Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK HABITAT DAN MORFOLOGI SIPUT ONGCOMELANIA HUPENSIS LINDOENSIS SEBAGAI HEWAN RESERVOIR DALAM PENULARAN SHISTOSOMIASIS PADA MANUSIA DAN TERNAK DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU (Habitat Characteristics and Morphology of Oncomelania hupensis)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji habitat dan morfologi siput Oncomelania hupensis lindoensis sebagai hewan reservoir dalam penularan shistosomiasis pada manusia dan ternak. Penelitian dilakukan dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan mengukur dan mengambil beberapa sampel tanah pada beberapa jenis habitat. Siput dikoleksi dengan menggunakan metode gelang besi yang disebut ring method. Siput yang dikumpulkan kemudian dibawa ke laboratorium untuk pengamatan bentuk morfologi dan mirasidia baik secara langsung maupun dengan penggunaan mikroskop. Penentuan tingkat prevalensi digunakan metode “ Kato-Kars” yang dimodifikasi. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan data hasil survei di lapangan dan hasil analisis dari laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat siput O.hupensis Lindoensis yang terdapat dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu sebanyak 144 habitat (fokus) dan terdistribusi pada empat desa yaitu Tomado (64 fokus), Anca (63 fokus), Puroo (11 fokus) dan Langko (6 fokus) dengan persebaran 44,44 % ( sawah), 29,86 % ( kebun), 18,06 % ( padang rumput), dan 11 % ( hutan). Karakteristik habitat yaitu tekstur tanah lempung berpasir dengan bahan organik tanah yang relatif rendah (2%. Pada ternak didapatkan tingkat prevalensi yaitu kerbau (39,36%), sapi (39,32%), dan babi (22,5%). Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa habitat siput O. Hupensis lindoensis mempunyai karakteristik dan bentuk yang spesifik. Tingkat prevalensi schistosomiasis pada manusia dan ternak dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu masih cukup tinggi.ABSTRACTThe objective of the study was evaluated the habitat characteristics and morphology of Oncomelania hupensis lindoensis as a reservoir in transmission of Schistosomiasis on human and animal in Lore Lindu National Park. The study was conducted in four villages as known as the habitat of the endemic snails. Collections of the snails were done by using a ring methods. The collected snails were observed in the laboratory for morphology identification and mirasidium determination using a microscope. Prevalence rate of schistosomiasis was estimated using modification of “Kato-Kars” methods. Data were analysed by descriptive methods for all parameter. Results shown the habitat distribution of Oncomelania hupensis lindoensis in Lore Lindu National Park were 144 places (focus). It was distributed in four villages i.e. Tomado (64 focuses), Anca (63 focuses), Puroo (11 focuses) dan Langko (6 focuses). The type of habitat consists of 44.44 % (wet rice field), 29.86 % (plantation), 18.06 % (wet savannah), dan 11 % (wet forest). Soil characterictics of the habitat was clasified as a sandy clay with a relatively low in organic matter (< 5%), the microclimate ((temperature and humidity ranges from 22.30 - 24.10 °C and 60 - 78 % respectively). Snail are morphologically small in size (3-5mm), they are blackish dark brown in colour and amphibious. It becomes a hospes of shistosoma. The prevalence rate of shistosomiasis on humans was relatively hight (up to 2%). Whereas the prevalence rate of shistosomiasis on animals was 39.6% (buffalo); 39.92% (cattle); and 22.5% (pig). Conclusion for this study was found the habitat characteristics and morphological of O. hupensis lindoensis shown specifics term. The prevalence rate of schistosomiasis in Lore Lindu National Park was high enough
APLIKASI SIMOBA UNTUK PREDIKSI GENANGAN BANJIR DALAM PENILAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH : STUDI KASUS DAS TEMPURAN DI KABUPATEN PONOROGO (Application SIMOBA to Floodplain Prediction to Assessment of Spatial Plan: Case Study in Tempuran Watershed)
ABSTRAKBanjir dan masalah lingkungan yang terus melanda Kabupaten Ponorogo khususnya, disebabkan oleh semakin berkurangnya kawasan resapan air (alih fungsi lahan) dan semakin rusaknya hutan dan kawasan konservasi di wilayah hulu misalnya pada kawasan hutan di Gunung Wilis dan Gunung Sigogor serta sekitarnya (Rahadi B dkk, 2009). Perlu dilakukan usaha prediksi banjir sejak dini sebagai usaha pengendalian bencana banjir. Melalui bantuan Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat dilakukan prediksi tentang bencana berdasarkan data cuaca atau iklim (prognosa) khususnya prognosa potensi genangan banjir yang terjadi. Sistem Informasi dan Model Pengelolaan Banjir (SIMOBA) merupakan salah satu software SIG yang dapat memprediksi genangan banjir. Alat-alat yang digunakan berupa PC (Personal Computer) sebagai hardware pengolah input data dengan didukung software ArcView 3.3 ESRI, MapObject, Microsoft Visual Basic 6.0, SIMOBA sebagai software pemodelan hidrologi. Data-data input yang dibutuhkan berupa peta kontur wilayah sekitar DAS Tempuran, peta batas DAS Tempuran, peta jaringan sungai dan data curah hujan harian selama 10 tahun terakhir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial dari genangan (limpasan) banjir yang terbentuk pada DAS Tempuran pada kondisi tata guna lahan aktual dan kondisi tata guna lahan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah pada tahun 2008-2028. Masing-masing juga dibandingkan luas genangan pada periode ulang 10, 25, 50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan hasil simulasi didapatkan luas genangan dan kedalaman genangan periode ulang yaitu pada periode 10 tahun luas genangan 1904,406 ha dengan kedalaman 5,43 m, pada periode 25 tahun luas genangan 2203,068 ha dan kedalaman 6,22 m, pada periode 50 tahun 2530,425 ha dan kedalaman 6,62 m ABSTRACTFlood and environmental problems at Ponorogo regency, might be caused by the decrease of water infiltration area and the destruction of forests and conservation areas upstream area, like at Mount Wilis and Mount Sigogor and its surrounding areas. It is to conduct flood predictions as flood disaster control effort. Geographical Information Systems (GIS) can be used to predictions about disaster based on weather or climate data (prognosis), especially the prognosis potential of flooded areas that occurred. Information Systems and Flood Management Model (SIMOBA) is one GIS software that can predict flooded areas early. Tools that used are PC (Personal Computer) as hardware processor input data with a supported software ESRI ArcView 3.3, MapObject, Microsoft Visual Basic 6.0, SIMOBA as hydrologic modeling software. The data requirement were digital maps of contour, boundary, and river network of Tempuran watershed and data of daily rain during 10 latest year. Method that used in this research is spatial analysis from flooded areas (run off) of Tempuran’s landuse actual condition and landuse condition based on Ponorogo spatial plan of 2008-2028. Each of them was also compared the spread of flooded areas in repeats periode of 10, 25, 50 years. Research result were show that The actual floodplain area and flood depth were 1904,406 hectares with 5,43 metres deep, 2203,425 hectares with 6,22 metres deep, and 2530,425 hectares with 6,62 metres deep for 10, 25, and 50 year repeated period, respectively
SEJARAH DOMINASI NEGARA DALAM PENGELOLAAN CENDANA DI NUSA TENGGARA TIMUR (History of State Domination on Cendana Management in Nusa Tenggara Timur)
ABSTRAKPengelolaan sumberdaya alam seringkali dihadapkan pada konflik antar pemangku kepentingan. Kepentingan tersebut mencakup tiga dimensi yaitu kepentingan ekologi, ekonomi dan sosial. Cendana merupakan salah satu hasil hutan yang memiliki peran sangat penting dalam sejarah pembangunan di NTT. Pemanfaatan cendana ini juga tidak lepas dari konflik. Bahkan konflik tersebut telah membuat masyarakat trauma terhadap pengelolaan cendana. Upaya pemulihan potensi dan peran cendana dalam perekonomian mengalami hambatan berkaitan dengan trauma masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan, menganalisi dan menginterpreasikan pengelolaan cendana dimasa lalu yang mengakibatkan konflik dan trauma masyarakat terhadap pengelolaan cendana oleh pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap pengelolaan cendana di masa lalu. Penelitian dilakukan di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, observasi dan wawancara dengan informan kunci. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan cendana di masa lalu terjadi ketidakadilan dalam pembagian keuntungan penjualan cendana, dominasi negara (penguasa), tidak adanya ruang komunikasi dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan cendana. Hal ini membentuk persepsi negatif masyarakat terhadap pengelolaan cendana oleh pemerintah. ABSTRACTConflict between stakeholder interests is inevitable in natural resources management. Stakeholder interest covers ecological, economic and social interest. Cendana is non wood forest product which plays important role on East Nusa Tenggara development. Cendana management doesn’t free of conflict. Instead the conflict on cendana management leads to community trauma. Effort for increasing the potencies faces the negative perception of communities. This research aim to describe, analysis and interprets the history of cendana management.The research was conducted in Timor Island, East Nusa Tenggara Province. Data collection done by documentary study, observation and interviews. Data were analyzed with descriptive qualitative analysis.The result shows that the past cendana management was inequity of profit sharing, state domination, no space for communication and public participation on cendana management. This condition leads to conflict and community trauma on cendana management by government
PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU TERHADAP SIKAP GOOD FORESTRY GOVERNANCE DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO (The influence of individual characteristic toward attitude to Good Forestry Governance in Alas Purwo National Park)
ABSTRAKOrganisasi taman nasional di Indonesia mengalami berbagai permasalahan di berbagai simpul dan membutuhkan upaya perbaikan kelembagaan. Salah satu upaya pembenahan adalah perbaikan aspek perilaku organisasi yang mengarah kepada pembentukan good forestry governance. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data dan penjelasan mengenai pengaruh karakteristik individu orang-orang yang bekerja di Taman Nasional (TN) Alas Purwo terhadap sikap good forestry governance (GFG). Penelitian ini dilaksanakan di TN Alas Purwo pada bulan November-Desember 2011 dengan menggunakan metode kuantitatif. Responden diambil secara purposive sampling terhadap personel TN Alas Purwo. Analisis data menggunakan uji regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik individu berpengaruh terhadap sikap good forestry governance. Persamaan regresi yang dihasilkan adalah GFG = 27,449 + 0,463 KI dengan nilai adjusted R2 0,287. Manajemen TN Alas Purwo perlu menaikan kualitas karakteristik individu personel taman nasional dengan melakukan berbagai tindakan manajemen. Implikasi disain organisasi yang tepat untuk tindakan manajemen ini adalah struktur organisasi organik.ABSTRACTIn Indonesia, most of national parks have encountered several problems, which need efforts to improve their management. good forestry governance (GFG) is one conceptualisation that can be used to improve aspects of organizational behavior in the management of conservation areas. In this research, we obtain data and explanation about influence of the individual characteristic (KI) of Alas Purwo National Park with GFG attitude. Using quantitative methods, this study was conducted between November-December 2011. The respondents were staff of Alas Purwo National Park who taken by purposively. We perform data analysis with a simple regression test. The results indicate that the GFG attitude affected individual characteristic. The model is GFG attitude = 27.449 + 0.463 KI with adjusted R2 0,287. We also found relatively low coefficient relationship between GFG attitude and individual characteristic. Management of Alas Purwo National Park needs to increase the quality of individual characteristic of its staff by doing management actions. We argue that the appropriate organizational design implications in this management is organic organizational structure. Thus, we recommend that these results can be applied for institutional construction in the conservation areas management
EVALUASI UNJUK KERJA TURBIN AIR PELTON TERBUAT DARI KAYU DAN BAMBU SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK RAMAH LINGKUNGAN UNTUK PEDESAAN (Performance Evaluation of Hydraulic Pelton Turbine Made of Wood and Bamboo as Environmentally Friendly Electric Generation)
ABSTRAKPemanfaatan energi air di Indonesia, khususnya untuk pembangkit listrik skala kecil di pedesaan masih perlu diprioritaskan untuk ditingkatkan dalam program memperoleh energi bersih yang ramah lingkungan. Pemanfaatan tersebut masih terkendala oleh biaya investasi yang relatif tinggi serta teknologi yang sesuai. Pemerintah mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan melalui program Desa Mandiri Energi dengan menggunakan potensi dan sumber daya yang tersedia di pedesaan. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi unjuk kerja turbin air Pelton untuk pembangkit listrik skala kecil dengan sudu terbuat dari bambu dan roda turbin dari kayu. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa efisiensi pembangkitan mampu mencapai sekitar 28% untuk debit aliran 28 liter/detik dan tinggi jatuh efektif 7 m menggunakan nosel berpenampang empat persegi panjang. Walaupun dari aspek teknik dan lingkungan penggunaan bambu sebagai sudu turbin adalah baik dan sesuai untuk digunakan di pedesaan, namun unjuk kerja yang diperoleh masih perlu ditingkatkan dibanding dengan umumnya turbin Pelton yang terbuat dari logam. Hal ini diperkirakan karena bentuk alamiah lengkung bambu yang tidak optimum untuk sudu serta bentuk penampang nosel yang masih harus disesuaikan. ABSTRACTThe use of hydroenergy in Indonesia, especially for small electric generation in rural areas is still to be priority increased in a program to find a clean and environmentally friendly energy. The use is still limited by relatively high investation cost and appropriate technology. Government has pushed the use of new and renewable energy through the Village Self-Relliant Energy Supply Program by using potential and available resources in the village. The objective of this study is to evaluate the performance of a hydraulic Pelton turbine for small electric generation with the buckets are made of bamboo and the runner is made of wood. Data collected from the study show that the efficiency of the generation is capable to be in about 28% for the flow rate of 28 liter/s and effective head of 7 m by using nozel which has a rectangular cross section. Although the use of bamboo as turbine buckets is technicality and environmentally good and it is suitable to be operated in villages but the performance achievement is still need to be increased compared to that of usual Pelton turbine wich is made of metal. This was predicted due to the natural curve profile of the bamboo which is not optimal fit for buckets and the cross sectional geometry of the nozel is still need to be fitted.
APLIKASI MODEL QUAL2Kw UNTUK MENENTUKAN STRATEGI PENANGGULANGAN PENCEMARAN AIR SUNGAI GAJAHWONG YANG DISEBABKAN OLEH BAHAN ORGANIK (Aplication of Qual2Kw Model to Determine the Strategy in Solving Gajahwong River Water Pollution Caused by Organic Matter)
ABSTRAKTelah dilakukan pemodelan kualitas air terhadap Sungai Gajahwong menggunakan model QUAL2Kw untuk parameter DO-BOD. Diselidiki dinamika DO-BOD sungai tersebut pada kondisi eksisting tahun 2011. Oleh karena beban pencemar pada kondisi hujan dan tanpa hujan berbeda, maka prediksi dilakukan pada kedua kondisi tersebut. Hasil pemodelan QUAL2Kw untuk kondisi eksisting Sungai Gajahwong tahun 2011 menunjukkan bahwa pada kondisi hujan dan tanpa hujan, konsentrasi BOD sungai telah melebihi bakumutu air kelas II. Hasil simulasi menunjukkan bahwa (1) Pembangunan perumahan yang membuang limbah cairnya ke Sungai Gajahwong pada debit total 0,1 m3/s dengan konsentrasi BOD 10 mg/L dapat meningkatkan BOD serta menurunkan DO Sungai Gajahwong, dan (2) Pengelolaan kualitas air dan penanggulangan pencemaran air oleh bahan organik pada Sungai Gajahwong dapat dilakukan dengan strategi pembuatan IPAL komunal di setiap kabupaten dengan penurunan konsentrasi BOD hulu hingga 2 mg/L. ABSTRACTWater quality modelling of Gajahwong River has been done using QUAL2Kw model for DO-BOD parameters. The dynamics of DO-BOD of the river on the existing conditions in 2011 has been investigated. Because of the load of pollutants in the rainy condition and no rain condition was different, then the predictions made on both conditions. QUAL2Kw modelling results for Gajahwong River in year 2011 showed that the BOD concentration of the river on both conditions has exceeded water quality standards class II. The simulation results showed that: (1) Housing construction that discharge its liquid waste into Gajahwong River on total discharge 0,1 m3/s with concentration of BOD 10 mg/L, increased the BOD and decreased the DO of Gajahwong River, and (2) Water quality management and organic pollution control of Gajahwong River can be done by a strategy of making communal WWTP in each district with reduction of the upstream BOD concentration to 2 mg /L
ANALISIS STAKEHOLDER PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG, PROPVINSI SULAWESI SELATAN (Stakeholder Analysis of Bantimurung Bulusaraung National Park Management, South Sulawesi Province)
ABSTRAKPara pihak (stakeholder) yang terkait dalam pengelolaan TN Babul memiliki kepentingan dan pengaruh yang beragam sehingga harus dapat dikelola dengan baik dalam mencapai tujuan pengelolaan TN Babul. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, mendapatkan penjelasan tentang kepentingan dan pengaruh setiap stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, serta peran stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat sekitar TN Babul. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros pada Kawasan TN Babul, Propinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada sejumlah informan kunci. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis stakeholder menunjukkan bahwa stakeholder primer dalam pengelolaan TN Babul terdiri dari Balai TN Babul, Masyarakat sekitar TN Babul, PDAM Maros, Disparbud Maros, Lembaga Pengelola Air Desa. Sedangkan stakeholder sekunder terdiri dari Dishutbun Maros, Dinas Pertanian Maros, Pemerintah desa dan kecamatan, BP2KP Maros, BPN Maros, PNPM Mandiri, LSM, dan Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian. Keberadaan stakeholder tersebut dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap kawasan TN Babul. Peran yang dapat dilakukan oleh stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat dapat berupa fungsi kontrol, bantuan fisik, bantuan teknis, dan dukungan penelitian. Pengelolaan kolaborasi dapat menjadi alternatif model pengelolaan TN Babul dalam mengakomodir kepentingan stakeholder yang beragam. ABSTRACTStakeholders involved in management of the Babul National Park have diverse interest and power that must be managed well in achieving Babul National Park management objectives. This study aims to identify the stakeholders in Babul National Park management, an explanation of the intersest and power of each stakeholder, and the role of stakeholders in accommodating the interests of communities around Babul National Park. The research was conducted in Maros Regency in Babul National Park, South Sulawesi Province. Data collected through observation and interviews to a number key informants. Data were analyzed with qualitative descriptive analysis. The results showed that primary stakeholders in the Babul National Park management consist of Babul National Park Agency, Communities around National Park, PDAM Maros, Tourism Office, water management institutions in the village. While the secondary stakeholders consist of the Forestry and Plantation Office, Agriculture Office, village and district government, Information and Food Security Agency, the National Land Agency, PNPM Mandiri, local NGOs, universities and research institutions. The existence of these stakeholders can provide positive and negative effects of Babul National Park. The role that can be done of stakeholders in accommodating the interests of society can be a control function, physical assistance, technical assistance, and research support. Collaborative management can be an alternative management model in accommodating the diverse interests of stakeholders.
ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AT KUNING RIVER COURSE IN MERAPI VOLCANO YOGYAKARTA SPECIAL REGION (Pengelolaan Lingkungan Alur Kali Kuning di Gunungapi Merapi Daerah Istimewa Yogyakarta)
ABSTRACTThis Research aims at: (a) to study the influence of grain size and amount of sediment to the river course function and geometry, (b) analyzing the impact of the using the sediments, water and land to the river channel and (c) evaluating the current environmental management and formulating some strategies for future river management. Beside that Merapi Volcano is known as the most active volcano in the world and it is pointed as a National Park because of the amount of vegetation specieses. The methods of this research are threehold: (1) morphometrical measurement of Kuning River e.g depth and width coupled with the analysis of the sediment (e.g diameter, specific gravit, percentage of boulders); (2) physical-environmental aspect determination (vegetation, percentage of coverage) and (3) social-economic survey in order to determine the household improvements, level of income, socialization of sediment related hazards as well as the sand mining. These three analysis were conducted in the framework of ecology and spatial concept. The results obtained in this research are: 1) Merapi eruptions materials diturbed the river channel geometry to an abnormal condition following the rules of ecology, also the function of river as: gathering, storage and drainage of water and sediment, 2) utilization of river courses for water supply, agriculture and mining in particular sand, rocks and boulders can be made a spatial planning arrangement and utilization is also to improve the welfare of local society and the District, 3) evaluation management to catchment or river course is undeveloped and have not even seen, so it requires management that is based on Indonesian regulation and should also noticed the characteristics of Merapi Volcano such as lahar, nuee ardente and the dense of population in the research area.ABSTRAK Pentelitian ini bertujuam: (a) mempelajari pengaruh besaran sedimen terhadap fungsi alur sungai, (b) menganalisis dampak terhadap alur sungai akibat pemanfaatan sedimen, air dan lahan dan (c) evaluasi terhadap pengelolaan lingkungan alur sungai dan mencari arahan untuk meminimalisasi dampak yang terjadi. Selain Gunungapi Merapi merupakan yang teraktif di dunia, juga telah dipilih menjadi Taman Nasional karena mempunyai spesies yang cukup banyak.Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1) pengukuran geometri dari Kali Kuning meliputi kedalaman dan lebar lembah sungai dikaitkan dengan material sedimen yang meliputi: diameter, berat jenis dan persentase bongkah, (2) deterrninasi terhadap aspek lingkungan fisik (vegetasi dan persentase tutupan lahan) dan (3) survei sosial-ekonomi untuk melihat ,peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penghasilan serta sosiolisasi terhadap bahaya sedimen termasuk penambangannya. Ketiga analisis ini dirangkum melalui pendekatan ekologi dan spasial.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini: 1) material erupsi Merapi yang terusmenerus mengakibatkan perkembangan geometri alur sungai menjadi tidak normal secara ekologis, sehingga fungsinya sebagai: penyimpan, penimbun dan pengaliran air dan sedimen kurang optimal: 2) pemanfaatan alur sungai untuk air bersih, pertanian dan khususnya penambangan pasir, batu dan bongkah dapat dibuat tata ruangnya, sehingga mempermudah untuk mendapatknnnya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daerah: dan 3) arahan pengelolaan pada daerah aliran sungai maupun pada alur sungai belum terlihat, sehingga diperlukan pengelolaan berdasarkan peraturan yang telah ada dan perlu memperhatikan karakteritik Gunungapi Merapi seperti lahar dingin, awan panas dan penduduk yang Padat
USAHATANI KONSERVASI DI HULU DAS JENEBERANG (STUDI KASUS PETANI SAYURAN DI HULU DAS JENEBERANG, SULAWESI SELATAN) (Conservation Farming in The Watershed Upstream Jeneberang (Case study of Vegetable Farmers in the Watershed Upstream Jeneberang, Sulawesi)
ABSTRAKDaerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang merupakan salah satu DAS yang terdapat di Sulawesi Selatan yang sudah termasuk DAS prioritas. Kondisi lahan di DAS Jeneberang sudah mengalami kerusakan karena adanya alih fungsi lahan dari areal kawasan hutan menjadi kawasan budidaya pertanian dan sistem pertanian yang dilakukan oleh petani tidak menerapkan teknik konservasi untuk lahan dengan kemiringan cukup tinggi. Hal ini memicu terjadinya erosi sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas lahan. Tujuan penelitian adalah mengkaji dan menganalisis penerapan konservasi pada usahatani sayuran di hulu DAS Jeneberang. Lokasi penelitian di hulu DAS Jeneberang Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, dengan populasi penelitian adalah seluruh petani sayuran di Kelurahan Pattapang sebanyak 550 petani. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana dengan responden sebanyak 182 petani dengan menggunakan rumus penentuan sampel dari Isaac & Michael. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konservasi pada lahan usahatani sayuran di hulu DAS Jeneberang masih rendah, di mana konservasi yang dilakukan masih sederhana dan belum sesuai dengan teknik konservasi. Adapun metode konservasi yang sudah diterapkan adalah pola tanam tumpang gilir, pemanfaatan sisa tanaman sebagai penutup tanah, penanaman rumput pada bibir teras, penanaman pohon sebagai batas kebun, pembuatan teras, pembuatan penampungan air dan perbaikan saluran pembuangan air.ABSTRACTJeneberang watershed is one watershed in South Sulawesi that include priority watershed. Land condition in Jeneberang watershed has been damage because of land use and agriculture system change which has done by community. Condition of the land in the watershed Jeneberang already suffered damage due to land conversion from forest areas into agricultural cultivation areas and farming systems by farmers do not apply to land conservation techniques with high slope. This triggers the occurrence of erosion resulting in a decrease in land productivity.The purpose of this study was to examine and analyze the implementation of conservation on vegetables farms in Jeneberang watershed upstream. Research sites in the Jeneberang watershed upstream Gowa in South Sulawesi, with the entire study population was Pattapang vegetable farmers in the village as much as 550 farmers. Random sampling is done simply by the respondents as many as 182 farmers using the formula determining the sample of Isaac & Michael. Data analysis methods used is descriptive analysis statistic.The result show that the application of conservation farm on vegetable land in Jeneberang watershed upstream still low, where the conservation application still using simple method and it has not appropriate conservation technique yet. The conservation method that have been applied such as intercropping cultivation pattern, mulch, grass planting at terrace, tree planting as a garden boundary, construction stool terrace, construction water storage and drainage improvements
ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK PENGEMBANGAN MODEL KELEMBAGAAN KOMPENSASI DAS CILIWUNG (Public policy analysis on the development of a compensation institution model at Ciliwung Watershed)
ABSTRAKPenelitian dilakukan di DAS Ciliwung pada tahun 2003 dengan menggunakan metode kualitatif. Dalam rangka untuk lebih mendapatkan informasi dan pemahaman yang lebih mendalam maka juga dilakukan observasi dan wawancara langsung dengan multi-pihak. Untuk melengkapi data yang ada maka dalam penelitian ini juga didukung oleh berbagai data sekunder dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara konseptual maupun peraturan yang terkait dengan DAS masih lemah. Bahkan bila dilihat secara operasional sangat mengkawatirkan dimana (9.1 %) menyatakan sangat tidak memadai dan (90.9 %) menyatakan kurang memadai. Sehingga, fenomena ini telah memunculkan suatu gagasan untuk membentuk lembaga kompensasi wilayah hulu-hilir. Secara umum responden menanggapi secara positif dimana sebanyak 91.7 % menyatakan sangat setuju dan setuju, sedangkan 8.3% tidak menyatakan apa-apa, yang bisa diasumsikan masih ragu atau belum mempelajari secara mendalam tentang konsep ini. Sedangkan dari sisi alternatif pendanaannya pun sesungguhnya banyak peluang yang bisa digali, seperti pungutan dari pajak, lembaga swasta, APBD/APBN ataupun retribusi. ABSTRACTThe study was conducted in the watershed Ciliwung in 2003 by using qualitative methods. In order to obtain more information and a deeper understanding of it is also carried out observations and interviews with multi-parties. To complement the existing data in this study is also supported by a variety of secondary data from various sources. The results showed that conceptually and regulations related to the DAS are still weak. Even when viewed operationally very worrying where (9.1%) expressed very inadequate, and (90.9%) declared inadequate. Thus, this phenomenon has given rise to an idea to form a compensation agency upstream-downstream region. In general, the respondents responded positively where as many as 91.7% said strongly agree and agree, while 8.3% did not state anything that can be assumed to be still in doubt or has not been studied in depth about this concept. In terms of funding alternatives were actually a lot of opportunities to explore, such as the levy of taxes, private institutions, budget / budget or levy.