Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
KESESUAIAN LAHAN HIJAUAN PAKAN KAMBING DI YOGYAKARTA MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (A Land of Unit Map for Goat Tree Leaves in Yogyakarta using Geographic Information System Approach)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membuat pemetaan kesesuaian lahan pakan hijauan kambing di kabupaten Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian mencakup 2 kegiatan utama yaitu (1) Analisis proksirnat untuk mengetahui kandungan energi tertinggi dari jenis kacang-kacangan atau legum ( 2) Pemetaan lahan pakan dari tanaman legum yang mempunyai kandungan energi tertinggi di tiap kabupaten. Analisis kesesuaian lahan pada setiap satuan lahan diperoleh melalui proses tumpang susun (overlay) peta lereng, bentuk lahan dan penggunaan lahan dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan tanaman legum yang mempunyai sumber energi tertinggi adalah kaliandra dengan berat kering berkisar 30-40%. Lahan untuk kaliandra hampir sarna di 4 kabupaten yaitu lebih dari 25%. Lahan yang paling sesuai untuk kaliandra adalah di Kabupaten Sleman.ABSTRACTThe study aimed to provide a land unit map at district in Special District of Yogyakarta and a land appropriateness map, especially for goat tree leaves. The method of the study consisted of main activities which was 1) proximate analysis to find out the energy sources for nutrition need as provided by the tree leaves to goat that an appropriate was obtained from legume. 2) Mapping from legum that have highest dry matter in each district . The analysis of land appropriateness in every land unit obtained from overlaying process of slope map, land morphology and management using Geographic Information System. The result showed that the highest energy source was Calliandra Calothyrsus and have dry matter content ranged from 30-40%. The land suitable for Calliandra Calothyrsus almost the same in districts more than 25%. The land most suitable for Calliandra Calothyrsus was located in Sleman district.
AGIHAN SPASIAL EKOLOGIKAL POTENSI AIRTANAH UNTUK KEBUTUHAN DOMESTIK DI CEKUNGAN AIRTANAH PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH (Spatial Ecological Distribution of Groundwater Potency to Domestic Availability at Palu Groundwater Basin Central Sulawesi Province)
ABSTRAKPeningkatan jumlah penduduk dan pengembangan berbagai sektor seperti domestik, industri, jasa, pertan ian dan sektor lainnya di Kota Palu, secara langsung maupun ,tidak langsung menuntut penyediaan sumber air bersih yang semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis potensi kuantitatif airtanah bebas dan tertekan berdasarkan agihan spasial ekologikal dan menyusun pola arahan spasial pemanfaatan airtanah untuk kebutuhan domestik. Pendekatan utama dalam penelitian ini adalah analisis spasial ekologikal dengan metode survei sebagai dasar untuk analisis potensi kuantitatif air tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) tingkat potensi kuantitatif air tanah bebas rata-rata sedang (1,0-5,0 liter/detik), mata air kecil (10,0 liter/detik), dan air tanah tertekan besar rata-rata > 10,0 liter/detik namun di beberapa tempat bernilai nihil (tidak ada data pengukuran), 2) kebutuhan air bersih di daerah perkotaan (Kecamatan Palu Timur) pada tahun 2017 diperkirakan akan lebih tinggi daripada di daerah pedesaan (Kecamatan Palu selatan dna Palu Barat) dan 3) agihan zona penurapan air tanah terdiri atas : zona penurapan I: potensi air tanah sedang – tinggi di Kecamatan Palu Timur dan Palu Barat (pusat kota), zona penurapan II: potensi air tanah sedang di Kecamatan Palu Selatan (daerah transisi) dan zona penurapan III: potensi air tanah sangat terbatas, agihan di daerah yang tidak termasuk daerah arahan penurapan, yaitu Kecamatan Palu Utara, Kabupaten Donggala dan Sigi (daerah pinggiran) karena meupakan daerah imbuhan air tanah (recharge area)ABSTRACTThe increasing of population number and development of various sectors such as domestic, industrial, services, agriculture and other sectors at Palu City directly or indirectly also require increasing provision of fresh water sources. This study aimed to: analyze the groundwater potency based on distribution of spasial ecological and to compose the design of spatial direction groundwater for domestic used. he study of spatial distribution of groundwater potency based on the approach of spatial ecological to be done with survey methods. The research result indicate that: 1). level of quantitative potency for unconfined groundwater medium category, amount 1.0- 5,0 litre/second, spring debit small (10.0 litre/seconds), and confined groundwater are big (> 10.0 litre/ seconds), 2). groundwater demand at city area (East Palu District) at 2017 predicted high from rural area (South Paluand West Palu District), and 3). the landing groundwater: plastering zone I: groundwater high – medium potential, distribution in west and east Palu District (Central City), plastering zone II: groundwater potential exactly, distribution in South Palu (Transsition Region), and plastering zone III: groundwater very limit, distribution in region not plastering: North Palu District, Donggala and Sigi Regency (Edge Region)
ANALISIS POLA INTERAKSI SERANGGA-GLMA PADA EKOSISTEM SAWAH SURJAN DAN LEMBARAN YANG DIKELOLA SECARA ORGANIK DAN KONVENSIONAL (Analysis of Insect-Weed Interaction Pattern in Surjan and Lembaran Rice Farm Ecosystems under Organic and Conventional)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur food web dalam pola interaksi serangga-gulma pada ekosistem sawah surjan dan lembaran yang dikelola secara organik dan konvensional. Penelitian dilakukan pada enam petak sawah surjan dan enam petak sawah lembaran di daerah Kulon Progo dalam dua musim tanam pada bulan Desember 2009 sampai Juli 2010. Baik sawah surjan maupun sawah lembaran, masing-masing dibedakan dalam dua pengelolaan, yaitu pengelolaan organik dan konvensional, dengan ulangan masing-masing tiga petak. Lima plot ukuran 1x1 m ditempatkan pada masing-masing petak yang tidak diubah posisinya sampai berakhir satu musim tanam. Inti dari penelitian lapangan ini adalah menghitung jenis dan kelimpahan gulma setiap tiga minggu sekali untuk setiap petak, demikian juga untuk jenis dan kelimpahan dari serangga herbivora untuk setiap jenis tanaman/gulma pada setiap plot. Analisis data dilakukan dengan program Bipartite in R statistics 2.12.0, dan dilakukan uji pengaruh tipe sawah dan cara pengelolaan lahan terhadap struktur dan network level (jumlah jenis trofik atas, jumlah jenis trofik bawah, keterhubungan, diversitas Shannon, dan kemerataan interaksi) dengan menggunakan General Linear Model (GLM) dalam program SPSS 17.0. Hasil penelitian sawah surjan yang dikelola secara organik mempunyai pola interaksi serangga-gulma yang lebih kompleks dengan lebih banyak link interaksi, jumlah jenis trofik atas dan bawah, indeks diversitas Shannon, dan kemerataan interaksi yang lebih tinggi, serta keterhubungan (connectance) yang lebih rendah. ABSRACTThe aims of this research was to analyse food web structure of insect-weed interaction in surjan and lembaran rice field ecosystems under organic and conventional managements. We observed six rice fields of local farms called “surjan” rice fields, and six rice fields of “lembaran” farms in Kulon Progo District, central Java, in two planting seasons in December 2009 until July 2010. They were divided into two types of managements, i.e. organic and conventional farming. Five 1x1 m plots per field were taken as sampling units and were not changed until the end of the planting season. The type and abundance of each type of weeds were recorded every three weeks, and counted for accordingly. In the similar way, type and abundance of herbivore insects were observed for each weed in each plot. Data analyses were conducted in Bipartite program of R Statistics 2.12.0, and the effect of farm type and management on network level of food web structure (number of higher trophic species, number of lower trophic species, connectane, Shannon diversity index and interaction evenness) was tested per field using General Linear Model (GLM) with SPSS Statistics 17.0. The result of this research is that organic surjan rice farm had more much links in food web structure, more number of higher and lower trophic species, Shannon diversity and interaction evenness, and less connectance
DAMPAK PENGELOLAAN LAHAN PERTANIAN TERHADAP HASIL SEDIMEN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI GALEH KABUPATEN SEMARANG (The Impact of Agriculture Land Management to The Sediment Yield in Galeh Watershed Semarang District)
ABSTRAKPerubahan jumlah manusia dan bentuk kegiatannya akan mengakibatkan perubahan dalam pengelolaan lahan. Sistem pengelolaan lahan pertanian pada daerah aliran sungai (DAS) Galeh umumnya masih belum memperhatikan kemampuan dan kesesuaian lahan. Masyarakat yang bermukim di DAS Galeh didominansi oleh petani. Dinamika pengel laan lahan pada sistem DAS akan mempengaruhi kondisi aliran sungai, yang menyebabkan terjadi perubaban debit aliran sungai sebagai keluaran DAS, sehingga mengakibatkan perubahan dalam kualitas lingkungan. Dampak yang sering terlihat adalah terjadinya kerusakan lahan karena meningkatnya erosi tanah dan sedimentasi. Kajian ini dilakukan dari bulan Pebruari sampai bulan Juli tahun 2010 di DAS Galeh, Kabupaten Semarang dengan tujuan untuk mengetahui hasil sedimen yang diakibatkan oleh pengelolaan lahan pertanian yang berbeda di daerah aliran sungai Galeh. Kajian dilakukan dengan cara menganalisis sampel-sampel sedimen melayang (suspended sediment) yang diambil dari outlets ketiga sungai utama yang bermuara ke Sungai Galeh. Parameter-parameter yang diukur untuk keperluan analisis hasil sedimen ini, yaitu konsentrasi sedirnen melayang Cs (mg/l), debit aliran air sungai Q (m3/detik) dan debit sedimen melayang Qs (gr/detik). Dari hasil kajian tampak bahwa terdapat debit aliran yang berpengaruh terbadap debit suspensi, di mana semakin besar debit aliran maka semakin besar debit suspensi. Pengelolaan lahan sawah memiliki debit aliran dan debit suspensi yang lebih tinggi dibanding pengelolaan lahan kebun dan lahan tegalan. Sedimen yang dihasilkan pada pengelolaan lahan sawah sebesar 14,593 ton/hari; pengelolaan lahan kebun sebesar 1,308 ton/hari, pengelolaan lahan tegalan sebesar 0,718 ton/hari.ABSTRACTThe change of the number of people and the activity type will cause a change in cultivation land. Agriculture land cultivation system in Galeh Watershed (DAS) generally still has not pay attention to the ability and appropriate land. The residents who stay in DAS Galeh are dominated by farmer. The dynamics of cultivation land on the DAS system will influence the river current condition, which causing the change of river current debit occurred as output of DAS, thus result in the change in environment quality. Impact that often observed is occurred damage of land because the increased of land erosion and sedimentation. This study was done from February until July 2010 in DAS Galeh, Semarang District, aimed to know the sediment result which caused by different cultivation of agriculture land in the river current area Galeh. The study conducted with the methods is analyzing samples of suspended sediment that taken from outlets of the third main river which flow into downstream Galeh river. The parameters measured to analyze requirements of this sediment result, were concentration of suspended sediment Cs (mg/l), discharge debit Q (m3/second) and discharge of suspended sediment debit Qs (gram/second).The result of the study is showed that there is current debit which affecting the suspension debit, whereas greater the current debit thus greater the suspension debit. Cultivation land of rice field is 14.593 ton/day; cultivation land of plantation is 1.308 ton/day, cultivation land of garden is 0.718 ton/day
KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL AKIBAT PEMANENAN KAYU REDUCED IMPACT LOGGING DAN KONVENSIONAL DI HUTAN ALAM TROPIKA (STUDI KASUS DI AREAL IUPHHK PT. INHUTANI II, KALIMANTAN TIMUR) (Residual Stand Damage Caused by Conventional and Reduced Impact Logging))
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerusakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu dengan teknik reduced impact logging (RIL) di hutan alam tropika. Penelitian dilakukan di areal PT Inhutani II, Kalimantan Timur. Petak penelitian ini masing-masing 3 (tiga) plot permanen dengan ukuran masing-masing 100 m x 100 m. Plot-plot permanen/pengukuran diletakkan secara sistematis pada kedua petak penelitian sedemikian rupa sehingga mewakili tempat-tempat sebagai berikut : lokasi tempat pengumpulan kayu (TPN), di lokasi jalan sarad utama dan di lokasi jalan sarad cabang. Hasil inventarisasi tegakan menunjukkan bahwa potensi tegakan rata-rata pada petak pemanenan kayu konvensional dan RIL masing-masing sebesar 353,51 N/ha dan 362,67 N/ha. Jumlah kerusakan tegakan tinggal rata-rata akibat pemanenan kayu pada petak pemanenan kayu konvensional dan RIL masing-masing sebesar 134,67 N/ha (38,10 %) dan 85,33 N/ha (23,52 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan diterapkan teknik pemanenan kayu RIL dapat mengurangi kerusakan tegakan tinggal tingkat tiang dan pohon sebesar 9,86 N/ha atau 36,61 % dari yang dihasilkan pada petak pemanenan kayu konvensional. Dengan demikian pemanenan kayu konvensional menyebabkan kerusakan tegakan tinggal lebih besar dibandingkan dengan teknik RIL. ABSTRACTThis research examined the effect of reduced impact logging (RIL) to residual stand damages in natural tropical forest. A research was done at natural tropical forest of PT Inhutani II, East Kalimantan. The effect of reduced impact logging to residual stand were studied using the data of three plots with each size 100 m x 100 m are placed based on purposive sampling at landing, main skiddtrail and branch skiddtrail, respectively. The results of the research showed that that the potency of commercial timber species in conventional logging and RIL were 353.51 N/ha and 362.7 N/ha. The number of residual stand damages caused by conventional logging and RIL were 134.67 N/ha (38.10 %) and 85.33 N/ha (23.52 %). Results of the research showed that reduced impact logging is reduced trees damages 9.86 N/ha (36.61 %) compared with conventional logging. These researches indicated that conventional logging in the tropical natural forest caused heavier damage on residual stand when compared with a reduced impact logging
PUSAKA SAUJANA BOROBUDUR: PERUBAHAN DAN KONTINUITASNYA (Borobudur Cultural Landscape: Change and Continuity)
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk mengkaji potensi dan nilai keunggulan pusaka saujana Borobudur, serta mengetahui perubahan dan kontinuitasnya. Dengan interpretasi sejarah dan penjelasan secara naratif, wujud pusaka saujana Borobudur dapat diapresiasi dalam bentuk: a) pola pengolahan lahan; b) tata kehidupan; c) arsitektur tradisional kawasan; dan d) bentukan-bentukan alami. Potensi yang dimiliki pusaka saujana Borobudur meliputi potensi budaya, sejarah, bentukan-bentukan alami, dan panorama kawasan. Potensi-potensi yang dimiliki kawasan Borobudur, serta kontinuitas kondisi bentanglahan dan budayanya menjadikan kawasan Borobudur sebuah pusaka saujana yang unggul, dan nilai keunggulan ini meliputi: a) kandungan sejarah lingkungan kawasan, b) kawasan peninggalan benda-benda arkeologi, c) saujana-saujana desa yang menunjukkan kehidupan agraris masyarakatnya, dan d) panorama indah bentanglahan. Dalam lingkungan yang dinamis, pusaka saujana Borobudur terus mengalami perubahan yang dapat mengancam kontinuitasnya. Perubahan terjadi terutama pada tata guna lahan, kualitas visual, dan sebagian budaya masyarakat, sedangkan kontinuitas masih dapat ditemui pada kegiatan pertanian secara tradisional; sebagian tradisi atau adat istiadat yang berkaitan dengan pertanian, keagamaan, dan kepercayaan; arsitektur tradisional kawasan perdesaan; dan panorama indah bentanglahan. Sampai saat ini, perubahan-perubahan yang terjadi belum berdampak pada hilangnya atau menurunnya kontinuitas pusaka saujana Borobudur. Meskipun demikian, upaya-upaya pelestarian dan pengelolaannya diperlukan untuk menjaga kontinuitasnya. ABSTRACTThis research was conducted in Borobudur area, Magelang Regency, Central Java, to examine the potencies and outstanding values of Borobudur cultural landscape heritage, and to understand its changes and continuity. By historic interpretation and narrative explanation, the forms of Borobudur cultural landscape heritage are found, which are: a) land management pattern; b) way of living; c) traditional architecture; and d) natural features. The potencies of Borobudur cultural landscape heritage include cultural, historic, natural features, and panoramic potencies. Those potencies and continuity of the landscape and culture contribute to the Borobudur area as an outstanding cultural landscape heritage with four outstanding values: a) rich environmental history, b) area with archaeological remains; c) village cultural landscapes with their agrarian community; and d) scenic beauty of the landscape. In a dynamic environment, changes are experienced by Borobudur cultural landscape heritage over time that can be a threat for its continuity. Changes happen particularly on land use, visual quality, and some community culture, whereas its continuity still can be found in traditional farming activity; some traditions relate to agriculture, religion, and beliefs; village traditional architecture; and scenic beauty of the landscape. At present, impact of changes on Borobudur cultural landscape heritage has not influenced the degradation of its continuity yet. Nevertheless, efforts in conservation and management are needed to maintain its continuity
ANALISIS KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG, PROVINSI SULAWESI SELATAN (Socio-Economic Analysis of Community Around Bantimurung Bulusaraung National Park, South Sulawesi Province)
ABSTRAKKeberhasilan pengelolaan Taman Nasional tidak terlepas dari sikap dan dukungan masyarakat. Pemahaman problem sosial ekonomi masyarakat sekitar Taman Nasional sangat diperlukan sebagai salah satu pertimbangan dalam mengelola Taman Nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan penjelasan mengenai problem sosial ekonomi masyarakat sekitar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan Taman Nasional dan kontribusi pendapatan dari tamanan kemiri terhadap total pendapatan petani. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Maros pada Kawasan TN Babul, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey dengan mewawancarai 180 responden yang dipilih secara acak. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan problem sosial ekonomi masyarakar sekitar TN Babul adalah rendahnya tingkat pendidikan, tingginya jumlah tanggungan keluarga, keterlibatan masyarakat dalam kelompok masih rendah, proses capacity building berjalan lambat, dan rendahnya pendapatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Rata-rata total pendapatan masyarakat sekitar TN Babul sebesar Rp. 3.836.367,-/tahun dan sebanyak 65% masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan. Rata-rata tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan TN Babul sebesar 37,97%, sementara kontribusi pendapatan dari tanaman kemiri terhadap total pendapatan masyarakat rata-rata sebesar 19,05%. Diperlukan peningkatan kegiatan pendampingan, penyuluhan dan pelatihan untuk meningkatkan pola pikir, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat sehingga kapasitasnya meningkat dan dapat mengurangi ketergantungannya terhadap kawasan TN Babul. Pengelola TN Babul perlu menjalin komunikasi, koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kapasitas masyarakat serta merumuskan model pengelolaan TN Babul yang efektif dan efisien.ABSTRACTThe success of the National Park management is inseparable from the attitude and support of the community. Understanding socio-economic problems of communities around the Park is required as one of the considerations in managing the Park. This study aims to obtain an explanation of the socio-economic problems of communities around Bantimurung Bulusaraung National Park (Babul National Park), the level of community dependence on National Park and contribution from candlenut (Alleurites moluccana) to total incomes of farmer. The experiment was conducted in Maros Regency in Babul National Park, South Sulawesi Province. The site was selected purposively. Data collected by survey techniques by interviewing 180 respondents who were randomly selected. Data were analyzed with descriptive qualitative and quantitative. The results showed socio-economic problems of communities around Babul park is the low level of education, the high number of family, community involvement in the group is still low, the capacity building process runs slow, and low income in fulfilling her needs. Average total income of the people around Babul parks Rp. 3,836,367,-/year and as many as 65% of people live below the poverty line. The average level of community dependence on Babul parks area of 37.97%, while revenue contribution from candlenut (Alleurites moluccana) to total incomes by an average of 19.05%. Required increase in assistance activities, counseling and training to enhance the mindset, knowledge, and skills of communities so that the capacity increase and to reduce dependence on Babul parks area. For that managers Babul parks need to establish communication, coordination and cooperation with various parties in order to improve the capacity of communities and to formulate management Babul parks effective and efficient
LAJU PENURUNAN LOGAM BERAT PLUMBUM (PB) DAN CADMIUM (CD) OLEH EICHORNIA CRASSIPES DAN CYPERUS PAPYRUS (The Diminution Rate Of Heavy Metals, Plumbum And Cadmium By Eichornia Crassipes And Cyperus)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis lama waktu (hari) laju penurunan logam berat plumbum dan cadmium oleh Eichornia crassipes dan Cyperus papyrus. (2) membandingkan laju penurunan logam lumbum dan cadmium oleh Eichornia crassipes dan Cyperus papyrus. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Makassar dengan pemeriksaan sampel air dilakukan di Laboratotium Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros. Data dianalisis dengan menggunakan analisis statistik dengan uji T test dan uji Post Hoc Test. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat plumbum lebih cepat terakumulasi habis dengan menggunakan tumbuhan Eichornia crassipes dibandingkan dengan menggunakan tumbuhan Cyperus papyrus. Logam berat plumbum dan cadmium memiliki laju penurunan yang cepat oleh tumbuhan Eichornia crassipes dibandingkan dengan tumbuhan Cyperus papyrus.ABSTRACTThe aim of the study was to analyze the diminution rate of heavy metals, plumbum and cadmium by Eichornia crassipes and Cyperus papyrus and to compare the rate of their decrease. The study conducted in Makassar city by examining the water sample in the Brackish Water Culture Fishery Research in Maros. The data were analyzed statistically by employing T test and Post Hoc test. The results of the study indicate that the concentration of heavy metal, plumbum is quicker by using Eichornia crassipes plant than the Cyperus papyrus plant. The heavy metals, plumbum and cadmium have rapid rates of diminution by Eichornia crassipes plant than the Cyperus papyrus plant
ADSORPSI ION LOGAM Pb(II) dan Cr(III) OLEH POLI 5ALLILKALIKS[4]ARENA TETRAESTER (Adsorption of Pb(II), Cd(II), and Cr(III) by Poly-5-allyl-calix[4]arene tetraester)
ABSTRACTThe aim research is application of poly-5-allyl-calix[4]arene tetraester as adsorbent of heavy metal cations. Adsorption was carried out towards Pb(II), Cd(II) and Cr(III) ions in batch system. Several variables including pH, contact time and initial concentration of metal ions were determined. The optimum adsorption conditions were achieved at pH 4.0 for Pb(II) and Cd(II), while at pH 6.0 for Cr(III) ions. In addition, the optimum contact time of Cd(II) and Cr(III) ions adsorption were 135 minutes, while those for Pb(II) ion was 180 minutes. The adsorption kinetics of Pb(II), Cd(II) and Cr(III) ions using the calixarene polymer adsorbent followed a pseudo 2nd order kinetics model, with adsorption rate constants of 10-3, 9x10-3 dan 3,6x10-2 g mole-1 min-1, respectively. Furthermore, The adsorption isotherm of Pb(II) ion tends to follow the Freundlich isotherm, whereas the adsorption of Cd(II) and Cr (III) ions tends to follow the Langmuir isotherm. The adsorption capacity of Pb(II), Cd(II) and Cr(III) metal ions were 187.63, 45.63 and 197.25 μmole/g, with adsorption energy of 23.14, 15.18 and 27.15 KJ / mole, respectively.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan poli-5-allilkaliks[4]arena tetraester sebagai adsorben kation logam berat. Adsorpsi dilakukan dengan metode batch pada variasi keasaman (pH), waktu kontak dan konsentrasi awal ion logam. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pH optimum adsorpsi adalah pH 4,0 untuk ion logam Pb(II) dan Cd(II), sedangkan untuk Cr(III) pada pH 6,0. Waktu kontak optimum adsorpsi ion logam Cd(II) dan Cr(III) adalah 135 menit, sedangkan untuk ion logam Pb(II) adalah 180 menit. Kajian kinetika adsorpsi menunjukkan bahwa adsorpsi ion logam Pb(II), Cd(II) dan Cr(III) menggunakan adsorben poli-5-allilkaliks[4]arena tetraester mengikuti model kinetika Ho, pseudo orde 2, dengan konstanta laju adsorpsi berturut-turut 10-3, 9x10-3 dan 3,6x10-2 g mol-1 menit-1. Kajian isotherm menunjukkan bahwa adsorpsi ion logam Pb(II) cenderung mengikuti isotherm Freundlich, sedangkan adsorpsi ion Cd(II) dan Cr(III) cenderung mengikuti isotherm Langmuir. Kapasitas maksimum adsorpsi ion logam Pb(II), Cd(II) dan Cr(III) masing-masing sebesar 187,63; 45,63 dan 197,25 µmol/g, dengan energi adsorpsi berturut-turut 23,14; 15,18 dan 27,15 KJ/mol.
POTENSI PEMANFAATAN AIR LIMBAH PEMUCAT INDUSTRI TENUN ATBM UNTUK MENURUNKAN KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIAWI (KOK) AIR LIMBAH PEWARNAAN (The Potency of Using Bleaching Wastewater to reduce Chemical Oxygen Demand (COD) in Dyeing Wastewater of Traditional Weaving)
ABSTRAKKegiatan tenun ATBM di Gamplong menghasilkan air limbah terutama dari proses pewarnaan dan proses pemucatan. Bahan pewarna merupakan senyawa komplek dan relatif stabil sehingga sulit ditangani. Proses oksidasi lanjut telah terbukti mampu menurunkan kadar bahan pewarna dalam air limbah. Penelitian ini mempelajari potensi air limbah pemucatan untuk menurunkan kadar bahan pewama dalam air limbah pewarnaan. Proses pencampuran air limbah pewarna dengan air limbah pemucatan dilakukan di dalam sebuah reaktor batch yang dilengkapi empat lampu UV masing-masing 10 Watt dan sebuah pengaduk magnit. Penurunan kadar zat warna dinyatakan dalam Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK). Setiap jangka (interval) waktu tertentu, cuplikan air limbah sebanyak 2 mL diambil dari reaktor lalu dianalisis KOK nya. Rasio volume limbah pewarnaan terhadap limbah pemucatan adalah 3:1, 2:1, 1:1, 1:2, dan 1:3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil nisbah limbah pewamaan dengan limbah pemucatan menghasilkan penurunan KOK semakin besar. Dengan volume limbah total 150 m, potensi oksidasi limbah pemucatan setara dengan sekitar 2 mL hidrogen peroksida 50% dalam 150 mL air limbah.ABSTRACTTraditional weaving activities in Gamplong produce wastewater, mainly from dyeing and bleaching processes. Dyes are complex compounds and realtively stable which is difficult to be managed. Advanced oxidation processes have proved to be able to decrease dyes content in the wastewater. The aim of this experiment is to study the potency of bleaching wastewater to reduce dyes content in dyeing wastewater. The mixing process of those wastewater was conducted in a batch reactor which was equipped with 4 UV light of 10 W each and a magnetic stirrer. The mixing process was performed at ambient temperature and pressure. Dyes content in the wastewater was expressed in chemical oxygen demand (COD). Each run, total volume of wastewater of dyeing process or mixtures of dyeing process and bleaching process were 150 mL. At a certain time interval, 2 mL of treated wastewater was sucked up from the reactor, and then its COD content was analysed. The volume ratios of dyeing wastewater to bleaching wastewater investigated were 3:1, 2:1, 1:1, 1:2, and 1:3. The experiment results showed that the COD conversion increases with the decreases of the ratio of dyeing wastewater to bleaching wastewater. The more H2O2 addition to the dyeing wastewater, the more COD reduction is. For the ratio of dyeing wastewater to belaching wastewater 1:1, the higher the H2O2 50% addition, the higher the reduction of COD is.