POROS TEKNIK
Not a member yet
161 research outputs found
Sort by
SERVICE ACCURACY PADA PREVENTIVE AINTENANCE TERHADAP MECHANICAL AVAILABILITY UNIT OFF HIGHWAY TRUCK
Mechanical Avaibility (MA) merupakan perbandingan waktu ketersediaan alat dapat digunakansesuai dengan fungsinya terhadap total waktu yang tersedia untuk beroperasi. Faktoryang mempengaruhi Mechanical Avaibility (MA) dapat disebabkan oleh: (1) Dilakukankegiatan perbaikan dan (2) Kegiatan perawatan pencegahan. Lama alat tidak beroperasisesuai fungsinya disebut Downtime. Semakin tinggi Mechanical Avaibility (MA) berartisemakin kecil Downtime alat. Mechanical Avaibility (MA) yang tinggi tergantung pada faktorkehandalan alat, cara penggunaanya dan perawatanya. Dengan demikian perawatan alatmerupakan suatu faktor penting untuk mendapatkan Mechanical Avaibility (MA) yang tinggi.Berdasarkan permasalahan tersebut maka penulis melakukan analisa mengenai PengaruhService Accuracy Pada Preventive Maintenance (PM) Terhadap Mechanical Availability(MA) unit OHT pada PT. X Batu Licin, menggunakan regresi sederhana dengan memakaisoftware SPSS.Berdasarkan besarnya pengaruh yang diberikan Preventive Maintenance (PM) terhadapMechanical Availability (MA) tersebut, maka dapat diambil gambaran bahwa nilai PreventiveMaintenance (PM) tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadapMechanical Availability (MA). Hal tersebut apabila dilihat berdasarkan nilai t hitung sebesar0,475 dimana nilai tersebut lebih kecil dari nilai t tabel (0,475 < 1,984), dan nilai signifikanyang lebih besar dari 0,05 (0,636 > 0,05). Sehingga Ho di terima yang berarti bahwa tidakada hubungan secara linear antara Prventive Miantenance (MA) dengan MechanicalAvailability (MA)
KARAKTERISTIK ENDAPAN EMAS OROGENIK SEBAGAI SUMBER EMAS PLACER DI DAERAH WUMBUBANGKA, BOMBANA, SULAWESI TENGGARA
Penemuan endapan emas placer di Sungai Tahi Ite, Bombana (Harian Kompas, 18 Sep-tember 2008) cukup unik, karena di Indonesia tidak umum cebakan emas ditemukan pa-da batuan metamorf. Endapan ini diduga merupakan endapan emas orogenik karena daerah tersebut dikontrol oleh struktur yang sangat kuat dengan batuan samping berupa metamorf. Tujuan dari penelitian ini untuk memahami zona-zona ubahan, serta lebih lan-jut mengenai mineralisasi dan karakteristik endapan emas orogenik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode pemetaan permukaan dan penggabungan hasil analisa petro-grafi, mineragrafi, XRD, AAS (fire assay) serta inklusi fluida. Terdapat 4 (empat) tipe alte-rasi di lokasi penelitian yaitu (1) silisifikasi, (2) argilik (clay± silica), (3) klorit-karbonat dan (4) karbonisasi. Dari hasil AAS (fire assay) nilai emas tertinggi diperlihatkan pada sampel WB-02-C1 :2,52 ppm, WB-02-C2 : 1,06 ppm, WB-03: 0,94 ppm dan WB-04 : 1,31 ppm. Terdapat 3 generasi urat yang ada di lokasi penelitian di mana generasi pertama adalah urat yang sejajar foliasi, urat tipe ini terbentuk pada temperatur yaitu 221,9 oC. dengan nilai salinitas yaitu 7,17 wt,%NaCl ekuivalen. Sedangkan urat generasi kedua adalah urat kuarsa yang memotong foliasi, memiliki kandungan mineral sulfida yang cukup dominan serta memiliki kadar emas yang cukup potensi dibandingkan dengan urat generasi perta-ma, urat ini terbentuk pada temperatur 188,4 oC dengan salinitas antara 3,87 wt,%NaCl ekuivalen. Urat generasi ke tiga yaitu urat kalsit-kuarsa, merupakan fase akhir dari en-dapan emas orogenik yang ada di lokasi penelitian, terbentuk pada temperatur 138,2 oC. dan salinitas 1,91 wt.%NaCl ekuivalen. Urat kuarsa tersebut memiliki karakterisistik yang khas secara fisik yaitu masif, kadang kadang tersegmentasi dan sigmoidal. Endapan emas orogenik pada daerah penelitian ini berada pada zona transisi antara epizonal – mesozonal pada kedalaman kurang lebih 5-6 kilometer pada fasies green schist
ANALISIS KETERSEDIAAN AIR DAS ASAM-ASAM DENGAN MENGGUNAKAN DEBIT HASIL PERHITUNGAN METODE NRECA
Sungai Tabonio, S. Asam-Asam, Sungai Kintap terletak di Kabupaten Tanah Laut. Su-ngai Asam-Asam merupakan sungai induk dari beberapa sungai, diantaranya Sungai Katal-Katal dan Sungai Nahiyah. Ketersediaan air dihitung dengan Metode Debit Andalan. Data yang diperlukan untuk analisis ketersediaan air adalah data debit sungai bulanan atau harian dengan periode waktu lebih besar dari 10 tahun, dimana data ini tidak ada sehingga debit bulanan di-simulasikan berdasarkan data hujan dan data evapotranspirasi potensial pada daerah penelitian dengan bantuan model matematik hubungan hujan-limpasan. Model hubungan hujan-debit dengan interval bulanan yang digunakan adalah NRECA. Dari Metoda NRECA nantinya didapat Debit Andalan 80%, 85%, 90%, 95% dan 99%. Ketersediaan Air/Debit andalan DAS Asam-Asam menggunakan debit hasil perhitungan Metode NRECA menunjukan bahwa debit andalan 80% didapat rata-rata per tahun 12,364 m3/detik, dan 85% didapat rata-rata per tahun 9,962 m3/detik. Ketersediaan Air/Debit Andalan 90% didapat rata-rata per tahun 7,773 m3/detik. Dan bahkan pada saat ke-tersediaan air 95% didapat rata-rata per tahun 5,829 m3/detik, dan 99% didapat rata-rata per tahun 4,451 m3/detik
IDENTIFIKASI DAN PROBLEMATIKA PENGGUNAAN LAHAN LINGKUNGAN BANTARAN SUNGAI TERHADAP PERATURAN PEMERINTAH DAN DAERAH DI KOTA BANJARMASIN
Di Kota Banjarmasin dan sekitarnya umumnya merupakan tanah rawa, yang banyak dila-lui oleh sungai-sungai, sehingga dikenal dengan nama Kota Seribu Sungai. Tetapi pada kenyataanya, sungai-sungai tersebut kurang terawat dan kotor, pada bantaran sungai tumbuh rumah-rumah penduduk tanpa adanya izin untuk membangun tempat tinggal.Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil dari identifikasi kondisi daerah bantaran atau pesisir sungai yang dijadikan tempat bermukim masyarakat dan penggu-naan lainnya hubungannya dengan Peraturan Daerah Kota Banjarmasin dan Peraturan Lainnya, serta mendapatkan faktor-faktor yang menyebabkan kesesuaian dan ketidaksu-aian bantaran Sungai di Banjarmasin dengan kebijakan Pemerintah dalam menjaga dan menata wilayah sekitar bantaran sungai.Metode penelitian dimulai dari persiapan, pengumpulan data primer dan sekunder, iden-tifikasi sungai, hasil dan pembahasan, dan kesimpulan akhir penelitian.Dari hasil yang didapat, ternyata perbandingan antara panjang sungai yang diteliti de-ngan permukiman yang ada di bantaran sungai, pemukiman di bantaran menempati 46,78 %., sedangkan bantaran kosong termasuk di sini adalah lahan hijau (RTH) sungai, yang dianggap tidak mengganggu fungsi sungai, mencapai 38,13 % saja. Sehingga jika permukiman ditambah fasilitas umum dan perusahaan / industri, serta perkantoran me-rupakan hal yang mempengaruhi fungsi sungai, maka didapat 61,87 % dari keseluruhan.Berdasarkan lamanya menempati rumah lebih dari 30 tahun berjumlah 52,40 % dan u-mur rumah yang ditempati tersebut berumur lebih dari 30 tahun mencapai 80 %. Rata-rata hampir 82,8 % penduduk yang bermukim di bantaran tersebut tidak mengetahu ten-tang peraturan bahwa mendirikan bangunan di bantaran atau sempadan sungai tersebut tidak diperbolehkan dan sewaktu-waktu akan dilakukan penggusuran.Faktor-faktor yang menyebabkan adanya tersebut ketidaksesuaian antara Peraturan Da-erah dan peraturan lainnya dengan kondisi sesungguhnya di lapangan, adalah permu-kiman banyak terjadi sebelum adanya peraturan tersebut, dan kurangnya sosialisasi dan pengawasan serta penindakan dari petugas / pemerintah.Penanggulangan kerusakan lingkungan khususnya sempadan sungai berbasis masya-rakat diharapkan mampu menjawab persoalan yang terjadi di suatu wilayah berdasarkan karakteristik sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki. Dalam hal ini, prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat menjadi hal krusial yang harus dijadikan dasar pengelolaan berbasis masyarakat. Peranan pemerintah, swasta dan masyarakat dalam hal ini menjadi bagian terpenting yang tidak terpisahkan dalam upaya mengelola sempa-dan sungai
KARAKTERISTIK BERMUKIM MASYARAKAT BANJAR PINGGIRAN SUNGAI STUDI KASUS: KELURUHAN KUIN UTARA BANJARMASIN
Banjarmasin merupakan salah satu kota yang dikenal memiliki kawasan permukiman ba-tang air yang khas. Namun akibat pesatnya pembangunan jalan darat, banyak pertum-buhan dan perkembangan permukiman baru yang tidak lagi berorientasi ke arah sungai. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik bermukim masyarakat ping-giran sungai dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Pendekatan penelitian dila-kukan melalui housing attributes yang meliputi faktor lokasi, lingkungan perumahan dan faktor rumah dan household attributes yang meliputi kondisi sosial ekonomi dan sosial budaya rumah tangga. Data diambil dari wawancara terstruktur dan pengamatan lapang-an. Dengan menggunakan factor analysis variabel dikelompokkan dan disaring. Selanjut-nya variabel tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis regresi. Hasil analisis re-gresi menunjukkan bahwa faktor sosial budaya sangat mempengaruhi karakteristik ber-mukim. Terdapatnya sejumlah warga di Kuin Utara yang memilih tinggal di permukiman darat di sekitarnya akan mengurangi preferensi bermukim di kawasan ini di masa menda-tang. Implikasinya citra Banjarmasin sebagai kota air semakin menghilang di masa men-datang akibat dipengaruhi oleh kemajuan pembangunan infrastruktur seperti jalan darat, kecuali ada kebijakan untuk melestarikannya
PENGARUH RANCANGAN DENAH TERHADAP RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TIPE 36 DI KOTA BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN
Rumah tipe 36 dapat dibangun dengan bermacam-macam variasi denah. Namun variasi rancangan denah akan berpengaruh pada biaya pekerjaannya, karena banyaknya variasi rancangan denah untuk membangun rumah tipe 36 sehingga sulit menentukan rancang-an denah yang akan digunakan agar diperoleh biaya pekerjaannya yang terjang-kau.Tujuan dari menghitung biaya pekerjaan model A,B, dan C untuk mengetahui cara menghitung biaya pekerjaan untuk membangun rumah tipe 36 dan mengetahui model mana yang lebih ekonomis dari segi biayanya.Metode yang digunakan untuk memperoleh data-data yang diperlukan tentang pengaruh rancangan denah terhadap Rencana Anggaran Biaya rumah tipe 36 adalah observasi la-pangan, metode deskriptif dan metode komperatif. Data-data yang diperlukan adalah daf-tar upah dan harga bahan bangunan, data harga satuan pekerjaan dan gambar kerja. Rencana lokasi yaitu kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan.Bagian pekerjaan yang membedakan biaya pekerjaan dari ketiga model tersebut adalah pekerjaan persiapan, pekerjaan pondasi/tanah/lantai, pekerjaan beton bertulang, pe-kerjaan plesteran/dinding/plafon dan pekerjaan pengecatan. Biaya pekerjaan rumah tipe 36 model A memerlukan total biaya pekerjaan Rp 82.775.000,00, model B memerlukan total biaya pekerjaan Rp 84.854.000,00, model C memerlukan total biaya pekerjaan Rp 81.644.000,00. Dari total biaya pekerjaan antara model A, B dan C diperoleh model rumah tipe 36 yang paling efisien dari segi biayanya yaitu model C.
PASIR SUNGAI SEBAGAI AGREGRAT HALUS UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS LAPIS ASPAL BETON (ASPHALT CONCRETE - BINDER COARSE)
Kalimantan Selatan merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam, diantaranya adalah material untuk perkerasan lentur. Namun saat ini hanya beberapa quary yang berhasil dimanfaatkan sehingga perlu dilakukan kegiatan eksplorasi untuk mencari qua-ry-quary baru yang mampu menyediakan material untuk perkerasan jalan. Desa Mangkauk yang terletak di Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar merupakan sa-lah satu penghasil pasir alam yang ditambang dari Sungai Mangkauk. Namun sampai sa-at ini, pasir tersebut belum digunakan untuk campuran aspal panas dan belum terdapat penelitian mengenai penggunaan pasir tersebut untuk bahan campuran aspal panas.Tujuan penelitian ini adalah (a) menentukan karakteristik pasir dari Sungai Mangkauk, (b) menentukan komposisi material penyusun campuran aspal panas apabila pasir dari Su-ngai Mangkauk digunakan sebagai agregat halus, dan (c) mengetahui karakteristik sifat campuran aspal panas.Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah agregat kasar (ukuran 3/4†dan 3/8â€) dan abu batu hasil produksi PT Jati Baru Quari Bentok, agregat halus (pasir) dari Sungai Mangkauk, bahan pengikat aspal produksi shell, dan semen. Sedangkan standar yang digunakan adalah Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasir Sungai Mangkauk memiliki karakteristik yang memenuhi persyaratan Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010. Banyaknya pasir yang digunakan dalam campuran tidak melebihi 7.5%. Komposisi material apabila digu-nakan pasir Sungai Mangkauk sebagai agregat halus adalah: (a) pasir (0%), agregat kasar-CA (25%), agregat kasar-MA (27%), bahan pengisi (46%), bahan pengikat (2%); dan (b) pasir (5%), agregat kasar-CA (25%), agregat kasar-MA (27%), bahan pengisi (41%), dan bahan pengikat (2%). Sedangkan karakteristik campuran aspal panas untuk variasi pasir tersebut memenuhi persyaratan spesifikasi
PERBAIKAN KUALITAS KEKUATAN TARIK PRODUK BALING-BALING KAPAL KUNINGAN PADA INDUSTRI KECIL PENGECORAN LOGAM NEGARA KALIMANTAN SELATAN
Industri kecil yang punya prospek cerah dan turut mewarnai pertumbuhan perekonomianmasyarakat Hulu Sungai Selatan adalah pandai besi, kipas kapal, dan kerajinan imitasi.Berbagai jenis hasil industri itu banyak ditemui di Kecamatan Daha Selatan dan Daha Utara,mulai dari kerajinan barang perhiasan imitasi sampai cor logam/aluminium dan kuningan.Yang terkenal dari daerah ini adalah industri cor logam yang berasal dari daur ulang bangkaipesawat terbang, maupun barang barang-barang bekas lainnya, seperti velg sepeda motor,blok mesin kendaraan dll. Sentra produk pengrajin baling-baling kapal ini terdapat di desapenggandingan dengan jumlah unit usaha sebanyak 42 unit dan kapasitas produksinyasekitar 68.800 unit pertahun. Khususnya di Negara, produk yang dihasilkan antara lainbaling-baling kelotok (perahu motor), Namun, semua hasil industri kecil itu terbatas untukmemenuhi pasar daerah setempat. Pemasaran ke luar kabupaten pun baru sebatas keKalimantan, Sulawesi, dan Jawa TimurSeperti diketahui, bahwa sifat mekanis dari hasil coran baik aluminium maupun kuningantidak hanya dipengaruhi oleh temperatur tuang saja, dimana waktu penuangan, temperaturcetakan dan lain sebagainya juga akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas mekanisbaik kekuatan puntir, tarik atau kekerasanMetode penelitian menggunaan metode Taguchi dengan pemilihan Orthogonal Arrayberdasarkan pengamatan yang diambil melalui pemilihan faktor kualitas dan level yangsering mempengaruhi kekuatan tarik, maka Orthogonal Array yang dipakai adalah : L9(34)Hasil peneliian yang di dapat adalah kekuatan tarik tertinggi terjadi padaTemperaturpeleburan : 970°C , Temperatur cetakannya 348°C , Menggunakan bahan tambah timahseng 10% dan Jenis Cetakannya adalah kuningan (permanen)
PERBAIKAN KUALITAS MINYAK PELUMAS DENGAN ADDITIVE
Mutu minyak pelumas selalu mengalami perubahan dan berkembang menurutkebutuhannya. Banyak faktor yang telah mendorong terjadinya perubahan mutu pelumasantara lain perubahan desain dan konstruksi mesin serta kemajuan teknologi bahan kimiatambahan (additive) dalam memenuhi kebutuhan mesin. Dewasa ini adanya keinginan untukmernperpanjang masa pergantian pelumas motor, kebijaksanaan dalam penghematanenergi dan peraturan-peraturan yang semakin ketat tentang pencemaran udara akibat gasbuang kendaraan bermotor, juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadapperubahan mutu dan formulasi pelumas.Kekentalan oli atau minyak pelumas yang tidak sesuai dengan yang diisyaratkan pada suatumesin, ataupun oli atau minyak pelumas bekas yang sering mengandung partikel kecil asingakan menimbulkan kerusakan atau aus pada bagian mesin yang bersentuhan. Tentu hal diatas tidak kita kehendaki terjadi pada barang atau peralatan milik kita. Banyak caramemastikan atau paling tidak meyakinkan kita akan keaslian oli atau minyak pelumas.Misalnya dengan menggosok- gosokkan oli atau minyak pelumas ditangan,yang seringdilakukan oleh para sopir. montir, atau masyarakat awam lainnya. Mereka akan kenal tingkatkekentalannya walaupun tanpa melihat kaleng kemasannya. Sebagai masyarakat ilmiah,tingkat kekentalan oli atau minyak pelumas perlu diuji di laboraturium
HANDPHONE SEBAGAI PENGENDALI PERALATAN LISTRIK BERBASIS MIKROKONTROLER
Dunia teknik kontrol di mata orang awam dianggap sebagai dunia ajaib, canggih, serbaotomatis, yang berkesan mewah, dan mahal. Dunia yang satu ini bukanlah lagi dianggapsebagai sesuatu yang mewah. Hampir semua barang-barang elektronik di rumah tanggatelah dilengkapi dengan suatu sistem yang di dalamnya terdapat suatu chip yang dapat diprogram. Mulai dari telepon, air-conditioner, vcd dan dvd player, televisi, peralatan audio,peralatan lainnya