Jurnal Sumberdaya Lahan
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Polusi Tanah dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Manusia
Abstrak. Polusi tanah merupakan masalah lingkungan yang sering dihadapi. Polusi tanah mengacu pada keberadaan bahan kimia atau zat yang hadir dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari batas normal serta memiliki dampak negatif pada makhluk hidup dan lingkungan. Sumber polusi tanah diantaranya berasal dari kegiatan pertambangan, limbah rumah tangga, kegiatan pertanian dan masih banyak lagi. Apabila tidak dilakukan tindakan pencegahan atau remediasi dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama bagi kesehatan manusia. Berbagai macam metode remediasi dapat dilakukan dengan metode berbasis sains, seperti peningkatan aktivitas mikroba (bioremediasi) dan penggunaan vegetasi untuk menghilangkan kontaminan (fitoremediasi). Metode ini dianggap dapat menjadi teknik pengendalian tanah tercemar karena mudah dan ekonomis untuk dilakukan. Tindakan pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pestisida nabati. Arang aktif dapat juga digunakan untuk mengatasi masalah polusi tanah akibat residu pestisida. Arang aktif diketahui memiliki daya serap yang tinggi terhadap pencemar residu pestisida. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan informasi tentang polusi tanah dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta tindakan pencegahannya
Membuat Peta Tanah dengan Teknik Disagregasi Spasial
Peta tanah merupakan informasi spasial dasar untuk perencanaan dan praktek pengelolaan lahan dan lingkungan. Informasi spasial tanah yang detil, terkini, dan kontekstual diperlukan dalam waktu yang tepat yang dapat disediakan melalui penerapan pendekatan digital soil mapping (DSM) berdasarkan data tanah warisan. Pemanfaatan teknologi DSM perlu disesaikan dengan kondisi infrastruktur data setempat. Tulisan ini membahas tentang teknik disagregasi spasial untuk membuat peta tanah dan mengevaluasi tantangan penerapannya di Indonesia. DSM merupakan subdisiplin ilmu tanah yang paling aktif menghasilkan produk riset. Salahsatu teknik DSM yang diterapkan diberbagai tempat adalah teknik Disagregasi Spasial. Teknik ini bekerja di wilayah yang mempunyai peta tanah baik meliputi seluruh wilayah atau sebagiannya dan memisahkan sub-sub poligon suatu satuan peta tanah menjadi bagian-bagian yang lebih detil. Aneka algoritma disagregasi spasial sudah banyak dikembangkan dan bemanfaat digunakan di wilayah Indonesia khususnya untuk pendetilan peta, penyelerasan batas peta, dan pembuatan peta di wilayah baru menggunakan hubungan tanah-lanskap dari wilayah lain. Aneka alat bantu dikembangkan yang dapat mempercepat dan mempermudah implementasi disagregasi spasial di lapangan. Kasus-kasus terpilih juga disajikan dan didiskusikan. Dengan meningkatkan kapasitas dan penelitian, implementasi teknik akan menyediakan algotiruma yang lebih jitu yang pada saat bersamaan menambah informasi spasial tanah.
Pengembangan Teknologi Panen Air untuk Memenuhi Kebutuhan Domestik
Kelangkaan air secara global terjadi antara lain karena pertumbuhan penduduk yang tinggi, persaingan penggunaan air, dan perubahan iklim global. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini antara lain pemanfaatan sumber air alami berupa air hujan. Teknologi yang sudah ada sejak masa lalu sudah diaplikasikan secara luas di berbagai negara, namun di Indonesia belum diaplikasikan secara luas. Teknologi sederhana ini dapat dilakukan pada wilayah dengan curah hujan rendah sampai tinggi, baik di perkotaan maupun pedesaan. Aplikasi teknologi panen air hujan untuk keperluan domestik semakin bermanfaat jika terjadi anomali iklim (El-Nino) dan pada saat defisit air. Rancangan panen air untuk keperluan domestik harus memperhitungkan kebutuhan dan ketersediaan air serta kemampuan teknis dan keuangan. Peran aktif masyarakat dalam perancangan dan pemeliharaan sangat penting untuk keberlanjutan pengembangan teknologinya
Environmentally Friendly Agricultural Development
Abstract. Environmentally friendly agriculture is an agricultural system that manages all resources and inputs of the agricultural system to achieve optimal productivity and economic benefits, but has a low risk of resource and environmental sustainability, as well as global warming/climate change. Environmentally friendly implementation strategies lead to synergy and integration between technologies, optimization of resources and production inputs which are carried out through three approaches, namely: (1) Anticipation, adaptation, and mitigation approaches in the context of global warming and climate change, (2) Mitigation approach, countermeasures, and remediation in the context of edhapik and biological environments, and (3) Land remediation approach in the context of degradation and pollution of land, air and ecosystem resources due to excessive use of agrochemicals. Support for research activities and development of adaptation, mitigation and remediation strategies for the restoration of polluted land is expected to increase the economy while producing healthy agricultural products and environment. Various regulations and policies for implementing a sustainable agricultural environment, socialization and implementation in the field must be supported by an agricultural environment information system that is easily accessed by users
Pengendalian Degradasi Lahan di DAS Citarum Hulu dan Tengah di Provinsi Jawa Barat
Abstrak. DAS Citarum hulu berawal dari hulu sungai pada lereng G. Wayang (Danau Cisanti), di wilayah Desa Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung sampai ujung waduk Saguling; dan DAS Citarum tengah meliputi wilayah tangkapan air waduk Saguling-Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Di kawasan DAS ini, area seluas 14.907 ha (2,6%) telah terdegradasi berat, 49.827 ha (8,6%) terdegradasi sedang, 307.743 ha (52,9%) terdegradasi ringan. Erosi tanah, pencemaran kimia dan residu limbah industri sebagai faktor pemicu terjadinya lahan terdegradasi di DAS Citarum yang akhirnyasebagian lahan berlereng menjadi kritis.Lahan terdegradasi dan lahan kritis bukan saja merupakan lahan yang tidak produktif, tetapi juga dapat menjadi sumber bencana, mulai dari banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Meluasnya lahan terdegradasi akan berakibat terhadap semakin parahnya kerusakan lingkungan, yang mendorong terjadinya bencana alam semakin tinggi dan lahan pertanian menjadi tidak produktif. Upaya perlindungan lahan yang mendesak untuk segera ditangani dalam usaha pemulihan lahan terdegradasi antara lain: pengendalian degradasi lahan di daerah tangkapan hujan (water catchment area); dan pengendalian konversi lahan terutama di kawasan lahan berhutan/tanaman tahunan menjadi lahan pertanian/non pertanian. Lahan pertanian juga perlu dilindungi terhadap pencemaran kimia dan limbah industri. Perlu mendorong dan membantu petani untuk pengendalian erosi tanah seperti pembuatan teras bangku, gulud, strip rumput, mulsa, dan pertanaman lorong. Selain itu perlu mengupayakan implementasi teknik panen hujan dan aliran permukaan secara optimal untuk konservasi tanah air dan meningkatkan kapasitas/daya tampung DAS, sehingga selama musim kemarau tampungan air tersebut dapat digunakan sebagai sumber irigasi ataupun berfungsi untuk mempertahankan kelembaban tanah. Pemulihan tanah yang telah terkena pencemaran bahan kimia dan limbah industri dapat dilakukan dengan aplikasi bahan organik yang bermanfaat untuk meng-imobiliasi logam berat di tanah. Seiring dengan mengemukanya isu lingkungan dan kesehatan, maka pembangunan pertanian berkelanjutan di kawasan DAS hulu dan tengah adalah pembangunan pertanian yang mengkombinasikan teknologi tradisional dengan teknologi modern, yaitu memacu kenaikan produksi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan
Pemanfaatan Arang Aktif dalam Pengendalian Residu Pestisida di Tanah: Prospek dan Masalahnya
Abstrak. Penggunaan pestisida di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1965, jenis pestisida yang banyak digunakan adalah jenis organoklorin, antara lain Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) dan lindan. Saat ini pestisida yang umum digunakan adalah jenis organofosfat, karbamat dan piretroid. Dari jenis-jenis pestisida tersebut, yang paling toksik dan persisten adalah jenis organoklorin. Dampak dari penggunaan pestisida adalah dapat tertinggalnya pestisida tersebut di dalam tanah bahkan di dalam produk pertanian dalam jangka waktu tertentu (residu pestisida), sehingga berpotensi membahayakan lingkungan dan manusia karena bersifat toksik. Dampak negatif residu pestisida di dalam tanah adalah terbunuhnya biota-biota penting di dalam tanah seperti cacing tanah. Bila residu pestisida di tanah tersebut terbawa air dan masuk ke sungai, maka biota air atau ikan-ikan yang ada terancam mati. Bilamana residu pestisida di tanah tersebut diserap ke dalam produk pertanian, maka manusia sebagai konsumen produk tersebut ditengarai akan terstimulus kanker hingga EDs (terganggunya hormon endokrin). Beberapa peneliti telah melakukan penelitian untuk mengatasi masalah residu di tanah dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti tempurung kelapa, bonggol jagung dan sekam padi sebagai bahan dasar pembuatan arang aktif. Arang aktif ini diketahui memiliki kemampuan daya serap yang tinggi terhadap pencemar residu pestisida dan disenangi oleh mikroba pendegradasi sebagai tempat tinggal dan berkembang biak
Memahami Komunikasi Tumbuhan-Tanah dalam Areal Rhizosfir untuk Optimasi Pengelolaan Lahan
Abstrak. Seperti halnya dunia manusia, tumbuhan juga mengembangkan sistem komunikasi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Bahasa yang digunakan adalah senyawa kimia yang diproduksi oleh eksudat akar. Tumbuhan merupakan inisiator karena mereka yang memiliki tujuan untuk apa komunikasi dibangun. Tumbuhan mengeluarkan eksudat akar untuk memanggil atau untuk mengusir mikroba yang diinginkan. Tumbuhan mengirim surat undangan pada beberapa mikroba dengan mensekresikan eksudat akar. Untuk membangun asosiasi mikoriza tumbuhan mengeluarkan gula, asam amino dan strigolakton. Hal tersebut akan dibalas oleh fungi dengan mengeluarkan senyawa flavonoid yang menunjukkan spesifikasi jenis inang-mikoriza. Hadirnya senyawa flavonoid merupakan undangan bagi rhizobium pada tanaman legum untuk membangun asosiasi. Tumbuhan akan menyeleksi rhizobium yang akan diajak berasosiasi dengan mensekresikan senyawa kanavanin yang bersifat toksik. Kesalahan dalam mengeluarkan eksudat akar merupakan surat undangan yang keliru bagi tumbuhan. Dosis senyawa stigolakton yang terlalu rendah tidak akan dapat membentuk asosiasi mikoriza tetapi yang berkembang adalah patogen. Walaupun tumbuhan menghasilkan senyawa fitoantisipin untuk mencegah serangan patogen dan fitoaleksin ketika patogen sudah menginfeksi. Komunikasi akar dengan akar tumbuhan lain dilakukan dengan menghasilkan senyawa alelopati untuk membatasi pertumbuhan akar di sekelilingnya yang dianggap sebagai pesaing. Tanaman invasif atau gulma umumnya selain menghasilkan alelopati juga memproduksi katekin yang dapat membunuh mikroba menguntungkan pada tumbuhan setempat. Akibatnya tumbuhan lokal akan rentan terhadap serangan penyakit dan berujung pada kematian. Selain alelopati, untuk merespon kehadiran tetangganya tumbuhan juga menghasilkan senyawa glukosinolat yang jumlahnya makin meningkat sejalan dengan tingginya biodiversitas vegetasi. Senyawa ini merupakan senyawa beracun bagi patogen, sehingga tumbuhan yang dibudidayakan dengan pola monokultur menjadi rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu agar tanah tetap memiliki kandungan senyawa glukosinolat yang memadai serta tetap memelihara kondisi rhizosfir yang dinamis perlu dilakukan pergiliran tanaman varietas lokal setelah beberapa rotasi tanaman.Abstract. Similar to human, plants also develop a communication system to achieve their prosperity. Plants utilize chemical compounds of their root exudates as the “languange”. Plants are the initiator of communications, since they define the purposes of building communication. Root exudates are released either to attract or to demenish the soil microbes target as an “invitation letter” to some microbes. To build a mycorrhizal association, for examples, plants issue sugars, amino acids and strygolactones to the rhizosphere. Fungi will reply the invitation by secreting flavonoid compounds that determine host-mycorrhizal specifications. The presence of flavonoids is another invitation to rhizobia to establish association in legume rhizosphere. Plants will select attracted bacteria to build the most host-specific rhizobium association by secreting canavanine compounds that are toxic to non-target rhizobia. Occasionally, an error happened in issuing invitation. When plant release strygolactone in a very low dosages, it will be failure to build mycorrhizal associations otherwise pathogen colonizations, although plants produce either phytoantisipine to prevent pathogens infection or phytoalexin to counter infected pathogens. Communication among roots of neighboring plants is conducted by producing allellopathy compound to limit root growth of the competitors. Invasive plants or weeds generally also produce catechine compounds over the allellophaty that will eliminate soil beneficial microbes of the indigenous plants. As a result, the native plants will be vulnerable to disease and lead to distinct. Responding to the presence of neighboring roots, plants also produce glucosinolate compounds. Glucocynolate consentration will be increased in line with the richness of vegetation biodiversity. These compounds are toxic to the pathogen, which is why plants cultivated in monoculture become more susceptible to disease. Furthermore, to improve soil glucocynolate and to manage the dynamics in the rhizosphere, need to a shift cultivation after several rotations of a commodity with the local varieties