Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia dan Pendidikan Kimia
Not a member yet
244 research outputs found
Sort by
Pengaruh Waktu Kontak Tanah Diatomeae Terhadap Peningkatan Hasil Reduksi Cr(VI) oleh Fotokatalisis TiO2
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui massa optimum dan pengaruh waktu kontak tanah diatomeae terhadap peningkatkan hasil reduksi Cr(VI) oleh fotokatalis TiO2. Tanah diatomeae diambil dari Laboratorium Tanah Fakultas Tehnik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang dikontakkan dengan larutan yang mengandung Cr(VI) 80 ppm dan katalis TiO2. Berat katalis yang digunakan adalah 0,25 gram. Variasi massa tanah diatomeae yang digunakan adalah 10, 20, 30, 40, 50 dan 60 mg dan variasi waktu kontak yang digunakan adalah 1, 2, 3, 4, 5, 6, 9, 10, 11 dan 12 jam. Analisis sampel dilakukan masing-masing tiga kali dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 543,5 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa massa optimum tanah diatomeae yang dapat meningkatkan hasil reduksi Cr(VI) adalah 40 mg dengan konsentrasi Cr(VI) yang tereduksi sebesar 21,4612 ppm dari konsentrasi awal Cr(VI) 80 ppm. Berdasarkan hasil uji F dan uji bnt, waktu kontak optimum tanah diatomeae terhadap peningkatan hasil reduksi Cr (VI) adalah 10 jam Kata Kunci: Diatomeae, Reduksi Cr(VI). Fotokatalisis ABSTRACT This research was conducted to know the optimum mass and the effect of contact time the diatomeae to improve of Cr(VI) reduction by Photocatalysis TiO2. The Diatomeae was taken from Technique Faculty Laboratory of Gadjah Mada University Yogyakarta. Diatomeae was contacted with the solution contain Cr(VI) 80 ppm and TiO2 Catalysis 0,25 gram. The variation of diatomeae mass where used, namely 10, 20, 30, 40, 50 and 60 mg and, the variation of contact time are 1, 2, 3, 4, 5, 6, 9, 10, 11 and 12 hour. The sample was analyzed by spectrophotometer UV-VIS with 543.5 nm wavelength. The result of the research is indicated that the optimum mass diatomeae which can improve of Cr(VI) reduction is 40 mg with the concentration of Cr(VI) reduced equal to 21,4612 ppm from 80 ppm. Based of F test and the end bnt test, the optimum contact time of diatomeae to improve of result reduced the Cr(VI) are 10 hours. Keyword: Diatomeae, Reduction of the Cr(VI), photocatalysis
Pengaruh Umur Terhadap Keragaman Kandungan Asam Amino Cacing Tanah Lumbricuss rubellus
ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh umur terhadap keragaman kandungan asam amino cacing tanah Lumbricuss rubellus. Cacing tanah ini memiliki variasi umur (7), (8), (9), (10), (11), (12), dan (13) minggu. Cacing tersebut dikumpulkan dan dibersihkan dari kotoran, lalu ditimbang masing-masing sebanyak 100 gram dan dicuci. Setelah itu dihaluskan dengan cara diblender, kemudian dikering-bekukan dalam freeze dryer selama 24 jam sampai kering dan dihaluskan kembali. Analisis kandungan asam amino menggunakan instrumen Amino Acid Analyzer. Pengerjaan dengan alat ini meliputi hidrolisis asam amino. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada setiap umur diperoleh 17 jenis asam amino berupa 9 jenis asam amino esensial dan 8 jenis asam amino non esensial sedangkan kadar masing-masing asam amino tidak berbeda jauh di setiap umurnya. Hal ini menandakan bahwa umur tidak mempengaruhi keragaman dan kandungan asam amino cacing tanah Lumbricuss rubellus. Kata kunci: asam amino, Lumbricuss rubellus ABSTRACT The aim of this research is to know the influence of age to the content and various of amino acid of worm Lumbricus rubelus. The worm has the variation age (7), (8), (9), (10), (11), (12), and ( 13) weeks. The worm collected and cleaned of the dirty, then deliberated each as much 100 gram and cleaned. Afterwards attenuated, then freezed-dryed during 24 hours in freeze dryer. Analysis of amino acid by amino acid analyzer which included amino acid hydrolisis. Result of this research indicate that there are 17 kinds of amino acid in every age that are 9 kinds of essential amino acid and 8 kinds of non essential amino acid, wherever concentration of its amino acid in every age almost constant. This matter show that the age doesnot influence the content and various of amino acid of worm of Lumbricuss rubellus. Keywords: amino acid, Lumbricuss Rubellu
Karakterisasi Komponen Minor Feromon Agregat Kumbang Hama Kelapa Rhynchophorus ferrugineus Jantan
ABSTRAK Telah dilakukan penelitian untuk karakterisasi komponen minor feromon agregat dari kumbang hama kelapa Rhynchophorus ferrugineus jantan. Feromon agregat diekstrak dari bagian protoraks kumbang jantan menggunakan pelarut n-heksana. Pemisahan komponen feromon dilakukan dengan proses hidrolisis menggunakan larutan NaOH 1 N yang diikuti dengan KLT menggunakan eluen n-heksana : dietil eter (6 : 4). Keberadaan feromon dalam ekstrak dan isolat didasarkan pada uji aktifitasnya dengan olfaktometer. Hasil uji aktifitas menunjukkan bahwa komponen feromon agregat terdapat pada isolate dengan Rf 0,77 dan 0,87, sedangkan berdasarkan hasil analisis GC-MS dan FT-IR diketahui bahwa komponen minor feromon agregat kumbang hama kelapa R.ferrugineus jantan terdapat pada isolat dengan Rf 0,87 dan mengandung senyawa 4-metil-5-nonanon. Kata kunci: feromon agregat, Rhynchophorus ferrugineus, 4-metil-5 -nonanon ABSTRACT The characterization of minor component of aggregation pheromone of male coconut weevil Rhynchophorus ferrugineus has been carried out. Aggregation pheromone was extracted from the weevil prothorax using n-hexane solvent. The separation of pheromone components was doing by hydrolysis process using NaOH 1 N and was followed by Thin Layer Chromatography (TLC) using n-hexane : diethyl ether (6 : 4) as eluent. The presence of pheromone in extract and isolates were based on the activity test using olfactometer.The result of activity test showed that the components of aggregation pheromone were found in isolates with Rf 0,77 and 0,87 ; and according to GC-MS and FT-IR analysis, the minor component of aggregation pheromone of male coconut weevil R. ferrugineus was found in isolate with Rf 0,87 and contained 4-methyl-5-nonanone compound. Keywords: aggregation pheromone, Rhynchophorus ferrugineus,4-methyl-5 -nonano
Pemanfaatan Zeolit dan Bokashi Ampas Tahu untuk Menekan Konsentrasi Nikel dan Meningkatkan Pertumbuhan Baby Corn pada Tanah Tambang di Soroako
ABSTRAK Penelitian ini merupakan studi penggunaan zeolit sebagai absorben terhadap kation nikel dalam tanah dan ampas tahu sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki beberapa sifat kimia tanah. Oleh karena itu, penggabungan kedua perlakuan ini merupakan suatu model pemanfaatan lahan marjinal menjadi lahan yang produktif. Target khusus dari seluruh kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat aktivitas zeolit dalam mengikat kation nikel dan potensi ampas tahu sebagai sumber organik unsur hara untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada tanah tambang nikel. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan menggunakan Percobaan Dua Faktor dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 48 polibag yang ditanami baby corn sebagai tanaman uji coba. Selain itu, terdapat 16 polibag yang diinkubasikan dan merupakan kombinasi perlakuan. Setiap polibag diisi 10 kg tanah kering udara. Faktor pertama adalah zeolit dengan dosis : 0, 2, 6, dan 10 ton/ha. Faktor kedua adalah bokashi ampas tahu dengan dosis : 0, 2, 6, dan 10 ton/ha. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan zeolit dan bokashi ampas tahu efektif untuk menurunkan kadar nikel dalam tanah dari 87,33 ppm menjadi 52,00 ppm, menurunkan Al-dd tanah, menurunkan kadar Fe dalam tanah, dan meningkatkan tinggi tanaman dari 81,00 cm menjadi 91,92 cm. Penggunaan zeolit dan bokashi ampas tahu juga mampu memperbaiki beberapa sifat kimia tanah Ultisol yang berasal dari areal bekas tambang nikel yaitu meningkatkan pH tanah, C-organik dan bahan organik tanah, N-total tanah, K-dd tanah, dan KTK tanah, tetapi menurunkan P-tersedia tanah. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlakuan dengan dosis zeolit 2 ton/ha dan bokashi ampas tahu 6 ton/ha merupakan perlakuan terbaik Kata Kunci; zeolit, bokashi ampas tahu,baby corn ABSTRACT This research is the using of zeolit as absorbent of nickel cation of the land and tahu waste as organic source. The combination of two treatments is one model to improve quality of marginal land to be productive land. The specific aimed of the research is activity of zeolith in the nickel cation fasten and tahu waste potential as organic source. The research was experimental using two factors in the complete random design with four treatments and three replications to obtain 48 polibags planted with babycorn as experimental plant and 16 incubated polibags as a treatment combination. Each polibag contained 10 kg dry soil. The first factor was zeolith with dosages: 0, 2, 6, and 10 tons/ha. The second was bokashi of tahu waste with dosage 0, 2, 6, and 10 tons/ha. The result shows that the using zeolith and bokashi of tahu waste is able to reduce the nickel rate from 87,33 ppm to 52,00 ppm. It reduce soil Al-dd, reduce Fe rate and improve plant height from 81,00 cm to 91,92 cm. The usage of zeolith and bokashi of tahu waste can improve some chemical characteristic of ultisol soil, improve pH of soil, C-organic and soil organic, N-total soil, soil K-dd, and CEC soil, but reduce P soil available. The best treatment is the zeolith with dosage 2 tons/ha and bokashi of tahu waste 6 tons/ha. Keyword; zeolith, bokashi ampas tahu,baby cor