Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya
Not a member yet
214 research outputs found
Sort by
OPTIMASI AMOBILISASI ENZIM XILANASE DARI Trichodema viride MENGGUNAKAN MATRIKS KITOSAN-TRIPOLIFOSFAT
Xylanase is an enzyme that has an ability to hydrolyze hemicellulose and has an important act in such as industries, so that should be immobilized so that it can be used repeatedly and easy to removed from the product. In this study, xylanase isolated from the fungus Trichoderma viride and purified by using ammonium sulfate saturation levels 40-80%. The method that used in the immobilization of xylanase is a method of trapping using a matrix of chitosan-tripolyphosphate with make a variation to chitosan concentration (0.5, 1.0, 1.5, 2.0, 2.5)% (w / v) and make a variation to enzyme concentration (0.5, 1.5, 2.5, 3.5, 4.5) mg / mL. The results showed that the chitosan concentration optimum is at a concentration  2.0% with the amount of xylanase stuck at such as 3.867 mg. Enzyme concentration optimum is at a concentration of 4.5 mg / mL with the amount of xylanase stuck such as 18.942 mg
Pengaruh Lama Waktu Penyimpanan dan Penyinaran Cahaya Terhadap Komponen Penyususn Minyak Atsiri dari Tanaman Sereh (Cymbopogon winterianus) serta Uji Aktivitas Menggunakan Metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)
This research concerned with the effect of storage time and light radiation toward the composition of essential oil from lemongrass. The activity of lemongrass oil before and after storage was examined using BSLT. The storage condition were performed in clear vials and black vials and then placed in wooden box in three different conditions for 6 weeks. The first box was radiated with the lamp for 24 hours, the second box made from a transparent material at front and it back sides, and the third was a closed-black box. Analysis of the component of essential oil before storage using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) and after storage using Gas Chromatography (GC). The results from GC-MS showed that the percentage of citronellal, which is the active compound of lemongrass oil,is 24.730% before storage and significantly increased to 29.195% after 2 weeks in clear vials (box 1). The activity test of this sample was conducted using BSLT. The LC50 values of lemongrass oil before storage is 9.19 ppm and changing to 19.76 ppm after storage. Keywords : Brine Shrimp Lethality Test, citronellal, essential oil, light radiation, storag
PENGARUH pH DAN WAKTU KONTAK PADA ADSORPSI Cd(II) MENGGGUNAKAN ADSORBEN KITIN TERFOSFORILASI DARI LIMBAH CANGKANG BEKICOT (Achatina fulica)
Abstract The adsorbent of Cd(II) ion from snail shell (Achatina fulica) waste had been made in this research. The aim of this research were to know the effect of pH and contact length on adsorption Cd(II) ions using phosphorylated chitin. The chitin from snail shell was characterized by FTIR and deacetylation degrees was counted. Bacth method was used to adsorp Cd(II) ion with pH variation (3, 4, 5, 6, 7) and contact length (30, 60, 90, 120, 150 minutes). Then the adsorption results was measured with Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). The results showed that adsorbent had  deacetylation  degree  of  46.772%. Optimum condition of pH and contact lengh were occured by 4 and 60 minutes with 92.3% and 75.3% respectively present of Cd(II) adsorption. Keywords: adsorption, cadmium, chitin, phosphorylated, snail shells
ISOLASI DAN KARAKTERISASI TERHADAP MINYAK MINT DARI DAUN MENTHA ARVENSIS SEGAR HASIL DISTILASI UAP-AIR
ABSTRAK Minyak mint yang berasal dari Mentha arvensis banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industri makanan, kosmetik, dan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi minyak mint dari daun segar Mentha arvensis. Isolasi minyak mint dilakukan dengan metode distilasi uap air selama 4 jam, sedangkan karakterisasi sifat fisik ditentukan berdasarkan warna, bau, indeks bias, dan massa jenis. Komponen penyusun minyak mint dianalisis menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak mint yang diperoleh berwarna kuning muda dengan bau yang menyengat, rendemen 0,06 %, memiliki indeks bias 1,463 (20 oC), dan massa jenis sebesar 1,126 g/mL (25 oC). Hasil analisis dengan KG-SM menunjukkan adanya 25 komponen penyusun minyak mint, dengan komponen terbesar yaitu karvon (52,46 %). Letak geografis tumbuhnya M. arvensis diduga mempengaruhi senyawa penyusun minyak mint.  Kata kunci : disitlasi uap-air, KG-SM, Mentha arvensis , minyak mint. ABStract Mint oil from Mentha arvenis many uses as raw material in food, cosmetic, and pharmaceutical indsutries. This research were aims to isolate and to characterize the mint oil from fresh leaf of Mentha arvensis. Isolation of mint oil was carried out using water-steam distillation for 4 hours, while the physical properties characterization determined based on colour, odour, the refractive index and density. The chemical component of mint oil was analyzed using Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS). The experiment result showed that mint oil is light yellow liquid with strong odour and the yield of mint oil is 0.06% , refractive index value is 1.463 (20 oC), and density is 1.126 g/mL (25 oC). The results of GC-MS analyzing showed that mint oil contain 25 chemical components, with the major components are carvone (52.46 %). Geographical location of M. arvensis growing might be predicted can affect the compounds of mint oil. Key words: GC-MS, mint oil, Mentha arvensis , steam-water distillation
PEMBUATAN BIOETANOL DENGAN BANTUAN Saccharomyces cerevisiaeDARI GLUKOSA HASIL HIDROLISIS BIJI DURIAN (Durio zibethinus)
Penelitian ini bertujuan untuk membuat bioetanol dari biji durian yang telah dihidrolisis oleh asam klorida. Glukosa hasil hidrolisis difermentasi menjadi etanol dengan bantuan S.cerevisiae dengan variasi pH fermentasi. Kadar etanol yang dihasilkan ditentukan menggunakan metode cawan conway. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh kadar glukosa tertinggi dengan hidrolisis menggunakan HCl 4 M pada sirup glukosa sebesar 36400 ppm dan pada cake glukosa sebesar 20100 ppm pada hidrolisis menggunakan 1 M HCl. Dengan konsentrasi substrat glukosa 8000 ppm, kadar etanol tertinggi dihasilkan pada pH fermentasi 4 sebesar 1,61% (v/v).Kata kunci : biji durian, bioetanol, cawan conway, fermentasi, hidrolisi
OPTIMASI AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN Ca-ALGINAT-KITOSAN
Pektinase bebas tidak dapat digunakan lebih dari satu kali pemakaian, sehingga perlu dilakukan teknik amobilisasi agar dapat digunakan secara berulang. Penelitian ini mempelajari tentang kondisi optimum proses amobilisasi pektinase pada matriks Ca-alginat-kitosan. Pektinase diisolasi dari Bacillus subtilis, dimurnikan dengan metode pemurnian bertingkat menggunakan amonium sulfat fraksi 20–60% dan dilanjutkan dengan dialisis. Mikroenkapsulasi Ca-alginat-kitosan dibuat dengan mencampurkan pektinase pada variasi 0,943; 1,886; 2,83; 3,774; 4,717 mg/mL dengan Na-alginat pada variasi 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5% (w/v) dan meneteskannya pada larutan CaCl2 0,15 M. Manik Ca-alginat selanjutnya disuspensikan pada kitosan 1,5% dan diteteskan pada larutan Na5P3O10 3%, sehingga terbentuk hibrid mikrokapsul Ca-alginat-kitosan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi optimum Na-alginat 3% (w/v) dan konsentrasi pektinase optimum 2,83 mg/mL dapat menjebak pektinase sebanyak 2,83 mg/gram Ca-alginat-kitosan dengan aktivitas sebesar 193,3 unit. Kata kunci: aktivitas, Bacillus subtilis, Ca-alginat-kitosan, pektinas
OPTIMASI AMOBILISASI PEKTINASE DARI Bacillus subtilis MENGGUNAKAN BENTONIT
Pektinase merupakan salah satu jenis enzim yang mampu memecah senyawa pektin menjadi asam galakturonat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi optimum amobilisasi pektinase dari Bacillus subtilis dengan menggunakan matriks bentonit. Penentuan kondisi optimum amobilisasi dilakukan pada variasi lama pengocokan 1–5 jam dan konsentrasi enzim pada variasi 943,4–4717 ppm menggunakan 0,1 g bentonit pada temperatur ruang, kemudian ditentukan protein yang teradsorpsi dan aktivitas pektinase amobil. Kadar protein sisa ditentukan dengan metode Biuret dan asam galakturonat yang dihasilkan ditentukan menggunakan reagen DNS (asam dinitrosalisilat). Aktivitas pektinase dihitung berdasarkan banyaknya galakturonat yang dihasilkan oleh kerja sejumlah enzim per menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum amobilisasi pektinase menggunakan matriks bentonit yang telah diaktivasi dengan HCl dicapai pada lama pengocokan 4 jam dengan konsentrasi awal pektinase 2830 ppm menghasilkan pektinase teradsorpsi sebesar 21,61 mg/g bentonit dan aktivitas 642,7 µg.g-1.menit-1. Kata kunci:aktivitas, amobilisasi, Bacillus subtilis, bentonit teraktivasi HCl, pektinas
PENGARUH TERAPI KURKUMIN TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) HASIL ISOLASI PAROTIS DAN PROFIL PROTEIN TIKUS PUTIH YANG TERPAPAR LIPOPOLISAKARIDA (LPS)
Periodontitis merupakan penyakit mulut dan infeksi yang disebabkan oleh bakteri anaerob gram negatif pada rongga mulut. Salah satu bakteri yang diduga sebagai penyebab periodontitis adalah Porphyromonas gingivalis. Merupakan bakteri gram negatif yang bersifat patogen karena membran terluar bakteri tersusun oleh LPS (Lipopolisakarida). LPS diketahui dapat memicu beberapa jenis reaksi peradangan atau infeksi (inflammatory) pada sel makrofag dan sel lainnya yang diikuti dengan terbentuknya radikal bebas. Kurkumin dapat digunakan sebagai terapi karena berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi kurkumin terhadap MDA dan profil protein pada tikus yang terpapar LPS. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok tikus yaitu kontrol, terpapar LPS secara intrasulkuler dan terapi kurkumin. Pengukuran kadar MDA menggunakan metode Thiobarbituric Acid (TBA) dan profil protein menggunakan metode SDS-PAGE. Hasil penelitian menunjukkan paparan LPS mampu meningkatkan kadar MDA secara signifikan (p,0,01) dan juga terdapat beberapa pita protein yang hilang pada metode SDS-PAGE, sebaliknya pada terapi kurkumin kadar MDA memiliki pengaruh menurunkan kadar MDAÂ dan munculnya pita protein yang rusak.Kata kunci: Lipopolisakarida, Malondildehid, profil protein, radikal beba
PENGARUH KONSENTRASI ION SULFAT (SO42-) TERHADAP DEGRADASI ZAT WARNA METHYL ORANGE MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TIO2-ZEOLIT
Telah dilakukan penelitian tentang degradasi methyl orange menggunakan fotokatalis TiO2-zeolit dengan penambahan ion SO42-. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan ion SO42-, lama penyinaran, dan jumlah fotokatalis TiO2-zeolit terhadap degradasi methyl orange. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 jenis anatase. Larutan methyl orange 15 mg/L pH 2 sebanyak 25 mL ditambah dengan 50 mg TiO2-zeolit dan 5 mL larutan SO42- dengan konsentrasi 0, 1.500, 3.000, 4.500, dan 6.000 mg/L disinari dengan sinar UV selama 20, 40, 60, 80, dan 100 menit. Kajian pengaruh jumlah fotokatalis dilakukan dengan cara menyinari 25 mL larutan methyl orange 15 mg/L pH 2 ditambah 5 mL larutan SO42- 4.500 mg/L pada variasi fotokatalis TiO2-zeolit 13, 25, 50, dan 75 mg selama 100 menit. Konsentrasi methyl orange dalam larutan ditentukan menggunakan spektrofotometer UV Vis. Konsentrasi ion SO42- berpengaruh terhadap konstanta laju degradasi methyl orange dan kondisi optimum terjadi pada konsentrasi ion SO42- 4.500 mg/L dengan nilai k 0,0030 min-1. Degradasi methyl orange menggunakan TiO2-zeolit semakin meningkat dengan bertambahnya lama penyinaran dan jumlah fotokatalis.. Kata kunci:fotodegradasi, methyl orange, SO42-, TiO2-zeolit
FOTODEGRADASI ZAT WARNA METHYL ORANGE MENGGUNAKAN TIO2-ZEOLIT DENGAN PENAMBAHAN ION PERSULFAT
Efek dari ion persulfat pada fotodegradasi methyl orange menggunakan TiO2-zeolit telah diamati dalam penyinaran sinar UV. Dari hasi analisa difraksi sinar-X ditemukan bahwa struktur TiO2 adalah anatase dan jenis dari zeolit adalah campuran dari clipnotilolite dan mordenite. Peneliatan fotodegradasi terhadap 25 mL methyl orange dipelajari pada variasi konsentrasi persulfat, lama penyinaran, dan jumlah fotokatalis TiO2-zeolit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstanta laju degradasi methyl orange tertinggi dicapai pada konsentrasi persulfat 12000 mg/L. Degradsi methyl orange tertinggi (83,12%) dicapai pada konsentrasi persulfat 12000 mg/L menggunakan 75 mg fotokatalis TiO2-zeolit dengan penyinaran selama 100 menit