Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
Identifikasi Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dalam Emisi Kendaraan Bermotor dengan Menggunakan Whatman Filter Paper PM 2.5
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dalam Particulate Matter 2.5 µm (PM 2.5) yang diemisikan oleh beberapa sepeda motor. Emisi ditangkap dengan menggunakan Whatman Filter Paper PM 2.5. Senyawa PAH diisolasi dengan menggunakan metode ekstraksi soxhlet.. Analisis dilakukan dengan menggunakan instrumen Gas Chromatography Mass Spectrophotometer (GC/MS). Setelah dilakukan analisis dengan instrumen GC/MS terdapat beberapa senyawa PAH yang terdeteksi. Dari beberapa senyawa yang terdeteksi terdapa 4 senyawa PAH yang memiliki konsentrasi yang cukup tinggi, antara lain 1-naphthalen-2yl-ethanone, c-(3-vivyl-naphthalen-2-yl)-methylamine, 3-methyl-1,2,3,4-tetrahydro-anthracen-2-ylamine, dan 9-vinyl-naphthacene-2-carbonitrile
PENGARUH pH DAN JUMLAH NATA DE COCO TRIMETILAMIN SULFUR TRIOKSIDA TERHADAP EKSTRAKSI FASA PADAT TEMBAGA(I)TIOSULFAT
Nata de coco merupakan bakteria sellulosa yang dapat dimodifikasi menggunakan trimetilamin sulfur trioksida (TMAS) untuk ekstraksi fasa padat tembaga(I)tiosulfat. Tembaga(I)tiosulfat ((Cu(S2O3)2)3-) dapat diekstraksi melalui mekanisme penukar ion dengan ion trimetilammonium ((CH3)3NH+) dari TMAS sehingga diperlukan pengaturan pH agar fasa padat dan analit dapat terionisasi. Berdasarkan persamaan stokiometri untuk mengekstraksi satu mol (Cu(S2O3)2)3- diperlukan tiga mol (CH3)3NH+ sehingga jumlah fasa padat perlu ditingkatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh pH dan jumlah nata de coco-TMAS terhadap efisiensi ekstraksi tembaga(I)tiosulfat. Pengaruh pH dipelajari pada kisaran pH 4 hingga pH 9 sedangkan pengaruh jumlah nata de coco-TMAS dipelajari dari 1 hingga 6 lembar. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode batch dengan cara perendaman selama 24 jam menggunakan larutan tembaga(I)tiosulfat 15 ppm sebanyak 25 mL. Nata de coco-TMAS yang digunakan memiliki ketebalan rata-rata 1 cm, diameter rata-rata 3 cm, volume rata-rata 7 mL, luas permukaan rata-rata 23 cm2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui efisiensi ekstraksi optimum sebesar 80,67% pada pH 6 dengan jumlah fasa padat sebanyak 5 lembar. Kata kunci: ekstraksi fasa padat, nata de coco, tembaga(I)tiosulfat, trimetilamin sulfur trioksida
SINTESIS DAN KARAKTERISASI FOTOKATALIS ZnO PADA ZEOLIT
Dalam penelitian ini dilakukan sintesis fotokatalis ZnO yang terimpregnasi pada zeolit serta karakterisasi fotokatalis. Impregnasi ZnO dilakukan melalui penambahan zeolit ke dalam larutan Zn(NO3)2 dengan konsentrasi 0,05 dan 0,1 M. Konsentrasi fotokatalis ZnO pada zeolit yang dihasilkan dari proses impregnasi adalah 0,75 dan 1,5 mmol ZnO/g zeolit. Hasil karakterisasi dengan Diffuse Reflectance Spectroscopy (DRS) menunjukkan energi celah untuk katalis ZnO pada zeolit adalah 3,06 eV. Keberadaan ZnO pada zeolit ditunjukkan dengan puncak yang muncul pada bilangan gelombang 470,63 dan 941,26 cm-1. Berdasarkan hasil karakterisasi dengan Surface Area Analyzer (SAA) diperoleh luas permukaan zeolit teraktivasi serta ZnO pada zeolit 0,75 dan 1,5 mmol ZnO/g zeolit masing-masing sebesar 113,689; 51,144; dan 46,289 m2/g. Identifikasi kemampuan katalitik dilakukan melalui fotodegradasi zat warna methylene blue. Persen degradasi zat warna dengan penambahan 0,75 dan 1,5 mmol ZnO/g zeolit masing-masing sebesar 89,832 dan 78,286%. Â Kata kunci : fotodegradasi, fotokatalis, methylene blue, zeolit, Zn
ESTERIFIKASI l-MENTOL DAN ANHIDRIDA ASETAT DENGAN VARIASI RASIO MOL REAKTAN
Ester merupakan senyawa berbau harum, yang dapat diperoleh dari reaksi antara alkohol dan asam karboksilat. Senyawa tersebut banyak digunakan dalam industri parfum, kosmetik, dan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan esterifikasi terhadap l-mentol dengan anhidrida asetat dan mengetahui pengaruh rasio mol l-mentol:anhidrida asetat (1:1, 2:1, 3:1, 4:1, 5:1) terhadap produk ester yang dihasilkan. Reaksi dilakukan dengan mencampurkan senyawa lÂ-mentol, anhidrida asetat dan katalis H2SO4 98 % dalam pelarut dietil eter dalam refluks selama 1 jam. Hasil sintesis dianalisis berdasarkan penentuan sifat fisik (warna,bau) dan dikarakterisasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Spektrofotometri Infra Merah (FT-IR), Kromatografi Gas (KG), dan Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa hasil sintesis masih berupa campuran yaitu l-mentol dan l-mentil asetat, berupa cairan berwarna kuning dan berbau khas mint. Rasio mol l-mentol dan anhidrida asetat mempengaruhi produk l-mentil asetat. % rasio tertinggi l-mentil asetat yaitu sebesar 18,79 % pada rasio mol l-mentol:anhidrida asetat 2:1. Sedangkan rendemen tertinggi senyawa l-mentil asetat yaitu sebesar 28,28 % pada rasio mol l-mentol:anhidrida asetat 2:1. Kata kunci: Esterifikasi, lÂ-mentol, anhidrida asetat, rasio mo
OPTIMASI KONDISI PRODUKSI PEKTINASE DARI Aspergillus niger
Pektinase merupakan enzim yang dapat memecah senyawa pektin menghasilkan asam galakturonat. Pektinase dapat diisolasi dari berbagai mikroorganisme salah satunya adalah Aspergillus niger. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum produksi pektinase meliputi pH, temperatur dan waktu fermentasi Aspergillus niger. Fermentasi untuk menghasilkan enzim pektinase dilakukan dengan variasi pH 5, 6, 7, 8, 9, 10 dan temperatur (30, 35, 40, 45, 50) oC, serta waktu fermentasi selama (24, 48, 60, 72, 96, 120) jam. Ekstrak kasar pektinase hasil fermentasi digunakan untuk menentukan kadar protein dan aktivitas enzim. Aktivitas enzim diukur berdasarkan banyaknya µg asam galakturonat (gula pereduksi) yang dihasilkan oleh hidrolisis pektin pada kondisi optimum. Penentuan kadar protein dilakukan dengan menggunakan reagen Biuret dan penentuan gula pereduksi menggunakan reagen DNS ( Dinitrosalisilat) secara spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum produksi pektinase oleh Aspergillus niger yaitu pada pH 5, temperatur 40 oC dan waktu fermentasi selama 96 jam dengan konsentrasi pektinase sebesar 7.99 µg/mL dan aktivitas sebesar 20.14 unit. Kata kunci : aktivitas, Aspergillus niger, fermentasi, pektinas
PENGARUH LAMA WAKTU PENYIMPANAN dan PENYINARAN CAHAYATERHADAP SITRONELAL SERTA UJI TOKSISITAS dengan MENGGUNAKAN METODE BSLT(BRINE SHRIMP LETHALITY TEST)
Pada penelitian ini pengaruh lama waktu penyimpanan dan penyinaran cahaya pada sitronelal diuji untuk mengetahui perubahan kandungan. Toksisitas sitronelal sebelum dan setelah penyimpanan dan penyinaran juga diuji menggunakan metode BSLT. Penyimpanan sitronelal dilakukan dalam botol vial bening dan vial gelap yang disimpan dalam kotak kayu dengan perlakuan penyimpanan yang berbeda selama 4 minggu. Kotak yang pertama disinari lampu selama 24 jam (selanjutnya disebut kotak A), kotak kedua adalah kotak yang dua sisinya terbuat dari kasa selanjutnya disebut kotak B), dan kotak ketiga adalah kotak tertutup yang berwarna hitam (selanjutnya disebut kotak C). Analisis kandungan sitronelal sebelum dan sesudah penyimpanan menggunakan Kromatografi Gas-Spektrometer Massa (KG-SM). Hasil analisa KG-SM menunjukkan bahwa persen area berubah dari 45,29% menjadi 52,58% dan terdapat perbedaan jumlah puncak sampel setelah disimpan selama 2 minggu dalam kotak C dalam botol vial bening. Sampel ini kemudian diuji toksisitasnya dengan BSLT. Hasil uji BSLT menunjukkan besarnya nilai LC50 sitronelal awal sebesar 71,1 ppm dan sebesar 132,79 ppm pada sitronelal setelah 2 minggu penyimpanan serta 324,97 ppm pada sitronelal setelah 4 minggu penyimpanan sehingga menunjukkan bahwa sitronelal dengan penyimpanan 2 minggu lebih toksik dibanding dengan sitronelal yang disimpan selama 4 mingg
PENENTUAN KAFEIN SECARA AMPEROMETRI DENYUT MENGGUNAKAN ELEKTRODA KARBON SCREEN-PRINTED
Caffeine is usually used as an additive in drinks, foods and medicines. Caffeine has a negative effect on the human body so ithas a limited dose to consume. Amperometric detection can be used to measure caffeine by using SPCE. Determination of caffeine by amperometry can use single-pulse (SPA) and double-pulse (DPA). SPA applied detection potential 1,3 V (0,05 s) and has limit of detection 22 µM. DPA applied detection potential 1,3 V (0,05 s) and cleaning potential 0,35 V (0,1 s) and has limit of detection 0,9 µM. DPA was used to measure caffeine in sample of energy drinks and it concludes good accuracy. Keywords: pulse amperometry, caffeine, SPCE
PENGARUH pH, ION ASING TERHADAP KINERJA ESI CdCl3- TIPE KAWAT TERLAPIS DAN APLIKASINYA
ABSTRAK Elektroda Selektif  Ion (ESI) CdCl3- tipe kawat terlapis dibuat dengan komposisi perbandingan (% berat) Aliquat 336-CdCl3- : polivinilklorida (PVC) : dibutilftalat (DBP) = 0,04 : 0,33 : 0,63 dalam pelarut tetrahidrofuran (THF) dengan perbandingan b/v = 1 : 3 yang telah dikarakterisasi kinerjanya yang didasarkan pada harga Faktor Nernst. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh pH dan ion asing terhadap kinerja ESI CdCl3- tipe kawat terlapis untuk menentukan kadar kadmim dalam air limbah baterai. Pengaruh pH ditentukan dengan mengukur potensial larutan CdCl3- pada pH 1-7. Pengaruh ion asing ditentukan menggunakan metode larutan tercampur dengan konsentrasi ion asing NO3- dan H2PO4- masing-masing  0,01 M dalam larutan ion utama CdCl3- dalam rentang konsentrasi 10-1-10-6 M. ESI CdCl3- tipe kawat terlapis diaplikasikan untuk menentukan kadar kadmium dalam air limbah baterai yang hasilnya dibandingkan dengan metoda standar spektrometri serapan atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ESI CdCl3- tipe kawat terlapis dapat bekerja optimal pada pH 1-4 dan tidak terganggu dengan kehadiran ion asing NO3- dan H2PO4-. Urutan selektifitas  ESI CdCl3- tipe kawat terlapis terhadap ion asing adalah : CdCl3->NO3->H2PO4- . ESI CdCl3- digunakan  untuk menentukan  kadar  ion kadmium  pada air limbah baterai sebagai metoda alternatif selain metoda Spektrometri Serapan Atom (SSA).  Diperoleh kadar  kadmium  sebesar 12,74 ± 1,11 ppm dengan memberikan akurasi sebesar 98,53% dan presisi sebesar 97,45% Kata kunci : Aliquat 336-CdCl3-,  potensiometri, membra
KARAKTERISASI ENZIM ORGANOFOSFAT HIDROLASE (OPH) DARI PSEUDOMONAS PUTIDA PADA SUBSTRAT KLORPIRIFOS DAN PROFENOFOS
Organofosfat hidrolase (OPH) merupakan enzim intraseluler yang diperoleh dengan cara isolasi dari bakteri Pseudomonas putida. Enzim ini mampu mendegradasi pestisida golongan organofosfat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan enzim OPH dalam mendegradasi pestisida golongan organofosfat klorpirifos dan profenofos, serta mengetahui kondisi kerja optimum dan kinetika kimia reaksi enzimastisnya. Enzim OPH dimurnikan melalui fraksinasi bertingkat menggunakan ammonium sulfat dengan fraksi pengendapan 0-45% dan 45%-65%. Uji aktivitas enzim OPH dilakukan dengan mereaksikan enzim dan substrat profenofos dan klorpirifos pada pH optimumnya. Kinetika reaksi enzimatis enzim OPH dengan substrat klorpirifos dan profenofos ditentukan dengan cara mereaksikan enzim OPH dengan substrat profenofos dan klorpirifos dengan variasi konsentrasi 2-10 ppm, kemudian ditentukan Vmaks dan KM. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas enzim spesifik untuk substrat klorpirifos adalah 0,017 unit sedangkan untuk substrat profenofos 0,024 unit. pH optimum OPH untuk substrat klorpirifos yaitu pH 7,5 sedangkan pH optimum untuk substrat profenofos yaitu pH 8,5. Parameter kinetika reaksi enzimatis enzim OPH untuk substrat klorpirifos Vmax= 1,34 x 10-3 µg. mL-1. menit-1, KM = 2,17 mg/L dan profenofos Vmax = 1,87 x 10-3 µg. mL-1. menit-1, KM =3,08 mg/L. Hasil analisa dengan menggunakan pola rancangan acak lengkap (RAL) menunjukkan bahwa perlakuan pH berpengaruh nyata terhadap aktivitas OPH (p<0,05).  Kata kunci: aktivitas enzim spesifik, OPH, organofosfat, Pseudomonas putid
KARAKTERISASI ENZIM ORGANOFOSFAT HIDROLASE DARI Pseudomonas putida PADA SUBSTRAT DIAZINON DAN MALATHION
ABSTRAK Organofosfat hidolase (OPH) merupakan enzim intraseluler yang diisolasi dari bakteri Pseudomonas putida. Enzim ini mampu mendegradasi pestisida golongan organofosfat. Enzim OPH yang telah diisolasi dari Pseudomonas putida, dimurnikan dengan metode fraksinasi bertingkat menggunakan amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan0-45% dan 45-65%. Uji aktivitas enzim dilakukan dengan mereaksikan OPH dengan substrat diazinon maupun malathion pada berbagai konsentrasi dan pH, pada temperatur ruang selama 30 menit. Penentuan pH optimum OPH dilakukan dengan mengukur aktivitas enzim pada variasi pH (7,5; 8; 8,5; 9; 9,5). Penentuan parameter kinetika reaksi enzimatis (Vmaks dan KM) dilakukan dengan mereaksikan enzim OPH pada variasi konsentrasi diazinon (6; 8; 10; 15; 20) ppm dan malathion (10; 15; 20; 25; 30) ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi pengendapan 0-45% mempunyai aktivitas optimum 0,035 unit untuk diazinon dan 0,067 unit untuk malathion. pH optimum yang dicapai berdasarkan aktivitas tertinggi untuk diazinon pH 9 dan malathion pH 7,5. Hasil penentuan kinetika reaksi enzimatis OPH didapatkan Vmaks = 3,5 x10-3µmol/menit dan KM = 7,4 mg/L untuk diazinon, sedangkan untuk malathion Vmaks = 16,8 x 10-3 µmol/menit dan KM = 19,24 mg/L. Kata kunci: diazinon, malathion, OP