Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan
Not a member yet
180 research outputs found
Sort by
PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI BADAN PERPUSTAKAAN, ARSIP DAN DOKUMENTASI (BPAD) PROPINSI BENGKULU
This study aims to measure how much influence the intrinsic and extrinsic work motivation on employee performance. The study was conducted in the Library, Archives and Documentation (BPAD) Bengkulu province, with the sample amounted to 95 people. Respondents in this study were employees, including librarians. The method used is descriptive research with quantitative approach. Results are expected to contribute to improving the performance of employees in accordance with the ISO 11620 standard in 2008 about the performance of the library. Data collection techniques used in this study is a questionnaire or questionnaires, observations, interviews, literature study. Type of questionnaire used in this study was a questionnaire enclosed with the scale used is the Likert scale. To measure the effect between the study variables, using path analysis (path analysis) with Lisrel 8.80 program applications as well as statistical data processing of data with SPSS version 15.0. Conclusions following research, Effect of intrinsic motivation on employee performance in BPAD Bengkulu simultaneously with a significant difference shown by the results of the calculation of t> t table, as well as the positive path coefficient, meaning that the higher intrinsic job motivation, the higher the employee performance ; Extrinsic work motivation on employee performance in BPAD Bengkulu simultaneously there is positive, meaning that the higher the extrinsic job motivation will be higher the employee's performance, as well as the path coefficient indicated by the calculation of t> t table, so the extrinsic job motivation significant influence on employee performance.Penelitian ini bertujuan untuk mengukur berapa besar pengaruh motivasi kerja intrinsik dan ektrinsik terhadap kinerja pegawai. Penelitian dilakukan di Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Propinsi Bengkulu, dengan sampel berjumlah 95 orang. Responden dalam penelitian ini adalah para pegawai termasuk pustakawan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kinerja pegawai yang sesuai dengan standar ISO 11620 tahun 2008 tentang kinerja perpustakaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah, angket atau kuesioner, observasi, wawancara, studi kepustakaan. Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup dengan skala yang digunakan adalah skala Likert. Untuk mengukur pengaruh antar variabel penelitian, menggunakan Analisis Jalur (Path Analysis) dengan aplikasi program Lisrel 8.80 serta pengolahan data statistik data dengan bantuan program SPSS versi 15.0. Kesimpulan penelitian sebagai berikut, Pengaruh motivasi kerja intrinsik terhadap kinerja pegawai di BPAD Propinsi Bengkulu secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan dengan ditunjukkan oleh hasil perhitungan thitung > ttabel, serta dengan koefisien jalur yang positif, artinya semakin tinggi motivasi kerja intrinsik maka semakin tinggi pula kinerja pegawai; Motivasi kerja ektrinsik terhadap kinerja pegawai di BPAD Propinsi Bengkulu secara simultan terdapat pengaruh positif, artinya semakin tinggi motivasi kerja ektrinsik maka akan semakin tinggi pula kinerja pegawai, serta dengan koefisien jalur yang ditunjukkan dengan hasil perhitungan thitung > ttabel, sehingga motivasi kerja ektrinsik berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai
LITERASI INFORMASI PUSTAKAWAN: STUDI KASUS DI UNIVERSITAS PADJADJARAN
This study aims to identify the particular information literacy librarian at the University of Padjadjaran. This study covers the competency of information literacy librarian at the University of Padjadjaran and how it is applied in the library. The method used in this research is a case study. Data processing is done by presenting a description of the results of interviews, observations in a narrative. The population in this study were librarians and other library staff in the University of Padjadjaran. The samples were done by purposive sampling on a limited number of library staff who have become functional librarian at the University of Padjadjaran. The results showed that the competency of information literacy librarian at the University of Padjadjaran own good. They've been able to determine their information needs and understand the information needs of users in the library. The search capabilities of information still be done simply. They have not used a technique effective and efficient search either for himself or when serving users. Knowledge of search engine is also still inadequate so that it can inhibit the process of information retrieval. The information they get used and applied to improving the competence and professionalism of their work as a librarian. Librarian at the University of Padjadjaran implement these capabilities in serving the information needs of users. They disseminate these capabilities to others, especially the user. The hope is that users and others are able to use it to be able to overcome any problems encountered in the academic environment and can be used in lifelong learning activities.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana literasi informasi para putakawan khususnya di lingkungan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini mencakup kompetensi literasi informasi para pustakawan di Universitas Padjadjaran dan bagaimana penerapannya di perpustakaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Pengolahan data dilakukan dengan menyajikan deskripsi hasil wawancara, pengamatan dan observasi secara naratif. Populasi dalam penelitian ini adalah para pustakawan dan tenaga perpustakaan lainnya yang ada di lingkungan Universitas Padjadjaran. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling yaitu hanya pada sejumlah staf perpustakaan yang telah menjadi fungsional pustakawan di Universitas Padjadjaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi literasi informasi pustakawan di Universitas Padjadjaran sudah baik. Mereka sudah dapat menentukan kebutuhan informasinya dan memahami kebutuhan informasi pengguna di perpustakaannya. Kemampuan penelusuran informasi masih dilakukan secara sederhana. Mereka belum menggunakan teknik penelusuran yang efektif dan efisien baik untuk kepentingan dirinya maupun pada saat melayani pengguna. Pengetahuan tentang search engine juga masih kurang memadai sehingga dapat menghambat proses penelusuran informasi. Informasi yang mereka dapatkan digunakan dan diterapkan untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme kerja mereka sebagai pustakawan. Pustakawan di Universitas Padjadjaran menerapkan kemampuannya tersebut dalam melayani kebutuhan informasi pengguna. Mereka menyebarluaskan kemampuannya tersebut kepada orang lain terutama pengguna. Harapannya adalah agar pengguna dan orang lain mampu memanfaatkannya untuk dapat mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi di lingkungan akademik dan dapat digunakan dalam kegiatan belajar sepanjang hayat
PENULIS SUNDA SEBAGAI PELESTARI BUDAYA
This research aims to find out motives to become Sundanese Writers, self meaning construction of Sundanese Writers as culture preservators and message presenting process of Sundanese Writers as culture preservators. This research used qualitative method with a phenomenological approach. Data was gained through a series of indepth interviews with eight informants as Sundanese Writers in Bandung City, and also from nonparticipant observation and literature study. The informants of this research are classified into two types, these are Sundanese Culture Inheritors and Sundanese Culture Developers. The results of this study indicated that the main motive to become a Sundanese Writers is idealism, which consists of aspects of driving and the aspects of expectation. The self meaning of Sundanese Writers as culture preservators was constructed into two types, these are Sundanese Culture Inheritors and Sundanese Culture Developers. Message presenting process of Sundanese Writers as culture preservators were done by involving steps commonly done by writers to produce a writing. Penelitian ini bertujuan menemukan motif menjadi Penulis Sunda, konstruksi makna diri Penulis Sunda sebagai pelestari budaya dan proses penyampaian pesan Penulis Sunda sebagai Pelestari Budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan Penulis Sunda yang berada di Kota Bandung, juga melalui observasi nonpartisipan dan studi pustaka. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa motif utama menjadi Penulis Sunda adalah idealisme kesundaan, yang terbagi ke dalam aspek pendorong dan aspek harapan. Konstruksi makna diri Penulis Sunda sebagai pelestari budaya terbagi menjadi Pewaris Budaya Sunda dan Pengembang Budaya Sunda. Proses penyampaian pesan Penulis Sunda sebagai Pelestari Budaya dilakukan melalui tahapan yang umum dilakukan penulis untuk menghasilkan suatu tulisan
FAKTOR-FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI MINAT BACA MAHASISWA SURVEI EKSPLANATORI TENTANG MINAT BACA MAHASISWA DI UPT PERPUSTAKAAN ITB
Reading a book or literature is an imperative reference source for students. Reading is an activity that can add insights and broaden our horizons. Reading is not only related to the teaching and learning process, but can also form the personality of individuals by comprehending fully the results of reading. Unfortunately, currently, student’s reading interest looks very minimal. The student’s low interest for reading can be seen from the number of visits in each campus library. There are several dominant factors which affect the student’s reading interest which are: a high curiosity on facts, theories, principles, knowledge and information; an adequate physical environment; a more conducive social environment; the thirst for information and curiosity; as well as the principle of life that reading is a spiritual necessity. This study examines the factors which are most dominant among those factors and how great the influence of each of these factors is against the interest in reading. The research population are students at ITB Library, samples have been simplified to 96 respondents, and the study used the explanatory survey methods. Data collection is obtained by observation, interview, questionnaire and literature study which are then analyzed by path analysis. The results showed that a more conducive social environment is the most dominant factor affecting the reading interest of students, followed by a high curiosity on facts, theories, principles, knowledge and information, and an adequate physical environment, then the thirst for information and curiosity as well as the principle of life that reading is a spiritual necessity. Membaca buku atau literatur adalah sumber referensi yang sangat penting bagi mahasiswa. Membaca merupakan suatu kegiatan yang dapat menambah wawasan dan memperluas cakrawala kita. Membaca tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar saja, tetapi juga dapat membentuk kepribadian individu dengan menghayati hasil bacaannya. Sayangnya, minat baca mahasiswa saat ini terlihat sangat minim.. Rendahnya minat baca mahasiswa dapat dilihat dari jumlah kunjungan yang ada di setiap perpustakaan kampus. Ada beberapa faktor dominan yang mempengaruhi minat baca mahasiwa yaitu: rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi; keadaan lingkungan fisik yang memadai; keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif; rasa haus informasi dan rasa ingin tahu; serta berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani. Penelitian ini mengkaji faktor manakah yang paling dominan diantara faktor-faktor tersebut dan seberapa besar pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap minat baca. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa di Perpustakaan UPT ITB dengan sampel yang telah disederhanakan sebanyak 96 responden dengan metode survey eksplanatori. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner dan studi pustaka yang kemudian dianalisis dengan path analysis. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi minat baca mahasiswa, disusul rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi, lalu keadaan lingkungan fisik yang memadai, kemudian rasa haus informasi dan rasa ingin tahu serta berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.
AKSENTUASI BIBLIOTHERAPY DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
College libraries in helping to educate the nation in all aspects of life can play an active role in serving pemustakanya, in this case the student through bibliotherapy activities or therapy literature. Bibliotheraphy an old concept of librarianship. Bibliotherapy services performed in high library implemented to help problem students the nature of academic and non-academic, suspected to disrupt the continuity of studies, with facilitators trained librarians as biblioterapis. Bibliotherapy activities can be applied in the college library with attention to aspects that support the implementation of effective bibliothetrapy. Perpustakaan perguruan tinggi dalam membantu mencerdaskan bangsa dalam segala aspek kehidupan dapat berperan aktif dalam melayani pemustakanya, dalam hal ini mahasiswa melalui kegiatan bibliotherapy atau terapi pustaka. Bibliotheraphy merupakan konsep lama kepustakawanan. Layanan bibliotherapy dilakukan di perpustakaan tinggi dilaksanakan untuk membantu masalah mahasiswa yang bersifat akademik maupun non akademik yang ditengarai dapat mengganggu kelangsungan studinya, dengan fasilitator pustakawan terlatih sebagai biblioterapis. Kegiatan bibliotherapy dapat diterapkan di perpustakaan perguruan tinggi dengan memperhatikan aspek-aspek yang mendukung terselenggaranya bibliothetrapy secara efektif
MEMETAKAN LINGKUP INFORMASI PENGHIDUPAN ORANG MISKIN PEDESAAN
This study aims to map out the scope of information the livelihoods of the rural poor, which include: the type of major need, the search pattern related information specific type of job, the variety of information livelihoods are looking for, the relationship between the rural poor, sources of information, channel information, and the nature of sources and channels of information in question. By using qualitative methods, especially the tradition of phenomenology of Schutz, the result that: (1) the type of the primary needs of the rural poor consist of food, clothing, shelter, health, and education are very simple; (2) a variety of livelihood information sought by the rural poor who work odd nature, derived from the interpersonal sources that are informal, with a limited scope, ie, neighbors, relatives, customers, and the kind of fellow workers; (3) the source and drain are derived from official media and technology based, hardly ever used; and (4) The formal elements that come from the government side, barely touched the interests of the rural poor.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lingkup informasi penghidupan orang miskin pedesaan, yang meliputi: jenis kebutuhan utama, pola pencarian informasi terkait jenis pekerjaan spesifik, ragam informasi penghidupan yang dicari, hubungan antar orang miskin pedesaan, sumber-sumber informasi, saluran informasi, dan sifat dari sumber dan saluran informasi dimaksud. Dengan menggunakan metode kualitatif khususnya tradisi fenomenologi dari Schutz, diperoleh hasil bahwa: (1) jenis kebutuhan utama orang miskin pedesaan terdiri atas kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan yang sangat sederhana; (2) beragam informasi penghidupan yang dicari oleh orang miskin pedesaan yang sifat pekerjaannya serabutan, berasal dari sumber orang secara interpersonal yang bersifat informal, dengan lingkup yang terbatas, yakni tetangga, kerabat, pelanggan, dan sesama pekerja sejenis; (3) sumber dan saluran yang berasal dari media resmi dan yang berbasis teknologi, hampir tidak pernah digunakan; dan (4) unsur-unsur formal yang datangnya dari sisi pemerintah, hampir tidak menyentuh kepentingan orang-orang miskin pedesaan
PELUANG DAN TANTANGAN PENERAPAN OTOMASI PERPUSTAKAAN DI INDONESIA
This paper examines the how the opportunities and challenges in implementing technology and information in the Library. Because the library inevitably have to address the progress of time like the present. Therefore, libraries must be able to perform the duties and functions very well. To that should be supported by the use of the latest information technology applications. It is necessary to remember the times and needs of the community. In the application of automation systems is indeed a lot of them run the risk of shortage of skilled human resources in the field of information technology, changing patterns of organization, and the impact on staff and ultimately less accept a new system that will be / have been applied. Tulisan ini mengkaji mengenai bagaimana peluang dan dan tantangan dalam menerapkan teknologi dan informasi di Perpustakaan. Sebab mau tak mau perpustakaan harus menyikapi kemajuan zaman seperti sekarang ini. Oleh karena itu, perpustakaan haruslah mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Untuk itu perlu didukung dengan pemanfaatan aplikasi teknologi informasi terkini. Hal ini perlu mengingat perkembangan zaman dan tingkat kebutuhan masyarakat. Dalam penerapan sistem otomasi ini memang banyak mengalami resiko diantaranya kekurangan sumber daya manusia yang handal di bidang teknologi informasi, perubahan pola organisasi, dan dampak pada staf yang pada akhirnya kurang menerima sistem baru yang akan/telah diterapkan
LITERASI INFORMASI KESEHATAN LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT PEDESAAN: STUDI DESKRIPTIF DI DESA NAGROG KECAMATAN CICALENGKA
This study examines the Environmental Health Information Literacy in Rural Communities in the District Nagrog village Cicalengka Bandung regency. The purpose of this study was to determine the factors that motivate environmental health information needs, information seeking behavior, and patterns of environmental health information search in the village community Nagrog Cicalengka District of Bandung regency. The method used is descriptive with quantitative approach. Data collection techniques used were questionnaires, interviews, observation, and literature. Data analysis used the interactive analysis. Outcome results of this study are tergambarnya environmental health information literacy in the village on the District Nagrog Cicalengka Bandung regency. The results showed that the factors that encourage people to seek health information environment that extrinsic factors. Public information seeking behavior has not sitstematis in searching for information, and the information search patterns, there are three that concern passive, passive search, and the search is on.Penelitian ini mengkaji tentang Literasi Informasi Kesehatan Lingkungan pada masyarakat Pedesaan di Desa Nagrog Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui faktor yang memotivasi kebutuhan informasi kesehatan lingkungan, perilaku pencarian informasi, dan pola pencarian informasi kesehatan lingkungan di masyarakat Desa Nagrog Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, wawancara, observasi, dan studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan yakni analisis interaktif. Luaran hasil kajian ini adalah tergambarnya literasi informasi kesehatan lingkungan yang terjadi di Desa Nagrog Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor yang mendorong masyarakat dalam mencari informasi kesehatan lingkungan yakni faktor ekstrinsik. Perilaku pencarian informasi masyarakat belum sitstematis dalam mencari informasi, dan pola pencarian informasinya terdapat tiga yakni perhatian pasif, pencarian pasif, dan pencarian aktif
KEGIATAN PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA PASCA GEMPA DI BADAN PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI SUMATRA BARAT
This study aims to find out about how the preservation activities of library materials after the earthquake in the Library and Archives (CPA) of West Sumatra province. There are two forms of preservation in this study, namely Policy Curative Conservation and Preservation Event. The method used in this research is descriptive qualitative, where the collected data compiled and analyzed with data collection conducted through interviewing, direct observation, and literature study. As for the key informants in this study were employees and staff at the National Library and Archives (CPA) of West Sumatra province. The results of the study provide information that the implementation of the policy of preservation of library materials after the earthquake in the Library and Archives (CPA) of West Sumatra province has not had a policy in writing, but has carried out a policy outside decree governor of West Sumatra by the head of the library to save materials library. In addition, it also found that the curative conservation activities covering search and sorting of library materials that can be salvaged from the aftermath of the earthquake, improve library materials such as Patching and connecting, binding, media control and fumigation. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana kegiatan pelestarian bahan pustaka pasca gempa di Badan Perpustakaan dan Kearsipan (BPA) Propinsi Sumatera Barat. Terdapat dua bentuk pelestarian dalam penelitian ini, yaitu Kebijakan Pelestarian dan Kegiatan Pelestarian Kuratif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dimana data yang terkumpul disusun dan dianalisis dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui teknik wawancara, observasi langsung, dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah para pegawai dan staf di Badan Perpustakaan dan Kearsipan (BPA) Propinsi Sumatera Barat. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa pelaksanaan kegiatan kebijakan pelestarian terhadap bahan pustaka pasca gempa di Badan Perpustakaan dan Kearsipan (BPA) Propinsi Sumatera Barat belum mempunyai kebijakan secara tertulis, namun telah dilakukan kebijakan di luar surat keputusan Gubernur Sumatera Barat oleh kepala perpustakaan untuk menyelamatkan bahan-bahan pustaka. Di samping itu juga ditemukan bahwa kegiatan pelestarian kuratif meliputi penelusuran dan penyortiran bahan pustaka yang dapat diselamatkan dari pasca gempa, memperbaiki bahan pustaka seperti penambalan dan menyambung, penjilidan, alih media, serta fumigasi.
PENGEMBANGAN PROGRAM MEMBACA DI PERPUSTAKAAN: SALAH SATU KOMPONEN PENTING MENJADI MURID MELEK INFORMASI (INFORMATION LITERATE STUDENT))
Learning library as the implementation of user education programs. Elementary school, school to school instead of working. Because students will go to school, then it should have the power to learn good. Before the entrance pupil at the level of information literacy, fundamental thing that is important implanted student interests and reading culture since the early entry into the system. The school library should be made good. Furthermore, to form a good reading habit can through the library learning program called "Know Reader". The goal, first technically skilled students know the information and to sort and select information in the library; secondly, to safeguard the assets of the library; Third, condition the students read and used to reading. Including the value of learning libraries into the local curriculum includes a written assessment report cards of students, exhibition of books in the school library every week, an award for academicians who borrowed the most books every month, tells the story hanging way, it makes the students love to read. At the elementary school level which would be built three, first learning culture, both learning skills, and the three basic skills that can be achieved through daily habituation.Pembelajaran perpustakaan sebagai implementasi dari program pendidikan pemakai. Sekolah Dasar, sekolah untuk sekolah bukan bekerja. Karena murid akan melanjutkan sekolah, maka harus mempunyai daya belajar yang baik. Sebelum murid masuk pada tingkat melek informasi, hal mendasar yang penting ditanamkan yaitu minat dan budaya baca murid sejak dini yang masuk ke dalam sistem. Perpustakaan sekolah harus dibuat bagus. Selanjutnya, untuk membentuk minat baca yang baik dapat melalui program pembelajaran perpustakaan bernama "Kenal Pustaka". Sasarannya, pertama secara teknis murid mengetahui informasi dan terampil memilah serta memilih informasi di perpustakaan; kedua, dapat menjaga aset perpustakaan; ketiga, mengondisikan para murid membaca dan terbiasa membaca. Memasukkan nilai pembelajaran perpustakaan ke dalam kurikulum muatan lokal termasuk penilaian tertulis dalam raport murid, pameran buku di perpustakaan sekolah setiap minggu, penghargaan bagi sivitas akademika yang meminjam buku terbanyak setiap bulannya, berkisah dengan cara menggantung ceritanya, semua itu membuat murid gemar membaca. Pada jenjang Sekolah Dasar yang hendak dibangun ada tiga, pertama budaya belajar, kedua keterampilan belajar, dan ketiga keterampilan dasar yang dapat dicapai melalui pembiasaan sehari-hari