LINTAS RUANG: Jurnal Pengetahuan & Perancangan Desain Interior
Not a member yet
107 research outputs found
Sort by
SENSE OF PLACE DI PERPUSTAKAAN DAERAH
Adaptasi konsep library as a social place kian menjadi tren ditengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya belajar kolaboratif. Pada penelitian ini diselidiki sense of place perpustakaan daerah berkonsep ruang publik dari tiga faktor pembentuknya, yaitu aspek aktvitas, fisik, dan emosi dengan analisis statistik deskriptif dan observasi lapangan. Perpustakaan Umum Kota Lumajang dipilih menjadi objek dengan sampel berupa pemustaka di lingkungan tersebut yang ditetapkan dengan metode accidental sampling.Dari hasil analisis data ditemukan bahwa, variabel yang dominan membentuk keterikatan pemustaka dengan Perpustakaan Umum Kota Lumajang pada aspek aktivitas adalah kegiatan mencari ide, berkegiatan sosial, dan mengekpslor bangunan dalam variabel eksplorasi. Kemudahan akses menuju tempat dinilai sebagai faktor penting dalam aspek fisik. Dengan adanya ruang publik, peran perpustakaan sebagai sarana pengembangan wawasan, minat dan kualitas masyarakat daerah dilaksanakan melalui kegiatan diskusi, berkumpul, aktualisasi, dan bercengkrama antar pemustaka di tempat (place social bonding). Tingkatan sense of place pemustaka di Perpustakaan Umum Kota Lumajang secara umum berada pada kategori sedang, yaitu pemustaka memiliki ketertarikan khusus dengan area atau unsur yang ada di perpustakaan. Peran perpustakaan sebagai social place dinilai sebagai makna tempat dan unsur menarik untuk mengunjungi serta berlama-lama di lingkungan perpustakaan, sehingga secara berkesinambungan berpengaruh pada keterikatan tempat (sense of place)
Ornamen Rumah Tradisional Melayu Riau di Pekanbaru: Rumah Tuan Kadi
Pekanbaru merupakan ibu kota Provinsi Riau yang memiliki visi untuk mewujudkan identitas kotadengan lingkup budaya Melayu Riau. Upaya pelestarian budaya menjadi langkah yang ditetapkan olehpemerintah khususnya pada sektor pariwisata. Salah satunya dengan ditetapkannya rumah singgah TuanKadi sebagai situs cagar budaya yang menjadi objek destinasi wisata kebudayaan dan sejarah dengan cirikhas bangunan tradisional Melayu Riau dari segi eksterior maupun interiornya. Rumah Tuan Kadi dapatdikunjungi penduduk sekitar maupun wisatawan, kegiatan pemotretan, serta kegiatan kebudayaan olehpemerintah.Penelitianinibertujuanuntukmengidentifikasiragamhiasornamenpadabangunantradisional sebagai salah satu ciri khas kebudayaan Melayu Riau. Metode yang digunakan pada penelitianini adalah kualitatif deskriptif interpretatif dengan menganalisis data observasi dan dokumentasi padarumah Tuan Kadi disertaidengan wawancaradan keterkaitannya dengan landasan teori mengenaipenerapan ornamen dan ragam hias melayu pada bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkanidentifikasi mengenai penerapan ragam hias ornamen pada elemen interior yang ada pada rumahtradisional di Kota Pekanbaru. Dari hasil yang diperoleh ragam hias ornamen pada rumah Tuan Kadidipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang tersebar pada masa kejayaan kerajaan Siak Sri Indra Purasebagai tempat persinggahan sultan dan diambil alih oleh Belanda sebagai kantor. Penerapan ornamenpada eksterior dan interior pada rumah tradisional dapat menjadi acuan rekomendasi dalam perancangandesain yang merefleksikan identitas budaya pada bangunan ruang publik di Kota Pekanbaru
Preferensi Perempuan Terhadap Desain Kawasan Bantaran Sungai di Karangwaru Riverside
Desain bantaran sungai di bantaran sungai Karangwaru direncanakan dengan metode desainpartisipatif.Perempuansebagaisalahsatupemangkukepentingandalamprogrampembangunan tersebut berpartisipasi dalam berbagai tingkatan selama perencanaan danpelaksanaanrancangan.Merekatidakterlibatlangsungdalampekerjaanfisiktetapimenyediakan logistik untuk mendukung para pekerja. Dengan terwujudnya desain, bantaransungai Karangwaru dinilai berhasil mengakomodir kebutuhan stakeholder. Namun demikianhingga saat ini belum ada penelitian yang membahas tentang apa yang sebetulnya disukaiperempuan dalam sebuah desain kawasan tepi sungai.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui preferensi desain perempuan di kawasan tersebut terhadap lingkungan binaanbantaran sungai. Dengan menggunakan metode kualitatif dan wawancara mendalam untukmengumpulkan data, penelitian ini menemukan bahwa preferensi perempuan tidak hanyabersifat visual melainkan melibatkan sensori auditori dan sentuhan. Fitur-fitur desain sepertijalansetapakdanpagarpembatasmenjadipentingbagiperempuanuntukmengakseskawasan terbangun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memperhatikan fiturkeamanan desain bantaran sungai, kemudahan perawatan, privasi, dan batasan aktivitassosial
Revitalisasi Ruang Pameran Galeri Nasional Indonesia melalui Inovasi Teknologi, Studi Kasus: Area Pameran Gedung B
Bangunan umum terus berkembang dan dilengkapi dengan IoT untuk memenuhi kebutuhan yang praktis dan efisien. Layaknya Galeri Nasional Indonesia (GNI) memerlukan adaptasi ulang dengan kemajuan era mendatang yang tidak lain yaitu sebuah teknologi bersama Internet of Things (IoT) yang akan meningkat pesat sekian waktu. Permasalahan yang paling menonjol yaitu bagaimana cara mewujudkan IoT dan teknologi yang baik ke dalam interior GNI. Dari semua hal tersebut, perancangan GNI untuk penelitian kali ini tertuju kepada ruang pameran gedung B. Tujuan perancangan yang utama ialah untuk mewujudkan IoT dan teknologi yang baik ke dalam interior GNI dan untuk memperoleh data yang diperlukan sebagai landasan dalam penelitian. Metode perancangan desain Rosemary dan Otie Kilmer, metode desain dibagi 2 bagian dengan 8 tahapan. Untuk perancangan galeri ini berkonsep teknologi dengan IoT menggunakan aplikasi di perangkat gadget kini merubah kebutuhan masyarakat khususnya ruang aktifitas masyarakat. Pengimplementasian teknologi serta IoT ke dalam ruang pameran tetap GNI yaitu dengan video mapping blinds dan motion sensor. Ruang pameran tetap akan memberikan dampak interior galeri yang dapat meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap situasi wilayah ruang publik tersebut. Hal itu pula yang dapat mempermudah saluran informasi yang akan berguna untuk kualitas hidup masyarakat
Makna Ornamen Ular Naga dan Floral pada Kursi Rapat di Keraton Sumenep
Abstrak Kehadiran ornamen dapat dilihat pada produk, meja, kursi, langit-langit, cermin, lantai, tangga, pintu, jendela, dan lainnya. Bentuk dan warnanya beragam, mulai dari ukiran timbul, ukiran datar, bermotif fauna, dan flora. Pada era modern, hanya sedikit masyarakat yang menggunakan ornamen tradisional di perabotan mereka, disebabkan terjadi peralihan dari ornamen yang rumit menjadi lebih sederhana/praktis. Fenomena ini berdampak ornamen tradisional yang memiliki simbol dan makna khusus, perlu dilestarikan. Sebagai salah satu upaya menjaga budaya asli, masyarakat Madura, khususnya Sumenep, masih melestarikan ornamen tradional di Keraton Sumenep. Sedikitnya penelitian mengenai hal tersebut di atas, maka, penelitian ini menganalisis ornamen pada salah satu produk desain di Keraton Sumenep, yaitu kursi rapat. Dulu, kursi merupakan penanda kekuasaan dan kasta dalam strata sosial. Kursi dari Keraton Sumenep memiliki keunikan karena berangkat dari akulturasi seni budaya Tiongkok dan Madura. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian deskriptif. Data deskripsi dikumpulkan dari studi literatur, observasi lapangan, dan wawancarar; berupa definisi, teori, kondisi ekologi, antropologi berupa sejarah dan budaya di Keraton Sumenep maupun masyarakat sekitarnya. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan, bahwa, kursi rapat pada Keraton Sumenep memiliki dua ornamen utama, yaitu ornamen floral berupa bunga dan lung; dan ornamen fauna berupa ular naga; yang masing-masing ornamen mengandung makna simbolik tertentu, berkaitan dengan stratifikasi serta simbol personalitas.Ornamen bunga seruni menunjukkan kehormatan, kewibawaan, keagungan kaum dari bangsawan; ornamen ular naga memiliki makna ketegasan dan akan memberikan keberuntungan terus menerus. Abstract The presence of ornaments can be seen on products, tables, chairs, ceilings, mirrors, floors, stairs, doors, windows, and others. The shapes and colors vary, ranging from embossed carvings, flat carvings, fauna and flora motifs. In the modern era, only a few people use traditional ornaments in their furniture, due to the transition from complicated ornaments to simpler/practical ones. This phenomenon has an impact on traditional ornaments that have special symbols and meanings that need to be preserved. As an effort to maintain original culture, the people of Madura, especially Sumenep, still preserve traditional ornaments at the Sumenep Palace. There is little research on the above, so this study analyzes the ornaments on one of the design products at the Sumenep Palace, namely meeting chairs. In the past, seats were a marker of power and caste in social strata. The chair of the Sumenep Palace is unique because it departs from the acculturation of Chinese and Madurese art and culture. This research was conducted with a descriptive research method. Descriptive data were collected from literature studies, field observations, and interviews; in the form of definitions, theories, ecological conditions, anthropology in the form of history and culture in the Sumenep Palace and the surrounding community. From the results of the study, it can be concluded that meeting chairs at the Sumenep Palace have two main ornaments, namely floral ornaments in the form of flowers and lunges; and fauna ornaments in the form of dragon snakes; each ornament contains a certain symbolic meaning, related to stratification and a symbol of personality. Chrysanthemum flower ornaments show honor, dignity, the majesty of the nobility; the dragon ornament has the meaning of firmness and will provide continuous luck.
Pengaruh Elemen Visual pada Ruang Mini Museum Atsiri Sarinah Jakarta terhadap Pengalaman Pengunjung
Museum berperan penting dalam memberikan edukasi serta mewariskan nilai-nilai kehidupan masa lampau dan memiliki manfaat tambahan untuk rekreasi, sosialisasi, dan relaksasi. Ruang museum dapat memberikan pengalaman ruang yang baru, pengalaman ini terbentuk dari tampilan visual dan unsur interaktif yang disajikan. Salah satunya di ruang mini museum Atsiri di Sarinah Jakarta yang menampilkan visualisasi beragam, menyajikan unsur interaktif seperti penerapan teknologi dan instalasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh elemen visual terhadap pengalaman pengunjung dan mengidentifikasi pengaruh faktor engagement, transaction, excitement, dan positioning terhadap pengalaman visual. Metode yang digunakan adalah kuantitatif menggunakan parameter VISUALSCAPE, dilakukan melalui kuesioner kepada pengunjung dengan total responden yaitu 40 orang. Hasil penelitian membuktikan bahwa elemen visual memiliki pengaruh terhadap pengalaman pengunjung dan faktor engagement, transaction, excitement, dan positioning memiliki pengaruh terhadap terhadap pengalaman visual
Efektivitas Jenis Anyaman Kerajinan Bambu di Desa Loyok, Sikur, Lombok Timur
Kerajinan anyaman bambu merupakan salah satu karya seni kerajinan warisan dari nenek moyang,sampai saat ini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kerajinan anyaman merupakanhasil dari proses penyilangan ikatan bambu, rotan, daun-daunan yang dibentuk sebagai bendafungsional dengan pola tertentu. Hampir di seluruh Nusantara terdapat rumah industri pengrajinbarang anyaman, termasuk di kepulauan Sunda Kecil. Di Lombok, terdapat satu desa yangmemiliki banyak pengrajin anyaman bambu, yaitu desa Loyok. Dari zaman dahulu, Desa Loyoksudah dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu. Banyak sekali produk kerajinan anyamanyang telah mereka produksi dan kemudian dikirimkan ke berbagai daerah seperti Bali, Mataram,bahkan luar negeri. Kerajinan anyaman bambu ini memiliki jenis anyaman yang berbeda-beda.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis anyaman yang paling efektif di Desa Loyok.Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukan tingkat keberhasilan atau percapaian suatutujuan yang di ukur kualitas, kuantitas, dan waktu, sesuai dengan yang telah direncanakansebelumnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif, denganmengumpulkan data kemudian melakukan perhitungan terhadap data tersebut untuk melihat jenisanyaman yang paling efektif
Analisa Peran Desain Interior Dalam Menunjang Minat Pengunjung Untuk Revisit Kafe Redback dan Common Grounds Surabaya
Pertumbuhan bisnis kafe yang pesat di kota besar seperti Surabaya menjadikan kafe sebagai sarana gaya hidup masyarakat di jaman sekarang yang cenderung lebih suka menghabiskan waktunya di luar rumah. Tidak hanya sebagai tempat untuk makan, kafe juga menjadi target masyarakat untuk menghabiskan waktunya bekerja maupun meeting secara langsung, terutama di era pandemi yang membuat sebagian masyarakat work from home. Terdapat tiga permasalahan yang akan dibahas yaitu apakah desain ruang dan tata letak interior dapat berpengaruh terhadap minat pengunjung untuk revisit kafe Redback dan Common Grounds Surabaya, apakah kenyamanan interior dapat berpengaruh terhadap minat pengunjung untuk revisit kafe Redback dan Common Grounds Surabaya, dan Bagaimana peran desain interior yang dapat menghasilkan pengaruh positif pada minat pengunjung untuk revisit kafe. Metode yang digunakan adalah dengan analisa statistik deskriptif dan analisa statistik inferensial dari data kuesioner yang telah diisi oleh 109 responden dan diolah. Penelitian ini akan menghasilkan hasil yang membuktikan bahwa desain interior memiliki peran dalam menunjang minat pengunjung untuk revisit kafe Redback dan Common Grounds Surabaya dari hitungan statistik dan juga cara mengatur desain interior yang dapat menarik minat pengunjung untuk revisit kafe
Pengembangan Desain Asesoris Interior Dengan Metode Atumics di Sentra Batik Kayu Krebet Bantul, Yogyakarta
Dusun Krebet, Desa Sendangsari di Bantul dikenal luas sebagai sentra kerajinan batik kayu yang memiliki ciri khas kuat karena berbasis pada tradisi membatik pada media kayu. Saat ini pamornya sebagai desa kerajinan batik kayu dirasa mulai meredup padahal produk batik kayu merupakan bentuk usaha merawat tradisi (membatik) dalam bentuk baru yang seharusnya harus terus dijaga kelangsungannya. Kondisi ini apabila terus dibiarkan tentu tidak menguntungkan bagi usaha batik kayu serta tradisi membatik di Dusun Krebet. Untuk itu perlu dilakukan langkah untuk mengatasinya dengan mengembangan desain produk batik kayu agar kembali menarik minat pembeli. Produk kategori aksesoris interior dari Dusun Krebet dilihat masih memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut mengingat fungsi dari produk aksesoris interior bisa lebih luas yaitu sebagai barang fungsional maupun dekoratif. Penelitian ini menggunakan metode ATUMICS guna menganalisa elemen tradisi (lama) yang dapat diintegrasikan dengan elemen modern (baru) sebagai dasar pengembangan desain aksesoris interior yang lebih menarik dan sesuai kebutuhan pasar. Dari hasil analisis diketahui aspek fundamental batik kayu Krebet merupakan penggabungan (integrating) unsur tradisional (teknik membatik dan ornamen batik) dengan unsur modern (material, bentuk, fungsi). Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan formulasi guna menciptakan produk-produk baru batik kayu yang unik, inovatif, kreatif dan memiliki daya jual tinggi.
Pengaruh Arsitektur Cina Pada Bentuk Pintu dan Jendela Bangunan Candra Naya
Bangunan di Indonesia mempunyai banyak penerapan dari akulturasi Budaya Cina, karena sejakribuan tahun yang lalu Budaya Cina sudahada di Indonesia, khususnya pada bangunan banyakpenerapan dari Arsitektur Cina yang muncul dengan corak yang khas dengan mengadopsi gayaarsitektur timur di Asia. Struktur Arsitektur Cina menggunakan kayu karena lebih tahan terhadapgempa. Selain itu orang tionghoa menganggap hal tersebut sebagai etika terhadap lingkungan alamdengan mengutamakan hierarki dalam kekuasaan menghormati alam dan memperhatikan keserasiandengan alam. Salah satu bangunan yang menggunakan penerapan Arsitektur Cina adalah CandraNaya yang terletak di Jakarta Barat. Candra Naya memiliki keunikan tersendiri yaitu pada dimensibangunannya yang cukup besar. Elemen yang menonjol pada bangunan tersebut adalah pintu danjendela, karena terdapat ornamen yang diaplikasikannya. Ornamen yangdiaplikasikan tidak hanyasekedar untuk mempresentasikan khas Arsitektur Cina namun juga terdapat harapan-harapan sepertitulisan pada pintu utama Candra Naya yang kurang lebih bertuliskan semoga penggunanya memilikirezeki yang luas. Selain ornamen, dimensi bangunan yang besar dengan desain jendela dan pintuyang beragam, berguna untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik. Penelitian ini menggunakanmetode kualitatif yaitu mengumpulkan data-data melalui studi literatur, observasi mulai dari sejarahhingga detail ukuran setiap elemen, wawancara langsung dengan pengurus Candra Naya sebagaibukti yang esensial, dokumentasi, dan mengembangkan teori-teori dengan cara berpikir penelitiananalisis induktif. Hasil penelitian berupa penjelasan dengan mengeksplorasi dan interpretasi data-data yang didapatkan, sehingga data-data tersebut bisa dijadikan literatur dan memperkenalkan sertamelestarikan bangunan cagar budaya Indonesia salah satunya di Jakarta Barat