Muria Kudus University

Repositori Universitas Muria Kudus
Not a member yet
    22509 research outputs found

    Mengatasi kurang percaya diri siswa melalui bimbingan kelompok dengan teknik operant conditioning pada siswa kelas xi tkr di smk nu ma’arif kudus

    No full text
    Percaya diri adalah kemampuan dalam menyakinkan diri pada kemampuan yang kita miliki atau kemampuan untuk mengembangkan penilaian positif baik untuk diri sendiri ataupun lingkungan sekitar. Tujuan penelitian ini adalah 1. Menganalisa penerapan bimbingan kelompok dengan teknik operant conditioning dalam mengatasi kurang percaya diri siswa. 2. Menganalisa faktor yang menyebabkan siswa kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMK NU Ma’arif Kudus kurang percaya diri sehingga kesulitan dalam mempelajari materi ditinjau dari faktor internal dan ekternal peserta didik. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Subjek yang diteliti adalah siswa SMK NU Ma’arif Kudus, sebanyak 5 siswa yang mengalami kurang percaya diri. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Hasil penelitian diketahui sebelum pemberian bimbingan kelompok teknik operant conditioning, kondisi kurang percaya diri siswa pada pra siklus memperoleh skor rata-rata yang masih sangat kurang, hal ini terbukti dari hasil pra siklus diperoleh rata-rata 32,8 dengan kategori sangat kurang. Sedangkan pada siklus I memperoleh skor rata-rata 51,2 dengan kategori kurang. Pada siklus II memperoleh skor 80,6 dengan kategori sangat baik. Sehingga mengalami peningkatan 29,4 skor dari siklus I ke II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka hipotesis tindakan yang berbunyi: (1) Peserta didik dapat meningkatkan percaya diri setelah diberikan layanan bimbingan kelompok teknik operant conditioning . (2) Skor hasil pada penilaian aspek-aspek kurang percaya diri mencapai skor 73 dalam kategori baik. Simpulan yang disampaikan peneliti yaitu Layanan bimbingan kelompok teknik operant conditioning dapat meningkatkan kepercayaan diri pada siswa SMK NU Ma'arif Kudus. Hal ini terbukti setelah diberi layanan bimbingan kelompok ix x teknik operant conditioning siklus 1 memperoleh skor penilaian terhadap peneliti sebesar 51,2 dengan kategori kurang, dan pada siklus 2 diperoleh skor penilaian terhadap peneliti sebesar 80,6 dengan kategori sangat baik . jadi, kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan teknik operant conditioning yang dilakukan peneliti meningkatkan sebanyak 29,4 skor dari siklus 1 ke siklus 2

    Pengaruh bimbingan kelompok teknik experiential learning terhadap peningkatan self-efficacy siswa di sman 1 gebog

    No full text
    Self Efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti memecahkan masalah dalam menyelesaikan tugas. Siswa yang memiliki self efficacy yang tinggi lebih mampu menguasai berbagai kegiatan belajar dan mengendalikan teknik belajarnya sendiri, sehingga prestasi akademik akan bisa diraih. Strategi experiential learning dapat mendorong siswa untuk menyelidiki prinsip-prinsip etika dan kemampuan praktis yang diperoleh dari pengalaman nyata, yang selanjutnya dapat disusun dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh Bimbingan Kelompok teknik Experiential Learning terhadap peningkatan efikasi diri siswa di SMAN 1 Gebog. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan metode quasi experimen design one group pretest dan posttest. Subjek penelitian ini adalah 8 siswa kelas XI F1 yang telah memperoleh hasil pretest dengan efikasi diri yg rendah lalu dibutuhkan treatment untuk mengetahui peningkatan efikasi diri siswa melalui bimbingan kelompok teknik experiential Learning. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum dilakukannya bimbingan kelompok dengan teknik experiential Learning (pretest) keadaan self efficacy siswa cenderung rendah dengan rata-rata 55,5 dan setelah diberikan bimbingan kelompok dengan teknik experiential Learning (posttest) self efficacy siswa mengalami peningkatan yang signifikan dengan rata-rata 83,875. Dari hasil uji hipotesis yang diperoleh terdapat perbedaan yang signifikan mengenai self efficacy siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik experiential Learning, dengan signifikan 0,012. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik experiential Learning dapat untuk meningkatkan self efficacy sisw

    Analisis pola asuh otoriter orangtua pekerja buruh pabrik sepatu dalam pembentukan karakter kemandirian anak di desa pecangaan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orangtua pekerja buruh pabrik sepatu dalam pembentukan karakter kemandirian anak di Desa Pecangaan. Pola asuh orangtua memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan kepribadian anak, terutama dalam membangun kemandirian mereka. Orangtua dengan pola asuh otoriter cenderung menetapkan aturan yang ketat, mengontrol anak secara penuh, dan menuntut kepatuhan tanpa banyak memberi kebebasan dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan karakter anak, baik dalam aspek positif maupun negatif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Responden dalam penelitian ini adalah orangtua pekerja buruh pabrik serta anak usia 9–12 tahun yang tinggal di Desa Pecangaan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif untuk memahami bagaimana pola asuh otoriter memengaruhi kemandirian anak dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter cenderung mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan sendiri dan kurang percaya diri. Mereka lebih bergantung pada instruksi dari orangtua dan kurang memiliki inisiatif dalam menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari. Namun, dalam beberapa kasus, pola asuh ini juga membantu anak menjadi lebih disiplin dan terbiasa mengikuti aturan dengan baik. Faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter kemandirian anak meliputi lingkungan keluarga, tingkat pendidikan orangtua, serta kondisi sosial ekonomi. Orangtua yang sibuk bekerja cenderung memiliki keterbatasan waktu dalam mendidik anak secara langsung, sehingga pengasuhan lebih banyak diserahkan kepada anggota keluarga lain atau bahkan dibiarkan tanpa pengawasan yang cukup. Hal ini dapat menyebabkan anak mengalami hambatan dalam mengembangkan sikap mandiri. Penelitian ini merekomendasikan agar orangtua mengadopsi pola asuh yang lebih seimbang, dengan memberikan batasan yang jelas tetapi tetap memberi ruang bagi anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri. Selain itu, dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk sekolah dan masyarakat, sangat diperlukan untuk membantu anak mengembangkan kemandirian secara optimal

    Analisis kemandirian belajar melalui pola belajar pada siswa berstatus anak tunggal kelas v sdn purwokerto 01 pati materi pantun

    No full text
    Kemandirian belajar merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi keberhasilan akademik siswa di sekolah dasar. Siswa berstatus anak tunggal seringkali memiliki pola belajar yang berbeda dengan siswa yang memiliki saudara, karena mereka cenderung lebih bergantung pada orang tua dan kurang terbiasa dengan interaksi sosial dalam konteks belajar. Di SDN Purwokerto 01, meskipun materi pantun telah diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, belum ada penelitian yang mengkaji hubungan antara pola belajar dan kemandirian belajar siswa anak tunggal, terutama dalam konteks materi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola belajar siswa anak tunggal di kelas V SDN Purwokerto 01 dalam mempelajari materi pantun serta mengidentifikasi sejauh mana pola belajar tersebut dapat meningkatkan kemandirian belajar mereka. Dengan menganalisis pola belajar siswa yang memiliki status anak tunggal, diharapkan dapat ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi cara siswa belajar dan kemandirian mereka dalam mengakses serta memahami materi pelajaran, khususnya pantun, yang termasuk dalam kurikulum Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Peneliti melakukan observasi, wawancara mendalam, dan pengumpulan data dokumentasi di SDN Purwokerto 01, khususnya pada siswa kelas V yang berstatus anak tunggal. Informan dalam penelitian ini adalah 7 orang siswa. Berdasarkan temuan penelitian yang didapatkan beberapa karakteristik kemandirian dan pola belajar diantaranya adalah kesiapan belajar siswa, cara siswa mengikuti Pelajaran, kemampuan siswa untuk memahami masalah, dan kemampuan siswa untuk mengandalkan dirinya sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola belajar yang diterapkan oleh siswa di SDN 01 Purwokerto adalah pola belajar terbimbing. Pola belajar mandiri juga digunakan, dimana siswa belajar secara kelompok. Beberapa kendala yang dialami siswa dalam tingkat kemandirian adalah (1) kesibukan orang tua, (2) sikap memanjakan anak, (3) kurangnya kemampuan anak dalam beradaptasi, (4) rendahnya kesadaran diri siswa

    Analisis gaya belajar pada siswa kelas iv dalam pembelajaran di sekolah dasar negeri 1 purwosari kabupaten kudus

    No full text
    Pada proses kegiatan belajar mengajar khususnya di sekolah dasar, mengalami banyak keberagaman. Hal ini jelas terlihat saat kegiatan observasi keberagaman terjadi karena banyaknya gaya belajar yang menjadi karakteristik bagi siswa dalam belajar. Gaya belajar adalah cara yang digunakan seseorang untuk menerima informansi dan mengolahnya agar sesuai dengan tujuan pembelaajran dan mampu belajar dengan lebih efektif. Jenis gaya belajar yang ditemui dalam pembelajaran di sekolah dasar adalah gaya belajar visual, auditori, kinestetik, dan campuran. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis gaya belajar dalam pembelajaran di kelas IV SD N I Purwosari Kabupaten Kudus. Analisis gaya belajar didasarkan pada pembahasan potret, strategi, dan factor dalam belajar di kelas. Analisis pertama, gaya belajar visual adalah gaya belajar yang dilakukan dengan melihat gambar, diagram, dan video. Kedua, gaya belajar auditori adalah gaya belajar yang dilakukan dengan suara seperti pada penjelasan guru, diskusi, dan rekaman suara. Ketiga, gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar dengan gerakan dan pengalaman langsung seperti pada permainan. Keempat, gaya belajar campuran adalah gaya belajar yang memadukan tiga gaya belajar utama yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif tipe studi kasus yang dilaksanakan di kelas IV SD N I Purwosari Kabupaten Kudus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara kepada lima informan yang memiliki gaya belajar yang sesuai dengan kriteria dan analisis assessment awal pembelajaran. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa terdapat gaya belajar yang berbeda-beda dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar. Analisis tersebut didasarkan pada potret dan gambaran gaya belajar dan strategi gaya belajar dalam pembelajaran. Hasil analisis dapat digunakan oleh guru, siswa dan sekolah dalam meningkatkan pembelajaran di kelas. Dengan solusi yang dijelaskan dalam penelitian, mampu menerapkan inovasi dan kreatifitas dalam penggunaan media, penilaian, dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dalam pembelajaran menyima

    Hubungan kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dengan loyalitas anggota organisasi non profit

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dengan loyalitas anggota pada organisasi non-profit. Subjek penelitian terdiri dari 63 anggota organisasi non-profit di Kabupaten Kudus yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala loyalitas kerja (40 aitem), skala kepemimpinan transformasional (40 aitem), dan skala budaya organisasi (40 aitem). Analisis data dilakukan dengan uji asumsi dan uji hipotesis menggunakan analisis regresi dua prediktor serta korelasi product moment dengan bantuan software IBM SPSS Statistics 15. Hasil uji hipotesis mayor menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dengan loyalitas kerja, dengan nilai signifikansi p < 0,01 dan koefisien korelasi (R) sebesar 0,754. Hasil uji hipotesis minor menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki hubungan positif yang signifikan dengan loyalitas kerja (p < 0,01; R = 0,416), sementara budaya organisasi juga memiliki hubungan positif yang signifikan dengan loyalitas kerja (p < 0,01; R = 0,525). Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi memainkan peran penting dalam meningkatkan loyalitas anggota pada organisasi non-profit. Dengan demikian, organisasi non-profit disarankan untuk menerapkan kepemimpinan yang inspiratif dan membangun budaya organisasi yang kuat guna meningkatkan loyalitas anggota

    Kajian feminisme dalam novel digital wonder woman rush karya septiana nugraheni

    No full text
    uda, Lailul. 2025. Kajian Feminisme dalam Novel Digital Wonder Woman Rush karya Septiana Nugraheni. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus. Dosen Pembimbing (1) Dr. Ahmad Hariyadi, M.Pd. (2) Dr. Ristiyani, M.Pd. Isu feminisme kerap kali menjadi topik yang disuarakan dalam dunia sastra. Salah satunya yaitu sebuah sastra novel digital berjudul Wonder Woman Rush karya Septiana Nugraheni yang dipublikasikan secara daring melalui kanal wattpad. Melalui penelitian ini, penulis bermaksud untuk menganalisis unsur intrinsik serta mengkaji aspek feminisme yang direpresentasikan oleh tokoh wanita dalam karya sastra ini. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penulis berupaya mengkaji novel digital berjudul Wonder Woman Rush ini sebagai subjek penelitiannya. Studi pustaka dengan teknik membaca, menyimak, dan mencatat digunakan untuk memperoleh serta menginterpretasikan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa feminisme menjadi tema utama yang ditonjolkan dalam novel ini. Dengan latar budaya patriarki, tokoh utama, Shafea, dipaksa menikah dan tunduk pada dominasi laki-laki, serta menghadapi dilema peran ganda, yakni memenuhi kodratnya sebagai ibu sekaligus mengejar ambisinya sebagai wanita karier. Karakternya yang tangguh dan mandiri mengarahkannya pada kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri serta keberanian melawan berbagai tekanan sosial terhadap perempuan. Perwatakan Shafea dapat dikategorikan dalam aliran feminisme liberal dan sosialis. Selain itu, aspek feminisme juga tercermin dalam karakter wanita lain, yaitu Vivian dan Furla, yang lebih dekat dengan aliran feminisme kultural. Keduanya digambarkan memiliki empati dan kepedulian tinggi dalam mendukung sesama perempuan agar tidak menyerah dalam memperjuangkan hak dan kebebasannya

    Evaluation of Information System Framework and Suitability of Technology Tasks on the Continuing Intention to Adopt E-Learning Systems

    No full text
    This research aims to propose an information system framework that explores the relationship between perceived suitability and adoption factors in e-learning systems. The evaluation framework is built on previous information system success models and identifies the relationship between people, organisations, and technology task suitability. This research introduces a new framework by combining the dimensions of service quality, satisfaction, user behavior, and system accuracy. A quantitative approach was chosen to produce data objectively, used a questionnaire survey and structural equation modeling to analyse 782 respondents consisting of 643 students and 139 active lecturers at a university in Central Java, Indonesia. The results show that the relationship between humans and technology significantly affects sustainability intentions and perceived impacts. Meanwhile, people and organisations demonstrate attitudes and skills that positively impact system adoption. The findings of the study confirm the validity of the use of the proposed e-learning website application assessment model. Information and service quality variables influence user satisfaction and system use. Organisational elements influence user satisfaction and benefit value with level of significant 0.05 . In addition, a methodology was found that integrates human factors, organisational environment and technology suitability to assess system satisfaction and effectiveness

    Digitalization of patient registration at upt. Puskesmas dersalam kudus through a web-based information system

    No full text
    Puskesmas merupakan instansi pemerintah yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan masyarakat dan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. UPT. Puskesmas Dersalam Kudus menghadapi tantangan berupa tingginya jumlah pasien setiap harinya yang sering kali menyebabkan antrian panjang. Hingga saat ini, proses pendaftaran pasien masih dilakukan secara konvensional, dimana pasien harus datang langsung untuk mendapatkan nomor antrian. Cara tersebut dinilai kurang efisien, terutama bagi pasien dengan kondisi kesehatan yang kurang baik, karena harus menunggu dalam waktu yang lama. Selain itu, data pendaftaran harus dirangkum secara manual ke dalam Microsoft Excel yang memakan waktu lama, terutama dalam pencarian data dan pelaporan. Hal tersebut membutuhkan suatu sistem informasi berbasis web yang dapat digunakan sebagai media pelayanan kesehatan secara online. Sistem ini dibangun dengan menggunakan bahasa pemrograman Hypertext Preprocessor (PHP) dan memanfaatkan basis data MySQL. Metode pengembangan yang digunakan adalah metode Waterfall, dengan perancangan sistem dilakukan dengan menggunakan Unified Modeling Language (UML) dan Entity Relationship Diagram (ERD). Pengujian sistem menggunakan metode Black Box dengan melakukan pengujian fungsionalitas terhadap program yang dibuat, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan solusi yang efektif untuk mengatasi permasalahan antrian panjang dan pengelolaan data sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan mutu pelayanan di UPT. Puskesmas Dersalam Kudu

    Implementasi rop (reorder point) dan klasifikasi abc (always better control) pada inventory obat di dinas kesehatan kabupaten kudus berbasis web

    No full text
    Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus berlokasi di Jl. Diponegoro No 15 Desa Ngaguk Kecamatan Kota Kabupaten Kudus, fungsi utama dari dinas kesehatan di wilayah adalah untuk memanajemen fasilitas kesehatan (faskes) yang berjalan di wikayah tersebut. Pada tahun 2023 terdaftar faskes yang tersebar ke suluruh wilayah kabupaten Kudus, yaitu Puskesmas terdapat 9 puskesmas. Pengadaan obat-obatan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kudus dalam satu waktu yaitu diawal tahun dengan sekema Dinas Kesehatan Kudus akan membuka open list order di dua bulan sebelumnya agar pihak admin farmasi dinas dapat membuat fix order kepada semua supplier obat – obatan. Proses pengadaan barang sudah menggunakan sistem yang terkomputerisasi akan tetapi sistem yang sudah berjalan belum dapat menganalisa terkait obat-obatan yang fast moving atau slow moving dalam permintaan obat keluar oleh faskes. Terkadang admin akan melakukan penambahan jumlah order obat-obatan kepada supplier dengan harapan dapat menyesuaikan kebutuhan lapangan akan tetapi terkadang terjadi over stok. ini penulis memberikan solusi yaitu penerapan metode ABC untuk mengkategorikan produk yang tergolong A,B atau C dan penerapan perhitungan ROP untuk pengedalian stok di gudang farmasi agar lebih stabil. Dengan adanya penerapan beberapa metode tersebut diharapkan agar Dinas Kesehatan Kudus fokusnya bidang farmasi tidak terjadi over stok dan mengetahui klasifikasi obat�obat berdasarkan permintaan obat-obat melalui faskesnya

    13,901

    full texts

    22,509

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repositori Universitas Muria Kudus
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇