Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    UJI TOKSISITAS SODIUM SIANIDA (NaCN) PADA BEBERAPA SPESIES IKAN AIR TAWAR: REVIEW (The Toxicity Test of Sodium Cyanide (NaCN) to Some Species of Freshwater Fish: A Review)

    Full text link
    AbstrakSianida telah digunakan sebagai senyawa toksik selama beberapa dekade untuk penangkapan ikan. Pengetahuan para nelayan yang rendah dapat menyebabkan kelebihan dosis penggunaan senyawa sianida. Hal ini dapat menyebabkan kematian ikan dan bahkan kerusakan terumbu karang. Sodium sianida tidak bersifat bioakumulasi dan biomagnifikasi berdasarkan nilai Kow-nya dan sebagian besar metabolit dikeluarkan melalui urin dalam bentuk thiosianat, SCN- (60-80%), 2-aminothiazoline-4-carboxylic acid (ATCA) atau 2-iminothiazolidine-4-carboxylic acid, ITCA (15%), serta gas HCN dan CO2. Biomarker organisme yang terpapar sianida yaitu kandungan CN-, SCN-,ATCA atau ITCA pada urin dan darah; perubahan histopatologis di limpa, hepato-renal dan ginjal; penurunan aktivitas enzim katalase pada jaringan hati, insang, otak, dan otot ikan; perubahan aktivitas laktat dehydrogenase (LDH) dan suksinat dehydrogenase (SDH), tingkah laku, laju respirasi, dan metabolit (asam piruvat dan asam laktat). Akan tetapi, aktivitas enzim dan struktur histopatologis kembali normal setelah pemulihan selama 14 hari di medium bebas NaCN. Paparan NaCN juga dapat menyebabkan perubahan kecepatan renang dan durasi surfacing behavior. Konsentrasi sianida di lingkungan tidak bisa diabaikan, sebab dimungkinkan adanya efek sinergis dan juga penghambatan sistem enzim katalase, yang pada akhirnya terjadi kerentanan organisme akuatik terhadap toksisitas sianida. Labeo rohita merupakan spesies ikan air tawar yang paling sensitif terhadap paparan NaCN, dengan nilai LC50 sebesar 0,32 mg/L (tanpa melihat jenis aliran yang digunakan).AbstractCyanide has been used as a toxic compound for decades for fishing. Lack of knowledge of fishermen can lead to overdosing use of a compound. This can lead to fish kills and even damage the coral reefs. Sodium cyanide is not bioaccumulative and biomagnificative based on the value of Kow and most metabolites are excreted in the urine in the form of SCN- (60-80%), 2-aminothiazoline-4-carboxylic acid, ATCA or 2-iminothiazolidine-4-carboxylic acid, ITCA (15%), as well as HCN gas and CO2. Biomarkers organisms are exposed cyanide content of CN-, SCN-, ATCA or ITCA on urine and blood; histopathological changes in spleen, hepato-renal and kidney; decreased activity of catalase enzyme in the liver, gills, brain, and muscles of fish; lactate dehydrogenase (LDH) and succinate dehydrogenase (SDH) activity changes, behavioral, respiratory rate, and metabolites (pyruvic acid and lactic acid). However, the enzyme activity and histopathological structure back to normal after recovery for 14 days at NaCN-free medium. NaCN exposure can also cause changes in swimming speed and duration of surfacing behavior. The concentration of cyanide in the environment can not be ignored, because it is possible the existence of a synergistic effect and also the inhibition of catalase enzyme system, which eventually happened vulnerability of aquatic organisms to cyanide toxicity. Labeo rohita is a freshwater fish species are most sensitive to exposure to NaCN, with LC50 values of 0.32 mg / L (regardless of the type of flow used)

    KEHADIRAN PERUSAHAAN DAN POTENSI KONFLIK AGRARIA DALAM PEMANFAATAN HUTAN SAGU ALAM DI WILAYAH IMEKKO KABUPATEN SORONG SELATAN PAPUA BARAT-INDONESIA (The Presence of Sago Company and The Potential of Agrarian Conflict in The Natural Sago Consesion of Imekko at Sorong Selatan Regency, West Papua Indonesia)

    Full text link
    AbstrakHutan sagu alam saat ini memiliki manfaat yang besar ditinjau dari bahan pangan, substitusi pangan maupun bahan baku industri. Di kawasan timur Indonesia, sagu telah dimanfaatkan secara luas sebagai bahan pangan pokok oleh masyarakat Maluku dan Papua. Tujuan penelitian adalah mengkaji intervensi eksternal dari perusahaan terhadap jaminan subsistensi dan pendapatan masyarakat di kawasan hutan sagu alam Imekko. Penelitian ini dilaksanakan pada empat distrik, yaitu Inanwatan, Metemani, Kais, dan Kokoda (Imekko) kabupaten Sorong Selatan. Distrik dipilih secara purposif dengan pertimbangan memiliki karakteristik lokasi yang sesuai dengan lingkup penelitian, yaitu: (a) merupakan wilayah sebaran hutan sagu alami yang menjadi sasaran pemanfaatan oleh perusahaan; dan (b) masyarakat yang bermukim di sekitarnya yang merupakan pemilik hak ulayat atas hutan sagu alami/dusun sagu tersebut, (c) masyarakat yang terganggu jaminan subsistensi dan pendapatan akibat intervensi kedua perusahaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki 8 jenis hak akses dan pemanfaatan dan dusun sagu untuk memenuhi kebutuhan subsistensi dan pendapatan masyarakat pemilik hak ulayat, yakni hak mengakses, memungut hasil, menggunakan, menguasai, mengelola, mengalihkan, memperoleh kembali, dan hak milik. Kehadiran kedua perusahaan, hak-hak tersebut menjadi terbatas hanya pada hak mengakses, penggunaan terbatas, dan memungut hasil secara terbatas. Kehadiran perusahaan berdampak terhadap terbatasnya pemenuhan kebutuhan subsistensi dan pendapatan masyarakat. Potensial terjadinya konflik, baik antara masyarakat dengan perusahaan dalam kaitan dengan akses masyarakat untuk memanfaatkan dusun sagu di dalam areal konsesi perusahaan yang yang dienklavekan maupun antar masyarakat dalam kaitan dengan masyarakat pemilik hak ulayat dusun sagunya telah masuk sebagai areal konsesi perusahaan sehingga untuk memenuhi kebutuhan subsistensi dan pendapatan terpaksa harus memanfaatkan HSA/dusun sagu milik masyarakat di luar kawasan konsesi perusahaan.AbstractNatural sago forests currently have great benefits in terms of food, substitution of food and raw materials for industries. In Eastern Indonesia, sago has been used extensively as a staple food by the people of Mollucans and Papuan. The research objective was to study the external intervention of the company to guarantee the subsistence and income of the Imekko community in the forest area of natural sago. The research was conducted in four districts, namely Inanwatan, Metemani, Kais and the Kokoda (Imekko) Sorong Selaatan regency. Districts selected purposively by considering having characteristics suitable locations, i.e. an area of distribution of Sago Natural Forest-targeting utilization by the company; and (b) people who live nearby and owners of customary rights over the Sago Natural Forests/sago villages, (c) community having disturbed the subsistence and income guarantee due to the intervention of both companies. The findings of this research showed that there were eight types of rights of access and use and sago villages to meet the needs of subsistence and incomes owners of customary rights, i.e. the right to access, collect the produce, use, control, manage, assign, reclaim, and property rights. These rights are limited only to the right of access, limited use and collect the produce due to the presence of both companies. Potential conflict, either between the company in terms of community access to the sago villages in the concession company that are in enclaving areas or among the public in relation to the customary communities that natural sago villages has been entered as a concession company. Therefore, to meet subsistence and income the communities now have to utilize the natural sago forest/sago village belonging to the community in outside the company's concession area

    DIFFERENCE IN PERCEPTION OF URBAN GREEN SPACES BETWEEN DANCHI AND APARTMENT RESIDENTS IN TOKIWADAIRA, MATSUDO CITY, JAPAN (Perbedaan dalam Persepsi Ruang Hijau Perkotaan di antara Penghuni Kompleks Rumah Susun dan Apartemen di Tokiwadaira, Kota Matsudo, Jepang)

    Full text link
    AbstractIn Japan, where most of the population now comprises elderly people, various social problems have emerged, including lack of workers, inadequate care for elderly people, lower birthrate, the abandonment of local areas, and lack of community. In highly populated urban areas, city planners propose sustainable landscape planning but sometimes ignore the public, eliminating their sense of place. This study aimed to clarify the differences in green space perception between residents of danchi and apartments in Tokiwadaira, Matsudo, to learn what residents’ attributes may influence their perceptions, and to formulate factors of recognition and awareness of urban green spaces. The research was conducted in three stages: a recognition and awareness survey, analysis, and interpretation. A Mann-Whitney U test and Welch’s t test were applied to examine significant differences in perception level; a Chi-square test was applied to examine the relationship between residents’ attributes and volunteering activity; finally, factor analysis was applied to characterize residents’ recognition and awareness of nature and green spaces. The results demonstrated three significant differences regarding the benefits of green spaces between danchi and apartment residents, and five significant differences in their interest in green spaces. The attributes influencing danchi residents’ perceptions were gender and age, while those influencing apartment residents were age, existence of children, employment status, length of stay, and existence of green spaces. The three factors accounting for residents’ interest in green spaces and nature were: high recognition and awareness, moderate recognition and awareness, and low recognition and awareness. The results may prove useful as guidance for specific local governments in relation to urban green space planning and design. AbstrakDi Jepang di mana sebagian besar penduduknya terdiri atas orang lanjut usia, berbagai masalah sosial telah terjadi, seperti kurangnya tenaga kerja, perawatan bagi orang lanjut usia yang rendah, kelahiran anak-anak yang rendah, terabaikannya daerah setempat, dan kurangnya komunitas. Di daerah perkotaan yang berpenduduk padat, perencana kota mengusulkan perencanaan lanskap berkelanjutan, tetapi terkadang mengabaikan publik dan menghilangkan makna tempat mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas perbedaan persepsi ruang hijau antara penghuni di kompleks rumah susun semi publik dan apartemen di Tokiwadaira, Matsudo, untuk mengetahui atribut penghuni yang dapat mempengaruhi persepsi mereka, dan untuk merumuskan faktor-faktor pengenalan dan kesadaran akan ruang hijau perkotaan. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap: survei kesadaran dan pengenalan, analisis, dan interpretasi. Uji Mann-Whitney U dan Welch's t digunakan untuk menguji perbedaan level persepsi yang signifikan antara penghuni danchi dan apartemen. Uji Chi-square digunakan untuk menguji hubungan antara atribut penghuni dan kegiatan sukarela, terakhir analisis faktor digunakan untuk mengkarakterisasi pengenalan dan kesadaran penghuni terhadap alam dan ruang hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga perbedaan signifikan mengenai manfaat ruang hijau di antara penghuni danchi dan apartemen, dan lima perbedaan signifikan terhadap minat ruang hijau. Atribut yang mempengaruhi persepsi penduduk danchi adalah gender dan usia, sedangkan hal-hal yang mempengaruhi penghuni apartemen adalah usia, keberadaan anak, status pekerjaan, lama tinggal, dan keberadaan ruang hijau. Tiga faktor yang menentukan minat penghuni terhadap alam dan ruang hijau di antaranya: pengenalan dan kesadaran yang tinggi, pengenalan dan kesadaran yang sedang, serta pengenalan dan kesadaran yang rendah. Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai panduan perencanaan dan desain ruang hijau kota untuk pemerintah lokal

    INFLUENCE OF NITRATE AND PHOSPHATE ON THE DISTRIBUTION AND ABUNDANCE OF RIPARIAN VEGETATION IN YOGYAKARTA CITY (Pengaruh Nitrat dan Fosfat pada Distribusi dan Kelimpahan Vegetasi Riparian Kota Yogyakarta)

    Full text link
    AbstrakCity of Yogyakarta has three major streams, they are Winongo, Code and Gajahwong. These urban stream accept high input of nutrients throughout the year. Nutrients are in form of organic and non organic matters originated from domestic waste, factory waste, and hospital waste. Riparian vegetation directly respond to stream ecosystem changes. This research aim to learn distribution and abundance of riparian vegetation in Winongo, Code, and Gajahwong, number of species presence in each sampling site, physic-chemical parameters including air and soil temperatures, air and soil humidity, soil pH, light intensity, and NO3- and PO43- in water and riparian soil. In each station, samples were taken using 2x0.5 m plot with 10 replications in floodplain. There are three stations in each stream. Data collected was species number and names. Growth-form grass dominated in all stations. In Winongo the grass density are 1582 ind/10m2 (70%), Code 1697 ind/10m2 (81%) and Gajahwong 1432 ind/10m2 (70%). The most abundant grass were Paspalum sp. in Winongo they were 764 ind/10m2 and in Gajahwong 1103 ind/10m2. While Code was dominated by Panicum sp. they were 735 ind/10m2. Grass were quickly respond to high nutrient availability. High concentration of NO3- and PO43- trigger grass domination. Grass were known for their nutrient fixing behavior, therefore when Grass were most abundant, nutrient concentration decreased in each sampling station.AbstractKota Yogyakarta memiliki tiga sungai utama, yaitu sungai Winongo, Code dan Gajahwong. Sungai perkotaan ini membawa nutrien yang tinggi sepanjang tahun. Nutrien berupa bahan organik dan non organik ini berasal dari limbah domestik, limbah pabrik, dan limbah rumah sakit. Vegetasi riparian secara langsung merespon perubahan ekosistem sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sebaran dan kelimpahan vegetasi riparian di sungai Winongo, Code, dan Gajahwong, jumlah keberadaan spesies di setiap lokasi pengambilan sampel, parameter fisika-kimiawi meliputi suhu udara dan tanah, kelembaban udara dan tanah, pH tanah, intensitas cahaya, dan kadar NO3- dan PO43-  di air dan tanah riparian. Di setiap stasiun diambil sampel dengan menggunakan plot 2x0,5 m dengan 10 ulangan di dataran banjir. Ada tiga stasiun di setiap aliran. Data yang dikumpulkan adalah nomor dan nama spesies. Rerumputan berbentuk tumbuh mendominasi di semua stasiun. Di Winongo kerapatan rumput adalah 1582 ind / 10m2 (70%), Code 1697 ind / 10m2 (81%) dan Gajahwong 1432 ind / 10m2 (70%). Rerumputan yang paling melimpah adalah Paspalum sp. di Winongo seluas 764 ind / 10m2 dan di Gajahwong 1103 ind / 10m2. Sedangkan Code didominasi oleh Panicum sp. mereka 735 ind / 10m2. Rerumputan dengan cepat merespon ketersediaan hara yang tinggi. Konsentrasi NO3- dan PO43- yang tinggi memicu dominasi rumput. Rerumputan dikenal karena perilaku pengikat hara, oleh karena itu pada saat rumput paling melimpah, konsentrasi hara menurun di setiap stasiun pengambilan sampel

    KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DAN STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN BULELENG, PROVINSI BALI (Social Economic Condition of Coastal Communities and Development Strategy of Capture Fisheries Potentials in Buleleng Regency)

    Full text link
    AbstrakMasyarakat nelayan mempunyai karakteristik sosial tersendiri di dalam kehidupan masyarakat. Diantaranya masyarakat nelayan mempunyai solidaritas dan etos kerja yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir dan menentukan strategi pengembangan potensi perikanan tengkap di Kabupaten Buleleng Penelitian ini dilakukan di tujuh Kecamatan, yaitu; Kecamatan Gerogak, Seririt, Banjar, Buleleng, Sawan, Kubutambahan, dan Tejakula. Metode penelitian menggunakan Analisis SWOT.Rentang umur nelayan penuh didominasi oleh umur 41-50 dan tingkat pendidikan nelayan di Kabupaten Buleleng adalah tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD). Secara umum kondisi armada dan alat tangkap masih tergolong penangkapan ikan skala kecil, dengan rata-rata jumlah pendapatan nelayan yaitu Rp 1.000.000-2.000.000/bulan. Strategi pengembangan yang di sarankan adalah strategi SO, yaitu; pengorganisasian pemasaran hasil tangkapan ikan oleh kelompok nelayan. Menyusun profil investasi peluang usaha perikanan tangkap. Meningkatkan peran penyuluh perikanan untuk membantu kegiatan penangkapan ikan. Potensi perikanan di WPP 713 dapat dimaksimalkan melalui kerjasama nelayan dalam bentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB).AbstractThe fishing community has its own social characteristics in community life. Among them, the fishing community has solidarity and a high work ethic. The purpose of this study was to determine the socio-economic conditions of coastal communities and determine the strategy for developing fisheries potential in Buleleng Regency. This research was conducted in seven districts: Gerogak, Seririt, Banjar, Buleleng, Sawan, Kubutambahan, and Tejakula. The research method uses SWOT Analysis. The full age range of fishermen is dominated by the age of 41-50 and the education level of Elementary Schools (SD). In general the condition of the fleet and fishing gear is still classified as small-scale fishing, with an average amount of fishermen income of Rp 1,000,000-2,000,000 / month. The recommended development strategy is the SO strategy: (1) organizing marketing of fish catches by fishermen groups; (2) compile investment profile of the opportunities in capture fisheries business; (3) enhancing the role of fisheries scouts to assist fishing activities. The fishery potential in WPP 713 can be maximized through the cooperation of fishermen in the form of a Kelompok Usaha Bersama  (KUB)

    PERAN KARAKTERISTIK, PENGETAHUAN DAN SIKAP PEKERJA TERHADAP PRAKTIK PENGELOLAAN LIMBAH DI INSTALASI KARANTINA HEWAN (Characteristics, Knowledge and Attitude of Workers Regarding Waste Management Practices in Animal Quarantine Installations)

    Full text link
    AbstrakLimbah Instalasi Karantina Hewan (IKH) ruminansia besar dapat menjadi sumber penularan penyakit yang mungkin terbawa akibat lalu lintas ternak serta dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sejauh mana karakteristik, pengetahuan dan sikap petugas IKH berpengaruh terhadap praktik pengelolaan limbah di IKH. Responden adalah petugas yang melakukan pengelolaan limbah di IKH. Hubungan dan tingkat pengaruh langsung dan tidak langsung pada variabel yang diamati dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan karakteristik, pengetahuan dan sikap petugas IKH berpengaruh sebesar 68,85%. Pengaruh tersebut digambarkan sebagai pengaruh langsung sebesar 22,76% dan tidak langsung sebesar 46,09% terhadap praktik pengelolaan limbah di IKH. Pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan praktik pengelolaan limbah di IKH. Sikap berpengaruh signifikan terhadap praktik pengelolaan limbah di IKH. Pengelolaan limbah di IKH dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan pengetahuan melalui pelatihan sistem manajemen lingkungan sesuai ISO 14001:2015, pelatihan AMDAL dan UKL/UPL serta pengetahuan mengenai risiko penyakit yang mungkin terbawa oleh limbah IKH.AbstractWaste from large ruminant animal quarantine installations (IKH) can be a source of disease transmission that may be carried away due to livestock traffic and can cause environmental problems. The purpose of this study was to analyze the characteristics, knowledge and attitudes of IKH officers to influence the practice of waste management in IKH. Respondents were officers who carry out waste management in IKH. The relationship and magnitude of direct and indirect effects on observed variables were analyzed using path analysis. The results showed that overall the characteristics, knowledge and attitudes of IKH officers had an effect of 68.85%. The influence is described as a direct influence of 22.76% and indirectly by 46.09% on the practice of waste management in IKH. The practice of waste management in IKH is influenced by significant knowledge and attitudes. Attitudes are influenced by knowledge of waste management in IKH. Waste management in IKH can be improved by increasing knowledge through training in environmental management systems in accordance with ISO 14001: 2015, training on AMDAL and UKL / UPL as well as knowledge about the risk of diseases that may be carried out by IKH waste

    RESOLUSI KONFLIK TENURIAL PEMANFAATAN KAWASAN HUTAN DI HUTAN LINDUNG RIMBO DONOK KABUPATEN KEPAHIYANG (The Tenurial Conflicts Resolution of Utilization of Forest Areas in Protected Forests Rimbo Donok Kepahiang District)

    Full text link
    ABSTRAKHutan Lindung Rimbo Donok memiliki luas 377,99 Ha, terletak di Kabupaten Kepahiyang Provinsi Bengkulu. Fungsi utama dari hutan lindung ini adalah sebagai sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, dan menjaga kesuburan tanah. Seharusnya, tutupan vegetasi kawasan hutan ini berupa hutan primer. Namun fakta di lapangan, seluruh kawasan hutan ini telah berubah menjadi lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik masyarakat penggarap lahan di kawasan hutan lindung Rimbo Donok dan mencari alternatif resolusi konflik yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan adalah teknik pemetaan, pengamatan lapangan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan di hutan lindung Rimbo Donok seluruhnya berupa lahan pertanian, yang digarap masyarakat secara tidak sah dengan menanam kopi dan tanaman pertanian lainnya. Rata-rata luas lahan garapan untuk setiap kepala keluarga sekitar 1,33 ha. Resolusi konflik pemanfaatan hutan ini harus bisa mengakomodir fungsi sosial ekonomi dan fungsi perlindungan lingkungan. Upaya legalisasi pemanfatan hutan harus dilakukan dengan berbagai skema seperti : hutan kemasyarakatan, hutan desa, atau kemitraan. Pengolahan lahannya dapat menggunakan sistem agroforestry. ABSTRACTRimbo Donok Protected Forest covers 377.99 Ha area, located in Kepahiyang District, Bengkulu Province, Indonesia. The main function of protected forest is to protect life buffer system. Therefore, the land use must be forest. In Rimbo Donok Protected Forest, there has been a change of land use from forest land to crop land. There has been tenurial conflicts in the utilization of forest area. The objective of this study was to determine the characteristics of tenants in Rimbo Donok protected forest area and choose alternatives to resolve tenurial conflicts. The data of uses were collected through mapping techniques, field observation, and interview. The results showed that land use of Rimbo Donok Protected Forest in 2016 is entirely crop land. All of this protected forest have been illegaly occupied by people. These people are planting coffe and other agricultural plants in the area. The average land area of head family is 1.33 ha. This conflict resolution of forest utilization should be able to accommodate the socio-economic function and environmental protection function. Efforts to legalize the utilization of forests should be carried out under various schemes such as: community forest, village forest, or partnership. the agroforestry system can be selected as its land management system

    DAMPAK PERKEMBANGAN KAWASAN WISATA MUSEUM KARST INDONESIA TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN DI DUSUN MUDAL, GEBANGHARJO, PRACIMANTORO, WONOGIRI (Impact of the Indonesian Karst Museum Tourism Areas on Environmental Conditions in Dusun Mudal, Gebangharjo, Pracimantoro, Wonogiri)

    Full text link
    ABSTRAKKawasan wisata Museum Karst Indonesia sebagai salah satu kawasan Kawasan Geopark UNESCO – Gunungsewu yang berada di Gebangharjo, Pracimantoro, merupakan salah satu objek wisata potensial yang berada di Kabupaten Wonogiri. Evaluasi untuk mencapai pariwisata yang berkelanjutan sangatlah penting meliputi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi perkembangan wisata yang ada di kawasan wisata Museum Karst Indonesia, mengkaji keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendukung wisata setempat, dan menganalisis dampak lingkungan dari adanya kawasan wisata Museum Karst Indonesia terhadap kondisi lingkungan fisik dan sosial ekonomi masyarakat lokal. Perolehan data dilakukan dengan metode observasi, penyebaran kuesioner, dan wawancara. Hasil ditampilakan menggunakan analisis distribusi frekuensi terhadap skala likert. Perkembangan kawasan wisata MKI masih berada pada tahap awal perkembangan. Masyarakat Dusun Mudal masih sedikit yang terlibat dalam mendukung kegiatan wisata, seperti tenaga kerja, pedagang, penyedia jasa penginapan. Perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kondisi lingkungan fisik di Dusun Mudal tidak begitu dirasakan (kecil). Kedepannya masih diperlukan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan wisata MKI dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendukung wisata. ABSTRACTTourism area of Karst Museum of Indonesia as apart of UNESCO Global Geopark Gunungsewu located in Gebangharjo, Pracimantoro is one of tourism object of Wonogiri Regency. Evaluation to achieve a sustaibable tourism is important, involve the social, economic, and environmental impact. The purpose of this research are to analize the development in the tourism area of Karst Museum of Indonesia, to study the activities of the community in supporting tourism activities in Karst Tourism Area of Indonesia Museum, and to analyze the impact of the Karst Indonesia Museum's tourism on the physical social and economic condition of the local community. Data was collected by observation technique, questionnaire distribution, and interview. The result analized by frequency distribution analysis of likert scale questionnaire. The results show that the development of tourist areas is still at an early stage of development. The Mudal community is still a bit involved in supporting tourism activities, such as labor, traders. Transformation in socio-economic and environmental conditions in Mudal Village are in small impact category. In the future still needed efforts to improve the community around the tourist area of MKI by increasing community involvement in tourism support activities

    EFEKTIFITAS SISTEM LAHAN BASAH BUATAN DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT-X (Effectiveness of Artificial Wetland System in Processing Liquid Waste of Hospital-X)

    Full text link
    AbstrakLahan basah buatan adalah sistem yang melibatkan tanaman, tanah, mikroba sebagai pengolahan limbah cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektifitas sistem lahan basah buatan dalam pengolahan limbah cair rumah sakit X dan mengkaji kemampuan jenis tanaman Canna Indica, Echinodorus palaefolius dan Iris pseudoacorus sebagai biofilter limbah cair rumah sakit X . Lahan basah buatan dibuat menggunakan media pasir, karbon aktif, dan kerikil dalam skala laboratorium. Analisis data menggunakan uji Anova dan Uji BNT dengan penggunaan jenis tanaman sebagai perlakuan biofilter, yaitu Canna Indica, Echinodorus palaefolius plant, Iris pseudoacorus, penggabungan ketiga tanaman, dan tidak ada tanaman sebagai kontrol. Waktu detensi 3, 6, dan 9 hari sebagai perlakuan hari dengan tiga kali ulangan. Parameter utama adalah Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan amoniak. Parameter pendukung warna, bau, suhu, dan pH. Lahan basah buatan terbukti efektif dalam pengolahan limbah cair rumah sakit X dan ada perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata terhadap perubahan kualitas air limbah. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi penurunan BOD dan COD terjadi pada waktu detensi 6 hari. Variasi waktu berpengaruh terhadap penurunan konsentrasi BOD dan COD. Penggabungan ketiga tanaman (C. Indica, E. palaefolius dan I. pseudoacorus) terbukti efektif sebagai biofilter dalam penurunan parameter pH (11,2%) dan warna (27,4%), serta tanaman Echinodorus palaefolius terbukti efektif sebagai biofilter dalam penurunan parameter amoniak (34%), namun pengggunaan tanaman (biofilter) dalam lahan basah buatan tidak terbukti efektif pada penurunan BOD, COD, dan suhu. Hasil penelitian ini telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Permen KLHK No: P. 68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016 tentang Baku mutu air Limbah domestik.AbstractAn artificial wetland is a system which involves plants, soil, and microbes in the wastewater treatment. This research aims to examine the effectiveness of artificial wetland to be used for the hospital’s wastewater treatment. It also reviews the role of Canna Indica, Echinodorus palaefolius, and Iris pseudoacorus to serve as biofilters of the hospital’s wastewater. The artificial wetland is made of sand, active carbon, and gravels in lab-scale amount. The data was analysed by using Anova test and BNT test. The analysis involved several types of plants serving as a biofilter treatment, namely Canna Indica, Echinodurus palaefolius, Iris pseudoacorus, and the combination of these three plants. None served as a control plant. The detention times were 3, 6, and 9 days compounded with three-time repetitions. The main parameters were Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), and amoniak. Supporing parameters included colour, odor, temperature, and pH. The artificial wetland was considered effective in the hospital’s wastewater treatment. The results also documented that some treatments had a significantly different effect towards the change of wastewater quality. The research indicated that the efficiency of BOD’s and COD’s decline occured at 6 days of detention. The variety of time affected the concetration decline of BOD and COD. The combination of three plants (E. palaefolius, I. pseudoacorus, and C. Indica) was proven effective as a biofilter which reduces pH parameter (11,2%) and colour parameter (27,4%). In addition, The Echinodorus palaefolius plant was reported effective to reduce amoniak parameter (34%). However, the use of plants (biofilter) in the artificial wetland was not effective towards the decline of BOD, COD, and temperature. The results of this research therefore have met the requirement stipulated by the Goverment regulation of KLHK (Ministry of Environment and Forestry) No : P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016 on the quality standards of the domestic wastewater

    KOLONI BURUNG CANGAK ABU (Ardea cinerea LINNAEUS) DI AREA BANDAR UDARA INTERNASIONAL ADISUTJIPTO YOGYAKARTA (Grey Heron Colony (Ardea cinerea Linnaeus) in Yogyakarta Adisutjipto International Airport Area)

    Full text link
    AbstrakBird strike merupakan peristiwa tabrakan antara burung baik secara berkelompok maupun tunggal dengan pesawat terbang pada proses penerbangan. Kejadian bird strike dapat menyebabkan kecelakaan ringan hingga serius yang sangat merugikan secara ekonomi Sekalipun telah dilakukan bird control secara maksimal berdasarkan panduan yang tersedia, namun bird strike juga terkadang masih terjadi di Bandar Udara Internasional Adisutjipto Yogyakarta (JOG) dengan tingkat kerusakan pesawat dari berat sampai ringan. Salah satu jenis burung penyebab kejadian bird strike di kawasan ini adalah cangak abu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besaran dan prilaku koloni burung cangak abu (Ardea cinerea) pengunjung area. Pengambilan data besaran koloni burung pengunjung dilakukan dengan penghitungan langsung (sensus); perilaku selama di lokasi antara lain waktu dan arah datang dan pergi serta aktivitas yang dilakukan burung cangak abu selama di area bandara diamati dan dicatat secara langsung. Semua data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan diperbandingkan burung lain dan hasil penelitian lain sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang mengapa koloni cangak abu tersebut menjadi pengunjung area bandara. Hasil penelitian menunjukkan. Keberadaan burung cangak abu di Bandara Adisutjipto berpotensi relatif terbesar menimbulkan kejadian bird strike dibanding burung jenis lainnya karena jumlah individu harian yang datang terbanyak, frekuensi kedatangannya tertinggi kedua setelah burung wallet, ukuran tubuhnya yang  relatif terbesar, terbang rendah, terbang pelan dan manuvernya juga lamban serta terbang menyilang landasan. Kondisi lingkungan area runway bandara yang luas, lapang terbuka, ditutupi hijauan rerumputan, berangin, aman dari predator, sepi jauh dari kegiatan manusia dan lokasinya yang strategis diantara zona roosting/nesting dan zona foraging/feeding menjadi lokasi yang ideal bagi koloni cangak abu untuk melakukan kegiatan harian loafing. Pengelola bandara JOG perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan peningkatan kehadiran burung cangak abu, dan perlu memperluas jangkauan pengelolaan populasi cangak abu di luar wilayah bandara.AbstractBird strike is a bird collision event both in groups and singly with an aircraft in the flight process. Bird strike events can cause minor to serious accidents which are very detrimental to the economy. Although maximum bird control has been carried out based on the available guidelines, bird strikes also sometimes occur at Yogyakarta Adisutjipto International Airport (YAIA) with the level of aircraft damage from heavy to light. One type of bird that causes the bird strike incident at YAIA is grey heron. The purpose of this study was to determine the dayly individual number and behavior of the grey heron (Ardea cinerea), visitors to the YAIA area. Data collection on visitor bird colony size is carried out by direct count (census); behavior while in YAIA, including the time and direction of coming and going, and what the grey heron did during the airport area was observed and recorded directly. All data obtained were analyzed descriptively-qualitatively and compared to other birds and other research results so that a clear picture of why the colony of grey heron can be obtained as a visitor to the YAIA area. The results showed. the presence of grey heron (Ardea cinerea) at Adisutjipto Airport has the highest relative potential to cause bird strike events compared to other types of birds because the highest number of daily individuals, the second highest frequency of arrival after a glossy swiftlet, the largest relative body size, low flight, slow flight and maneuvers are also slow and fly across the runway. The YAIA runway area, which is wide, open and covered with grasses, windy, safe from predators, is quiet away from human activities and a strategic location between the roosting / nesting zone and the foraging / feeding zone makes it an ideal location for grey heron colonies to conduct colony of grey heron daily loafing activities. In conclusion, the manager of YAIA needs to increase awareness of the possibility of increasing the presence of grey herons, and it is necessary to broaden the scope of management of the grey heron population outside the YAIA region

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇