Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
KELAYAKAN PEMANFAATAN LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA UNTUK RELOKASI PERMUKIMAN PENDUDUK: STUDI KASUS AREAL TAMBANG PT. KITADIN (Feasibility of Former Coal-Mined Land for Resettlement A Case Study at PT. Kitadin)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan tanah dan air di lahan penambangan batubara untuk area pemukiman. Penelitian di lakukan di daerah pertambangan batubara PT. Kitadin di kabupaten Kutai Kertanegara, provinsi Kalimantan Timur. Data untuk penelitian ini diperoleh dari survei lapangan dan sumber sekunder. Parameter yang dianalisis meliputi Soil Index Test, Grain Size Distribution, Density and Permeability. Parameter sample air meliputi pH, turbiditas, Total Dissolved Solid (TDS), Mangaan (Mn) dan Besi (Fe). Data tersebut dibandingkan dengan kriteria penggunaan lahan untuk mengevaluasi kadar kelayakan/kesesuaian lahan. Hasil menunjukkan bahwa daerah penelitian tertutup lempung dengan plastisitas kurang dari 50%. Akumulasi air dalam lubang daerah penambangan batubara tidak masam dan memadai untuk konsumsi publik pada masa yang akan datang. Secara umum, daerah penelitian di pertambangan memadai untuk daerah permukiman. ABSTRACTConducted in PT. Kitadin coal-mined area which is located in Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan Timur Province, the research aimed to evaluate the feasibility conditions of soils and water at the coal-mined lands for settlement area. Data for the research were obtained from both field survey and secondary sources. The soil parameters analysed were Soil Index Test. Grain Size distribution, Density and Permeability. Water sample parameters analysed covered: pH, Turbidity, Total Dissolved Solid (TDS), Manganese (mn) and Iron (Fe). The data were compared with land use criteria to evaluate land feasibility class. The results showed that the study area is covered by clay with its plasticity less than 50%. Meanwhile, the accumulated water in the hole of coal-mined area is not acid and adequate for future public consumption the future. Therefore, in general, the study area is considered appropriate and feasible for settlement
DAMPAK LIMBAH CAIR HASIL PENGOLAHAN EMAS TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DAN CARA MENGURANGI DAMPAK DENGAN MENGGUNAKAN ZEOLIT (The Impact of Liquid Waste of Gold Processing in the River Water Quality and The Method for Minimizing the Impact by Using Zeolite)
ABSTRAKKegiatan penambangan emas oleh masyarakat di desa Jendi telah dilakukan sejak 1993. Meskipun telah menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat lokal, kegiatan tersebut menurunkan kualitas lingkungan, khususnya sungai, karena penggunaan merkuri. Dalam hal ini penggunaan merkuri dalam proses pengambilan emas murni dari batuan telah mempengaruhi air sungai sehingga memiliki kandungan 0,002-1 mg/l Hg;0,05 mg/l Pb; 0,4 mg/l Cu and 28,39 mg/l Fe. Berdasarkan peraturan -pemerintah No. 822001 tentang pengelolaan kualitas air dan air irigasi, konstituen metal tersebut telah melebihi baku mutu air. Penggunaan mineral zeolite sebagai adsorben pada proses penambangan emas tradisional menunjukkan bahwa zeolit dengan ukuran 80- 100 mesh dapat mengurangi kadar hg sehingga masuk ke dalam baku mutu air. ABSTRACTThe gold mine activity of people in jendi village has been conducted since 1993. Even though this activity provide job for the local people. It will degrade the environmental quality especially river, because of Mercury use. The use of Mercury in the process to extract natural gold from concentrate of rock mill affects river water because it contains 0.002-1 mg/l Hg; 0,05 mg/l Pb; 0,4 mg/l Cu and 28,39 mg/l Fe. Based on the Government Regulation No. 82/2001 Concerning the Management of Water Quality and Irrigation water, those metal constituents have already been above the water standard quality. Using mineral zeolite as adsorbent on the traditional gold processing showed that zeolite with size 80-100 mesh could reduce the content of Hg, Pb, Cu, and Fe, which fall within the water standard quality
PERTANGGUNGJAWABAN NEGARA TERHADAP KERUGIAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT KEGIATAN EKSPOR IMPOR LIMBAH 83 (The State Responsibilities toward Environmental Damages due to Hazardous Wastes Export-Import Activities)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi dan menganalisis fenomena legal dan praktek hukum yang mengatur pergerakan lintas batas B3 dan limbah 83. Penelitian ini mengkombinasikan pendekatan legal dan normatif. Informasi diinterpretasi dengan menggunakan metode Juridical-analytical dan evaluative-explanatory. Penelitian menyimpulkan bahwa fihak-fihak yang terlibat dalam pengeluaran limbah B3 adalah bertanggung jawab baik secara individual maupun kolektif untuk memberikan kompensasi kerusakan lingkungan yang diderita oleh fihak ketiga. Prinsip ini didasarkan pada hukum publik internasional yang menyatakan bahwa setiap tindakan pelanggaran hukum oleh suatu negara adalah menyangkut pertanggung jawaban international dari negara tersebut. ABSTRACTThis research aims to investigate and analyze legal phenomena and the practices of law that regulate transboundry movement of hazardous wastes and their disposal. The research combines the normative and empirical legal approach. Information is interpreted by using juridical analytical and evaluative explanatory method. The research concludes that the parties involved in the transmission of hazardous wastes are either individually or collectively responsible for compensating detriments and environmental damaged sufferes by the third parties. This principle is based on the public international law, which insists that every internationally wrongful act of a State entails the international responsibility of that State
HUBUNGAN JARAK DAN KUALITAS FISIK SUMUR TERHADAP JUMLAH KOLIFORM TINJA DAN KADAR ZAT ORGANIK AIR SUMUR SEKITAR PETERNAKAN BABI DAN INDUSTRI TAHU DI DESA NGESTIHARJO KECAMATAN KASIHAN KABUPATEN BANTUL (The Relationship between Distance and Physical)
ABSTRAKPenelitian ini mengamati korelasi jarak dan kualitas fisik sumur terhadap jumlah koliform tinjad dan kadar zat organik air sumur sekitar peternakan babi dan industri tahu. Penelitian ini menerapkan cross sectoral design variabel independen meliputi jarak dan kualitas fisik sumur, sedangkan variabel dependen adalah jumlah koliform tinja dan kadar zat organik di dalam air sumur. Sampel air diteliti di laboratorium dengan menggunakan metode multiple tube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ditemukan korelasi yang sangat signifikan antara kualitas fisik sumur dan jumlah koliform tinja di sekitar peternakan babi, (2) terkait dengan jarak dan kualitas fisik sumur di sekitar peternakan babi, tidak ada korelasi yang signifikan dengan kadar zat organik dan (3) tidak ada korelasi antara jarak dan kualitas fisik sumur terhadap kadar zat organik di sekitar industri tahu. ABSTRACTThe purpose of the study was observe the correlation between distance and Physical Quality of Wells to the number of fecal coliforms and content of organic matter of wells water around the pig husbandry, and around tofu industry. The study applied a cross sectional design. Independent variables were the number of fecal coliforms and content of organic matters of wells water. They were examined in the laboratory by means of a multiple tube method for the content of organic matter of wells water. The result of the research indicated (1) there was found a very significant correlation between well physics quality and the number of fecal coliforms around the pig husbandry; (2) regarding both distance and well physics quality around the pig husbandry there was no significant correlation with the content of organic matter; and (3) there was no correlation between the distance and the well physics quality to the content of organic matter of wells water around the tofu industry
PERANAN BAHAN ORGANIK BERNISBAH C/N RENDAH DAN CACING TANAH UNTUK MENDEKOMPOSISI LIMBAH KUI.IT KAYU Gmelina arborea (The Roles of Low C/N Ratio Organic Matters and Earthworms to Decompose Waste Barks of Gmelina arborea)
ABSTRAKLimbah kulit kayu berpotensi dapat menyebabkan dampak negatip terhadap lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Sebagai bahan organik, limbah kulit kayu sebetulnya dapat dijadikan sbagai bahan baku kompos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah dan cacing tanah dalam menurunkan nisbah C/N dan meningkatkan kandungan unsur hara makro dari kompos limbah kulit kayu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang disusun secara faktorial, terdiri dari 2 faktor dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah penambahan bahan organic ber-nisbah C/N rendah (daun Glyricideu maculuta and daun Gmelina arborea), dan taktor kedua adalah jenis cacing tanah, yaitu Lumbricus rubellus (Cl) dan Eisenia foetida (C2). Parameter yang digunakan adalah kandungan karbon (C), dan beberapa unsur hara makro, yaitu: nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca) and magnesium (Mg) dari kompos limbah kulit kayu. Penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah dan cacing tanah merupakan cara penanganan limbah kulit kayu yang ramah lingkungan. Penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah secara nyata dapat menurunkan nisbah C/N dan meningkatkan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu. Nisbah C/N kompos limbah kulit kayu dapat turun semakin rendah dan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca and Mg dapat naik semakin tinggi dengan adanya penambahan bahan organik ber-nisbah C/N yang semakin banyak. Cacing tanah menunjukkan peran yang sangat nyata dalam menurunkan nisbah CIN dan menaikkan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu. Rerata nisbah C/N dari kompos limbah kulit kayu (C0) sebesar 56,17, dan dengan adanya perlakuan cacing tanah rerata nisbah C/N dapat turun secara sangat nyara menjadi 26,66 (Cl) dan 22,94 (C2). Rerata kandungan N dari kompos limbah kulit kayu (C0) hanya sebesar 0,89 %, dan dengan adanya aktivitas cacing tanah, rerata kandungan N dapat naik secara nyata menjadi 1,34 % (Cl) dan 1,41 % (C2). Penurunan nisbah C/N dan kenaikan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu dengan adanya aktivitas cacing tanah menjadi semakin besar apabila dikombinasikan dengan perlakuan penambahan bahan organik ber-nisbah c/N rendah. ABSTRACTWaste barks potentially caused negative environment impacts if they are not handled properly. As organic materials, they actually can be used as raw materials to produce compost. Objective of this research was to clarify the roles of low C/N organic matters and earthworms to decrease C/N ratio and increase nutrient contents of the barks compost. The experiment used a completely randomized design with two factors and five replications. The first factors was addition of low C/N ratio organic matters, i.e.leaves of Glyricidea maculate and Gmelina arborea, the second factor was species of earthworm, i.e. Lumbricus rubellus (C1) and Eisenia foetida (C2). Parameters used were contents of carbon ©, and several macro nutrients, i.e. nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), calcium (Ca) and magnesium (Mg) of the wasted bark compost. Addition of low C/N ratio matters and earthworms was environmentally sound to handle the wasted barks. Adiition of the organic matters has significantly decreased the C/N ratio and increased the content of N, P, K, Ca and Mg of the wasted bark compost. The C/N ratio of the bark compost decreased lower and the contents of N, P, K, Ca and Mg increased higher by more addition of the low C/N matters. Earthworms showed their significant roles to decrease the C/N ratio and increase the contents of N, P, K, Ca and Mg of the waste bark compost. Mean C/N ratio of the bark compost (C0) was 56,17, and by the earthworm treatments it decreased significantly to 26,66 (C1) and 22,94 (C2). Mean N content of the bark compost (C0) was only 0,89 %, and by the earthworm activities it increased significantly to 1,34 % (C1) and 1,41 % (C2). The decreases of C/N ratios and increases of the nutrients by the earthworm activities in the bark compost would be higher when they were combined with the addition of low C/N ratio organic matters
KONTAMINASI LOGAM BERAT DI SEDIMEN: STUDI KASUS PADA WADUK SAGULING JAWA BARAT (Heavy Metals Contamination in Sediment: Saguling Reservoir Case Study West Java, Indonesia)
ABSTRAKWaduk Saguling merupakan salah satu waduk cascade yang berlokasi di Jawa Barat, yang sekarang ini mengalami beberapa permasalahan antara lain: proses sedimentasi yangtinggi, korositas turbin, penurunan kualitas air akibat blooming alga, polusi organik, pestisida, dan logam-logam berat yang berasal dari buangan limbah domestik, industri, aktivitas gunung berapi, dan sebagainya. Logam berat di ekosistem akuatik mempunyai kecenderungan untuk berikatan dengan sedimen yang mampu bertindak sebagai sumber polusi sekunder ke kolom air. Penelitian pada tahun 2004 ini bertujuan untuk mengungkap kontaminasi logam berat Cu, Cd, dan Pb pada sedimen Waduk Saguling. Sampling dilakukan tiga kali mulai bulan Juni hingga September 2004 dengan l3 titik stasiun pengamatan. Hasil kontaminasi logam berat pada sedimen di setiap stasiun pengamatan menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan diantara masing-masing stasiun pengamatan yaitu: untuk logam Cd (F: 17,803 dan p = 0,00001), Pb (F= 154,343 dan p < 0,01), dan Cu (F:36,499, P<0,000001). Konsentrasi logam berat hasil pengamatan dibandingkan dengan guideline dari kementrian lingkungan Ontario, SEPA, ERL, ERM, PEL, SEL, dan TEL, secara umum menunjukkan bahwa kontaminasi logam Pb dan Cu yang paling berpotensi menimbulkan gangguan pada ekosistem perairan, sedangkan logam Cd masih dibawah ambang batas dari guideline tersebut diatas. Khusus untuk guideline yang berasal dari US-EPAregion Y Great lakes ke tiga logam tersebut diatas sudah masuk dalam kategori terpolusi berat dari St. Gunung Wayang hingga Stasiun Rajamandala. ABSTRACTSaguling reservoir is one of three cascade reservoirs, which is located in West Java. Nowadays, the reservoir has some serious problems such as: high sedimentation rate, turbine corrosity, water quality depletion caused by blooming algae, organic pollution, pesticide, and heavy metals which are resulted from domestic and industrial wastes, as well as teaching from volcano activity. Heavy metals bound to particulate matters are major component of sediment that in turn can be a secondary pollution source. This research was conducted in the year of 2004, and the aims was to reveal heavy metals contamination in Saguling reservoir sediment. Samples were taken three times at 13 sampling sites during June to September 2004. Results of heavy metal contamination in sediment of Saguling reservoir show significant differences among sampling sites. The Fsiher test values for each heavy metals were Cd (F = 17,803 and p = 0,00001), Pb (F = 154,343 and p < 0,01), and Cu (F = 35,499 and p = < 0,000001). Heavy metals content in sediment were then compared to some guidelines such as SEPA, Ontario Environment Ministry, ERL, ERM, PEL, SEL and PEL. It seemed that Pb and Cu contamination in sediment were at risk to disturb aquatic ecosystem, while Cd was still below threshold of those guidelines. However, according to USEPA region V Great Lakes, all heavy metals contamination in sediment were beyond the thresold
KONSUMSI IKAN LAUT KADAR MERCURY DALAM RAMBUT DAN KESEHATAN NELAYAN DI PANTAI KENJERAN SURABAYA (Sea Fish Consumption, Degree of Mercury Content in Hair, and Fisherman Health at Surabaya Kenjeran Beach, Indonesia)
ABSTRAKPantai Kenjeran di Surabaya mempunyai banyak fungsi baik sebagai tempat rekreasi, perikanan serta tempat pembuangan limbah dari kota Surabaya. Studi sebelumnya telah menjelaskan bahwa pantai Kenjeran telah tercemar khususnya Hg. Polutan ini telah diindikasikan terdapat dalam ikan yang dikonsumsi masyarakat sekitar. Penelitian ini mengkaji dampak mengkonsumsi ikan dari Kenjeran kaitannya dengan kesehatan masyarakat yang menkonsumsi ikan. Peneliltian ini rnengambil sample 70 orang yang mengkonsumsi ikan dan 45 orang sebagai kontrol grup. Dalarn penelitian ini rambut responden diambil dan dikaji dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Penelitian ini menghasilkan bahwa responden yang mengkonsumsi ikan sebanyak rata-rata 99,11 gram/hari mempunyai kadar Hg dalam rambutnya sebesar 0.511 ppb. Penelitian ini mengindikasikan gejala-gejala penyakit yang terjadi pada mereka yang rnengkonsumsi ikan antara lain ginjal, pusing-pusing, tumor, pendarahan gusi, dan gangguan penglihatan. Penelitian ini rnenyimpulkan adanya korelasi yang signifikan antara responden yang mengkonsumsi ikan yang tercemar dengan kadar Hg dalam rambutnya. ABSTRACTSurabaya Kenjeran Beach, as a part of Eastern coastal area at East Java, functions as a sea recreation place and fishing. The condition of Surabaya Kenderan Beach is polluted by Hg as observed by previous researchers. They suggested that water, sediment, and fish from Kenjeran beach were already contaminated by Hg at dangerous level. Fisherman communities is one of the group which have a risk of getting affected by methyl Hg, because they usually consume fish from sea. This research is to study the relationship between consumption of sea fish and degree of Hg in fisherman’s hair, to measure the average degree of Hg in their hair and then to compare it with limit value. It is also studying the health disorder that likely appears as a result of Hg poisoning. This research took place at Kenjeran district, Bulak sub district, Surabaya. The number of samples for group who affected by Hg are 70 persons and controlled group are 45 person. Respondent’s hair (research subject) was taken and then observed by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) No Flame. In conclusion, statically there is a significant relationship between the consumption of sea fish and the degree of Hg in hair. The average degree of Hg in the affected group’s hair is higher than that of the controlled group. However, it does not exceed the limit value recommended by the National Research Council (NRC). Also, there is significant relations between degree of Hg in hair and healthy disorder sigh (subjective symptoms)
EXTENSION AND COMMUNICATION IN THE INTEGRATED MANAGEMENT STRATEGY FOR THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT OF KONAWE COASTAI, AREA SOUTHEAST SULAWESI(Penyuluhan dan Komunikasi dalam Strategi Pengelolaan Terpadu Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Wilayah Pesisir)
ABSTRACTA project entitled the Extension and Communication in Integrated Management Strategy for the Sustainable Development of Konawe District has been implemented at western part of Konawe coastal area. lt was started as a pilot project from March 20OZ to March 2004. The goal of the project are to improve ecological and economic function of land, coral reef and mangrove forest at Konawe coastal zone, so that the productivity of agriculture, fish and other marine biota as well as community income are increased. The out put achieved are (1) A preperation of Document of Sustainable Development of Westem Coastal of Konawe District, (2) rehabilitation of 200 ha of degraded mangrove forest, (3) establishment of Local Economic lnstitution (called ELKAM) to provide capital for local community. The membership had been growing fast, from 50 members in 2002 and increased to about 750 members in 2004. The initial results are that by practicing a good extension with appropriate communication tools is the best approach for integrated coastal management strategy of Konawe District. ABSTRAKSebuah proyek berjudul Peranan penyuluhan dan komunikasi dalam strategi pengelolaan terpadu mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Pesisir Kabupaten Konawe telah dilaksanakan dari Maret 2002 sampai Maret 2004. Tujuan proyek adalah memperbaiki fungsi ekologi dan ekonomi terhadap lahan, hutan bakau, terumbu karang, sehingga produktivitas pertanian, ikan dan biota laut lainnya serta pendapatan masyarakat meningkat. Hasil yang diperoleh adalah (1) telah disusun dokumen Pembangunan Berkelanjutan Wilayah Pesisir bagian Barat Kabupaten Konawe, (2) Seluas 200 kawasan hutan bakau telah direhabilitasi, (3) telah dibentuk Lembaga Keuangan Masyarakat (ELKAM), anggotanya berkembang pesat yaitu dari 50 anggota tahun 2002 menjadi 750 anggota tahun 2004. Kesimpulan awal menunjukkan bahwa penyuluhan yang baik dengan komunikasi yang sesuai merupakan pendekatan yang tepat dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu di Kabupaten Konawe.ABSTRACTA project entitled the Extension and Communication in Integrated Management Strategy for the Sustainable Development of Konawe District has been implemented at western part of Konawe coastal area. lt was started as a pilot project from March 20OZ to March 2004. The goal of the project are to improve ecological and economic function of land, coral reef and mangrove forest at Konawe coastal zone, so that the productivity of agriculture, fish and other marine biota as well as community income are increased. The out put achieved are (1) A preperation of Document of Sustainable Development of Westem Coastal of Konawe District, (2) rehabilitation of 200 ha of degraded mangrove forest, (3) establishment of Local Economic lnstitution (called ELKAM) to provide capital for local community. The membership had been growing fast, from 50 members in 2002 and increased to about 750 members in 2004. The initial results are that by practicing a good extension with appropriate communication tools is the best approach for integrated coastal management strategy of Konawe District.ABSTRAKSebuah proyek berjudul Peranan penyuluhan dan komunikasi dalam strategi pengelolaan terpadu mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Pesisir Kabupaten Konawe telah dilaksanakan dari Maret 2002 sampai Maret 2004. Tujuan proyek adalah memperbaiki fungsi ekologi dan ekonomi terhadap lahan, hutan bakau, terumbu karang, sehingga produktivitas pertanian, ikan dan biota laut lainnya serta pendapatan masyarakat meningkat. Hasil yang diperoleh adalah (1) telah disusun dokumen Pembangunan Berkelanjutan Wilayah Pesisir bagian Barat Kabupaten Konawe, (2) Seluas 200 kawasan hutan bakau telah direhabilitasi, (3) telah dibentuk Lembaga Keuangan Masyarakat (ELKAM), anggotanya berkembang pesat yaitu dari 50 anggota tahun 2002 menjadi 750 anggota tahun 2004. Kesimpulan awal menunjukkan bahwa penyuluhan yang baik dengan komunikasi yang sesuai merupakan pendekatan yang tepat dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu di Kabupaten Konawe
LINGKUNGAN PERUMAHAN, KONDISI FISIK, TINGKAT PENGETAHUAN, PERILAKU MASYARAKAT DAN ANGKA KEJADIAN MALARIA DI KOTA SABANG (Housing Environment, Physical House Condition, Knowledge, Behaviour and Number of Malaria Occurrence in Sabang)
ABSTRAKMalaria merupakan persoalan kesehatan dunia yang belum terpecahkan di Indonesia. Malaria merupakan penyakit yang meluas terjadi baik di pegunungan maupun di dataran rendah di perkotaan dan di perdesaan. Penelitian ini mengkaji hubungan antara lingkungan perumahan, kondisi rumah dan pengetahuan penghuni dengan tingkat kejadian malaria di Sabang, Aceh. Penelitian ini dilakukan dengan survai investigasi. Objek survei adalah 61 penduduk yang terkena malaria dan 61 penduduk yang tidak terkena malaria sebagai control group. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kondisi rumah termasuk taman dan kolam air, kondisi fisik rumah dan kelembabannya. Pengetahuan serta perilaku responden terhadap malaria juga merupakan variabel yang dikaji dalam penelitian ini. Analisis yang dilakukan meliputi uji hipotesis, analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifitas di luar, kelembaban rumah, semak-belukar berkorelasi dengan insiden malaria. ABSTRACTMalaria is one of infectious disease which currently remains the world’s health problems. In Indonesia, malaria is categorized as infectious disease has, infected in all islands, either in upland or lowland, and in urban or rural areas. There found 80 species of Anopheles mosquito in this country and the predominant vector or malaria in the province of Nanggroe Aceh Darussalam is Anopheles sundaicus. This research identifies to the correlation between the housing environment, house condition, and the residents relevant knowledge with the rate of malaria incident in Sabang. The study is an analytical survey investigation employing a case control design. The investigation is conducted in Sabang. Subjects are determined using total sampling of 61 infected population (cases) and 61 malaria-free population (control group). The analysis was conducted to test the research hypothesis, consisting of descriptive analysis and multiple regression analysis. The results show that going out at night, humidity of the house, bushes/garden, and installation of gauze are all significantly correlated (p<0.01) to the rate of malaria incident in Sabang
KONFLIK LINGKUNGAN DI KAMPUNG AGAS, TANJUNG UMA, BATAM (Environmental Conflict in Kampung Agas, Tanjung Uma, Batam)
ABSTRAKPerkembangan kota Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, pelabuhan, dan pariwisata, membawa tidak saja dampak positip, melainkan juga dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang muncul adalah konffik lingkungan dalam bentuk pencemaran air di sungai Jodoh yang menganggu pemukiman liar di Kampung Agas, Tanjung Uma. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji akar masalah konflik dan resolusinya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif-kualitatip, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Penelitian ini menemukan bahwa akar masalah konffik adalah konflik spasial antara permukiman liar dan pembangunan ruko yang menimbulkan limbah di sekitar permukiman liar. Tidak dibangunnya IPAL memicu protes warga di permukiman liar dan terjadilah konflik. Penelitian ini melihat bahwa penyelesaian konflik dalam bentuk kompensasi atau “sagu hati" tidak menyelesaikan akar masalah konflik. Walaupun begitu, penyelesaian ini dipandang oleh pihak-pihak yang berkonflik sebagai hasil mufakat yang dimungkinkan untuk menghindari konflik sosial yang lebih besar. Penelitian ini juga menemukan bahwa bentuk penyelesaian konflik melalui musyawarah dan mufakat dapat dilakukan secara efektif sejauh ada mediator yang dipercaya oleh pihak-pihak yang bersengketa. ABSTRACTThe development of Batam City as an area for industry, trade, ship transit, and tourism activities brings not only positive impacts, but negative impact as well. One of the negative impacts is environmental conflict in the form of water pollution in Sei Jodoh downstream which affected informal settlement in Kampung Agas, Tanjung Uma. This research aimed to study the roots of the conflict and evaluated the resolution. It adopted a descriptive, qualitative research method. Data were collected through in-depth interviews with parties involved in the conflict. The research founded that the root causes of the environmental conflict was the decision of spatial plan and development that was not supported by liquid waste treatment plan (IPAL) for the area. The conflict resolution in the form of “compensation” was not appropriate as it does not solve the real causes of the conflict. Such settlement, however, was seen by all conflicting parties as pragmatic resolution to hinder a possible bigger social conflict. The research concluded that an effective alternative dispute resolution required a good mediator accepted by the conflicting parties