Jurnal Sumberdaya Lahan
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Strategi Pemanfaatan Sumberdaya Lahan untuk Pencapaian Swasembada Beras Berkelanjutan
Abstrak. Lahan pertanian eksisting penghasil bahan pangan terutama sawah dan lahan kering menjadi tumpuan harapan untuk memenuhi kebutuhan pangan 258,7 juta jiwa penduduk pada tahun 2017. Usaha pencapaian swasembada berkelanjutan dihadapkan pada (i) peningkatan jumlah penduduk sekitar 3,4 juta jiwa setiap tahun, (ii) konversi lahan sawah ke non pertanian dengan laju sekitar 96.500 ha tahun-1, sementara laju perluasan lahan sawah hanya sekitar 20.000-30.000 ha tahun-1, dan (iii) perubahan iklim global yang menyebabkan peningkatan intensitas dan frekuensi kejadian iklim ekstrim berupa kekeringan, kebanjiran, longsor, yang selanjutnya meningkatkan intensitas serangan hama/penyakit tanaman. Upaya dan strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya melalui, pertama, intensifikasi dengan inovasi teknologi pada 4 juta ha sawah irigasi teknis, 4,1 juta ha lahan sawah sub-optimal (tadah hujan, irigasi sederhana, sawah rawa) melalui perbaikan saluran irigasi dan sistem drainase, pemupukan berimbang, pengembangan varietas unggul, dan peningkatan Indeks Panen dari 1 menjadi 1,5. Kedua, pengendalian konversi lahan melalui kesepakatan berbagai pemangku kepentingan, kerjasama lintas kementerian/ lembaga serta antara pemerintah dengan swasta dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya konversi lahan terhadap ketahanan pangan, kestabilan sosial, ekonomi dan politik. Ketiga,perluasan areal tanam di lahan perkebunan kelapa sawit muda (5,1 juta ha) dan karet (0,54 juta ha), serta pada perkebunan kelapa (2,15 juta ha). Tersedia varietas toleran naungan untuk padi gogo, jagung dan kedelai untuk mendukung usaha ini. Keempat, perluasan areal pertanian baru untuk tanaman pangan pada lahan potensial di lahan rawa (pasang surut, lebak, dan gambut) dan pada lahan basah non rawa untuk sawah irigasi dan tadah hujan, serta di lahan kering dengan lereng < 15% untuk tegalan. Keempat pendekatan ini diharapkan dapat mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.Abstract. Existing agricultural land for food crops, especially paddy fields and upland, is a very essential element for fulfilling the needs of food for258.7 million people in 2017. The efforts to achieve permanent self-sufficiency are challenged by (i) an increase in the population of approximately 3.4 million people each year, (ii) conversion of paddy field to non-agricultural land at a rate of about 96,500 ha year-1, while the rate of paddy field expansion is only about 20,000-30,000 ha year-1, and (iii) global climate change which causes the increase in intensity and frequency of extreme climatic events in the forms of droughts, floods, landslides, that in turns increase the incident of pest/disease attacks. Efforts and strategies are required to overcome them through first, intensification by applying technological innovations on 4 million ha of existing fully irrigated rice fields, 4.1 million ha of sub-optimal rice fields (rainfed, simple irrigation, swampland) with improved irrigation and drainage systems, balanced fertilization, improved varieties, and increased Harvesting Index from 1 to 1.5. Second, control of land conversion by establishing multi-stakeholder agreements, cooperation among related ministerials/institutionals, local governments, private sectors and communities to raise awareness of the risk of land conversion to food security, social, economic and political stability.Third, expansion of rice farming areas into young oil palm (5.1 million ha), rubber (0.54 million ha), as well as on coconut (2.15 million ha) plantations. Shade tolerant varieties are now available for upland rice, maize and soybeans to support this effort. Fourth, expansion of new agricultural areas for food crops on potential lands in swamp land (tidal swamp lands, fresh water swamp land and peat land), as well as on non swamp wetlands for irrigated and rain-fed rice fields, and on upland with slopes of <15% for annual upland crops. These four approaches are believed to enable achievement of sustainable food self-sufficiency.
Potensi dan Pemanfaatan Lahan Gambut Dangkal untuk Pertanian
Abstrak. Lahan gambut terbentuk karena adanya penambahan bahan organik segar yang lebih cepat daripada perombakannya, sehingga terjadi timbunan organik dari waktu ke waktu. Gambut Indonesia sangat potensial dimanfaatkan untuk penyediaan bahan pangan. Pemanfaatan lahan gambut yang lebih masif untuk memasok bahan pangan dipicu oleh (1) laju alih fungsi lahan pertanian, (2) pertambahan jumlah penduduk, dan (3) keinginan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dunia. Tanah gambut dalam sistem klasifikasi tanah USDA termasuk dalam ordo Histosol. Tanah gambut juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat dekomposisi, kesuburan, fisiografi, proses pembentukan, bahan penyusun dan ketebalan gambut. Berdasarkan ketebalan gambut, tanah gambut dengan ketebalan 50-100 cm dikategorikan sebagai gambut dangkal/tipis. Karakteristik dan potensi lahan gambut antaralain ditentukan oleh sifat kimia, fisika dan biologi. Semakin tebal gambut, semakin rendah potensinya untuk budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Potensi lahan gambut dangkal/tipis di Indonesia diperkirakan sekitar 5.241.473 ha atau 35,17% dari total luas lahan gambut Indonesia, tersebar di Pulau Papua (2.425.523 ha), Pulau Sumatera (1.767.303 ha), dan Pulau Kalimantan (1.048.611 ha). Lahan tersebut baru sebagian kecil dimanfaatkan petani untuk budidaya tanaman pangan, dan hortikultura dengan produktivitas yang tergolong rendah. Kebakaran lahan gambut dan faktor lainnya menyebabkan terjadinya dinamika luas lahan gambut tipis. Potensi gambut tipis dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, tanaman hortikultura buah-buahan seperti nenas, pisang, pepaya, melon, dan tanaman hortikultura sayuran berupa tomat, pare, mentimun, cabai, kangkung, dan bayam. Kontribusi lahan gambut tipis terhadap produksi tanaman pangan dan hortikultura diperkirakan 50-60% dari total produksi lahan gambut.Abstract. Peatlands are formed by continuous addition of fresh organic materials faster than its decomposition, resulted in accumulation of undecomposed organic material from time to time. Indonesia's peatlands are highly potential to be cultivated to produce a variety of foods. The more massive use of peatlands to supply food is triggered by (1) the rate of conversion of agricultural land, (2) population growth, and (3) the desire to feed the world. In the USDA Classification System, peat soils belong to the order of Histosol. Peat soils may also be classified by decomposition rate, fertility, physiography, formation process, constituents and thickness of peat. Based on peat thickness, peat soil with thickness > 50-100 cm is categorized as shallow/thin peat. The characteristics and potentials of peatlands among other areas are determined by chemical, physical and biological characteristics. The thicker the peat, the lower the potential for cultivation of food crops and horticulture. Differences in classification results in differences in peat characteristics such as chemical, physical and biological properties. The potential of shallow peatlands in Indonesia is estimated at 5,241,473 ha or about 35.17% of Indonesia's total peatland area, spread over Papua (2,425,523 ha), Sumatra (1,767,303 ha) and Kalimantan (1,048.611 ha). Only a small proportion of shallow peatlands are used by farmers for cultivation of food crops and horticulture, but the productivity is low. Peatland fires and other factors have led to dynamics of widespread of shallow peatland. Shallow peatlands can be utilized for cultivation of food crops such as rice, corn, and soybeans, horticultural crops such as pineapple, banana, papaya, melon, and vegetable horticultural crops such as tomatoes, pare, cucumber, chilli, kale, and spinach. The contribution of shallow peatlands to the production of food crops and horticulture is estimated to be 50-60% of the total peatland production
Strategi Peningkatan Produktivitas Kopi serta Adaptasi terhadap Variabilitas dan Perubahan Iklim melalui Kalender Budidaya
Abstrak. Rendahnya produktivitas kopi merupakan salah satu permasalahan utama dalam sistem produksi kopi Indonesia. Hal ini diantaranya disebabkan tidak adanya perawatan kopi yang optimal dengan memperhatikan fase fenologi kopi, serta dampak variabilitas dan perubahan iklim. Berbagai teknologi adaptasi kopi sudah banyak dihasilkan namun langkah adaptasi dengan memanfaatkan prakiraan iklim dalam bentuk penyesuian kegiatan budidaya dengan fase fenologi atau disebut sebagai kalender budidaya belum dikembangkan. Tulisan ini memaparkan tentang dampak variabilitas dan perubahan iklim pada tanaman kopi, teknologi adaptasi kopi yang sudah tersedia, perlunya pengembangan kalender budidaya kopi sebagai bentuk strategi adaptasi dan peningkatan produktivitas serta potensi dan tantangan pengembangan kalender budidaya kopi di Indonesia. Hasil review ini menunjukkan kalender budidaya kopi berpotensi dikembangkan sebagai strategi peningkatan produktivitas serta adaptasi terhadap variabilitas dan perubahan iklim. Abstract. Low productivity is one of the main challenges in Indonesia's coffee production system .It is low due to cultivation management; most of the coffee farmer does not manage their plantation base on the coffee phenology phase. Moreover climate variability and change also have important effect on coffee productivity. Various technologies on adaptation and measurement to climate change and variability have been identified. Unfortunately, the technology which use climate forecast through adjusting cultivation activity and coffee phenology called as cultivation calendar do not exist yet. This paper provides an overview on the impact of climate variability and change to coffee production, the existing adaptation strategy, and the importance of cultivation calendar as a strategy for adapting and increasing productivity, and the potential and challenges to develop cultivation calendar in Indonesia. This review reveals that coffee cultivation calendar is a potential strategy for increaseing productivity and adapting climate change and variability
Keberlanjutan Inovasi Teknologi Lahan Rawa Pasang Surut : Prospek, Kendala dan Implementasi
Abstrak. Masalah pangan yang dihadapi semakin berat dan kompleksnya ditengah semakin meningkatnya jumlah populasi penduduk dan konversi lahan. Sejak tahun 2018 melalui Program UPSUS PAJALE dan Program SERASI pemerintah di bawah Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan produksi pangan, khsusunya beras secara nasional. Dari luas 20,11 juta hektar lahan rawa pasang surut berpotensi sebagai sumber produksi padi seluas 9,53 juta hektar. Jika 50% saja dari lahan yang cocok tersebut dimanfaatkan, maka dapat dihasilkan sekitar 14,295 juta ton GKG per tahun. Dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan lahan rawa pasang surut hasil penelitian dan pengkajian cukup tersedia, baik dalam upaya peningkatan produktivitas dan produksi maupun peningkatan kapasitas dan kelembagaan petani. Implementasi hasil-hasil penelitian tersebut dalam skala luas (scalling up) memerlukan dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah. Berdasarkan hasil penelitian dalam meningkatkan produksi tanaman pangan, khususnya padi diperlukan 10 komponen teknologi meliputi : (1) pengelolaan air, (2) penyiapan lahan dan, (3) pengolahan tanah, (4) penataan lahan, (5) ameliorasi, (6) pemupukan, (7) penggunaan varietas adaptif, (8) sistem tanam dan jarak tanam, (9) pengendalian hama dan penyakit tanaman, dan (10) panen dan pasca panen. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan tentang perspektif keberlanjutan dari inovasi teknologi lahan rawa pasang surut terkait dengan potensi dan kendalanya dalam implementasi ke depan. Masalah pokok yang menghambat implementasi teknologi terdiri paling tidak atas tiga hal yaitu (1) kesesuaian teknis dari teknologi tersebut dengan kemampuan teknis petani, (2) kesesuaian teknis dari teknologi tersebut dengan sosial budaya petani setempat, (3) dukungan dari aspek kelembagaan petani dan pemerintah, termasuk pemerintah daerah. Keberlanjutan inovasi teknologi pertanian lahan rawa pada umumnya paling tidak ditentukan minimal oleh tiga aspek atau dimensi, yaitu aspek ekonomi, sosial dan aspek lingkungan. Secara garis besar, maka implementasi keberlanjutan teknologi pengembangan rawa, termasuk keberhasilan Program SERASI hanya dapat dicapai melalui (1) penyiapan infrastruktur pengelolaan air yang tepat sebagai kunci; (2) paket teknologi yang lengkap dan spesifik lokasi dari komponen teknologi penyiapan bibit, penyemaian sampai komponen pasca-panen (pengemasan), dan (3) model kelembagaan menyeluruh dari penyuluhan, permodalan, pengelolaan air, budidaya, pengolahan hasil, pemasaran, dan penyediaan sarana dan prarana produksi, termasuk alsintan. Abstract. The problem of food faced is increasingly heavy and complex amidst the increasing population and land conversion. Since 2018 through the UPSUS PAJALE Program and the SERASI Program the government under the Ministry of Agriculture has sought to increase food production, especially rice nationally. Of the total 20.11 million hectares of tidal swamp land potentially as a source of rice production, 9.53 million hectares. If only 50% of the suitable land is utilized, it can produce around 14,295 million tons per year. The support of science and technology for the development of tidal swamp land from the results of research and studies is quite available both in an effort to increase productivity and production and increase the capacity and institutional capacity of farmers. In the implementation of scaling up results, the support of the central and regional governments is needed. The results of the research in increasing food crop production, especially rice showed that 10 components of technology were needed including : (1) water management, (2) land preparation and, (3) soil management, (4) land management, (5) amelioration, (6) fertilization , (7) use of adaptive varieties, (8) planting systems and spacing, (9) control of plant pests and diseases, and (10) harvest and post-harvest. This paper aims to suggest the sustainability perspective of tidal swamp technology innovation related to the potential and constraints in future implementation. The main problems that hinder the implementation of technology comprise at least three things, namely (1) the technical suitability of the technology with the farmers' technical capabilities, (2) the technical suitability of the technology with the local socio-cultural farmers, (3) support from the institutional and farm , including local government. The sustainability of technological innovation in swamp farming in general is at least determined by at least three aspects or dimensions, namely economic, social and environmental aspects. Broadly speaking, the implementation of the sustainability of swamp development technology, including the success of the SERASI Program can only be achieved through (1) the preparation of appropriate water management infrastructure; (2) complete and site-specific technology packages from the components of seedling preparation technology, seeding to post-harvest components (packaging), and (3) a comprehensive institutional model of extension, capital, water management, cultivation, yield processing, marketing, and provision facilities and production facilities, including Alsintan
Pengendalian Keracunan Besi untuk Peningkatan Produktivitas Padi di Lahan Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Abstrak. Kebutuhan beras nasional meningkat dari tahun ke tahun akibat pertambahan penduduk, peningkatan kebutuhan energi harian individu, dan masih rendahnya diversifikasi konsumsi sumber karbohidrat serta keinginan untuk menjadi lumbung pangan dunia (LPD) pada tahun 2045. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi nasional adalah melalui perluasan areal tanam dengan memanfaatkan lahan rawa pasang surut yang luasnya mencapai 8,92 juta hektare. Peningkatan luas tanam padi di lahan rawa pasang surut diantaranya dapat dilakukan melalui pembukaan lahan baru, baik dengan memanfaatkan lahan sawah terlantar maupun yang belum dimanfaatkan. Akan tetapi pembukaan lahan baru sering dihadapkan pada keracunan besi, sehingga tanaman padi tidak tumbuh dan berproduksi secara optimal. Keracunan besi dapat menurunkan produksi padi 30-100%, tergantung ketahanan varietas, intensitas keracunan, fase pertumbuhan, dan status kesuburan tanah. Keracunan besi merupakan penyakit fisiologis tanaman dengan penyebab utama adalah konsentrasi Fe2+ yang tinggi dalam larutan tanah karena kondisi reduktif. Hal itu terkait dengan drainase yang jelek, nilai Eh yang rendah, defisiensi K, Ca, Mg, P, Zn, dan Mn, dan oksigen tanah yang rendah. Pengendalian keracunan besi untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan rawa pasang surut bukaan baru dapat dilakukan melalui teknologi pengelolaan air, ameliorasi, pemupukan, pengaturan waktu tanam, dan penggunaan varietas yang toleran. Abtract. National rice demand is increasing from year to year due to population growth, increasing individual daily energy needs, and the low diversification of consumption of carbohydrate sources and the desire to become a world food barn (LPD) in 2045. One effort to increase national rice production is through expansion planting area utilizing tidal swamp land which covers an area of 8.92 million hectares. Increasing the area of rice planting in tidal swamps can be done through the opening of new land, either by using abandoned or untapped rice fields. However, new land clearing is often faced with iron poisoning, so that rice plants do not grow and produce optimally. Iron poisoning can reduce rice production by 30-100%, depending on the variety resistance, poisoning intensity, growth phase, and soil fertility status. Iron poisoning is a physiological disease of plants with the main cause being high concentrations of Fe 2+ in soil solutions due to reductive conditions. This is related to poor drainage, low Eh values, deficiency of K, Ca, Mg, P, Zn, and Mn, and low soil oxygen. Control of iron poisoning to increase rice productivity in the new openings tidal swamps can be done through water management technology, amelioration, fertilization, planting time management, and the use of tolerant varieties
Pengelolaan Lahan Kering Beriklim Kering untuk Pengembangan Jagung di Nusa Tenggara
Abstrak. Wilayah Nusa Tenggara mempunyai lahan kering beriklim kering seluas 4,9 juta ha dengan curah hujan <2.000 mm/tahun dan bulan kering 5-10 bulan, bersolum tanah dangkal dan berbatu. Sebagian lahan tersebut sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian terutama jagung, akibatnya produktivitas tanaman jagung rendah dibandingkan potensi genetiknya, yaitu sekitar 2,5 ton/ha di NTT dan 5,3 ton/ha di NTB dibanding dengan potensi genetiknya 9 ton/ha. Sejak tahun 2010-2015, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah mengembangkan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering beriklim kering dan berbatu di beberapa kabupaten di NTT dan NTB, meliputi penyediaan sumberdaya air (dam parit, embung, tampung renteng mini, sumur dangkal), pengenalan varietas unggul baru dan budidaya tanaman pangan. Pembelajaran yang diperoleh menunjukkan bahwa penyediaan air menjadi titik ungkit untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas tanaman. Inovasi teknologi yang dibutuhkan petani adalah, mudah diterapkan, biaya murah, dan efisien tenaga kerja mendorong berlanjutnya teknologi tersebut meskipun progam tersebut telah selesai. Pada tahun 2014-2018 telah dilaksanakan kegiatan pertanian konservasi melalui dana hibah barang dan jasa yang dikelola FAO. Prinsip dasar pertanian konservasi terdiri atas 3 pilar, yaitu olah tanah terbatas berupa lubang olah permanen, penutupan permukaan tanah, rotasi/tumpangsari. Lubang tanam tersebut diberi pupuk kandang atau kompos, dan ditanami jagung pada 4 penjuru lubang, dan ditumpangsarikan dengan berbagai kacang-kacangan atau tanaman merambat seperti labu kuning yang berfungsi sebagai penutup tanah dan penghasilan tambahan dari kacang-kacangan berumur pendek. Berdasarkan hasil analisis tanah sebelum dan sesudah implementasi pertanian konservasi menunjukkan bahwa pertanian konservasi dapat meningkatkan kesuburan tanah, retensi air dan meningkatkan produksi tanaman jagung. Abstract. The Nusa Tenggara region has upland area with dry climate of 4.9 million ha, less than 2,000 mm annual rainfall, 5-10 dry months, shallow and rocky soils. Some of the land has been used for agricultural development, especially corn, resulting in low corn productivity of around 2.5 tons / ha in NTT and 5.3 tons / ha in NTB as compared to it genetic potential 9 tons /ha. Since 2010-2015, Indonesian Agency of Agricultural Research and Development has developed innovation of soil management technology for upland with dry climates and and rocky soils in several districts in NTT and NTB. The innovation includes the provision of water resources (dam trenches, reservoirs, mini catchments, and shallow wells), introduction of new high yielding varieties and cultivation crops. The lessons learned show that water supply is the initial point to increase cropping index and crop productivity. Technological innovations needed by farmers are easy to implement, low cost, and labor efficient thereby encourage the continuation of the technology even though the program has been completed. In 2014-2018, conservation agriculture activities were carried out through grants of goods and services managed by Food Agriculture Organization (FAO). The basic principle of conservation agriculture consists of 3 pillars, namely limited tillage in the form of permanent planting holes, cover crops, rotation / intercropping. The planting hole is given manure or compost, and planted with corn in 4 corners, and intercropped with various nuts or vines such as pumpkin that serves as a soil cover and additional income from short-lived beans. Based on the results of soil analysis before and after the implementation of conservation agriculture, it shows that conservation agriculture can increase soil fertility, water retention and increase corn crop production
Karakteristik Mineral Tanah Berbahan Vulkanik dan Potensi Kesuburannya di Pulau Jawa
Abstrak. Pulau Jawa memiliki gunung api terbanyak di Indonesia (45 buah). Material bersumber dari erupsi gunungapi (piroklastik) di sekitar Pulau Jawa menyebabkan kualitas kesuburan tanah di Pulau Jawa lebih baik dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Wilayah pegunungan sering dijadikan sebagai daerah sentra usaha pertanian. Kajian terkait karakteristik mineralogi tanah dari bahan vulkanik di Pulau Jawa telah banyak dilakukan, namun terbatas pada penelitian yang bersifat mandiri (perwilayahan pegunungan). Mengungkap dan memperbandingkan data berkait karakteristik mineralogi tanah vulkanik di Pulau Jawa akan memperkaya hasanah keilmuan dan bermanfaat dalam tata kelola lahan pertanian. Abstract. Java Island has the most volcanoes in Indonesia (45 volcanoes). Materials sourced from volcanic eruptions (pyroclastic) around the Java Island have caused the quality of soil fertility in Java is better than other regions in Indonesia. Mountainous areas are often used as a center of agricultural business, especially horticulture. Studies related to the mineralogical characteristics of soil from volcanic material on the Java Island have been widely carried out, but are limited to independent research (single mountain territory). Revealing and comparing data related to the mineralogical characteristics of volcanic soils in the Java Island will enriches scientific knowledge and useful in the management of agricultural land
Peluang dan Tantangan Implementasi Model Pertanian Konservasi di Lahan Kering
Abstrak. Pertanian konservasi adalah salah satu alternatif model pada praktek pertanian di lahan kering yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas tanaman, efisiensi usahatani, dan kualitas lingkungan melalui perbaikan kualitas tanah. Tulisan ini membahas prospek penerapan pertanian konservasi untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas lahan kering. Model pertanian konservasi lebih menekankan pada perbaikan kandungan bahan organik tanah melalui kombinasi 3 pendekatan yaitu olah tanah minimum, pemulsaan, dan pengaturan pola tanam. Introduksi model pertanian konservasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang umumnya lahan pertaniannya berskala sempit (<1 ha) dihadapkan pada masalah perkembangan gulma dan penurunan produktivitas pada fase awal implementasi, dan lahan yang tidak bersih sehingga berpotensi memicu munculnya hama dan penyakit tertentu. Namun demikian, model pertanian konservasi ini berpotensi untuk mengubah lahan kering terdegradasi atau tidak produktif menjadi lahan pertanian produktif dengan efisiensi usahatani yang tinggi. Dengan manfaat jangka panjang tersebut, maka implementasi pertanian konservasi di lahan kering, yang potensinya mencapai 29,4 juta ha, akan meningkatkan secara signifikan kontribusi lahan kering terhadap upaya mempertahankan swasembada pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani lahan kering. Diperlukan proses dan modifikasi untuk mengadaptasikan teknologi ini yang disesuaikan dengan karakteristik agroekosistem, konidisi sosial, dan ekonomi lokal setempat, sehingga berbagai kendala adopsi dapat diminimalisir dan manfaat dapat dioptimalkan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, diperlukan dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, advokasi, dan bantuan input usahatani untuk meminimalisir resiko kerugian petani terutama pada tahap awal implementasi teknologi.Abstract. Conservation agriculture is an alternative model to agricultural practices in dryland which in the long term provides a number of benefits including an increase in crop productivity, farm input efficiency and environmental quality through the improvement of soil quality. This paper discusses the prospect for implementing conservation agricultural to improve soil quality and productivity of dryland. The conservation agriculture model emphasizes the improvement of soil organic matter content through a combination of 3 approaches, namely minimum tillage, mulching, and cropping pattern. Introduction of conservation agriculture into developing countries like Indonesia, which are generally small-scale farming (<1 ha), will face a number of obstacles caused by short-term and immediate shortcomings of the technology. These shortcomings include weed development and productivity decline in the early phase of implementation, and the potential to trigger the emergence of certain pests and diseases due to unclean land. However, the practice has the potential to transform degraded or unproductive drylands into more efficient and productive agricultural land. With those long-term benefits of conservation agriculture, its implementation to 29.4 million ha of dryland of Indonesia will boost significantly the contribution of dryland agriculture in sustaining national food self sufficiency and improving the welfare of dryland farmers. Processes and modifications are needed to adapt this practice to suit local agroecosystem, social and local economic characteristics so that various adoption constraints can be minimized and short-term and long-term benefits can be optimized. In addition, government supports are needed in the form of training, advocacy and farm inputs subsidies to minimize the risk of loss of farmers especially in the early stages of technology implementation
Ketersediaan Lahan Mendukung Ekspor Jagung Kabupaten Bengkayang ke Malaysia
Abstrak. Jagung merupakan tanaman multifungsi, tetapi di Indonesia lebih banyak dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak. Kelangkaan komoditas ini di pasaran berefek ganda terhadap industri pakan, harga pakan dan harga ayam potong dan telur. Kebijakan Pemerintah melarang impor jagung dan mengekspor 3,0 juta ton jagung ke Malaysia perlu didukung secara penuh dan konsisten. Kabupaten Bengkayang merupakan sentra produksi jagung Kalimantan Barat dengan kontribusi 76,71%. Petani di kabupaten ini sudah terbiasa membudidayakan jagung dengan rata-rata produktivitas 4,07 t ha-1. Dari 17 kecamatan yang ada, semuanya mempunyai tradisi menghasilkan jagung. Peningkatan produksi jagung melalui perluasan areal tanam dengan memanfaatkan sekitar 183.934,5 ha lahan yang merupakan (1) perluasan areal tanam melalui pemanfaatan lahan kehutanan APL dan HP, (2) tumpangsari dengan tanaman perkebunan, (3) optimasi lahan bera, dan (4) intensifikasi daerah sentra produksi. Dengan memanfaatkan lahan tersebut, Kabupaten Bengkayang berpotensi menghasilkan 665.434 ton jagung pipilan kering atau setara dengan 21,85% quota ekspor jagung ke Malaysia. Perluasan areal tanam jagung di Kabupaten Bengkayang perlu didukung oleh hal-hal teknis seperti (a) ketersediaan tenaga kerja yang terampil, Alsintan (pengolah tanah, pemeliharaan, pemanen, dan pemipil, dryer), lantai jemur, air, saprodi (benih, insektisida, herbisida), dan pupuk organik, (b) pendampingan teknologi dari penyuluh dan peneliti, dan (c) kelembagaan seperti kios saprodi dan organisasi petani