Journal of Aceh Physics Society
Not a member yet
198 research outputs found
Sort by
Study of earthquake recurrence in North Sumatra based on b-value earthquake data 1926-2023
Abstrak. Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang juga sering terjadi gempa bumi, karena wilayahnya terletak pada pertemuan dua lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perulangan gempa yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara berdasarkan dari b-value serta kaitan b-value dengan magnitudo dan frekuensi gempa bumi. Hubungan b-value dengan magnitudo dan frekuensi gempa bumi dianalisis dengan metode likelihood. Data gempa bumi diambil dari website USGS, yaitu data dari tahun 1926-2023 yang berjumlah 4242 kejadian gempa bumi dengan menggunakan software Z-map. Data tersebut dilakukan cluster sehingga jumlah data menjadi 3033 data dengan magnitudo 3,0 sampai magnitudo 8,0 dan kedalaman 0-300 km pada koordinat episenter 1- 4 LU dan 95-105 BT. Berdasarkan data-data tersebut didapatkan b-value = 0,0939+/-0,02 dan a-value = 7,55, a-value (annual) = 5,56 serta nilai Magnitude of Completeness = 4,45 dapat menggambarkan tingkat stress yang sedang terjadi, b-value merupakan nilai yang menunjukkan tingkat kerapuhan suatu batuan. Dari data yang dihasilkan pada daerah Sumatera Utara, gempa yang sering terjadi adalah pada magnitudo 5,0 dan magnitudo 6,0 yang hampir meliputi semua daerah Sumatera Utara. Semakin tinggi nilai b pada suatu wilayah, maka akan semakin tua dan rapuh batuannya sehingga aktivitas seismik di wilayah tersebut juga akan semakin besar. Nilai b yang rendah itu merupakan daerah yang memiliki tingkat stress yang tinggi yang artinya wilayah tersebut memiliki peluang yang tinggi untuk terjadinya gempa-gempa besar.Abstract. North Sumatra Province is one of the provinces where earthquakes often occur because the region is located at the meeting point of two tectonic plates, namely the Indo-Australian plate and the Eurasian plate. This research aims to determine the recurrence of earthquakes that occur in North Sumatra Province based on the b-value and the relationship between the b-value and the magnitude and frequency of earthquakes. The relationship between b-value and earthquake magnitude and frequency was analyzed using the likelihood method. Earthquake data was taken from the USGS website, namely data from 1926-2023, totaling 4242 earthquake events using Z-map software. The data was clustered so that the total data became 3033 data with a magnitude of 3.0 to 8.0 magnitude and a depth of 0-300 km at epicenter coordinates 1-4 N and 95-105 E. Based on these data, b-value = 0.0939 +/- 0.02 and a-value = 7.55, a-value (annual) = 5.56 and Magnitude of Completeness = 4.45 can describe the level of stress that is occurring, b-value is a value that shows the level of brittleness of a rock. From the data produced in the North Sumatra area, the earthquakes that frequently occur are at magnitude 5.0 and magnitude 6.0 which almost covers all areas of North Sumatra. The higher the b value in an area, the older and brittle the rocks will be, so the seismic activity in that area will also be greater. A low b value indicates an area that has a high stress level, which means the area has a high chance of large earthquakes occurring
Rancang Bangun Filtrasi Sistem Up Flow Dengan Disinfektan Uv Dan Cartridge Filter Menggunakan Sensor Kekeruhan Untuk Optimasi Kualitas Limbah Air Laundry
Peningkatan jumlah penduduk di kota turut mendorong kebutuhan barang dan jasa, termasuk layanan laundry di kawasan pemukiman. Usaha laundry banyak yang belum dilengkapi dengan fasilitas pengolahan limbah, sehingga limbahnya langsung dibuang ke saluran udara dan berpotensi mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem filtrasi up flow dengan tambahan disinfeksi UV dan cartridge filter untuk pengolahan limbah laundry yang lebih efisien. Limbah laundry mengandung bahan berbahaya, seperti detergen dan zat aktif permukaan, yang dapat berdampak buruk pada lingkungan jika tidak diolah. Sistem ini menggunakan media filter seperti pasir silika, karbon aktif, zeolit, kerikil, dan sabut untuk mengurangi kekeruhan serta menghilangkan kontaminan. Sistem ini juga dilengkapi dengan sensor kekeruhan Turbidity DFROBOT SEN0189 yang menampilkan hasil pengukuran kekeruhan di layar LCD untuk memantau kualitas udara secara langsung. Metode eksperimen yang diterapkan meliputi perakitan alat, pengujian sensor, dan evaluasi kinerja sistem filtrasi. Kalibrasi sensor dengan larutan kopi menunjukkan korelasi tinggi (R = 0,9098) antara tegangan sensor dan nilai kekeruhan. Hasil uji filtrasi menunjukkan sistem ini efektif dalam menurunkan kekeruhan dan parameter seperti Nitrat, Kromium Heksavalen, TDS, pH, Besi, dan Mangan hingga sesuai standar baku mutu limbah. Studi ini menunjukkan bahwa sistem filtrasi yang dikembangkan memiliki potensi sebagai solusi pengolahan limbah laundry yang lebih ramah lingkungan
Identification of the distribution of geothermal reservoirs around Kepahiang Bengkulu Province using GGMPlus gravity data anomalies by the 2D inversion method
Abstrak. Kabupaten Kepahiang terletak di wilayah perbatasan busur magmatik dan lempeng benua dengan lempeng samudra yang mengakibatkan munculnya beberapa manisfestasi panas bumi di permukaan berupa solfatara, fumarole, dan batuan alterasi sehingga menjadi prospek energi panas bumi. Riset yang dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui sebaran reservoar panas bumi di sekitar Kepahiang. Riset ini dilakukan dengan metode gravitasi, sehingga dapat dihasilkan gambaran distribusi densitas bawah permukaan. Riset ini menggunakan data Global Gravity Model Plus (GGMPlus) dengan resolusi 220 meter yaitu Free Air Anomaly (FAA) dan topografi. Berdasarkan hasil pengolahan datanya, diperoleh Anomali Bouguer Lengkap (ABL) yang merupakan gabungan anomali regional dan anomali residual. Anomali tersebut dipisahkan melalui penggunaan metode moving average. Peta anomali memberikan informasi tiga pola distribusi, yakni anomali tinggi, sedang, serta rendah. Anomali residual dimodelkan menggunakan metode inversi 2D sebanyak tujuh slice yang diduga adanya reservoar panas bumi. Hasil penelitian menunjukkan wilayah dengan nilai ABL antara 46,7 50,9 mGal diduga adanya reservoar panas bumi dengan nilai densitas 2,5 g/cm3 pada kedalaman yang berbeda-beda untuk setiap slice. Ketidakmunculan manisfestasi panas bumi di beberapa wilayah yang memiliki reservoar di bawah permukaan diakibatkan karena adanya batuan penudung dengan nilai densitas sebesar 2,6 - 2,7 g/cm3.Abstract. Kepahiang Regency is located in the border area of the magmatic arc and the continental plate with the oceanic plate which resulted in the emergence of several geothermal manifestations on the surface in the form of solfatara, fumarole, and alteration rocks so that it becomes a prospect for geothermal energy. The research conducted has the aim of knowing the distribution of geothermal reservoirs around Kepahiang. This research was conducted using the gravity method, so that a picture of the subsurface density distribution could be produced. This research uses Global Gravity Model Plus (GGMPlus) data with a resolution of 220 meters, namely Free Air Anomaly (FAA) and topography. Based on the results of the data processing, a Complete Bouguer Anomaly (CBA) is obtained which is a combination of regional anomalies and residual anomalies. The anomalies are separated through the use of the moving average method. The anomaly map provides information on three distribution patterns, namely high, medium and low anomalies. Residual anomalies were modeled using 2D inversion method for seven slices suspected to have geothermal reservoirs. The results show that areas with CBA values between 46.7 - 50.9 mGal are suspected to have geothermal reservoirs with density values 2.5 g/cm3 at different depths for each slice. The absence of geothermal manisfestation in some areas that have reservoirs in the subsurface is due to the presence of host rocks with a density value of 2.6 - 2.7 g/cm3
Realtime instrumentation system towards blood oxygen saturation level monitoring with Liquid Crystal Display (LCD) and smartphone
Abstrak. Oksigen memainkan peranan vital dalam tubuh untuk mengatur sistem peredaran darah. Namun jika kadar saturasi oksigen dalam darah (SpO2) berkurang atau tidak mencukupi maka dapat menyebabkan sesak nafas, bahkan dapat mempengaruhi fungsi kerja otak. Perangkat oksimeter digunakan untuk mengukur kadar saturasi oksigen dalam darah dengan pengukuran secara non-invasif, sehingga kekurangan oksigen dalam darah dapat dideteksi lebih awal. Oksimeter yang tersedia saat ini umumnya menampilkan hasil SpO2 tidak terhubung ke jaringan sehingga tidak dapat dipantau secara jarak jauh. Oleh karena itu diperlukan suatu perangkat yang dilengkapi dengan fitur monitoring dalam jaringan agar dapat memantau kondisi partisipan secara real-time. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem monitoring pengukuran saturasi oksigen dalam darah yang dapat diakses secara remote menggunakan smartphone. Alat rancangan ini menggunakan sensor MAX30100 dan NodeMCU ESP8266 sebagai mikrokontroler. Hasil pengukuran alat rancangan dapat dipantau secara real-time melalui website menggunakan aplikasi Blynk. Data pembanding yang digunakan adalah alat Oksimeter komersial. Pengujian telah dilakukan pada partisipan laki-laki berusia 14 dan 22 tahun, dan perempuan berusia 18 dan 45 tahun. Hasil pengujian secara keseluruhan menunjukkan bahwa alat yang dirancang relative sama dengan oksimeter komersial, yang ditunjukkan oleh nilai thitung ttabel.Abstract. Oxygen plays a vital role in regulating our blood circulation system. However, if the oxygen levels in the blood decrease or are insufficient, it can cause shortness of breath and even affect brain function. To address this problem, an oximeter provides an effective solution by providing a device that can measure blood oxygen saturation without having to place any device inside the body. Currently available oximeter devices usually only display the SpO2 results on the device itself. Therefore, a device with a remote monitoring feature is needed to monitor participants condition in real-time. This research aims to develop a remote-access blood oxygen saturation measurement monitoring system using the MAX30100 sensor and the NodeMCU ESP8266 as the microcontroller, the values can be viewed in real-time on website by the Blynk app. The comparison data used is a comercial oximeter device. The participants were the males aged 14 and 22 years, and the female aged 18 and 45 years. Herein, we found that the designed instrument shows excellent performance in which ttest ttable from overall data
Preparation of Precipitated Calcium Carbonate (PCC) from Shells through Dissolution, Carbonation, and Sonication
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk membuat kalsium karbonat terendapkan atau precipitated calcium carbonate (PCC) dari cangkang kerang mutiara melalui pelarutan dengan larutan HNO3, karbonasi dengan karbondioksida, dan sonikasi. Cangkang kerang dengan ukuran 200 mesh dikalsinasi 900C selama 3 jam, dilarutkan dalam larutan asam nitrat 0,8 M dan ditambahkan ammonia sebagai pembentuk suasana basa. Selanjutnya dialiri gas CO2 (karbonasi) selama 30 menit dan dilanjutkan sonikasi selama 30 menit. Endapan yang terbentuk setelah pencucian berwarna putih dengan presentase CaO mencapai 98,36%. Persentase tersebut lebih tinggi dibanding CaO pada cangkang kerang sebelum dimurnikan. PCC yang berhasil diekstraksi mempunyai fase kristal kalsit (2) 29,3, 35,88, dan 39,4 dan vaterit (2) 24,8, 27,0, 32,7, 43,8 dan 55,7. Fase kristal kalsit dan vaterit juga dapat dilihat dari citra SEM yang menunjukkan bentuk kubus (kalsit) dan bulat (vaterit). Hasil FTIR menunjukkan bilangan gelombang 708, 748, 879, 1087, 1420, 1465 dan 1481,3 cm-1 merupakan identitas dari vibrasi gugus karbonat dari vaterit dan kalsit dalam PCC. Ukuran partikel dari PCC yang terbentuk adalah 2,434 m. Berdasarkan hasil karakterisasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa PCC cangkang kerang telah berhasil dilakukan dan membentuk fase kristal kalsit dan vaterit.Abstract. This study aimed to prepare precipitated calcium carbonate (PCC) from pearl oyster shells by dissolving with HNO3 solution, carbonation with carbon dioxide, and sonication. Shells with a size of 200 mesh were calcined at 900 C for 3 hours, dissolved in 0.8 M nitric acid solution and added ammonia to form an alkaline medium. Then it was flowed with CO2 gas (carbonation) for 30 minutes and continued sonication for 30 minutes. The precipitate formed after washing is white with a CaO percentage of 98.36%. This percentage is higher than the CaO in clam shells before being purified. PCC that was successfully extracted had crystalline phases of calcite (2) 29.3, 35.88, and 39.4 and vaterite (2) 24.8, 27.0, 32.7, 43.8 and 55 ,7. The calcite and vaterite crystal phases can also be seen from the SEM images which show cubic (calcite) and spherical (vaterite) shapes. FTIR results show wave numbers 708, 748, 879, 1087, 1420, 1465 and 1481.3 cm-1 which are the identity of the vibration of the carbonate group of vaterite and calcite in PCC. The particle size of the formed PCC is 2.434 m. Based on the results of the characterization carried out, it can be concluded that the PCC of the shells has been successfully carried out and formed calcite and vaterite crystal phases
Prediction of CO2 emission based on road density approach
Abstrak. Pekanbaru merupakan kota terbesar di Provinsi Riau dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Peningkatan ekonomi berpengaruh terhadap perkembangan jumlah trasnportasi kendaraan bermotor di Kota Pekanbaru. Jumlah kendaraan rata-rata meningkat sebesar 7,3% per tahun. Peningkatan sektor transportasi menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan lingkungan dan pemanasan global serta menurunnya kualitas udara di wilayah perkotaan. Polusi paling dominan yang dihasilkan dari sektor transportasi yaitu karbondioksida (CO2). Tujuan penelitian ini adalah menghitung emisi CO2 dari kendaraan di Kota Pekanbaru. Metode yang digunakan untuk menghitung emisi CO2 yaitu metode IPCC 2006 Guidelines Tier 2 berdasarkan pendekatan kepadatan Jalan. Volume kendaraan didapatkan berdasarkan traffic counting di ruas jalan Kota Pekanbaru. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa emisi tertinggi di Kota Pekanbaru berada di ruas jalan nasional yaitu sebesar 11,8 kg CO2/SMP. Penyumbang emisi CO2 di Kota Pekanbaru didominasi oleh jenis kendaraan truk dan bus. Truk menyumbang emisi sebesar 7,9 kg CO2/SMP dan bus menghasilkan emisi sebesar 6,3 kg CO2/SMP. Selanjutnya hasil penelitian juga menemukan bahwa emisi tertinggi yaitu pada hari efektif sebesar 6,84 kg CO2/SMP. Jam tersibuk yang menghasilkan nilai emisi tertinggi yaitu jam puncak sore. Emisi yang dihasilkan dengan nilai sebesar 6,48 kg CO2/SMP.Abstract. Pekanbaru is the largest city in Riau Province with rapid economic growth. The increase in the economy has affected the development of the number of motorized vehicle transportation in Pekanbaru City. The average number of vehicles increased by 7.3% per year. The increase in the transportation sector is one of the causes of environmental damage and global warming as well as declining air quality in urban areas. The most dominant pollution generated from the transportation sector is carbon dioxide (CO2). The purpose of this study was to calculate CO2 emissions from vehicles in Pekanbaru City. The method used to calculate CO2 emissions was the IPCC 2006 Guidelines Tier 2 method based on the road density approach. Vehicle volume was obtained based on traffic counting on Pekanbaru City roads. The calculation results show that the highest emission in Pekanbaru City is on the national road segment, which is equal to 11.8 kg CO2/SMP. The contributors to CO2 emissions in Pekanbaru City are dominated by trucks and buses. Trucks contribute 7.9 kg CO2/SMP and buses emit 6.3 kg CO2/SMP. Furthermore, the results of the study also found that the highest emission was on an effective day of 6.84 kg CO2/SMP. The busiest hour that produces the highest emission value is the afternoon peak hour. Emissions produced with a value of 6.48 kg CO2/SMP