Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
ANALISIS DAN PREDIKSI BEBAN PENCEMARAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KAYULAPIS PT. JATI DHARMA INDAH, SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS PERAIRAN LAUT (Analysis and Prediction of Playwood Industry Liquid Waste Pollution Impact at PT. Jati Dharma Indah and their)
ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik, beban pencemaran serta distribusi pencemaran limbah cair Industri Kayulapis di perairan Laut Batu Gong Teluk Banguala Ambon. Berdasarkan hasil penelitian, rerata nilai parameter limbah industri kayulapis sebagai berikut: suhu = 35,8 oC; TSS : 12,783 mg/l; pH : 5, 6; BOD5 : 610 mg/l; COD : 759,50 mg/l; total phenol : 0,480 mg/l dan Hg : 0,00083 mg/l. Nilai pH, BOD5, COD telah melampui ambang batas Baku Mutu Limbah Cair Industri Kayulapis (Kepmen LH. No. 03, Tahun 1991). Debit limbah cair sebenarnya (Dp) : 88,125 m3/hari, debit limbah cair maksimum (DM) : 11.164,99 m3/bulan, dan debit limbah cair sebenarnya (DA) :2.643,840 m3/bulan (jadi DA < DM). Beban Pencemaran sebenarnya (harian BPA dan bulanan BPAi) parameter TSS, COD, dan phenol limbah cair industri lebih kecil dari Beban Pencemaran maksimum harian dan bulanan (BPM dan BPMi) masing-masing parameter tersebut. BPA dan BPAi parameter BOD5 lebih besar dari beban pencemaran maksimumnya. Rerata temperatur tertinggi perairan laut : 27,4 oC (stasion Il), TSS : 30,830 mg/l (stasion V), pH:8,0 (stasion VI), BOD, : 1070,00 mg/l (stasion II), COD : 1349,00 mg/l (stasion II), total phenol :0,325 (stasion II), Hg:0,00080 mg/l (stasion II), salinitas:33,0 ppm (stasion IV). Parameter BOD, COD, dan phenol telah melampui ambang batas Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut (Budidaya Perikanan) (Kepmen LH. No. 82 Tahun 2001). Rerata nilai Indeks Diversitas Plankton pada lokasi A (stasion II), lokasi B (antara stasion III dan IV), lokasi C (antara stasion V dan VI) masing-masing: 1,40; 1,66 dan 2,03. Lokasi A dan B telah melampaui nilai batas pencemaran sebesar 2 (tercemar berat) (Lee,l978). Rerata Koefisien Nilai Nutrisi (NVC) ikan pada lokasi B dan C yaitu 1,43 dan 1,38 lebih kecil dari nilai normal 1,7 (Lucky, 1977). Jenis ikan teri yang tertangkap sebanyak 4 jenis, dengan jumlah terbanyak adalah Stelaphorus spp. ABSTRACT Research aim to know the characteristic, pollution impact and also plywood industry wastewater pollution distribution in the Batu Gong seawater territorial of Ambon Baguala Bay. Pursuant to research result, average assess of plywood industry wastewater parameter the following: temperature = 35,8oC; TSS = 12.783 mg / l; pH = 5, 6; BOD5 = 610 mg / l; COD = 759.50 mg / l; total of phenol = 0,480 mg /l and Hg = 0,00083 mg / l. Assess the pH, BOD5, COD have overload the permanent boundary quality Of plywood industry liquid waste (Kepmen LH. No. 03, Year 1991). Charge of liquid waste in fact ( Dp) = 88.125 m3/day, charge of maximum liquid waste (DM) = 11,164.99 m3/month, and charge the actual liquid waste ( DA) = 2,643.840 m3/month (so, DA more than DM). Fact pollution load (daily-BPA and monthly-BPAI) of parameter TSS, COD, and total phenol industry wastewater less than daily maximum pollution load and monthly (BPM and BPMI) each the parameter. BPA and BPAI of parameter BOD5 was more than of maximum pollution load. Highest Temperature average of seawater is 27.4oC (stasion II), TSS is 30.830 Mg/l (stasion V), pH is 8.0 (stasion VI), BOD5 is 1070.00 mg/l (stasion II), COD is 1349.00 mg/l (stasion II), total of phenol is 0.325 (stasion II), Hg = 0.00080 mg/l (stasion II), salinitas is 33.0 ppm (stasion IV). Parameter BOD5, COD, and phenol more than the Permanent Boundary Quality of Fishery Aquaculture ( Kepmen LH. No. 82 Year 2001). Average assess the Index of Diversitas Plankton at location A (stasion II), location B (between stasion III and IV), location C (between stasion V and VI) each: 1.40; 1.66 and 2.03. Location A and B was more than pollution limit value (hard pollution) (Lee,1978). Fish Nutrition Value Coeficient average ) at Location B and C are 1.43 and 1.38, less than normaly value 1.7 (Lucky, 1977). Sardiene species that much catching was Stelaphorus spp. of the four species
PENURUNAN COD, TSS DAN TOTAL FOSFAT PADA SEPTIC TANK LIMBAH MATARAM CITRA SEMBADA CATERING DENGAN MENGGUNAKAN WASTEWATER GARDEN (Degradation of COD, TSS and Total Phosphate in Septic Tank Wastewater of Mataram Citra Sembada Catering Using Wastewater)
ABSTRAK Sumber limbah berasal dari septictank industri restauran (catering Citra Sembada Catering, termasuk dalam kategori limbah domestik. Limbah tersebut banyak mengandung komponen yang tidak diinginkan bila dibuang ke badan air. Konsentrasi limbah yang masih di atas baku mutu, di antaranya akan memunculkan masalah pencemaran. Reaktor Wastewater Garden yang menggunakan krikil (0,5Cm-1cm) dan 6 jenis tanaman yaitu : melati air (Echinodoras paleafias), Cyperus (Cyperus), Futoi (Hippochaetes lymnenalis), Pisang air (Typhonodorum indleyanum), Pickerel rush (Pontedoria cordata), Cattail (Typha latifulia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas reaktor Wastewater Garden, apabila digunakan untuk menurunkan konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS) dan Fosfat Total sebagai faktor pencemar pada limbah industri restauran (Citra Sembada Catering) yang tertampung pada septictank. Penelitian dilakukan dengan menggunakan reaktor Wastewater Garden dengan sistem batch dan dimensi reaktor lm x 0.5m x lm. Zona air limbah 75 cm, dan zona substrat atau krikil 80 cm, akar tanaman ditanam sedalam l0-15 cm. Metode penelitian yang digunakan berdasarkan SNI, di mana COD mengacu pada SNI 06-6989.2-2004 metode refluks tertutup secara spektrofotometri, TSS mengacu pada SK SNI M-03-1990-F metode pengujian secara gravimetri dan Fosfat total mengacu pada SNI M-52-1990-03 metode asam askorbat dengan alat spektrofotometer. Penelitian ini dilakukan selama 12 hari di mana setiap 3 hari sampel diambil pada outlel kemudian dianalisis. Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh bahwa penggunaan wastewater garden pada limbah cair Mataram Citra Sembada Catering dapat menurunkan COD dengan efektivitas optimum 40,81% pada hari ke-6, penurunan TSS 89,l2% pada efektifitas optirnum hari ke-12 dan penurunan fosfat total dengan efektivitas optimum pada hari ke-6 yaitu sebesar 99,73 %. Tanaman dapat hidup dengan subur. ABSTRACT Wastewater from industrial restaurant of Mataram Citra Sembada Catering (MSCS) septic tank was classified into domestic waste category. That wastewater contains of many unwanted component. The wastewater concentration is still above the threshold quality standard, which caused pollution problems. The reactor used gravel (0,5-1cm) and six various kinds of plants. They are melati air (Echinodorus paleaflius), Cyperus (Cyperus), Futoi (Hippochaetes lymnenalis), Pisang air (Holisonia rostrata)), Pickerel rush (Pontedoria cordata), Cattail (Typha latifolia). This research aimed to know the effectivity of reactor when being used to decrease COD, TSS and Total Phosphate concentrations. The research is using wastewater garden reactor which batch system and dimensions are 1mx0,5mx1m. Wastewater zone 75cm, substract zone or gravel 80cm. The root planted in 10-15cm depth. The use of methods depend on SNI which COD refer to SNI 06-6989.2-2004 refluks method isolated spectrophotometrically, TSS refer to SK SNI M-03-1990-F testing method gravimetrically and total phosphorus refer to SNI M-52-1990-03 acid ascorbat method by spectrophotometer. This research is done for 12 days. Where in every 3 days, the sample took from outlet then analyzed. This research showed that reactor can decrease COD with 40,81% optimum effectiveness of day 6, decrease of TSS 89,12% on day 12; and of Total Phosphate 99,73% on day 6. Those plants can growth fertile
PEMANFAATAN LIMBAH ABU TANDAN KOSONG SAWIT SEBAGAI KATALIS BASA PADA PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT (Ash Waste from Empty Palm Fruit Bunches as Base Catalyst for Biodiesel Synthesis from Palm Oil )
ABSTRAKPemanfaatan limbah abu tandan kosong sawit (TKS) sebagai sumber katalis basa telah dilakukan untuk aplikasi pada proses pembuatan biodiesel dari minyak biji sawit. Kadar logam kalium untuk mengetahui kadar basa dalam abu TKS dianalisis dengan AAS dan kadar ion karbonat diuji dengan uji alkanalis. Komposisi asam lemak dalam bahan minyak biji sawit dianalisis dengan GC-MS. Abu TKS direndam dalam metanol untuk mendapatkan senyawa kalium metoksida yang selanjutnya digunakan untuk transesterifikasi minyak biji sawit. Rasio persentase berat abu terhadap minyak pada reaksi transesterifikasi tersebut divariasi kemudian persentase konversi biodiesel ditentukan dengan spektrometer 1H NMR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kalium dalam abu TKS = 29,82 % b/b, dan kadar ion karbonat = 19,63 % b/b, sehingga konversi (%) dimungkinkan kalium tersebut dalam bentuk karbonat. Konversi biodiesel meningkat dengan peningkatan persentase berat abu terhadap minyak. Kondisi optimum dicapai pada persentase berat abu terhadap minyak = 6 % b/b dengan diperoleh konversi biodiesel 69,67 %. ABSTRACTThe use of ash waste from empty palm fruit bunches (EFB) as a source of base catalyst have been done in biodiesel synthesis from palm kernel oil. The potasium metal content was analyzed using AAS and carbonate ions content was measured by alkalinity test. The fatty acids composition of palm kernel oil were analyzed by GC-MS. The ash was immersed in the methanol to form potassium methoxide, and then used in transesterification of palm kernel oil. Weigth of ratio of ash to oil was varied and then the biodiesel conversion was determined by 1H NMR spectrometer. The results showed that potassium content in the ash was 29.82 wt %, and the carbonate ion content was 19.63 wt %, the potassium might be in carbonate form. The biodiesel conversion increased with increase of weight ratio of ash to oil. The optimum condition was reached at weight ratio of ash to oil = 6 wt % with biodiesel conversion 69.67 %.
STUDI PENGARUH JUMLAH PENGUNJUNG TERHADAP KEANEKAAN JENIS DAN KEMELIMPAHAN BURUNG DI KAWASAN WISATA ALAM KOPENG (Study on Effect of Visitor Number to The Species Variety and The Abundance of Birds in Kopeng Natural Tourism Area )
ABSTRAKPenelitian yang dilakukan di Kawasan Wisata Alam (KWA) Kopeng ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah pengunjung terhadap keanekaan jenis dan kemelimpahan burung di KWA Kopeng; mengetahui keanekaan jenis dan kemelimpahan burungterhadap tingkat kepuasan pengunjung; serta untuk memberikan arahan pengelolaan pengunjung berdasarkan hasil penelitian. Pengamatan burung dan pengunjung dilakukan dengan metode point count. Titik pengamatan dipilih secara representatif menggunakan teknik random sampling. Berdasarkan peta kawasan hutan wisata dan pengecekan lapangan dilakukan pembagian lokasi titik pengamatan sebanyak 21 titik. Titik pengamatan berbentuk lingkaran dengan radius 20 m, kemudian titik-titik pengamatan yang telah terpilih dipetakan dan didokumentasikan untuk memudahkan pengamatan pada periode berikutnya. Waktu pengamatan adalah selama dua (kali) hari Minggu. Hari Minggu dipilih atas pertimbangan kemudahan perjumpaan dengan pengunjung. Selain dilakukan pengukuran terhadap variabel-variabel terpilih (dalam rangka memperoleh data primer, juga dilakukan pengumpulan data sekunder yang meliputi data kondisi umum lapangan dan sistem pengelolaan kawasan. Data primer yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan model regresi linier sederhana dan korelasi peringkat Spearman, masing-masing untuk mengetahui pengaruh jumlah pengunjung (variable bebas) terhadap keanekaan jenis burung dan jumlah kemelimpahan burung (variabel-variabel bergantung); dan untuk mengetahui korelasi antara variabel keanekaan jenis burung maupun variabel kemelimpahan burung dengan variabel kepuasan pengunjung. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jumlah pengunjung tidak berpengaruh nyata terhadap keanekaan jenis dan kemelimpahan burung di Kawasan Wisata Alam Kopeng; terdapat korelasi yang negatif antara keanekaan jenis dan kemelimpahan burung dengan tingkat kepuasan pengunjung. ABSTRACTThe aims of this research were to know the effect of the visitor number to the species variety of birds; the effect of the visitor number to the abundance of birds; and the effects of the species variety and the abundance of birds to the satisfaction level of visitors in Kopeng Natural Tourism Area. Based on the research results, then some recommendations for the natural tourism area management were made. In observing birds and visitors, point count method was used. There were 21 points selected randomly to counting the bird individuals and species numbers. In these points with 25 m-radius each, the counting of respondent number and the searching information of the level satisfaction of respondent were done, too. The data obtained, furthermore, was analysed by both descriptive and inferensial statistics methods. The inferensial statistics methods which were used consisted of the simple linear regression and the Spearman rank correlation. The research results showed that the visitor number did not influence the species variety as well as the abundance of birds significantly; there was a negative correlation between the species variety of birds and visitor satisfaction level, and so was the abundance of birds and the visitor satisfaction level.
OPTIMISASI SISTEM USAHA TANI UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN PESISIR BALI UTARA (Optimization of Farming System Towards Sustainable Agriculture in North Coastal Plain Bali)
ABSTRAKPengembangan sistem usaha tani secara intensif pada lahan kurang subur dengan sumberdaya air yang terbatas dapat mengarah pada trade-off antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan permasalahan lingkungan dalam jangka panjang. Akibat degradasi lingkungan yang meningkat dan alokasi sumberdaya yang tidak efisien, sistem usahatani akan tidak berlanjut. Studi ini bertujuan untuk mengoptimalkan model sistem usahatani beririgasi dan menilai keberlanjutannya. Dengan menggunakan analisis programasi linier, petani di kawasan pesisir Bali bagian Utara telah optimal dalam alokasi sumberdaya yang diindikasikan oleh pencapaian solusi optimal pada model sistem usahatani konvensional yang mencerminkan kondisi kenyataan. Dengan berbagai penyesuaian model sistem usahatani konvensional dapat diperluas menjadi model sistem usahatani berkelanjutan. Diperoleh bahwa sistem usahatani berkelanjutan lebih baik ketimbang sistem usahatani konvensional. Karena semua komponen dan indikator keberlanjutan telah dipertimbangkan dalam model dan semua kriteria berkelanjutan telah tercapai dalam solusi optimal, maka model sistem usahatani yang telah diperluas tersebut juga menjamin bahwa pengembangan sistem usahatani beririgasi pda level rumah-tangga akan dapat berkelanjutan. Agar sistem usahatani rumah-tangga dapat berlanjut, petani seharusnya menggunakan air tahan sebesar atau kurang dari 8.547 L/dt, menambah pupuk organik dari pupuk kandang minimal sebesar 5t/ha/th, meneruskan sistem usahatani campuran dan rotasi tanaman, tetap mempertimbangkan pengeluaran minimum rumah-tangga, dan bersedia membayar harga air sebesar Rp 1.218,29/m3. Model sistem usahatani berkelanjutaan yang dihasilkan dari studi ini telah melalui proses validasi. Dengan demikian, hasil tersebut dapat dikontribusikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian. Juga, hasil tersebut dapat dijadikan pilihan praktek manajemen oleh petani dalam usahataninya. ABSTRACTIntensive farming system development (FSD) on poor fertile soil with limited water source can lead to trade-off between economic benefit in the short run and environmental problems in the long run. As environmental degradation increases and inefficient in resources allocation, farming system will become unsustainable. This study aims to optimize irrigated farming system model and to assess its sustainability. By using linear programming analysis, local farmer in north coastal plain of Bali was optimal in resources allocation indicated from optimal solution of conventional farming system model which conforms to observed behavior. By several adjustments, conventional farming system model can be extended to sustainable farming system model. It is found that the sustainable farming system is better than the conventional farming system. Since all components and indicators of sustainability were considered into model and all criteria of sustainability were fulfilled by optimal results, the extended farming system model also guarantees that irrigated farming system development at household level will become sustaipable. To make the sustainable farming system at household level, the farmer should be able to allocate the groundwater less than or equal to 8.547 Lis, to add the organic fertilizer from manure more than or equal to 5 t/ha/yr, to continue the mixed-farming system and crops rotation, to consider minimum household expenditure, and to put the sustainable value in the use of water in approximately Rp I ,218.29/CM into effect. The sustainable farming system model generated from this study passed validated process. Thus, it can be contributed to scientific development. Also, its results can become best management practices by local farmers on their farms
INDIKATOR KEBERLANJUTAN KOTA DI INDONESIA : STUDI KOMPARASI EMPAT KOTA DI JAWA (Sustainability Indicators of Indonesian Cities: Comparative Studies of Four Cities in Java)
ABSTRAK Walaupun ide pembangunan kota yang berkelanjutan semakin diterima oleh banyak kalangan di Indonesia, kondisi kota-kota di Indonesia semakin saja buruk dan mengkhawatirkan. Ide-ide pembangunan kota yang berkelanjutan masih sekedar diwacanakan dan tidak dirumuskan menjadi satu program yang rinci dan terukur, sehingga secara berkala dapat dievaluasi perkembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur indikator keberlanjutan kota di Indonesia, khususnya indikator lingkungan fisik. Penelitian ini merupakan penelitian komparasi empat kota yakni: dua kota pantai (Semarang dan Surabaya) serta dua kota pedalaman (Bandung dan Yogyakarta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat kota menunjukkan perkembangan yang tidak menggembirakan dari aspek lingkungan fisik. Beberapa indikator utama lingkungan seperti: kualitas udara, kualitas air, sampah padat, perumahan, dan ketersediaan ruang terbuka hijau, cenderung menurun kondisinya. Penelitian ini juga menunjukkan variasi kondisi lingkungan yang cukup lebar antar empat kota yang dikaji. Kecenderungan kesamaan dan perbedaan indikator ini tidak disebabkan karena kebijakan dan program pemerintah kota, melainkan lebih karena kondisi geografis dan proses pertumbuhan kotanya masing-masing. Penelitian ini menyarankan diberlakukannya indikator keberlanjutan kota di Indonesia secara konsisten agar ide-ide pembangunan kota yang berkelanjutan dapat lebih aplikatif direalisasikan dan dimonitor. ABSTRACT Although the ideas of sustainable city are widely accepted in Indonesia, the environmental quality of Indonesian cities is getting worst. City governments in Indonesia do not have clear and consistent policy and program to implement the ideas of sustainable cities, nor do they have clear and practical indicators to monitor and evaluate city development. This study aims to measure sustainability indicators of Indonesian cities, particularly from the environmental point of views. It is a comparative study of four major cities in Java: two coastal cities (Semarang and Surabaya) and two inland cities (Bandung and Yogyakarta). The study used five indicators to meassure namely: (1) air quality, (2) water quality and provision, (3) solid waste, (4) housing, and (5) green-open spaces. The study shows that there are wide variations of environmental performance among four cities. Such variations are not caused by specific government policy and program, but merely caused by the natural condition and the growth of the cities themselves. The study suggests the importance of applying clear and consistent indicator of sustainable city in Indonesia as it would serve practical and useful means to monitor and evaluate city development
STUDI POTENSI ENERGIANGIN DAERAH PANTAI PURWOREJO UNTUK MENDORONG PENYEDIAAN LISTRIK MENGGUNAKAN SUMBER ENERGI TERBARUKAN YANG RAMAH LINGKUNGAN ((The Study of Wind Energy Potential at The Cost Area of Purworejo District To Stimulate The Electricity)
ABSTRAKPemanfaatan energi angin di Indonesia, khususnya untuk pembangkit listrik masih berskala sangat kecil. Penggunaan energi angin saat ini masih terbatas terutama untuk tujuan penelitian yang sifatnya sporadis. Pemanfaatan energi angin untuk pembangkit listrik guna keperluan masyarakat, masih terkendala oleh tidak cukupnya pengetahuan tentang sejauh mana teknologi turbin angin telah berkembang hingga sekarang, serta masih sangat terbatasnya pengetahuan dan informasi akan tempat-tempat yang mempunyai potensi energi angin yang tinggi. Pemerintah Propinsi Jawa Tengah melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Purworejo merencanakan untuk mendorong penggunaan energi yang bersih atau bersahabat dengan lingkungan untuk penyediaan energi listrik yaitu menggunakan sumber energi angin. Studi ini bertujuan untuk mencari daerah dengan potensi energi angin yang tinggi. Berdasar pada pengukuran kecepatan, arah dan pola angin di Kertojayan yang berlokasi di 67"49'49,5" LS dan 109'49'45,6" BT, menunjukkan bahwa angin di daerah tersebut mempunyai prospek yang baik untuk sumber energi listrik. Data yang terkumpul menunujukkan bahwa energi angin yang tersedia di daerah tersebut mempunyai potensi yang baik untuk menjadikannya sebagai daerah pembangkit energi listrik tenaga angin. Kecepatan angin rerata tahunan tercatat 6,06 m/dtk. yang memberikan rerata rapat daya sebesar 300,045 W/m2. Berdasar pada data yang ada dianjurkan untuk menggunakan mesin turbin angin berskala medium 100 kW setiap mesinnya dengan konstruksi arah tetap, guna memanfaatkan energi angin yang tersedia secara ekonomis. ABSTRACT The use of wind energy in Indonesia, especially for electricity generation, is of a very small scale. Current application today is limited mainly in sporadic experimental purposes. The use of wind energy in electricity generation for public uses is hindered by lack of awareness in the current level of wind turbine technology as well as inadequate knowledge and information on site potential of high wind energy. The government of Central Java province through Purworejo district government plans to stimulate the use of clean energy for electric energy supply by using wind energy source. This study is to revisit the wind energy source at Purworejo cost area by collecting information on the prospective sites with high wind energy potential. Based on the speed, direction and characteristic of wind measured at Kertojayan located at latitude 67o 49’ 49.5” S and longitude 109o 49’ 45.6 “ N , it is indicated that the site is a prospective site location for electric wind energy area. The collected data were used to show that the available wind energy at measuring site is sufficient for the generation of electricity. The mean annual wind speed was found to be 6.06 m/s. The corresponding annual power density was found to be 300.045 W/m2. On the basis of the wind data , it is suggested to use the medium scale of 100 kW wind turbine machine per unit with fixed direction for harvesting the available wind energy economically
TINGKAT KERUSAKAN LINGKUNGAN DI DATARAN TINGGI DIENG SEBAGAI DATABASE GUNA UPAYA KONSERVASI (The Level of Environmental Damage in Dieng Plateau for Database to Conservation Action)
ABSTRAK Penebangan hutan secara liar guna memperluas area tanaman kentang di wilayah Dieng, berakibat menurunnya tingkat keanekaragaman hayati. Berdasarkan hasil penilaian oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah (2001), hanya ditemukan kurang dari 50 jenis tumbuhan per hektar, sehingga dikategorikan sebagai kawasan miskin jenis tumbuhan dan perlu dilakukan upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan di dataran tinggi Dieng melalui konservasi lingkungan. Agar konservasi lingkungan berhasil, perlu adanya database kondisi lingkungan sehingga diperoleh cara konservasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan di dataran tinggi Dieng sebagai database guna upaya konservasi. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi secara langsung di lokasi penelitian melalui pengamatan, pengukuran, pemetaan, dan wawancara dengan petani dan aparat terkait. variabel yang akan diukur adalah tingkat kerusakan fisik lahan, kerusakan biologis lingkungan, dan aspek demografi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik, tingkat kerusakan lahan pertanian semakin parah, sehingga menurunkan produksi kentang di daerah ini. Secara biologis, tingkat keanekaragaman jenis tanaman liar berkisar antara 0,81 – 0,98, dan termasuk kategori rendah. Dari aspek perilaku penduduk dalam upaya konservasi, belum menunjukkan hasil, karena areal tanaman kentang menjadi semakin luas akibat penebangan hutan konservasi. Tingkat kerusakan lingkungan di daataran tinggi Dieng semakin parah, sehingga dapat menurunkan produksi kentang. Saran yang dapat disampaikan adalah perlunya dilakukan upaya pengelolaan dan konservasi kawasan Dataran Tinggi Dieng. Oleh karena kondisi geografisnya, pola usaha pertanian yang dilakukan di Dieng harus diikuti dengan kajian konservasi lahan, perlunya dicari tanaman pengganti kentang yang dapat mencegah terjadinya erosi. ABSTRACT Wild deforestation to expand potato cultivation area in Dieng Plateau has been reducing biodiversity. An assessment by Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah in 2001 found less than fifty species vegetation per hectare in the area, which means poor diversity. This research aims to know the level of environmental damage in Dieng Plateau as a database for conservation attempts. The variables to assess will be the level of environmental damages, both physically and biologically, in connection with demographic, economic, societal, and cultural aspects. Physical observation showed that plantation area was seriously damaged, which reduced the potato crops. Whereas from biological observation, it was found that the vegetational diversity index was relatively low (0.81-0.98). From behavioral view, it seemed that the inhabitants have not fully supported the conservation attempts; it can be seen that the potato cultivation area has expanded as deforestation has also spread out. As a result, waters resources have depleted significantly. From the current research, it was concluded that the level of environmental damage in Dieng Plateau was seriously damaged. It was suggested to manage the Dieng Plateau area. Due to unique geographical conditions, plantation design implemented in the area should be followed by conservation review. To prevent erosion, it is important to find substitutes to potatoes
PEMANFAATAN LIMBAH BIOMASSA CANGKANG KAKAO DAN KEMIRI SEBAGAI BAHAN BAKAR BRIKET (Utilization of Biomass Wastes from Cocoa and Candlenut Shells as Fuel Briquette)
ABSTRAK Biomassa adalah sumber energi utama jutaan manusia di dunia, akan tetapi penggunaannya menurun ketika batubara, minyak dan gas tersedia cukup melirnpah. Namun akhir-akhir ini perhatian muncul kembali karena terjadinya krisis energi dan isu-isu lingkungan. Pemanfaatan biomassa untuk menggantikan bahan bakar fosil dapat menurunkan persoalan emisi CO2 global. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji alternatif sumber energi terbarukan dengan pemanfaatan limbah biomassa cangkang kakao dan kemiri. Penelitian dilakukan dengan menghaluskan biomassa dengan ukuran partikel kurang dari I mm. Kemudian 5 gram campuran bahan baku dengan bahan pengikat gel tepung kanji dengan perbandingan 70:30 untuk kakao dan 80:20 untuk kemiri dibriket dalarn cetakan berdiarneter l6 mm. Setelah dibriket kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50 oC selama 5 jam. Pembakaran dilakukan dalam ruang bakar pada temperatur dinding 350 oC dan laju aliran udara bervariasi antara 0,1 - 0,4 m/s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cangkang kakao dan kemiri mempunyai nilai kalor masing-masing 16.998 dan 21.960 kJ/kg. Emisi CO cukup signifikan pada tahap devolatilisasi. Cangkang kakao memberikan total emisi CO lebih tinggi dibandingkan dengan cangkang kemiri. Laju aliran udara juga berpengaruh terhadap emisi CO yang dihasilkan. Penambahan laju aliran udara akan mengurangi emisi CO, hal ini karena adanya penambahan suplai oksigen sehingga pemnbakaran dapat berlangsung lebih sempurna. ABSTRACT Biomass was the primary source of energy for millions of people in the world, but when coal, oil, and gas became widely available, its use was declined. However, in recent years interest in biomass utilization increases because of energy crisis and environmental issues. Utilization of biomass for substituting fossil fuel can reduce global CO2 emission problem. The objective of this research is to study alternative energy sources that utilize biomass waste from cocoa and candlenut shells. Biomass materials were crushed until particle size of less than 1 mm were obtained. Five grams mixture of biomass and binder with composition 70:30 for cocoa and 80:20 for candlenut were briquetted in 16 mm cylindrical mould and dried in an oven at 50C for 5 hours. Combustion tests were conducted in a combustion chamber at constant wall temperature 350C and air velocity ranges between 0.1 – 0.4 m/s. The results show that cocoa and candlenut shells have calorific value of 16,998 and 21,960 kJ/kg respectively. The CO emission was generated significantly during devolatilization phase. Cocoa shell generate total CO emission higher than that of candlenut shell. The increase of air velocity can reduce CO emission, because more oxygen is supplied to the briquette that can help completing the combustion
OKSIDASI SENYAWA ORGANIK DENGAN RADIASI UV DAN HIDROGEN PEROKSIDA : TOLUEN DALAM LARUTAN (Oxidation of Organic Compounds with UV Radiation And Hydrogen Peroxide : Toluene in Aqueous Solutions)
ABSTRAK Umumnya limbah cair mengandung bermacam-macam senyawa organik dan unorganik. Sebagian besar senybawa organik, diantaranya adalah senyawa-senyawa aromatis, seperti toluene, tidak dapat dikenakan proses kemis maupun biologis konvensional. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian yang terkait dengan oksidasi toluen dengan gabungan UV (ultra violet) dan H2O2 yang sering disebut Advance Oxidation Processes (AOPs). Percobaan dilakukan di dalam sebuah reaktor batch pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi awal H2O2 maupun pH mempengaruhi tingkat oksidasi toluen. Order reaksi yang sesuai dengan sistem ini adalah reaksi order satu semu terhadap toluen. Hubungan nilai kapparent dengan konsentrasi awal H2O2 adalah linier sedangkan hubungan kapparent dengan pH adalah eksponensial. Pengaruh konsentrasi awal H2O2 terhadap kapparent dapat dituliskan dalam bentuk persamaan kapparent = 0,0015 Cinitial + 0,0204 min-1 dan pH awal terhadap konsentrasi kapparent adalah sebagai berikut kapparent = 0,0309 0,027 (pH) min-1. Pengaruh gabungan nkonsentrasi H2O2 dan pH awal dapat dinyatakan dalam persamaan kapparent = (0,0374 = 0,0009 Cinitial) e -0,0316 (pH) min-1ABSTRACT Generally, waste water contains a large variety of organic and inorganic compounds. Most organic compounds are resistant to conventional chemical and biological treatments. Among them are aromatic compounds, such as toluene. This paper presents the results of experimental oxidation of toluene with combinations of UV and H2O2 which are usually called Advanced Oxidation Processes (AOPs). The experiments were performed in a batch system at room temperature. The experimental results exhibit that both initial concentration of hydrogen peroxide and initial pH affect the degree of oxidation. It is found that the order of reaction is pseudo first order with regard to toluene. The value of kapparent. is observed linearly with respect to the initial hydrogen peroxide concentration and exponentially with regard to the initial pH. The effect of the initial hydrogen peroxide concentrations on kapparent is expressed as kapparent = 0,0015 Cinitial + 0,0204 min-I and of the initial values of pH is kapparent = 0,0309 -0,027 (pH) min-I. The effect of Cinitial and pH on kapparent can be expressed as kapparent = (0,0374+ 0,0009 Cinitial) e -0,0316 (pH) min-1