Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
AKUMULASI LOGAM BERAT Cr DAN Pb PADA TUMBUHAN MANGROVE AVICENNIA MARINA DI MUARA SUNGAI BABON PERBATASAN KOTA SEMARANG DAN KABUPATEN DEMAK JAWA TENGAH (Accumulation of Heavy Metals Cr and Pb in Mangrove Plant Avicennia marina On Babon River’s Estuari)
ABSTRAKEkosistem mangrove cenderung dapat mengakumulasi unsur-unsur logam berat yang berada dalam perairan sekitar tumbuhan mengrove. Kajian ini dilakukan di muara sungai Babon, Semarang, Jawa Tengah. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan tumbuhan mangrove, Avicennia murina, dalam mengakumulasi unsur logam berat Cr dan Pb; mengetahui organ (akar, cabang, dan daun) yang paling banyak mengakumulasi unsur logam berat dan mengetahui peran tumbuhan mangrove dalam mengurangi kandungan logam berat (Cr dan Pb) yang ada di perairan muara sungai Babon. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap observasi pendahuluan ditujukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove dan menentukan keberadaan unsur logam berat dalam organ tumbuhan mangrove. Setelah observasi pendahuluan dapat ditentukan lokasi sampling yang ada tumbuhan mangrove A. marina dan lokasi yang tidak ada tumbuhan tersebut. Penelitian utama ditujukan untuk memperoleh data primer konsentrasi Cr dan Pb dengan cara mencuplik dari organ tumbuhan (akar, cabang dan daun), sedimen dan air. Cuplikan dibawa ke laboratorium untuk dikeringkan dengan Microwave Digestion MLS-1200 MEGA dan ditentukan kadar Cr dan Pbnya. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik Uji Non Parametric Kruskal Wallis dan Uji Two Test Kolmogorov Smimov. Hasil penelitian menampakkian Cr terakumulasi lebih banyak daripada Pb di tumbuhan mlangrove. Kecepatan faktor biokonsentrasi untuk Cr adalah 1052.66 dan Pb adalah 349.54. Tempat konsentrasi tertinggi Cr dan Pb dalam organ tumbuhan berturut-turut: akar, cabang dan dedaunan. Daun menyerap unsur Pb lebih besar daripada cabang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa konsentrasi Cr dan Pb di sedimen yang perairannya ditumbuhi mangrove lebilr besar dari pada di sedimen yang perairannya tanpa ditumbuhi mangrove. Konsentrasi unsur logam berat dalam perairan yang ditumbuhi magrove. ABSTRACTMangrove have a tendency to accumulate heavy metal elements, which exist in the water ecosystem surrounds this plant life. This study is conducted in Babon River’s Estuari Semarang, Central Java and aimed to meet some goals as follows. First, to observe the mangrove plants capability, Avicennia marina, to accumulate heavy metal elements, e.g.: Cr and Pb. Second, to understand deeper observation of mangrove plant’s organs: the roots, branches, and leaves, according to accumulate heavy metal elements. Third, to observe the role of mangrove plant due to reduce heavy metal elements (Cr and Pb), which may pollute in Babon rivers Estuaries. The Mangrove research and observation is divided into two major stages: Preliminary Observation and Main Observation. The preliminary observation is aimed to identify the variuous types of Mangrove plant and determine the heavy metal element contained in Mangrove plant organ. Based on preliminary observation result then decided the designated location sample point (contain heavy metal elements) which represent the Mangrova A. marina plant existence and the absence. The main observation is conducted in order to determine primary data of Cr and Pb concentration by taking sample plant organ’s (roots, branches, and leaves), sediment, and water. The sample is then dried by Microwave Digestion MLS-1200 MEGA. The main data observation is analysed statistically by using Non parametric Kruskal Wallis test and Two sample Kolmogorov-Smirnov Test. The accumulating capability of Mangrove plant describe that Cr element is more accumulate by Mangrove plant comparing to Pb element. The rate of Bio-concentration factor for Cr and Pb are 1052.66 and 349.54. The highest concentration level of Cr and Pb in Mangrove plant’s organ as in order : The roots, branches, and leaves. The leaves contain bigger Pb element in sediment, settled in the bottom of water, that present with Mangrove are quite bigger than location which Mangrove absences. On the other side, observation also describe that there is not significant metal element concentration differences in the water which present Mangrove or even in absence
ZONASI POTENSI PENCEMARAN AIR TANAH PADA TERAS SUNGAI CODE YOGYAKARTA (Zoning The Potential Groundwater Pollution at Code River Terrace, Yogyakarta)
ABSTRAKTujuan penelitian ini ialah untuk membuktikan bahwa biomassa Fusarium sp dapat mereduksi Cr(VI), dan biomassa Aspergillus niger dapat digunakan untuk mengambil ion krom dari larutan. Fusarium.sp ditumbuhkan pada media cair kentang dekftosa cair, ditambah K2Cr2O7 atau sludge limbah penyamakan kulit. Selanjutnya diamati perubahan warnanya, bila terjadi perubahan warna dan oranye ke ungu atau tak berwarna maka telah terjadi reduksi krom valensi VI menjadi krom valensi Ill. Aspergillus niger ditumbuhkan pada media Potato dectrose agar (PDA) padat, dipindahkan ke media cair yang bensi bakto pepton, bakto dektrose dan srukronutrien. Produksi biomassa dilakukan pada labu erlenmeyer; setelah 5 hari dipanen dan dibuat bubuk. Bubuk ini digunakan untuk mengambil krom dari larutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa Fusarium sp dapat digunakan untuk mengambil krom dan larutan yang.mengandung KrCrrO, atau sludge limbah penyamakan kulit. Waktu inkubasi yang lebih lama meningkatkan absorbsi krom oleh biomassa Fascrium sp. Fusarium sp mampu mereduksi Cr(VI) menjadi Cr(Iii). Biomassa Aspergillus niger dapat digunakan untuk mengambil krom dari larutan. Hasil terbaik diperoleh pada konsentrasi awal 100 mg/I, pada pH 2,0, berat biomassa 0,1 g, dan waktu kontak 12 jam, yaitu 96,23% untuk Cr(II| dan96,3 % untuk Cr(VI). Fusarium sp. dan A. niger dapat digunakan sebagai bioremediator dalam penanganan limbah penyamakan kulit secara biologi. ABSTRACTThe study area of this research was parts of the code river terraces, Yogyakarta. The aims of this research were as follows: (1) to determine the part of the code river terrace which has potential groundwater pollution; (2) to assess the natural physical factors (aquifer materials, depth of groundwater table, and the groundwater flow distance) and the non-natural physical factors of environmental sanitation (houses density, population density, horizontal distance between pollution source and well, and the number of water consumers) that influence groundwater pollution; and (3) to estimate the total amount of economical loss that caused by groundwater pollution. The determination of groundwater pollution potential area was done by overlaying aquifer material map, groundwater table depth map, groundwater table gradient map, and soil texture map. The result of the overlay was the potential groundwater pollution map. In order to find out the actual groundwater pollution, a quality test of the groundwater samples was conducted. The parameters of the water quality tested were temperature, electric conductivity, turbidity, CaCO3, NO2 NO3, Fe, Na, Cl, pH, and coli bacteria. Te result of the NO3 test was drawn in an actual groundwater pollution map. The actual groundwater map and the potential groundwater map were compared to know the difference between them. The result of this research showed that the area which had the potential groundwater pollution were those density populated and high houses density. Statistical analysis showed that a non-natural physical factors which has the most significant influence on the groundwater pollution was the groundwater flow distance. Population density and the number of water consumers significantly influence the groundwater pollution. The estimation of economical loss by PDA substitution costs indicated that area which suffered the most financial los was Kotabaru regionan (Rp.18.125.00/month/house). The estimation of the economical loaa by health substitution costs showed that area suffered the most was Gowongan region (Rp.849.000/year)
PENGARUH PARAQUAT TERHADAP BAKTERI TANAH, Rhizobium sp. (Influence of Paraquat Herbicide on Soil Bacteria Rhizobium Sp.)
ABSTRAKPencemaran pestisida merupakan salah satu masalah lingkungan yang menyebabkan gangguan terhadap organisme tanah. Paraquat adalah bahan aktif beberapa jenis herbisida yang banyak diaplikasikan di lahan gambut dan lahan pertanian tadah hujan. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh herbisida paraquat terhadap bakteri Rhizobium sp. Tiga puluh lima strain Rhizobium sp. telah diuji dengan menggunakan teknik difusi cakram kertas (paper disc). Sebagian strain adalah hasil isolasi dari ranah, bintil akar tanaman Ieguminosa dan inokulum leguminosa (Legin - Iegume Inoculum). Enam strain lain aclalah bakteri Rhizobium japonicum. Hasil penelitian menunjukkan hahwa paraquat memiliki daya hambat terhadap hakteri Rhizohium sp. Sebanyak 17,14% (enam strain) dari seluruh strain yang diuji, tidak mengalami penghambatan sampai konsentrasi paraquat 400 ppm. Bakteri ini memiliki prospek bagus untuk digunakan sebagai inokulum rhizobium terutama di lahan pertanian yang telah tercemari herbisida, khususnya yang mempunyai bahan aktif paraquat. Sebagian besar strain yang digunakan (82,86%) terhambat oleh 20 ppm parakuat dan daya hambat tersebut makin besar seiring dengan meningkatnya konsentrasi paraquat. Mengingat makin meluasnya pemakaian herbisida berbahan aktif paraquat di Indonesia dan peran Rhizobium dalam fiksasi nitrogen, hasil penelitian ini fiksasi memiliki arti penting, terutama bagi petani agar berhati-hati dalam pemakaian pestisida. ABSTRACTPesticedes may cause environmental pollution which lead to disturbance of soil biota. Paraquat is an active agent of herbicides usually used in peat land and rainfed agriculture. This research was conducted to examine the influence of paraquat on symbiotic nitrogen fixing bacteria, Rhizobium sp. Thirty five trains of the genus Rhizobium were examined in this research. Some of them were isolated from soils, legume root nodules, and legume Inoculum. Six stains of Rhizobium japonicum were also used in this research. Inhibition effect was based on paper disc agar diffusion technique with various concentrations of paraquat (Gramoxone®). The results showed that six stains of Rhizobium sp. (17.14%) were resistant to paraquat up to 400 ppm (w/w). These strains have a good prospect to be applied as Rhizobial-Inoculum especially in agricultural lands usually treated with paraquat. However, most stains of Rhizobium sp, (82.86%) were inhibited by paaquat, and higher paraquat concentration caused higher degree of inhibition. Due to widely applied paraquat herbicides in Indonesia and the role of Rhozobium sp. in nitrogen fization, these results were important, especially for farmers, in pesticide applicatio
PERUBAHAN CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN OLEH PETANI PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) DALAM MENGGUNAKAN PESTISIDA KIMIA PADA PADI (The Change of Chemical Pesticides Use Decision Making in Rice by Intergrated Farms)
ABSTRAKPestisida kimia merupakan salah satu masukan dalam produksi padi yang berfungsi untuk menekan kehilangan hasil oleh serangan hama dan penyakit. Penggunaan pestisida kimia harus bijaksana karena selain memberi manfaat juga menimbulkan bahaya terhadap kesehatan dan lingkungan. Banyak petani yang menggunakan pestisida kimia dengan dasar pencegahan, yaitu tanpa mempertimbangkan keadaan serangan hama dan penyakit sehingga penggunaannya cenderung berlebih. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) diperkenalkan kepada petani melalui Sekolah Lapangan (SL) PHT, dengan tujuan untuk nrengurangi pestisida kimia, dan hanya digunakan jika memang diperlukan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa SLPHT telah mengubah cara pengambilan keputusan dalam menggunakan pestisida kimia. Keadaan ini menyebabkan penggunaan pestisida kimia menjadi berkurang. ABSTRACTChemical pesticide is one of the inputs in rice production used to protect yield loss caused by pest attack. Chemical pesticides should be used wisely as they pose threat to human health and pollute environment. Many farmers use chemical pesticide based on prophylactic concept, that is using chemical pesticides without taking into consideration the level of pest attack, which leads to an excessive use. Integrated Pest Management (IPM) concept is introduced to farmers through Farmer’s Field School (FFS) in order to reduce chemical pesticides use. According to the IPM principle, farmers can use chemical pesticides when necessary. Results of this study show that farmers have changed their decision-making in chemical pesticides use after adopting IPM concept through participation at FFS in IPM. This condition causes decline in chemical pesticide use
PEMANFAATAN BAHAN ORGANIK DARI SAMPAH PADAT PERKOTAAN DALAM INDUSTRI KOMPOS (Utilization of Organic Matter from Municipal Solid Wastes in Composit Industries)
ABSTRAKDewasa ini sampah padat yang dihasilkan oleh kota besar sudah sangat banyak dan berpotensial untuk menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena sekitar tiga perempat dari sampah adalah biomassa maka terdapat kemungkinan untuk memproses sampah tersebut menjadi pupuk kompos. Dengan demikian berat dan volume sampah sisa yang terpaksa harus dibuang ke TPA dapat berkurang secara drastis. Proses fermentasi bahan organik ini dilakukan di pabrik kompos. Sebelum itu, harus terlebih dahulu dilakukan proses pemisahan secara mekanis dan seksama untuk memperoleh bahan organik murni dari sampah padat. Pemisahan dilakukan oleh beberapa pasang thrower (pelempar) dan fan (penghembus). Melalui contoh kasus sebuah pabrik kompos berkapasitas 50 ton per hari beberapa peralatan dan mesin penting yang lazim dijumpai pada pabrik kompos dijelaskan pada mekalah ini, demikian juga tipe dan ukurannya. ABSTRACTRecently a huge amount of municipal solid wastes produced in big cities causes serious environmental and health problems. Since nearly three fourth of the wastes is biomass, there is a potential to process the organic matter into agricultural compost. In this way, the weight and volume of wastes which are finally disposed in sanitary landfills can be drastically reduced. The fermentation process of biomass occurs in compost plants. However, a thorough mechanical separation of the organic matter from municipal solid wastes must be carried out first by using pairs of a thrower and a fan. Some important equipments and machineries in a typical compost plant are delineated based on a case of 50 tons per day capacity. Their appropriate types and dimensions are discussed as well
PEROMBAKAN SENYAWA HIDROKARBON AROMATIS POLISIKLIK (NAFTALEN) PADA KADAR TINGGI OLEH Pseudomonas NY-I (Biodegradation of Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (Naphthalene) at High Concentration by Pseudomonas NY-1)
ABSTRAKNaftalen merupakan salah satu senyawa hidrokarbon aromatis polisiklik (HAP) yang banyak dijumpai dalam minyak bumi, batu bara dan hasil alam lainnya. Meskipun bukan senyawa xenobiotik, naftalen dapat menjadi persoalan yang serius karena penggunaannya yang luas dan penanganan yang tidak hati-hati. Naftalen diketahui bersifat mutagenik. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan isolat bakteri yang dapat merombak naftalen dan mempelajari kemampuannya merombak naftalen kadar tinggi dalam medium mineral (MM) cair. Tanah yang tercemari minyak bumi dan sumber isolat diperoleh dari unit pengolah minyak Pertamina, Cilacap. Isolat dipreroleh melalui kultur diperkaya menggunakan naftalen. Jumlah naftalen yang ditambahkan ke dalam MM cair sebesar 907, 1362 dan 1813 ppm. Inkubasi dilakukan selama 28 hari dalam keadaan gelap. Parameter yang diamati meliputi: jumlah sel hidup dengan metode drop plate dan kadar naftalen sisa dengan menggunakan GC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri yang dipilih, teridentifikasi sebagai Pseudomonas NY-l. Dalam MM cair, naftalen pada semua konsentrasi terombak pada kecepatan yang mirip. Jumlah naftalen yang terombak adalah 777,3 ppm, 728,6 ppm dan 837,2 ppm dari konsentrasi awal berturut-turut sebesar 907, 1362, dan 1813 ppm. ABSTRACTNaphthalene is one of the Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), found in petroleum, coal and other natural products. although, it is nonxenobiotic, it could cause a serious problem when improperly used and handled. It is considered as a mutagenic compound. This study is primarily concerned with the isolation of bacteria that could utilize naphthalene and the investigation of its biodegradation ability of naphthalene in high concentration in liquid mineral media (MM). The contaminated soil and isolates were obtained from oil treatment unit, Pertamina, Cilacap. Bacterial isolation was conducted through enriched culture. Naphthalene was added to the liquid MM at the concentration of 907, 1362, and 1813 ppm. the culture was incubated in the dark for 28 days. Parameters examined were: the viable cells which was measured by drop plate method and naphthalene residues which was analyzed using GC. The result showed that the isolated bacteria was identified as Pseudomonas NY-1. The naphthalene at all concentrations were degraded at relatively similar speed. The amount of naphthalene degraded were: 777.3 ppm, 728.6 ppm and 837.2 ppm for the initial concentration of 907 ppm, 1362 ppm, and 1813 ppm, respectively
LINGKUNGAN TROPIS BERKEPADATAN TINGGI: LOKALITAS, TRADISI DAN MODERNITAS (High Density Environment in the Tropict: Locality, Tradition and Modernity)
ABSTRAKTulisan ini mengenai hasil penelitian tentang perkembangan bentuk ruang pada tatanan lingkungan dan ruang pada tatanan hunian sebagai salah satu bentuk hubungan antara manusia dan lingkungannya, khususnya di daerah tropis yang berkepadatan tinggi. Lingkungan termal ditandai sebagai salah satu bentuk lingkungan yang mendominasi pembentukan ruang, oleh sebab itu indikator utama dalam penelitian ini ialah prinsip penahanan dan penghalauan panas oleh ruang dan elemen pembentuknya. Tiga bentuk hunian ditetapkan sebagai studi kasus, yakni hunian tradisional, kolonial dan hunian flat di lingkungan kampung, serta hunian modern di lingkungan modern. Hasil menunjukkan bahwa dalam perkembangan pembentukan ruang tidak terjadi keberlanjutan prinsip penahanan dan penghalauan ruang dari hunian tradisional serta kolonial yang terbukti lebih baik ke hunian modern. Kondisi ini terjadi karena terdapat perkembangan sosiokultural pada pembentukan ruang. ABSTRACTThis paper reports the development of spatial formation in a high density area of urban settlement in tropical area. Thermal envcironment in this instance is seen as the major effect of the spatial formaton and therefore, the main indicator of this study research is the nature of the heat resistance of the building, which is formed by the space itself and the building elements. The kampong settlement resulted in a high response to tropical encironment. In the meantime, its development in the modern settlement indicated that the continuity of this high response was not found
PENGARUH TINDAKAN KONSERVASI TANAH TERHADAP ALIRAN PERMUKAAN, EROSI, KEHILANGAN HARA DAN PENGHASILAN PADA USAHA TANI KENTANG DAN KUBIS (Effect of Coil and Water Conservation Practices on Runoff, Erosion, Nutrient Loss and Farmer Income of Potato)
ABSTRAKLaju erosi yang terjadi di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah sangat tinggi karena pertanian yang dominan adalah sayuran, dan umumnya petani tidak melaksanakan teknik konservasi tanah dan air secara benar. Karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mencari tindakan konservasi tanah yang memadai agar dapat menekan erosi dan aliran permukaan, kehilangan hara dan meningkatkan penghasilan pada usaha tani kentang (Solanum toberosum L) dan kubis (Brassica oleracea l). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tindakan konservasi tanah terhadap aliran permukaan, erosi, kehilangan hara, dan penghasilan sehingga diharapkan teknik konservasi yang sesuai pada usaha tani kentang dan kubis dapat ditemukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengukur aliran permukaan dan erosi tiap kejadian hujan mulai bulan Februari hingga Mei 2000 selama satu musim tanam pada plot erosi berukuran 2 x 10 meter dengan kemiringan 34 %. Kehilangan hara tanah ditentukan dengan mengukur kandungan hara sedimen tanah. Penghasilan usaha tani dihitung setelah panen. Penelitian dirancang secara faktorial dalam Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah usaha tani, yaitu kentang (C1) dan kubis (C2). Faktor kedua adalah teknik konservasi tanah, yaitu guludan memotong kontur (P1) sebagai kontrol, guludan sejajar kontur dan teras-gulud yang di tanami serai (P2), guludan sejajar kontur dengm penutupan mulsa alang-alang (P3), dan guludan sejajar kontur dengan mulsa plastik perak hitam (P4). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada usaha tani kentang, tindakan konservasi P2, P3 dan P4 mampu menekan erosi. Tindakan konservasi P2 dan P4 mampu meningkatkan penghasilan, namun P3 menurunkan penghasilan. Pada usaha tani kubis, tindakan konservasi tanah yang mampu menekan erosi hanya P3. Tindakan konservasi P2, P3, dan P4 mampu meningkatkan penghasilan. Tindakan konservasi kentang yang bagus, baik secara lingkungan maupun ekonomi, adalah perlakuan Po, sedangkan pada tanaman kubis adalah perlakuan P3. ABSTRACTErosion rate at Dieng Plateau, Central Java, is high because vegetable is the dominant crop, and in general the farmer never applied adequate soil and water conservation practices (SWCP)/ The research was carried to assess the suitable soil conservation practices in order to reduce runoff, erosion nutrient losses and to increase the income as potato (Solanum tuberosum L) and cabbage crop (Brassica oleracea L) farmers. The erosion and runoff data were obtained by measuring the actual runoff and erosion for each rainfall event during February-May 2000 period. Measurement of the actual erosion and runoff were conducted on erosion plot of 10x2. The expoiment was done in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors. The first factor was the crop, that is the potato (C1) and cabbage (C2). The second factor was the technical soil conservation, that is, cross contour ridging (P1) as control treatment, contour ridging and terrace-ridging that was planted with citronella (P2), the contour ridging with the much of lemograss (P3), and the contour ridging covered with black silver plastic sheet (P4). The result of the research on the potato crop showed that the P2, P3 and P4 treatments could effectively decrease erosion. The P2 and P4 treatments were able to increase the farmers income, however P3 decreased the farmer income. On the cabbage crop, the effective treatment which decreased erosion was P3. The P2, P3 and P4 treatments increased the farmers incom
USAHA MENURUNKAN PENGGUNAAN PESTISIDA KIMIA DENGAN PROGRAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU (Efforts to Reduce Chemical Pesticides Use through Integrated Pest Management Program)
ABSTRAKPestisida kimia merupakan bahan beracun yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Penggunaannya yang berlebihan telah menimbulkan biaya eksternal yang sangat tinggi. Sejak tahun 1989 Pemerintah Indonesia telah berusaha mengurangi penggunaan pestisida kimia melalui program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Untuk mengetahui dampak program PHT, digunakan fungsi permintaan pestisida kimia. Analisis ini menggunakan data sekunder selama sembilan tahun yang diambil dari empat kabupaten wilayah Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa dampak program PHT telah berhasil mengurangi penggunaan pestisida kimia pada padi dan kedelai. Penurunan penggunaan pestisida kimia disebabkan oleh kenaikan harga dan penyebaran teknologi PHT. Turunnya penggunaan pestisida kimia ini akan meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia karena tersedia bahan pangan yang residu pestisida kimianya rendah. ABSTRACTChemical pesticide is a poisonous agent that causes deterioration on environment quality and thereatens to human health. It causes considerable high externat cost. Sice 1989 the Government of Indonesia had removed chemical pesticide subsidy and introduced a new program called Integrated {est <amage,emt (IPM) in ornder to reduce chemical pestidice use. The objectives of this research was to determine the impact of IPM Program on cemical pesticide use in rice and soybean cultivation. To determine the impact, ademand model of cemical pesticide was employed. Time series secondary data for nine years collected from related institutions in four revencies of Yogyakarta were utilized as the basic analysis. Results of the analysis indicated that chemical pesticide uses in rice and soybean cultivation have declined. The reduction of chemical pesticide use was caused by the increase of chemical pesticide price due to the discontinuation of chemical pesticide subsidy, and dissemination of IPM program. It implied that the program will improve environment quality and human health, and provide food with low chemical pesticide residue
PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN TERUMBU KARANG DI PESISIR PANTAI KABUPATEN GUNUNG KIDUL (Community Participation in the Preservation of Coral Reef at the Coastal Area of Gunung Kidul Regency, Yogyakarta, Indonesia)
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan dengan mengambil lokasi Kabupaten Gunung Kidul yang meliputi Pantai Baron, Pantai Kukup, dan Pantai Drini, dan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian terumbu karang. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh dari para responden dan pengamatan ke obyek yang diteliti, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka dan arsip yang ada kaitannya dengan materi penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya peran serta masyarakat dalam pelestarian ekosistem terumbu karang adalah karena kesadaran masyarakat untuk berperan dalam pelestarian ekosistem terumbu karang masih rendah. Rendahnya kesadaran masyarakat tidak terlepas dari faktor tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat yang masih rendah, kondisi tanah pertanian yang tidak menjanjikan serta kurang disosialisasikannya peraturan lingkungan hidup dan tidak ada tindakan yang tegas terhadap pelanggar. Telah ada upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pelestarian terumbu karang, yaitu penyuluhan tetapi penyuluhan yang dilakukan mengenai lingkungan hidup secara umum tidak khusus mengenai terumbu karang. Upaya lain adalah memberikan bimbingan mengenai pemanfaatan sumber daya hayati laut dan ekosistem terumbu karang. Hal ini pun tidak banyak dilakukan oleh masyarakat karena mereka menginginkan hasil yang besar dan cepat sehingga pendapatannya juga besar. Untuk itu perlu diupayakan pengembangan mata pencaharian alternatif yang bersifat berkelanjutan bagi masyarakat yang selama ini memanfaatkan sumber daya dari terumbu karang. Diperlukan pula keberanian untuk melalukan tindakan yang tegas terhadap pelanggar. Hal paling utama ialah menumbuhkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya kelestarian ekosistem terumbu karang dan kesadaran untuk berperan dalam pelestarian ekosistem terumbu karang. Masyarakat dilibatkan perannya sebagai pengawas sosial dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam setiap usaha/kegiatan baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta, dan ini akan tercapai jika kesadaran masyarakat sudah tinggi. ABSTRACTThis study was condacted Gunung Kidul Regency at there locations, i.e. Baron Beach, Kukup Beach, and Drini Beach. The purpose was to assess factors causing the lack of community participation in efforts to preserve the coral reef ecosystem. This research is a a qualitatively descrtive in nature. While the primary data was obtained from respondents and observations of objects investigated, the secondary data was obtained from references and file studies related to the research materials. The result of the study showed that the factor causing the lack of community participation in efforts to preserve the coral reef ecosystem was that the community awareness in the preservation of coral reef ecosystem was still low. It was due to the low education, low income level, infertile soil, unpopular environment regulation and disappointing law enforcement. There has been some efforts to increase the community awareness in coral reef preservation, i.e. by education, but the topic was about the environment as a whole, not specifically about the coral reef. Another effort was by giving guidance about the utilization of sea resources and coral reef ecosystem. It was also little done by the community, because they want something big and quick yielding to increase their income. Thus, the development of sustained alternative jobs must be created for the community that, during this time, they utilize the resources from coral reef. It also needs an effort to establish the more strict regulation. The most important effort is to explain the significance of coral reef ecosystem preservation and to arouse the awareness to participate in coral reef ecosystem preservation. The community should involve in that efforts as a social controller and they should also involve in the process of decision making dealing with activities or business is performed by the government and private sector. This can be achieved if the awareness of community is high