Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
IMPACT OF TROPICAL RAIN FOREST CONVERSION ON THE DIVERSITY AND ABUNDANCE OF TERMITES IN JAMBI PROVINCE (Dampak Konversi Hutan Tropika Basah Terhadap Keragaman Jenis dan Kelimpahan Rayap di Provinsi Jambi)
ABSTRACTThe degradation of tropical rain forest might exert impacts on biodiversity loss and affect the function and stability of the ecosystems. The objective of this study was to clarify the impacts of tropical rain forests conversion into other land-uses on the diversity and abundance of termites in Jambi, Sumatera. Six land use types used in this study were primary forest, secondary forest, rubber plantation, oil-palm plantation, cassava cultivation and Imperata grassland. The result showed that a total of 30 termite species were found in the six land use types, with highest species richness and abundance in the forests. The species richness and the relative abundance of termites decreased significantly when the tropical rain forests were converted to rubber plantation and oil-palm plantation. The loss of species richness was much greater when the forests were changed to cassava cultivation and Imperata grassland, while their abundance greatly decreased when the forests were degraded to Imperata grassland. Termite species which had high relative abundances in primary and secondary forests were Dicuspiditermes nemorosus, Schedorhinotermes medioobscurus, Nasutitermes longinasus and Procapritermes setiger. ABSTRAK Kerusakan hutan tropika basah dapat menimbulkan dampak lingkungan berupa penurunan keanekaragaman hayati serta terganggunya fungsi dan stabilitas ekosistem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak konversi hutan tropika basah menjadi bentuk penggunaan lahan lain di Jambi Sumatra terhadap keragaman jenis dan kelimpahan rayap. Enam tipe penggunaan lahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hutan primer, hutan sekunder, tanaman karet, tanaman kelapa sawit, kebun ketela pohon dan padang alang-alang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 30 jenis rayap pada 6 tipe penggunaan lahan tersebut, dengan keragaman jenis dan kelimpahan individu rayap tertinggi pada lahan hutan. Kekayaan jenis dan kelimpahan relatif rayap menurun secara nyata apabila ekosistem hutan dikonversi menjadi tanaman karet dan kelapa sawit. Penurunan kekayaan jenis menjadi jauh lebih besar ketika hutan dikonversi menjadi kebun ketela pohon dan padang alang-alang. Kelimpahan individu rayap akan sangat menurun apabila terjadi perubahan ekosistem hutan menjadi padang alang-alang. Jenis-jenis rayap yang mempunyai kelimpahan tinggi pada ekosistem hutan adalah Dicuspiditermes nemorosus, Schedorhinotermes medioobscurus, Nasutitermes langinasus dan Procapritermes stiger
ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN AGROWISATA KANDANG KELOMPOK TERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWAH DI DESA GIRIKERTO TURI SLEMAN YOGYAKARTA (The Analysis of Public Perception Toward the Existence Of Etawah Crossbreed Goat Agrotourism in)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar persepsi masyarakat sebagai pengguna dilihat dari sisi ekonomi, lingkungan , dan sosial. Penelitian dilakukan pada sentra usaha Kambing Peranakan Etawah sistem kandang kelompok di Desa Girikerto Turi Sleman. Pengarnbilan sampel secara purposive pada Dusun Nganggring, Dusun Kemirikebo, dan Dusun Sukorejo sebanyak 40 sampel. Persepsi dibagi menjadi 5 bagian yaitu skor I (sangat tidak setuju), skor 2 (tidak setuju), skor 3 (netral), skor 4 (setuju), dan skor 5 (sangat setuju). Uji validitas sampel menggunakan Analisis Faktor sedangkan reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach's didukung software SPSS versi 13. Persepsi masyarakat berdasar pendekatan matematis dan statistik dengan one sample t test. Untuk mengetahui besar perbedaan persepsi menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan uji Latin of Square (LSD). Perhitungan rerata skor total masyarakat dari sisi ekonomi menyatakan respons tidak setuju terhadap keberadaan kandang kelompok Kambing PE. Dari sisi lingkungan dan sosial masyarakat ketiga dusun menyatakan setuju terhadap keberadaan kandang kelompok. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan apresiasi masyarakat terhadap keberadaan kandang kelompok Kambing PE adalah setuju. Hal ini menunjukkan potensi kandang kelompok sebagai agrowisata ternak dari sisi ekonomi perlu dipertimbangkan sedangkan dari sisi lingkungan dan sosial sudah mendatangkan manfaat bagi masyarakat. ABSTRACTThe objectives of this research were to analyze how the public perception as the users viewed from economic, environmental, and social sides. The study was carried out in the central of Etawah Crossbreed Goat in Village Group system in Girikerto Village, Turi, Sleman. The sampling was using purposive sampling in Nganggring, Kemirikebo, and Sukorejo hamlets of 40 samples. The perception were divided into 5 parts: score 1 (completely disagree), score 2 (disagree), score 3 (neutral), score 4 (agree), and score 5 (completely agree). Parameter of validity test was using Factor Analysis. The reliability testing was using Alpha Cronbach supported by SPSS version 13 software. Perception tools were mathematics and statistics estimated with one sample t test. The calculation of average score of attitude and perception was using Analysis of Variance (ANOVA) with Latin of Square Test (LSD). The calculation of average score of economic side from three subvillages stated that they disagreed toward the existence of PE Goat in village group system. From environmental and social sides, people in three subvillages said agreed. The overall result showed that there was tendency of people appreciation toward the existence of PE Goat in village group system to be agree. This showed the potential of village group system as farm agro tourism from economic view must be considered, but from environmental, and social sides had been useful for the people
KEMAMPUAN GENTENG PLASTIK BERGELOMBANG (CORRUGATED PLASTIC) SEBAGAI BIOFILTER PARTIKEL AMONIAK DAN BAHAN ORGANIK DI MEDIA BUDIDAYA DAN LIMBAH CAIR BUDIDAYA IKAN (Performance of Corrugated Plastic as Biofilter of Ammonia Particle and Organic Material)
ABSTRAKPertumbuhan budidaya ikan dalam beberapa dekade ini berkembang sangat pesat, hal ini karena permintaan akan ikan meningkat. Meningkatnya kegiatan budidaya ikan selalu diiringi dengan meningkatnya limbah yang dihasilkan. Hal ini akan sangat cepat berpengaruh bila sistem budidaya yang dipakai adalah semi intesif atau intensif. Limbah tersebut harus segera dihilangkan atau dikurangi, karena akan berdampak pada ikan yang dibudidaya dan lingkungan seperti sungai dan laut. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui kemampuan genteng plastik bergelombang mengurangi limbah yang dihasilkan budidaya ikan yaitu Total Suspended Sediment (TSS), Suspended Sediment (SS), amoniak dan bahan organik (COD). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa air limbah budidaya ikan yang mengandung TSS, SS, amoniak dan bahan organik setelah dilewatkan dengan genteng plastik bergelombang konsentrasinya menurun dengan tingkat efisiensi pengurangan yang terjadi di dalam kolam ikan dan di luar kolam ikan adalah sebagai berikut: 74,51% dan 54,42% (TSS); 39,20% dan 49,12% (SS); 19,82% dan 14,2% (amoniak); dan 24,82% dan 22,47% (COD). Ternyata genteng plastik bergelombang mempunyai tingkat pengurangan (g/m3/hr) dan tingkat pengurangan spesifik (mg/m2/hr) terhadap kandungan amoniak lebih efektif bila dibandingkan dengan material lain seperti plastic rolls, scrub pads, pipa PVC dan lain sebagainya. ABSTRACTAquaculture has been developing rapidly during the last few decades; it is due to the increase of fish demand. Increasing aquaculture activities especially with semi-intensive and intensive system have significant effect on waste production, which has to be removed or to be reduced quickly because will effect on fish in rearing tank and environment when through away to environment such as river and sea. The objectives of this study were to know the capability of corrugated plastic to remove or to reduce wastes content produced by aquaculture activities, i.e, Total Suspended Sediment (TSS), Suspended Sediment (SS), ammonia and organic matter (COD). The result of the study showed that corrugated plastic effectively reduced TSS, SS, ammonia and COD both within rearing tank and in the outside of rearing tank with removal efficiency: 74.51% and 54.42% (TSS); 39.20% and 49.12% (SS); 19.82% and 14.2% (ammonia); and 24.82% and 22.47% (COD). When corrugated plastic is compared with other materials such as plastic rolls, scrub pads, PVC pipes etc, it is shown that corrugated plastic performed significantly higher removal rate (g/m3/d) and specific removal rate (mg/m2/d) to ammonia
INTERRELASI FAKTOR FISIK, NON FISIK DAN PERILAKU PETANI DALAM MANAJEMEN SUMBER DAYA PERTANIAN DI MUNA BARAT (Interrelationship Environmental Factor and Farmer’s behavior in Agriculture Resource Management at West Muna,Southeast Sulawesi Province)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji interrelasi antara faktor fisik, non fisik dan perilaku petani dalam manajemen sumber daya pertanian, dan menemukan faktor yang berpengaruh terhadap perilaku petani dalam manajemen sumber daya pertanian di Muna Barat. Metoda penelitian menggunakan rancangan kausal-komparatif. Wilayah penelitian terbagi atas dua dimensi ekologikal, yaitu: wilayah antara rata-rata surut terendah-arbitrer garis pasang surut (wilayah I) dan wilayah antara arbitrer dari garis pasang surut-batas daratan (wilayah II). Populasi penelitian adalah petani yang berusahatani tanaman pangan dengan pengambilan sampel bertahap. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara terstruktur, dan wawancara mendalam. Kerangka pokok analisis menggunakan pendekatan ekologi. Data dianalisis dengan Environment theme of analysis & regresi berganda program SPSS window ver.17. Hasil penelitian adalah: (l) interrelasi antara faktor fisik dan non fisik di wilayah II lebih kuat daripada di wilayah I, (2) frekuensi akses informasi pertanian memiliki kontribusi terbesar dan positif (+) terhadap perilaku petani dalam manajemen sumber daya pertanian tanaman pangan di wilayah I dan II. ABSTRACTResearch objectives are: (1) to examine interrelationship between physical and nonphysical factors toward farmer’s behavior in agriculture resources management, and (4) to find factor’s influence farmer’s behavior in agriculture resource management in West Muna. Research methods were using causal-comparative design. Research region was divided in two ecological dimensions, they are: the area between the lowest average ebb tide-arbitrary intertidal line (Region I) and the area between the arbitrary from intertidal-coastline (Region II). Research populations are farmers with at least four season of crop farming experience in West Muna with multi stage sampling. Data collecting techniques were observation, structured interview, and in-depth interview. Basic frameworks of the analysis was using ecological approach. Data was analyzed with Environment theme of analysis & multiple regression analysis using Windows SPSS version 17 Program. The research results were: (1) interrelationship between physical and nonphysical factor in region II is stronger than in region I, (2) The access frequency of agriculture information has the biggest and positive (+) contribution toward farmer’s behavior in crop management in region I and II
SISTEM PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG PADA WATER POND DAN APLIKASI MODEL ENCAPSULATION IN-PIT DISPOSAL PADA WASTE DUMP TAMBANG BATUBARA (Acid Mine Drainage Treatment System in Water Pond and Application of Encapsulation In-Pit Disposal Model in Waste Dump)
ABSTRAKKegiatan pertambangan batubara umumnya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan di lokasi penambangan. Salah satu dampak negatif yang signifikan adalah terjadinya pencemaran air asam tambang yang dapat merusak fungsi lingkungan seperti komponen air dan tanah. Umumnya lokasi tambang batubara yang berpotensi besar sebagai sumber terbentuknya air asam tambang adalah kolam penampungan air tambang (water pond) dan tempat penimbunan material buangan sulfida (waste dump). Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan rembesan air asam tambang yang berasal dari kolam penampungan air (water pond) dan mengurangi terbentuknya air asam tambang pada tempat penimbunan material buangan sulfida (waste dunp). Sistem pengendalian pencemaran air asam tambang meliputi pengolahan air asam tambang (water pond) dan pengelolaan material sulfida (waste dump). Metode pengolahan air asam tambang adalah menetralisasi air asam dengan reagen alkali. Reagen alkali yang paling efektif dan ekonomis adalah batugamping (kalsium karbonat). Jumlah batugamping yang dibutuhkan untuk menetralkan air asam lambang pada water pond (5040 m3) sebesar 104,56 kg. Pengelolaan material buangan sulfida (waste dump) adalah menerapkan model encapsulation in-pit disposal. Hal ini sangat efektif untuk mencegah terbentuknya air asam tambang. Material perlapisan yang digunakan adalah lempung (clay), karena mempunyai nilai permeabilitas yang sangat kecil yaitu sebesar 2,3148 x 10-9 m/det dan ketersediaannya mencukupi. ABSTRACTCoal mining activity generally can generate negative impact to environment on mining location. One of the negative impact is contamination of acid mine drainage which able to destroy environment and ecosystem as water and soil. High potency source of acid mine drainage formed on coal mining location are water pond and waste dump. This aim of the research are control of acid mine drainage from water pond and prevention of acid mine drainage formed on the waste dump. The control system of acid mine drainage contamination included treatment of acid mine drainage into water pond and management of oxide/benign waste on the waste dump. Treatment method is neutralization of acid mine drainage into water pond using alkali reagent. The most effective and economic alkali reagent is limestone. Amount of limestone needed to neutralize of acid mine drainage (5040 m3) into water pond is 104.56 kg. The management of oxide/benign waste is application of encapsulation in-pit disposal model. This model is more effective to prevent acid mine drainage formed. Cover materials are often clay subsoils and have been used for covering to prevent oxidation. The clay have high compaction rates and low permeability (2.3148 x 10-9 m/s) and this material is sufficient availability.
PENGGUNAAN DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK PEMANTAUAN KEKRITISAN DI DAS LUK ULO HULU JAWA TENGAH (Use of Remote Sensing Data and GIS (Geographic Informatiion System) for Monitoring Cryticalness in DAS Luk Ulo Stream, Central Java Province)
ABSTRAKDAS Lukulo Hulu adalah DAS yang berada di Jawa Tengah dengan koordinat 340.000 - 365.000 mT dan 916.0000 - 917.5000 mU. Aktifitas masyarakat dimungkinkan sangat mempengaruhi kondisi DAS, yaitu dengan ekploitasi sumberdaya alam (batu, pasir). Pada DAS Lukulo Hulu mempunyai 7 (tujuh) Sub DAS yaitu, DAS Lukulo, DAS Lokidang, DAS Maetan, DAS Gebang, DAS Loning, DAS Mondo, dan DAS Cacaban. Pehitungan lndeks Erosivitas Tertimbang menggunakan SIG (Sistem lnformasi Geografis) memperlihatkan bahwa DAS Lokidang merupakan DAS kritis yang mempunyai prioritas pertama, nilai dari total lndeks Erosivitas Tertimbangnya sebesar 1082,62 dengan luas DAS sebesar 3602,705 hektar. Darr sudut nandang penutup lahan (vegetasi) dengan metode penginderaan jar.rh menggunakan transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) DAS Gebang, DAS Cacaban, dan DAS Lukulo merupakan DAS yang sangat mudah rusak (erosi) hal tersebut karena pentrukaan lahannya tidak terdapat vegetasi sehingga mudah tererosi. ABSTRACTLukulo Upstream Watershed is watershed which located in Central Java with coordinate 340.000 - 365.000 mT and 916.0000 - 917.5000 mU. Human activities which still immeasurable influence the watershed condition, its exploitation of natural resouces (rocks, sand). In Lukulo Upstream Watershed there are seven sub watershed they are Lukulo sub watershed, Lokidang sub watershed, Maetan watershed, Gebang watershed, Loning watershed, Mondo watershed, and Cacaban watershed. Calculation using GIS (Geographic Information System) for deliberated erosivity index formula found that Lokidang watershed is first priority of watershed criticaly, value the deliberated erosivity index equal to 1082,62 broadly 3602,705 hectare. While from viewpoint land cover (vegetation) with remote sensing method transformation using NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) Gebang watershed, Cacaban watershed, and Lukulo watershed is watershed which is very easy of damage (erosion) because the land surfaces which do not closed with vegetatation so erosion is easy
LIFE CYCLE ASSESSMENT PILIHAN PENGELOLAAN SAMPAH : STUDI KASUS WILAYAH KARTAMANTUL PROPINSI D.I. YOGYAKARTA (Life Cycle Assessment of Solid Waste Management Options : Case Study of the KARTAMANTUL Regions, Province of D.I.Yogyakarta)
ABSTRAKBerbagai skenario sistem pengelolaan sampah telah dikembangkan dan dibandingkan untuk sampah yang dikelola di wilayah KARTAMANTUL dengan menggunakan metodologi life cycle assessment (LCA). Metode pengelolaan sampan yang dipertimbangkan dalam skenario adalah landfilling tanpa atau dengan pemungutan energi, insinerasi, gasifikasi, dan anaerobic digestion. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai indikator dampak dalam menentukan pilihan sistem pengelolaan sampah yang paling sesuai dari aspek lingkungan. Jumlah sampah yang dikelola ditetapkan sebagai unit fungsi dari sistem yang diarnati. Life cycle inventory (LCI) dilakukan dengan melibatkan asumsi-asumsi pada masing-masing metode pengolahan dalam sistem pengelolaan sampah. Produksi energi dan inventori emisi dihitung dan diklasifikasikan ke dalam kategori dampak pemanasan global, asidifikasi, eutrofikasi, dan pembentukan oksidan fotokimia. Indikator kategori dampak dikuantifikasi dengan faktor ekuivalensi dari emisi yang sesuai untuk mengembangkan kinerja lingkungan dari masing-masing skenario. Pada sebagian besar kategori dampak gasifikasi langsung ditemukan sebagai metode pengelolaan yang paling layak, kecuali untuk kategori asidifikasi. Analisis sensitivitas telah digunakan untuk menguji perubahan hasil dalam berbagai variasi masukan tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil secara keseluruhan. Oleh karena itu, alternatif terbaik terhadap sistem pengelolaan yang ada saat ini dapat diidentifikasi. ABSTRACTVarious solid waste management (SWM) system scenarios were developed and compared for solid waste managed in KARTAMANTUL region by using life cycle assessment (LCA) methodology. The solid waste management methods considered in the scenarios were landfilling without and with energy recovery, incineration, gasification, and anaerobic digestion. The goal of the study was to assess indicators in determining the most suitable environmentally aspect of SWM system options. The functional unit of the study was the ammount of solid waste managed. The life cycle inventory analysis carried out by including the assumtions made for each processes in the SWM system. Energy production and inventory emissions were calculated and classified in to impact categories; global warming, acidification, eutrophication, and photochemical oxidant. Impact categories indicator were quantified with equivalence factors of relevan emissions to develope the environmental profiles of each scenario. In most of the categories, direct gasification was found to be the most feasible method, except the acidification. Sensitivity analysis has been used to test some of the assumptions used in the influence of variety input to the results but none have effect on the overall result. Therefore, the best alternative to the existing SWM can be identified.
MASYARAKAT BADUY, HUTAN, DAN LINGKUNGAN (Baduy Community, Forest, and Environment)
ABSTRAKMasyarakat Baduy merupakan masyarakat yang hidupnya mengasingkan diri di pedalaman Banten Selatan. Masyarakat Baduy terkenal sebagai masyarakat yang mampu mengelola hutan dan lingkungannyadengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi masyarakat Baduy dan lingkungan serta bagaimana mereka memanfaatkannya dengan arif dan bijaksana. Metode dasar yang digunakanadalah metode survey dengan beberapa teknik PRA. Penelitian dilakukan di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Propinsi Banten. Data yang dikumpulkan, baik data primer ataupun data sekunder, kemudian dianalisis dengan analisis dekriptif kualitatif dan kuantitatif. Luas wilayah Baduy adalah 5.101,8 hektar, terdiri dari areal budidaya seluas 2.570 hektar (50,4 %) dan areal perlindungan lingkungan seluas 2.532 hektar (49,6 %). Jumlah penduduknya sebanyak 11.172 jiwa (2.948 KK). Seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai petani padi kering (huma) dengan sistem perladangan berpindah yang diatur oleh adat. Areal perlindungan lingkungannya terdiri dari hutan lindungan kampung dan hutan tutupan yang mutlak hanya untuk kawasan perlindungan. Dalam pengelolaan lingkungannya, masyarakat Baduy berpegang pada aturan adat yang intinya adalah pengaturan tata ruang yang tegas untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. ABSTRACTBaduy community is people that lives in rural areas-in Banten Selatan They are able to manage the forest and the environment well. This study aims to identify Baduy society and the environment and how they treat it with the wise and prudent. Basic method used is survey method with several techniques PRA. Research is done in Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak. Banten Province. Data was described qualitatively and quantitatively analyzed. The Baduy area is 5101.8 hectares, consists of the cultivation area of 2,570 hectares (50.4%) and the area environmental protection of 2532 hectares (49.6%). The population of 11,172 people (2,948 families). All the Baduy communities are farmers of dry rice (huma) with the shifting cultivation system. The area of environmental protection consists of hutan tutupan and hutan lindungan kampung. In the management of the environment, community Baduy hold on customary rules which regulate the management of protected areas and cultivation area
RETAID DI PERAIRAN PESISIR BARAT TABLASUPA KABUPATEN JAYAPURA, PAPUA (Red-tide at Western Coast of Tablasupa, Jayapura, Papua)
ABSTRAKRetaid (red-tide) adalah fenomena alam yang sering terjadi baik di perairan laut dan tawar. Fenomena ini menunjukkan perubahan warna dari biru laut menjadi merah, coklat, kuning bahkan putih susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi terjadinya retaid di perairan Tablasupa, Jayapura, Papua. Pencuplikan plankton dilakukan pada tanggal 8-10 Agustus 2007 di dua lokasi dengan empat ulangan waktu (pagi, siang, sore dan malanr). Hasil analisis laboratorium menunjukkan adanya 18 genus tetapi hanya dua genus yang berpotensi menimbulkan retaid yaitu Ceratium dan Chaetoceros. Kemungkinan kecil terjadinya retaid di perairan Tablasupa karena kemelimpahan fitoplankton cukup rendah. ABSTRACTRed-tide is natural fenomenon and can be raised at marine and fresh-waters. This fenomenon was visualized by color changes from dark-blue to become redess, browness, yellowish and milkess. The objectives to find red-tide potentially at Tablasupa west coast, Jayapura, Papua. The sample was collected on August 8-10st, 2007, at two locations and four replicated. The results there were 18 genera and two red-tide potential genera was Ceratium dan Chaetoceros. There will no red-tide in Tablasupa because low abundance of phytoplankton
ALOKASI PENDAPATAN DARI JASA PENGURANGAN EMISI MELALUI PENCEGAHAN DEFORESTASI: SEBUAH TINJAUAN ALOKASI BENEFIT DAN KERANGKA HUKUM FISKAL (Alocation of Benefit from Emission Reduction Service Through Deforestation Avoided: An Overview of Benefit)
ABSTRAKDeforestasi menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 18% dari total emisi gas rumah kaca per tahun. REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forests Degradation) adalah mekanisme yang dikembangkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca akibat deforestasi dan degradasi hutan. Para pihak menginginkan agar REDD juga berperan dalam pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar hutan di negara berkembang. Masyarakat sekitar hutan merupakan salah satu pihak yang berhak untuk memperoleh alokasi dari pendapatan tersebut. Peraturan perundangan yang mengatur alokasi pendapatan dari REDD hingga saat ini belum tersedia. Paper ini mengemukakan gagasan mengenai proporsi alokasi pendapatan dari REDD. Upaya ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam menyusun peraturan perundangan yang diperlukan. Proporsi hipotetik alokasi pendapatan yang dikemukakan di sini diupayakan untuk mengakomodir para pihak, antara lain: pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat sekitar hutan. Proporsi hipotetik tersebut merupakan hasil tinjauan terhadap kerangka hukum fiskal yang tersedia dan azas alokasi benefit. ABSTRACTDeforestation contributed to green house gas emission until 18% of total emission per year. REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forests Degradation) is a mechanism developed for reducing green house gas emission from deforestation and forest degradation. Annex 1 countries insist Non Annex 1 countries (developing countries) to implement REDD as well as poverty eradication of local community. Local community is a considered stakeholder to get benefit from deforestation avoided service. On the other hand, the legal status of benefit allocation mechanism is unavailable. This paper contributed a hypothetical allocation to stakeholders. The stakeholders involve in this mechanism are: national government, local government and local community. The hypothetical proportion has been resulted by an overview of recent legal framework of fiscal and benefit allocation analysis