan resiliensi dan dimensi environment. Penelitian ini menunjukkan pentingnya penyediaan sarana-prasarana, seperti informasi kesehatan, layanan konseling, dan komunitas pendukung untuk meningkatkan kemampuan bangkit dalam menghadapi stres infertilitas