GEOMATIKA
Not a member yet
49 research outputs found
Sort by
PEMETAAN MULTI-TINGKAT POTENSI BIJIH BESI MENGGUNAKAN CITRA HYPERSPEKTRAL EO-1 HYPERION DAN MULTISPEKTRAL LANDSAT 8-OLI DI SEKITAR SUNGAI PROGO, YOGYAKARTA: (Multi-Level Mapping of Iron Ore by using the Combination of Hyperspectral EO-1 Hyperion Imagery and LANDSAT 8-OLI Multispectral in Progo River, Yogyakarta)
Gunung Merapi yang terletak di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan gunung api aktif yang menyediakan sumber daya mineral melalui aktivitas vulkaniknya. Bijih besi dalam magma yang dikeluarkan melalui erupsi gunung api dapat terbawa aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Penelitian ini merupakan penelitian permulaan untuk memetakan potensi keberadaan bijih besi yang terendapkan di sekitar aliran Sungai Progo, Yogyakarta, dengan menggunakan kombinasi citra hiperspektral dan multispektral. Data penginderaan jauh yang digunakan berupa Citra LANDSAT 8-Operational Land Imager(OLI) and Citra Earth Observation 1 (EO-1) Hyperion. Citra Hyperion memberikan informasi mengenai jenis mineral besi secara spesifik namun cakupan areanya lebih kecil, sedangkan kombinasi Band Ratio 4/2 dan (4+6)/5 dari citra LANDSAT 8-OLI memberikan informasi mengenai potensi keberadaan bijih besi. Kombinasi pemetaan multi-tingkat Hyperion dilakukan untuk mendapatkan nilai ambang batas mineral besi pada Band Ratio 4/2 dan (4+6)/5 yang digunakan untuk pemetaan potensi bijih besi pada Sungai Progo. Klasifikasi Spectral Angle Mapper menggunakan pustaka spektral bijih besi dilakukan pada citra Hyperion berhasil menemukan potensi konsentrasi mineral besi di kawah Merapi. Poligon klasifikasi hasil pemetaan SAM tersebut digunakan untuk menentukan nilai batas ambang indeks di rasio 4/2 dan (4+6)/5, untuk memetakan kandungan mineral besi di Sungai Progo. Hasil penelitian ini menunjukkan sebaran kandungan mineral besi yang terdeteksi di sepanjang Sungai Progo, namun akurasi dari metode yang dihasilkan masih perlu untuk dikaji pada penelitian berikutnya, dan juga diterapkan pada sensor hyperspectral baru seperti PRISM
ANALISIS KERENTANAN WILAYAH TERHADAP LONGSOR AKIBAT PERUBAHAN IKLIM DI KABUPATEN KEBUMEN: (Vulnerability Assessment of Landslide to Climate Change in Kebumen Regency)
Kabupaten Kebumen merupakan salah satu wilayah yang dinyatakan memiliki kejadian longsor tinggi, sehingga diperlukan kajian untuk mengetahui tingkat kerentanan wilayah ini terhadap longsor. Analisis kerentanan dilakukan melalui pendekatan modeling GIS melalui Tools SINMAP dengan Analytical Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan pengolahan data, diperoleh wilayah yang paling tinggi longsor terdapat di Kecamatan Rowokele dengan luas 60% dari total wilayah berpotensi tinggi. Hasil pemodelan SINMAP divalidasi mengacu pada titik kejadian longsor yang ada dan diperoleh melalui tinjauan langsung ke lapangan. Selanjutnya wilayah yang berpotensi dianalisis dengan AHP, dan diperoleh wilayah rentan tersebar di 149 desa. Dalam hal ini, enam desa diklasifikasikan memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap longsor yaitu Desa Kebakalan, Kajoran, Kalirejo, Clapar, Logandu, dan Wadasmalang. Dalam penelitian ini, kerentanan longsor dikaitkan dengan perubahan iklim, yang dibagi ke dalam sebaran kerentanan longsor berdasarkan rerata frekuensi hujan ekstrem yang terus meningkat sepanjang tahun. Lebih dari 20 kejadian hujan ekstrem terjadi di Desa Sawangan. Sementara Kecamatan Sempor adalah daerah dengan kerentanan tinggi terhadap longsor berdasarkan tren hujan ekstrem dan yang mengalami tren kenaikan dengan r > 0,4
ANALISIS HASIL DELINEASI BATAS DESA DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA: (Analysis of The Results of Village Boundary Delineation in Gunungkidul Regency, Province of Daerah Istimewa Yogyakarta)
Batas administrasi desa memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai kegiatan pemerintahan. Batas desa di Kabupaten Gunungkidul didelineasi ulang pada tahun 2018 melalui kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Acuan utama untuk membuat Peta Kerja Batas adalah Peta Desa Lama skala 1:5.000 yang dibuat antara tahun 1932-1938. Batas desa pada Peta Desa Lama tersebut diinterpretasi dan didigitasi di Citra Tegak Resolusi Tinggi dari Badan Informasi Geospasial. Penelitian ini menganalisis perbedaan batas dalam hal karaksteristik segmen batas, pergeseran segmen batas, dan perbedaan luas wilayah. Terdapat perubahan karakteristik segmen batas yang berupa titik temu, segmen berbatasan dan segmen tidak berbatasan. Pergeseran posisi segmen batas yang terjadi sampai 1.773 m pada Peta RBI, dan 997 m pada hasil identifikasi peta desa lama. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul mengalami penurunan dibandingkan dengan luas menurut Peta RBI sebesar 287,79 hektar, dan 269,22 hektar jika dibandingkan dengan data BPS. Dalam hal luas wilayah desa terdapat 71 desa mengalami penambahan luas wilayah dibandingkan dengan Peta RBI dan 67 desa jika dibandingkan dengan data BPS. Perbedaan sumber data, skala, dan metode pembuatan batas di Peta RBI dan hasil kesepakatan menghasilkan perbedaan karakteristik batas, posisi garis batas, dan luas wilayah. Berdasarkan hasil ini, batas desa definitif perlu disegerakan penyediaannya untuk menggantikan jenis batas lain yang terpaksa digunakan. 
ANALISIS SUBSIDENCE MENGGUNAKAN METODE MULTITEMPORAL DINSAR DAN ANOMALI BOUGUER DI WILAYAH PERKOTAAN Studi Kasus Kota Samarinda: (Subsidence Analysis using Dinsar Multitemporal Method and Bouguer Anomaly in Urban Areas Case Study at Samarinda City)
Fenomena penurunan tanah di kota-kota besar di Indonesia sangat berdampak terhadap kerusakan infrastruktur bangunan, bahkan dapat menjadi pemicu bencana geologi seperti longsor dan sinkhole. Oleh sebab itu diperlukan upaya mitigasi untuk meminimalisir dampak kerusakan yang ditimbulkan, salah satunya dengan memetakan beberapa wilayah yang teridentifikasi mengalami subsidence di wilayah penelitian (Kota Samarinda), sebagai informasi awal dalam pengembangan tata ruang wilayah perkotaan. Pada penelitian ini menggunakan penginderaan jauh yang memanfaatkan citra radar SAR (Synthetic Aperture Radar) , yang diolah dengan metode DInSAR (Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar) dan dianalisis secara multitemporal untuk mengidentifikasi subsidence di wilayah penelitian. Dikombinasikan dengan metode gravitasi dengan penentuan nilai anomali Bouguer sederhana (SBA) untuk menentukan struktur bawah permukaan di wilayah penelitian. Data yang digunakan adalah citra SAR Sentinel 1A tipe SLC band C (5.405 GHz), dalam kurun waktu 2015-2019 dan data model anomali gravitasi Free Air Anomaly (FAA) yang diperoleh dari data satelit GGMplus. Hasil yang diperoleh menunjukkan wilayah yang teridentifikasi mengalami subsidence (penurunan tanah) sebagian besar berada di sekitar DAS Mahakam, dan merupakan pusat kegiatan penduduk dengan tingkat kerapatan bangunan yang tinggi. Nilai subsidence tertinggi sebesar 11,93 cm dalam periode tahun 2016-2017 di Kecamatan Samarinda Ilir, dan laju penurunan tanah rata-rata tertinggi sebesar 9,62 cm/tahun. Wilayah yang teridentifikasi terjadi subsidence umumnya memiliki nilai SBA yang relatif lebih rendah sehingga mempunyai struktur tanah yang lebih lema
KAJIAN TEKNIK STEREO PLOTTING PADA FOTO UDARA FORMAT KECIL UNTUK MENGHASILKAN DATA DTM: (Assessment of Stereoplotting Techniques for Small Format Aerial Photographs to Generate DTM Data)
Pada fotogrametri, untuk menghasilkan data Digital Terrain Model (DTM) dari foto udara dilakukan dengan cara stereo plotting. Ada dua cara stereo plotting, cara interaktif dan otomatis. Cara interaktif memerlukan waktu yang lama bagi operator untuk melihat dan mendeliniasi dalam ruang 3D untuk menghasilkan posisi tiga dimensi (3D) objek dalam sistem koordinat tanah. Cara otomatis adalah melakukan proses stereo matching dengan salah satunya menggunakan algoritma korelasi silang. Pada cara otomatis ini, setiap pasangan foto stereo diidentifikasi objek yang sama secara otomatis, kemudian dihitung koordinat 3D-nya menggunakan persamaan space intersection. Penelitian ini mengkaji penggunaan kedua teknik tersebut pada Foto Udara Format Kecil (FUFK) untuk menghasilkan data DTM dan dibandingkan hasilnya. Pada penelitian ini digunakan satu blok pemotretan udara yang terdiri dari lima jalur terbang, dengan setiap jalur terdiri dari 40 foto. Setelah dilakukan hitungan triangulasi udara, pasangan – pasangan foto stereo dipilih dan dibentuk epipolar image. Kemudian proses stereo plotting secara interaktif dan otomatis diterapkan dan dibandingkan hasilnya. Hasil kajian menunjukkan data DTM yang dihasilkan antara teknik stereo plotting interaktif dan otomatis adalah mirip, tetapi tidak identik. Ini terjadi terutama di daerah campuran dengan tajuk pohon rapat. Keunggulan teknik stereo plotting interaktif adalah hasil sangat akurat dan tanpa memerlukan tahapan editing lagi, sedangkan teknik otomatis adalah kecepatan proses tetapi masih memerlukan editing. 
DESAIN ALTERNATIF LEMBAR PETA RUPABUMI INDONESIA (RBI) SKALA BESAR: (Alternative Design of Large-Scale Rupa Bumi Indonesia (RBI) Map Sheets)
Desain lembar peta RBI skala 1:5000 dan skala yang lebih besar belum distandarkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, beberapa instansi pemerintah di Indonesia masih ada yang membuat peta skala besar untuk memenuhi kebutuhannya di wilayah yang sama dengan menggunakan berbagai sistem referensi geospasial yang menyangkut aspek geometrik yang berbeda dan akan menimbulkan duplikasi serta kontradiksi dalam informasi geometrik pada obyek yang sama di permukaan bumi. Untuk itu, diperlukan alternatif dalam mendesain lembar peta RBI skala besar dengan tujuan untuk mengatasi dan mewujudkan keterpaduan informasi geometrik pada obyek di permukaan bumi. Metode mendesain lembar dilakukan dengan menggunakan datum geodetik horizontal World Geodetic System 1984 (WGS 84), rangka jala metrik (grid) dan sistem penomoran lembar peta, analogi dengan sistem penomoran peta sebelumnya. Pada zona Universal Transverse Mercator (UTM) dengan sistem grid, digunakan lebar blok dari arah barat ke timur (6°) dan panjang blok dari arah selatan ke utara (25°). Titik awal lembar peta di batas zona dan batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), nilai overlap antar dua zona dan nilai penambahan cakupan wilayah, dihitung dalam sistem koordinat semu. Analisis dilakukan dengan cara kuantitatif berdasarkan nilai-hasil hitungan. Hasilnya, peta RBI skala 1:5000 dan 1:2500 menggunakan ukuran muka peta 60 cm × 60 cm, dan untuk skala 1:1000 digunakan ukuran muka peta 50 cm × 50 cm. Jumlah lembar peta RBI skala 1:5000 terdiri dari 206.752 lembar, untuk skala 1:2500 sebanyak 827.000 lembar dan skala 1:1000 sebanyak 7.443.072 lembar. 
SURVEI DIMENSIONAL DAN KALIBRASI SISTEM MULTIBEAM LAUT DALAM DI KAPAL RISET BARUNA JAYA I: (Dimensional Survey and Calibration of Deep-water Multibeam System of RV Baruna Jaya I)
Wilayah laut Indonesia bagian tengah dan timur merupakan perairan laut dalam dengan informasi batimetri yang masih terbatas. Data batimetri laut dalam dapat diperoleh menggunakan alat survei khusus, yaitu Multibeam Echosounder (MBES). MBES laut dalam pada Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I mampu menghasilkan data batimetri hingga kedalaman 11 km. MBES laut dalam tersebut mempunyai dimensi fisik yang relatif besar, sehingga transducer MBES harus dipasang secara permanen pada tunas kapal. Sistem MBES laut dalam terdiri dari beberapa sensor yang terintegrasi dalam satu sistem akuisisi MBES. Agar menghasilkan data batimetri berkualitas tinggi, perlu dilakukan survei dimensional untuk memperoleh informasi sudut miss-alignment transducer MBES dan posisi secara 3D (tiga dimensi) sensor sistem MBES laut dalam secara akurat dalam satu referensi sistem koordinat. Paper ini bertujuan untuk memperoleh nilai ketidaklurusan (miss-alignment) transducer MBES dan nilai offset sensor - sensor yang terpasang pada KR Baruna Jaya I terhadap suatu sistem koordinat kapal menggunakan metode survei dimensional. Selain itu, hasil survei dimensional tersebut diverifikasi secara dinamis menggunakan metode kalibrasi patch test. Hasil survei dimensional menunjukkan pemasangan fairing sebagai rumah transducer MBES memenuhi toleransi dengan nilai roll: -0,089˚ dan yaw: 0,292˚ sedangkan nilai pitch (-0,120˚ ) tidak memenuhi toleransi. Hasil pemasangan transducer MBES menunjukkan nilai roll dan yaw memenuhi toleransi (roll: 0,012˚ dan yaw: 0,200˚ ), sedangkan nilai pitch di atas ambang toleransi (pitch: 0,698˚ ). Nilai kesalahan pemasangan transducer diverifikasi dengan hasil kalibrasi Patch Test MBES dan mendapatkan nilai roll: 0,20°, pitch: 0,45°, dan yaw: -1,43°.