Jurnal Komunikasi Pembangunan
Not a member yet
253 research outputs found
Sort by
Perbedaan Persepsi Efektifitas Pesan Lingkungan Berdasarkan Tipe Framing Pesan, Karakterisik Sosiodemografis, dan Psikografis
Menyampaikan pesan-pesan mengenai krisis lingkungan memiliki tantangan karena pesan lingkungan dianggap kompleks, karena menyertakan fakta-fakta ilmiah yang tidak bisa dipahami secara mudah. Komunikasi mengenai pesan-pesan lingkungan dapat dilakukan oleh ekowisata, yang merupakan salah satu simbol komunikasi lingkungan dimana pengunjung dan penduduk sekitar bisa langsung menyaksikan kegiatan konservasi alam sebagai bentuk edukasi mengenai krisis lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisi perbedaan persepsi efektifitas pesan berdasar karakter sosiodemografis, psikografis, dan tipe framing. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Responden penelitian ini adalah 45 orang wisatawan yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan persepsi efektifitas pesan hanya dapat dilihat berdasar karakteriistik psikografis, dan tidak ada perbedaan baik dari karakteristik sosiodemografis dan tipe framing pesan. Dapat disimpulkan bahwa dalam perancangan pesan lingkungan di ekowisata perlu ada pertimbangan karakteristik psikografis melalui segmentasi khalayak dan adanya pesan khusus bagi segmentasi psikografis.Penelitian ini bertujuan membuat konsep pengembangan kawasan Jamblang menjadi destinasi wisata terpadu dengan menganalisis potensi lokal berupa sejarah, sosial, dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan melakukan pemetaan potensi dan sosial. Pengumpulan data berupa studi dokumentasi dari Rancangan Peraturan Rencana Induk Pengembangan Wisata Kabupaten Cirebon dan Tata Ruang dan Tata Wilayah, observasi dan focus group discussion dari lintas stakeholder. Hasil penelitian menunjukan pengembangan kawasan wisata Jamblang dapat berupa gabungan atraksi wisata seperti desa wisata, seni dan budaya, wisata kuliner dan wisata tiga agama. Kekuatan narasi dibangun untuk mengemas Kota Tua Jamblang yang memiliki kaitan sejarah budaya, serta kreatifitas masyarakat dalam bentuk ekonomi kreatif. Strategi pembangunan pariwisata didasari pada teori sistem dari Talcott Parsons yaitu: (1) adaptasi sosial ekonomi masyarakat sebagai desa wisata meliputi atraksi, amenitas serta kesiapan masyarakat yang awalnya buta wisata; (2) Pencapaian tujuan pengembangan pariwisata berbasis kawasan adalah fokus pada arah visi dan misi pembangunan Kabupaten Cirebon yakni terwujudnya kabupaten cirebon sebagai destinasi pariwisata yang agamis, berbudaya, berdaya saing dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. (3) Integrasi antar sektor adalah berbagi peran pada para stakeholder serta peran pemimpin daerah yang visioner menjadi penentu keberhasilan setiap unsur bekerja bersama. (4) Pengelolaan pola laten upaya pembangunan pariwisata berbasis kawasan berupa nilai dan norma masyarakat serta undang-undang yang berlaku di Kabupaten Cirebon.
STRATEGI KOMUNIKASI PEMERINTAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DALAM UPAYA PENGEMBANGAN UMKM BATIK UNTUK PENINGKATAN DAYA SAING DI PASAR GLOBAL
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang diterapkan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam mengembangkan UMKM batik melalui pendekatan governmental branding. Konsep governmental branding yang digunakan dalam penelitian ini mencakup aspek identitas kolektif, komunikasi strategis, dan kebijakan pendukung. Identitas kolektif menyoroti pentingnya menjaga nilai budaya lokal, sementara komunikasi strategis mencakup kampanye pemasaran dan pemanfaatan media digital. Kebijakan pendukung, seperti akses permodalan dan perlindungan hak kekayaan intelektual, untuk mendukung keberlanjutan program. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui obeservasi serta wawancara dengan pihak terkait, seperti UMKM batik dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi governmental branding yang diterapkan Pemerintah DIY mampu memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat batik dunia. Program seperti Jogja International Batik Biennale (JIBB) dan kampanye digital kolaboratif dengan platform seperti TikTok dan Tokopedia meningkatkan eksposur dan daya saing global UMKM batik. Selain itu, dukungan kebijakan terkait sertifikasi SNI dan perlindungan hak kekayaan intelektual memberikan jaminan kualitas dan memperluas pasar batik Yogyakarta ke tingkat internasional.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang diterapkan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik melalui pendekatan governmental branding. Konsep governmental branding yang digunakan dalam penelitian ini mencakup aspek identitas kolektif, komunikasi strategis, dan kebijakan pendukung. Identitas kolektif menyoroti pentingnya menjaga nilai budaya lokal, sementara komunikasi strategis mencakup kampanye pemasaran dan pemanfaatan media digital. Kebijakan pendukung, seperti akses permodalan dan perlindungan hak kekayaan intelektual, untuk mendukung keberlanjutan program. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui obeservasi serta wawancara dengan pihak terkait, seperti UMKM batik dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi governmental branding yang diterapkan Pemerintah DIY mampu memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat batik dunia. Program seperti Jogja International Batik Biennale (JIBB) dan kampanye digital kolaboratif dengan platform seperti TikTok dan Tokopedia meningkatkan paparan dan daya saing global UMKM batik. Selain itu, dukungan kebijakan terkait sertifikasi SNI dan perlindungan hak kekayaan intelektual memberikan jaminan kualitas dan memperluas pasar batik Yogyakarta ke tingkat internasional
Manajemen Humas Dalam Pembuatan Video Safety Briefing Laboratorium Sekolah Menengah Kejuruan: Public Relations Management in Making Vocational High School Laboratory Safety Briefing Videos
Video safety briefing diperlukan guna keamanan dan keselamatan pengguna laboratorium sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses manajemen humas dalam pembuatan video safety briefing yang tepat. Teori yang digunakan untuk menganalisis yakni teori manajemen humas. Pendekatan dan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian yaitu tahapan fact finding peneliti mendapat kendala dari sekolah bahwa banyak siswa yang belum memahami SOP penggunaan laboratorium. Selanjutnya tahap planning, peneliti dan tim membuat rencana video safety briefing sesuai kebutuhan berdasarkan hasil wawancara dan obeservasi. Tahap communication, peneliti mengomunikasikan hasil dari tahap dua ke dalam bentuk story board dan script. Tahap akhir evaluasi dari pihak sekolah sesuai dengan isi video dan menggunakannya pada lab sekolah. Selain itu setelah digunakan video safety briefing ini, akan dilihat dampaknya terhadap pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap safety briefing. Simpulan dari penelitian ini yaitu dengan adanya manajemen humas kegiatan pembuatan video safety briefing menjadi tepat, terarah, terencana dan tepat sasaran sebagai media komunikasi dan informasi
Interpersonal Communication in Mentoring Changes in Community Behavior in The Program Keluarga Harapan (PKH)
Desa Sukamarga di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat menjadi salah satu lokasi implementasi PKH. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima melalui pendekatan yang holistik. Namun, dalam upaya mencapai perubahan perilaku masyarakat penerima PKH, aspek komunikasi interpersonal yang mempengaruhi efektivitas dan keberlanjutan program ini belum banyak diteliti. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tentang komunikasi interpersonal pendamping PKH terhadap perubahan perilaku keluarga penerima PKH di Desa Sukamarga Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat dan untuk mengetahui tentang perubahan perilaku keluarga penerima PKH. Sesudah adanya pendampingan PKH. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini para pendamping PKH dan penerima PKH. Teknik pengumpulan data menggunakan, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik sebuah kesimpulan yaitu Pertama, Pendamping PKH membantu perubahan positif masyarakat penerima manfaat dengan empati, panduan, dan dukungan, membangun kepercayaan dan komunikasi terbuka yang merupakan ciri-ciri komunikasi interpersonal, Kedua, Pendampingan yang sudah dilakukan telah dapat merubah perilaku penerima PKH.Sukamarga Village in Suoh District, West Lampung Regency, is where the PKH program was implemented. This program aims to improve beneficiaries’ welfare through a holistic approach. However, to achieve changes in the behavior of PKH recipient communities, aspects of interpersonal communication that influence the effectiveness and success of this program are yet to be widely researched. The research problem formulated in this study is how the interpersonal communication of PKH facilitators influences changes in the behavior of PKH beneficiary families, and how the behavior of PKH beneficiary families in Sukamarga Village changes after receiving PKH. This research aims to understand the interpersonal communication of PKH facilitators regarding changes in the behavior of families who receive PKH benefits in Sukamarga Village after PKH assistance. This type of research used qualitative field research. The data sources were PKH companions and recipients. Data collection techniques included observations, interviews, and documentation. Conclusions can be drawn: First, PKH facilitators help create positive changes in beneficiary communities with empathy, guidance, and support, building trust and open communication, which are the characteristics of interpersonal communication. Second, the assistance provided was able to change the behavior of PKH recipients
Instagram Sebagai Media Komunikasi Pembangunan Pemerintah: Studi Pemenang Penghargaan Pembangunan Daerah Tahun 2022
Pemerintah Provinsi (PemProv) Jawa Barat meraih predikat pertama Penghargaan Pembangunan Daerah tahun 2022. Pada pelaksanaan pembangunan, lembaga pemerintahan ini aktif memanfaatkan media sosial Instagram sebagai media komunikasi pembangunan. PemProv Jawa Barat memiliki akun Instagram bernama @jabarprovgoid dengan 62.1K follower dan 6,839 postingan. Fokus penelitian ini membahas pemanfaatan Instagram sebagai media komunikasi pembangunan mencakup strategi, jenis konten yang diposting serta dampaknya terhadap partisipasi masyarakat dalam mencapai tujuan pembangunan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi yang menggunakan unit analisis postingan akun @jabarprovgoid tahun 2022. Postingan dipilih berdasarkan postingan yang paling banyak mendapat perhatian publik baik dari jumlah like ataupun komentar dari follower. Serta, konten yang memuat pesan penunjang pembangunan. Data yang didapatkan diberikan kategorisasi, kemudian direduksi, dianalisis, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan, lalu disajikan dalam bentuk tabel dan deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan Instagram oleh PemProv Jawa Barat sebagai media komunikasi yaitu untuk menyebarkan informasi umum, rencana, pelaksanaan, capaian program pembangunan, meningkatkan partisipasi masyarakat, promosi inovasi program berkelanjutan, serta untuk pengembangan citra dan reputasi pemerintah. PemProv Jawa Barat menerapkan strategi PCSD dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dengan memunculkan kebutuhan, permasalahan praktis dalam bentuk desain pesan visual yang menciptakan tema untuk didiskusikan sesuai dengan prinsip media komunikasi.The West Java Provincial Government won the first Regional Development Award in 2022. In the implementation of development, this government agency actively utilizes Instagram social media as a medium for development communication. West Java Provincial Government has an Instagram account called @jabarprovgoid with 62.1K followers and 6,839 posts. The focus of this research discusses the utilization of Instagram as a development communication media including strategies, types of content posted, and its impact on community participation in achieving development goals. This research is a type of descriptive qualitative research with a content analysis method that uses the unit of analysis of @jabarprovgoid account posts in 2022. Posts were selected based on posts that received the most public attention either from the number of likes or comments from followers. As well as, content that contains messages supporting development. The data obtained is given categorization, then reduced, analyzed, then conclusions are drawn, then presented in the form of tables and descriptions. The results showed that the West Java Provincial Government\u27s use of Instagram as a communication media is to disseminate general information, plans, implementation, and achievements of development programs, increase public participation, promotion of sustainable program innovations, and develop the government\u27s image and reputation. The West Java Provincial Government applies the PCSD strategy to increasing community participation by raising needs, and practical problems in the form of visual message designs that create themes to be discussed by the principles of communication media
Model Kampanye ‘FCTC untuk Indonesia’ dalam Mendukung Aksesi Framework Convention of Tobacco Control dari World Health Organization
Angka perokok di Indonesia saat ini masih tinggi termasuk perokok anak. Pada tahun 2019 Indonesia menempati angka perokok anak tertinggi kedua di dunia. Penyebab tingginya angka perokok anak yaitu semakin meningkatnya promosi rokok terutama melalui internet yang dapat dijangkau oleh anak. Meskipun pemerintah sudah menerapkan berbagai kebijakan dalam upaya menurunkan angka perokok, namun angka perokok Indonesia masih belum memenuhi angka target perokok anak dari 9,1% menjadi 8,7% pada RPJMN 2024. Meskipun demikian Indonesia merupakan negara satu-satunya yang belum mengaksesi perjanjian internasional Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang diselenggarakan WHO sebagai upaya pengendalian tembakau. Sehingga hal ini mendorong Yayasan Lentera Anak membentuk kampanye ‘FCTC untuk Indonesia’ sebagai upaya menggalang dukungan masyarakat untuk mendorong pemerintahan Indonesia agar segera mengaksesi FCTC. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui model kampanye ‘FCTC untuk Indonesia’ dalam mendukung FCTC dari WHO. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara dengan menggunakan model kampanye Nowak dan Warneryd. Hasil penelitian menunjukan model kampanye dari kampanye ‘FCTC untuk Indonesia’ memiliki delapan elemen yaitu masalah, tujuan yang ingin dicapai, khalayak penerima, media kampanye, pesan kampanye, kredibilitas kampanye, hasil dan dampak
Konsep Pengembangan Kawasan Wisata Jamblang Sebagai Destinasi Unggulan Kabupaten Cirebon dalam Perspektif Teori Sistem Talcott Parsons
Penelitian ini bertujuan membuat konsep pengembangan kawasan Jamblang menjadi destinasi wisata terpadu dengan menganalisis potensi lokal berupa sejarah, sosial, dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan melakukan pemetaan potensi dan sosial. Pengumpulan data berupa studi dokumentasi dari Rancangan Peraturan Rencana Induk Pengembangan Wisata Kabupaten Cirebon dan Tata Ruang dan Tata Wilayah, observasi dan focus group discussion dari lintas stakeholder. Hasil penelitian menunjukan pengembangan kawasan wisata Jamblang dapat berupa gabungan atraksi wisata seperti desa wisata, seni dan budaya, wisata kuliner dan wisata tiga agama. Kekuatan narasi dibangun untuk mengemas Kota Tua Jamblang yang memiliki kaitan sejarah budaya, serta kreatifitas masyarakat dalam bentuk ekonomi kreatif. Strategi pembangunan pariwisata didasari pada teori sistem dari Talcott Parsons yaitu: (1) adaptasi sosial ekonomi masyarakat sebagai desa wisata meliputi atraksi, amenitas serta kesiapan masyarakat yang awalnya buta wisata; (2) Pencapaian tujuan pengembangan pariwisata berbasis kawasan adalah fokus pada arah visi dan misi pembangunan Kabupaten Cirebon yakni terwujudnya kabupaten cirebon sebagai destinasi pariwisata yang agamis, berbudaya, berdaya saing dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. (3) Integrasi antar sektor adalah berbagi peran pada para stakeholder serta peran pemimpin daerah yang visioner menjadi penentu keberhasilan setiap unsur bekerja bersama. (4) Pengelolaan pola laten upaya pembangunan pariwisata berbasis kawasan berupa nilai dan norma masyarakat serta undang-undang yang berlaku di Kabupaten Cirebon
Komunikasi Pokdarwis dalam Pengimplementasian Program Pengembangan Pariwisata pada Masyarakat Cirendeu Cimahi Jawa Barat : Pokdarwis Communications In Program Implementation Of Tourism Development In The Cirendeu Community Cimahi West Java
Pokdarwis sebagai salah satu bagian dari pemangku kepentingan masyarakat, berperan strategis untuk pengembangan dan pengelolaan potensi wisata baik alam dan budaya pada daerah wisata untuk terciptanya tujuan wisata yang dapat memberikan manfaat khususnya di Desa Cireundeu Kota Cimahi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana metode komunikasi yang dilakukan pokdarwis kepada masyarakat dan bagaimana hambatan komunikasi Pokdarwis kepada masyarakat dalam menjalankan program pengembangan pariwisata. Analisis ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan observasi dan wawancara mendalam kepada informan, yang terdiri dari ketua dan anggota pokdarwis dan masyarakat desa Cireundeu, kemudian melakukan analisis deskriptif. Hasil penelitian menyatakan sudah terjalinnya komunikasi antara ketua pokdarwis dan anggota pokdarwis, komunikasi pokdarwis dengan tokoh masyarakat, komunikasi pokdarwis langsung dengan masyarakat untuk pengimplementasian program kerja dengan berbagai pertemuan secara formal maupun informal melalui media teknologi daring maupun secara langsung, namun program dapat terimplementasikan secara menyeluruh apabila adanya umpan balik yang sesuai dengan arahan komunikator, namun hambatan terjadi tidak hanya dari sisi internal tetapi juga hambatan muncul dari sisi eksternal yang mengharuskan hambatan tersebut perlu dengan dukungan dari eksternal. Rekomendasi yang diberikan peneliti ialah proses komunikasi yang menjadi penghambat untuk pengimplementasian program perlu adanya campur tangan dari pihak eksternal dalam hal ini adalah pemerintah agar komunikasi masyarakat dengan pokdarwis dapat berjalan sesuai visi misi dari pokdarwis.Pokdarwis as a part of community stakeholders, The community as strategic role development and management of natural and cultural potential in tourist areas to create tourist destinations, especially in Cireundeu Village, located in Cimahi Jawa Barat. Research objective is to find out how the method of communication between Pokdarwis to community and findout the obstacles of communication in running its tourism development program This analysis uses a qualitative method by conducting observations and interviews with informants, consisted from chairperson and member of Pokdarwis and community and using descriptive analysis. The results of the study stated that there had been communication between the Pokdarwis chairperson and Pokdariwis members, Pokdarwis communication with community leaders, for implementing work programs with various formal and informal meetings through online technology media or directly, but the program can be implemented thoroughly if the existence of feedback that is in accordance with the communicator\u27s procession, obstacles occur not only from internal side but obstacles arise from external side which requires obstacles need to be resolved with external support. The recommendation given by researcher about communication process is an obstacle to implementing programs, also need intervention from external parties (Government) to communicate with Pokdarwis can run according to the vision and mission of Pokdarwis
Media Exposure and Its Impact on Women\u27s Knowledge in Family Planning Program in Indonesia: Pengaruh Keterdedahan Media terhadap Pengetahuan Wanita Usia Subur dalam Program Keluarga Berencana di Indonesia
Pemanfaatan media komunikasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dapat menjadi upaya strategis dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai keluarga berencana (KB) sebagai salah satu program pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat keterdedahan media terhadap peningkatan pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) mengenai KB khususnya dalam hal penggunaan alat kontrasepsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam menganalisis data sekunder yang bersumber dari hasil Survey Kinerja dan Akuntabilitas Program (SKAP) BKKBN Tahun 2019. Analisis statistik inferensia dilakukan untuk melihat pengaruh antar variabel melalui uji regresi linear. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 59.982 WUS yang berasal dari 34 provinsi dan 514 kota/kabupaten di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterdedahan media berpengaruh secara positif pada peningkatan pengetahuan WUS tentang KB. Adapun tingkat keterdedahan media juga dipengaruhi oleh karakteristik WUS seperti umur, pendidikan dan tingkat kekayaanUtilization of the mass media as a source of development information is a strategic way to ensure the success of the Family Planning (KB) program in Indonesia. Therefore, access to information on family planning and contraceptive use is an important factor in increasing knowledge of the society. This study aims to examine the correlation between the level of exposure of the mass media and the level of knowledge of women about modern contraceptives. By utilizing secondary data sourced from National Population and Family Planning Agency (BKKBN) that so called “Survey Kinerja dan Akuntabilitas Program” in the year 2019, this study also conducted an inferential statistical test through a linear regression test to see the effect between variables. The respondents in this study were Women of Childbearing Age, accounted for 59,982 women, which was the result of data collection from 34 provinces and 514 cities/districts in Indonesia. The results of this study showed that the level of media exposure had a positive effect on increasing women knowledge about family planning. The media exposure level is also influenced by characteristic of women regarding age, education and level of wealth
Women Empowerment in Shadow Puppetry: Gender Equality Efforts by Women Dalangs in Indonesia
In wayang kulit (shadow puppetry), the position of dalang or puppeteer is very crucial. Dalang is the show director, writer, narrator, musician, and not infrequently singer. Public preference and media exposure for women dalangs are, unfortunately, still lacking, thus affecting their future compared to those of men dalangs. Negative assumptions, such as that women dalangs are less exciting and not supposed to be dalangs, also contribute to the problem. This study attempts to highlight how women dalangs empower themselves so they can be considered equal as men dalangs, using the Three-Dimensional Model of Women Empowerment by Huis et al. This study was conducted using qualitative method with critical ethnography design, by interviewing 4 women dalangs and 2 men dalangs in the city of Solo, Central Java, and Jogjakarta. The result of this study shows that women dalangs are still facing difficulties in showmanship, especially in technical skills. They also need more collaboration with wayang communities to develop their career and existence. Furthermore, show varieties and a strong storytelling also become two important factors to differentiate them from men dalangs. These findings provide insight into the situation in Indonesia’s wayang kulit industry, with implications for gender equality and women empowerment.Profesi dalang dalam pertunjukan wayang kulit sangatlah krusial. Para dalang adalah sutradara, penulis skenario, narator, musisi, bahkan tak jarang juga sebagai penyanyi. Preferensi publik dan liputan media untuk dalang perempuan sayangnya kurang sehingga memengaruhi eksistensi mereka bila dibandingkan dengan dalang pria. Asumsi negatif, seperti wayang perempuan kurang menarik dan perempuan semestinya tidak boleh menjadi dalang, juga berkontribusi terhadap masalah yang mereka hadapi. Penelitian ini mencoba untuk menyoroti kiprah dalang perempuan untuk memberdayakan diri sehingga punya kesempatan untuk lebih berkembang, memakai Three-Dimensional Model of Women Empowerment yang ditawarkan oleh Huis et al.. Metode kualitatif dengan rancangan etnografi kritis dipilih untuk penelitian ini, dengan narasumber 4 dalang perempuan dan 2 dalang pria yang berasal dari Solo dan Jogjakarta. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa dalang perempuan masih banyak mengalami kesulitan terutama dalam teknik pertunjukan. Selain itu, mereka juga perlu berkolaborasi dengan komunitas wayang agar dapat ikut maju dan eksis. Lebih jauh, variasi pertunjukan dan narasi cerita yang khas juga menjadi faktor yang menentukan untuk membedakan mereka dengan dalang pria. Temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas pada situasi dalam industri wayang Indonesia, dengan implikasi pada kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan